Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 144 : Pak Febri Mengerikan Sekali Ketika Marah.


__ADS_3

Sehari setelah kejadian itu telah berlalu, aku yang sudah mengambil izin selama sehari pun sudah selesai dan sekarang waktunya aku kembali bersekolah seperti biasa. Sebenarnya aku dan Riki berniat untuk menghabiskan satu hari itu untuk beristirahat di rumahnya Maul.


Tetapi ibunya Miyuki menyuruh kami beristirahat di sana dan kami baru pulang ke rumah masing-masing pada siang hari. Ya walaupun Riki baru pulang ke rumahnya menyesuaikan seperti dia pulang dari sekolah agar orang rumahnya tidak mengetahui kalau dia tidak masuk ke sekolah hari ini.


Seperti biasa, saat aku memasuki kelas. Mataku langsung melihat ke seisi kelas untuk melihat apakah ada sesuatu yang berubah atau yang menarik di sana. Tapi ternyata pada hari itu tidak ada sesuatu yang berubah.


Aku pun melanjutkan langkahku untuk menuju ke tempat dudukku.


Hari ini Kichida belum masuk karena dia harus beristirahat terlebih dahulu di rumahnya.


Baru saja aku dan Riki sampai di tempat duduk kami. Natasha dan Akbar yang masuk ke kelas bersamaan langsung menghampiri kami.


“Kalian semua kemarin kemana tidak masuk? Bahkan Miyuki, Rina, Yoshida, dan Takeshi juga tidak masuk ke sekolah.”


Tanya mereka berdua kepada kami.


“Kami hanya pergi ke suatu tempat bersamaan saja.”


“Apa kalian pergi ke Jepang?”


Ucap Natasha dengan percaya dirinya kalau kami memang pergi ke sana.


“Kalau seandainya aku dan yang lainnya pergi ke Jepang, mungkin hari ini aku masih berada di sana dan belum masuk ke sekolah.”


Lagian buat apa aku ke Jepang di saat sekolah masih belum liburan.


“Dan juga kenapa Kichida masih belum masuk juga? Apa kalian mengetahui sesuatu tentang hal itu?”


“Mungkin dia baru masuk minggu depan.”


Aku pun mengeluarkan buku untuk pelajaran pertama pada hari ini.


“Dari mana kau tau Mar?”


“Aku diberitahu dari Miyuki seperti itu.”


“Apa Kichida sedang sakit?”


“Begitulah.”


Natasha sangat penasaran sekali akan hal itu. Itu tentu saja karena Natasha sama sekali tidak tau apa yang menimpa Kichida sebenarnya. Kalau dia sampai tau akan hal itu, mungkin dia akan terkejut dan menjadi heboh sekaligus panik.


“Perhatian-perhatian, untuk anak-anak yang dipanggil ini. Tolong segera datang ke ruang pertemuan karena Pak Febri sedang menunggu mereka di sana.”


Terdengar suara pemberitahuan dari pengeras suara yang ada di kelas.


Aku yakin kalau pengumuman ini ditujukan untuk aku, Riki, dan Maul.


Kenapa juga Pak Febri perlu menggunakan hal ini untuk memanggil kami? Sudah tau kalau siaran dari pengeras suara ini akan disiarkan ke seluruh kelas yang ada di sekolah ini, dan tentu kalau orang yang tidak mengetahui apa masalah yang sedang kami hadapi akan berpikir yang tidak-tidak tentang kami.


“Riki Ryandi dari kelas sepuluh Multimedia D, Maulana Adiputra dari kelas sepuluh RPL A, dan Amarul Ihsan dari kelas sepuluh Multimedia D. Untuk nama-nama yang dipanggil tadi tolong segera pergi ke ruang pertemuan karena ditunggu oleh Pak Febri, terima kasih.”


Setelah pengumuman itu berakhir, semua murid di kelas langsung melihat ke arahku dan juga Riki. Bahkan ada beberapa di antara mereka yang bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan kami.


Sudah aku duga kalau akan menjadi seperti ini.


Aku dan Riki pun langsung bergegas untuk pergi ke ruang pertemuan.


“Apa kalian sedang mengerjakan sesuatu dengan Pak Febri?”


Tanya Akbar kepada kami berdua.


“Begitulah, akhir-akhir ini kami memang sedang ada urusan dengan Pak Febri.”


Kami pun pergi meninggalkan kelas.


Ketika kami bertiga sampai di sana, aku sudah melihat Pak Febri menunggu kami tapi wajahnya terlihat tidak senang sama sekali.


