
Saat ini aku berada di situasi yang sangat merepotkan sekali untukku. Padahal ini adalah hari pertamaku masuk di sekolah ini, kenapa mereka tidak membiarkanku untuk menjalani kehidupanku yang tenang seperti biasanya.
Sebelumnya Kak Fauzi meminta semua murid di kelas ini untuk mengajukan diri untuk menjadi ketua regu dari kelas ini, tapi tidak ada dari mereka yang mau melakukan hal itu. Akhirnya Kak Fauzi pun memilih secara acak siswa yang berada di kelas ini. Aku merasa hal ini tidak dilakukan secara acak. Semenjak Kak Fauzi masuk ke kelas ini dan menjadi mentor kami, aku yakin dia sudah mengicar kami berdua untuk melakukan hal ini.
“Maaf, tapi aku tidak bisa menerima keputusan itu.”
Aku pun menolak dengan sangat keras keputusan itu.
Aku berani melakukan hal ini bukan karena aku sudah mengenal Kak Fauzi, namun karena aku ingin melindungi kehidupan baruku yang damai. Walaupun yang membuat keputusan ini orang lain, aku pun akan menentangnya, sekalipun itu ketua OSIS atau kepala sekolah.
“Apa kau mengenal mereka Zi?”
Kak Ayu bertanya kepada Kak Fauzi yang ingin meladeniku.
“Aku sudah mengenal mereka dari SMP. Mereka itu adik kelas yang pernah aku ceritakan kepadamu dan juga Alvin.”
Apa yang dia ceritakan tentangku kepada mereka? Apa dia bercerita yang macam-macam tentangku.
“Apa kau punya alasan mengapa harus mengundurkan diri?”
Dia pasti sedang mengujiku.
“Aku rasa lebih baik jika pengurus yang satunya lagi adalah perempuan. Lagi pula di kelas ini murid perempuannya hampir ada setengahnya, bukankah pasti ada beberapa siswi yang canggung jika harus berbicara dengan laki-laki. Apa lagi mereka belum mengenal dengan baik laki-laki itu.”
Seharusnya alasanku itu masuk akal.
“Hmmm... Kau benar juga, kita tidak bisa membiarkan hal itu.”
Kak Fauzi pun sedikit memikirkan keputusannya kembali.
Yes... Sepertinya sebentar lagi aku akan terbebas dari tugas yang merepotkan ini.
“Baiklah kalau begitu, siapa siswi di kelas ini yang mau menggantikan Amar menjadi pengurus kelas untuk sementara?”
Kak Fauzi pun bertanya kembali kepada semua murid, tapi lagi-lagi mereka terdiam tidak mau menjawab pertanyaan dari Kak Fauzi.
Dasar kalian semua! Apa kalian sengaja melakukan hal ini.
“Anu... Kalau misalnya tidak ada yang mau menggantikan Amar. Aku bisa menggantikannya.”
Dewi penyelamatku telah tiba!
Natasha pun menunjuk tangannya dan berniat untuk menggantikan Amar menjadi pengurus kelas.
“Oke, sudah diputuskan ya. Pengurus kelas semaentara untuk kelas ini adalah Riki dan Natasha. Kalian berdua silahkan maju ke depan.”
Kak Fauzi pun menyuruh mereka berdua untuk maju ke depan.
“Terima kasih Natasha, berkat kau kehidupanku yang damai telah terselamatkan. Akan selalu ku kenang jasamu itu.”
“Tenanglah Mar... Aku tidak melakukan sesuatu seberharga itu kok.”
“Tidak! Menurutku itu adalah sesuatu yang sangat berharga. Aku sangat berterima kasih.”
Natasha dan Riki pun maju ke depan kelas untuk dilantik menjadi pengurus kelas sementara oleh Kak Fauzi dan juga Kak Ayu.
“Kenapa kau bersih keras tidak mau menjadi pengurus keras? Menurutku itu adalah cara tercepat untuk terkelas di kelas ini loh, selain itu mungkin kau juga akan dikenal oleh kelas lain juga.”
Kichida bertanya kepadaku tentang keputusanku tadi.
“Apa kau mengira kalau aku adalah orang yang ingin dikenal oleh banyak orang?”
“Sepertinya tidak.”
“Itu kau sudah mengetahuinya sendiri.”
Karena aku tidak begitu suka jika dikenal banyak orang di saat-saat seperti ini.
Kalian semua pasti sudah mengetahuinya. Awal sekolah adalah saat dimana semua kepengurusan kelas di pilih, dan di saat itu juga menjadi terkenal adalah sesuatu yang sangat berbahaya bagi kalian. Soalnya jika kalian terkenal, maka akan semakin banyak orang yang menunjuk kalian untuk menjadi pengurus kelas. Itu merupakan hal yang sangat merepotkan untukku.
