
“Apa kita tidak masalah duduk di meja ini Mar?”
Riki masih merasa ragu dan berpikir kalau meja itu sudah ditempati oleh orang lain.
“Aku rasa tidak masalah, di meja ini juga tidak ada nama atau penanda yang menandakan kalau meja ini dimiliki oleh orang lain.”
Aku juga sebenarnya merasa ragu, tapi aku berusaha untuk memeriksa meja itu berulang kali agar rasa keraguanku itu hilang.
Aku pun melihat semua orang yang datang ke sana dan rata-rata yang ada di sana semuanya adalah orang dewasa. Sepertinya hanya kami saja remaja yang ada di sana, dan kalau aku lihat dari penampilan mereka juga.
Uh... Itu sangat mewah sekali.
Aku melihat ke arah seseorang yang berpakaian sangat rapi dengan jam berwarna emas di tangannya begitu juga kalung emas yang dia pakai di lehernya.
Sepertinya orang itu memiliki banyak sekali uang.
“Semua orang di sini menggunakan topeng.”
Riki ternyata juga melihat-lihat ke pengunjung yang ada di sana.
“Mungkin itu untuk menutupi identitas mereka.”
Lagi pula kenapa mereka harus menutupinya juga, aku rasa polisi juga tidak bisa menyadap tempat ini karena ada pengacau sinyal yang Maul katakan itu.
Apa sekarang dia sudah berhasil mematikan pengacau sinar itu atau belum ya?
Kemudian semua lampu yang ada di ruangan itu pun dipadamkan, dan suasana yang ada di ruangan tersebut yang sebelumnya ramai menjadi sunyi. Semua orang terdiam seperti sedang menunggu sesuatu.
Lalu beberapa lampu sorot pun menyorot ke arah panggung yang membuat semua mata pengunjung yang ada di sana tertuju kepada panggung itu.
“Sepertinya acaranya sebentar lagi di mulai Mar.”
“Aku rasa begitu.”
Tidak berapa lama setelah lampu sorot itu menyoroti panggung, muncullah seseorang pria dari balik panggung dengan menggunakan kemeja beserta jas berwarna ungu begitu juga dengan warna celana bahan yang dia gunakan, dia juga menggunakan dari kupu-kupu dengan motif titik-titik berwarna merah.
Dia juga menggunakan topi sulap di kepalanya, dan dia menggunakan topeng juga.
“Siapa itu Mar?”
“Entahlah, mungkin pesulap yang disewa untuk menghibur kita sebelum acara utama.”
“Oh begitu.”
Kemudian pria itu pun berjalan mendekati mic yang sudah ada di atas panggung.
“Selamat malam semuanya, berjumpa lagi dengan saya Mr S yang akan menemani malam anda dalam acara pelelangan paling hebat, paling mantap, dan membuat anda akan puas dengan barang-barang yang kami tawarkan.”
Oh ternyata dia adalah pembawa acara dari acara pelelangan ini.
“Sebelum saya memulai acaranya lebih jauh lagi, saya harap semua orang yang ada di ruangan ini untuk membuka kotak pesan yang ada di ponsel kalian masing-masing. Karena di sana akan ada sebuah pesan yang akan mengarahkan kalian untuk mengunduh aplikasi yang digunakan dalam pelelangan ini.”
Aplikasi?
Aku pun mengikuti arahannya dan membuka kotak pesanku.
Dan benar saja, di sana terdapat satu pesan masuk yang berasal dari Mr S. Isi dari pesan itu hanyalah sebuah alamat web.
“Apa kau mendapatkan pesan ini juga Rik?”
“Iya, aku mendapatkannya juga.”
Riki menunjukkan pesan dari Mr S yang ada di ponselnya kepadaku.
Berarti dia mengirimkan pesan ini kepada semua orang yang ada di ruangan ini. Tapi bagaimana dia mengirimkan hal ini?
Lebih baik aku menanyakan hal ini kepada Maul.
Aku pun melihat ke sekitarku dan aku hanya melihat beberapa pengawas yang berada jauh dariku.
Aku perlahan-lahan mulai menggunakan earphone di salah satu telingaku untuk berkomunikasi dengan Maul.
“Oi Mul, aku mendapatkan sebuah pesan untuk mengunduh aplikasi pelelangan. Apa yang harus aku lakukan?”
“Unduh saja aplikasinya di ponsel yang aku berikan Mar, ada sesuatu yang ingin aku lakukan.”
