
“Kira-kira hadiah yang cocok untuk diberikan kepada Maul apa ya?”
Rina bertanya kepadaku sambil melihat ke seluruh toko yang ada di dalam mal.
Saat ini, aku sedang berjalan bersama dengan Rina di dalam mal untuk membelikan hadiah kepada Maul, karena sebentar lagi hari ulang tahun Maul sudah tiba. Pagi-pagi sekali Rina menelponku dan mengajakku untuk pergi ke sini. Padahal aku sudah mengatakan kepadanya untuk tidak perlu repot-repot memberikan Maul hadiah. Aku tau sekali sifat Maul seperti apa, kalau perempuan seperti Rina memberikan hadiah kepadanya, pasti dia akan salah paham dan salah tingkah.
“Apa kamu yakin tidak memberikan dia hadiah Ar?”
“Buat apa memberikannya hadiah, diucapkan selamat aku yakin dia juga sudah senang.”
Aku memang tidak pernah memberikan Maul hadiah ulang tahun. Lagi pula kalau kami mengadakan pesta ulang tahun bukan dengan memberikan hadiah, kami hanya mengadakan pesta makan-makan saja.
“Kamu tidak boleh seperti itu Ar, begitu juga Maul adalah teman baikmu.”
Rina lagi-lagi menasihatiku.
“Iya... Tapi aku tetap tidak akan memberikan dia hadiah.”
Kami pun terus berjalan menyusuri toko-toko yang ada di dalam mal tersebut. Kami masih belum menemukan barang mana yang ingin dibeli untuk menjadi kado nanti.
“Apa kamu tau barang yang disukai Maul?”
“Aku rasa barang apa pun yang diberikan darimu dia akan menyukainya.”
Karena kita sedang berbicara tentang Maul di sini. Seorang jomblo yang masih merasakan patah hati.
“Kamu mah Ar, aku serius di sini... Aku mau memberikan barang yang bisa berguna nantinya untuk Maul.”
Rina memarahiku yang terkesan bermain-main dari tadi.
“Maaf... Maaf... Kalau kau mau membelikan barang seperti itu, lebih baik kau memberikan peralatan komputer kepadanya. Aku yakin dia akan selalu menggunakannya.”
“Awalnya aku juga berpikiran seperti itu.”
Kalau begitu buat apa kau bertanya kepadaku!
Kami pun langsung pergi menuju toko komputer yang ada di sana. Sebenarnya sudah lama juga aku ingin pergi ke sini, karena aku masuk ke jurusan multimedia, setidaknya aku harus membeli laptop untuk mempermudahku dalam belajar.
Ketika sampai di sana, para pegawai toko langsung menyambut dan menghampiri kami. Mereka pun menawarkan kepada kami beberapa barang terbaru yang sedang ada di toko tersebut. Kami pun berjalan menuju rak yang menampilkan aksesori komputer.
“Aku lupa menanyakan ini, memangnya kau punya uang berapa? Kau tau, barang-barang di sini harganya lumayan mahal loh.”
“Kalau untuk itu kamu tenang saja Ar.”
“Aku sarankan kepadamu jangan terlalu mengeluarkan uang untuk hal seperti ini kau tau. Lebih baik kau menghabiskan untuk hal yang lain.”
Ketika aku menyarankan hal itu, Rina tidak berkata apa pun dan masih fokus memilih aksesori komputer yang berada di hadapan kami.
Saat itu, aku pun terpikir akan sesuatu.
Membelikan kado ulang tahun kepada seseorang hanya dilakukan jika orang itu adalah orang yang spesial. Apa lagi dia tidak peduli dengan biaya yang harus dikeluarkan, selain itu dia mau benda yang dia belikan sangat berarti bagi yang menerimanya.
Apa jangan-jangan Rina sudah memiliki perasaan kepada Maul?! Hmmm... Ini menarik.
Ketika berada di gunung dia juga pernah memuji Maul, tapi hal itu biasa dilakukan olehnya. Apa terjadi sesuatu saat kita berada di sekolahnya Miyuki. Pada saat itu aku tidak begitu tau apa yang terjadi karena aku berpisah dengan mereka. Aku yakin ada yang terjadi dengan mereka berdua.
Aku juga melihatnya berdiri bersampingan saat acara hanabi di sekolahnya Miyuki.
Apakah acara itu membuat Rina menyadari perasaannya yang sebenarnya ke Maul!?
Lalu kenapa dia tidak mengungkapkannya saja saat itu? Suasananya sangat mendukung dan aku yakin Maul pasti menerimanya.
Hmmm...
...
