Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 112 : Misi Penyelamatan Bagian Keempat.


__ADS_3

Saat ini, aku dan Riki sedang bersembunyi di balik sebuah kontainer yang berada di dalam gudang yang sangat besar sekali. Di sana banyak sekali terdapat kontainer-kontainer yang sudah berkarat dan tidak digunakan lagi.


“Apa kita akan menunggu di sini sebentar?”


Riki bertanya kepadaku yang sedang mengintip untuk mendengarkan pembicaraan bapaknya Akbar dengan seseorang yang sedang diteleponnya.


“Iya, aku ingin mendengarkan apa yang mereka bicarakan terlebih dahulu. Jadi untuk saat ini kau diam sebentar.”


“Apa Maul masih lama untuk tiba di sini?”


Riki bertanya kembali.


“Aku belum menghubungi Maul lagi.”


“Segera hubungi Maul Mar, sepertinya orang yang ingin membeli akan segera datang.”


Riki terlihat khawatir kembali, biasanya jika dia seperti ini dia akan mulai susah untuk mendengarkan perkataanku.


“Lebih baik kita diam terlebih dahulu, dan dengarkan pembicaraan mereka.”


Kami berdua pun diam dan mulai memasangkan kuping kami untuk mendengarkan pembicaraan mereka dengan seksama.


“Aku sudah membawa anakku bersama denganku dan sudah siap untuk diambil... Apa kau membawa uangnya?”


Kemudian setelah bertanya hal itu, bapaknya Akbar terdengar sangat senang sekali. Bahkan dia tidak merasa iba melihat anaknya yang saat ini sedang tidak sadarkan diri.


Apa yang dia gunakan untuk membuat anaknya tidak sadarkan diri? Apa dia menggunakan semacam obat tidur untuk itu?


Itu bisa saja.


Kalau memang dia menggunakan obat tidur, pasti dosisnya sangat tinggi hingga membuat dia tidak sadarkan diri seperti itu.


“Apa yang akan kita lakukan sekarang Mar?”


“Kita menunggu saja.”


“Membosankan sekali.”


Riki mulai mengeluh.


“Saat ini, menunggu adalah langkah terbaik untuk kita lakukan. Kalau kita salah langkah, rencana ini bisa-bisa gagal Rik.”


“Tapi aku bosan sekali Mar!”


Sifat kekanak-kanakannya Riki sudah mulai keluar.


Apa yang harus aku katakan kepada dia di saat seperti ini. Memang merepotkan jika dia sudah seperti ini.


“Kau harus menahannya Rik, kau sudah berjanji kepadaku untuk tidak bertindak sendiri di saat seperti ini.”


Aku mengingatkan hal itu kepada Riki.


“Lalu apa langkah selajutnya untuk mencegah pembelinya datang ke sini?”


“Kita akan membiarkan penjualnya datang dan melakukan transaksinya di sini.”


“Setelah itu?”


“Kita akan mencoba untuk menahan mereka sampai polisi datang ke sini.”


Karena kalau kita sudah mencegahnya sebelum polisi datang, itu sama saja melepaskan kesempatan emas. Kalau pembeli itu berhasil ditangkap, setidaknya kepolisian memiliki informasi yang lebih tentang kasus penculikan.


Selain itu aku juga mau membuktikan apakah penjualan manusia benar ada atau tidak. Karena selama itu kasus penjualan manusia hanya perkiraanku saja. Walaupun Maul berkata kalau bapaknya juga memikirkan tentang penjualan manusia. Kalau aku belum mendengarnya sendiri, aku masih belum percaya.


“Baiklah, aku akan berusaha untuk mengikuti apa perkataanmu.”


Riki pun kembali tenang dan kami kembali mengawasi bapaknya Akbar.


Tidak lama kemudian, muncullah seorang lelaki yang membawa dua buah koper di kedua tangannya. Satunya berukuran sangat besar yang dia bawa di tangan kananya dan satunya lagi berkukuran kecil yang dia bawa di tangan kirinya.


Aku pun mengamati sekitar ketika orang itu mendekati bapaknya Akbar. Aku sama sekali tidak melihat ada orang lain yang datang bersamanya.


