
Upacara pembukaan pun telah usai dan kami pun bertiga ingin pergi ke kelas kami. Aku masih tidak percaya dengan apa yang terjadi saat acara penutupan tadi. Ternyata Rina dan Miyuki berada di sekolah yang sama
denganku. Padahal awalnya aku mengira kalau Rina dan Miyuki akan masuk di SMA Cibubur.
Tepat saat kami pergi keluar dari aula, Rina dan Miyuki sudah berada di sana dan sedang menunggu kami. Ketika melihat kami keluar dari aula, Miyuki dan Rina langsung menghampiri kami.
“Hai kalian semua...”
Rina menyapa kami seakan tidak ada yang perlu dia jelaskan kepadaku. Aku tau sekali kalau dia menikmati ketika melihatku bingung seperti ini.
“Oi... Sepertinya ada hal yang harus kau jelaskan kepadaku di sini.”
“Hehehehehe...”
Rina hanya tertawa kecil ketika aku tanya hal itu.
“Kenapa kau berada di sini, bukankah kau harusnya masuk di SMA Cibubur?”
“Tidak Ar, sekarang aku sudah masuk di sekolah ini.”
“Lalu rekomendasimu?”
“Sebenarnya dari awal aku memang berniat untuk masuk ke SMK jurusan Farmasi. Tapi SMK yang ku dapatkan berbeda dengan pilihanmu.”
“Kenapa kau tidak mengambilnya saja, bukankah sayang membuang rekomendasimu seperti itu.”
Aku masih tidak terima kalau Rina berada di sekolah yang sama denganku.
“Bukankah aku sudah bilang kepadamu Ar... Kalau aku akan meruntuhkan idealismemu itu. Mana mungkin aku bisa meruntuhkan idealismemu itu jika sekolah kita saja berbeda.”
Apa dia serius akan hal itu? Aku memang menyuruhnya untuk meruntuhkan idealismeku sebisanya, tapi aku tidak menyangka kalau hal itu dapat membuatnya membuang rekomendasinya itu. Padahal SMA Cibubur termasuk ke
dalam sekolah favorit, deket dengan rumah lagi.
“Bagaimana pendapat orang tuamu tentang hal ini? Aku menjadi tidak enak kalau kau masuk ke sini hanya karena itu.”
“Tenang saja, orang tuaku selalu mengizinkanku untuk masuk ke sekolah manapun selama aku senang menjalaninya.”
Woah... Aku baru tau orang tua Rina termasuk ke dalam orang tua yang membebaskan anaknya. Aku kira mereka lebih tegas dan ketat dalam mendidik anaknya.
“Selain itu Miyuki!... Kenapa kau juga masuk ke sini?”
“Kenapa kau Mar, tumben sekali kau berisik seperti ini.”
Riki menegurku karena aku tidak tenang seperti biasanya.
“Tentu saja, entah kenapa aku merasa kalau baru dikhianati oleh seseorang.”
“Bukankah waktu itu aku pernah mengatakannya kepadamu Ar, kalau Miyuki masuk di sekolah yang sama denganku.”
Kemudian pun aku teringat perkataan Rina saat di Gunung Prau. Saat itu aku menanyakan kepadanya tentang sekolah yang dimasuki Miyuki dan dia berkata kalau Miyuki masuk ke sekolah yang sama. Jauh sebelum itu aku menanyakan kepadanya tentang kelengkapan berkas untuk daftar ulang, dan akhirnya aku menyadari sesuatu dari percakapan itu. Selama pembicaraan itu, Rina tidak pernah bilang kalau berkas yang dia lengkapi adalah berkas daftar ulang di SMA Cibubur.
Ah sial, mengapa aku bisa tidak menyadari hal itu dengan cepat. Kemana kemampuan deduksiku yang dulu pernah aku bangga-banggakan itu.
Kalau berbicara tentang kemampuan deduksi, sudah lama sekali aku tidak mendapatkan sesuatu yang membuatku berpikir lebih keras dibandingkan biasanya. Mungkin karena selama ini aku tidak terlalu mendapatkan kejadian yang sangat merepotkan jadi aku tidak pernah menggunakannya lagi.
