
Hari pun semakin siang, setelah singgah beberapa saat di mushala untuk melaksanakan salat zuhur. Kami pun melanjutkan perjalan kami untuk mencari rumah atau kos-kosan bapaknya Akbar saat ini.
Kami terus berjalan menuju ke titik yang di arahkan oleh map yang ada di ponselnya Maul. Hingga akhirnya kami pun tiba di sebuah kos-kosan yang tidak begitu besar. Dari luar dapat terlihat kalau kos-kosan itu hanya terdapat delapan kamar dan dua tingkat yang membaginya menjadi dua, empat kamarnya berada di lantai pertama dan yang empatnya lagi berada di lantai kedua.
“Kita sudah sampai di tempat bapaknya Akbar.”
Aku melihat ke arah kos-kosan tersebut.
“Dari mana kau tau kalau ini tempatnya Mar?”
Riki juga melihat kos-kosan itu dengan seksama.
“Titik yang ditunjukan oleh mapnya menuju ke sini, jadi aku beranggapan kalau ini rumahnya.”
Aku sudah yakin kalau lokasi yang diberikan oleh Maul sangat akurat karena Maul menentukan lokasi ini dengan menggunakan lokasi dari ponsel bapaknya Akbar. Jika seandainya bapaknya Akbar pergi dari tempat ini dengan membawa ponselnya, maka otomatis titiknya juga akan berubah.
“Lalu dimana kita mau mengawasinya? Tidak mungkin kan kalau kita berdua hanya berdiri saja di sini. Pasti warga sekitar akan mencurigai dengan apa yang sedang kita lakukan.”
Riki melihat ke sekitar untuk mencari tempat yang cocok untuk dijadikan tempat pengawasan dan juga bersembunyi. Sebenarnya kita juga tidak perlu sembunyi karena bapaknya Akbar belum mengetahui siapa kami.
Aku juga melihat ke sekitar dan aku menemukan abang tukang bakso yang sedang berjualan di dekat sana. Abang tukang bakso itu juga bukan abang tukang bakso keliling, jadi kita tidak perlu khawatir jika menunggu di sana dalam waktu yang cukup lama.
“Bagaimana kalau kita mengawasinya di tukang bakso yang berada di sana?”
Aku menunjuk ke arah tukang bakso itu.
“Itu ide yang bagus Mar, aku juga belum makan siang.”
Ucap Riki sambil tersenyum dengan sangat lebarnya.
Misi penyelamat ini terasa seperti tamasya.
“Aku juga belum makan siang sih, boleh lah kalau begitu.”
Kami pun berjalan menuju ke abang bakso itu untuk makan siang sembari mengawasi pergerakan dari bapaknya
Akbar.
“Bang baksonya satu, pakai mi kuning saja!”
Riki memesan bakso kepada penjual sambi duduk di sana.
“Satu porsinya berapa bang?”
Akan aku berikan satu tips kepada kalian. Jika kalian sedang bepergian ke manapun, pastikan untuk bertanya terlebih dahulu sebelum membeli sesuatu. Hal itu dikarenakan agar harga dari makanan atau barang yang kalian beli, harganya tidak ditembak oleh penjualnya. Apalagi jika kalian membeli makanan, hal ini harus dilakukan
sebelum memesan.
“Seporsinya sepuluh ribu Dek.”
“Saya juga baksonya satu, minya campur, jangan pedas-pedas.”
“Ok! Silahkan ditunggu Dek.”
Tidak butuh waktu lama sampai abang baksonya menyediakan pesanan kami. Kami pun langsung menyantap bakso itu sambil sesekali melihat ponsel milik Maul untuk mengawasi pergerakan dari bapaknya Akbar.
“Bagaimana Mar? Apa sudah ada perubahan?”
Tanya Riki yang sudah menyelesaikan makannya.
“Belum.”
“Apa kau yakin alat itu menunjukkan kita ke lokasi sebenarnya?”
“Aku yakin itu.”
Setidaknya aku berharap seperti itu.
Beberapa saat kemudian, aku melihat titik yang berada di map bergerak dan aku pun melihat ke arah kos-kosan tersebut.
Aku melihat ada seorang pria tua keluar dari kos-kosan bersama dengan seorang gadis kecil, karena jaraknya sedikit jauh dari tempatku saat ini, jadi aku tidak bisa melihat gadis itu dengan jelas. Mereka pun pergi dari kos-kosan itu dengan menggunakan sebuah motor.
“Ayo Rik, kita harus bergerak!”
