
Setelah melewati hal-hal yang merepotkan di ruang OSIS, akhirnya aku dapat terbebas dari sana dan proposal yang aku ajukan sudah disetujui. Saat ini aku sudah berada di kantor, tepatnya di dalam ruang rapat karena kami akan mengadakan rapat untuk membahas masalah pensi nanti.
Sekarang sudah ada beberapa orang yang akan mengikuti rapat tersebut. Di sana juga ada Kak Malik dan Kak Friska yang mengikuti rapat itu.
“Bagaimana dengan pengajuan proposalnya Mar?”
“OSIS sudah menyetujuinya.”
“Baiklah kalau begitu yang sekarang kita pikirkan adalah apa saja yang akan kita pasarkan di sana, karena ini pertama kalinya kita memasarkan aplikasi ini secara langsung.”
“Tentu saja aplikasinya, memang apa lagi?”
Ucap Maul yang terlihat santai membuat karyawan yang berada di sana sedikit terkejut melihat Maul yang berbicara seperti itu kepada Pak Hari.
Memang Pak Hari sudah menjelaskan kepada semua karyawan baru di sini tentangku dan juga Maul, tapi ada beberapa dari mereka yang sama sekali belum pernah bertemu dengan kami karena kami biasanya datang ke kantor setelah pulang sekolah dan baru sampai di kantor sekitar jam empat sore. Di saat jam itu sudah ada beberapa karyawan yang sudah pulang karena memang jam segitu sudah jam pulang kantor untuk beberapa orang.
“Aku juga tau itu Mul, maksudku adalah bagaimana caranya kita membuat penawaran yang menarik agar orang-orang berminat untuk mengunduh aplikasi kita.”
“Benar juga, karena aplikasi ini belum begitu banyak memiliki fitur berbayar jadinya kita sulit untuk memikirkan promosi untuk hal ini.”
“Bagaimana kalau kita memberikan souvenir kepada orang yang mengunduh aplikasi saat berada di stan?”
Salah satu karyawan yang mengikuti rapat itu pun memberikan pendapat.
Enak sekali jika banyak orang yang mengikuti rapat ini, aku tidak perlu pusing-pusing memikirkan ide untuk hal ini. Paling aku akan memberikan masukan ketika diminta saja.
“Itu ide yang cukup bagus, bisa kau jelaskan kepada kami bagaimana sistem pemberian souvenir-nya itu?”
Pak Hari menyuruh karyawan yang menyarankan tadi menjelaskan tentang idenya itu.
“Pertama kita harus membuat sebuah barcode terlebih dulu, nanti barcode itu akan berfungsi sebagai link untuk mengunduh aplikasinya. Jika ada orang yang mengunduh aplikasinya melalui barcode itu, mereka akan berkesempatan untuk mendapatkan hadiah berupa souvenir yang kita sediakan.”
“Bagus, aku setuju dengan usulan itu. Kita akan menggunakan usulan itu, apa kau bisa membuatnya Mul?”
“Itu adalah hal yang mudah.”
Maul menunjukkan kehebatannya di depan Kak Friska yang saat ini sedang duduk berhadapan dengannya.
“Aku rasa lebih baik jika kita membuat sesuatu untuk memberikan hadiahnya, sepertinya jika memberikan hadiahnya secara langsung itu terlalu biasa.”
Saranku kepada Pak Hari. Kalau aku disuruh menjelaskan, aku akan mengatakan kalau kita membuat sistem rolet dalam pengundian hadiahnya.
“Bagaimana kalau hadiahnya akan diundi saja dengan mengunakan rolet? Itu akan menarik banyak orang juga.”
Karyawan lainnya pun ada yang memiliki pemikiran yang sama denganku untuk hal itu.
“Yup, aku juga berniat untuk mengusulkan itu.”
“Ok, lalu sekarang yang perlu kita bahas adalah jenis yang akan kita pilih untuk souvenirnya.”
“Memangnya pilihannya ada berapa barang?”
Tanya Maul kepada Pak Hari.
“Souvenir yang digunakan dalam hal ini biasanya ada tote bag, boneka, mug, pin, stiker, poster, baju, dan yang terakhir mungkin topi.”
Aku mengucapkan semua barang itu sambil menghitungnya dengan jariku.
“Ternyata banyak juga ya, kira-kira berapa jenis yang harus kita buat?”
Pak Hari langsung bertanya kepadaku.
“Untuk menuntukan hal ini ada rumus dimana harga barang mempengaruhi jumlah dari barang tersebut. Semakin murah harganya, maka semakin banyak juga jumlahnya begitu sebaliknya.”
“Baiklah kalau begitu, untuk jumlah barang dan biayanya mungkin akan aku diskusan terlebih dahulu dengan bagian keuangan. Jadi rapat saat ini saya tutup sampai sini saja, terima kasih atas kerja keras semuanya.”
