
Azan asar telah berkumandang, beberapa murid mulai pergi ke musala untuk melaksanakan salat asar. Kini aku bersama dengan anak laki-laki yang berada di kelompokku juga sedang berjalan ke sana. Selama di perjalanan, Riki selalu bertanya tentang rencana yang sedang aku buat. Sepertinya dia sangat penasaran dengan rencanaku.
“Bukankah sudahku bilang kepadamu Rik, kalau rencanaku masih berjalan dengan lancar. Kau tinggal tunggu saja hasilnya nanti.”
“Hehehehe... Aku hanya penasaran saja Mar.”
“Apa yang sedang kalian bicarakan?”
Rian pun penasaran dengan pembicaraan kami.
“Kami sedang memikirkan pertunjukan yang akan kelompok kita tampilkan untuk nanti malam.”
Karena nanti malam, saat acara api unggun. Setiap kelompok akan menampilkan masing-masing penampilannya. Setiap kelompok bebas untuk menampilkan apa saja yang mereka bisa, entah itu hanya berpuisi, berpantun, atau pun bernyanyi.
“Kalau menurutku lebih baik kita menyanyi saja. Hal itu lebih mudah dibandingkan yang lainnya.”
Maul memberikan saran kepada kami untuk pertunjukan nanti malam.
“Lalu siapa yang akan melakukan hal itu Mul?”
Riki bertanya balik kepada Maul yang memberikan usulan.
“Kalau kalian tidak keberatan, aku bersedia melakukan hal itu.”
Akbar pun mengajukan diri untuk mengisi pertunjukan nanti malam.
“Benarkah itu?”
Kami bertiga kecuali Rian terlihat terkejut mendengar ada seseorang yang ingin melakukan itu. Karena biasanya kami akan berdebat terlebih dahulu untuk cukup waktu yang sangat lama dan akhirnya Riki yang akan melakukan semuanya. Tapi karena ada seseorang yang tiba-tiba mengajukan dirinya, membuat kami sangat terkejut sekaligus senang mendengarnya.
“Tentu saja, lagi pula aku ingin menunjukan kemampuanku di sini. Aku tidak mau Amar terus yang selalu mendapatkan perhatian dari para gadis di kelompok kita.”
Ternyata itu alasan dia mau melakukan hal ini. Tapi tidak masalah, setidaknya ada yang mau mengisi untuk acara nanti malam.
“Aku berterima kasih kepadamu Bar, kalau tidak ada kamu mungkin aku yang akan maju nanti.”
Riki terlihat sangat senang sekali.
“Kalau bisa sih, aku ingin sekali bernyanyi sambil memainkan gitar.”
“Memangnya kau bisa memainkan gitar Bar?”
Sepertinya kau tidak perlu bertanya tentang hal itu Yan.
“Tentu saja.”
Akbar berkata dengan percaya diri sekali.
“Tenang saja, nanti aku akan meminjamkannya dengan kelompok lain. Kebetulan ada teman satu ekskulku yang membawa gitarnya.”
“Aku serahkan itu kepadamu Rik. Itu sangat membantu.”
“Ngomong-ngomong bagaimana kasus pencurian yang kalian laporkan tadi? Aku belum mendengar kelanjutannya dari kalian.”
Rian bertanya kepada Akbar dan Riki yang melaporkan kejadian pencurian barang-barang kepada panitia. Sepertinya dia masih terlihat penasaran dengan apa yang terjadi.
“Ketika kami sampai di sana dan melaporkannya kepada kakak-kakak OSIS yang berada di tenda panitia. Ternyata ada juga laporan serupa yang berasal dari kelompok lain.”
Akbar menjelaskannya kepada Rian.
“Kau serius?! Berarti bukan kelompok kita saja yang kehilangan.”
Rian terkejut setelah mendengar penjelasan dari Akbar.
“Sepertinya posisimu sangatlah berbahaya di sini Mar.”
Riki mencoba memberikan peringatan kepadaku.
“Aku penasaran dari tadi, sebenarnya apa yang kalian katakan?”
“Iya, aku juga. Maul barusan juga berkata hal yang sama ketika kami masih berada di tenda.”
Rian dan Akbar merasa penasaran, sepertinya dia masih belum bisa memikirkan dengan cepat hal-hal seperti ini.
“Aku akan menjelaskannya kepada kalian... Sekarang kan pelaku dari pencurian itu belum ketahuan siapa, pasti saat ini anggota OSIS sedang mencari orang yang paling besar berpeluang untuk melakukan pencurian itu. Karena kejadian itu terjadi saat acara mencari jejak, pasti mereka akan mencurigai setiap murid yang saat itu berada di campsite. Dan kalau tidak salah dengar dari Kak Fauzi, hanya Amar saja yang berada di campsite pada saat itu.”
