
Pagi yang dingin pun terjadi lagi, aku dan Riki berjalan memasuki kelas yang disana sudah ramai dengan teman-temanku. Walaupun keadaan sedang dingin seperti ini, kenapa pendingin di ruanganku tidak dimatikan saja.
Kami pun berjalan ke kursiku dan di sana aku masih melihat kursi kosong di hadapanku.
Ya, kursi itu adalah kursinya Kichida.
Karena kemarin dia berkata kalau dia ingin mengumpulkan tekadnya terlebih dahulu, jadi mungkin saat ini dia masih mengumpulkan hal itu.
“Bagaimana kemarin Mar?”
Riki langsung menagih hal itu, karena aku belum menceritakannya kepada mereka setelah pulang bertemu dari Kichida.
“Kau hari ini tidak mengambil absen?”
“Natasha sudah mengambilkannya. Jadi?”
“Semuanya berjalan baik.”
Udara enak sekali...
Aku ingin sekali tidur.
Aku pun melepas jaketku dan meletakan di atas meja untuk dijadikan bantal.
“Apa Kichida sudah kembali ke rumahnya?”
“Entahlah, tapi yang jelas dia akan pulang ke rumah.”
“Syukurlah kalau begitu.”
Aku pun mulai merasakan kelembutan dari jaketku yang sedikit basah. Aku mulai memejamkan mataku secara perlahan dan menikmati suasana saat itu.
Kemudian aku mendengar suara gaduh yang berasal dari kelasku. Aku merasa seperti seseorang masuk ke dalam kelasku dan orang tersebut cukup terkenal.
“Sedang apa kau datang ke sini Miyuki?”
Miyuki? Apa yang dia lakukan pagi-pagi di sini?
Lebih baik aku pura-pura tidur saja agar tidak ditanyai olehnya.
“Apa Amar tertidur?”
“Aku rasa dia belum tidur, soalnya dia baru saja memejamkan matanya.”
Ucap Riki dengan polosnya.
Rik, seharusnya kau katakan kepadanya kalau aku sudah tertidur dan dia pun kembali ke kelasnya lagi.
“Mar!... Mar!”
Miyuki pun menggoyangkan tubuhku.
“Apa?”
Aku mulai mengangkat wajahku dan melihat ke arahnya.
Saat itu, aku melihat Miyuki yang sangat khawatir sekali. Padahal kemarin aku lihat wajahnya sudah seperti biasanya.
“Apa kau masih mengkhawatirkan Kichida?”
“Iya, kemarin malam aku tidak bisa tidur karena memikirkannya.”
Aku juga melihat kantung mata yang berada di bawah matanya Miyuki.
Walaupun dia mencoba menutupi hal itu dengan sedikit bedak, tapi aku dapat melihatnya.
“Bukannya aku sudah berkata tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
“Tetap saja aku tidak bisa Mar!”
“Kenapa kau tidak mencoba untuk mengalihkan pikirkanmu dengan sesuatu yang lain?”
“Aku sudah melakukan itu namun hal itu tidak berguna.”
Berarti dia tidak melakukan sesuatu yang dia sukai. Seharusnya dia mengajak saja Misaki untuk bermain gim, pasti dia akan melupakan hal tersebut.
“Lalu kenapa kau datang ke sini?”
“Aku ingin kau mencari tau dimana keberadaannya Kichida, aku yakin kau bisa melakukannya dengan bantuan dari Maul.”
Oh iya, aku baru ingat kalau dia sama sekali tidak tau kalau aku sudah bertemu dengan Kichida.
“Baiklah, aku akan menyuruh Maul untuk melakukannya.”
Saat aku sedang berbincang-bincang dengan Miyuki, aku pun mendapatkan pesan dari Maul yang menyuruhku untuk pergi ke perpustakaan untuk bertemu dengannya. Dia bilang ada sesuatu yang penting.
Pagi-pagi seperti ini sudah ada hal penting saja.
Hal penting apa yang biasanya dibicarakan oleh Maul.
Aku sedikit ragu kalau dia ingin membicarakan tentang kasus penculikan itu. Kalau memang itu yang ingin dia bicarakan, dia bisa melakukannya saat istirahat.
Apa ini masih terkait masalah Kichida?
Tapi jarang sekali Maul bertindak tentang hal ini sebelum aku memberikan perintah kepadanya.
Lebih baik aku bertemu dengannya untuk mengetahui apa itu.
“Rik, tolong tahan Miyuki di sini.”
Aku berbisik kepada Riki.
“Memangnya kau mau kemana Mar?”
“Aku mau bertemu dengan Maul, sepertinya dia ingin membicarakan sesuatu tentang Kichida.”
