Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 57 : Malam Takbiran.


__ADS_3

Hilal telah terlihat ini di sejumlah titik yang ada di Indonesia dan pemerintah juga sudah mengumumkan kalau esok hari sudah masuk bulan baru yang menandakan kalau besok adalah hari raya idulfitri.


Malam ini, aku dan Riki sedang berada di masjid untuk membantu Pak Ustadz. Aku di suruh oleh Pak Ustadz untuk membantunya menerima zakat fitrah terlebih dahulu. Karena malam ini biasanya banyak orang yang menyerahkannya. Di masjid juga banyak sekali orang yang sedang mengumandangkan takbir, terutama anak kecil.


Rina juga berada di sini bersama beberapa remaja masjid lainnya untuk menyiapkan konsumsi bagi orang-orang yang berada di sana. Aku sudah melihat banyak sekali orang yang membawa obor dan berkumpul di halaman masjid. Rencananya malam ini masjidku mau mengadakan pawai obor keliling lingkungan warga sambil mengumandangkan takbir.


“Mar.”


“Iya Pak Ustadz.”


“Nanti pas pawai obor, kamu dan Riki bantu yang lainnya untuk mengawasi anak-anak ya. Karena nanti pawainya akan melewati jalan raya, jadinya perlu ada banyak orang yang mengawasinya.”


“Baik Pak Ustadz.”


Saat pawai obor berlangsung, seperti yang disuruh oleh Pak Ustadz. Aku dan Riki pun mengawasi anak-anak yang berpartisipasi dalam acara tersebut. Aku dan Riki berjalan di samping barisan untuk menjaga anak-anak agar tidak jala berdekatan dengan kendaraan yang melintas.


“Takbiran kali ini meriah juga ya.”


Aku melihat ke dalam barisan yang didalamnya terdapat banyak anak kecil memegang sebuah obor sambil mengumandangkan takbir. Jauh di depan sana terdapat seseorang yang menabuh beduk.


“Iya.”


Riki melihat dengan tatapan kecewa orang yang menabuh beduk itu, karena Riki dari awal mau menabuhnya dan sayang sudah ada orang ain yang melakukannya.


“Bagaimana persiapanmu untuk pulang kampung?”


“Semuanya sudah siap, kami tinggal berangkat saja.”


“Jangan lupa oleh-olehnya Mar.”


“Tenang saja, aku akan membawakan oleh-oleh yang banyak kepadamu.”


“Woah, aku menantikan itu.”


Sepertinya rasa kecewanya itu sudah menghilang.


“Apa nanti kau akan pergi ke Gunung Galunggung juga?”


Tanya Riki kepadaku.


“Tentu saja, itu sudah seperti tempat yang pasti aku kunjungi ketika pergi ke Tasikmalaya.”


“Kau pasti mau pergi ke pemandian air panasnya.”


Riki pun memandang ke atas sambil membayangkan sesuatu.


“Iya, karena sangat nikmat sekali ketika berendam di sana.”


“Aku juga ingin pergi ke sana.”


“Kalau begitu kita buat saja rencana pergi ke sana, nanti aku akan mengajak Maul, Akbar, dan juga Rian.”


“Itu ide yang bagus.”


“Kalian berdua, kalian jangan selalu berbincang-bincang. Awasi juga adik-adiknya yang lain mengikuti pawai obor.”


Rina yang berada di belakang kami menegur kami karena melihat kami yang selalu berbicara di saat seperti ini.


“Siap bos.”


Kami berdua pun kembali mengawasi anak-anak dengan fokus dan sesekali berbicara. Namun ketika kami sedang berbicara, kami mendadak lupa diri dan Rina kembali menegur kami. Begitu pola yang terus terjadi hingga kami kembali sampai di masjid.


“Amar, kamu habis ini ada acara?”


Aku yang baru saja sampai di masjid langsung dihampiri oleh Pak Ustadz. Kalau dilihat-lihat sepertinya dia ingin menyuruhku melakukan sesuatu lagi.


“Tidak Pak Ustadz, memangnya kenapa?”


“Kalian berdua bisa membantu anak-anak yang lainnya membuat shaf untuk salat id besok?”


“Tentu saja Pak.”


“Kalau begitu, saya minta tolong ya.”


