
Senin hari telah tiba, karena ini hanya UTS, jadi kami tidak mendapatkan hari libur dan harus mengikuti kegiatan belajar mengajar seperti biasa. Kebetulan hari ini hujan turun, dan membuat kegiatan upacara bendera ditiadakan. Banyak sekali anak murid yang senang akan hal ini.
Ketika aku sampai di kelas, keadaan di sana sudah ramai murid-murid yang sedang berbincang-bincang sesama temannya.
Aku pun melihat ke arah Natasha yang sudah tiba di sana dan kelihatannya dia sedang mengerjakan sesuatu.
“Apa yang sedang kau kerjakan?”
“Aku hanya sedang memeriksa pekerjaan rumahku saja.”
Rajin sekali dia sampai memeriksa pekerjaan rumahnya.
Tunggu!
“Memangnya hari ini ada PR?”
Aku tidak tau kalau hari tidak ada PR, aku sama tidak ingat sama sekali.
“Ada,PR matematika.”
Aku pun langsung membuka buku tulis matematikaku dan memang benar ada tugas yang belum aku kerjakan.
Aku melihat jam dinding yang ada di depan kelas, karena hari ini tidak ada upacara jadi waktu masuk masih lama dan aku masih memiliki waktu untuk mengerjakan PR itu di sekolah.
“Kau memangnya belum mengerjakan Mar?”
“Iya, aku lupa.”
Aku mulai mengerjakan PR tersebut.
“Kau mau melihat punyaku?”
“Tidak, aku bisa mengerjakannya sendiri.”
Karena PR ini tidak terlalu sulit, jadi aku tidak membutuhkan hal itu.
“Kichida belum datang?”
Aku melihat bangku Kichida yang masih kosong tidak ada yang menempati. Biasanya Kichida datang lebih pagi dibandingkan diriku. Setiap aku masuk ke dalam kelas, pasti dia sudah berada di tempat duduknya.
“Belum, mungkin dia terjebak macet.”
“Iya juga.”
Memang pagi ini jauh lebih macet dibandingkan sebelumnya, apa karena hujan jadi hal itu berpengaruh?
Kemudian Riki yang baru saja dari ruang guru untuk mengambil absen tiba di dalam kelas. Setelah menaruh buku absen itu di meja guru, dia langsung pergi ke tempat duduknya.
“Kau mengerjakan apa Mar?”
Tanyanya yang melihatku sedang mengerjakan pr.
“PR matematika.”
“Tumben sekali kau kelupaan hal itu.”
Aku juga heran, padahal kemarin malam sebelum tidur, aku mengingat-ingat apakah ada tugas yang belum aku kerjakan atau belum.
“Oi Mar, aku ada memiliki sesuatu yang menarik.”
Riki berbisik kepadaku.
“Apa itu?”
“Aku melihat orang tua Kichida berada di sekolah.”
Mendengar itu membuat tanganku sejenak berhenti untuk beberapa saat.
Orang tua Kichida ke sekolah?
Hal apa saja yang mengharuskan orang tua datang ke sekolah?
Apa ini ada hubungannya dengan Kichida yang tidak masuk hari ini?
“Lalu, aku juga mendengar kalau Pak Febri dipanggil kesiswaan untuk bertemu dengan mereka.”
“Mungkin mereka hanya ingin memberikan surat sakit Kichida saja.”
Hanya itu yang bisa aku pikirkan.
Karena hari ini hari senin dan masih pagi hari, aku tidak mau memikirkan sesuatu terlalu berat terlebih dahulu. Apalagi saat ini aku sedang mengerjakan tugas matematika yang membuatku harus fokus kepada hal itu.
“Memangnya memberikan surat sakit harus kedua orang tua yang datang ke sekolah. Bukannya Kichidanya saja sudah cukup membawa surat itu ketika masuk ke sekolah.”
Perkataan Riki pun membuat pena yang pegang terhenti, dan pikiranku pun teralihkan kepada Kichida saat ini.
Benar juga apa yang dikatakan Riki.
Apa Kichida kabur dari rumah? Tidak mungkin kan?... Aku jadi sedikit khawatir.
Aku akan memastikannya kepada Miyuki nanti, aku yakin dia lebih mengetahui tentang hal ini.
“Mungkin ada sesuatu yang mengharuskan mereka datang ke sekolah.”
“Mungkin saja.”
Aku pun kembali fokus kepada pr yang harus aku kerjakan itu.
***
Teng... Teng... Teng... Teng.....
Akhirnya selesai juga!
Aku pun mengangkat tangan tinggi-tinggi dan menyandarkan diriku di kursi. Otakku lelah sekali setelah mencerna pelajaran matematika tadi.