Oh, aku tau! Pasti suara bising dari musik DJ ditambah suara dari ledakan kembang api membuatnya sulit menungkapkan perasaannya, makanya sekarang dia mau memberikan Maul hadiah yang spesial untuk memberikan tanda tentang perasaannya yang sebenarnya.
Hum-hum... Aku tau itu, kalau seperti itu aku akan membantunya untuk menebus kesalahanku karena telah menolaknya.
“Rina, bagaimana Maul menurutmu?”
Aku pun mencoba mencaritahunya sendiri.
“Apa maksudmu Ar?”
Rina langsung melihat ke arahku dengan serius. Aku rasa dia sebenarnya sudah mengetahui maksudnya tapi dia mau memastikannya lagi.
“Apa kau menyukainya?
“Hah?!”
“Kau tau, mungkin sangat sulit mengatakannya di saat itu, karena ramai oleh apapun dan suaramu jadi tidak terdengar, tapi aku yakin kau akan diterima kok.”
Aku pun mengacungkan jempol kepadanya dengan niat untuk memberikan dia dorongan.
Tiba-tiba Rina pun marah dan menginjak kakiku dengan sangat kuat.
“Aw!”
“Dasar Ar Bodoh!”
Rina pun berbalik dan sedikit berjalan menjauh dariku. Aku bingung kenapa dia bisa marah seperti itu.
“...Akan aku katakan hal ini kepadamu Ar. Mau berapa kali pun kamu menolakku, perasaan ini tidak akan pernah berubah.”
Ketika terdengar kata itu, walaupun hanya sembentar tapi jantungku sempat berdetak dengan cukup kencang. Aku pun memalingkan wajahku dari Rina.
“Kamu kenapa Ar? Kupingmu memerah.”
“Tidak ada... Lagi pula, kalau kau mau memberikan Maul. Aku sarankan belikan saja dia earphone, harganya lebih murah dan juga terjangkau. Belum lama ini juga earphonenya dia rusak, jadi aku rasa itu akan sering digunakannya.”
Aku mencoba mengalihkan pembicaraannya ke arah lain. Aku tidak mau terus-terusan berada di alur pembicaraan tentang cinta. Aku sangat tidak nyaman sekali jika harus berbicara tentang hal itu terus.
“Hmmm... Begitu.”
__ADS_1
Kemudian Rina memilih-milih earphone yang ada dihapadapnnya dan mengambil dua buah earphone dengan warna yang berbeda. Earphone yang pertama berwarna hitam dan yang kedua adalah biru.
“Menurutmu bagusan yang mana Ar?”
Rina bertanya kepadaku dengan memperlihatkan kedua earphone itu di hadapanku.
“Aku rasa biru lebih bagus.”
“Baiklah, aku akan memilih warna biru saja.”
Rina pun mengembalikan earphone yang berwarna hitam ke raknya.
“...Maaf.”
“Untuk apa?”
“Karena aku sudah sok tau tadi.”
“Tidak apa-apa, setidaknya kamu sudah tau bagaimana perasaanku yang sebenarnya.”
Kami pun langsung menuju ke kasir untuk membayar earphone tersebut.
“Bagaimana kalau setelah ini kita pergi ke cafe terlebih dulu?”
Rina menyarankan kepadaku.
Aku pun melihat jam tanganku dan aku melihat kalau sekarang masih pukul dua siang. Masih banyak waktu hingga sore nanti, sepertinya tidak apa-apa jika aku pergi ke cafe terlebih dahulu. Namun aku melihat Rina yang memperhatikan gelang yang aku kenakan.
“Ada apa?”
“Uh... Tidak, itu gelang yang bagus.”
Wajahnya tiba-tiba menjadi merah dan dia pun mengalihkan pandanganya dariku.
“Benarkah! Aku mendapatkan ini ketika bertukar kado di kelas. Sampai sekarang aku masih belum tau siapa yang memberikan kado ini.”
“Oh begitu... Kamu selalu memakainya ya?”
“Tidak selalu, karena aku orangnya cukup teledor, aku jarang sekali menggunakan gelang ini.”
“Hmmm...”
“Bagaimana tawaranku tadi, Apa kamu mau pergi ke cafe dulu Ar?”
“Boleh, kebetulan waktu yang aku punya masih banyak.”
“Ok.”
Setelah membayar earphone tersebut, kami pun langsung beranjak ke cafe yang tidak jauh dari sana. Cafe ini adalah cafe yang waktu itu aku datangi bersama dengan Miyuki ketika sedang memata-matai Riki.
Dan kebetulan pun terjadi kembali. Tepat di depan cafe tersebut, kami melihat Miyuki yang sedang bersama dengan Kichida ingin memasuki cafe itu.