Pak Ustadz pun pergi meninggalkan kami untuk mengurusi keperluan untuk salat id besok.


Aku dan Maul langsung pergi ke lapangan yang berada di depan masjid. Di sana sudah ada beberapa remaja masjid yang sedang membuat garis-garis untuk dijadikan shaf salat nantinya. Aku dan Riki langsung bergabung dengan mereka untuk melakukan hal serupa yang mereka lakukan.


“Bagaimana menurutmu tentang aplikasi yang dibuat oleh Maul kemarin Mar?”


“Aplikasi itu ya?... Menurutku itu sangat luar biasa, aplikasi itu dapat memudah segalanya. Bahkan seseorang yang tidak bisa meretas pun dapat melakukannya dengan mudah.”


“Kanapa Maul bisa membuat hal seperti itu ya?”


“Apa yang kau bingungkan. Memang sejak pertama kali aku bertemu dengan Maul, aku sudah dapat melihat kalau Maul memiliki kemampuan yang hebat.”


“Lalu bagaimana pandanganmu saat pertama kali bertemu denganku?”


Aku rasa dia menginginkan jawaban yang sama seperti Maul.

__ADS_1


“Kau juga sama hebatnya seperti Maul. Bahkan saat itu kau sudah terkenal dimana-mana.”


Riki pun senang dengan pujian yang aku berikan kepadanya. Sepertinya pujian yang aku berikan kepadanya berhasil.


“Bagaimana latihanmu untuk O2SN nanti?”


“Semuanya terkendali, tinggal mengikuti babak penyisihan yang diadakan setelah lebaran nanti.”


“Semangatlah, aku pasti akan mendukungmu bersama dengan yang lainnya.”


“Tenang saja, aku pasti akan memenangkan kejuarann itu.”


Kami pun melanjutkan pekerjaan kami membuat garis lapangan dengan menggunakan kapur. Biasanya lapangan ini digunakan oleh anak-anak untuk bermain apapun. Riki pun menarik sebuah tali dari ujung lapangan ke ujung lainnya untuk kugunakan nantinya sebagai pacuanku dalam membuat garis. Kalau tidak seperti itu, biasa jadi garis yang aku buat nantinya bisa miring.


“Apa nanti Miyuki akan salat id di sini ya?”


Riki pun sedikit memainkan tali yang dia pegang untuk menghilangkan kebosanannya.


“Aku tidak tau, mungkin saja Miyuki salat di masjid dekat rumahnya.”


“Tapi setauku masjid yang berada di dekat rumahnya Miyuki tidak pernah mengadakan salat id, biasanya warga di sekitar RT sana salat id di masjid sini atau masjid yang ada di dekat SMP Cibubur.”


Aku baru tau kalau ada masjid yang tidak mengadakan salat id. Aku kira semua masjid pasti mengadakan salat id.


Pak Ustadz pun datang lagi menghampiri kami.


“Oh iya kalian berdua besok setelah salat subuh, kalian langsung menggunakan pakaian rapih untuk salat id ya. Karena saya butuh orang untuk mengarahkan jamaah nantinya.”


“Ok Pak Ustadz.”


“Syukron kalau begitu, Jazakallah Khairan Katsiran.”


Pak Ustadz pun pergi lagi meninggalkan kami berdua, dan kami melanjutkan pekerjaan kami.


“Kalau Miyuki melihat ini, pasti dia akan sangat terkejut.”


Ucap Riki sambil menggulung tali yang dia pegang.


“Kenapa?”


“Dia pasti jarang melihatmu yang terus menerus menerima permintaan dari orang. Biasanya kau akan menolaknya dan berkata kalau itu merepotkan. Pasti tidak biasa saja melihatmu yang seperti ini.”


“Ini adalah hal yang berbeda. Pak Ustadz sudah mengajarkan ilmu agama kepada kita sejak kecil sampai SMP dan dia masih mengajar untuk anak-anak yang ada di sini. dibandingkan dengan apa yang sudah Pak Ustadz keluarkan, ini belum ada apa-apanya.”


“Kau pasti selalu memiliki standar ganda jika sudah menyangkut masalah seperti ini. Andai saja kau selalu melihat hal lainnya seperti itu juga.”