Belum juga guru meninggalkan kelas kami, Miyuki pun datang memasuki kelas dan langsung menuju ke arahku.
“Permisi Bu!”
Sapa Miyuki kepada guru matematika yang masih berada di mejanya.
“Sedang apa kamu di sini Miyuki?”
“Aku ada urusan dengan Amar Bu.”
Aku?
Ada urusan apa dia denganku? Bukannya kalau ingin membicarakan sesuatu, dia bisa melakukan itu ketika sedang berkumpul di tempat biasa.
Miyuki pun datang menghampiri mejaku.
“Tumben sekali kau datang ke sini saat bel baru saja berbunyi Miyuki.”
Riki juga penasaran akan hal itu.
“Mar ikut aku sebentar.”
Miyuki pun langsung menarik tanganku yang membuatku mau tidak mau harus mengikutinya keluar kelas.
Melihat sikap Miyuki yang melakukan hal itu kepadaku, membuat seisi kelas ramai karenanya.
“Apa yang kau lakukan Miyuki?”
“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.”
__ADS_1
Miyuki masih menarik tanganku dan kami mulai berjalan menuju tangga. Kami pun menjadi pusat perhatian murid-murid dan guru yang sedang berada di lorong.
“Bukankah itu bisa dikatakan di dalam kelas?”
“Tidak bisa.”
Akhirnya kami pun sampai di perpustakaan yang saat itu kondisinya sedang kosong tidak ada orang. Hanya ada petugas perpustakaan yang menjaga di sana, memang perpustakaan adalah tempat tersepi setiap saat.
“Jadi?”
Aku melihat Miyuki yang saat ini wajahnya panik sekali.
“Kichida tidak pulang ke rumah.”
“Hah!?”
“Kichida menginap di rumahku dari hari terakhir UTS sampai minggu kemarin. Aku kira dia pulang ke rumahnya, tapi aku mendapatkan telpon dari ibunya kalau Kichida tidak pulang ke rumah. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan Mar.”
Miyuki pun memegang majuku dengan sangat erat sekali.
Dia sangat tertekan sekali melihat sahabatnya yang tidak tau dimana keberadaannya.
Ya, aku dapat memakluminya kenapa dia bisa sepanik itu. Apalagi saat ini kasus pencurian masih beredar walaupun kasusnya sudah tidak banyak.
“Lebih baik kau tenang terlebih dahulu Miyuki.”
Aku pun menyuruhnya untuk duduk.
“Bagaimana jika Kichida kenapa-napa.”
“Apa kichida menginap ke rumahmu karena sesuatu?”
“Dia menginap ke rumahku karena bertengkar dengan kedua orang tuanya.”
“Apa masalahnya masih sama seperti dulu?”
Miyuki pun hanya menganggukan kepalanya saja.
Hmmm...
Padahal aku tidak serius ketika mengatakan kalau Kichida kabur dari rumah tadi. Ternyata dia orang yang keras kepala sekali, sebenarnya aku sudah menduga kalau hal ini akan terjadi sebelumnya. Tapi yang tidak aku sangka adalah hal ini terjadi secepat ini.
“Aku sangat cemas sekali dengan keadaan Kichida, apalagi saat ini kasus penculikan masih ada.”
Ternyata memang itu yang dia khawatirkan.
“Apa kau tau dimana Kichida berada?”
“Kalau aku tau, aku tidak mungkin sepanik ini dan meminta bantuanmu Mar.”
Benar juga, kenapa aku bertanya hal itu?
Sepertinya kepalaku masih lelah karena pelajaran matematika tadi.
“Untuk sekarang kau tenang saja, aku akan meminta bantuan Maul untuk melacak keberadaannya.”
“Aku memohon kepadamu Mar.”
“Tenang saja, kau bisa mengandalkanku.”
Tunggu...
Baru kali ini aku tidak merasa keberatan diminta bantuan oleh Miyuki.
Sekarang yang aku lakukan adalah pergi ke Pak Febri untuk mendengar informasi darinya. Pasti orang tuanya Kichida datang ke sini untuk membicarakan masalah ini juga kepada Pak Febri.
“Siapa saja yang sudah mengetahui tentang hal ini?”
“Baru kau dan aku saja Mar.”
“Kalau begitu, jangan biacarakan masalah ini dengan yang lainnya saat sedang berkumpul, karena itu akan membuat semuanya khawatir.”
“Ada satu tempat yang ingin aku kunjungi terlebih dahulu.”