Riki menjelaskannya kepada mereka semua dan aku juga baru tahu kalau hanya aku saja yang berada di campsite saat itu. Memang ketika aku terbangun setelah tidur siang, aku tidak melihat ada murid di sana. Sepertinya ini akan lebih merepotkan dibandingkan yang kukira.
“Apa ketika kau berada di UKS, kau tidak menemukan murid lain Mar?”
Maul bertanya kepadaku untuk memastikannya lagi.
“Tidak ada, hanya aku saja yang berada di sana dan juga guru yang berjaga.”
“Atau jangan-jangan memang kau yang melakukan hal itu Mar?”
Akbar langsung menuduhku setelah mengetahui kalau hanya aku saja yang berada di sana.
“Itu tidak mungkin Bar, Amar tidak mungkin melakukan hal seburuk itu.”
Rian menyela perkataan Akbar dan mencoba untuk menolongku.
“Tuduhan Akbar tidaklah salah, memang aku berada di posisi yang paling ideal untuk melakukan tindakan pencurian itu.”
“Kita tidak ada yang tau kan? Siapa tau saja, ada anggota OSIS yang melakukan hal itu.”
__ADS_1
Ternyata dugaanmu tidak buruk juga Yan. Memang masih ada kemungkinan salah satu anggota OSIS yang melakukan hal ini.
“Tapi ketika acara mencari jejak, semua OSIS sudah pergi ke posnya masing-masing dan tidak ada yang berjaga di campsite.”
Aku mencoba untuk menolak semua argumen dari Rian.
“Kau memangnya tidak memiliki pembelaan apapun Mar? Kau sedang berada di posisi yang sangatberbahaya di sini.”
Rian terlihat sangat khawatir sekali kepadaku. Melihatnya seperti ini, aku jadi teringat kepada Rina. Sepertinya mereka akan menjadi pasangan yang sangat serasi nantinya.
“Melakukan pembelaan di saat seperti ini akan membuatnya terlihat seperti orang yang benar-benar melakukan hal itu. Lebih baik untuk saat ini aku melihat apa yang akan terjadi ke depannya.”
“Lalu apa yang akan kamu lakukan Mar?”
“Lebih baik kau melihatnya saja nanti Yan.”
Setelah melakukan salat asar, semua murid dikumpulkan di lapangan yang berada di campsite. Semua panitia dan pengurus OSIS berada di hadapan kami. Kak Alvin mengambil alih acara ini, dia terlihat sangat marah sekali. Aku yakin dia akan membahas masalah pencurian itu. Soalnya setahuku tidak ada kegiatan lainnya setelah salat asar. Semua murid memiliki waktu bebas sampai acara api unggun nanti malam.
“Barusan saya mendapatkan laporan dari panitia kalau ada seseorang yang mencuri barang-barang milik perempuan saat sedang acara mencari jejak.”
Mendengar perkataan Kak Alvin membuat semua murid di sana mulai berbisik dan saling curiga antara satu dengan yang lainnya.
“Saya ingin orang yang melakukan hal itu mengaku sekarang juga. Kalau dia berani mengaku sekarang dan mengembalikan barang-barang yang dicurinya itu, saya tidak akan memperpanjang masalah ini lebih lama lagi. Atau jika dia tidak berani mengaku saat ini karena malu, datanglah ke tenda panitia setelah ini.”
Tentu saja tidak mungkin ada orang bodoh yang akan mengaku ‘Saya yang mengambilnya,’ itu hanya akan membuat kehidupannya di SMK ini hancur selama tiga tahun. Dia akan dicap sebagai orang cabul di sekolah. Lagi pula aku berani jamin kalau orang itu tetap saja mendapatkan hukuman, menurutku diskors adalah hukuman yang paling ringan saat ini.
“Tapi... Jika tidak ada juga yang mau mengaku hingga acara LDKS ini selesai. Panitia akan menggeledah semua tas murid yang ada di sini, terutama laki-laki.”
“Itu terlalu lama Vin. Bisa jadi orangnya akan menyembunyikannya terlebih dahulu di suatu tempat.”
Kak Deni menyela perkataan Kak Alvin.
Inilah yang aku tunggu dari tadi. Pemeran utamanya sudah tiba sekarang.
“Jadi bagaimana pendapatmu?”
“Lebih baik kita melakukan seleksi di sini.”
“Seleksi?”
“Kita tinggal mencari tahu siapa saja yang berada di campsite saat acara mencari jejak.”