“Oi Rin! Mar!”
Benar kata Maul waktu itu, kalau seandainya aku bertemu dengan Miyuki di suatu tempat. Pasti dia akan selalu menemukanku, entah itu aku bersembunyi atau pun tidak. Menyebalkan.
“Ada Miyuki Ar. Hai Miyuki!”
Rina pun menghampiri Miyuki yang diikuti olehku.
“Sedang apa kalian berdua di sini? Jangan-jangan...”
Miyuki menggenggam tangan Rina dan kemudian dia menunjukan wajah meledeknya.
“Tidak-tidak, kami baru saja membeli kado untuk ulang tahun Maul.”
“Ulang tahun Maul?! Memangnya sebentar lagi dia ulang tahun?”
“Kalian berdua, lebih baik kita masuk terlebih dahulu dan berbicara di dalam saja.”
Aku menyuruh mereka berdua untuk masuk karena aku takut keberadaan kami di dekat pintu masuk mengganggu pengunjung yang lain.
Kami pun masuk dan duduk di salah satu bangku yang kosong.
“Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi Rin. Memangnya sebentar lagi Maul berulang tahun?”
Miyuki melanjutkan pembicaraannya.
“Iya, tepat tanggal 25 Juli nanti.”
“Sepertinya aku harus membelikannya hadiah juga.”
Miyuki pun berpikiran hal yang sama seperti Rina.
Apakah semua perempuan di dunia ini akan membelikan sesuatu kepada temannya ketika ulang tahun? Jujur saja kalau kami para lelaki biasanya hanya merayakannya dengan makan-makan di suatu tempat atau di rumah orang yang berulang tahun. Kami jarang memberikan hadiah, karena menurut kami sudah bukan waktunya lagi kami menerima hadiah dari seseorang.
Aku pun melihat belanjaan yang berada di bawah bangku Kichida.
“Oh iya, ngomong-ngomong kalian ke sini juga untuk apa?”
Rina bertanya balik kepada Miyuki.
“Aku hanya sedang menemani Fuyumi untuk membeli buku gambarnya. Kebetulan dia sedang menginap di rumahku.”
“Iya, kebetulan buku gambar yang aku punya sudah habis. Jadi aku meminta Miyuki untuk menemaniku membeli buku gambar di sini.”
Saat itu aku baru menyadari kalau Kichida adalah sahabat Miyuki yang waktu itu pernah diceritakan kepadaku. Aku pun menjadi penasaran dengan perasaan yang dimiliki oleh Kichida saat ini. Apakah dia masih membenci Miyuki atau tidak. Sepertinya boleh aku uji.
“Ada apa?”
Kichida merasa tidak nyaman karena aku perhatikan dari tadi.
“Kalian terlihat akrab sekali ya.”
Aku pun sedikit tersenyum kepadanya untuk menambahkan kesan bersahabat kepadanya, tapi entah kenapa Kichida menjadi gugup dan tidak bisa menjawab pertanyaan dariku.
__ADS_1
“Tentu saja Mar, dia sudah menjadi sahabatku pada saat aku masih berada di Jepang.”
Akhirnya Miyuki pun yang menjawab pertanyaanku. Aku rasa Miyuki sendiri tidak mengerti maksudku bertanya seperti itu.
“Oh begitu... Pantas saja kalian terlihat akrab.”
Aku pun tersenyum lagi kepadanya.
“Kichida, bisakah kamu menemaniku ke kasir? Ada makanan yang mau aku pesan.”
“Baiklah.”
Kichida dan Rina pun pergi ke kasir. Aku tau kalau Rina mengerti apa maksudnya aku bertanya seperti itu dan dia pun mencoba menyelamatkan Kichida dari situasi tadi. Seperti yang aku duga dari Rina, dia tidak pernah memiliki rasa benci dengan seseorang.
“Apa dia sudah mengetahui semuanya?”
“Mengetahui apa Mar?”
Apa pertanyaanku kurang jelas?
“Itu loh, orang yang membuatmu berubah hingga seperti ini.”
“Tentu, waktu aku meminta saran kepadamu dan juga Rina, keesokan harinya aku langsung menggunakan saran dari Rina. Walaupun semua orang masih bersikap sama dan memanfaatkanku aku tetap bersikap baik kepada
mereka...”
Untung saja dia menggunakan saran dari Rina. Kalau seandainya dia menggunakan saran dariku, mungkin sekarang dia akan menjadi seseorang yang tidak memiliki satu pun teman. Teman yang aku maksud di sini adalah teman sebenarnya, bukan orang yang berpura-pura menjadi temannya.
