
Hari pertama sekolah yang sesungguhnya pun dimulai. Setelah upacara bendera, kami pun langsung pergi ke kelas masing-masing untuk mengikuti kegiatan pembelajaran hari ini. Karena hari ini adalah hari pertama kegiatan belajar mengajar, pelajaran pertama pun diisi oleh masing-masing wali kelas.
Ketika masa orientasi, Kak Fauzi sudah memberitahu siapa wali kelas kami sebenarnya. Wali kelas kami adalah Pak Febri, dia adalah guru produktif dalam jurusan multimedia sekaligus kepala prodi dari jurusan ini.
Kami semua pun menunggu kedatangan wali kelas kami di dalam kelas. Semua murid terlihat lebih aktif dan lebih dekat dengan yang lainnya saat ini, sangat berbeda sekali ketika baru pertama masuk.
Sfx : Teeeng... Teng.... Teng..... Teng.......
Bel pun berbunyi dan semua siswa langsung pergi ke tempat duduknya masing-masing. Riki pun juga kembali ke kursinya, dia baru saja pergi dengan yang lainnya untuk berbincang-bincang di belakang kelas.
“Aku tidak sabar bagaimana wali kelas kita nanti?”
Seperti biasa, Riki selalu bersemangat dalam menjalani hari-harinya.
“Aku mendengar dari kakak kelas di ekskul seni, katanya Pak Febri orangnya baik.”
Kichida tiba-tiba membalas pertanyaan dari Riki.
“Benarkah?!”
“Iya, banyak kakak kelas yang berada di ekskul seni berkata seperti itu.”
“Di ekskulku juga sama, mereka bilang Pak Febri itu baik dan jarang sekali marahnya.”
Natasha juga bergabung dengan pembicaraan mereka.
Kemudian pintu kelas mulai terbuka secara perlahan, sesosok lelaki besar dengan membawa tas di punggungnya masuk ke dalam kelas. Dia pun langsung menuju ke meja guru yang berada di depan kelas. Semua murid hanya
terdiam memperhatikan Pak Febri. Kelas terasa hening sekali saat itu.
Pak Febri langsung membuka leptopnya dan menuliskan namanya dan juga nomer ponselnya di papan tulis.
“Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.”
Pak Febri memberikan salam kepada kami dan dibalas oleh semua murid.
“Perlu perkenalan tidak ya?... Sepertinya tidak perlu, kalian semua juga sudah mengenal saya waktu masa orientasi. Tapi supaya lebih formal akan bapak berkenalkan diri lagi. Nama bapak Febri Santoso... Biasanya
bapak dipanggil sama murid di sini Pak Febri. Bapak guru produktif di sini, karena guru produktif di sekolah ini tidak banyak, jadi mungkin ada beberapa pelajaran yang diisi oleh bapak.”
Pak Febri memperkenalkan diri kepada kami semua.
“Sekarang akan bapak panggil satu per satu supaya bapak tau juga nama anak-anak yang ada di sini. Karena selama satu tahun ke depan, kalian akan jadi tanggungan bapak selama bersekolah di sini.”
Pak Febri pun mulai melakukan absensi dan memanggil kami satu per satu, hingga semua anak sudah disebutkan semua.
“Kemarin yang menjadi ketua regu di kelas ini siapa?”
Setelah melakukan absen, Pak Febri langsung berdiri dan menulis sesuatu di papan tulis. Ternyata yang dia tulis adalah susunan kepengurusan kelas.
Semoga aku tidak terpilih.... Semoga aku tidak terpilih... Kumohon!
“Riki dan Natasha Pak.”
Jawab salah satu dari teman sekelasku.
“Coba bapak mau lihat siapa orangnya? Maaf ya, karena baru pertama ketemu jadi bapak belum hafal orang-orangnya.”
“Saya Pak.”
Riki dan Natasha pun mengangkat tangannya.
“Jadi kalian berdua... Apa kalian berdua mau menjabat menjadi ketua dan wakil kelas?”
