Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 102 : Ini Terlalu Rumit Untuk Dipikirkan Pelajar Sepertiku.


__ADS_3

Dua hari telah berlalu, perlombaan futsal sudah selesai diadakan dan pertandingan untuk kelas satu dimenangkan oleh kelas satu Administrasi Perkantoran A.


Hari ini adalah hari yang berat untukku karena saat ini hampir semua anak laki yang berada di kelasku sedang bersujud di hadapanku. Maaf, aku bercanda soal hal ini. Mereka hanya memohon biasa, tidak sampai bersujud.


Mereka semua menginginkanku untuk bermain di pertandingan basket kali ini. Dan alasan mereka sama seperti apa yang dikatakan Pak Febri kemarin, mereka semua rata-rata menginginkan sebuah piala. Mereka semua mendesakku seperti ini karena mereka telah gagal mendapatkan pialanya di olahraga futsal.


“Kelas mana yang akan dilawan pertama kali?”


Tanyaku kepada mereka semua.


“Kelas Akutansi A yang akan menjadi lawan kita nanti.”


Akutansi A ya? Aku tidak memiliki sedikit informasi dari kelas itu apakah kelas itu memiliki seseorang yang hebat dalam bermain basket atau tidak. Karena kalau mereka memilikinya, aku akan kerja dua kali lebih keras.


“Sebenarnya aku malas untuk mengikuti pertandingan ini.”


“Kami mohon!”


“Kapan pertandingan kelas kita dimulai?”


“Masih ada tiga pertandingan lagi sebelum pertandingan kelas kita.”


Ucap Riki.


Tiga pertandingan... Berarti aku masih memiliki banyak waktu untuk beristirahat sebelum pertandingan. Lebih baik aku mengumpulkan mentalku sebelum pertandingannya mulai. Sudah lama aku tidak bertanding di depan banyak orang, terakhir kali aku melakukannya saat sedang MOS.


“Baiklah, aku akan ikut bertanding.”


Mendengar itu membuat semua teman-temanku senang. Mereka pun bersorak-sorai seperti sudah kedatangan seorang pahlawan. Padahal aku tidak bisa menjamin kemenangan mereka tapi kenapa mereka sudah seheboh ini.


“Tumben sekali kau mau melakukan ini, padahal kemarin kau berkata kalau tidak mau ikut.”


Riki terlihat heran sekali.


Itu wajar saja karena dia tidak ada waktu aku berbicara dengan Pak Febri dan Miyuki kemarin.


“Tidak ada salahnya sesekali mengikuti pertandingan ini.”


“Apa nilaimu ada yang remedial Mar?”


“Tidak, kalau kau Rik?”


“Aku juga tidak ada yang harus diremedial.”


“Apa kau melihat Maul? aku belum melihatnya sejak Class Meet hari pertama.”


Aku juga selama Class Meet ini tidak pergi ke kantor karena Pak Hari tidak menyuruhku untuk pergi ke sana. Ketika pulang sekolah juga, aku tidak pernah bareng bersama dengannya. Aku hanya pulang bersama dengan Riki, Miyuki, dan Rina saja.


Aku tidak bertemu dengan Rian juga, jadinya aku tidak bisa menanyakan hal ini kepadanya.


“Mungkin dia tidak masuk.”


“Tidak mungkin orang sepertinya tidak masuk. Pasti dia masuk sekolah cuman kitanya saja yang tidak tau dimana dia.”


Aku yakin dia sedang mengerjakan sesuatu yang tidak ingin diganggu oleh orang lain.


“Kenapa kau tidak bertanya kepadanya?”


Tanya Riki kepadaku.


“Aku sudah mengirim pesan kepadanya dan dia berkata kalau dia selalu masuk ketika Class Meet.”


“Mungkin dia berada di kelas.”


“Itu bisa jadi.”


Karena setauku tempat paling sepi saat Class Meet adalah kelas.


“Apa kau mau pergi ke kelasnya Maul Mar?”


Aku melihat ke arah jam tanganku dan aku melihat ke tim yang sedang bertanding. Pertandingan babak pertama baru saja dimulai dan kalau masih ada tiga pertandingan lagi ditambah dengan waktu istirahat, aku masih memiliki banyak sekali waktu.


“Iya, sepertinya aku ingin pergi ke kelasnya dia dulu.”


Karena aku sangat penasaran dengan apa yang sedang dia lakukan.


