Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chatper 41 : Menjadi Seorang Freelancer.


__ADS_3

Saat ini aku sedang barada di lab multimedia untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh salah satu guru produktifku. Sebenarnya alasanku ke sini, karena aku ingin bermain gim bersama Pak Febri, sudah dua hari aku sering pergi ke lab setelah pulang sekolah hanya untuk bermain gim bersamanya.


Biasanya ketika aku sampai di lab multimedia, Pak Febri sudah ada di sini dan menungguku sambil bermain gim. Tapi kali ini, aku datang lebih dulu dibandingkan dengannya.


Pintu lab pun terbuka dan masuklah seorang lelaki dewasa dengan wajah lesu ke dalam lab. Pak Febri langsung berjalan menghampiriku dan menyalakan komputer yang berada di sampingku.


“Ayo Mar kita main!”


“Kenapa Pak? Sepertinya hari ini bapak lesu sekali.”


“Aku baru saja memeriksa tugas dari anak kelas dua belas tadi, dan itu sangat banyak sekali.”


Pak Febri langsung membuka gimnya dan menungguku sebelum memulai permainannya.


“Bapak main duluan saja Pak, saya sedang mengerjakan tugas. Sebentar lagi selesai.”


Aku pun mempercepat gerakanku untuk menyelesaikan tugas itu. Karena aku sendiri juga tidak sabar untuk bermain gim di sini. Kapan lagi kalian bisa main gim gratis seperti ini, biasanya aku harus membayar uang tiga ribu rupiah untuk bermain satu jam dan lima ribu rupiah untuk dua jam.


“Boleh juga desain postermu itu.”


Pak Febri melihat ke arah monitor komputerku.


“Terima kasih Pak, jujur waktu pertama bikin saya ragu kalau desain saya bagus.”


“Kamu harus percaya diri dengan desainmu itu... Oh iya, kamu mau menerima pekerjaan desain poster juga tidak? Kebetulan saya baru mendapatkan tawarannya siang ini. Kalau kamu mau, saya berikan kepadamu.”


Pak Febri menawarkan sebuah pekerjaan kepadaku. Ini adalah kesempatan emasku untuk menambah pemasukan bulan ini. Setelah pengeluaran berkurang sekarang pemasukanku pun akan bertambah. Uuhhh... Beruntung sekali aku masuk ke SMK ini.


“Baiklah Pak, tapi saya tidak yakin kalau poster desain saya akan bagus. Saya saja baru mencoba menggunakan aplikasi ini hari ini. Jadi saya tidak tau bagaimana hasilnya nanti.”


“Kamu coba saja dulu, percaya dirilah dengan desain yang kamu buat. Kalau menurut pengamatan saya, desain kamu sudah bagus. Kamu tinggal banyak-banyak cari referensi saja di internet dan melakukan ATM.”


Pak Febri memberikan dorongan dan juga saran kepadaku.


ATM adalah singkatan dari Amati, Tiru, dan Modifikasi. Biasanya para desainer menggunakan metode ini untuk menciptakan suatu karya.


“Baiklah, akan saya coba terlebih dahulu.”


“Itu baru bagus.”


“Ngomong-ngomong dari mana bapak mendapatkan pekerjaan ini?”


“Selain bekerja di sini, saya juga memiliki pekerjaan sambilan di salah satu majalah remaja. Akhir ini banyak sekali permintaan membuat desain karena akan segera keluar terbitan barunya. Ditambah saya harus mengoreksi tugas murid-murid di sekolah ini membuat waktuku tidak banyak untuk mengerjakan hal itu. Jadi akhir-akhir ini saya banyak menolak pekerjaan dari sana.”


Hmmm... Pekerja sambilan kah, sepertinya menarik. Aku juga memiliki rencana memiliki pekerjaan yang seperti itu.


“...Oh iya Mar, nanti pekerjaan yang akan kamu lakukan akan saya beritahukan besok. Saya sendiri juga belum tau poster apa yang harus kamu buat. Dari sekarang banyak-banyak saja melihat referensi di internet.”


“Siap Pak!”


“Kita sudahi membahas pekerjaan di sini. Cepatlah Mar, ayo kita bermain gim!”


Pak Febri mengajakku lagi, ternyata dari tadi dia menungguku selesai mengerjakan tugasku.


“Baiklah Pak, kebetulan tugas saya juga sudah selesai... Lagi pula, memangnya tidak ada orang lain yang bisa bapak ajak untuk bermain juga? Menurut saya banyak murid di sekolah ini yang bermain gim ini.”