“Lalu bagaimana aku menghubungimu jika ponselmu aku gunakan untuk mengikuti acara pelelangan itu?”
“Aku akan menghubungi ke ponselmu.”
Kalau dia berkata seperti itu, berarti dia sudah berhasil mematikan pengacau sinyalnya. Cepat sekali kerjanya dia.
“Pasti kau sudah mematikan pengacau sinyal yang berada di hotel ini ya?”
“Begitulah.”
Baiklah kalau begitu...
Aku pun membuka ponsel Maul dan di sana juga terdapat pesan yang sama seperti yang aku dapatkan.
“Aku juga sudah meretas kamera pengawas di ruangan itu, sekarang aku sedang mengawasi kalian berdua.”
Saat Maul mengatakan hal itu, aku pun langsung mencari kamera pengawas yang ada di ruangan itu.
“Bagaimana dengan anggota kepolisian?”
“Mereka akan bergerak sesuai dengan intruksi dariku, sekarang mereka juga sedang melihat acara lelang itu dari kamera pengawas yang telah aku retas.”
Jadi seperti itu, kalau memang mereka juga melihat acara lelang ini. Setidaknya aku tidak perlu khawatir lagi akan sesuatu.
“Baiklah kalau begitu.”
__ADS_1
“Bagaimana kami bisa mengunduh aplikasi ini? Ponsel kami saja tidak mendapatkan sinyal di sini.”
Keluh salah satu peserta yang ada di sana.
“Kau pasti peserta yang baru mengikuti pelelangan ini... Kalian bisa menggunakan sinyal yang tersedia khusus di ruangan ini, karena sinya di ruangan ini memang disediakan untuk orang-orang yang menghadiri acara ini.”
Mr S menjelaskan hal itu kepada kami semua.
“Apa aku harus memindahkan jaringan di ponsel ini juga atau tidak?”
“Pindahkan saja Mar, mungkin ini ada kaitannya dengan aplikasi yang akan kau pasang nantinya.”
“Apa kalau aku memindahkan jaringan ini, kau masih bisa terhubung dengan jaringan hotel ini tidak?”
“Tenang saja, semua di hotel itu sudah berada di bawah kendaliku. Jadi kau tidak perlu khawatir tentang hal itu.”
Dia memang salah satu temanku yang sangat luar biasa sekali. Sangat mudah mengerjakan hal ini jika Maul sebagai pendukungnya.
Aku pun mulai memindahkan jaringanku ke dalam jaringan yang ada di ruangan itu, kemudian aku mengunduh aplikasi yang akan digunakan untuk mengikuti acara pelelangan tersebut.
“Setelah kalian selesai mengunduh aplikasi itu, kalian bisa mengisi biodata di aplikasi itu sesuai dengan biodata yang kalian isi ketika membeli tiket untuk acara ini. Lalu setelah kalian mengisi biodata kalian, di bawah sana kalian bisa memasukan nomor dari kartu debit kalian agar kalian bisa mengikuti acara pelelangan ini.”
Kartu debit?
Apa aku harus memasukan kartu yang aku punya untuk acara ini?
“Mar, kau tidak perlu mengisi biodata itu. Biar aku saja yang mengisinya, dan juga aku akan mengakali kartu debit itu.”
Ucap Maul yang juga mendengar perkataan dari Mr S.
“Kartu debit siapa yang ingin kau taruh di sana Mar?”
Tanya Riki kepadaku.
“Aku juga tidak tau, Maul kata dia akan mengakalinya.”
“Seperti yang aku duga dari Maul, walapun dia tidak berada di sini tapi dia bekerja lebih banyak dibandingkan diriku.”
Riki mulai merasa iri dengan Maul.
Aku juga bingung kenapa dia iri dengan hal itu, seharusnya dia senang karena tidak banyak bekerja.
“Aku mengajakmu ke sini bukan karena tidak ada maksud apa-apa Rik. Aku mengajakmu ke sini agar kau bisa melindungiku jika ada sesuatu yang berjalan tidak sesuai perkiraanku.”
“Tenang saja Mar, aku pasti akan melindungimu.”
Riki pun kembali bersemangat setelah mendengar hal itu dariku.
“Apa kepolisian sudah bergerak Mar?”
“Mereka juga sedang menyaksikan pelelangan ini, dia akan bergerak sesuai perintah dari Maul.”
“Hebat sekali Maul bisa memerintah polisi.”