“Aku ikut denganmu Mar.”


Akhirnya aku dan Riki pergi ke kelasnya Maul bersama-sama. Saat sampai di kelasnya, ternyata dia memang berada di sana sedang menggunakan laptopnya.


Aku dan Riki menghampirinya yang sedang fokus itu.


“Apa yang sedang kau lakukan Mul?”


Maul yang melihat aku dan Riki masuk ke kelasnya, langsung melepaskan earphone yang dia gunakan.


“Aku sedang menyelidiki kasus tentang penculikan itu.”


Benarkan apa kataku, kalau dia sedang melakukan sesuatu yang menarik.


“Apa kau tidak takut diketahui orang jika menyelidiki hal itu ketika sedang berada di sekolah?”


Aku dan Riki duduk di kursi yang berada di depannya.


“Di kelasku jarang sekali ada orang, palingan baru banyak orang ketika teman-temanku ingin beristirahat setelah bertanding. Aku juga tidak bisa menggunakan perpustakaan karena digunakan oleh guru untuk remedial.”


“Jadi sampai mana perkembangannya?”


Rasa penasaranku semakin menjadi-jadi.

__ADS_1


Maul memutarkan laptopnya ke arahku dan juga Riki dan menunjukkannya kepada kami. Di sana terdapat sebuah peta Jakarta dengan banyak sekali titik merah. Aku sama sekali tidak tau titik apa itu.


“Apa itu?”


Riki bertanya kepada Maul.


“Titik-titik merah itu adalah tempat dimana orang-orang dari kasus penculikkan itu menghilang.”


“Dari mana kau mendapatkan data itu?”


“Tentu saja dari kepolisian.”


“Apa kalian berdua ingin menyelesaikan kasus ini?”


Riki merasa kalau dia telah ketinggalan beberapa informasi dari kami berdua. Memang aku sering membicarakan hal ini hanya berdua saja dengan Maul. Bukannya aku tidak mau mengajak Riki atau apa, hanya saja waktunya yang tidak pernah pas.


“Aku hanya menyelidikinya saja dan kalau memang ada informasi yang berguna, aku akan memberitahu kepada bapakku.”


Aku melihat semua titik-titik merah itu dan mereka banyak sekali di kawasan Jakarta Barat, Pusat dan Utara. Sedangkan di Jakarta Selatan dan Timur memiliki jumlah titik yang sangat sedikit.


“Apa dari titik-titik ini sudah dapat menunjukkan sesuatu?”


Maul pun tersenyum.


“Aku sudah menemukan sesuatu yang hebat dari sini.”


Dia pun mulai memencet salah satu tombol di laptopnya dan titik-titik merah itu menghilang. Kemudian muncul beberapa tanda panah kecil di beberapa tempat yang berada di map itu.


“Aku menemukan kalau mereka menggunakan hotel sebagai tempat pelelangan. Dan tanda panah-tanda panah itu adalah hotel-hotel yang pernah mereka gunakan.”


Maul menjelaskannya kepada kami.


“Dari mana kau tau?”


“Aku sudah menyelidiki rekaman dari kamera pengawas di setiap hotel yang sudah kuberi tanda itu dan ada satu waktu di saat kamera pengawas itu mati. Kemudian yang membuatku yakin kalau hotel itu yang digunakan sebagai tempat pelelangan, karena kamera pengawas yang mati hanya di ruang aula atau ruang pertemuan saja.”


Aku melihat tanggal-tanggal yang sudah Maul catat mengenai kapan kamera pengawas itu mati dan jarak setiap hotel adalah dua minggu.


“Mungkin kamera pengawas itu mati karena dimatikan oleh petugas hotel karena sesuatu hal, itu tidak bisa digunakan sebagai bukti yang valid.”


Apa yang Riki katakan ada benarnya, bisa saja kamera pengawas yang mati itu karena sesuatu yang lain.


“Kalau memang seperti itu, kenapa hanya satu ruangan saja yang mati?”


“Tapi apa ada hotel di Jakarta yang membolehkan acara seperti itu?”


Riki dan Maul sedikit berdebat akan hal itu.


“Menurutku, selama ada uang itu tidak jadi masalah. Semua petugas hotel mungkin bisa menutup mulut mereka jika sesuatu seperti itu terjadi di hotel tempat dia bekerja. Dan juga uang yang diberikan juga jumlahnya tidak sedikit.”