Apa lagi jika gurunya adalah orang yang tidak mau mengambil ribet dan langsung memilih dengan seenaknya saja. Pasti dia akan mengikuti keputusan orang terbanyak dan memilih orang itu. Aku sangat tidak mau dengan hal itu.
Aku sudah cukup puas menjalani tugasku menjadi wakil ketua kelas ketika di SMP lalu karena ulah wali kelasku yang mencocokan nomor absen dengan tanggal.
Aku benar-benar ingin memulai debut kehidupan yang damaiku.
“Mulai sekarang mereka berdualah yang akan menjadi pengurus kelas ini saat acara masa orientasi ini berlangsung. Silahkan beri tepuk tangannya dulu.”
Kak Fauzi pun melakukan pelantikan tidak resmi kepada Riki dan Natasha. Semua murid yang ada di kelas pun memberikan tepuk tangan kepada mereka berdua. Aku melihat wajah senang dari mereka semua.
Kemudian Kak Fauzi pun memberikan kepada Riki dan Natasha tumpukan buku yang nantinya akan dibagikan kepada kami. Sepertinya buku itu adalah buku pedoman selama masa orientasi ini.
“Kalian berdua, untuk sekarang tugas kalian adalah membuat yel-yel untuk kelas ini. Diskusikanlah hal tersebut dengan semua teman sekelas kalian.”
Kak Fauzi memberikan perintah kepada Riki dan Natasha.
Untung saja aku berhasil lolos dari hal ini.
“Yel-yel? Untuk apa memangnya?”
“Yel-yel itu akan digunakan selama acara mos saja. Pastikan kalian membuatnya dengan sangat meriah ya!”
Kak Fauzi memberikan saran kepada mereka berdua.
Riki dan Natasha pun mulai membagikan buku tersebut kepada semua murid yang ada di sana.
Apa isi dari buku ini ya?
Ketika menerima buku itu, aku langsung membuka dan melihat apa saja yang ada di dalamnya. Ternyata yang ada di dalamnya adalah susunan acara selama masa orientasi, barang-barang yang perlu di bawa selama masa orientasi, mars SMK Sawah Besar, dan daftar anggota OSIS saat ini.
Setelah membagikan buku tersebut, Riki langsung mencoba mengakrabkan diri dengan teman-teman yang lainnya, tentu saja Natasha melakukan hal yang sama dengan Riki. Mereka pun mendiskusikan bersama-sama tentang yel-yel yang akan mereka buat.
Saat sedang berdiskusi aku sedikit terkejut dengan sikap teman-teman sekelasku. Awalnya aku kira mereka hanyalah orang yang tidak peduli dengan keadaan sekitar dan mencoba untuk bermain di zona nyamannya mereka. Tapi ternyata mereka lebih aktif dibandingkan yang ku kira. Itu dapat terlihat dari seringnya mereka memberikan masukan kepada Riki dan Natasha tentang yel-yel yang akan dibuat. Seperti yang aku duga dari sekolah unggulan. Pasti anak-anak yang masuk di sini bukanlah anak-anak sembarang.
Huahhh... Mataku berat sekali, lebih baik aku pergi ke toilet terlebih dahulu untuk membasuh mukaku.
Aku pun berdiri dari kursiku, kemudian aku pun menghampiri Kak Ayu yang berada di dekatku untuk meminta izin.
“Kak saya izin mau ke toilet.”
“Silahkan.”
Setelah mendapatkan izin, aku pun bergegas pergi ke toilet.
Ketika sedang berjalan di lorong, aku sesekali melihat ke kelas lain melalui kaca. Aku hanya melihat orang-orang yang sedang berembuk mendiskusikan sesuatu. Sepertinya setiap kelas melakukan hal yang sama.
Aku pun terus berjalan hingga aku hampir sampai di tolilet, namun dari kejauhan aku melihat seorang perempuan yang sedang digoda oleh seorang kakak kelas.
Aku mencoba untuk mengabaikannya dan terus berjalan memasuki toilet laki-laki. Tetapi ketika aku mendekat, perempuan itu berlari ke arahku dan berlindung di belakangku. Ternyata perempuan yang kulihat itu tidak lain dan tidak bukan adalah Miyuki.
Mengapa Miyuki bisa ada di depan toilet perempuan lantai dua. Bukankah kelasnya dia berada di lantai tiga dan di sana ada toilet juga.