“Baiklah kalau begitu, nanti jangan lupa beritahu aku tentang pembicaraan kalian ya.”
“OK.”
“Apa yang kalian berdua bicarakan?”
Miyuki melihat ke arah kami berdua dengan tatapan penuh dengan curiga.
Tanpa menjawab pertanyaan darinya, aku pun langsung pergi meninggalkan kelas.
“Tunggu Mar!”
Miyuki pun menarik tanganku dan menahannya.
“Mau kemana kamu? Apa kau ingin berbicara dengan Maul tentang Kichida?”
__ADS_1
Dari mana dia tau kalau aku ingin bertemu dengan Maul.
“Tidak, aku hanya ingin pergi ke toilet saja.”
“Kalau begitu aku akan pergi ke kelas Maul dan memintanya secara langsung.”
Miyuki juga ingin pergi ke sana.
“Kau di sini saja.”
Sekarang aku yang menahannya untuk tetap berada di sini.
“Kenapa Mar? Kau pasti ingin pergi bertemu Maul kan?”
“Tidak, aku benar ingin ke toilet. Tapi jika kau pergi ke kelasnya Maul sekarang, kau pasti akan menimbulkan keributan di sana dan itu masalah untuk Maul. Lebih baik kau tunggu saja di sini, nanti akan aku sampaikan kepadanya jika bertemu.”
“Amar benar Miyuki, lebih baik kau di sini saja terlebih dahulu.”
Riki pun membantuku agar Miyuki tidak ikut denganku.
“Baiklah kalau begitu, maafkan aku Mar. Aku sangat panik sekali saat ini.”
Akhirnya Miyuki melepaskan genggaman tangannya.
“Aku pergi dulu.”
Aku langsung melaju kakiku keluar kelas dan menuju ke perpustakaan.
Mengingat kalau tempat pertemuan kami adalah perpustakaan, aku yakin kalau yang akan dibicarakan oleh Maul pasti sangat penting. Karena dia ingin membicarakan ini di tempat yang tidak ada orang.
Ketika aku sampai di sana, sama seperti biasa, keadaan perpustakaan tidak ada orang. Aku bingung apakah tempat ini setidak menarik itukah sampai-sampai tidak ada orang yang datang ke sini.
Mataku pun langsung tertuju ke arah Maul yang sudah tiba di sana dan sedang memainkan laptopnya.
“Apa yang ingin kau katakan?”
Aku langsung menghampirinya dan duduk berhadapan dengannya.
“Sepertinya Kichida diculik oleh seseorang.”
Ucap Maul secara langsung.
Hal itu juga membuatku sedikit terkejut, karena kemarin saja aku baru bertemu dengannya. Dan di satu sisi, aku masih tidak percaya dengan apa yang Maul katakan.
“Kau ini tidak ada basa-basi terlebih dahulu ya?”
“Akan terlalu lama jika aku menggunakan basa-basi terlebih dahulu.”
“Kau mengatakan ini tidak bercanda kan?”
“Tidak mungkin aku memanggilmu pagi-pagi seperti ini hanya untuk bercanda.”
Benar juga sih, tapi entah kenapa aku masih tidak percaya akan hal ini.
Tidak mungkin kan Maul menyiapkan kejutan kepadaku. Karena hari ini bukanlah hari ulang tahunku.
“Dari mana kau tau kalau begitu?”
Maul pun memutarkan laptopnya ke arahku dan aku diperliahatkan sebuah peta yang ada beberapa titik merah bergerak ke sana kemari.
“Kemarin saat kau pergi untuk bertemu dengan Kichida, aku masih mengawasi Kichida sampai malam hari.”
Tumben sekali dia melakukan hal itu tanpa aku suruh.
Kemudian Maul pun menekan salah satu tombol Keyboard-nya dan ada tiga titik yang berubah. Dua titik berubah menjadi warna kuning dan satu titik berwarna hijau.
“Kalau kau bisa lihat di layarnya sekarang, ada tiga titik yang berbeda dengan yang lainnya kan?”
“Iya, aku melihatnya. Lalu?”
“Titik berwarna hijau itu adalah ponsel milik Kichida dan titik yang berwarna kuning adalah ponsel milik penculiknya.”
Ah! Berarti titik-titik ini adalah ponsel dari setiap orang yang berada di sana. Pantas saja aku melihat banyak sekali titik di satu tempat. Jadi seperti ini ketika Maul sedang melacak keberadaan seseorang.
“Tapi bagaimana kau tau kalau ini adalah penculiknya? Padahal aku hanya melihat titik-titik saja tanpa keterangan apapun.”