“Namanya juga Maul.”
Selagi menunggu Maul mengotak-atik aplikasi pelelangan itu, kami mengikuti acara itu dan melihat seperti apa pelelangan yang diadakan di sini.
“Malam ini, kami memiliki lima perempuan yang akan menjadi bahan pelelangan, dan kami akan menampilkannya dari yang biasa hingga ke istimewa. Kalian semua, persiapkan uang kalian semua untuk hal itu.”
Para penonton sedikit senang ketika mendengar hal itu dari Mr S.
“Enak sekali dia berbicara itu seolah-olah para wanita yang dia culik itu adalah barang.”
Riki mulai terpancing emosinya.
“Tenang... Tenang...”
Kalau dia melakukan hal bodoh di sini akan sangat merepotkan sekali.
“Pastikan kau menenangkan Riki Mar!”
“Iya, sedang aku usahakan.”
Maul ternyata juga mendengar apa yang Riki katakan. Aku penasaran sejauh mana dia bisa mendengar ucapan kami.
“Keluarkan wanita pertamanya.”
Kemudian seseorang petugas dari belakang panggung mengeluarkan seorang wanita yang terikat tangan dan kakinya begitu juga mulutnya, dan ditaruh di atas sebuah troli dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Melihat itu membuatku sedikit marah karenanya, tapi aku berusaha menahan karena aku tidak mau membuat kesalahan di sini.
Aku tau, memang wanita yang keluar itu tidak ada hubungannya denganku. Mungkin dulu aku akan berkata.
‘Buat apa aku marah karena orang yang tidak aku kenal sama sekali.’
Mungkin aku seperti ini karena rasa kemanusiaan. Ya, aku rasa seperti itu.
Aku pun melihat ke arah Riki yang sepertinya juga marah melihat itu.
Ketika Riki melihatku, dia pun langsung menarik nafas dengan cukup panjang dan berusahan menenangkan dirinya.
Sepertinya dia sudah tau apa yang harus dia lakukan ketika dia ingin melakukan tindakan bodoh. Kalau seperti ini, aku tidak perlu khawatir kalau dia akan mengacau nantinya.
“Perempuan ini adalah seorang pelajar di kawasan Jakarta Barat, masih muda, cukup cantik, putih, dan tentunya bagus untuk jadi peneman tidur.”
Mendengar hal itu membuat Riki mengepalkan tangannya di atas meja dengan sangat kuat. Dia juga meremas kain yang menutupi meja dengan sangat kuat hingga aku melihat bekas kerutan yang tersisa setelah Riki melepaskan genggamannya itu.
“Tenang Rik.”
“Iya, aku sedang mengusahakannya.”
__ADS_1
Riki kembali mengambil nafas dengan cukup panjang lagi dan menghebuskannya.
“Apa kita akan mengikuti pelelangan ini Mar?”
“Sepertinya tidak.
“Kenapa tidak?”
“Tujuan kita di sini hanya untuk menyelamatkan Kichida, Selain itu aku belum bisa menggunakan aplikasinya karena Maul yang masih mengambil alih.”
Aku menunjukkan ponsel itu kepada Riki agar dia sedikit percaya.
“Lalu bagaimana nasib wanita malang itu Mar?”
Riki juga cemas dengan keadaan wanita itu.
“Tenang saja Rik, karena kepolisian hari ini juga akan beraksi. Pasti semua perempuan yang dilelang hari ini dan juga sebelum-sebelumnya akan selamat.”
“Aku berharap seperti itu.”
Aku juga sama sepertimu sobat... Kalau tidak seperti itu, aku merasa kasihan dengan wanita-wanita yang dilelang sebelum kita beraksi.
“Wanita ini kita buka dengan harga lima ratus juta rupiah, silahkan pasang harga terbaik kalian.”
Semua orang mulai memasang harga masing-masing di aplikasi mereka. Aku dapat melihat jumlah harga yang dipasang di layar besar yang terdapat di atas panggung.
Dan aku baru tau kalau ternyata setiap meja memiliki nomornya masing-masing.
Kemudian tiba-tiba perempuan itu terbangun dan dia terlihat terkejut sekali dengan keadaannya sekarang ini.
Dia ingin berteriak tapi mulutnya sekarang diikat dengan kain, dia ingin memberontak tapi sepertinya dia tidak memiliki tenaga. Dia pun hanya bisa pasrah dan menangis saat itu.
