
Matahari yang sudah tinggi dan bersinar dengan sangat terik sekali, awan-awan yang bergerak secara perlahan,
dan hembusan angin yang menggerakan pohon bambu yang berada di depan rumahku hingga membuat bunyi siulan, membuat sisa-sisa hari liburku ini terlihat indah sekali.
Saat ini aku sedang menghabiskan waktuku dengan berbaring di ruang tamu sambil menonton acara kesukaanku yang ada di tv. Karena kedua orang tuaku selalu bekerja dan baru pulang larut malam, membuat keadaan rumahku sangat sepi dan nyaman untuk bersantai.
“Nikmatnya…”
Sfx : Treeet… Treeet… Treeet…
Ponselku berbunyi dan mendapatkan panggilan masuk.
“Dari Riki kah? Kenapa dia menelponku siang hari seperti ini?”
Aku pun mengangkat ponselku dan menerima panggilan dari Riki.
“Halo assalamualaikum Mar? Kau sekarang ada di rumah?”
“Waalaikummussalam, ada… Memangnya kenapa?”
“Jum’at besok aku dan teman-temanku ingin pergi ke Gunung Prau, apa kau mau ikut?”
Aku pun melihat kalender untuk memeriksa kalau pada saat hari ini aku tidak memiliki jadwal apa pun.
Saat ini juga aku masih bimbang, apakah aku harus ikut Riki ke gunung Prau atau tidak. Sebenarnya aku ingin sekali pergi ke sana. Dibandingkan dengan pantai, gunung lebih cocok sebagai tempat untuk melihat bintang. Waktt liburanku tinggal sebentar lagi, lebih baik aku memanfaatkannya sebaik mungkin.
“Baiklah, akan ikut.”
“Benarkah!? Asik.”
“Apa Maul juga ikut?”
“Tentu saja… Kalau begitu sudah dulu ya, aku mau menghubungi yang lainnya dulu, nanti aku hubungi lagi.”
Riki pun menutup panggilannya.
Kalau begitu, sekarang lebih baik aku membersihkan tas kerilku dan peralatan mendakiku yang lain. Sudah lama
aku tidak menggunakannya, aku yakin itu sudah sangat kotor sekali. Oh iya, apa sepatuku masih muat untuk dipakai? Lebih baik aku coba nanti untuk memastikannya.
Hari demi hari pun telah berlalu. Selama berhari-hari itu, aku bukan hanya menyiapkan peralatan untuk naik ke gunung saja, tapi fisikku belakangan ini juga aku asah. Setiap pagi dan sore aku sudah sering joging untuk mengembalikan staminaku. Aku tidak mau saat mendaki gunung nanti, aku yang paling banyak meminta untuk istirahat.
Waktu pun sudah menunjukan pukul 4 sore. Aku pun langsung pergi ke terminal Kampung Rambutan untuk berangkat menggunakan bus dari sana. Aku juga belum diberitahu oleh Riki siapa saja yang akan mengikuti pendakian kali ini, aku hanya diberitahu tempat kami berkumpul saja. Setidaknya ini adalah liburan, aku harus menikmatinya.
Awalnya aku berniat seperti itu, namun niat ku pun hilang seketika ketika melihat orang-orang yang akan ikut pendakian kali ini.
“Kau lama sekali Mar?”
“Jadi mereka teman-temanmu Rik?”
“Yup.”
Saat ini, aku melihat orang-orang yang ikut pendakian kali ini. Awalnya aku mengira kalau pendakian kali ini akan diikuti oleh taman-temannya Riki dari ekskul pencak silat. Ternyata teman-teman yang dimaksud kali ini adalah Kirana, Rina, dan Miyuki.
“Mengapa kau mengajak mereka?”
“Sebenarnya ini bukanlah rencanaku… Kemarin tidak sengaja aku bertemu dengan Miyuki saat sedang berkencan dengan Kirana di mal. Terus karena dia tau aku sering mendaki gunung, dia jadi memintaku untuk membuat perjalanan ini.”