Pak Febri langsung menawarkan jabatan itu kepada mereka berdua.
“Kalau saya mau saja Pak.”
Riki langsung menerima tawaran itu tanpa basa-basi lagi.
“Saya juga tidak masalah jika yang lainnya tidak keberatan.”
“Kalau begitu ketua dan wakil sudah diputuskan, sekarang tinggal mencari sekertaris dan bendahara beserta wakilnya.”
Pak Febri pun melihat ke daftar absensi murid yang berada di meja guru.
“Pa-”
Ketika Riki hendak ingin berbicara, aku pun langsung menghentikannya dengan menarik tangannya.
“Aku tau apa yang ingin kau lakukan, tapi sepertinya untuk kali ini aku tidak bisa membiarkanmu begitu saja.”
“Memangnya kenapa Mar? Aku rasa tidak ada salahnya jika kau menjadi salah satu dari pengurus kelas.”
“Begini Rik, menjadi pengurus kelas adalah satu langkah untuk dikenal oleh seseorang dan kalau kau melihat dari pandangan para murid di kelas ini. Sepertinya banyak dari mereka yang ingin menjadi salah satu dari pengurus kelas. Biarkan saja mereka yang mengisinya.”
Riki pun langsung melihat ke sekeliling kelas dan melihat beberapa anak yang sudah tidak sabar untuk mengajukan dirinya untuk menjadi pengurus kelas.
“Kau benar Mar, dari mana kau tau hal itu?”
“Tentu saja aku tau setelah melihat sifat mereka selama masa orientasi. Mereka ingin sekali terkenal tapi tidak mau memegang tanggung jawab yang begitu besar, jadinya posisi selain ketua dan wakil kelas menurut mereka adalah posisi yang paling ideal.”
“Baiklah, apa di sini ada yang mau mengajukan diri untuk menjadi sekertaris dan bendahara beserta wakilnya?”
Pak Febri pun bertanya kepada kami semua.
“Saya mau Pak!”
“Saya Pak!”
Dan seperti apa yang baru saja aku katakan, ada beberapa anak yang mengajukan dirinya untuk menjadi pengurus kelas.
“Semangat sekali kalian ya! Jarang sekali bapak melihat ada kelas yang seperti ini.”
Pak Febri memuji kami karena memiliki semangat yang sangat tinggi.
“Kau tidak mau menjadi pengurus kelas Mar?”
__ADS_1
Kichida tiba-tiba menoleh dan bertanya kepadaku.
“Seharusnya kau sudah tau jawabannya.”
Dan setelah pemilihan pengurus kelas, kami pun hanya menghabiskan waktu pelajaran kami untuk berbincang-bincang dan saling mengenal antara para murid dan Pak Febri.
Waktu istirahat pun tiba dan seperti biasa, kami pun berkumpul di pohon yang berada di dekat mushala. Sebelumnya kami sudah mendapatkan pesan dari Maul kalau tempat itu ternyata tidak ada yang menempati walaupun kelas sebelas dan dua belas sudah masuk. Jadi kita bisa menggunakannya
untuk memakan bekal kami seperti biasa.
Aku lupa memberitahu kalian, di sekolahku ini tidak ada larangan untuk membawa ponsel ke sekolah. Kami hanya dilarang membawa ponsel ketika masa orientasi saja.
“Bagaimana wali kelasmu?”
Aku langsung bertanya kepada Maul yang terlihat lesu ketika sampai di sana.
“Wali kelasku adalah guru killer. Padahal hari ini adalah hari pertama, tapi dia sama sekali tidak memberikan kesan bersahabat kepada anak didiknya.”
Maul pun menghela nafas yang cukup panjang.
“Kalau wali kelas kami sangat baik dan cantik juga, bukan begitu Rin?”
Miyuki secara spontan langsung bertanya ke Rina dan Rina terlihat tidak siap dengan apa yang ingin ditanyakan oleh Miyuki.
“..Eh...Hum.”