Aku berfirasat kalau dia sudah mengetahui apa yang terjadi dengan Kichida dan apa yang kami lakukan untuk menyelamatkannya.


Sepertinya hari ini, aku akan mengawali hariku dengan omelan dari Pak Febri.


“Oi Mar, apa ada seseorang yang memberitahu Pak Febri tentang kejadian kemarin?”


Maul berbisik kepadaku.


“Aku juga tidak tau... Kalau dia terlihat marah seperti ini, berarti memang ada orang yang memberitahunya.”


“Kira-kira siapa ya?”


“Bisa jadi orang tua Kichida yang memberitahukannya kepada Pak Febri.”


Itu bisa jadi, karena hanya orang tuanya Kichida saja yang kemarin pergi ke sekolah untuk memberitahu bagaimana keadaannya Kichida.


“Kalian bertiga silahkan duduk.”


Kami bertiga pun duduk secara perlahan sekaligus untuk mempersiapkan mental kami jika Pak Febri benar-benar akan memarahi kami.


Keadaan yang terjadi di sana sangat tegang sekali, tidak ada yang berani untuk memulai pembicaraan dengan Pak Febri. Kami dengan pasrah menunggu Pak Febri mengeluarkan omelan dari mulutnya itu.


“Aku sudah mendengar semua yang terjadi dari bapaknya Kichida kemarin saat dia melaporkan tentang keadaannya Kichida.”


Benar sekali Mul, dia mengetahui hal ini dari bapaknya Kichida.


Seharusnya saat berbicara dengan bapaknya Kichida kemarin, aku juga memperingatkannya untuk tidak menceritakan hal ini kepada Pak Febri.


“Dan bapaknya Kichida berkata kalau kalian bertiga yang menyelamatkan Kichida dari penculikan itu.”


Pak Febri mulai melihat kami dengan tatapan yang sangat tajam sekali yang membuat kami menunduk tidak berani untuk menatap matanya itu.


“Bukankah aku sudah berkata kepadamu Mar untuk tidak melakukan sesuatu yang berbahaya lagi.”

__ADS_1


“Tenang saja Pak, kami bertiga tidak apa-apa kok!”


Kemudian Pak Febri menggebrak meja yang ada di hadapan kami yang membuat kami makin diam dan ketakutan akan hal itu.


Aku tidak pernah melihat Pak Febri marah, dan ternyata dia sangat menakutkan sekali jika sudah marah seperti ini.


“Mungkin untuk sekarang tidak terjadi apa-apa kepada kalian, tapi bagaimana jika terjadi sesuatu kemarin. Aku kan berkata kalau aku akan sangat menyesal sekali jika terjadi sesuatu kepada kalian karena aku yang menyuruh kalian untuk melakukan hal itu.”


“Kami minta maaf karena hal itu Pak!”


Kami bertiga meminta maaf kepada Pak Febri, karena tidak ada yang bisa aku katakan lagi saat ini kecuali meminta maaf kepadanya.


“Pokoknya jangan pernah lakukan ini lagi, kalau kalian sampai melakukan hal ini. Aku tidak akan segan-segan untuk memberitahukannya kepada orang tua kalian.”


“Baik Pak!”


Kami bertiga mengiyakan hal itu.


Mungkin bagi Maul hal itu tidak terlalu masalah karena orang tuanya Maul memang sudah mengetahui apa yang dilakukan oleh anaknya, tapi berbeda dengan aku dan Riki.


“Siapa yang merencanakan ini semua?”


“Aku yang merencanakannya Pak!”


Aku langsung mengangkat tanganku dan mengakui hal itu.


“Sudah pasti kau yang merencanakan hal ini semua.”


Pak Febri pun menarik nafasnya yang panjang..


Aku yakin dia akan memarahiku seorang diri. Sebaiknya aku juga mempersiapkan diriku untuk hal itu.


“Sepertinya marah-marahnya sudah cukup... Kalian bertiga sangat hebat sekali bisa menumpaskan penjahat seperti itu..”


Melihat sifat Pak Febri yang berubah dan berbalik menjadi memuji kami membuat kami bertiga saling pandang dan kebingungan apa yang sebenarnya sedang terjadi oleh Pak Febri, padahal sebelumnya dia terlihat sangat marah sekali.


“Pak Febri tidak marah lagi?”


Aku memastikan hal itu kepadanya.