Jadi seperti itu ceritanya, pantas saja dia mengajakku pergi ke Gunung Prau padahal kita sudah sering pergi ke sana. Aku kira Riki hanya mau bernostalgia dan menikmati pemandangan di sana, ternyata karena ini. Memang Gunung Prau adalah gunung yang cocok didaki oleh pendaki pemula.
“Aku mau pulang.”
“Tunggulah Ar, setidaknya kita sudah di sini.”
“Iya, kamu jahat sekali Mar.”
Miyuki dan Rina berusaha untuk menahanku seperti biasanya.
“Kalian egois sekali ya…”
Huh… Sepertinya lebih baik aku ikut mereka mendaki saja. Aku sudah bersusah payah melakukan persiapan untuk hal ini dan aku juga sudah diberikan uang jajan oleh orang tuaku, sangat sayang jika harus aku kembalikan.
“…Baiklah, aku akan ikut dengan kalian.”
“Benarkah?! Asik.”
Rina dan Miyuki terlihat senang sekali.
“Hee… Tumben sekali kau langsung berubah pikiran, biasanya kami harus membujukmu dengan beberapa argumen dulu.”
Maul meledekku karena terlalu gampang dibujuk oleh mereka berdua.
“Ada beberapa hal yang baru saja aku pikirkan.”
“Palingan dia baru saja memikirkan uang jajan yang dia minta dari orang tuanya.”
Riki dapat dengan tepat menebak apa yang baru saja aku pikirkan.
Kami pun langsung pergi ke peron bis yang menyediakan jasa ke terminal Mendolo.
Bagi kalian yang belum tau tentang Gunung Prau. Gunung Prau adalah gunung yang berada di Kawasan Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah. Gunung Prau memiliki ketinggian 2.565 mdpl, namun puncak tertingginya berkisar 2.590 mdpl. Gunung Prau juga biasa dijadikan sebagai destinasi bagi pendaki gunung pemula karena jalur pendakian yang tidak begitu sulit dan gunungnya juga tidak begitu tinggi.
Sedikit informasi lagi bagi yang belum tau, mdpl adalah singkatan dari meter di atas permukaan laut. Biasanya mdpl digunakan untuk mengukur ketinggian suatu tempat dari permukaan laut.
Ketika di dalam bis, Riki sudah mengatur tempat duduknya sesuai keinginannya. Dia duduk dengan Kirana, Rina dengan Miyuki, dan Aku duduk bersama dengan Maul. Sebenarnya saat ini, aku masih tidak enak dengan Maul.
“Hei Mul, apa kau tidak masalah tentang ini?”
“Soal apa?”
“Kau tau, saat ini kita sedang pergi dengan Miyuki dan ini bukan perjalanan singkat kau tau.”
“Jadi kau mengkhawatirkan tentang hal itu…”
__ADS_1
Maul sedikit tersenyum ketika mendengar itu.
“…Kalau tentang itu kau tenang saja Mar, lagi pula aku sudah melupakan semua itu.”
“Heee… Kalau begitu sia-sia aku mengkhawatirkamu.”
“Lagi pula, aku merasa kalau aku akan sering bertemu dengan Miyuki…”
Apa yang dia maksud? Kalau hal itu benar terjadi, itu adalah masalah buatku. Semoga saja Maul hanya asal sebut
saja.
“…Tapi melihat keadaan yang seperti ini, Aku merasa lebih baik aku mencoba sekali lagi.”
Ini gawat, motivasi dari mana yang membuat Maul ingin mencoba untuk mendekati Miyuki lagi. Satu orang yang
saat itu muncul di benakku hanya Riki saja, tapi aku juga tidak yakin mengingat kalau dia sudah aku ceritakan tentang kesamaan pemikiran antara aku dan Miyuki.
“Lebih baik kau hentikan itu Mul.”
“Kenapa?”
“Miyuki itu membenci apa yang namanya cinta, walaupun cara pandangnya denganku sedikit berbeda, tapi
kesimpulan kami berdua sama. Kami tidak mau berurusan dengan yang namanya cinta untuk saat ini.”