Aku menunjuk dua titik kuning itu yang masih mengikuti satu titik hijau yang dikatakan kalau itu adalah Kichida.
“Kalau begitu dengarkan rekaman suara yang aku dapatkan kemarin Mar.”
Maul pun memberikanku earphonenya dan kemudian aku menggunakan earphone itu.
Maul pun mulai memainkan rekaman suara yang dia dapatkan itu.
“Aku yakin, kalau perempuan yang di sana itu dapat kita culik dan jual di pelelangan. Pasti kita akan mendapatkan uang banyak.”
“Benar itu, aku sudah memastikannya kalau dia tinggal di kontrakan ini sendiri. Nanti malam kita bisa beraksi, dia juga sering keluar malam untuk membeli makanan.”
“Baiklah, kita akan mengawasinya sampai waktunya tiba.”
Dari percakapan itu, aku mendengar suara dua orang lelaki dewasa yang ingin merencanakan penculikan itu.
“Dari mana kau mendapatkan rekaman ini Mul?”
“Aku tidak sengaja merekamnya ketika mereka sedang menelpon antara satu dengan yang lainnya, karena aku sudah curiga dari awal.”
“Curiga?”
Aku penasaran dari mana dia bisa curiga. Padahal aku saja tidak tau kalau ada orang yang mengawasi Kichida.
Bahkan ketika di sana aku sama sekali tidak merasakan kalau Kichida sedang diawasi oleh seseorang.
Apa karena ketika aku berada di lokasi sekitar kontrakannya Kichida banyak orang makanya aku tidak bisa menyadari hal itu.
“Dari awal ketika aku mencari tau tentang keberadaannya Kichida, aku selalu melihat dua titik dengan nomor ponsel yang sama dan mereka selalu mengikuti Kichida kemanapun dia berada. Bahkan ketika Kichida sedang berada di kontrakan, mereka selalu menunggunya di tempat yang tidak jauh dari sana.”
Seram sekali jika ada orang yang mengikutinya seperti itu.
Aku yakin kalau mereka pasti menunggunya di sebuah warung kopi yang tidak jauh dari kontrakannya Kichida.
Karena di tempat itu adalah tempat yang pas untuk mengawasi seseorang yang berada di dalam kontrakan tanpa terlihat mencolok.
“Lalu bagaimana kondisinya Kichida sekarang? Kapan dia diculik?”
Aku menjadi panik saat mengingat apa saja yang terjadi dengan para perempuan yang telah dilelang dan dibeli oleh seseorang.
“Kapan? Tentu saja kemarin malam, bukannya kemarin kau masih bertemu dengannya.”
“Aku tau itu, maksudku jam berapa tepatnya?”
“Aku rasa sekitar jam setengah sebelas malam.”
__ADS_1
Setengah sebelas? Itu sudah malam sekali.
“Apa yang dia lakukan malam-malam di luar kontrakannya?”
“Apa kau lupa dari rekaman yang aku berikan tadi? Kichida selalu keluar malam untuk membeli makanan. Pasti mereka menculiknya setelah dia selesai membeli sesuatu untuk dimakan.”
“Maaf, aku terlalu panik untuk mencerna sesuatu.”
“Tidak seperti kau saja.”
Aku lupa kalau Kichida tidak memasak makanannya di rumah.
Dan kenapa aku saat ini panik, aku sedikit merasa bersalah akan hal ini. Kalau saja saat itu aku memaksanya untuk pulang atau tidak tinggal di rumahnya Miyuki, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini.
Aku harus bertanggung jawab akan hal ini.
“Aku juga sudah mengikuti dimana kedua orang itu membawa Kichida dan aku sudah mendapatkan lokasinya.”
Maul menunjukkan lokasi mereka.
“Apa Kichida saat ini masih bersama mereka?”
“Tentu saja, mereka masih menyimpan Kichida di rumahnya. Dan mungkin mereka baru akan menjual Kichida ke tempat lelang hari ini.”
“Kenapa kau bisa yakin seperti itu?”
“Kichida diculik jam setengah sebelas, dan saat itu acara lelangnya akan segera dimulai. Tidak mungkin mereka bisa menjualnya pada malam itu.”
Tunggu? Dari mana Maul mengetahui kalau acara lelangnya sudah dimulai pada jam segitu.
“Kau pasti mengetahui sesuatu kan Mul?”
Maul hanya tersenyum kecil dan dia menunjukkan sesuatu di dalam laptopnya.
“Aku sudah mendapatkan tiket untuk masuk ke acara lelang itu, makanya aku dapat tau kapan waktu acara lelang itu berlangsung.”