“Dari wajahmu, sepertinya kamu sudah mengetahui dimana letak kesalahanmu.”
Rina tersenyum kecil kepadaku.
“Oh iya Fuyumi! Kenapa kamu bisa bersama dengan mereka berdua?”
Miyuki pun bertanya kepada Kichida yang masih terdiam mendengar perbincanganku dengan Rina.
“Kami bertemu saat di mading depan, dan juga kami berada di kelas yang sama, jadinya aku bisa bersama dengan mereka berdua.”
“Apa! Kamu sekelas dengan mereka berdua?”
Rina terkejut setelah mendengar itu.
“Enaknya...”
Miyuki terlihat iri dengan keadaan yang dimiliki Kichida. Untungnya saja yang berada sekelas denganku adalah Kichida bukannya Miyuki. Setidaknya kalau dilihat dari sikap dia selama ini, dia bukanlah tipe-tipe orang yang dapat membuatku menjadi kerepotan.
“Kamu masuk di kelas mana Ar?”
“Kami masuk di kelas Multimedia D, memangnya kenapa Rina?”
“Tidak, aku aku hanya penasaran saja.”
“Hmmm...”
“Oi teman-teman, lebih baik kita segera pergi ke kelas sekarang. Aku rasa kelasnya sebentar lagi mau di mulai.”
Kichida mengingati kami yang sedang asik berbicara di depan aula.
“Oh kau benar...”
Aku pun melihat jam tanganku.
“Tapi kemana Maul ya? Aku kira dia akan berkumpul dengan kita di sini juga. Aku yakin dia pasti kaget mengetahui Miyuki dan Rina masuk di sekolah yang sama.”
Riki masih melihat ke dalam aula untuk mencari Maul.
“Entahlah, mungkin dia sudah menemukan teman baru dan sekarang sudah pergi ke kelas dengannya.”
Ya, karena Maul sangat berbeda denganku. Dia adalah tipe orang yang mudah sekali bergaul dengan siapapun.
Kami pun langsung pergi ke kelas kami dan berpisah dengan Rina dan Miyuki. Ada beberapa anggota OSIS yang berjaga di sekitar lapangan untuk memberitahu para siswa tentang kelas mereka.
“Maaf Kak saya mau bertanya, kelas Multimedia D dimana ya?”
Riki bertanya dengan sangat sopan sekali.
“Kalian pergi ke gedung yang di tengah, lantai dua.”
Kakak OSIS itu menjawab pertanyaan Riki dengan ketus sekali. Aku yakin kalau dia hanya berlaga seperti itu saja.
Memang seperti itu kelakuan anggota OSIS ketika sedang masa orientasi. Banyak dari mereka yang menunjukan sikap dingin, galak, dan berbagai macam untuk mendapat simpati dari siswa baru sehingga mereka dapat dikenal. Aku ingin tertawa melihat orang yang seperti itu.
__ADS_1
“Terima kasih Kak.”
Kami pun langsung pergi menuju tempat yang baru saja disebut.
“Apaan itu sikapnya, sombong sekali.”
Ternyata bukan aku saja yang berpikiran seperti itu. Ternyata Kichida sependapat denganku.
“Hal itu sudah biasa Kichida, kau harus membiasakannya untuk tiga hari ke depan nanti. Karena bakal ada orang yang lebih merepotkan lagi dibandingkan dia.”
Aku pun memberi nasihat kepada Kichida.
“Benarkah seperti itu? Aku tidak mengetahui hal itu.”
Heeee...
Akhirnya kami pun sampai di kelas kami. Ketika memasuki kelas, aku merasakan hawa dingin yang menyengat tubuhku. Saat itu mataku langsung tertuju kepada pendingin ruangan yang berada di kelasku. Aku tidak tau kalau kelas ini terdapat pendingin ruangannya, karena di SMPku dulu tidak ada yang namanya pendingin ruangan. Jangankan pendingin ruangan, kipas saja kami tidak punya, tapi untunglah hawa di sekolahku dulu tidaklah panas,
jadi itu tidak terlalu masalah.