“Tidak mungkin, mana ada orang normal yang bisa memiliki pemikiran seperti itu. Dan juga kau baru bertemu
dengannya, mana munkin dia bisa memiliki pemikiran yang sama denganmu… Apa jangan-jangan kau sengaja mengatakan itu karena kau juga suka dengan Miyuki?”
Maul tidak percaya kepadaku dan malahan dia menuduhku balik.
“Harus berapa kali aku mengatakannya kepadamu. Aku tidak pernah suka dengan Miyuki. Aku bukanlah orang bodoh yang baru melihat seorang perempuan yang sangat cantik lalu langsung suka begitu saja.”
Aku sedikit kesal dengan pertanyaan yang dilontarkan Maul. Tidak biasanya dia mencurigaiku dan tidak
percaya dengan perkataanku.
“Terserah apa katamu Mar, tapi aku masih belum menyerah.”
“Baiklah, selamat mencoba… Bangunkan aku ketika sudah sampai nanti.”
“Oke.”
Aku pun menutup wajahku dengan syal, membalikkan badanku ke arah jendela dan bersiap untuk tidur.
***
“Oi Mar… Mar… Kita sebentar lagi sampai, cepatlah bangun! Kau mau tetap di sini dan ikut abang supirnya
kembali ke Jakarta?”
Maul menggerakan tubuhku secara perlahan. Aku pun mulai membuka mataku dan mengumpulkan kesadaranku. Aku sedikit menggeser gorden yang ada di sebelahku untuk melihat ke luar jendela.
“Kita sudah sampai mana?”
“Kita sudah hampir sampai terminal Mendolo.”
“Kenapa kau tidak membangunkanku, memangnya bis ini tidak berhenti untuk istirahat sebentar?”
Aku masih mengumpulkan kesadaranku dan aku pun meminum air yang sudah aku siapkan di samping kursiku.
“Tadi bis ini sempat istirahat di rest area, kami sudah membangunkanmu tapi kau tidak bangun sama sekali.”
Aku sedikit melakukan peregangan di tangan, kaki, dan kepalaku. Karena aku sudah tidur untuk waktu yang cukup lama, badanku terasa pegal dan kaku sekali. Aku ingin sekali menggerakannya di luar bis.
Mengapa aku bisa tertidur lama sekali? Padahal biasanya aku dapat dengan mudah bangun jika dibangunkan
seseorang. Apakah ini faktor karena kemarin malam aku begadang hingga pagi karena ada event di gim yang aku mainkan? Mungkin saja seperti itu.
Setelah bis kami sampai di terminal Mendolo. Kami pun langsung mengambil tas kami yang berada di bagasi bis dan langsung memeriksa logistik yang kami bawa.
Aku pun melihat jam tanganku yang menunjukan waktu pukul tiga pagi. Aku sesekali menarik nafas dengan sangat
panjang untuk menikmati segarnya udara pagi yang ada di sana. Kesegaran udara yang ada di sini tidak bisa kalian dapatkan jika kalian tidak pergi ke daerah yang berada di dataran tinggi.
Karena angkutan yang menuju ke basecamp baru beroperasi di pagi hari. Jadi kami pun menunggu dulu di sana sampai angkutan itu ada.
“Apa ada yang kurang?”
Aku menghampiri Riki yang sedang memeriksa logistik yang kami bawa.
“Tidak ada, semuanya sudah siap.”
“Tumben sekali kau tidak menyuruhku untuk membeli konsumsi.”
“Sebenarnya karena ini idenya Miyuki, jadi dia yang bersedia untuk membeli semua konsumsinya. Padahal aku sudah menolaknya tapi dia sendiri tetap memaksa.”
Seperti yang aku harapkan dari tuan putri yang kaya raya.