Aku dan Riki sama-sama memalingkan wajah kami saat melihat hal itu.
Walaupun saat itu keadaan di sekitarku cukup gelap dan wajah Riki terhalangi oleh topeng yang dia gunakan, tapi aku tau kalau Riki saat ini sedang marah sekali.
“Aku tidak bisa melihat ini lebih jauh lagi.”
“Aku juga sama.”
Akhirnya lelang pun selesai dengan harga akhir menyentuh harga tiga milyar lebih.
“Pemenangnya adalah nomor tujuh belas.”
Semua orang bertepuk tangan akan hal itu.
“Bagi pemenang bisa mengambil hadiahnya setelah acara lelang ini selesai di belakang panggung nanti.”
Kemudian perempuan itu pun dibawa masuk kembali ke belakang panggung.
“Semakin seru saja acara lelang pada malam hari ini... Perempuan tadi adalah barang pertama dan itu masih level yang biasa. Kita masih menyimpan barang-barang berkualitas tinggi yang akan kita tampilkan di akhir pelelangan, pasti kalian akan senang dengan barang malam ini.”
Para peserta pun bersorak sorai saat Mr S mengatakan hal itu.
“Apa kau belum selesai juga Mul? Aku rasa Riki sudah mencapai batasnya.”
“Algoritma yang digunakan di aplikasi ini sangat rumit sekali, aku butuh waktu cukup lama untuk memecahkannya.”
“Sebentar lagi wanita kedua yang akan dilelang, dan aku tidak tau kapan Kichida akan dilelang.”
“Kichida mungkin akan dilelang diakhir acara.”
Maul mengatakan hal itu seperti dia sudah mengetahui sesuatu.
“Kenapa kau bisa tau Mul?”
“Aku sudah melihat ke belakang panggung dengan kamera pengawas yang ada di sana, dan aku melihat setiap perempuan diletakan sesuai dengan urutannya. Kichida diletakan paling ujung dari perempuan yang dikeluarkan pertama tadi.”
Kalau sudah mengetahui ini, aku sedikit lega dan itu juga memberikan Maul waktu untuk melakukan sesuatu dengan aplikasinya.
“Bagaimana keadaan di sana Mul?”
“Keadaan di sini sangat buruk.”
“Buruk?”
“Iya, ibu dan bapaknya Miyuki marah-marah terus. Miyuki, Yoshida, dan Rina yang mulai menangis melihat nasib para perempuan yang diculik, dan Takeshi yang merasa kesal karena tidak bisa ikut denganmu. Hanya Misaki saja yang tidak peduli dengan apa yang kita lakukan dan terus bermain gim saja.”
Aku bangga dengan Misaki, sepertinya sifatku perlahan-lahan sudah mulai turun kepadanya.
“Sepertinya sulit.”
“Begitulah... Mar, jangan menggangguku dulu ya. Aku mau fokus dengan aplikasi ini terlebih dulu, nanti aku akan menghubungimu jika aku sudah selesai dengan urusanku.”
“Baiklah.”
Akhirnya kami berdua pun mau tidak mau menyaksikan acara pelelangan itu dengan wajah terpaksa dan juga berusaha untuk menahannya sampai Kichida keluar dan juga Maul selesai dengan urusannya.
“Kenapa acara seperti ini bisa ada di Indoensia?”
“Aku juga tidak tau, tapi yang aku tau malam ini adalah malam terakhir acara ini ada di sini. Aku yakin itu.”
“Semoga itu benar adanya.
Karena aku yakin bapaknya Maul akan menuntaskan ini sampai ke akar-akarnya dan akan menutup semua acara sejenis ini dimanapun itu berada. Kalau seandainya dia tidak melakukan itu, aku yang akan melakukannya ketika lulus nanti.
Mungkin dulu aku acuh dengan hal seperti ini, tapi setelah melihat nasib wanita-wanita yang dilelang, aku jadi merasa iba dengan mereka semua.
Kemudian empat wanita pun sudah terlelang dan tinggal menyisakan wanita terakhir yaitu Kichida.
“Akhirnya kita sudah sampai di wanita terakhir. Wanita ini adalah wanita yang paling spesial, dia berasal dari Jepang, masih mulus, dan memiliki wajah yang sangat cantik... Silahkan keluarkan barangnya.”
__ADS_1
Dan Kichida pun keluar dari belakang panggung sama seperti wanita-wanita sebelumnya.
-End Chapter 139-