Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 110 : Misi Penyelamatan Bagian Kedua


__ADS_3

“Dari mana kau tau hal itu Mar?”


“Jelaskan kepadanya Mul.”


Aku menyuruh Maul untuk menjelaskannya.


“Aku sudah memeriksa ponsel bapakmu dan aku melihat ada pembicaraan antara bapakmu dengan seseorang yang menawarkan kepadanya sejumlah uang yang cukup besar dengan syarat dia harus menyerahkan adiknya Akbar kepada orang itu.”


Maul menunjukkan pembicaraan bapaknya Akbar dengan seseorang itu kepada kami semuanya.


Saat ini kami sedang berada di dalam misi penyelamatan adiknya Akbar yang diculik oleh bapaknya sendiri. Aku, Maul, dan Riki kini sedang berada di rumahnya Akbar untuk membahas tentang rencana penyelamatan itu.


“Siapa orang itu?”


Akbar mulai terlihat sedikit emosi mendengar kalau ada seseorang yang mengincar adiknya.


“Aku sendiri tidak tau karena bapakmu tidak menyimpan nomor telepon orang tersebut.”


Ada satu hal yang membuatku penasaran akan hal ini.


Kenapa orang itu bisa mengetahui kalau bapaknya Akbar memiliki seorang adik? Apa dia sudah menyelidikinya terlebih dahulu atau memang orang yang menawarkan itu adalah seseorang yang dekat dengan bapaknya Akbar.


“Aku merasa kalau orang itu terlibat dalam pelelangan manusia juga.”


“Kenapa seperti itu Mar?”


Tanya Riki.


“Kalau tidak terlibat dengan pelelangan manusia, buat apa dia mau membeli adiknya Akbar. Ngomong-ngomong berapa jumlah uang yang dia tawarkan?”


“Dia menawarkan dua ratus juta rupiah kepada bapaknya Akbar.”


Aku melihat Akbar dan Maul terkejut mendengar hal itu.


“Itu nominal yang terlalu kecil untuk membeli seorang manusia.”


“Tapi nominal itu sangat besar bagi orang yang tidak pernah memiliki uang banyak Mar.”


Apa yang Maul katakan memang benar. Bagi orang seperti bapaknya Akbar yang sering meminta uang kepada Akbar, pasti itu adalah jumlah yang cukup banyak. Hal itu juga yang mungkin membutakan matanya hingga dia berani untuk menjual anaknya sendiri.


“Kalau begitu kalian harus segera pergi Mar! Kalau kalian terlambat, adikku bisa tidak selamat.”


Rasa khawatir Akbar semakin menjadi-jadi.


“Lebih baik tenangkan dirimu terlebih dahulu dan kita susun rencananya.”


Maul mencoba menenangkan Akbar.


“Bagaimana aku bisa tenang disaat adikku sedang dalam bahaya.”


“Kau tenang saja, aku sudah mengetahui kapan bapakmu menyerahkan adikmu kepada orang itu. Dan kalau dilihat dari jam sekarang, waktunya masih sangat lama.”


Maul melihat ke arah jam dinding yang ada di sana.


“Apa kau tau dimana lokasi mereka akan bertemu?”


“Aku sudah mengetahuinya Mar, kebetulan orang itu mengirimkan alamatnya juga kepada bapaknya Akbar.”


“Syukurlah.”


Kalau begitu waktu kita masih banyak untuk memikirkan rencana apa yang bagus untuk dijalankan. Aku akan memikirkan rencana terbaik dan juga teraman.


“Jadi apa yang akan kita lakukan?”


Riki bertanya kepadaku.


“Untuk sekarang Akbar akan ikut dengan Maul.”


Aku memberikan intruksi kepadaya.


“Aku berencana pergi ke polsek untuk bertemu dengan bapakku di sana. Kau bisa ikut denganku Bar.”


Ucap Maul.


“Lalu kalau kita Mar?”


“Kau dan aku akan langsung menuju ke tempat transaksi mereka.”


Karena ada sesuatu yang aku khawatirkan dari informasi yang dimiliki oleh Maul.


“Aku tidak sabar untuk melihat bapaknya Akbar dan menghajarnya.”


Riki mengepalkan tangannya dan menghantamkannya satu dengan yang lainnya.