Aku memperhatikan perlengkapan yang dibawa oleh kami semua. Hanya Aku, Maul, dan Riki saja yang membawa tas keril sedangkan para perempuan hanya membawa tas sekolah. Seharusnya aku sudah tau itu, karena mereka semua pasti baru pertama kali mendaki gunung.
“Oi Mar.. Mul… Bantu aku membagi logistik ini ke tas kalian berdua.”
“Ok…”
Aku dan Maul pun membantu Riki untuk membagi logistik ke masing-masing tas yang kami bawa agar beban yang
dibawa oleh masing-masing kami terbagi dengan rata dan sesuai dengan kemampuan kami.
Di terminal Mendolo kami juga tidak seorang diri saja, banyak sekali pendaki yang sama seperti kami menunggu
angkutan yang menuju ke arah basecamp. Dan ada beberapa di antaranya yang menghampiri kami hanya untuk bertegur sapa atau pun bertanya tentang sesuatu.
__ADS_1
“Apa yang sedang kalian lakukan?”
Miyuki menghampiri kami yang sedang berberes peralatan.
“Seperti yang kau lihat kami sedang membagikan logistik agar beban kami terbagi rata.”
“Hanya tas kalian saja? Tas kami tidak dibagi juga?”
“Bukankah tas kalian hanya berisi konsumsi saja? Apa ada yang tasnya terlalu berat? Kalau terlalu berat, langsung beritahu ke kami.”
“Tidak kok, aku rasa muatan kami tidak begitu berat.”
“Jangan terlalu memaksakan dirimu ya, kalau seandainya berat kau bisa langsung bilang saja. Tidak usah malu ketika sedang seperti ini, karena mendaki itu salah satunya mengajarkan kebersamaan.”
Sifat bisa diandalkannya Riki mulai keluar kembali. Sepertinya kalau dia sedang mendapatkan sebuah tanggung jawab, dia akan menjalankannya dengan sangat amanah.
Ada sesuatu yang membuatku penasaran.
“Ngomong-ngomong apa kau sudah meminta izin ke orang tuamu sebelumnya?”
“Tentu saja Mar, Riki berkata kepadaku kalau aku harus izin dulu ke orang tuaku. Kalau aku tidak mendapatkan izin, dia tidak mau mengajakku untuk pergi mendaki.”
“Memang seharusnya seperti itu, kita tidak tau apa yang akan menimpa kita di gunung nanti. Sebaiknya kita meminta izin agar perjalanan kita kali ini menjadi baik-baik saja.”
Aku sedikit memberikan nasihat kepadanya.
“Dan juga kelihatannya orang tuaku juga senang ketika mendengar kalau aku ingin pergi jauh bersama teman-temanku. Mereka pun memberikanku uang yang sangat banyak sekali.”
Miyuki mengatakan itu dengan sangat santai sekali.
Hehehehehe… Uang yang banyak? Sepertinya aku bisa memanfaatkannya untuk perjalanan pulang nanti. Itu adalah kesalahan pertamamu tuan putri, memberitahu kalau kau mempunyai banyak uang di hadapanku.
Pagi pun tiba, dan angkutan yang menuju ke basecamp sudah mulai beroperasi. Kami langsung menaiki angkutan tersebut dan pergi ke basecamp via Patak Banteng. Selama di perjalanan, aku melihat pemandangan yang indah dari dalam mobil. Langit yang cerah, udara yang segar, dan pemandangan beberapa gunung sudah mulai terlihat dari sana.
Setelah menempuh perjalanan yang tidak terlalu lama, akhirnya kami pun sampai di basecamp via Patak Banteng. Kami pun berencana untuk sarapan terlebih dahulu sebelum melakukan pendakian. Terlebih lagi karena kemarin malam aku tidak dibangunkan ketika sedang berada di rest area, membuat perutku terasa lapar sekali.
Kami pun menuju ke salah satu tempat makan yang berada di sana. Sedangkan Maul dan Riki pergi ke tempat
registrasi untuk mendaftarkan diri kami sebelum melakukan pendakian.
“Ada apa?”
Aku menegur Miyuki yang sedang melihat-lihat ke sekeliling warung itu.