Mendengar usulan dari Kak Deni membuatku sedikit tersenyum akan hal itu. Ternyata apa yang baru saja diperingatkan oleh Maul dan juga Riki tidaklah salah sedikitpun. Aku kagum dengan kemampuan mereka menganalisa akhir-akhir ini.
Kak Alvin pun langsung bertanya kepada guru-guru yang berjaga di campsite saat acara mencari jejak.
“Semua murid yang ada di sini duduk kecuali Amar dari kelompok sepuluh.”
Oke... Aku kira sekarang saatnya.
Semua perhatian pun tertuju ke arahku saat ini.
Kak Alvin mulai bertanya kepadaku.
“Iya, karena kepalaku sedikit pusing jadinya aku kembali ke campsite.”
Aku pun mendengar satu per satu murid mulai berbisik untuk menuduhku saat ini. Sama seperti Akbar sebelumnya, mereka langsung menuduhku yang melakukan itu setelah tau kalau hanya aku yang berada di campsite.
Lebih baik aku sekarang bersikap tenang dan jangan menunjukan tanda-tanda panik sedikitpun. Itu akan berbahaya nantinya, jika aku terlihat panik di sini.
“Apakah kamu yang melakukan pencurian itu?”
“Apa kakak akan percaya jika aku berkata kalau aku bukanlah orang yang melakukan pencurian itu?”
Aku bertanya balik kepada Kak Alvin.
“Tentu saja tidak, karena hanya kamu saja satu-satunya tersangka di sini.”
“Kalau begitu, aku tidak perlu menjawabnya.”
“Apa kamu tidak memiliki pembelaan sedikitpun Mar? Saya itu mentor kamu Mar, saya sangat kecewa sekali jika memang kamu yang melakukan hal itu.”
“Kalau aku melakukan pembelaan yang tidak meyakinkan pasti banyak orang di sini yang langsung menuduhku kalau aku adalah pelakunya. Bahkan jika aku melakukan pembelaan yang meyakinkan pun, pasti mereka masih meragukanku. Jadi buat apa aku melakukan pembelaan, itu hanya membuang-buang waktu saja.”
“Lebih baik sekarang kita menggeledah tasnya saja Vin. Kalau kita biarkan, bisa jadi dia akan menyembunyikannya setelah ini di suatu tempat.”
Kak Deni pun memberikan usulan lagi kepada Kak Alvin dan disetujui olehnya. Kak Deni dan beberapa orang anggota OSIS lainnya langsung menuju ke tendaku untuk mengambil tasku.
“Apa ini sesuai dengan rencanamu?”
Maul yang duduk di sampingku berbisik kepadaku.
“Entahlah...”
Aku hanya tersenyum kecil membalas pertanyaannya itu.
Tapi dari sini aku sudah mengetahui siapa orang yang menjalankan semua ini. Yah walaupun dari awal aku sudah tau kalau memang dia pelakunya sih, tapi aku memerlukan bukti yang cukup untuk benar-benar membuktikan kalau dia pelakunya. Lagi pula ada sesuatu yang saat ini mengganjal pikiranku.
Setelah menunggu, akhirnya Kak Deni pun kembali dengan membawa tasku.
“Amar! Ke sini kamu, biar kamu sendiri yang membuka tasmu.”
Aku pun maju ke depan secara perlahan dengan pandangan semua murid yang masih mengikuti. Aku pun mulai mengeluarkan semua isi tasku dan tidak ada apapun di dalam tasku kecuali barang milikku. Itu tentu saja, karena semua barang yang mereka maksud sudah aku sembunyikan di suatu tempat.
Aku sedikit melirik ke Kak Deni dan aku melihat dia yang terkejut karena di dalam tasku tidak terdapat barang yang mereka maksud.
__ADS_1
Kak Alvin melihat barang-barangku dengan seksama.
“Aku tidak melihat sesuatu yang aneh berada di tasmu... Masukkan barangmu dan kembalilah ke tempatmu lagi.”
Apakah dengan ini tuduhanku tidak mencuri barang itu sudah hilang? Aku rasa tidak.
Aku pun kembali ke tempatku.
“Sepertinya rencanamu berhasil.”
Riki terlihat senang saat tau kalau rencanaku berjalan dengan lancar. Aku hanya tersenyum kecil kepadanya.
“Ingat! Kalau sampai ada yang tidak mengaku setelah ini, besok akan kami geledah semua tasnya kecuali Amar. Karena dia sudah dinyatakan tidak bersalah di sini.”
Kak Alvin pun membubarkan barisan dan semua murid kembali ke tendanya masing-masing. Kegiatan saat ini adalah kegiatan bebas sampai nanti acara api unggun setelah salat isya.
Ketika aku sedang berkumpul dengan kelompokku, Kak Alvin memanggilku dari kejauhan. Aku pun bergegas langsung menghampirinya.