Pasti uang yang mereka dapatkan dari hasil pelelangan itu sangat banyak hingga mereka dapat menyogok anggota kepolisian, menyewa hotel, dan menutup semua karyawan hotel yang bekerja di sana.


Hmmm... Menarik.


Riki bertanya kepada Maul.


“Kalau aku bisa melihat hotel mana yang kamera pengawasnya dimatikan di ruang pertemuan atau aula, mungkin aku bisa mengetahui tempat acara pelelangan pada hari itu.”


“Apa kau bisa melakukan itu dari jarak jauh seperti yang kau lakukan sebelum-sebelumnya?”


“Selama aku sudah masuk ke dalam jaringan hotel itu dan meretas komputer utama dari hotel itu yang tersambung ke kamera pengawas, aku bisa melakukannya.”


Seperti yang aku liat di dalam gim.


Kamera pengawas, hotel, ruang pertemuan, acara pelelangan. Kalau memang itu terjadi, pasti hotel yang digunakan adalah hotel yang terletak bukan di jalan besar atau hotel yang memiliki jumlah pengunjung tidak terlalu banyak. Karena kalau mereka melakukannya di hotel-hotel seperti itu, itu pasti dapat menarik perhatian.


Tapi kalau aku melihat dari hotel-hotel yang pernah digunakan berdasarkan data dari Maul. Ada beberapa hotel yang terletak di jalan besar dan salah satu hotelnya adalah hotel bintang lima. Rata-rata hotel yang dipesan juga hotel yang cukup mewah.


“Kalau kau sudah siap Mar, mari kita selesaikan hal ini sekarang juga.”


Riki mengatakan itu dengan sangat percaya diri sekali.


“Kita tidak boleh bertindak gegabah hanya karena kita mengetahui hal ini.”


Pertanyaanku saat ini hanya satu, apa mereka bisa membuat jebakan di saat seperti ini?


Seperti mereka sengaja memesan kepada karyawan di hotel lain untuk mematikan kamera pengawas di ruang aula tanpa alasan yang jelas kemudian mereka membayar karyawan hotel tersebut.


Kalau hal itu memang yang mereka lakukan, informasi seperti ini tidaklah terlalu berguna.


“Apa yang kau pikirkan Mar?”


Maul bertanya kepadaku.


“Bagaimana jika mereka menggunakan jebakan untuk hal itu.”


“Jebakan yang seperti apa?”


“Seperti mereka menyuruh satu atau dua hotel untuk mematikan kamera pengawas mereka di ruang pertemuan agar yang yang menyelidiki hal ini menjadi bingung dimana hotel yang mereka gunakan saat hari pelelangan itu. Kalau di lihat dari datamu itu juga ada sekurangnya dua hotel yang kamera pengawasnya mati di hari yang sama.”


Aku menunjukkan data yang Maul kumpulkan.


“Aku tidak terpikirkan akan hal itu.


“Kenapa masalah ini rumit sekali untuk diselesaikan. Biasanya kau dapat menyelesaikannya dengan mudah Mar.”


Riki terlihat sangat kesal sekali, rasa keadilannya itu memang cukup tinggi.


“Aku bukanlah orang hebat seperti itu, aku hanya seorang pelajar sama sepertimu dan juga Maul.”

__ADS_1


“Kalau begitu aku akan mencari bukti yang lebih kuat lagi dan tidak bisa untuk dikecoh.”


Maul kembali fokus dengan laptopnya melakukan sesuatu.


Matanya terlihat sangat serius, tangannya mengetik sesuatu dengan sangat cepat seperti pianis yang sedang melantunkan sebuah melodi klasik.


Ah! Aku ada ide.


“Bagaimana kalau kau mencoba melihat orang-orang yang berkumpul di suatu ruangan pertemuan hotel pada saat malam hari?”


“Itu ide yang sangat bagus Mar, aku akan melakukannya.”


Maul pun mulai mempercepat tangannya dalam bekerja.


“Memangnya kenapa dengan hal itu Mar?”


Riki bertanya kepadaku.


“Karena biasanya acara pelelangan itu dilakukan pada malam hari dan jarang sekali ruang pertemuan yang digunakan pada jam selarut itu. selain itu, Maul bisa memastikan apa yang terjadi di dalam sana lewat mic yang berada di ponsel orang yang berada di dalam sana.”


“Bagaimana jika hal itu jebakan juga?”


“Kalau memang seperti itu, kita tinggal mencari bukti-bukti lainnya.”