Karena Miyuki sekarang berada di belakangku, perhatian kakak kelas itu pun sekarang mengarah kepadaku. Mereka pun berjalan menghampiriku dengan tatapan sangarnya.
Bukankah itu kakak kelas yang Riki tanya ketika di lapangan untuk menanyakan kelas. Sepertinya aku akan berurusan dengan orang yang merepotkan.
“Sedang apa kau berada di sini? Bukankah seharusnya kau berada di kelas?”
Kakak itu bertanya kepadaku dengan nada garangnya.
__ADS_1
“Aku hanya ingin pergi ke toilet saja Kak.”
Untuk sekarang lebih baik aku mencoba ramah kepadanya.
“Kalau begitu cepatlah pergi toilet dan kembali ke kelas.”
Memang rencananya aku ingin melakukan hal itu.
Ketika aku ingin melangkah menjauh dari Miyuki, entah kenapa Miyuki tidak berbicara apapun. Dia hanya diam saja dan menarik almamaterku dengan sangat kuat. Sepertinya dia sangat ketakutan sekarang ini. Ternyata sulit juga ya menjadi orang yang memiliki paras cantik.
“Lagi pula apa yang kakak lakukan di sini? Bukankah seharusnya kakak berada di kelas juga untuk membimbing kelas yang kakak bimbing?”
“Apa urusanmu bertanya seperti itu?”
Sekarang kakak kelas tersebut mulai mengintimidasiku.
“Tidak, aku hanya penasaran saja. Karena ketika sedang berjalan ke sini aku melihat semua anggota OSIS sedang sibuk dengan kelasnya masing-masing.”
“Cih! Aku hanya sedang menjaga agar tidak ada siswa yang pergi ke kantin. Memangnya kenapa?”
Aha! Aku bisa mengakhiri dengan cepat dan kembali ke kelasku.
“Benarkah itu? Menurutku itu aneh... Tidak mungkin ada anak baru yang berani melakukan hal seperti itu, mengingat ini masih hari pertama mereka masuk. Selain itu... Kalau kita ingin pergi ke kantin, kita harus melewati meja piket yang ada di lantai satu. Bukankah kalau begitu seharusnya anak-anak yang pergi ke kantin dapat dihentikan oleh guru piket yang bertugas.”
Setelah mendengar perkataanku, tiba-tiba emosi dari kakak kelas itu menjadi naik dan dia makin terlihat seram.
“Apa maksudnya kau berkata seperti itu, kau menantangku? Kau pikir, kau bisa bertindak seenaknya saja di sini anak baru!”
“Aku tidak bermasuk apa-apa, aku hanya bertanya saja. Lagi pula mana mungkin anak baru sepertiku berani menantang kakak kelas sepertimu.”
Aku sedikit tersenyum kepadanya.
Mendengar itu pun emosi kakak kelas itu semakin naik dan makin mengintimidasiku lebih dalam lagi. Tapi entah kenapa semenjak kejadian terakhir saat di SMP, emosiku jadi lebih tenang dan mentalku jadi lebih kuat dibandingkan sebelumnya.
Apa ini ada hubungannya dengan aku bercerita masa laluku dengan Miyuki ya?
“Ada apa ribut-ribut?”
Dari kejauhan muncullah sesosok pria yang menghentikan pertikaian itu. Kakak kelas yang sebelumnya mengintimidasiku langsung terdiam dan tidak berani berbicara apapun lagi. Saat lelaki itu mulai mendekat ternyata dia adalah ketua OSIS.
Namanya adalah Alvin Guinandra. Tampangnya yang tampan dan nilai akademiknya yang bagus membuat dia memiliki reputasi yang baik di depan para siswa dan juga guru di sekolah ini. Bahkan dia sudah dapat menempati posisi ketua OSIS saat berada di kelas sebelas.
“Apa terjadi sesuatu?”
Kakak kelas yang sebelumnya terlihat garang, sekarang hanya terdiam kaku tidak bisa berkata apapun di depan Kak Alvin. Ternyata kekuatan dari ketua OSIS bisa sehebat ini.
“Tidak terjadi apa pun kok Kak, kami hanya sedang bertanya tentang sekolah ini saja.”
“Tapi aku melihat kalau kalian sedang bertikai tadi.”
“Itu mana mungkin kan, aku tidak mungkin memiliki keberanian sebesar itu untuk bertikai dengan kakak kelas. Apa lagi ini adalah hari pertamaku, aku hanya ingin menjalani kehidupan sekolah yang damai saja... Jadi tenang saja kak, tidak ada masalah kok.”
Semoga dia percaya dengan sandiwaraku.
“Itu perempuan di belakangmu kenapa? Dia terlihat seperti orang yang ketakutan.”