“Apa kamu mau berkeliling sebentar?”
“Buat apa Kak?”
“Kalau ada orang yang melihat kita berdua sedang bicara empat mata seperti ini, nanti bisa ada orang yang curiga kepadamu lagi.”
Hmmm.. Jadi begitu, cukup masuk akal juga.
Dan akhirnya aku pun terpaksa ikut Kak Alvin berkeliling Jambore pada sore itu.
“Apa kamu mengetahui sesuatu tentang kasus ini Mar?”
Sudah pasti, dia pasti masih membahas tentang hal ini. Sepertinya tugas menjadi ketua OSIS sangat berat ya..
“Menurut kakak sendiri bagaimana?”
“Jujur waktu pertama kali mendengar kalau kamu yang mencuri hal itu, aku sempat tidak percaya. Karena aku sudah mendengar tentangmu dari Fauzi.”
Apa yang Kak Fauzi katakan tentangku kepada Kak Avlin? Itu sangat membuatku penasaran sekali.
“Memangnya apa yang Kak Fauzi ceritakan kepada kakak?”
“Dulu Fauzi pernah bercerita kalau di sekolahnya ada beberapa anak yang sangat unik dan bahkan salah satunya ada yang mampu mengendalikan semua murid yang ada di sekolah dari balik bayang-bayang.”
Kak Alvin melirik ke arahku.
“Dan dia juga berkata kalau murid yang mengendalikan dari balik bayang-bayang itu adalah kamu. Kamu menerapkan sebuah perjanjian dengan menggunakan temannya untuk dijadikan pelaku dalam membuat perjanjian tersebut.”
Aku terkejut karena Kak Fauzi mengetahui hal itu. setahuku hanya beberapa orang saja yang mengetahui perjanjian yang ku buat saat melakukan rencana ‘Wanita bersama.’
“Aku tidaklah sehebat itu. Aku hanyalah orang membosankan yang sedang mencari kedamaian dalam menjalani kehidupan sekolah saja.”
“Hahahahahahaha...”
Kak Alvin tertawa dengan sangat lepas setelah mendengar perkataanku.
“Apa kamu tau pelaku dibalik pencurian ini?”
“Kenapa kakak bertanya kepadaku?”
“Karena aku yakin kalau kamu pasti sudah mengetahui siapa pelakunya.”
Heee... Jadi begitu, tidak buruk juga.
“Entahlah, aku belum tau siapa pelakunya.”
“Kamu tidak perlu takut untuk memberitahu pelakunya Mar, aku akan melindungimu jika ada yang berusaha untuk menyakitinya.”
Kak Alvin memberikan penawaran kepadaku. Tapi hal itu tidak berguna, karena aku memiliki penjaga yang lebih hebat dari siapapun.
“Aku benar-benar tidak tau siapa pelakunya di sini.”
“Baiklah kalau begitu. Tapi kalau seandainya kamu mengetahui sesautu, segeralah memberitahuku. Kalau bisa aku tidak mau masalah ini sampai di dengar oleh banyak pihak, cukup murid-murid dan guru yang mengikuti acara LDKS ini saja yang tau. Ini terlalu tabu untuk dibicarakan.”
Sebenarnya dengan kau mengumpulkan kami di lapangan dan hampir membuatku tertuduh itu sudah satu langkah untuk memberitahu semuanya.
“Sebenarnya mudah saja mengetahui pelakunya.”
Ada sesuatu yang ingin aku coba setelah mendengar perkataan Kak Alvin.
“Apa itu?”
Kak Alvin menjadi penasaran dengan apa yang ingin aku katakan.
“Sebelum itu, aku ingin membuat perjanjian denganmu. Aku akan mengungkap siapa pelaku dari pencurian ini dengan syarat kau harus memberitahuku tentang siapa saja OSIS yang berjaga di masing-masing pos saat acara jurit malam nanti.”
“Baiklah, kalau hanya itu saja yang kamu minta, aku tidak keberatan untuk memberitahunya.”
Kak Alvin pun memberitahu kepadaku tentang posisi setiap anggota OSIS di masing-masing pos dan juga apa saja yang harus dilakukan di sana.
OK... Informasi ini sudah cukup untukku,
“Kalau begitu, kakak bisa datang ke pos empat dan bersembunyi di suatu tempat saat kelompokku sudah sampai di pos terakhir.”
“Mamangnya kenapa?”
“Karena akan ada sesuatu menarik yang terjadi di sana.”
__ADS_1
Semua rencana pun sudah berjalan dengan baik dan rencana baru sudah mulai disusun untuk mengeluarkanku dari kondisi seperti ini.
-End Chapter 44-