
Ketika pulang sekolah, aku seperti biasa pergi ke lab untuk bermain gim bersama dengan Pak Febri dan juga untuk melihat apakah ada pekerjaan yang akan diberikan oleh Pak Febri kepadaku. Setelah aku sampai di sana, aku sudah melihat Pak Febri yang sedang duduk dan bermain gim di komputer biasa.
“Sudah bermain saja Pak?”
Aku pun menyalakan komputer tempat biasa aku bermain.
“Iya, kamunya saja yang lama Mar... Mar, nanti setelah bermain kamu bisa ikut bapak tidak?”
“Kemana Pak?”
“Hari ini, bapak ada janji buat ketemuan dengan teman lama bapak untuk membangun perusahaan baru setelah perusahaan lamanya bankrut.”
“Bankrut?”
Aku sedikit terkejut ketika mendengar itu.
“Aku tidak tau bagaimana jelasnya, tapi yang aku tau kalau perusahaannya itu telah bankrut sejak dua tahun yang lalu dan sekarang dia mau membuat perusahaan baru. Karena dia belum memiliki dana yang cukup untuk membayar karyawan, makanya dia meminta bantuan dariku untuk membantu.”
Jadi begitu, tapi hebat sekali dia mau membangun sebuah perusahaan lagi setelah mengalami kebangkrutan, sepertinya ini bisa menjadi pengalaman yang bagus untukku.
“Baiklah.”
“Tapi aku tidak bisa menjanjikanmu bayaran dari pekerjaan ini loh Mar. Aku saja disuruh olehnya secara cuma-cuma, walaupun dia berkata kalau sudah ada pemasukan dia akan membayar seluruhnya.”
Aku rasa itu tidak masalah kalau aku tetap mendapatkan bayaran meskipun diakhir.
“Tidak masalah Pak, aku rasa ini pengalaman yang bagus untuk melihat secara langsung bagaimana membuat sebuah perusahaan. Lagi pula, anggap saja ini sebagai tanda terima kasih dariku karena bapak selalu memberikan pekerjaan kepadaku.”
“Aku baru tau kalau muridku ada yang sebaik ini.”
Pak Febri terharu mendengar itu.
“Oh iya Pak Febri. “
“Ada apa Mar?”
“Ada satu temanku yang ingin ikut bermain bersama kita.”
“Ajak saja, nanti biarku pasangkan terlebih dahulu satu komputer dengan gim ini agar kita dapat bermain bersama-sama. Tapi bagaimana kemampuannya?”
“Kalau itu aku bisa menjaminnya, kemampuannya jauh lebih hebat dibandingkan denganku. Dia memang sering bermain gim ini, bahkan lebih sering dia dibandingkan denganku.”
“Woah! Aku rasa sebentar lagi aku tidak akan merasakan apa yang namanya kekalahan.”
Aku rasa tidak seperti itu, walaupun Maul ikut bermain tetap saja yang namanya kekalah pasti akan kita rasakan. Apalagi bermain gim MOBA seperti Dito2 ini.
Dan kami pun bermain gim bersama.
Setelah satu atau dua gim kami bermain, aku bersama dengan Pak Febri langsung pergi ke sebuah kafe yang berada di kawasan Jakarta Selatan untuk bertemu dengan temannya Pak Febri. Kami ke sana dengan menggunakan sebuah motor milih Pak Febri.
Ketika kami memasuki kafe tersebut, Pak Febri langsung menghampiri seseorang yang sedang duduk di sana. Aku pun mengikutinya dan berjalan ke sebuah meja tempat orang itu duduk. Saat melihat kami menghampirinya, dia langsung berdiri dan menyapa Pak Febri.
“Kau sudah sampai di sini saja?”
“Tentu saja, namanya mau ketemu teman lama yang ingin membantuku, pasti aku akan bersemangat untuk menemuinya.”
Orang itu memiliki tinggi yang lebih pendek dibandingkan Pak Febri dan juga dia masih terlihat muda sama dengan Pak Febri.
“Amar perkenalkan, ini temanku yang tadi aku katakan kepadamu ketika di sekolah. Nama dia adalah Hari, dia dulu satu sekolah denganku ketika SMA.”
“Hari.”
Pak Hari menjulurkan tangannya kepadaku.
“Saya Amar, saya muridnya Pak Febri.”
Aku pun bersalaman dengannya.
Kami pun langsung duduk bersama dengannya dan memesan sebuah kopi untuk menemani kami berbicara di sana.
“Memangnya perusahaan apa yang kau kembangkan dulu?”
Pak Febri langsung membuka pembicaraannya.
“Parah sekali kau tidak tau tentang hal itu, padahal dulu perusahaanku itu sangat terkenal loh.”