Aku pun memperhatikan setiap bangku kosong yang berada di kelas. Bangku kosong yang aku inginkan adalah bangku yang berada di satu baris sebelum baris belakang, namun rata-rata bangku yang berada di bagian belakang sudah penuh ditempati oleh siswa lain. Bangku kosong yang tersisa hanya bangku yang berada di bagian depan.
“Kita mau duduk dimana Mar?”
Riki bertanya kepadaku yang sedang mencari bangku terbaik untuk kami duduk.
“Sebentar, biarkan aku berpikir dulu.”
“Baiklah.”
Kemudian Kichida pun berjalan menuju ke salah satu bangku kosong yang berada di baris paling depan dan duduk di sana.
“Kita duduk di bangku kosong yang berada di belakang Kichida saja Rik.”
“Kenapa harus di sana?”
“Mau bagaimana lagi, bangku yang aku mau tempati sudah ada yang menempatinya duluan, dan sekarang hanya bangku yang ada di belakang Kichida saja yang menurutku sangat cocok untuk kita duduki.”
“Baiklah kalau begitu.”
Dan kami pun mulai berjalan ke bangku yang kami pilih dan duduk di sana. Karena belum ada anggota OSIS yang masuk ke kelas, aku pun berencana untuk tidur sebentar.
“Oi Rik, aku mau tidur sebentar... Kalau nanti ada yang datang ke kelas, tolong bangunkan aku.”
Aku pun mulai melipat kedua tanganku di atas meja dan mulai mencoba untuk tidur.
“Kau ini Mar... Ini hari pertama kau masuk di SMK loh, seharusnya kau lebih semangat sedikit.”
Riki pun menegur setelah melihatku sedang berusaha untuk tidur.
“Tidak ada yang dapat membuatku semangat selain jam tidur untuk mengganti tidurku yang berkurang pagi ini.”
Suara bising di kelas pun membuatku sama sekali tidak bisa tertidur. Aku ingin sekali menyumbat kupingku dengan earphone tapi selama masa orientasi kami tidak diperbolehkan untuk membawa ponsel.
Kemudian dari meja Kichida aku mendengar ada suara perempuan yang menghampirinya dan mengajak Kichida berbicara. Karena penasaran, aku pun bagun dan melihat siapa orang itu.
“Apakah kursi ini kosong?”
Aku tidak mengenalnya... Tunggu, buku apa yang dibaca Kichida!? Tulisannya menggunakan huruf Jepang semua.
Perhatianku pun teralihkan dengan buku yang sedang dibaca Kichida.
“Iya, kursi ini kosong.”
“Apakah aku boleh duduk di sini?”
“Tentu saja, silahkan.”
Kichida pun memindahkan tasnya yang sebelumnya diletakan di kursi kosong yang berada di sampingnya dan perempuan itu pun langsung duduk di sana.
“Namaku Natasha, siapa namamu?”
Jadi perempuan itu namanya Natasha.
“Namaku Kichida, salam kenal.”
Hmmm... Aku kira Kichida tipe orang yang tidak bisa mengakrabkan diri dengan orang baru. Ternyata dia cukup ramah juga.
“Ngomong-ngomong buku apa yang kau baca itu? Kelihatannya seru.”
Natasha langsung menggunakan buku yang sedang dibaca Kichida sebagai topik pembicaraannya. Sungguh keputusan yang bijak untuk memperpanjang pembicaraan. Kalau kau berhasil kau akan akrab dengannya.
Semangatlah!
“Ohh... Ini light novel yang sedang ramai dibicarakan di negaraku. Apa kau mau membacanya juga? Aku memiliki beberapa seri sebelumnya.”
Kichida langsung menawarkan novel yang sedang dia baca.
Light novel?Entah kenapa aku baru mendengar hal seperti itu.
“Apa kau berasal dari Jepang?”
“Iya, aku bersekolah di sana sampai lulus sekolah dasar saja. Ketika SMP aku pindah ke sini karena Ayahku dipindah tugaskan.”
“Benarkah itu!? Pasti keren sekali Jepang itu ya. Suatu saat aku bercita-cita ingin pergi ke sana.”
Natasha terlihat sangat tertarik sekali dan ingin bertanya banyak kepada Kichida
Kemudian Natasha pun menyadari kalau dari tadi aku memperhatikan pembicaraan mereka berdua. Dia langsung menoleh ke arahku.
