
Sepulang sekolah, aku langsung pergi cepat-cepat untuk menemui Kichida di kontrakannya. Untung saja hari ini aku tidak ada jadwal piket. Aku juga melakukan hal ini agar tidak bertemu dengan Miyuki dan juga yang lainnya.
Kenapa aku tidak memberitahukan kepada Miyuki kalau aku sudah mengetahui keberadaannya Kichida saat ini, karena aku yakin kalau Miyuki tau jika aku ingin pergi ke sana, dia pasti akan memaksa untuk ikut.
Ya, menurutku tidak ada salahnya mengajak Miyuki dalam hal ini. Tapi aku merasa kalau mengajaknya bersamaku akan lebih merepotkan dibandingkan mengajak Riki.
Setelah berkali-kali aku mengganti bis untuk sampai di ke tempat yang diberikan oleh Maul. Akhirnya aku sampai di sana.
Saat ini, aku berada di depan sebuah kontrakan yang sangat besar sekali dan terlihat mewah.
Seharusnya aku sudah mengetahui ini mengingat kita sedang membicarakan Kichida di sini.
Yang jelas saat ini, aku tidak bisa masuk begitu saja ke kontrakan ini.
Pertama, aku tidak tau yang mana kamar Kichida.
Kedua, kontrakan ini adalah kontrakan khusus perempuan.
Lebih baik aku menelponnya saja.
Aku pun memutuskan untuk menelponnya dengan harapan dia mengangkat telponku.
Dan setelah menunggu beberapa lama, ternyata Kichida mengangkat telponku.
“Ada apa Mar?”
“Aku sudah berada di depan kontrakanmu.”
“Hah!? Sebentar Mar.”
Aku sudah yakin dia pasti terkejut melihat kedatanganku.
Tidak lama kemudian, Kichida pun keluar dari kontrakannya dengan menggunakan pakaian santai.
Jujur, ini pertama kalinya melihat dia menggunakan pakaian santai seperti ini. Biasanya aku melihat dia menggunakan baju rapih.
“Kenapa kau bisa tau tempat ini Mar?”
“Apa kau lupa kalau aku berteman dengan Maul?”
Aku bertanya balik kepadanya.
“Apa yang kau inginkan Mar?”
“Aku ingin mendengarkan penjelasan darimu.”
“Kalau begitu lebih baik kita berbicara di kamarku saja dibandingkan di sini.”
Apa dia yakin mengajakku ke kamarnya dengan begitu mudah? Lagi pula, memangnya aku boleh masuk ke dalam sana.
“Apa tidak masalah?”
“Kenapa?”
Aku pun hanya menunjuk sebuah tanda yang bertulisan ‘Kontrakan Khusus Wanita’.
“Oh Kalau untuk itu kau tenang saja Mar, kemarin aku melihat orang di samping kamarku membawa laki-laki masuk ke kamarnya.”
“Baiklah kalau begitu.”
Sebenarnya aku sedikit risih untuk menerima tawarannya itu, aku berniat untuk mengajaknya ke sebuah kafe atau tempat makan yang ada di sekitar sini.
Tapi aku takutnya dia ingin membicarakan sesuatu yang penting dan tidak mau ada orang lain mendengarkannya.
Aku pun mulai memasuki kontrakan tersebut, ketika aku masuk sana ada beberapa penghuni kontrakan itu yang sedang keluar masuk sana. Perhatiannya pun tertuju kepadaku karena saat itu hanya aku saja laki-laki yang ada di sana.
Hal itu membuatku semakin risih saja dan ingin segera sampai di kamarnya Kichida.
Kami pun menaiki tangga hingga lantai lima dan berdiri di depan sebuah kamar yang di pintunya terdapat nomor kamar yaitu nomor tiga puluh satu.
Kamarnya Kichida berada di lantai paling atas dan di sana tidak memiliki banyak kamar seperti lantai-lantai sebelumnya, aku hanya melihat ada enam kamar yang berada di sampingnya dan enam kamar lagi yang berseberangan dengan kamarnya.
“Silahkan masuk Mar.”
Kichida pun membukakan pintu kamarnya dan aku pun masuk ke kamarnya.
Aku katakan kepada kalian, ini pertama kalinya aku masuk ke dalam kamar seorang perempuan.
Maksudku perempuan yang tidak ada hubungan darah denganku ya...
Aku juga sedikit bingung, kenapa Kichida tidak ada rasa keberatan untuk mengajakku masuk ke dalam kamarnya.
Aku saja yang laki-laki sedikit keberatan jika teman perempuanku masuk ke dalam kamarku.
Selain karena di dalam kamarku itu terdapat banyak sekali rahasia terkait denganku, aku juga tidak begitu suka melakukan hal itu.