Aku langsung menutup aplikasi desainku dan membuka gim yang sudah terpasang di komputerku.


“Memang murid yang tau dan bermain gim ini banyak. Tapi orang yang mengerti gim ini sedikit.”


Apa Pak Febri baru saja berkata kalau aku termasuk orang yang jago bermain gim ini?


“Aku tidak sejago itu Pak.”


“Tidak, kamu lumayan hebat dalam bermain ini. Bahkan saran item yang sering kamu sarankan ke Bapak, sering bapak gunakan dan memenangkan sebuah gim.”


“Saya hanya tau hal itu dari video-video di internet Pak.”


Dan kami pun mulai memainkan gim tersebut. Sebenarnya kemampuan Pak Febri dalam bermain gim ini sangatlah jago, mungkin kalau dibandingkan denganku lebih jagoan dia. Tapi enah kenapa, dia sering sekali bertanya kepadaku tentang item-item yang harus digunakan.


Kemudian saat kami sedang asik bermain gim. Kichida dan Miyuki masuk ke lab multimedia. Padahal awalnya mereka berdua ada di perpustakaan, pasti ada sesuatu yang tidak beres di sana makanya mereka pergi ke sini.


“Pak Febri!”


Kichida langsung menyapa Pak Febri ketika memasuki lab dan mereka berdua pun menghampiri kami.


“Iya, Kichida!”


Pak Febri membalas sapaan dari Kichida dengan pandangan masih fokus dengan gimnya.


“Apa yang sedang bapak lakukan?”


“Saya sedang bermain gim bersama Amar.”


Kichida pun melihat ke layar monitor dari Pak Febri dan dia mendapati kalau Pak Febri sedang bermain gim.


“Bapak bermain gim ini juga?!”


Kichida yang sepertinya mengetahui gim itu terlihat terkejut karena tau bahwa Pak Febri juga memainkan gim itu.


“Apa kamu bermain gim ini juga Kichida?”


Pak Febri bertanya balik kepada Kichida.


“Saya tidak memainkan gim ini Pak. Waktu itu saya pernah mencoba untuk memainkannya, tapi ternyata gimnya terlalu sulit untuk orang seperti saya.”

__ADS_1


“Hebat sekali kamu bisa menggerakan jari secepat itu Mar.”


Miyuki menghampiriku dan terkesan dengan apa yang sedang aku lakukan.


“Tentu saja, aku sudah sering memainkan gim ini ketika SMP. Jadi jari-jariku sudah terbiasa dengan hal itu.”


“Sepertinya gim ini sulit.”


“Siapa itu Mar? Pacarmu?”


Tanpa berpikir panjang, Pak Febri langsung bertanya kepadaku dengan pertanyaan yang sangat luar biasa sekali.


“Tidak, dia hanya temanku saja.”


Aku menjawab hal itu dengan cepat dan sigap.


“Saya kira dia pacarmu.”


“Dari mana bapak bisa mendapatkan kesimpulan seperti itu.”


“Soalnya kelihatannya begitu.”


“Dimana Rina?”


Aku bertanya kepada Miyuki karena aku tidak melihat Rina bersama mereka.


“Rina ada piket hari ini.”


“Kenapa kau tidak piket juga?”


“Tentu saja karena jadwalku dengannya berbeda Mar.”


“Oh.”


Keesokan hari pun telah tiba. Seperti biasa sepulang sekolah, aku pergi ke lab multimedia untuk bertemu dengan Pak Febri. Karena hal ini dia mau memberikan tugas kepadaku tentang pekerjaan yang dia tawarkan kemarin.


“...Jadi kamu tinggal membuat poster seperti contoh yang aku berikan di dalam file itu.”


Pak Febri pun memberitahu apa saya yang perlu aku lakukan.


“Baik Pak!”


“Aku juga meninggalkan modemku di sini untuk kamu gunakan jika kamu ingin mencari referensi di internet.”


“Memangnya bapak mau kemana?”


“Hari ini ada rapat guru, melelahkan sekali. Padahal rencananya hari ini aku mau push MMR.”


Pak Febri mengeluh karena harus menguti rapat. Aku hanya tertawa saja melihat tingkahnya yang hampir mirip sepertiku. Pantas saja aku dapat cepat akrab dengannya.


Pak Febri pun akhirnya pergi meninggalkanku di lab multimedia.