“Masa?”
Pak Febri memang tidak sedang bercanda, dia memang tidak tau apa perusahaan yang dibuat oleh Pak Hari. Itu dapat terlihat dengan sangat jelas di wajahnya saat ini.
“Dulu aku mendirikan sebuah perusahaan penerbitan yang menerbitkan sebuah majalah yang berisi tentang komik-komik yang bernama Semesta Komik.”
Sepertinya aku pernah mendengar majalah seperti itu dari Kichida. Tunggu? Memangnya ada majalah seperti itu?
“Oh jadi Semesta Komik itu milikmu, dulu aku sering membaca komik dimajalah itu tapi aku tidak tau kalau perusahaan itu kau yang mendirikannya.”
Parah sekali kau Pak Febri, sebagai teman kau sudah sangat gagal.
“Lalu kenapa perusahaannya bisa bangkrut? Bukankah komik itu cukup terkenal dulu.”
“Kalau kalian tau, jumlah pembaca di Indonesia semakin hari semakin berkurang apalagi dengan munculnya internet yang membuat banyak orang yang lebih memilih membaca sesuatu di internet dibandingkan membacanya di buku. Ada juga beberapa web yang mengunggah isi dari majalahku secara ilegal yang membuat banyak pembaca lebih memilih membaca di sana karena gratis dibandingkan membeli langsung majalahnya. Walaupun sudah beberapa kali aku menutup web itu, tapi tetap saja masih banyak web baru yang bermunculan.”
Hmmm... Aku baru tau kalau pengunggah-pengunggah ilegal dampaknya akan sebesar ini.
“Dan juga ada beberapa karyawan yang membawa kabur uang perusahaan yang membuat perusahaan menjadi tidak bisa berjalan lagi.”
Tambah Pak Hari.
“Aku turut berduka mendengar itu.”
__ADS_1
“Tapi masa-masa sulit itu sudah aku lewati, dan hutang-hutang yang menimpa perusahaanku dulu sudah aku lunasi semua. Sekarang adalah saatnya untuk membangun perusahaan baru dengan semangat yang baru.”
Pak Hari mengatakan itu dengan semangat yang membara-bara. Sepertinya aku harus banyak-banyak belajar dari sikap pantang menyerah yang dimiliki oleh Pak Hari, karena suatu saat pasti sangat berguna untukku melewati masa-masa sulit.
“Jadi perusahaan apa yang ingin kau buat?”
Pak Febri langsung masuk ke inti pembicaraan.
“Sebenarnya aku masih ingin menjalankan perusahaan di bidang komik dan penerbitan karena aku masih memiliki banyak sekali koneksi komikus dan juga mesin percetakkanku dulu juga masih ada sampai sekarang. Mungkin jika ingin digunakan kembali harus aku servis terlebih dahulu agar mesinnya optimal.”
“Mengapa kau tidak mencoba untuk dibuat digital saja?”
Pak Febri langsung mengusulkan sebuah ide.
“Itu ide bagus, tapi aku sama sekali belum pernah melihat aplikasi seperti itu.”
“Aku pernah melihat temanku menggunakan aplikasi seperti itu, tapi temanku menggunakan aplikasi yang berasal dari Jepang. Menurutnya aplikasi itu belum ada di Indonesia, jadi dia menggunakan aplikasi khusus untuk mengunduh aplikasi dan gim yang hanya ada di Jepang.”
Untung saja saat istirahat tadi aku sempat melihat Kichida yang membaca komik dan bertanya kepadanya. Sebenarnya aku sering sekali melihat Kichida membaca komik dengan ponselnya, tapi aku tidak pernah memperdulikan hal itu, karena aku sendiri tidak terlalu tertarik dengan yang namanya komik.
“Di Korea juga ada aplikasi serupa dan lumayan ramai peminatnya di sana. Mumpung aplikasi-aplikasi itu belum masuk ke pasar Indonesia, sepertinya tidak ada salahnya untuk mencoba.”
Ucap Pak Febri kepada Pak Hari.
“Usulan dari kalian berdua sangatlah bagus, aku tidak percaya akan mendapatkan ide dipertemuan pertama seperti ini.”
Pak Hari pun terlihat senang, sepertinya dia sudah melihat secercah harapan untuk membangun perusahaannya itu.
“Berarti masalahnya sekarang adalah mencari pemrogram yang mau dibayar ketika aplikasinya sudah membuahkan hasil.”
Aku pun berpikir tentang hal itu dan yang terlintas dipikiranku saat itu hanyalah Maul. Tapi aku tidak tau apakah Maul mau jika bekerja tanpa dibayar ketika aplikasinya jadi, apalagi kalau mengingat dia selalu mengeluh tentang
pekerjaannya.