Aku penasaran, apa dia sebenarnya menyiapkan orang di luar atau dia datang seorang diri.


Kalau seandainya dia memang datang seorang diri, mungkin aku dan Riki dapat mengatasinya. Tapi masalahnya berbeda jika ada orang lain yang datang bersamanya, apalagi dia membawa seorang penjaga berasamanya, aku rasa Riki juga tidak akan sanggup untuk melawannya.


“Apa yang ada di dalam koper sebesar itu?”


Pandangan Riki mulai terfokus kepada lelaki yang baru datang itu.


“Aku rasa koper yang besar itu isinya kosong, sedangkan yang kecil berisi uang yang akan diberikan kepada bapaknya Akbar.”


Karena aku sering melihat koper yang kecil itu di acara uang kaget yang ada di televisi.


“Buat apa dia membawa koper kosong Mar?”


“Mungkin saja untuk memasukan adiknya Akbar ke dalam sana.”


Mendengar itu membuat Riki sangat terkejut sekali.


“Membawa orang!?”


“Aku pernah melihat di salah satu film aksi, ada penjahat yang memasukan tubuh korbannya itu ke dalam koper sebesar itu sebelum dia buang di tempat yang tidak bisa dideteksi oleh polisi.”


Kalau tidak salah aku menonton film itu waktu pergi ke bioskop bersama dengan Miyuki waktu SMP.


“Memang orang yang dimasukan ke dalam koper itu tidak mati karena kehabisan nafas?”


“Mereka masih bisa bernafas walaupun sangat minim.”


Walaupun aku sendiri tidak tau bagaimana rasanya bernafas di dalam koper yang tertutup rapat.


“Aku kasihan dengan adiknya Akbar.”


“Untuk saat ini jangan pernah bertindak sendirian apapun yang terjadi.”


Aku menekankan itu kepada Riki, karena aku berfirasat kalau kejadian yang akan terjadi kedepannya akan membuat emosi Riki menjadi tidak stabil dibuatnya.


“Kenapa Mar? Bukannya seharusnya kita bertindak sesegera mungkin.”


“Aku ingin menggali informasi tentang penculikan dan perdagangan manusia ini, jika ada informasi yang cukup berharga seperti lokasi diadakannya pelelangan, itu sudah cukup buatku dan kita bisa segera mengamankan mereka berdua.”


Aku tidak tau apakah kita bisa mengatasi mereka atau tidak. Aku juga tidak tau apakah mereka ada yang membawa senjata.


“Aku tidak tau apakah aku bisa menahannya atau tidak.”

__ADS_1


Riki mulai ragu dengan hal itu, rasa percaya dirinya mulai menghilang sedikit demi sedikit.


“Kau harus bisa menahannya.”


“Aku tidak sanggup melihat hal seperti itu terjadi dihadapanku Mar, apalagi aku juga memiliki seorang adik.”


“Aku tau bagaimana rasanya, aku juga memiliki seorang adik dan adikku itu perempuan. Jadi untuk saat ini berhentilah berdebat terlebih dahulu Rik. Aku butuh fokus yang lebih untuk mendengarkan apa yang mereka bicarakan.”


Huh! Emosiku mulai naik hanya karena sifatnya Riki.


“Baiklah, aku akan mencobanya.”


Orang itu mulai mendekati bapaknya Akbar dan mereka berdua mulai bersalaman.


“Ini adalah anakku yang aku bilang waktu itu.”


Bapaknya Akbar menunjukkan putrinya kepada orang itu.


“Tidak buruk, mungkin anak ini akan laku dengan harga yang cukup tinggi.”


Orang itu mulai melihat adiknya Akbar ke seluruh tubuh.


“Ini uang yang waktu itu dijanjikan.”


Orang itu memberikan koper kecil kepada bapaknya Akbar, dan bapaknya Akbar sangat senang mendengarnya.


“Aku ingin memeriksanya terlebih dahulu.”


Bapaknya Akbar membuka koper itu dan menemukan uang yang sangat banyak sekali.


“AKHIRNYA AKU KAYA!!!”