Ketika aku sampai di kamarnya, kamarnya terlihat rapih sekali. Di sana hanya terdapat satu kasur, satu lemari, dan juga pendingin ruangan.
Ya, mungkin karena hanya itu saja yang ada di sana jadinya terlihat rapih.
“Sepertinya kamar ini mahal.”
“Begitulah, silahkan duduk Mar.”
Aku pun duduk di sebuah kursi yang dia sediakan dan Kichida duduk di kasurnya.
“Dari mana kau mendapatkan uang untuk menyewa kamar ini?”
“Aku memakai semua uang simpananku.”
Simpanan ya.
Kamar ini nyaman sekali, aku mungkin akan meminta Kichida untuk tidur sebentar jika Kichida itu adalah seorang laki-laki.
“Apa semua uang itu kau habiskan hanya untuk menyewa kamar saja?”
“Tidak, uangku masih tersisa banyak dan cukup untuk kebutuhan sehari-hariku.”
Aku yakin uang simpanannya itu sangat banyak.
Selama di sekolah, aku tidak pernah melihat Kichida membeli makanan di kantin. Dia selalu membawa bekal dan juga setelah sekolah, dia juga tidak pernah pergi kemana-mana.
Kenapa aku tau itu, karena jika Kichida pergi ke suatu tempat, pasti dia akan mengajak Miyuki dan Miyuki pasti akan bercerita kepada kami ketika sedang istirahat.
“Lalu bagaimana ketika kau ingin makan?”
Aku bertanya hal itu karena aku sama sekali tidak melihat di sana ada kompor dan juga penanak nasi.
“Aku membelinya di warung yang berada di dekat kontrakan.”
Warung yang berada di kontrakan?
Oh.. Pasti warteg yang tadi aku lewati.
Hebat juga dia bisa makan-makanan yang ada di warteg. Mungkin karena keadaan yang membuatnya beradaptasi.
“Lalu bagaimana jika simpananmu sudah habis?”
“Aku akan mencari pekerjaan untuk hal itu.”
__ADS_1
“Memang ada pekerjaan yang mau menerima anak lulusan SMP?”
Untuk saat ini, aku tidak akan bertanya kepadanya tentang masalahnya terlebih dahulu. Lebih baik aku membuat dia sendiri yang mengatakan hal itu kepadaku.
“Ada saja, aku juga bisa meminta kepadamu sebuah pekerjaan.”
“Aku tidak akan memberikan pekerjaan kepadaku.”
Aku tidak serius dalam mengatakan hal ini, aku hanya ingin melihat reaksinya saja. Sebenarnya jika dia masih ingin melakukan ini dan membutuhkan pekerjaan, aku akan memberikannya.
“Kalau kau tidak mau memberikanku pekerjaan, mungkin aku akan pergi ke dunia malam untuk mendapatkan uang. Pasti aku bisa mendapatkan uang di sana.”
Aku tidak tau apa yang sedang dia pikirkan, tapi aku bisa tau kalau dia sedang mengancamku balik.
Boleh juga dia.
“Apa kau gila?”
“Aku tidak gila, itulah yang akan aku lakukan jika aku tidak mendapatkan satupun pekerjaan.”
Dia sudah gila.
“Apa kau ingin tinggal di sini selamanya?”
“Mungkin saja.”
Kichida masih terlihat acuh kepadaku.
“Apa kau tidak khawatir kepada orangtuamu?”
“Buat apa aku khawatir dengan mereka.”
OK, dia benar-benar marah kepada orang tuanya. Memang usia tidak bisa berbohong, dia masih saja bersifat kekanak-kanakan.
“Tadi pagi, orang tuamu datang ke sekolah dan memberitahukan hal ini kepada Pak Febri.”
“Benarkah itu?”
Kichida pun langsung melihat ke arahku dengan serius ketika mendengar hal itu.
“Miyuki juga mengkhawatirkan keadaanmu, bahkan dia saja tidak bersemangat seperti biasanya.”
“Aku merasa bersalah kepada Miyuki, tapi tidak dengan orang tuaku.”
Dia benar-benar marah.
Apa aku bisa membuat mereka berbaikan?
Hmmmm... Kita lihat saja nanti.
“Apa yang sebenarnya terjadi hingga membuatmu sampai sejauh ini?”
“Mereka sudah keterlaluan Mar!”
Emosi Kichida sedikit meningkat dan suaranya menjadi tinggi.
Aku bersyukur karena ruangan ini sedikit meredam suara.
“Keterlaluan bagaimana?”
“Waktu itu, ibuku tidak sengaja memergokiku sedang membuat komik dan dia mengadukan ini kepada papa. Malam harinya mereka berdua memarahiku tidak ada habisnya.”
Kasihan sekali dia.