Maul menunjukkan tiket yang telah dia beli dan di sana terdapat nomor tiket dan juga barcode. Aku rasa barcode itu yang akan dipindai sebelum kita memasuki acara pelelangan itu.
“Kerja bagus Mul, simpan semua informasimu tentang tiket itu nanti. Kita akan mendiskusikannya bersama Riki sepulang sekolah nanti di rumahku. Sebentar lagi juga kelas akan dimulai.”
Aku melirik ke arah jam dinding yang berada di sana.
“Apa yang akan kau lakukan Mar?”
“Karena kau sudah mendapatkan tiketnya, aku akan menggunakan rencana yang waktu itu pernah aku katakan kepadamu saat di masjid.”
“Maksdumu rencana yang itu?”
Maul sudah mengetahui rencana yang aku maksud itu.
“Iya, aku akan menyusup ke acara itu dan menyelamatkan Kichida. Selain itu, kita juga akan menyelesaikan kasus penjualan manusia ini.”
Setelah menyelamatkan Kichida, mungkin aku akan berterima kasih kepadanya karena dia aku bisa melakukan rencanaku ini.
“Malam ini bapakku juga akan bergerak ke tempat pelelangan itu dengan kelompok yang sudah dia buat secara diam-diam tanpa sepengetahuan kantor kepolisian.”
“Benarkah itu? Aku sangat terbantu jika bapakmu memang ingin melakukan hal itu malam ini juga.”
Aku sedikit tenang mendengar itu.
Kalau bapaknya Maul bergerak, berarti aku hanya perlu mengulur waktu kembali sampai bapaknya Maul sampai di tempat pelelangan itu.
Apa aku harus pergi sendiri atau mengajak Riki?
Karena ini adalah hal yang sangat gawat, aku akan mengajak Riki. Walaupun dia akan melakukan hal bodoh nantinya, itu lebih baik dibandingkan aku pergi tanpa penjagaan sama sekali.
“Apa kalian bisa mendiskusikan hal ini di rumahku?”
Kami berdua pun menoleh dan terkejut karena di sana terdapat Miyuki.
Kenapa Miyuki bisa berada di sini? Bukankah seharusnya dia masih berada di kelasku. Lagi pula, kenapa dia bisa tau kalau aku dan Maul berada di sini?
“Apa kau mendengar semuanya?”
“Aku tidak mendengar semuanya tapi aku mendengar pembicaraan kalian tentang Kichida yang sedang diculik oleh seseorang.”
Itu berarti dia mendengar semuanya.
Apa yang harus aku jelaskan kepadanya?
Aku pun melirik ke meja pengawas perpustakaan yang ada di belakang Miyuki dan aku melihat kalau di sana tidak ada orang. Padahal saat aku masuk di sana masih ada orang, kemana dia pergi?
“Biarkan masalah ini aku dan yang lainnya selesaikan, kau cukup tenang saja di rumah menunggu keberhasilan dari kami.”
Aku bukan terlalu percaya diri, tapi menurutku saat ini, aku hanya dapat mengatakan itu kepadanya.
“Jangan membuatku cemas lebih dari ini Mar! Kichida yang menghilang saja sudah membuatku cemas, apalagi
ditambah kau dan yang lainnya ingin melakukan sesuatu yang berbahaya seperti itu. Itu akan membuatku semakin cemas saja.”
Aku pun mendekati Miyuki dan tanganku sudah mengangkat seakan ingin memeluknya.
Tapi di pertengahan, tanganku tiba-tiba berhenti dan aku mengurungkan niatku itu.
Aku pun memegang pundaknya.
“Jangan khawatir tentang itu, aku dan yang lainnya pasti bisa mengatasi itu.”
“Aku tidak bisa mempercayakan kepada kalian untuk yang satu ini.”
Miyuki pun masih bersih keras akan hal itu.
Teng... Teng... Teng... Teng....
Sial bel masuk sudah berbunyi.
Aku pun juga melihat petugas perpustakaan yang sudah kembali. Kalau kami tidak pergi, pasti dia akan mengusir kami.
“Baiklah, sepulang sekolah nanti. Kita akan mendiskusikannya di rumahmu, tapi aku dan yang lainnya ingin pulang ke rumah terlebih dahulu untuk mengganti baju.”
“Baiklah.”
Miyuki langsung pergi begitu mendengar jawaban dariku itu.
“Apa kau yakin Mar?”
Tanya Maul kepadaku.
“Mau bagaimana lagi, kalau aku tidak mengatakan hal itu. Dia pasti tidak akan pergi dari sini.”
Sepertinya, besok aku akan izin kepada Pak Febri untuk tidak masuk ke sekolah.
__ADS_1
-End Chapter 135-