“Sudahlah, cepat kita selesaikan ini dan pergi beristirahat.”


“Banyak sekali makanannya.”


Aku melihat ke hadapanku yang saat ini sudah banyak makanan berada di sana.


“Tadi ada bapak-bapak yang memberikan uang konsumsi untuk orang-orang yang takbiran di sini setelah membayar zakat fitrah.”


Ucap Pak Ustadz untuk menjelaskannya kepadaku.


“Benarkah? Kenapa aku tidak tau itu ya.”


“Tadi orangnya datang ketika kamu sedang berkeliling bersama yang lain untuk pawai obor.”


“Tumben sekali ada orang baik seperti itu.”


Riki pun mulai memakan makanan yang ada di hadapannya dengan lahap.


“Itu bukanlah hal yang aneh, selain itu orang yang memberikan uang tadi terlihat seperti orang Jepang tapi bahasa Indonesianya fasih sekali, saya saja sampai gugup ketika berbicara dengannya takut dia tidak mengerti apa yang saya katakan. Untung saja dia datang bersama istrinya yang kebetulan murid ngajinya istri saya, jadi saya


jadi tidak canggung lagi.”


Orang Jepang? Apakah di sekitar sini ada orang Jepang selain Miyuki dan keluarganya? Akhir-akhir ini aku sudah jarang pergi bermain di luar untuk mengetahui hal itu, mungkin Riki tau sesuatu.


“Mungkin itu bapaknya Miyuki Mar.”


Belum aku bertanya kepadanya, dia sudah membisikan hal itu kepadaku.


“Aku rasa kau benar, karena aku tidak tau lagi siapa orang Jepang yang dimaksud di sini.”


“Sepertinya Miyuki besok akan salat id di sini.”


“...”


“Jangan lupa untuk menggunakan baju terbaikmu Mar.”


“Tentu saja, tapi aku melakukan hal itu karena hari itu sedang hari raya, bukan karena ingin ketemu dengan Miyuki. Awas saja kalau kau sampai menyebarkan rumor aneh yang sangat menyebalkan lagi.”


“Hahahahahahaha..... Aku tau itu.”


Riki terlihat senang sekali ketika meledekku seperti tadi.


“Ar bisa kau bantuku sebentar?”

__ADS_1


Rina pun memanggilku untuk meminta bantuan dariku. Aku pun menghampirinya untuk melihat apa yang dia butuhkan.


“Bisakah kau memindahkan beras-beras ini ke gudang.”


“Aku akan memanggil Riki untuk membantu.”


“Tidak usah, biarkan dia makan dahulu. Aku rasa dia masih lapar setelah berkeliling dan bekerja tadi.”


Memangnya kau mengira kalau aku tidak lapar juga.


“Baiklah.”


Aku pun mulai memindahkan beras yang ada di sana satu per satu ke dalam gudang.


“Bagaimana menurutmu acara pawai obornya tadi Ar?”


“Cukup meriah, aku tidak menyangka kalau setiap takbiran akan ada acara semeriah itu.”


“Kamu sendiri yang selalu berada di rumah dan tidak keluar. Kalau tidak kakakku yang memberitahu kalau kamu disuruh Pak Ustadz, mungkin saat ini kamu masih di rumah.”


Dia tidak salah... Kalau Pak Ustadz tidak menyuruhku untuk datang ke sini ketika malam takbiran, aku pasti sedang menghabiskan waktu untuk bermain gim di rumah. Apalagi biasanya gim yang aku mainkan mengadakan event saat malam takbiran seperti ini, aku tidak bisa melewatkannya seperti itu.


“Sepertinya besok Miyuki akan salat id di sini.”


“Aku sudah tau itu.”


“Dari mana kamu tau hal itu Ar?”


“Tadi Pak Ustadz berkata kalau ada seorang bapak-bapak yang terlihat seperti orang Jepang membayar zakat fitrahnya di sini saat kita sedang pawai obor. Dan aku hanya tau kalau Miyuki saja orang Jepang yang ada di lingkungan sini.”


“Jadi begitu, tadi Miyuki memberikan pesan kepadaku. Katanya dia mau salat di sampingku.