“Dan yang membuatku marah, keesokan harinya ketika pulang sekolah, semua alat menggambarku disita oleh mereka.”
Itu memang sedikit keterlaluan.
Kalau aku menjadi Kichida dan kondisiku tidak memiliki uang banyak seperti sekarang ini, mungkin aku akan melakukan hal yang sama. Tapi aku tidak kabur dengan tinggal di kontrakan, karena tidak mungkin aku memiliki uang yang banyak untuk membayar uang sewa per bulannya.
Aku pasti akan pergi ke masjid yang memiliki ruangan khusus untuk marbot dan pengurus di sana mendapatkan makan bahkan digaji.
Ya, itu yang akan aku lakukan.
“Sebelumnya aku mengikuti saran darimu untuk membuktikan kepada mereka, tapi mereka sendiri yang tidak mau melihat hasil dari usahaku.”
Kichida marah semakin menjadi-jadi. Dia pun mencengkram selimut yang berada di dekatnya dengan sangat kuat.
“Kalau keadaannya seperti ini, aku tidak mungkin menyalahkanmu sepenuhnya.”
“Apa dengan begitu kau mau memberikanku pekerjaan?”
“Tidak, aku hanya mengatakan tidak menyalahkanmu sepenuhnya. Bukan berarti aku membenarkan tindakan yang kau lakukan ini.”
Aku harus mencoba untuk netral di sini.
Kalau sudah seperti ini bagaimana membujuk dia untuk kembali ke rumah?
“Apapun yang kau katakan, aku tetap tidak akan pulang ke rumah.”
Padahal aku belum mengatakan apapun kepadanya tentang itu.
OK, lupakan semua rencanaku barusan. Sepertinya aku harus melakukan ini secara situasional.
“Apa kau yakin mengatakan hal itu?”
“Aku sangat yakin sekali.”
Pendiriannya sudah terbentuk dengan sangat kuat.
“Sekarang masih ada kasus penculikkan dan semua orang menganggap kalau kau itu diculik, bahkan Miyuki sempat menganggap seperti itu.”
“Biarkan saja begitu.”
Ah gawat! Dia sudah kembali acuh kembali.
Kalau seperti ini terus, apapun yang aku katakan kepadanya. Dia tidak akan mendengarkanku.
“Sejak kapan kau egois seperti itu?”
Aku masih mencoba untuk tenang di sini.
“Apa masalahmu Mar? Bukankah kau yang biasanya tidak pedulia dengan hal seperti ini.”
Sekarang Kichida mulai memarahiku.
Kau ingin membuatku berkata jujur di sini?
Baiklah kalau begitu.
“Sejujurnya aku juga tidak peduli dengan apa yang kau alami saat ini, tapi banyak orang yang khawatir akan hal itu dan itu sangat menggangguku.”
“Lalu apa yang akan kau lakukan? Memberitahukan lokasiku saat ini kepada orang tuaku?”
Ini merepotkan sekali, aku memang tidak cocok untuk menangani hal-hal seperti ini.
“Apa yang sebenarnya yang kau inginkan?”
Aku mulai bersikap tegas kepadanya.
__ADS_1
“Aku hanya mau menggapai cita-citaku saja Mar.”
Nada bicara Kichida pun mulai menurun dan dia terlihat mulai menahan emosinya.
“Apa dengan kau tinggal di sini, kau bisa menggapai cita-citanya itu?”
Tantangku kepadanya.
“Bisa saja.”
Kichida mengatakan itu dengan sangat percaya diri sekali.
“Bagaimana caranya? Apa kau memiliki waktu yang cukup untuk bisa membuat komik ketika semua waktumu harus terbagi lagi untuk hal-hal lainnya?”
Kichida pun terdiam mendengar hal itu.
Sepertinya dia sama sekali tidak menyadari hal itu.
Mungkin saat ini dia masih tidak merasakannya karena uang yang dia miliki masih ada dan jumlahnya mungkin cukup banyak.
Ketika makan dia bisa membelinya, mencuci baju dia bisa membayar jasa, dan yang lainnya. Tapi dia akan merasakan hal itu ketika uang yang dia miliki sudah terbatas dan dia harus memanfaatkannya itu sebaik mungkin sampai dia mendapatkan uang lagi.
Melakukan itu tidaklah mudah.
“Hidup sendiri itu tidak semudah apa yang kau bayangkan. Walaupun aku tidak pernah merasakannya, setidaknya aku tau bagaimana melakukan pekerjaan rumah sendiri dan itu sangat memakan waktu.”
Aku mulai menceramahi Kichida dengan pelan dan lembut.
Aku membuang semua emosiku agar dia bisa mendengarkan perkataan yang aku ucapkan. Lagian juga aku tidak begitu emosi dengan hal ini.
Kichida masih terdiam tidak mengatakan apa-apa.