“Perkenalkan, namaku Natasha.”
Natasha pun memperkenalkan dirinya kepadaku dan juga Riki.
Sepertinya dia adalah anak yang baik.
“Aku Riki, salam kenal.”
Riki memperkenalkan dirinya dengan penuh semangat.
__ADS_1
“Aku Amar, salam kenal...”
Tidak lama setelah kami berkenalan, aku pun mendengar kegaduhan yang berasal dari depan kelas. Tiba-tiba semua murid yang ada di depan kelas langsung masuk ke dalam kelas. Aku rasa sebentar lagi pembelajaran akan di mulai.
Ketika semua siswa sudah masuk ke dalam kelas, masuklah dua orang anggota OSIS ke dalam kelas kami. Kedua orang anggota OSIS itu adalah Kak Fauzi dan seorang perempuan yang pada saat upacara pembukaan menjadi pembawa acara bersama dengan Kak Fauzi.
“Selamat pagi semuanya... Gimana nih rasanya hari pertama masuk di SMK?”
Kak Fauzi langsung menyapa kami semua dengan ramah. Semua siswa pun menjawab pertanyaan itu dengan berbagai macam jawaban.
“Sebelum memulainya, kakak mau memperkenalkan diri dulu. Nama kakak, Fauzi Alfiansyah. Kalian bisa memanggil kakak Fauzi.”
Kak Fauzi pun memperkenalkan dirinya, dan saat itu juga aku baru tau nama panjang dari Kak Fauzi. Walaupun dulu dia pernah menjabat sebagai ketua OSIS di SMPku tapi aku tidak terlalu memperdulikannya.
“Kalau nama kakak, Ayu Kartika. Kakak biasa dipanggil Ayu.”
Kak Ayu memperkenalkan dirinya dengan manis sekali. Bahkan aku sempat mendengar beberapa lelaki yang duduk di belakang berbisik tentang Kak Ayu.
“Mulai hari ini, saya dan Kak Ayu akan menjadi mentor dari kelas kalian selama masa orientasi ini. Oh iya, kakak mau membacakan peraturan selama masa orientasi dulu.”
Kak Fauzi pun membacakan peraturan selama masa orientasi. Kami pun dibagikan sebuah buku panduan yang akan digunakan selama masa orientasi siswa.
“Sekarang kakak mau kalian semua maju satu per satu untuk memperkenalkan diri. Kakak yakin masih banyak temen sekelasnya yang belum kenal sama kalian kan. Jadi silahkan memperkenalkan diri di depan kelas, akan
kakak panggil satu per satu secara acak... Muhammad Akbar Dhiaurrahman.”
Buat apa dia menyuruh kita memperkenalkan diri kalau dia sudah menyebutkan nama kita. Aneh!
Seorang laki-laki pun berdiri dan kemudian langsung maju ke depan dengan percaya diri. Aku yakin dia tipe laki-laki yang sifatnya tidak jauh berbeda dengan Riki.
“Perkenalkan nama, asal sekolah, hobi, sama alasan masuk multimedia.”
Aku pun melihat lelaki itu mempersiapkan dirinya.
“Nama saya Muhammad Akbar Dhiaurrahman, asal sekolah dari SMP Tanah Abang, alasan masuk multimedia karena mau jadi animator.”
“Wah hebat sekali mau jadi animator. Ya udah sekarang silahkan duduk. Sekarang Riki Ryandi.”
Ketika menyebutkan nama itu, Kak Fauzi sedikit tersenyum. Sepertinya dia sudah tau kalau aku dan Riki berada di kelas ini. Riki pun maju ke depan dengan gagah juga. Aura yang dipancarkannya tidak jauh berbeda dengan Amar.
“Nama saya Riki Ryandi, asal sekolah SMP Cibubur, alasan masuk multimedia karena menurutku sedikit menarik.”
“Menarik? Menarik seperti apa tuh?”
Kak Ayu penasaran dengan alasannya Riki.
“Entahlah, menarik saja.”
Jawabannya Riki pun membuat semua siswa yang ada di kelas tertawa termasuk Kak Fauzi dan Kak Ayu.