Kami pun sudah sampai di gudang dan Rina membukakan gudang itu untukku karena tanganku yang penuh membawa satu karung beras. Setelah di pintunya terbuka, aku langsung memasukan beras itu ke dalam sana karena beras itu sangat berat.


“Kapan kamu pergi pulang kampung Ar?”


“Lusa pagi aku baru pergi.”


“Bukankah saat hari itu masih terjadi arus mudik.”


“Mau bagaimana lagi, kedua orang tuaku hanya libur saat cuti bersama.”


“Mereka berdua memang pekerja keras ya.”


Aku dan Rina pun kembali untuk mengambil satu karung beras terakhir dan memasukkannya ke dalam gudang.


“Sip, akhirnya selesai juga.”


“Terima kasih atas bantuannya Ar.”


“Sama-sama”


Kami pun kembali untuk bergabung dengan remaja masjid yang lain.


“Dari mana kau Mar? Makananmu hampir saja aku habiskan.”


Mulut Riki masih saja tidak berhenti mengunyah makanan yang ada di hadapannya.


“Rina baru saja meminta bantuanku untuk mengangkat karung beras ke dalam gudang.”


“Tumben sekali kau tidak meminta bantuanku.”


“Tadinya aku mau meminta bantuanmu, tapi Rina tidak mengizinkannya.”


Riki pun mulai tersenyum kearahku.


“Hentikan senyumanmu itu.”


“Hehehehe... Apa kalian melakukan sesuatu di gudang sana?”


“Mana mungkin aku melakukan sesuatu, apalagi ini di masjid. Astagfirullah...”


Kami pun menghabiskan malam kami dengan takbiran di masjid bersama dengan remaja masjid lainnya. Aku pun pulang ke rumah saat pukul satu pagi, karena saat itu aku harus mempersiapkan diriku untuk salat ied besok.


Ketika sampai di rumah, rumah sudah dalam keadaan gelap. Semua keluargaku sepertinya sudah pergi tidur. Aku pun langsung berjalan ke kamar untuk langsung beristirahat untuk esok hari. Namun sebelum itu, aku pun bermain ponselku untuk melihat pesan masuk selama aku membantu di masjid tadi. Karena selama di masjid, aku sama sekali tidak memperhatikan ponselku.


Aku pun melihat pesan masuk dari Misaki yang mengajakku untuk bermain, dan beberapa pesan dari temanku yang mengucapkan selamat hari raya kepadaku.


Kemudian mataku pun tertuju kepada sebuah berita yang muncul dibawah pesan dari teman-temanku. Berita itu berisi tentang kasus penculikan remaja yang terjadi di daerah Jakarta Pusat. Karena penasaran, aku pun membuka berita itu dan membacanya dengan seksama. Menurut firasatku, berita ini pasti ada kaitannya dengan kasus penculikan yang sering Maul bicarakan kepadaku. Selain itu tempat terjadinya di Jakarta Pusat yang membuatku teringat akan perkataan Maul saat pesantren kilat.


Dan isi berita yang aku baca hampir sama dengan apa yang waktu itu Maul katakan. Seperti yang aku duga dari anak seorang polisi. Dia pasti memiliki informasi yang sangat akurat.


Tapi yang menjadi pertanyaanku saat ini, sampai kapan hal ini terjadi? Dan kenapa bapaknya Maul sampai-sampai memberikan kasus ini kepada Maul? Memangnya tidak ada satupun anggota kepolisian yang dapat mengatasinya?


Ini masih terlalu ganjil, aku rasa ada sesuatu yang terjadi di dalam kepolisian itu sendiri. Tapi apa?


Aku pun terus berpikir dan terus berpikir tentang hal itu. Aku memikirkan hal ini untuk mengantisipasi kalau memang aku harus terlibat dengan hal ini, karena jika Maul sudah mengatakan hal itu, biasanya itu akan terjadi. Karena Maul adalah orang yang berkata sesuatu setelah berpikir terlebih dahulu.


Hanya ada satu kesimpulan yang aku dapat setelah memikirkan hal itu, tapi aku belum bisa seratus persen percaya kalau kesimpulan itu adalah kebenarannya. Aku harus melihat dulu bagaimana perkembangan dari kasus ini.

__ADS_1


-End Chapter 57-


__ADS_2