Baiklah, waktunya bekerja!


Ketika aku sedang mengerjakan pekerjaanku, Yoshida pun datang ke lab multimedia dan menghampiriku.


“Apa yang sedang kamu lakukan Mar?”


Yoshida pun duduk di kursi kosong yang berada di sampingku.


“Aku sedang membuat sebuah poster. Dimana yang lainnya?”


“Mereka semua sedang ada ekskul hari ini.”


Akhirnya Yoshida pun menemaniku mengerjakan tugasku di lab.


“Amar, boleh aku bertanya sesuatu?”


“Ada apa?”


“Apa kamu memiliki perasaan kepada Miyuki?”


Pertayaan ini lagi... Apa Miyuki belum mengatakan hal ini kepada Yoshida? Seharusnya dia sudah tau bagaimana pemikiranku tentang cinta.


“Tidak ada dan tidak mungkin.”


Aku menjawab hal itu dengan sangat cepat tanpa berpikir terlebih dahulu.


“Benarkah itu?”


“Memangnya kenapa kau bertanya seperti itu?”


“Karena biasanya orang yang mengatakan tidak ada dan tidak mungkin memiliki perasaan kepada Miyuki di SMPku adalah seorang playboy. Karena mereka mau mendekati Miyuki dan juga perempuan lainnya, makanya mereka berkata seperti itu.”


“Apa orang sepertiku terlihat seperti playboy?”


Aku bertanya balik kepadanya.


“Iya, kamu itu seperti playboy Mar.”


“Hah!? Kok bisa?”


Aku terkejut ketika mendengar itu. Karena biasana orang yang aku berikan pertanyaan seperti itu akan membalas tidak.


“Kamu ini dekat dengan Rina dan juga Miyuki. Selain itu sepertinya kau memberikan harapan kepada mereka berdua. Itu sama seperti yang dilakukan oleh playboy Mar.”

__ADS_1


Aku pun sedikit berpikir akan hal itu, padahal aku tidak merasa kalau memberikan harapan kepada mereka beruda. Aku rasa aku hanya melakukan seperti biasanya saja.


“Aku dekat dengan Rina karena sudah tiga tahun pernah sekelas dengannya, dan untuk Miyuki seharusnya kau sudah mengetahui ceritanya dari Miyuki sendiri. Aku benar-benar tidak berpikiran untuk suka atau menjalani suatu hubungan dengan seseorang untuk saat ini.”


Aku melihat Yoshida yang sedikit lega setelah aku mengatakan hal itu.


“Kalau begitu kamu harus menjauhi Miyuki Mar.”


“Kenapa?”


“Sudah banyak anak laki-laki mau itu seangkatan ataupun kakak kelas yang mulai mengincarnya. Dia khawatir kalau kamu akan terkena imbasnya... Kamu pasti masih mengingat kejadian ketika di perpustakaan kan? Untung saja mereka tidak berbuat apa-apa.”


Yoshida pun memberikan peringatan kepadaku. Sebenarnya aku sudah mengetahui hal itu ketika aku berurusan dengan Kak Deni. Tidak, mungkin semenjak aku mengetahui kalau berada di sekolah yang sama dengan Miyuki akan menjadi hal yang merepotkan.


“Aku sudah tau menduga hal itu.”


“Aku mohon Mar, agar kamu menjahui Miyuki untuk saat ini. Aku tidak mau kau terkena imbasnya.”


“Kalau aku bisa melakukannya juga sudah aku lakukan dari dulu.”


“Tenang saja Mar, aku akan membantumu untuk menjauh dari Miyuki.”


Sepertinya Yoshida sangat ingin sekali aku menjauhi Miyuki. Apa dia sebenarnya benar-benar khawatir kepadaku atau dia memiliki niatan lain.


“Terima kasih karena sudah mengkhawatirkanku. Tapi kau tenang saja, aku sudah memiliki rencana untuk mengatasi hal ini.”


“Apa kamu yakin rencanamu itu akan berhasil?”


Yoshida yang tidak pernah melihatku membuat suatu rencana menjadi khawatir kepadaku.


“Kamu bisa melihatnya nanti.”


“Baiklah, aku akan melihatnya terlebih dahulu. Tapi kalau seandainya kamu gagal dan mulai terkena imbasnya. Aku akan berusaha untuk menjauhkanmu dari Miyuki.”


Yoshida terlihat serius sekali ketika mengatakan itu.