Pak Hari pun menutup rapatnya dan satu per satu karyawan mulai keluar dari ruang rapat dan hanya menyisakan Aku, Maul, Pak Hari, Kak Malik, dan Kak Friska.
Mungkin ada yang bertanya kepada Pak Febri tidak ada saat rapat ini. Karena seperti yang dia katakan saat kami sedang melakukan seleksi untuk menerima karyawan baru, dia akan berhenti jika semua karyawannya sudah masuk ke kantor. Karena dia mau memfokuskan dirinya untuk mengajar terlebih dahulu.
“Friska, besok kamu bisa membicarakan apa yang kita sepakati ini kepada bagian keuangan. Kamu sekarang boleh pulang.”
“Kalau begitu saya permisi!”
Kak Friska pun meninggalkan ruangan rapat, aku melihat matanya Maul yang mengikuti Kak Friska dari tempat duduknya hingga dia keluar dari ruangan.
“Apa kau sudah sering melakukan seperti ini Mar?”
Tanya Kak Malik kepadaku.
“Apa yang kakak maksud rapatnya? Kalau rapatnya, aku sudah sering melakukannya sejak bekerja di perusahaan ini.”
“Bukan! Yang aku maksud adalah membuat promosi untuk ke sekolah-sekolah. Karena dari rapat tadi kau terlihat mengerti sekali tentang hal ini.”
“Oh kalau itu di sekolahku kebetulan sedang mempelajari tentang hal semacam ini, jadi aku bisa tau apa saja yang perlu dilakukan untuk promosi seperti ini.”
“Memangnya apa jurusanmu?”
“Multimedia.”
__ADS_1
“Malik! Kamu nanti siapkan sebuah tim untuk mengurusi hal ini semua, dan batas waktunya satu hari sebelum hari H.”
“Siap Pak!”
Kak Malik pun langsung meninggalkan ruangan rapat.
“Lalu apa tugas kami?”
“Kalian berdua tinggal duduk tenang saja.”
“Apa itu tidak masalah?”
“Memang seperti itulah atasan Mar. Lebih baik kau nanti bekerja saat hari Hnya saja.”
“Baiklah kalau begitu.”
Dengan ini sudah jelas kalau saat hari H nanti aku harus masuk ke sekolah untuk menjaga stan di sana.
“Kalau begitu aku pamit dulu ya, ada sesuatu yang ingin aku kerjakan.”
Pak Hari pun juga pergi meninggalkan ruangan.
“Apa kau mau langsung pulang Mar?”
“Kita ke atap dulu yuk Mul, sekarang juga masih jam-jam macet. Lebih baik kita pulangnya setelah magrib saja.”
Dan kita pun pergi ke atap untuk menikmati pemandangan sore sambil menikmati segelas kopi di sana. Kali ini juga di mini barnya sudah ada seorang barista yang akan melayani kita jika kita ingin meminum kopi di sana. Aku mendengarnya dari Pak Hari kalau dia yang menyewa baristanya agar para karyawannya tidak perlu menyeduh kopinya sendiri.
Padahal saat mendengar hal itu menurutku sangat sayang sekali mengeluarkan uang hanya untuk seorang barista, tapi setelah meminum kopi buatannya yang sangat enak aku menarik semua kata-kataku itu.
“Jadi apa yang ingin kau katakan Mar?”
“Saat aku berada di ruang OSIS, Kak Alvin dan Kak Fauzi menanyaiku tentang sebuah rumor yang tidak ada habisnya.”
“Rumor apa itu?”
Maul langsung terlihat penasaran dengan rumor itu.
“Kalau ada dua murid di SMK Sawah Besar yang membantu Pak Febri dalam proses pembuatan aplikasi Comic Universe.”
“Apa yang menyebabkan rumor itu menyabar?”
Maul terlihat terkejut saat mendengar rumor itu, sepertinya dia juga sama sekali belum mendengar rumor itu dari siapapun.
“Jadi ada murid yang melihat Pak Febri mengerjakan pekerjaannya di sekolah dan Pak Febri dengan polosnya menjelaskan apa yang dia kerjakan itu kepada murid yang melihatnya.”
Maul pun menjadi tenang dan meminum kopinya lagi.
Ini aneh, aku kira Maul akan memarahi Pak Febri seperti saat aku mendengar kalau Pak Febri yang menyebabkan rumor ini menyebar.
“Kau terlihat lebih tenang dari yang aku kira.”
“Untuk apa aku harus terkejut, bukannya memang seharusnya seperti itu. Aku tidak keberatan jika satu sekolah mengetahui kalau aku membantu dalam proses pembuatan Comic Universe.”