“Apalagi kau juga harus bekerja, apa kau pikir ada pekerjaan yang kerjanya sebentar tapi bayarannya besar?”
Kichida sama sekali tidak menjawab pertanyaanku itu.
“Tidak ada, apalagi kau masih SMK dan tidak memiliki pengalaman sama sekali. Paling beruntung kau mendapatkan pekerjaan yang bayarannya per jam.”
Gawat, mulutku tidak mau berhenti.
Aku sebaiknya pulang kalau tidak aku akan mengatakan hal yang menyakitkan kepadanya.
“Kalau memang itu yang ingin kau lakukan. Silahkan saja, aku tidak akan menghalangimu.”
Aku mulai berdiri dan mengambil tasku yang sebelumnya aku taruh di lantai.
“Dan satu lagi, aku tidak akan memberitahu keberadaanmu kepada siapapun.”
Aku pun mulai melangkahkan kakiku untuk pergi dari sana.
Ketika tanganku memegang gagang pintu, tasku pun ditarik oleh Kichida.
Aku menoleh sedikit dan melihat dia menunduk tidak bersuara.
Gawat! Sepertinya aku melakukan sesuatu yang salah di sini.
Aku pun mulai melihat dia yang meneteskan air mata.
Karena tidak mau dilihat olehku, dia pun menunduk menutupi wajahnya itu. Dia pun juga menahan diri agar dia tidak tersedu-sedu.
Apa kata-kataku tadi terlalu menyakitkan untuk dikatakan?
Aku rasa kata-kataku barusan sudah aku pilih yang paling aman untuk diucapkan.
“Saat ini... Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan Mar... Tapi di satu sisi aku juga tidak mau kehilangan cita-citaku.”
Aku pun mendudukkan Kichida di kasurnya dan memberikan tisu yang aku miliki.
Aku bersyukur saat perjalanan ke sini, aku tidak sengaja membeli tisu dari anak kecil yang menjualnya di halte bis.
Kichida mulai mengusap ingus dan air matanya dengan tisu yang aku berikan.
“Kalau begitu, lebih baik sekarang kau pulang dan berbicara secara baik-baik dengan orang tuamu.”
“Bagaimana jika mereka melarangku lagi?”
“Tenang saja, mereka tidak akan melarangmu.”
Aku berusaha untuk meyakinkannya.
Aku pun menatap matanya dengan penuh keyakinan agar dia percaya dengan ucapanku barusan.
“Dari mana kau tau itu Mar?”
“Setelah apa yang kau lakukan sekarang, tidak mungkin orang tuamu akan menolak hal itu. Dia pasti akan membiarkanmu untuk menggapai cita-citamu itu.”
Kalau orang tuanya melarang, pasti Kichida akan kabur dari rumah lagi.
Pasti mereka tidak mau itu terjadi.
Sejahat-jahatnya orang tua, mereka pasti menyesal telah melakukan hal itu kepada anaknya.
“Dan juga, kalau orang tuamu masih melarangmu. Aku dan Pak Febri akan turun tangan untuk meyakinkan ke mereka.”
“Kenapa Pak Febri juga?”
“Sebenarnya Pak Febri juga sedikit amrah dengan orang tauamu ketika mendengar cerita dari mereka. Pak Febri juga berkata kalau mereka sangat menyesal telah melarangmu.”
Ya, sebenarnya Pak Febri juga tidak mengatakan kalau dia marah sih.
“Untuk sekarang, singkirkan egomu dan bicaralah kepada orang tuamu dengan kepala dingin. Aku yakin mereka akan mendengarkannya.”
“Aku akan pulang dan berbicara dengan orang tuaku seperti yang kau katakan Mar.”
Akhirnya, tugasku di sini selesai juga.
Dengan begini, aku tinggal memberikan laporan kepada Pak Febri.
“Tapi tidak sekarang...”
Loh?
“Aku membutuhkan waktu untuk mengumpulkan keberanianku terlebih dahulu.”
Jadi begitu.
“Tidak masalah, persiapkan saja dulu matang-matang. Kalau begitu aku mau pamit pulang dulu ya, sudah sore juga.”
“Aku minta maaf kepadamu Mar, dan juga terima kasih karena telah berbicara denganku.”
“Itu tidak masalah.”
Aku pun akhirnya pergi meninggalkan kontrakannya Kichida dengan diantarkan olehnya sampai depan kontrakan.
Saat di jalan menuju halte, aku pun mengangkat tanganku tinggi-tinggi untuk meregangkan pundakku yang kaku.
Aku tidak menyangka kalau aku bisa melakukan hal seperti ini.
Baiklah, aku akan melaporkan hal ini kepada Pak Febri besok ketika di sekolah.
__ADS_1
-End Chapter 134-