“Kau harus menahan amarahmu itu Rik, karena apa yang kau lakukan itu bisa saja membahayakan keselamatan adiknya Akbar.”


“Aku akan berusaha untuk menahannya.”


Itulah kenapa aku tidak mau mengajak Akbar ikut denganku terjun ke lapangan. Aku saja tidak yakin bisa mengatasi Riki jika dia bertindak semaunya. Bagaimana jika Akbar melakukan hal yang sama, apalagi yang saat ini menjadi korbannya adalah adiknya. Pasti emosionalnya bisa tidak terkendali jika melihat adiknya diapa-apakan oleh orang itu.


“Apa polisi bisa datang ke tempat transaksi itu tepat waktu?”


“Tentu saja, karena yang memegang kasus ini adalah bapakku. Selain itu aku akan berada di sana dan mengarahkan mereka ke tempat yang benar.”


“Kenapa bapakmu yang mengambil alih kasus ini? Bukannya daerah ini bukan daerah bapakmu bertugas.”


“Karena hal ini ada kaitannya dengan perdagangan manusia, mungkin bapakku dapat mengetahui sebuah petunjuk dari kasus ini.”

__ADS_1


Benar juga, kalau bapaknya Maul bisa mendapatkan petunjuk yang membantunya dapat menyelesaikan kasus penculikan ini. Aku sangat terbantu sekali.


“Berarti kalau begitu tugas kita hanya perlu mengulur waktu hingga polisi datang ke lokasi transaksi itu Rik.”


“Siap Pak!”


“Bawa ini Mar.”


Maul memberikan ponselnya kepadaku.


“Apa ini ponsel yang sudah kau modifikasi waktu itu?”


Aku melihat ponsel yang diberikan oleh Maul dengan seksama.


“Iya, ponsel itu akan menuntunmu ke tempat bapaknya Akbar berada dan kau juga dapat mendengarkan pembicaraan bapaknya Akbar dengan orang itu jika mereka melakukan panggilan dengan ponsel mereka.”


“Ini sangat membantuku.”


Aku pun meletakkan ponsel itu di dalam sakuku.


“Kau tidak usah khawatir Bar, kami pasti akan menyelesaikan hal ini dan membawa adikmu kembali dengan semangat.”


Riki memegang pundak Akbar dan menyemangatinya.


“Kalau begitu rencananya kita mulai.”


Aku dan Riki pun berpisah dengan Maul dan Akbar karena tempat yang kita tuju berbeda.


Setidaknya aku harus melakukan sedikit pemanasan untuk hal ini karena sebentar lagi aku akan melakukan sesuatu yang merepotkan. Aku tidak mau ada uratku yang ketarik saat aku sedang beraksi nanti.


“Apa kita akan langsung pergi ke tempat transaksinya Mar?”


“Tidak, kita pergi ke titik ini terlebih dahulu.”


Aku menunjukkan ponsel yang diberikan Maul kepadaku. Saat itu aku sedang membuka peta dan di sana petanya menunjukkan ke sebuah titik yang akan kami tuju.


“Kenapa? Bukannya kita sudah mengetahui dimana mereka akan bertemu.”


“Tempat pertemuan itu bisa saja menjadi jebakan atau pengecoh bagi kita saja.”


Karena menurut analisaku dari perkembangan kasus penculikan ini. Tidak mungkin mereka memberitahu lokasi transaksi mereka secara langsung seperti itu. itu sama saja seperti sedang bunuh diri. Kalau cara main mereka dari dulu memang seperti itu. Seharusnya bapaknya Maul tidak perlu kesulitan dalam menumpas kasus seperti ini.


“Kenapa begitu Mar?”


“Kau pikir saja Rik, tidak mungkin ada orang yang melakukan perdagangan manusia tapi mengirim pesan terang-terangan seperti itu.”


“Benar juga, aku juga sempat curiga ketika Maul berkata kalau orang itu mengirim lokasinya secara langsung kepada bapaknya Akbar.”


Hmmm... Kalau sudah tau seperti itu, kenapa kau harus bertanya kepadaku.


“Aku rasa kalau orang yang ingin membeli adiknya Akbar sangat waspada dan tau kalau anggota kepolisian dapat meretas pembicaraan mereka.”


“Kalau begitu, kenapa kau tidak menjelaskannya saat rapat tadi Mar?”


“Jika aku mengatakan semuanya saat rapat itu, bisa-bisa Akbar akan cemas.”