Aku pun dengan cepat menghabiskan makanku.
“Apa lelaki tua yang baru keluar tadi itu bapaknya Akbar?”
Riki ternyata juga melihat hal itu.
“Iya.”
“Kalau begitu kita harus bergegas Mar!”
“Aku sedang melakukannya.”
Setelah menghabiskan makanan, minum, dan membayar makanan kami. Kami langsung berjalan menuju ke jalan yang dilalui oleh bapaknya Akbar.
“Bagaimana kita mengejarnya Mar? Tidak mungkin kita hanya mengikutinya dengan berjalan kaki. Setidaknya kita harus naik ojek atau bajai.”
“Kita akan menunggunya hingga mencapai ke tempat tujuan yang sebenarnya.”
“Bukankah itu akan memakan waktu yang lama?”
Benar juga, aku juga tidak bisa sepenuhnya yakin kalau bisa mengikutinya hingga ke sana. Bisa jadi di tengah jalan nanti kita akan kehilangan jejaknya.
Aku pun mengeluarkan ponselku dan mencoba untuk menghubungi Maul.
“Siapa yang kau telepon Mar?”
“Maul.”
“Halo? Ada apa Mar? Apa kau sudah bertemu dengan bapaknya Akbar?”
Maul mengangkat teleponnya.
“Aku sudah bertemu dengannya tapi dia sudah pergi lagi dengan membawa adiknya Akbar.”
“Lalu apa yang kau butuhkan?”
“Bisakah kau mengirimkan kepadaku lokasi atau tempat kosong seperti gudang yang tertinggal atau apapun yang cocok untuk menjadi lokasi transaksi?”
“Memangnya ada apa dengan lokasi sebelumnya?”
“Aku merasa kalau lokasi sebelumnya hanya jebakan saja.”
__ADS_1
“Aku sudah menduga hal itu.”
“Kalau begitu nanti kau kirimkan saja lokasinya ke ponselku ya, untuk saat ini aku akan mencoba untuk mengikutinya terlebih dahulu.”
“Baiklah, berhati-hatilah kalian berdua.”
Aku pun menutup ponselku.
“Sekarang apa yang harus kita lakukan Mar?”
Riki bertanya kepadaku.
“Untuk sekarang kita menuju ke jalan besar saja dan mencari bajai di sana.”
Sebelumnya aku mau menyarankan untuk naik taksi, tapi aku rasa biaya yang dikeluarkan akan jauh lebih mahal dibandingkan aku memesan dua ojek.
“Kita tidak jadi naik ojek? Aku rasa motor lebih bagus digunakan untuk kondisi seperti ini.”
Apa yang dikatakan Riki tidaklah salah.
“Aku kurang yakin jika abang tukang ojeknya akan mengantarkan kita, apalagi kita sedang membuntuti seseorang.”
“Baiklah, aku ikut saja dengan kau.”
Ketika kami sudah sampai di jalan besar, kami melihat sekumpulan bajai yang sedang mencari penumpangnya di pinggir jalan. Kami langsung menghampiri salah satu abang bajai yang ada di sana.
“Mau kemana Dek?”
Tanya abang bajai itu dengan ramah kepada kami.
“Bisa tunggu sebentar tidak Bang? Saya sedang menunggu teman saya untuk mengirimkan lokasi dia berada di sekarang.”
“Ok kalau begitu.”
Abang bajainya memberikan tanda jempol kepadaku.
Tidak lama berselang, ponselku pun bergetar dan aku melihat bahwa Maul sudah mengirimkan sebuah alamat kepadaku.
“Bang, tau alama ini tidak?”
Aku memberikan ponselku kepadanya.
“Oh ini mah deket Dek.”
Abang bajai itu memberikan ponselku kembali.
“Berapa Bang buat pergi ke sana?”
“Empat puluh ribu Dek biasanya mah saya kalau ke sana.”
Hmmm... Apa aku perlu menawarnya? Aku pernah melihat ibuku menawar harga yang diberikan oleh bajai ketika kami pergi ke kawasan kota tua.
“Saya kasih lima puluh ribu tapi cepat sampai sana ya Bang!”
“OK! Silahkan masuk.”
Abang bajai itu membukakan pintunya kepada kami.
Aku dan Riki pun masuk menaiki bajai itu dan kami langsung berjalan menuju ke lokasi yang diberikan oleh Maul.
“Kenapa kalian sedang buru-buru Dek?”
Tanya Abang bajainya sambil melihat ke spion yang ada di samping bajai.