“Baik... Baik.. Silahkan duduk kembali. Sekarang Natasha Adelia.”
Natasha pun maju ke depan.
“Namaku Natasha Adelia, asal sekolah SMP Gambir, alasan masuk multimedia karena ingin menjadi designer.”
“Semangat ya untuk mencapai itu, silahkan duduk kembali. Wah ini sepertinya orang spesial nih... Kichida Fuyumi.”
Kichida pun maju ke depan dengan tatapan para siswa yang sangat fokus kepadanya. Hal itu dikarenakan hanya Kichida saja yang berasal dari Jepang di kelas ini, sedangkan yang lainnya adalah orang Indonesia.
“Namaku Kichida Fuyumi, asal sekolah dari Jakarta International Japanese School, alasan masuk ke multimedia karena ingin menjadi mangaka.”
“Walaupun dari Japanese School, tapi bahasa Indonesiamu lancar ya?”
Kak Fauzi memuji Kichida yang dapat mengucapkan bahasa Indonesia dengan fasih.
“Itu karena aku sudah tinggal di sini selama tiga tahun dan temanku yang orang Indonesia juga banyak.”
“Hei Rik, mangaka itu apa?”
Aku bertanya kepada Riki tentang hal itu.
“Aku juga tidak tahu, mungkin orang yang senang memakan mangga.”
"Memangnya hal itu ada kaitannya dengan multimedia."
“Mangaka itu kalau di Indonesia disebutnya komikus alias orang yang membuat komik.”
Kak Fauzi yang mendengar pertanyaanku langsung menjawabnya.
“Baiklah Kichida, silahkan duduk. Amar, kau maju sekarang!”
Huh...! Akhirnya giliranku tiba juga.
Aku pun maju ke depan kelas. Sekarang pandangan semua murid tertuju kepadaku. Sejujurnya, aku tidak begitu nyaman dengan kondisi seperti ini. Kalau bisa aku ingin menyelesaikannya dengan cepat.
“Nama saya Amarul Ihsan, asal sekolah SMP Cibubur, alasan masuk multimedia karena surat rekomendasiku merekomendasikan sekolah dan jurusan ini, jadi aku mengambilnya.”
Lagi-lagi semua siswa tertawa dengan perkenalan dirinya. Aku tidak tau apa yang membuat mereka bisa tertawa, aku merasa tidak ada yang lucu dalam perkenalan diriku.
“Ternyata kau orangnya pasrah juga ya... Silahkan duduk. Selanjutnya...”
Dan perkenalan pun berlangsung sampai semua siswa kebagian.
“Baiklah, karena semuanya sudah berkenalan. Kakak harap kalian semua berteman baik karena kalian semua akan bersama selama tiga tahun lagi. Dan seperti yang kakak katakan sebelumnya, karena kakak adalah mentor di sini, kakak bersama dengan Kak Ayu akan membimbing kalian selama masa orientasi ini. Nama kelas kalian selama masa orientasi adalah after effect. Jadi siapa di sini yang mau jadi ketua regu?”
Suasana pun menjadi hening, tidak ada satu pun siswa yang mau mengambil beban yang sangat merepotkan itu. Aku tidak tau apakah mereka itu menganggapnya merepotkan atau mereka hanya malu saja.
“Oke kalau tidak ada yang mau menjadi ketua regu, kakak akan memilihnya secara acak.”
Kemudian Kak Fauzi pun melihat ke arahku dan juga Riki.
Ah gawat... Aku merasakan sesuatu yang merepotkan akan terjadi.
Kak Fauzi pun sedikit tersenyum.
“Kakak sudah memutuskan, yang akan menjadi ketua dan wakil dari regu ini adalah Riki dan Amar. Beri tepuk tangannya semua.”
Para siswa pun memberikan kami tepuk tangan. Aku mendengar ada beberapa siswa yang bersyukur karena tidak terpilih menjadi ketua regu.
__ADS_1
Aku pun menghela nafas dengan cukup panjang. Aku sudah menduga hal ini sebelumnya, tapi tetap saja... Hal merepotkan tetap saja merepotkan.
-End Chapter 31-~~~~