Banyak sekali kemungkinan yang terjadi di sini, dan sepertinya kita juga melawan orang-orang yang ahli dalam melakukan tindakan kriminal. Kalau kita memang ingin menyelesaikan kasus ini, kita harus membuat rencana yang matang, dengan rencana cadangan yang begitu banyak untuk mengatasi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di lapangan.


“Kita tidak bisa menggunakan cara yang tadi kau beritahu kepadaku Mar.”


Maul sudah mendapatkan hasilnya.


“Kenapa?”


“Aku tidak menemukan satupun sinyal di ruang pertemuan hotel-hotel yang kamera pengawasnya mati. Sepertinya mereka menggunakan alat yang dapat membuat sinyal mereka tidak dapat terdeteksi atau mereka memang mematikan ponsel mereka agar tidak dapat terlacak.”


“Sulit sekali menyelesaikan hal ini, pantas saja bapakmu kewalahan.”


“Tenang saja, aku pasti akan menemukan mereka dan menyelesaikan masalah ini.”


Maul kembali fokus dengan pekerjaannya.


“Mar, kelas kita sebentar lagi akan bertanding. Lebih baik kita segera pergi ke gedung olahraga, teman-teman kita sudah mencari kita.”


Riki memberitahuku setelah melihat ponselnya.


Cepat sekali waktu berlalu.


“Kalau begitu kami pergi dulu Mul, aku menunggu kabar selanjutnya darimu.”


“Serahkan kepadaku.”


Kami pun berlekas pergi menuju ke gedung olahraga. Ketika di perjalanan, Riki menanyakan sesuatu tentang hal yang kami bicarakan bersama dengan Maul.


“Mar apa yang kau lakukan jika Maul sudah menemukan lokasi yang sesuai?”


“Entahlah, aku rasa lebih baik menyerahkan hal ini kepada bapaknya Maul.”


Karena itu tidak akan merepotkanku juga.


“Polisi sekarang kondisinya sedang sangat sulit karena ada orang-orang yang disogok di sana. Apa kau masih mempercayakan itu kepada bapaknya Maul?”


“Hanya ada dua kondisi yang akan membuat aku bertindak untuk menyelesaikan kasus ini.”


“Apa itu?”


Riki pensaran dengan hal itu.


“Ketika ada teman dekatku atau keluargaku yang terkena hal ini dan juga yang kedua adalah jika selama tiga bulan ke depan kasus ini masih saja ada dan marak terjadi.”


“Kenapa tiga bulan?”


“Karena saat itu berarti polisi sudah tidak sanggup lagi menyelesaikannya. Itu terlalu lama mengingat kasus ini sudah ada sejak bulan agustus.”


“Benar juga.”


Aku memang tidak begitu yakin dengan kemampuanku dalam menyelesaikan kasus ini dibandingkan dengan kepolisian, tapi aku yakin dengan kemampuan Maul dalam mencari informasi. Aku yakin waktu tiga bulan sudah dapat membuatnya mengetahui masalah ini hingga bagian yang terdalam. Apalagi setelah melihat apa yang dia lakukan tadi, pasti dia menggunakan data yang dimiliki oleh bapaknya untuk mencari tau informasi itu sendiri.


“Aku akan membantumu jika kau akan melakukan itu Mar.”


“Terima kasih.”


Tanpa perlu berkata hal itu, aku pasti juga akan memintamu untuk membantuku Rik. Karena kau adalah satu-satunya penjagaku yang paling aku percaya akan kekuatannya. Aku juga tidak berani jika harus melakukan ini tanpa bantuan dari Riki.


Ketika aku sampai di gedung olaraga, teman-temanku sudah menungguku di sana.


“Dari mana saja kalian berdua? Aku kira kalian bersembunyi karena tidak ingin mengikuti pertandingan ini.”


Natasha memarahi kami berdua yang datang terlambat.


“Tidak perlu marah seperti itu Natasha, lagi pula pertandingannya belum mulai juga.”


Riki bersiap untuk mengganti bajunya.


“Aku malas sekali melakukan ini.”


Aku menatap ke langit-langit gedung olahraga dan melihat lampu yang menyala di sana.


“Kau harus melakukannya Mar, kau sudah berjanji.”


“Iya... Iya...”

__ADS_1


Lagi pula aku sudah berada di sini, tidak mungkin aku pergi.


-End Chapter 102-


__ADS_2