Aku pun melihat ke Rina yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Karena saat ini dia hanya diam sambil menikmati makanannya saja. Biasanya kalau sedang berbincang seperti ini, dia akan menanggapi pembicaraan kami.
“Wali kelasku juga lumayan baik juga.”
Yoshida juga ikut-ikutan memamerkan wali kelas mereka dan setelah Yoshida berkata seperti itu, Riki pun ikut-ikutan memamerkan Pak Febri kepada mereka semua.
“Bagaimana kalau mulai sekarang kita pulang bersama?”
Rina pun menyarankan sesuatu yang menurutku tidak terlalu buruk.
“Aku setuju."
“Aku rasa tidak masalah.”
“Hum, aku juga setuju dengan usulan itu.”
Dan mereka semua pun menyetujui usulan yang diberikan kepada rina.
“Bagaimana Ar menurutmu?”
“Aku tidak masalah dengan usulanmu, tapi aku ada ekskul hari ini.”
“Hari ini juga aku ada ekskul.”
Ternyata aku dan Riki memiliki waktu ekskul yang sama.
“Memangnya ekskulmu hari apa saja?”
Aku pun bertanya kepada Riki.
“Kalau untuk akhir-akhir ini, aku akan ekskul dari hari senin sampai kamis. Karena sebentar lagi mau mendekati seleksi O2SN, jadi kami harus banyak-banyak berlatih.”
Rina memberikan semangat kepada Riki.
“Terima kasih Rina!”
“Tenang saja Mar, kami akan menunggu di perpustakaan.”
“Apa kau yakin Miyuki? Kalau aku rasa, lebih baik kalian pulang duluan saja. Aku tidak enak kepada kalian yang harus menunggu kami hingga kelar ekskul.”
“Itu tidak masalah Ar, malahan kami bisa sekalian mengerjakan pr yang diberikan.”
“Aku juga berpikiran hal yang sama dengan Rin-chan.”
Yoshida dan Kichida memiliki pemikiran yang sama dengan Rina.
“Ya sudah, tapi hal ini tidak dipaksakan ya. Kalau kalian ada urusan mendadak, kalian bisa langsung pulang saja.”
“OK.”
Dan akhirnya kesepakatan untuk pulang bersama pun sudah disetujui oleh seluruh pihak.
“Ar, bisa kamu menemaniku pergi ke kantin?”
“Untuk apa?”
“Aku ingin membeli minuman di sana.”
Akhirnya aku pun menemani Rina untuk pergi ke kantin. Sebenarnya sebelumnya ada Miyuki yang ingin pergi juga bersama kami tapi dia dihentikan oleh Riki. Sepertinya Riki juga tau kalau Rina mengajakku ke kantin karena ada sesuatu yang ingin dia katakan tapi dia tidak bisa mengatakannya di tempat tadi.
“Apa hal yang ingin kau bicarakan?”
Rina pun terlihat terkejut karena aku mengetahui dengan jelas maksudnya.
“Sepertinya aku ketahuan ya... Aku memang tidak pandai untuk menyembunyikan ekspresiku.”
Rina pun memegang kedua pipinya dengan tangannya.
“Sebenarnya tadi pagi ada beberapa kakak kelas yang datang ke kelasku untuk bertemu dengan Miyuki. Tapi saat mereka datang, Miyuki belum tiba di sekolah.”
Sudah aku duga dari Miyuki. Padahal ini baru hari pertama masuk sekolah, tapi dia sudah terkenal di kalangan kakak kelas. Bahkan Riki saja yang memiliki prestasi yang cukup membanggakan aku rasa belum dikenal
oleh kakak kelas seperti dia. Sepertinya sebuah prestasi masih dapat dikalahkan dengan kecantikan. Apa jangan-jangan kecantikan itu juga sebuah prestasi ya?
“Apa Miyuki sudah mengetahui hal ini?”
“Sudah, teman sekelasku sudah memberitahunya.”
“Bagaimana tanggapannya?”