Inilah Maul, memang di satu sisi dia sedikit berbeda dengan apa yang aku pikirkan.
“Apa kau tidak takut jika rumor itu sampai menyebar ke seluruh sekolah? Bukannya kehidupan sekolah mereka akan menjadi tidak tenang lagi.”
“Kau memang benar, kita akan banyak dicari orang di sekolah mulai dari murid sampai guru dan kita tidak akan pernah mendapatkan kedamaian lagi di sekolah, tapi menurutku itu tidak masalah, itulah resikonya menjadi orang terkenal.”
“Walaupun kau berkata seperti itu, aku akan tetap mencari siapa orang yang menyebarkan rumor itu.”
“Kenapa kau bersih keras untuk mencarinya? Tidak seperti kau saja, biasanya kau jauh lebih tenang menangapi ini dibandingkanku.”
Memang benar, biasanya aku akan memikirkan ini dengan tenang dan bahkan tidak terlalu mempermasalahkan hal ini, tapi setelah mengetahui rumor ini aku menjadi tau kalau orang yang menyebarkan rumor itu tidak bisa aku biarkan begitu saja.
“Apa kau mengingat semua rumor yang beredar di sekolah tentang kita?”
“Tentu saja, aku masih mengingat semuanya.”
“Kalau kau mengingatnya lagi, rata-rata rumor yang menyebar di sekolah terlalu mirip dengan kejadian aslinya, ini sangat berbeda sekali dengan rumor yang beredar ketika mereka masih berada di SMP Cibubur. Biasanya rumor itu hanya kabar burung saja yang disampaikan orang dari mulut ke mulut, tapi tingkat kecocokan rumor yang ada di SMK Sawah Besar hampir sama dengan kejadian aslinya.”
“Setelah kau mengatakan seperti itu, aku baru menyadarinya.”
Maul pun menjadi tertarik lagi dengan topik pembicaraan ini.
“Apa kau mengetahui sesuatu Mul?”
“Kalau sejauh ini aku masih mengira kalau anggota OSIS yang menyebarkan rumor itu. Karena OSIS adalah salah satu tempat rumor dapat menyebar dengan cepat.”
“Awalnya aku juga berpikiran hal yang sama denganmu. Tetapi saat aku berada di sana, Kak Alvin tidak tau rumor itu sebelum Kak Fauzi memberitahunya. Seharusnya jika memang salah satu anggota OSIS yang menyebarkannya, Kak Alvin sudah mengetahui terlebih dahulu sebelum Kak Fauzi mengatakannya.”
“Ini rumit sekali.”
Maul pun memegang dagunya dengan tangan kanannya dan berpikir.
“Bagaimana kalau kau bertanya kepada Rina tentang hal ini Mar.”
“Kenapa?”
__ADS_1
“Setelah aku mengingat-ingat lagi tentang rumor yang beredar di SMK Sawah Besar. Pasti kita selalu mendengarkan rumor itu dari Rina atau Miyuki, dan kemudian Yoshida yang membenarkan tentang rumor itu.”
“Kau benar juga.”
Bahkan aku saja tidak pernah mendengar rumor itu ketika sedang berkumpul dengan teman-teman sekelasku. Aku tidak tau apakah teman sekelasku yang tidak suka membicarakan tentang rumor atau mereka yang memang tidak mendapatkan informasi apapun dari rumor tersebut.
“Mungkin saja orang yang menyebarkan rumor itu ada di kelasnya Rina atau seseorang di kelasnya Rina bergabung dengan grup atau apapun itu yang mengkoneksikannya dengan semua murid satu sekolah, karena
tempat-tempat seperti itu yang sangat mungkin sebagai tempat menyebarnya rumor-rumor.”
“Kalau begitu mungkin aku akan menanyakan hal ini kepada mereka, tapi mungkin itu nanti.”
“Kenapa begitu? Bukannya tadi kau bersemangat untuk mencari orang yang menjadi sumber dari rumor itu.”
“Untuk saat ini ada hal yang mau aku lakukan, jadi aku tidak bisa memfokuskan diriku untuk mengurusi orang yang menyebarkan rumor itu. Mungkin aku akan menyelidiki orang itu jika ada rumor yang menyebar lagi di sekolah dan rumor itu membahayakan kehidupanku yang damai di sekolah.”
Ya.. Karena sampai sejauh ini belum ada yang tau siapa dua murid yang membantu itu dan juga aku sudah berhasil meyakinkan anggota OSIS yang saat itu sedang berkumpul di ruangan kalau aku bukanlah orang itu, jadi untuk saat ini sepertinya aku aman.
“Ngomong-ngomong bagaimana untuk pensi nanti? Belum banyak teman-temanku yang tau kalau aku bekerja di Comic Universe, mungkin begitu juga dengan kau. Kalau kita berada di sana untuk menjaga stannya mungkin
akan banyak murid yang curiga dan memperkuat rumor itu kalau kita adalah orangnya.”