Setelah urusanku dengan Miyuki selesai, aku pun langsung pergi ke lab multimedia. Karena jarak dari perpustakaan dengan lab multimedia sangat dekat sekali, jadinya aku tidak perlu pergi jauh-jauh.
Kebetulan sekali aku bertemu dengan Pak Febri yang baru saja keluar dari dalam lab.
Memang tujuanku pergi ke lab multimedia untuk bertemu dengannya.
“Pas sekali aku bertemu denganmu di sini Mar, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan.”
Uh! Sepertinya kita memiliki pembicaraan yang sama. Kalau begitu aku tidak perlu menjelaskan maksud dan tujuanku kepadanya.
“Apa ini tentang masalah Kichida?”
“Dari mana kau tau?”
Pak Febri tersenyum mendengar hal itu.
“Informanku banyak di sekolah ini.”
Padahal aku hanya mendengar itu secara kebetulan dari Riki dan Miyuki.
“Jadi, dimana kita harus berbicara?”
“Lebih baik kita membicarakan masalah ini di ruang pertemuan saja, karena aku tidak mau ada orang yang mengganggu kita ketika sedang berbicara.”
“Baiklah.”
Kami pun pergi ke ruang pertemuan yang ada di dalam gedung olahraga. Sebelumnya aku sudah mengambil bekalku yang berada di kelas agar aku bisa langsung pergi ke DPR setelah urusanku dengan Pak Febri selesai.
“Tadi orang tuanya Kichida datang ke sekolah dan bertanya apakah Kichida masuk atau tidak. Mereka berkata kalau Kichida belum pulang ke rumah sejak izin menginap di rumah Miyuki.”
Sejauh ini informasi yang aku dapatkan masih sama dengan apa yang dikatakan oleh Miyuki.
Dari cerita Pak Febri, aku yakin kalau Kichida habis bertengkar hebat dengan kedua orang tuanya hingga seperti ini.
“Apa mereka bercerita tentang masalah yang sedang dialami oleh mereka?”
“Iya, mereka bercerita kalau mereka melarang Kichida untuk menjadi komikus, dan itu yang membuat Kichida marah hingga pergi dari rumah.”
Masalahnya masih sama, tentang cita-cita Kichida yang dihalangi oleh mereka.
“Apa bapak mengatakan sesuatu?”
“Tidak, aku tidak mengatakan apa-apa.”
“Hah!?”
Apa kau bercanda Pak?!
Itu kesempatanmu untuk membuat orang tua Kichida berubah pikiran dan membolehkan Kichida menjadi seorang komikus.
“Aku tidak mengatakan apa-apa karena melihat mereka yang sangat khawatir dengan anak mereka. Walaupun mereka bertengkar, tetapi Kichida masihlah anak mereka. Sudah pasti mereka khawatir dengan keadaan Kichida sekarang.”
“Tentu saja mereka khawatir, mana kasus penculikan saat ini masih terjadi.”
Tapi aku rasa, setelah kejadian ini. Orang tua Kichida akan berubah pikirannya dan membolehkan Kichida meraih cita-citanya itu.
Ya, aku tidak bisa jamin juga sih.
Itu tergantung mereka, apakah mereka sayang dengan Kichida atau hanya memperdulikan keegoisan mereka sendiri.
“Apa kau tau sesuatu tentang Kichida Mar?”
__ADS_1
“Aku terakhir kali berbicara dengannya saat hari terakhir UTS.”
Aku juga jarang sekali mengirimnya pesan kalau memang tidak diperlukan.
Asal kalian tau, walaupun aku memiliki nomor ponsel dari Rina, Miyuki, dan yang lainnya. Aku jarang sekali bertukar pesan dengan mereka.
Orang yang sering kali bertukar pesan denganku adalah Maul, Riki, Misaki, dan Akbar. Akbar juga baru akhir-akhir ini bertukar pesan denganku.
Oh iya, sebenarnya aku juga sering bertukar pesan dengan Natasha, tapi itu hanya untuk membahas tentang pekerjaan dan sekolah saja, selain itu kami tidak pernah membicarakan hal yang lain.
“Apa yang akan kau lakukan saat ini Mar?”
“Aku mau meminta bantuan Maul untuk mencaritahu keberadaan Kichida.”
“Sekali lagi, aku meminta bantuan kepadamu Mar.”
Pak Febri sedikit membungkukan diri kepadaku.
“Tenang saja, aku akan melakukan hal ini walaupun kau tidak menyuruhku.”
“Tumben sekali.”
“Kichida adalah teman sekelasku dan jujur saja, aku sedikit khawatir dengan keberadaannya.”
“Sekali lagi, aku meminta tolong kepadamu Mar.”