“Aku memiliki seorang teman yang ahli dalam bidang tersebut dan sepertinya dia mau jika tidak dibayar terlebih dahulu.”
Sepertinya? Tidak ada salahnya menawarkannya terlebih dahulu kepada Maul tentang hal ini.
“Benarkah itu Mar?”
Pak Hari menegaskan hal itu kepadaku.
“Mungkin saja, tapi aku belum tau lebih jelasnya.”
“Kalau begitu kau tanya dulu ke temanmu itu. Nanti bagaimana keputusannya dia, kau bisa langsung menghubungiku ke nomor ini. Soalnya hanya dia satu-satunya harapan kita agar ide ini bisa berjalan.”
Pak Hari langsung memberikan nomornya kepadaku.
“Baiklah, nanti akan aku kabarkan secepatnya.”
“Aku menunggu kabar baiknya darimu.”
“Sekarang apa pekerjaanmu Ri?”
Pak Febri meminum kopi yang tadi ia pesan.
“Aku masih bekerja di perusahaan percetakan milik kenalanku. Aku juga belum keluar dari pekerjaanku takutnya nanti perusahaan yang sedang ku bangun ini masih membutuhkan biaya dalam proses pembuatannya.”
“Kalau masalah seperti ini, kau memanglah ahlinya. Rencanamu sangat matang sekali.”
“Memangnya kau lupa kalau dulu aku murid terpintar di sekolahnya.”
“Kau terlalu berlebihan, kalau terpintar di kelas mungkin aku masih bisa menerimanya.”
“Aku jadi teringat masa lalu.”
Aku tidak bisa masuk dalam pembicaraan ini. Lebih baik aku mendengarkannya saja, lagi pula tidak ada salahnya mendengarkan percakapan mereka berdua, siapa tau aku mendapatkan sesuatu yang bagus untuk dijadikan pengalaman.
“Apa hanya itu saja yang ingin kau bicarakan?”
Pak Febri langsung membalikkan topiknya ke pembicaraan awal. Seperti yang aku harapkan dari Pak Febri, dia selalu serius jika sedang bekerja. Ya... Bekerja.
“Iya, untuk sekarang kita sampai tahap itu dulu. Karena rencana ini jadi atau tidaknya tergantung temannya Amar.”
Woah! Aku merasakan beban yang sangat besar sekali sedang aku tanggung. Pundakku terasa berat sekali.
“Berapa kemungkinan temanmu itu menerima pekerjaan ini?”
Pak Febri bertanya kepadaku.
“Aku rasa seratus persen kalau dia sedang tidak mengerjakan pekerjaan lain.”
“Kenapa seperti itu?”
Tanya Pak Hari.
“Temanku ini sering menerima pekerjaan dari perusahaan lain juga, jadi kalau seandainya aku menyuruh dia ketika dia sedang mengerjakan pekerjaan lain, tentu saja dia akan mendahulukan pekerjaan yang ada bayarannya.”
“Apa temanmu ini masih seumuran denganmu?”
“Tentu saja.”
“Aku jadi penasaran orangnya seperti apa.”
Ucap Pak Hari sambil meminum kopinya.
“Tapi tenang saja, saat ini dia sedang kosong dan tidak memiliki pekerjaan, selain itu aku sudah mengirimnya sebuah pesan kalau aku ingin memberikan sebuah pekerjaan kepadanya.”
“Aku mengandalkanmu Mar.”
__ADS_1
“Baguslah kalau begitu.”
Tolong.... Beban di pundakku sepertinya bertambah dua kali lipat. Siapa saja, bantu aku meringankan beban ini.
“Apa tidak masalah kau membantu kami Mar? Apa ini tidak mengganggu sekolahmu?”
“Kalau itu kau tidak usah khawatir, Amar sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan dariku dan nilainya tidak pernah menurun sama sekali.”
Pak Febri mengatakan itu dengan sangat percaya diri sekali.
Yah.. Apa yang dia katakan benar. Walaupun aku sering mengerjakan pekerjaan dari Pak Febri, tapi nilaiku tidak pernah turun sama sekali.
Hal itu bukan karena aku pintar atau apa, karena memang dari awal aku tidak pernah belajar ketika di rumah dan juga aku selalu mendapatkan nilai rata-rata saja. Untuk mendapatkan nilai rata-rata juga tidaklah susah, selama kalian mendengarkan guru dengan seksama ketika sedang mengajar di kelas, aku rasa kalian dapat mendapatkan nilai rata-rata itu tanpa perlu belajar lagi ketika di rumah.
“Kau terlalu mengeksploitasi anak di bawah ubur Bri!”