“Tidak ada, aku hanya senang saja. Aku tidak pernah makan di tempat seperti ini.”
“Benarkah!?”
Kirana dan Rina terkejut mendengar hal itu. Aku kira hanya aku saja yang akan terkejut.
“Iya, Mama dan Papaku jarang sekali mengajakku untuk makan di tempat-tempat seperti ini.”
“Berarti ini pengalaman pertamamu ya?”
“Iya Rin, makanya aku sangat senang sekali.”
Aku tidak tau apa yang menyenangkannya dari makan di sebuah warung kecil seperti ini. Sepertinya aku memang tidak bisa memahami jalan pikirannya orang kaya.
“Hai Mar, bolehkah aku mencoba membawa tasmu itu?”
Miyuki terlihat ingin sekali membawa tasku.
“Tidak boleh, tas ini berat sekali. Aku yakin kau pasti tidak bisa mengangkatnya.”
“Kamu sepertinya terlalu meremehkanku Mar.”
Miyuki sangat percaya diri sekali kalau dia bisa mengangkat tasku.
“Baiklah silahkan kalau kau mau coba.”
Aku pun menaruh tasku dan membiarkannya untuk mengangkatnya.
Miyuki mulai mencoba untuk mengangkat tasku itu. Tas keril yang aku bawa adalah tas keril yang bisa membawa muatan hingga enam puluh liter, dan Riki sudah mengisi tasku hingga batas maksimalnya. Akan sangat hebat sekali jika dia mampu mengangkat tasku itu.
Aku melihat Miyuki yang bersusah payah mencoba untuk mengangkat tasku. Berbagai cara sudah dia lakukan untuk bisa mengangkat tasku itu, namun dia tetap tidak bisa mengangkatnya. Tingkah yang dia lakukan saat ingin mengangkat tasku itu terlihat sangat lucu sekali.
“Hahahahaha… Kan sudah aku bilang kalau tasku itu berat.”
“Memangnya apa saja isi dari tasmu ini?”
“Hanya dua tenda, beberapa botol air minum satu liter, dan sedikit konsumsi.”
Aku mencoba mengingat-ingat lagi apa yang ada di dalam tasku.
“Padahal hanya itu saja, tapi aku tidak dapat mengangkatnya.”
Miyuki pun menyerah dan memberikan tasku kembali, dan dari kejauhan aku sudah melihat Riki dan Maul yang sudah kembali dari tempat registrasi. Kami pun langsung sarapan bersama untuk mengisi perut kami yang kosong sebelum pergi mendaki.
Inilah yang aku senang ketika pergi mendaki ke daerah Jawa Tengah. Makanan yang disajikan di sini tidak terlalu mahal dan rasanya juga lumayan enak menurutku. Selain itu ada beberapa warung yang menyajikan secara prasmanan dengan harga yang tidak terlalu mahal. Kalau misalnya di tempat makan modern mungkin kita biasa menyebutnya All You Can It.
Setelah sarapan dan berbincang-bincang sejenak, akhirnya kami pun memutuskan untuk melakukan pendakian tepat pukul sembilan pagi.
“Baiklah, sebelum kita melakukan pendakian. Alangkah baiknya jika kita membaca doa terlebih dahulu supaya pendakian kita kali ini dapat berjalan dengan lancar tanpa ada halangan sedikit pun, dan kita bisa kembali ke rumah dengan selamat. Berdoa di mulai…”
Riki pun memimpin acara pendakian kali ini. Karena dia yang lebih tau tentang apa saja yang harus dilakukan ketika mendaki, jadi kita menyerahkan tugas itu kepada Riki. Kami semua pun berdoa terlebih dahulu agar pendakian kali ini dapat berjalan dengan lancar hingga kami pulang ke rumah.
“Berdoa selesai… Ayo kita mulai mendaki!”
“Ayo!!!”
Pendakian yang panjang dan merepotkan pun dimulai.
-End Chapter 22-
__ADS_1