Dua jam pun berlalu dan Pak Febri sudah kembali dari rapat para gurunya. Dia langsung melihat pekerjaanku dan menilai hasil dari desainku.


“Menurutku ini sudah bagus. Ada beberapa desain yang bisa digunakan dan itu sudah cukup... Kerja bagus, aku juga minta nomor ponselmu Mar untuk menghubungimu nantinya.”


Aku pun memberikan nomor ponselku ke Pak Febri.


“Aku akan mengabarkannya lagi kepadamu tentang masalah pembayarannya.”


“Baiklah Pak.”


Keesokan hari pun telah tiba, aku pun pergi ke lab multimedia setelah pulang sekolah untuk menemui Pak Febri. Katanya dia ingin memberikan upah hasil desainku kemarin.


Ketika aku sedang menaiki anak tangga, aku pun bertemu Riki di sana.


“Kenapa kau ada di sini Rik? Bukankah tadi kau pergi ke gedung olahraga?”


“Aku pergi ke gedung olahraga hanya untuk mengembalikan samsak saja. Hari ini adalah hari jumat kau tau, aku ekskul ku libur hari ini.”


“Aku lupa hal itu.”


“Kau mau kemana Mar?”


“Aku mau ke lab multimedia untuk bertemu Pak Febri, memangnya kenapa?”


Riki pun menghentikanku, sepertinya ada sesuatu yang ingin dia bicarakan denganku.


“Kau tidak ingin pergi ke perpustakaan?”


“Tidak, akhir-akhir ini memang aku lebih sering menghabiskan waktuku di lab dibandingkan di perpustakaan. Memangnya kenapa?”


“Aku tadi melihat sekelompok kakak kelas yang masuk ke ruang perpustakaan. Tidak lama setelah mereka masuk, tiba-tiba semua murid yang ada di sana langsung keluar dari ruangan kecuali Rina dan yang lainnya.”


Oh... Jadi itu yang ingin dia bicarakan denganku.


“Apa kau sudah mendengarnya dari Maul? Kalau ada beberapa kakak kelas yang akhir-akhir ini sering datang ke perpustakaan hanya untuk menggoda Miyuki.”


“Tentu, Maul sudah menceritakannya kepadaku hari senin kemarin.”


“Kalau begitu, aku tidak perlu menjelaskannya kembali kepadamu. Lebih baik sekarang kita masuk ke sana terlebih dahulu.”


Aku dan Riki pun masuk ke dalam perpustakaan. Kejadian hari senin pun terulang kembali. Ketika kami masuk, mereka tidak melakukan apa-apa dan langsung pergi saja dari sana. Aku pun melihat ke arah meja petugas, lagi-lagi yang menjaga di sana adalah seorang murid. Sepertinya mereka hanya berani melakukan ini jika petugas perpustakaannya adalah murid.


Riki pun langsung menghampiri Miyuki dan yang lainnya. Mereka terlihat senang sekali ketika Riki dan aku datang ke sana.


“Karena masalah sepertinya sudah selesai dan di sini juga sudah ada Riki, aku pergi sebentar ke lab dulu ya.”


“Ok Mar, serahkan yang di sini kepadaku.”


Aku pun pergi ke lab multimedia untuk bertemu dengan Pak Febri. Sesampainya di sana Pak Febri sudah menungguku dan tanpa basa-basi lagi, dia pun memberikanku sebuah amplop kepadaku. Aku yakin amplop itu berisi uang hasil kerjaku kemarin.


Aku pun menerima amplop itu dan membukanya, ternyata isinya ada uang berjumlah dua ratus ribu. Aku melihat uang itu dengan sangat senang sekali, jarang sekali aku mendapatkan uang sebanyak ini dengan usahaku sendiri.


“Itu uang bayaranmu untuk kemarin. Sebenarnya saya memiliki pekerjaan lain untuk kamu kerjakan. Apa kamu mau mengambilnya?”


Pak Febri menawarkan sebuah pekerjaan lagi kepadaku.


“Dengan senang hati.”


Dan mulai dari hari itu, aku pun memiliki penghasilan sendiri. Walaupun tidak sering menerimanya, tapi kebutuhanku untuk uang jajan sebulan sudah tidak mengandalkan orang tuaku lagi dan uang dari orang tuaku bisa ku tabung untuk dibelikan sesuatu yang lain.

__ADS_1


-End Chapter 41-


__ADS_2