“Dia terlihat seperti biasa saja... Dan juga Ar, aku mau kau menyembunyikan pembicaraan kita ini kepada Miyuki. Karena ketika di kelas tadi dia berpesan kepadaku untuk tidak memberitahukannya kepadamu.”
__ADS_1
”Mengapa seperti itu?”
Aku sedikit bingung dengan apa yang baru saja Rina katakan. Kenapa Miyuki harus menyembunyikan hal ini dariku.
“Sepertinya dia ingin menyelesaikan masalah ini sendiri.”
Jadi begitu... Ingin menyelesaikan masalah ini sendiri kah. Tapi apakah dia bisa menyelesaikan hal ini sendiri, mengingat ketika SMP dia pernah mengalami hal yang sama namun tidak dapat mengatasinya.
“Baiklah, aku tidak akan mengatakan hal ini kepadanya.”
“Ar... Aku mohon kepadamu untuk menolong Miyuki, aku tidak mau dia mengalami hal yang sama dengan apa yang aku alami ketika waktu SMP.”
Rina pun meminta bantuan kepadaku, aku melihat matanya yang penuh dengan rasa berharap. Jarang sekali melihatnya meminta tolong seperti ini. Sepertinya hal seperti ini sudah bukan wilayahnya lagi.
“Tenang saja Rina, aku akan berusaha menolongnya semampuku. Untuk saat ini biarkan saja Miyuki mencoba melakukan apapun yang dia bisa.”
“Terima kasih Ar.”
“Itu bukan masalah.”
Karena aku memiliki firasat kalau apa yang akan menimpa Miyuki ada kaitannya denganku, dan juga tanpa disadari aku akan terseret ke dalam masalah yang dia punya. Jadi mau tidak mau aku harus menolongnya.
***
“Mar, bisakah aku meminta tolong kepadamu untuk memberikan kertas kuis ini kepada Pak Febri? Aku ingin bergegas pergi ke gedung olahraga soalnya.”
Riki pun membereskan mejanya dan memberikanku tumpukan kertas.
“Bukankah ekskul biasanya dimulai jam empat, sekarang saja baru jam tiga lebih.”
Aku pun melihat jam dinding yang ada di dalam kelas.
“Kau tau kan Mar kalau sebentar lagi mau mendekati seleksi O2SN, jadi jam ekskulku dimajukan menjadi setelah azan asar.”
Sibuk sekali sepertinya ekskul pencak silat itu, selain menambah hari untuk berlatih bahkan jam latihannya pun ditambah. Sepertinya dia akan sangat sibuk akhir-akhir ini.
“Baiklah, aku akan memberikannya kepada Pak Febri.”
Aku pun mengambil tumpukan kertas itu dan ingin segera pergi.
“Oh iya Mar, kalau kau mencari Pak Febri setelah pulang sekolah. Dia berada di lab multimedia, jadi lebih baik kau langsung ke sana saja.”
“Terima kasih atas infonya.”
Aku pun akhirnya pergi menuju ke lab multimedia. Sebenarnya hari ini aku juga ada kegiatan ekskul dan ini adalah hari pertama, tapi karena ekskulku tidak sesibuk Riki dan baru dimulai sekitar jam empat nanti, jadi aku
masih memiliki banyak sekali waktu.
“Permisi!”
Aku pun membuka pintu lab dan langsung masuk ke dalamnya. Di dalam lab terdapat beberapa siswa yang mungkin sedang mengerjakan tugasnya. Aku juga melihat Pak Febri yang sedang berada di salah satu meja
komputer yang berada di baris depan.
“Pak Febri, ini saya mau memberikan kertas kuis yang tadi pagi bapak berikan.”
Aku langsung menghampiri Pak Febri untuk memberikan kertas itu.
“Kamu taruh saja kertas kosong itu di meja yang ada di depan sana.”
Dengan pandangan masih terfokus kepada komputernya, Pak Febri menunjuk sebuah meja kosong yang berada di depan kelas.