Sial kau Miyuki, seharusnya kau melihat situasi yang terjadi saat ini.
“Dia memang orangnya sedikit pemalu Kak, dan dia juga tidak terbiasa dengan laki-laki yang asing baginya.”
“Benarkah seperti itu?”
Kak Alvin tidak percaya begitu saja dengan ucapanku.
Aku pun menggerakan sikuku untuk memberikan tanda kepada Miyuki supaya dia berkata sesuatu.
“..I-Iya Kak, saya tidak terbiasa dengan laki-laki yang asing.”
Untunglah dia mengikuti arahan dariku.
“Baiklah kalau memang seperti itu... Deni, lebih baik kau kembali ke kelas bimbinganmu. Aku rasa mereka sudah menyelesaikan yel-yelnya.”
Jadi nama kakak kelas tadi Deni.
“...Baik.”
Dan Kak Deni pun kembali ke kelasnya. Tapi kalau dilihat dari wajahnya, sepertinya dia masih menyimpan rasa kesal kepadaku.
Inilah kenapa aku benci sekali berurusan dengan Miyuki. Baru saja aku memulai debut SMKku yang damai, sekarang sudah muncul lagi masalah baru.
“Kalian juga sebaiknya kembali ke kelas kalian.”
Miyuki pun pergi menuju kelasnya tanpa berkata apa pun kepadaku. Sebenarnya lebih baik seperti itu, kalau seandainya Miyuki berterima kasih kepadaku, pasti Kak Alvin akan curiga dengan apa yang baru saja kami lakukan.
“Ngomong-ngomong kau berasal dari kelas mana?”
“Aku dari sepuluh multimedia D Kak.”
“Oh begitu, kalau begitu kita ke sananya bareng saja. Kebetulan saya juga mau pergi ke sana.”
Sial... apa yang harus aku lakukan sekarang.
Akhirnya mau tidak mau, aku pun kembali ke kelas bersama dengan Kak Alvin.
Pada saat sampai di kelas, semua murid yang ada di kelas terkejut melihatku yang datang bersama dengan Kak Alvin, bahkan Kak Fauzi dan Kak Ayu terlihat kebingungan akan hal itu.
“Alvin! Apa yang terjadi? Apa dia melakukan sesuatu?”
Kak Fauzi memandangku dengan cemas sekali.
“Tidak, kami hanya bertemu di depan toilet saja. Aku ke sini karena ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian berdua tentang acara besok.”
Kemudian Kak Alvin berbincang-bincang dengan Kak Fauzi dan Kak Ayu di depan kelas, sedangkan aku langsung kembali ke kursiku.
“Apa kau melakukan sesuatu Mar?”
Riki juga mengkhawatirkan keadaanku.
“Apa kau tidak mendengar perkataan Kak Alvin tadi. Kami hanya bertemu di depan toilet saja.”
“Aku kira kau sudah berbuat onar di hari pertamamu.”
“Itu mana mungkin.”
Ya... Aku memang melakukan sesuatu yang merepotkan tadi.
Waktu istirahat pun tiba dan semua murid bergegas pergi ke kantin untuk istirahat.
“Ayo Mar kita ke kantin.”
Riki yang telah usai membereskan mejanya mengajakku pergi ke kantin.
“Ok.”
“Kalian berdua juga ingin ikut?”
Riki mengajak Kichida dan Natasha juga.
“Aku ikut denganmu, aku sudah berjanji dengan Miyuki untuk istirahat bersama.”
__ADS_1
Kichida ikut dengan kami.
“Aku tidak dulu, ada hal yang harus aku lakukan.”
Sepertinya pekerjaan jadi pengurus kelas sudah membebaninya di hari pertama.
“Baiklah kalau begitu, tapi jangan memaksakan dirimu ya. Nanti setelah istirahat mari kita selesaikan bersama-sama lagi.”
Riki sedikit memberikan saran kepada Natasha.
“Siap.”
Kami pergi menuju ke kantin. Saat di lorong, kami bertemu dengan Maul yang baru saja keluar dari kelasnya.
“Oi Mul, kau mau kekantin juga?”
Riki langsung menyapa Maul.
“Iya.”
“Ya udah, kita perginya bersama saja.”
“Ok.”
Setelah membeli makanan di kantin, kami pun mencari tempat kosong untuk kami makan. Tapi karena jumlah kursi yang berada di kantin tidak sebanding dengan jumlah murid yang datang ke sana membuat semua kursi sudah penuh ditempati oleh orang.
“Kita mau makan di mana?”
Aku bertanya kepada Riki yang masih mencari tempat kosong di sana.”
“Entahlah, aku tidak menemukan tempat kosong.”