“Anak seumuran Amar ini memang seharusnya harus diasah kemampuannya karena disaat seperti inilah dia sedang berkembang.”
Kemudian mereka berdua pun berdebat tentang masalah itu. Pak Hari yang mengatakan kalau Pak Febri terlalu memaksaku mengerjakan pekerjaannya dan juga Pak Febri yang mengatakan kalau anak muda itu seharusnya diasah kemampuannya bukan hanya akademinya saja.
Ketika mereka sedang berdebat, aku melihat ponselku mendapatkan panggilan masuk. Saat aku melihatnya lebih jelas, ternyata Riki yang menelponku saat itu.
Tumben sekali Riki menelponku di saat seperti ini, apa dia ada masalah?
“Aku mau izin buat angkat telpon sebentar.”
Aku pun izin kepada mereka berdua namun mereka masih fokus dengan perdebatannya itu. Aku langsung mengangkat telpon itu dan pergi ke luar kafe.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikummussalam, ada apa RIk?”
“Dimana kau sekarang Mar? Aku tidak menemukanmu di lab.”
“Aku sekarang sedang berada di sebuah Jakarta Selatan.”
“Jakarta Selatan! Sedang apa kau di sana?”
“Aku sedang diajak Pak Febri untuk bertemu temannya. Katanya ada pekerjaan yang ingin dia kerjakan bersama denganku.”
“Semuanya pada mencarimu, mereka kira kau sudah pulang tadi karena tidak menemukanmu di lab.”
“Katakan kepada yang lainnya untuk pulang duluan saja, sepertinya aku masih lama di sini.”
“Ok.”
Riki pun menutup telponnya.
Aku langsung kembali ke dalam kafe untuk bergabung bersama Pak Hari dan juga Pak Febri. Aku juga sudah melihat kalau mereka sudah tidak berdebat dan sedang membicarakan hal yang lain. Aku pun duduk di kursiku kembali dengan tenang.
“Rumahmu dimana Mar?”
Pak Hari langsung bertanya tentang personalku.
“Di Cibubur Pak.”
“Jauh sekali, kau naik apa ke sekolah?”
“Aku naik Transjakarta.”
“Pasti kau naik bis pertama dari sana.”
“Begitulah.”
“Apa tidak ada hal lain yang ingin kau bicarakan Ri? Kalau tidak aku ingin pulang karena ada pekerjaan lain yang ingin aku kerjakan.”
Pak Febri menghabiskan kopi yang dia pesan.
“Kau ini buru-buru sekali, padahal sudah mendapatkan gaji dari pekerjaannya menjadi guru masih saja kau mencari uang lagi.”
“Mau bagaimana lagi, saat ini aku sedang mengumpulkan modal untukku menikah.”
Hah! Menikah? Aku kira Pak Febri adalah tipe orang yang masih mau menikmati masa mudanya, makanya dia mengurungkan niat untuk menikah.
“Jangan lupa mengundangku ketika kau menikah nanti ya.”
Ucap Pak Hari sambil tersenyum kepada Pak Febri.
“Tentu saja aku akan mengundangmu... Hei Mar! Kenapa kau memperhatikanku sampai sebegitunya?”
“Aku tidak menyangka kalau bapak sebentar lagi akan menikah.”
“Kau ini tidak sopan sekali Mar, begini-gini juga aku sudah ingin berkeluarga.”
“Kalau aku melihat dari tingkahmu saat di sekolah, bapak terlihat seperti anak muda yang masih mau menikmati masa lajangnya. Jadi aku sedikit terkejut ketika mendengar kalau bapak ingin menikah.”
“Hahahahaha... Dari mana kau mendapatkan murid semenarik ini Bri.”
Pak Hari tertawa puas mendengar perkataanku tadi.
“Jadi sehabis ini kita mau apa?”
“Setelah ini aku ingin mengajak kalian berdua untuk pergi ke kantor perusahaan lamaku. Walaupun aku sudah bangkrut, tapi aku berhasil mempertahankan kantor itu dan juga mesin cetak yang ada di dalamnya. Itulah kenapa aku harus bekerja untuk membayar utang-utang itu terlebih dahulu. Kebetulan kantorku tidak jauh dari sini.”
Aku jadi penasaran bagaimana bentuk kantor dari Pak Hari. Kalau Pak Febri bilang komik yang dikeluarkan oleh perusahaannya Pak Hari pernah terkenal pada masanya, seharusnya dia memiliki kantor yang besar, apalagi di sekitar sini aku hanya melihat gedung-gedung tinggi saja.
Tidak.. Tidak.. Tidak... Aku tidak boleh memikirkan itu terlalu tinggi. Aku tidak mau ekspetasiku terpatahkan karena hal ini.
-End Chapter 62-
__ADS_1