Aku pun menaruh kertas itu di meja yang disuruh oleh Pak Febri. Kemudian aku pun berniat untuk menghampiri Pak Febri sebentar. Aku sedikit penasaran dengan apa yang dilakukan Pak Febri. Karena waktuku masih banyak, sepertinya tidak ada salahnya aku berada di sini sedikit lebih lama.
Ketika mataku melirik ke arah layar komputer yang sedang digunakan oleh Pak Febri. Aku melihat Pak Febri sedang memainkan sebuah gim yang saat ini sedang terkenal. Hal itu pun membuatku sedikit tersenyum dan
menjadi sedikit terpaku dengan gimnya.
“Main gim ini juga Pak?”
“Kamu juga main gim ini?... Amar ya?”
Sepertinya Pak Febri masih belum mengingat namaku dengan jelas.
“Iya Pak... Dulu saya masih main gim ini di warnet Pak. Tapi karena sekarang saya udah ga main gim ini lagi.”
Aku pun melihat jam dinding yang ada di sana dan aku masih mempunyai waktu tiga puluh menit sebelum ekskulku dimulai. Aku pun memutuskan untuk melihat Pak Febri bermain. Aku pun duduk di bangku kosong yang berada tepat di sampingnya.
“Nyalakan saja komputernya Mar, kita main bersama.”
Pak Febri mengajak Amar untuk bermain bersamanya.
“Lain kali saja Pak, soalnya sebentar lagi saya mau ekskul. Saya tidak mau melewatkan hari pertama saya... Lagi pula, memangnya boleh menggunakan komputer sekolah untuk bermain gim seperti ini Pak?”
Sebenarnya aku ingin sekali bermain gim itu karena sudah lama sekali aku tidak bermain gim itu. Aku terakhir bermain gim itu mungkin sebelum ujian nasional.
Jadi gim yang sedang dimainkan oleh Pak Febri adalah gim bergenre MOBA (Multiplayer Online Battle Arena) yang sedang ramai dimainkan oleh semua orang yang berada di seluruh penjuru dunia. Bahkan gim ini sudah termasuk kedalam olahraga elektronik yang memiliki hadiah terbesar di dunia. Dulu waktu pertama bermain gim ini aku bercita-cita untuk menjadi seorang pro player untuk mengikuti pertandingannya.
“Tidak ada peraturan yang mengatakan kalau kita tidak boleh bermain gim di komputer lab setelah pulang sekolah. Lagi pula komputer yang ada di lab ini tidak terkoneksi dengan internet ketika jam pulang sekolah. Semua komputer yang ada di sini hanya dikoneksikan dengan internet ketika sedang kegiatan belajar mengajar saja.”
Aku baru mendengar jawaban guru yang seperti ini. Biasanya para guru berusaha terlihat baik dihadapan para muridnya. Tapi entah kenapa Pak Febri terlihat santai dan bersikap apa adanya saja, apa mungkin karena umurnya yang masih muda yang membuatnya seperti ini.
“Lalu bapak bermain gim ini menggunakan koneksi dari mana?”
“Saya membawa modem sendiri.”
Pak Febri menunjuk sebuah kotak kecil yang dia letakan di atas pintu masuk.
“Apa bapak bermain gim ini setiap hari di sini?”
“Tentu saja, sebelum pulang sekolah saya selalu pergi ke lab untuk bermain sebentar. Lagi pula kadang-kadang ada beberapa murid yang suka meminta bantuan tentang tugasnya ketika pulang sekolah.”
“Kalau begitu, mungkin besok saya akan ke sini untuk bermain.”
“Woah benarkah itu! Aku tidak sabar menantikan hal itu.”
Pak Febri pun terlihat senang mendapatkan teman bermainnya.
__ADS_1
Dan aku pun kembali menyaksikan Pak Febri bermain gimnya dan memberikannya beberapa saran kepadanya. Aku tidak percaya dapat menemukan guru sepertinya di sekolah ini.
-End Chapter 39-