“Kata temanku dia ada urusan mendadak yang menyuruh kami untuk datang cepat Pak.”
“Oh begitu.”
Abang bajainya pun mempercepat laju bajainya.
“Apa titik dari bapaknya Akbar juga mengarah ke lokasi itu Mar?”
“Iya, titiknya menuju ke sana.”
Aku memperlihatkannya kepada Riki.
“Hebat sekali Maul bisa menemukannya dalam waktu yang cepat.”
“Sepertinya dia hanya mengambil tepat kosong yang berada di sekitar sini dan tempat itu hanya satu tempat saja.”
Karena kalau tempat itu ada banyak, pasti dia akan sedikit lama untuk menemukannya.
“Lalu apa yang akan kita lakukan setelah sampai di sana?”
“Lebih baik kita membahasnya nanti.”
Aku pun memberikan tanda kepada Riki dengan mataku kalau saat ini sedang ada orang lain yang mendengar pembicaraan mereka. Riki mengetahu apa maksudku dan dia pun menjadi diam.
Akhirnya kami pun sampai di sebuah gudang yang sepertinya sudah tidak terpakai lagi. Tidak jauh dari gudangnya terdapat pemukiman warga yang cukup padat. Aku melihat sebuah gerbang yang sangat besar untuk memasuki gudang tersebut, pintu gerbangnya sudah berkarat karena mungkin sudah lama tidak digunakan lagi.
“Terima kasih Bang, kita sampainya jadi cepat!”
Aku membayar abang bajai itu.
“Sama-sama Dek.”
Abang itu pun akhirnya pergi meninggalkan kami berdua.
Kami langsung mendekat ke gerbang gudang itu untuk mencari tau cara masuk ke sana.
“Apa kita harus masuk dari depan?”
Riki memegang pintu gerbang yang berkarat itu.
“Tidak mungkin, kalau lewat depan kita pasti akan ketahuan.”
Aku melihat kalau gerbang itu tidak terkunci, aku bisa saja membukanya sekarang. Tapi hal itu sangat mencolok. Pasti gerbang ini akan menimbulkan suara yang cukup keras jika kita membukanya dan hal itu akan membuat kita ketahuan.
“Lalu apa yang harus kita lakukan?”
“Mungkin kita akan mengitari gudang ini terlebih dahulu sambil mencari jalan lain untuk ke sana.”
“Apa bapaknya Akbar sudah berada di dalam sana?”
Aku hanya menunjukkan ponselku kepada Riki agar dia melihatnya sendiri.
__ADS_1
“Kalau begitu aku mau bertanya kepada warga sekitar terlebih dahulu.”
Riki pun pergi ke sebuah warung yang berada tidak jauh dari sana untuk bertanya. Tidak lama kemudian dia kembali dengan membawa dua buah botol air mineral.
“Bagaimana?”
“Kalau kata ibu warung tadi, gudang ini sudah lama tidak digunakan oleh pemiliknya tapi masyarakat sekitar sering menggunakannya untuk acara karena di dalam gudang ini memiliki lapangan yang cukup luas, tapi hanya hari-hari tertentu saja gudang ini digunakan tidak setiap hari.”
Riki memberikan salah satu botol air mineralnya kepadaku.
“Lalu bagaimana caranya kita bisa masuk ke dalam sana?”
“Aku tidak bertanya tentang hal itu.”
“Berarti kita harus mengitari gudang ini terlebih dahulu.”
Kami mulai mengitari gudang tersebut untuk mencari tempat yang cocok untuk menjadi jalan masuk bagi kami. Walaupun kami tidak menemukan pintu lain untuk digunakan masuk, setidaknya kami menemukan sebuah dinding yang mudah untuk dipanjat. Karena dinding yang berada di sekitar pintu masuk tadi di atasnya terdapat pecahan beling yang ditancapkan agar tidak ada orang yang memanjat dinding tersebut.
Hingga akhirnya setelah kita hampir mengitari seperempat gudang tersebut, kami menemukan satu sisi dinding yang tidak terdapat pecahan beling namun dinding tersebut cukup tinggi untuk dipanjat, mungkin ukurannya dua kali tinggi badanku.
Aku juga melihat ke sekitar apakah tempat itu sepi atau tidak. Karena kalau kita ketahuan memanjat dinding ini dan kebetulan dilihat oleh orang lain, pasti mereka akan mencurigai kita.