“benar juga.”


“Untuk saat ini tuas kita hanya bertemu dengan bapaknya Akbar dan mengikutinya hingga sampai ke tempat lokasi yang sebenarnya.”


Tapi bagaimana kita mengikutinya jika dia pergi dengan menggunakan motor?


“Aku tidak percaya ada seorang bapak yang mau melakukan hal itu kepada anaknya sendiri.”


Riki melihat ke langit dan dia menendang batu kerikil yang kami jumpai di jalan.


“Mau bagaimana lagi, kalau sudah berbicara tentang uang memang seperti itu.”


“Aku jadi teringat perkataanmu tentang dua hal yang paling menakutkan di dunia ini yaitu uang dan juga cinta.”


“Begitulah, apa yang aku katakan waktu itu adalah hasil pengamatanku selama ini.”


Karena banyak manusia yang mudah dikendalikan oleh uang dan cinta, mereka takut akan kedua hal itu, bahkan hal yang terbesar seperti tuhan saja mereka masih bisa menentangnya.


Kalau mereka berkata karena tuhan tidak bisa dilihat, cinta juga tidak bisa dilihat. Dan kalau mereka juga berkata kalau tuhan tidak bisa dirasakan, merekanya saja yang sudah menutup diri untuk tidak merasakan akan hal itu.


"Bagaimana jika bapaknya Akbar pergi dengan menggunakan kendaraan? Itu akan sangat menyusahkan kita mengingat kita tidak bisa mengejarnya dengan menggunakan kendaraan juga.”


Itulah yang dari tadi aku pikirkan.


“Mungkin bisa menggunakan ojek jika hal itu memang terjadi.”


Karena mengejar motor paling mudah dengan menggunakan motor.


“Berapa banyak uang yang harus dibayar untuk hal itu?”


“Kita bisa membicarakan hal itu nanti, hal yang paling utama saat ini adalah keselamatan dari adiknya Akbar.”


“Aku tau hal itu, tapi yang menjadi masalahnya adalah siapa yang mau membayarnya? Aku sedang tidak membawa uang banyak saat ini juga.”


Keluh Riki terhadapku.


Lagi pula aku juga tau uang yang dia miliki tidak begitu banyak hingga bisa membayar tarif yang diberikan oleh abang ojek jika kita memang mengikuti bapaknya Akbar dengan ojek.


“Aku yang akan membayar semuanya.”


“Tumben sekali kau mau mengeluarkan uang untuk hal seperti ini.”

__ADS_1


Riki terheran-heran melihatku berkata seperti itu.


“Aku merasa sedikit bersalah dalam masalah ini.”


“Kenapa?”


“Kejadian ini masih ada kaitannya dengan masukan yang aku berikan kepada Akbar waktu itu, jadi aku merasa kalau aku harus bertanggung jawab karena telah memberikannya masukan.”


Mendengar itu pun membuat Riki tersenyum tapi tidak mengatakan apa-apa. Dia sangat senang sekali seperti telah mendengar sebuah kabar yang sangat membahagiakan sekali untuknya.


“Lagi pula, kalau aku bisa mengembalikan adiknya Akbar dengan selamat dan mencari tau lebih dalam tentang penjualan manusia ini. Aku bisa sedikit membantu bapaknya Maul dalam menyelesaikan kasus ini.”


Kami akhirnya sampai di halte bis dan segera menaiki bis yang menuju ke Tanjung Priok. Karena menurut titik yang diberikan oleh Maul, bapaknya Akbar saat ini berada di kawasan Ampera yang ada di Jakarta Utara.


“Kira-kira kendaraan apa yang akan digunakan olehnya untuk membawa diknya ke tempat transaksi itu ya?”


“Kenapa kau menanyakan hal itu?”


“Aku hanya penasaran saja, karena aku rasa tidak mungkin jika dia membawanya dengan menggunakan motor.”


“Bisa saja dia menggunakan motor Rik.”


Selama adiknya Akbar masih belum menyadari kalau dirinya saat ini sedang ingin dijual dan dia tidak memberontak, aku rasa bapaknya Akbar bisa membawanya dengan menggunakan motor.


 “Alasannya?”


“Adiknya Akbar masih terlalu kecil dan sepertinya dia tidak mengetahui masalah apa yang dialami oleh keluarganya.”