“Aku sudah memikirkan tentang hal itu, kalau memang itu yang terjadi aku mungkin akan menyuruh Pak Febri untuk mengatakan kalau dia yang menyuruh kami untuk menjaga stan itu, selain itu aku akan meminta tolong kepada Riki, Miyuki, dan Rina juga untuk menjaga di stan.”
“Seperti yang aku harapkan dari Amar, kau selalu saja memiliki jawaban atas pertanyaanku.”
Tentu saja aku sudah memiliki jawabannya, karena sejak aku mengetahui kalau sedang ada rumor seperti itu beredar di sekolah aku harus memikirkan juga jawaban atas pertanyaan orang-orang jika aku harus bertugas untuk menjaga stan.
“Lalu bagaimana pendapatmu tentang usulanku untuk meminta bantuan kepada Rina dan Miyuki untuk membantu di stan nanti.”
“Itu adalah ide yang bagus, dengan adanya dua idola sekolah yang menjaga stan itu, pasti banyak pengunjung yang tertarik untuk mengunjungin stan kita.”
“Kalau begitu aku akan membicarakan hal ini kepada Pak Hari terlebih dahulu untuk masalah menggunakan orang di luar kantor untuk membantu di stan.”
“Kira-kira baju apa yang nanti akan kita gunakan saat acara pensi itu?”
Tanya Maul kepadaku.
“Mungkin seragam kantor ini.”
“Benar juga, aku sama sekali belum menggunakan seragam dari kantor ini sejak diberikan oleh Pak Hari. Mungkin seragam itu masih terbungkus rapi di lemariku.”
Ucap Maul sambil mengingat-ingat tentang seragamnya.
“Pak Hari saja tidak mewajibkan kita untuk memakai seragam itu, lagi pula kita selalu datang ke sini dengan menggunakan seragam sekolah.”
“Tapi apa kau yakin kalau Rina dan Miyuki mau membantu kita?”
“Aku yakin pasti mereka mau.”
Karena pertama, Rina dan Miyuki adalah orang yang tidak pernah menolak jika ada orang yang meminta bantuan alias mereka baik. Selain itu, jika aku berkata kalau pekerjaan ini ada bayarannya mungkin mereka akan mau menerimanya.
“Aku sarankan kepadamu untuk meminta anggaran kepada Pak Hari untuk masalah ini.”
“Memangnya itu boleh?”
Tanyaku kepada Maul.
“Seharusnya boleh karena ini untuk promosi juga, aku rasa lebih baik kau mengajukan dulu anggaran yang diperlukan kepada Pak Hari, masalah diterima atau tidaknya itu belakangan. Kalau memang tidak diterima, kita bisa membayar mereka dengan uang yang kita miliki.”
“Baiklah, aku akan menghitung kira-kira berapa biaya yang diperlukan untuk keperluan di stan nanti. Mungkin aku hanya akan membutuhkan biaya untuk membayar orang yang mendirikan stan dan orang yang berjaga di stan nanti, selebihnya untuk uang konsumsi.”
“Kau tulis saja di kertas agar lebih jelas daripada kau pikirkan seperti itu. Setelah selesai baru kau berikan kepada Pak Hari.”
“Apa aku perlu memberikan proposal juga kepada Pak Hari?”
“Memangnya Pak Hari mau membaca proposal yang rumit itu?”
“Aku rasa tidak.”
Karena aku pernah melihat Pak Hari ketika membaca sebuah proposal, dia mengeluh dan berkata kalau terlalu banyak tulisan yang tidak perlu di dalam sana. Dia juga pernah berkata kalau dia lebih suka ada orang yang memberikan dia selembar kertas tapi di dalamnya berisi semua yang dia butuhkan daripada susunan kata yang banyak seperti ini.
“Aku juga akan meminta bantuan Rian saat mendirikan stan nanti.”
“Aku juga berniat ingin mengajaknya juga.”
“Apa kau tidak berniat untuk menyuruh Takeshi Mar?”
Aku melihat matanya Maul dan aku tau kalau dia bertanya itu hanya untuk meledekku saja.
“Aku akan sangat terkejut sekali jika dia mau melakukannya.”
“Jika Takeshi mau membantumu mendirikan stan, aku akan mentraktirmu makan otak-otak yang ada di halte bis dekat sekolah selama sebulan.”
Ya... itu adalah hal yang mustahil, Maul berani memasang taruhan seperti itu karena dia tau kalau Takeshi tidak akan membantu mereka.
Dan kami pun lanjut menikmati kopi kami sambil melihat langit sore yang berawan.
-End Chapter 86-
__ADS_1