“Untuk apa aku marah kepada murid-muridku yang hebat ini, justru aku bangga kepada kalian karena kalian telah berhasil menumpaskan kejahatan yang sedang marah terjadi. Bahkan aku sudah melihat berita kalau angka penculikkan menurun drastis.”


“Kalau begitu kenapa kau marah-marah di awal tadi?”


Aku sedikit protes dengan sikapnya ketika kami datang tadi, karena hal itu tentu saja membuat kami sedikit takut.


Apa kalian tau? Kalau orang yang tidak pernah marah akan sangat menakutkan ketika mereka sudah marah, dan begitulah Pak Febri.


Dari awal masuk ke SMK ini sampai sekarang, aku sama sekali tidak pernah melihat dia marah seperti tadi, bahkan sampai menggebrak meja.


“Itu hanya formalitas saja, tapi aku juga akan sedikit marah kepada kalian bertiga jika kalian membahayakan diri kalian lagi. tapi karena aku tau kalau kalian melakukan itu untuk teman kalian, aku tidak terlalu mempermasalahkan itu.”


“Aku kira saat kami tiba di sini, kami hanya akan dimarah-marahi saja.”


“Aku juga berpikiran seperti itu.”


Ucap Maul.


“Apa penjualan manusia itu benar terjadi? Aku bahkan baru saja mengetahui hal itu dari bapaknya Kichida. Kalau seandainya bapaknya Kichida tidak bercerita, mungkin sampai sekarang aku tidak mengetahuinya.”


Pak Febri langsung menjutkannya dengan topik yang lain.


“Iya, itu benar terjadi.”


“Aku tidak tau kalau di Indonesia ada yang seperti itu.”


Ucapan Pak Febri sama seperti orang-orang yang pertama kali mengetahui tentang hal itu.


“Semua orang yang baru pertama kali mendengarnya pasti berbicara hal yang sama Pak.”


Ucap Riki.


“Lalu dari mana kalian bisa mengetahui tempat penjualannya? Bukannya tempat itu seharusnya susah dicari sampai-sampai polisi saja tidak bisa menyelesaikannya sampai kemarin.”


“Kalau hal itu ada kaitannya dengan kasus adiknya Akbar kemarin.”


“Kaitannya?”


“Sebenarnya adiknya Akbar diculik untuk dijual di tempat pelelangan itu, dan yang membuat kami dapat mengetahui tempatnya karena kami mendapatkan sebuah surat dari ibunya Akbar.”


Aku menjelaskannya kepada Pak Febri.


“Sebuah surat?”


“Iya, surat itu di dalamnya berisi sebuah alamat web yang tidak bisa dibuka oleh sembarangan orang, sepertinya alamat web itu hanya bisa dibuka diwaktu-waktu tertentu saja.”


Maul menjelaskan hal itu karena dia yang jauh lebih mengetahui tentang hal itu.


“Bagaimana kau dapat mengaksesnya Mul?”


“Aku sudah terbiasa masuk ke web yang sejenis dengan itu. Menurutku, web itu dibuat oleh seseorang yang ahli dalam bidang program karena butuh waktu lama bagiku untuk dapat membuka dan mengakses web tersebut.”


“Tetap saja kau dapat mengaksesnya kan?”


“Iya.”


Maul mengatakan hal itu seakan hal itu adalah perkara mudah dan dapat dilakukan oleh semua orang.


“Kalian bertiga ini memang pasangan yang sangat cocok sekali. Maul di informasi, Riki di kekuatannya, dan Amar yang menyusun segala strategi. Kenapa kalian bertiga bisa berkumpul menjadi satu seperti ini?”


“Mungkin takdir.”

__ADS_1


Ucapku kepadanya.


Karena kalau bukan takdir apalagi yang bisa mengatakan hal ini semua.


“Mungkin seperti itu... Oh iya, sepulang sekolah nanti, aku mau mengajak kalian untuk makan-makan di tempat makan yang ada di sekitar sekolah. Anggap saja ini sebagai hadiah kepada kalian yang sudah menyelamatkan Kichida.”


“Baiklah, aku akan menerima hal itu.”


Aku menerimanya mewakilkan Riki dan juga Maul.


“Aku akan mentraktir kalian untuk makan sepuasnya.”


“Bagaimana dengan biaya pernikahanmu Pak? Bukannya acaranya sebentar lagi akan diadakan?”


Riki bertnaya kepada Pak Febri.


“Hebat sekali kau mengingatnya Rik.”


Pak Febri sedikit terkejut saat mendengar hal itu dari Riki.