“Dari mana kau tau itu Mar?”


“Kau lihat saja sikapnya saat kita datang mengunjungi rumahnya waktu itu. Dia sama sekali tidak terlihat seperti anak kecil yang sedang mengalami masalah.”


Mendengar itu membuat Riki bingung, aku rasa dia tidak mengerti apa yang baru saja aku katakan kepadanya.


“Aku tidak mengerti maksudmu Mar? Dari mana kita bisa tau anak yang memiliki masalah dengan yang tidak.”


“Walaupun masih kecil, kalau dia mengetahui kalau keluarganya sedang memiliki masalah, biasanya sikapnya akan berbeda dengan anak-anak lain kebanyak. Dia pasti akan cenderung suka menyendiri, menjauhi orang lain, dan tidak suka berintraksi. Kalau kemarin pas kita datang ke rumahnya, dia berbicara dengan kita walaupun tidak sering. Dan pandangannya juga tidak terlihat seperti anak yang memiliki masalah.”


Aku dapat mengetahui hal itu karena dulu aku juga memiliki seorang teman sekelas yang seperti itu.


“Setelah kau katakan seperti itu, benar juga ya.”


“Aku rasa Akbar menyembunyikan semua itu dari adiknya agar adiknya dapat tumbuh seperti anak biasanya tanpa memikirkan masalah yang terjadi di keluarganya.”


“Iya, untuk anak seumurannya mungkin hal itu akan mengganggu dalam bergaul.”


“Dan sekarang, menurutku adiknya Akbar sedang dibujuk oleh bapaknya sendiri dengan diiming-imingi sesuatu.”


Walaupun Akbar berkata adiknya pernah mendapatkan perlakukan kasar dari bapaknya, tapi aku rasa hal itu sudah terobati. Selain itu, aku rasa bapaknya berlaku kasar kepada adiknya hanya sekali saja. Kalau sudah sering dan menimbulkan trauma, seharusnya adiknya tidak akan mau ikut dengan bapaknya.


“Kalau begitu kita harus bergegas Mar.”


“Tenang saja, kemanapun bapaknnya pergi pasti kita dapat menemukannya.”


Ucapku sambil menunjukkan ponsel yang diberikan oleh Maul.


“Kenapa kau bisa seyakin itu?”


“Ponsel bapaknya Akbar sudah berada di dalam genggamannya Maul, pasti saat ini Maul juga masih mengontrol ponsel milik bapaknya Akbar. Jika dia ingin mematikan sinyal atau melakukan sesuatu agar tidak dapat dilacak. Pasti Maul melakukan pencegahan akan hal itu.”


Itulah kenapa aku harus mengajak Maul dalam misi ini.


“Sejauh mana aplikasi yang dibuat Maul itu berkembang?”


“Aplikasi ini sudah sangat berkembang saat kau pergi.”


“Kalau begitu aku tidak perlu cemas.”


Riki pun melemaskan pundaknya dan sedikit bersantai.


Memang itu yang diperlukan untuk saat ini, jangan sampai tenaga kita sudah habis sebelum kita terlibat dalam masalah yang utama.


“Ingat Rik! Jangan pernah bertindak seorang diri apapun yang terjadi nantinya.”


Aku menekankan hal itu lagi kepada Riki.


“Kenapa kau selalau khawatir tentang hal itu Mar? Aku tidak akan melakukan hal bodoh lagi.”


“Aku sedikit ragu tentang hal itu.”


“Percayalah kepadaku sedikit saja Mar!”


Riki memohon kepadaku.


“Emosimu itu kadang-kadang tidak stabil ketika melihat sesuatu yang bisa membuatmu marah, dan mungkin kau akan melihat hal seperti itu ketika berada di lokasi transaksi.”


Karena firasatku berkata demikian.


“Apa itu juga yang dirasakan firasatmu?”


“Begitulah.”


“Aku akan lebih berhati-hati lagi dan berusaha untuk mengendalikannya kalau begitu.”


“Baguslah kalau begitu.”


Setelah perjalanan yang cukup jauh, akhirnya kami pun sampai di kawasan yang ditunjukan oleh Maul melalui aplikasi dari ponselnya.

__ADS_1


Sekarang, saatnya mencari dimana bapaknya Akbar saat ini.


-End Chapter 110-


__ADS_2