Sip, sekarang keadaannya cukup kosong dan tidak ada orang yang melintas. Mungkin karena sekarang masih siang jadi orang malas untuk keluar rumah karena keadaan yang cukup panas.
Aku pun menghampiri Riki yang sedang menyentuh dinding tersebut dan melihat ke atasnya.
“Apa dinding ini bisa dipanjat?”
“Kalau seandainya ada tumpuan untukku meloncat, mungkin aku bisa memanjatnya.”
“Ok, aku akan menjadi tumpuanmu.”
Aku berdiri membelakangi dinding dan kemudian aku sedikit menekuk lututku dan memasang kuda-kuda. Kedua tanganku pun aku satukan dengan telapak tangan yang menghadap ke atas.
“Ayo Rik, aku siap!”
Riki berjalan menjauh dariku untuk mengambil jarak untuknya berlari, kemudian setelah itu dia melepaskan gesper yang dia gunakan.
“Untuk apa kau melepaskan gespermu?”
“Nanti gesper ini buat pegangan kau saat aku sedang berhasil memanjat temboknya.”
“Baiklah.”
Riki pun mengambil ancang-ancang dan kemudian dia berlari dengan cukup kencang. Ketika dia sudah berada di dekatku, dia sedikit meloncat dan memijakkan kaki kanannya di tanganku. Aku langsung mendorong kakinya ke atas agar dia mendapatkan dorongan tambahan untuk meloncat.
Dan Hap! Dia berhasil menggapai atas dindingnya.
Sebelum berpindah ke sisi satunya lagi, Riki memeriksa kondisi di dalam sana.
“Bagaimana Rik?”
“Aku sama sekali tidak melihat ada orang.”
Tentu saja, kan gudang ini sudah lama tidak digunakan.
Riki mulai berpindah ke sisi satunya dan kemudian dia menjulurkan gespernya ke bawah agar aku dapat memanjat dinding itu.
Aku pun mulai memanjat dinding itu dengan bantuan gesper dari Riki dan kami berdua berhasil masuk ke dalam gudang itu.
“Tidak sia-sia waktu kecil aku sering memanjat dinding komplek dekat rumahku untuk mengejar layangan.”
Aku berusaha mengatur nafasku kembali. Walaupun terlihatnya mudah, tapi memanjat dinding denga ketinggian dua kali tinggi tubuhku sunggu memakan banyak tenaga.
“Aku juga.”
Di dalam sana terdapat tiga bagunana yang cukup besar sekali.
“Gudang ini besar sekali.”
“Mungkin gudang ini mulik salah satu ekspedisi yang ada di Indonesia.”
“Heee....”
Aku pun melihat sesuatu dan mulai memperlambat langkahku.
“Ada apa Mar?”
“Lihat itu.”
Aku menunjuk sebuah motor yang terparkir di dekat pintu masuk salah satu bagunan yang ada di sana.
“Itu motor yang sama dengan yang bapaknya Akbar bawa tadi.”
“Untuk saat ini kita harus lebih waspada.”
Karena aku sama sekali tidak tau apa yang sedang menunggu kita di depan sana.
Kemudian aku melihat Riki yang sudah menggunakan masker di wajahnya.
“Untuk apa kau menggunakan itu?”
“Tentu saja agar kita tidak ketahuan saat di dalam nanti.”
“Aku rasa itu tidak perlu.”
“Benarkah! Kalau begitu ya sudah.”
Riki pun melepaskan maskernya itu dan memasukan ke dalam saku celananya.
Kami berdua mengendap-endap ke dalam untuk melihat apa yang terjadi di sana.
Kami pun mengintip ke dalam gudang tersebut dan aku melihat seorang lelaki tua yang aku yakini kalau itu adalah bapaknya Akbar sedang menelpon seseorang bersama dengan adiknya Akbar. Tapi saat ini adiknya Akbar dalam keadaan tidak sadarkan diri dan didudukan di sebuah bangku yang berada di dekatnya.
Aku melihat sebuah kontainer yang sudah tidak terpakai memenuhi sisi ruangan itu.
“Kita bersembunyi di sana Rik.”
Aku menunjuk salah satu kontainer itu.
“Ok.”
Kami pun mencoba masuk ke dalam dan berjalan secara perlahan-lahan agar tidak ketahuan oleh bapaknya Akbar kemudian bersembunyi di balik kontainer yang ada di sana.
Aku bersyukur saat itu bapaknya Akbar sedang menelpon jadi dia tidak begitu sadar kalau kami berada di sana.
__ADS_1
-End Chapter 111-