“...Tapi hatiku tidaklah sekuat Rina. Ketika sedang sendiri, aku masih saja tidak terima dengan perkataan dan sikap dari mereka, namun ketika itu aku mengingat saranmu untuk mengabaikan semuanya dan melakukan apa yang aku mau. Jadinya karena menggabungkan saran dari kalian berdualah yang membuatku menjadi seperti ini... Aku sangat berterima kasih.”
Miyuki pun berterima kasih kembali kepadaku.
“Itu bukanlah masalah yang besar.”
“Maaf menunggu.”
Rina dan Kichida pun kembali setelah memesan makanan di kasir.
Ketika duduk Rina langsung mencubit tanganku dengan sangat kuat.
“Aw! Apa yang kau lakukan?”
“Entahlah, aku hanya kesal saja ketika kembali ke sini.”
“Hah! Itu tidak masuk akal.”
Aku pun melihat langit-langit kafe kala itu. Aku pun menikmati secangkir kopi yang baru saja aku pesan.
Dari sana, aku hanya melihat mereka bertiga yang sedang bercengkrama dengan akrabnya. Aku tidak mau bergabung dengan pembicaraan mereka bertiga karena itu akan membuatku terlihat akrab dengan mereka.
Kalian tau sendirikan posisiku saat ini, aku adalah seorang lelaki yang berada bersama tiga orang perempuan. Pasti mereka semua akan menganggapku sebagai lelaki yang lemah gemulai karena berteman dengan perempuan.
Kalau dibilang salah satu pacar dari mereka sepertinya tidak. Aku rasa tidak ada orang bodoh yang menganggapku pacar dari salah satu perempuan yang ada di sini. Kalian tau sendiri, aku bukanlah seorang lelaki yang memiliki paras tampan dan memiliki kepribadian yang bagus.
“Ada apa Ar? Dari tadi kau hanya diam saja.
“Abaikan saja aku, aku sedang mencoba mencari ketenangan di sini.”
Ya... Ketenangan yang sangat fana.
Setelah berbincang-bincang dengan waktu yang cukup lama, akhirnya Miyuki dan Kichida pun pergi karena ada sesuatu yang harus mereka beli. Walaupun aku tau kalau sesuatu itu adalah hadiah untuk Riki.
“Sepertinya saatnya kita pulang juga.”
Aku mengajak Rina untuk pulang karena waktu sudah menunjukan pukul tiga sore.
“Bisakah kamu menunggu sebentar lagi Ar, ada yang ingin aku bicarakan denganmu berdua saja.”
Perhatianku pun menjadi teralihkan dengan topik pembicaraan dari Rina.
“Apa yang mau kau bicarakan?”
“Apa kamu sengaja melakukan hal itu?”
Aku sudah tau apa yang dimaksud Rina. Pasti dia sedang membicarakan apa yang aku lakukan kepada Kichida tadi.
“Apa hanya itu yang ingin kau katakan kepadaku?”
“Seharusnya kau tidak melakukan hal itu Ar. Aku sudah mendengar darinya langsung kalau dia sudah menyesali apa yang pernah dia lakukan.”
Aku pun menghela nafas dengan sangat panjang. Sepertinya Rina salah memahami maksud aku melakukan hal itu.
“Aku hanya mengujinya saja.”
“Menguji?”
Rina menjadi bingung dengan perkataanku.
“Tentu saja, aku hanya ingin melihat apakah dia benar-benar sudah tidak membenci Miyuki atau tidak.”
“Heee... Tumben sekali kamu mau melakukan hal itu. Bukankah itu merepotkan.”
Bahkan Rina sendiri tau apa hal yang tidak mau aku lakukan.
“Bukannya seperti itu. Kalau dia masih membenci Miyuki kemungkinan suatu saat dia akan melakukan hal yang sama dan itu akan merepotkan bagiku di masa yang akan datang nanti. Jadinya aku mencoba untuk mengetahuinya sekarang, kalau seandainya dia masih membenci Miyuki, aku bisa menghentikannya dari sekarang.”
“Hebat sekali kamu bisa berpikir hingga seperti itu Ar.”
Rina terlihat terpukau terhadap rencanaku.
“Aku berpikir seperti itu hanya untuk menghindari sesuatu yang merepotkan di masa yang akan datang... Sudahlah kalau tidak ada pertanyaan lagi, lebih baik kita pulang.”
Aku pun langsung bersiap-siap untuk pulang. Untung saja Rina hanya bertanya masalah tentang Kichida. Kalau seandainya dia bertanya tentang pendapatku soal pernyataannya ketika di toko komputer bisa gawat aku.
-End Chapter 28-
__ADS_1