“Serahkan saja kepadaku.”
Baiklah, sepertinya urusanku di sini sudah selesai. Sekarang waktunya aku pergi ke tempat biasa untuk berkumpul bersama yang lainnya. Aku juga harus menghabiskan bekalku kalau tidak keburu waktu istirahat usai.
“Ingat Mar! Jangan lakukan hal yang berbahaya seperti apa yang kau lakukan dengan masalah Akbar.”
“Aku akan lebih berhati-hati.”
Aku akan mengatakan ini kepada Riki, karena dialah orang yang bisa membuatku berada di dalam situasi yang berbahaya.
Aku pun pergi ke tempat biasa untuk menghabiskan bekalku. Ketika aku sampai di sana, aku melihat kalau semua orang bersikap seperti biasa dan mereka sedang berbincang-bincang santai.
Sepertinya Miyuki mengikuti apa yang sebelumnya aku katakan.
Aku mulai duduk dan memakan bekalku.
Aku juga melihat ke arah Miyuki yang sedang mencoba bersikap tenang, namun sesekali aku melihat wajahnya murung sekali.
“Kamu baru saja dari mana Ar? Tumben sekali kamu telat.”
Rina bertanya kepadaku.
“Oh tadi, aku baru saja bertemu dengan Pak Febri.”
“Tumben sekali kamu pergi menemui Pak Febri saat istirahat.”
“Kami hanya membicarakan masalah pekerjaan.”
“Mar, apa ini ada kaitannya dengan Kichida.”
Riki yang berada di sampingku berbisik kepadaku.
Dia sangat penasaran sekali akan hal itu, aku yakin dari tadi dia menungguku karena merasa penasaran dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan Kichida.
“Begitulah.”
“Apa ada sesuatu yang terjadi dengannya?”
“Nanti saja aku ceritakan kepadamu jika tidak berada di sini, terlalu banyak orang.”
“OK.”
Karena dari tadi aku melihat Yoshida, Rina, dan Natasha yang melihat ke arah kami saat kami berdua sedang berbisik-bisik.
Kalau aku melanjutkan pembicaraan ini, pasti mereka akan mencurigai kami.
“Mar, aku ingin bertanya kepadamu tentang acara makan siang yang kau lakukan dengan Kak Friska berduaan saja!”
Mendengar itu membuatku sedikit terkejut, karena aku tidak menyangka kalau Maul akan mengetahui hal itu.
“Benarkah itu!? Kau curang sekali mencuri kesempatan seperti itu Mar.”
Riki yang tadi bersikap biasa saja, langsung merespon pembicaraan itu.
Aku rasa saat aku kembali ke kantor, Maul dan yang lainnya belum selesai dengan pekerjaannya dan aku langsung pergi ke atap.
Apa karyawan yang melihat kami yang memberitahunya kepada Maul?
“Aku hanya diajak Kak Friska untuk menemaninya makan siang saja.”
“Benarkah itu?”
Maul menatapku dengan tatapan curiga.
“Siapa Kak Friska?”
Yoshida kebingungan bertanya kepada Natasha.
“Dia itu sekertaris kakakku.”
“Oh kakak cantik yang berada di kantormu itu, aku mengingatnya. Ternyata kau lebih menyukai seseorang yang lebih tua Mar.”
“Aku hanya makan siang bersama saja, tidak ada yang lain.”
Aku pun menanggapi hal itu dengan santai.
“Aku tidak percaya itu, benarkah Miyuki?”
Kichida melempar pembicaraan itu kepada Miyuki.
“Eh.. iya!”
Miyuki yang tidak fokus, langsung menanggapi perkataan Yoshida.
“Apa kamu sedang tidak enak badan Miyuki?”
Rina bertanya kepada Miyuki.
“Sepertinya begitu, maaf teman-teman. Aku izin duluan terlebih dahulu.”
Miyuki pun pergi meninggalkan kami.
“Aku akan menemanimu untuk ke UKS Miyuki.”
Rina pun pergi mengikuti Miyuki.
“Apa yang terjadi dengan Miyuki?”
Natasha melihat ke arah Yoshida.
“Aku sendiri tidak tau, dia sudah seperti itu dari pagi.”
“Apa kau mengetahui sesuatu Mar? Bukannya tadi kau berbicara dengannya.”
“Tidak ada masalah apapun, mungkin dia hanya tidak enak badan saja.”
“Semoga semuanya baik-baik saja.”
Natasha pun terlihat cemas melihat kondisi dari Miyuki.
__ADS_1
Aku pun mempercepat makanku karena sebentar lagi bel akan berbunyi.
-End Chapter 132-