Saat kami sedang mencari tempat kosong, Rina dan Miyuki pun datang menghampiri kami.
“Apa kalian berdua sedang mencari tempat juga?”
Rina bertanya kepada kami.
“Begitulah.”
“Hei Miyuki!... Rina!.... Kau juga Fuyumi, Cepatlah kemari, kami mendapatkan tempat kosong.”
Takeshi berteriak dari tempatnya duduk.
Cih! Ada dia di sini.
“Ayo Rik, lebih baik kita makan di bawah pohon yang ada di lapangan saja.”
Aku pun mengajak Riki untuk segera keluar dari kantin. Aku tidak mau lama-lama berada di dekat Takeshi.
“Memangnya boleh?”
“Tadi aku sempat melihat banyak orang yang makan di sana juga. Tentulah itu boleh.”
“Bagaimana menurut kalian kalian?”
Riki bertanya kepada yang lainnya.
“Aku mah mengikuti kalian saja.”
“Baiklah kalau begitu kita cari tempat lain saja.”
Kami bertiga pun pergi ke lapangan untuk mencari sebuah tempat makan yang ada di sana. Rina, Miyuki, dan Kichida juga akhirnya ikut dengan kami. Mereka pun menolak tawaran yang diberikan Takeshi. Aku jadi kasihan
kepadanya.
Akhirnya kami pun menemukan sebuah tempat yang tidak jauh dari musala. Di sana ada sebuah pohon yang tidak terlalu besar namun rindang.
“Sepertinya tempat ini bagus.”
Aku menyarankan tempat itu kepada mereka.
“Ya tempat ini memang bagus untuk berkumpul. Dahannya yang banyak membuat tempat ini sangat sejuk untuk berkumpul.”
Maul pun setuju denganku.
Kami pun duduk dan kemudian mulai menyantap makanan kami.
“Sebelumnya aku mau berterima kasih kepadamu atas kejadian tadi.”
Miyuki pun akhirnya berterima kasih kepadaku, tapi aku sudah tidak mengharapkan hal itu lagi.
“Memangnya apa yang terjadi?”
Rina terlihat penasaran.
“Sebenarnya...”
Miyuki pun menceritakan semua yang terjadi kepada mereka semua.
“Hah!? Aku tidak tau kau bisa seberani itu Mar.”
“Itu adalah hal yang bodoh Mar.”
“Aku jadi khawatir kepadamu Ar.”
Semua orang terlihat terkejut sekaligus khawatir akan apa yang aku lakukan.
“Aku terpaksa melakukan itu, lagian kenapa kau bisa berada di toilet lantai dua? Memangnya apa yang terjadi dengan toilet di lantai tiga?”
“Toilet lantai tiga sedang diperbaiki jadi aku terpaksa turun ke lantai dua untuk menggunakan toilet. Tapi ternyata saat aku selesai menggunakannya, di depan toilet sudah ada kakak kelas itu menungguku.”
Apaan itu, seram sekali.
“Aku sarankan kepadamu jangan terlalu banyak membuat masalah dengan OSIS saat ini Mar. Mereka bisa saja membalasmu nanti.”
Riki memberikan saran kepadaku.
Mendengar itu membuat tubuhku sedikit merinding karena ketakutan. Aku takut kalau kehidupan damaiku di SMK tidak akan pernah terjadi.
“Tapi tenang saja Rik, aku yakin Amar bisa mengatasi hal itu.”
Maul terlihat tidak peduli dengan apa yang terjadi kepadaku.
“Ngomong-ngomong apa kalian tau sesuatu tentang clue makanan yang akan dibawa besok?”
Rina bertanya kepada kami dan menunjukan buku pedomannya kepada kami. Aku baru menyadari kalau Rina membawa buku pedoman itu.
“Iya benar, aku juga bingung ketika melihatnya tadi. Nasi kemerdekaan, kedelai kepo, susu upacara, air perkakas, nutrisi peluru hijau. Aku tidak paham semua.”
Sahut Miyuki karena tidak paham dengan clue-clue yang dicantumkan.
Itulah salah satu ciri khas dari masa orientasi. Kita disuruh memikirkan makanan apa yang ada di balik clue-clue tersebut.
“Aku sudah menyelesaikannya tadi. Nanti aku beritahu.”
“Benarkah itu! Terima kasih Riki.”
Walaupun saat itu aku terlihat tenang dan menikmati makananku, tapi pikiranku masih saja memikirkan kejadian yang aku lakukan dengan Kak Deni.
__ADS_1
Semoga saja hal merepotkan tidak terjadi untuk sekarang.
-End Chapter 32-