Sebenarnya Pak Febri tidak perlu seterkejut itu, karena siapapun juga tau kalau sebentar lagi Pak Febri akan menikah.


“Tidak mungkin aku melupakan hal sepenting itu.”


“Kalau semua persiapannya sudah selesai dan semua keperluan yang aku butuhkan sudah aku beli semua, jadi uang yang akan aku gunakan tidak akan mengganggu hal itu.”


“Sampai sekarang aku sama sekali belum pernah melihat calon istrimu Pak?”


Ucapku kepadanya.


Karena Pak Febri jarang sekali membicarakan tentang wanita ketika bersamaku atau bersama dengan Pak Hari. Dia hanya sering membicarakan tentang pekerjaan atau gim saja, aku bahkan tidak tau kalau sebentar lagi dia akan menikah kalau tidak diberitahu oleh Pak Hari.


“Kau akan melihatnya nanti ketika acara pernikahan.”


Pak Febri masih tidak mau untuk menunjukkan calon istrinya kepada kami.


“Siapa perempuan itu Pak?”


Maul ternyata penasaran juga akan hal itu.”


“Dia adalah temanku ketika aku masih duduk di bangku SMP, sebenarnya perempuanku adalah cinta pertamaku dan kemudian kami berpisah karena masuk ke SMA yang berbeda. Setelah itu kami tidak pernah berhubungan lagi semenjak itu. Kemudian dua tahun yang lalu, aku menemukan akun sosial medianya, dan setelah berbicara sedikit aku melamarnya dan dia mau.”


“Cepat sekali kisah cintamu Pak!”


Begitulah yang diucapkan Maul setelah mendengar ceritanya.


Aku juga berpikiran seperti itu, karena perempuan itu kenapa bisa mau dengan Pak Febri yang baru saja ketemu lagi dengannya. Bukannya seharusnya mereka harus menempuh waktu yang cukup panjang untuk saling mengenal antara satu dengan yang lain.


“Kenapa kau tidak menyatakan perasaanmu ketika SMP Pak?”


Riki bertanya kepada Pak Febri.


“Aku terlalu malu untuk melakukannya saat itu.”


Hee.. Ternyata Pak Febri bisa malu juga, aku kira dia orang yang cukup berani untuk membahas masalah-masalah seperti itu.


“Setidaknya kau jadi juga dengannya Pak.”


“Begitulah.”


Pak Febri tersenyum malu-malu kepada kami.


“Aku penasaran... Kenapa calon istrimu mau menerima lamaranmu yang terkesan buru-buru dan mendadak itu Pak?”


“Oh masalah itu... Aku sudah pernah bertanya kepadanya, ternyata dia juga sudah suka denganku saat SMP dan kami sama-sama malu dan tidak berani untuk mengungkapkan perasaan satu sama lain.”


“Apaan itu, itu sama seperti kartun Jepang yang sering aku tonton, tapi untuk saja akhirnya bahagia.”


Maul langsung sewot ketika mendengarkan hal itu.


“Sebanyak apa kau menonton kartun Jepang Mul?”


Tanyaku kepadanya.


“Aku sering menontonnya ketika beristirahat setelah bekerja.”


Baiklah, tidak ada yang buruk dari kartun Jepang menurutku.


“Kalian bertiga jangan lupa datang pada saat acara pernikahanku ya.”


Tentu saja kami datang Pak, tidak mungkin aku tidak datang ke acara pernikahan wali kelasku sendiri. Apalagi Pak Hari juga selalu mengingatkanku tentang hal itu.


“Sudah jelas kami akan datang.”


Kami bertiga mengucapkan itu secara serentak.


“Apa ada sesuatu yang bisa aku bantu saat acara pernikahanmu Pak?”


Riki menawarkan bantuan kepadanya.


“Tadinya aku menyuruh kau dan Amar untuk menjadi juru kamera saat di sana, tapi karena aku tidak mau merepotkan kalian berdua, jadi aku memesan jasa saja.”


“Harusnya kau bilang dulu kepada kami, kalau harganya pas aku pasti akan melakukannya.”


Dia ini, padahal uangnya sudah banyak masih saja ingin menambahnya lagi.


“Sudahlah, kalian jangan lupa datang ke acara itu tepat waktu.”


“Siap Pak!”


Dan akhirnya kami pun kembali ke kelas kami masing-masing untuk mengikuti kegiatan pembelajaran pada hari itu.

__ADS_1


-End Chapter 144-


__ADS_2