Bapaknya Akbar mengambil beberapa uang yang ada di koper itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi.


Aku tidak bisa melihat seberapa banyak uang yang didapatkan oleh bapaknya Akbar karena pandanganku yang terhalangi oleh bapaknya Akbar sendiri.


Aku melihat lelaki itu mulai mengikat tubuh adiknya Akbar dan menutup mulutnya dengan sebuah kain.


“Kau bantu aku memasukan anak ini ke dalam koper.”


Lelaki itu meminta bantuan kepada bapaknya Akbar.


“Baik!”


Bapaknya Akbar membuka koper besar itu dan mereka bersiap untuk memasukan adiknya Akbar ke dalam koper itu.


“Aku tidak bisa diam saja ketika melihat hal seperti ini.”


Tanpa basa-basi, Riki langsung berlari untuk mencegah hal itu.


Lelaki itu bersama bapaknya Akbar terkejut melihat Riki yang muncul dari balik kontainer.


Dasar orang itu! Dia bertindak sendiri lagi. Kalau sudah seperti ini, aku mau tidak mau membuat ulang rencanaku.


Lelaki itu dan Bapaknya Akbar menjaga jarak dan menjadi waspada kepada Riki.


Aku pun mendapatkan panggilan masuk dari Maul.


“Ada apa Mul? Saat ini aku sedang berada di posisi yang sangat genting karena ada orang bodoh yang bertindak seenaknya sendiri.”


“Aku sudah bertemu dengan bapaknya Akbar dan juga orang yang ingin membeli adiknya Akbar.”


Aku masih melihat Riki yang berusaha berbicara terlebih dahulu dengan kedua orang itu. Aku melihat lelaki itu sangat kesal dengan bapaknya Akbar karena dia membiarkan orang lain mengetahui tempat transaksinya.


Kalau dilihat dari reaksinya, sepertinya lelaki itu datang ke sini seorang diri. Itu sangat ceroboh sekali untuk seseorang yang sudah ahli dalam hal ini.


“Itu bagus, kau harus menahan mereka sampai aku datang Mar.”


“Riki sudah melakukannya?”


“Hah? Sebenarnya apa yang terjadi di sana?”


Maul menjadi bingung sekaligus penasaran akan hal itu.


“Saat ini aku tidak memiliki waktu untuk menjelaskannya kepadamu, aku akan menjelaskannya saat kau sampai di sini.”


“Apapun yang terjadi tahan mereka berdua Mar, ini bisa menjadi informasi yang berharga.”


Aku juga tau itu Mul, tenang saja. Seandainya Riki tidak bertindak sendiri, mungkin rencana ini jauh lebih mulus lagi.


“Aku akan melakukannya semampuku.”


Aku pun menutup telepon dari Maul dan mulai mendengarkan pembicaraan dari mereka bertiga.


“Sedang apa kau disini?!”


Bapaknya Akbar terlihat panik sekali melihat kemunculan Riki yang sangat tiba-tiba.


“Kau sudah melanggar perjanjian kita, kau sudah membiarkan orang lain untuk mengikutimu dan mengetahui tempat transaksi kita.”


Pembeli itu sangat marah sekali kepada bapaknya Akbar. Pembeli itu pun melepaskan adiknya Akbar dan berjalan menghampiri bapaknya Akbar.


“Aku sama sekali tidak mengetahui siapa anak itu.”


Bapaknya Akbar sudah mengetahui kalau pembeli itu berusaha untuk meminta uangnya kembali. Dia pun memegang koper kecil itu erat-erat dengan kedua tangannya.


“Kembalikan uangnya!”


Pembeli itu memaksa bapaknya Akbar mengembalikan uangnya kembali.


“Tidak.”


Bapaknya Akbar tetap enggan untuk memberikannya.


Terjadi cekcok antara kalian berdua, Riki pun juga tidak berani untuk mendekati adiknya Akbar saat ini karena jaraknya yang lumayan jauh darinya.


“Begini saja, bagaimana kalau kita bunuh anak ini di sini dan kita sembunyikan mayatnya di sini. Tidak akan ada orang yang tau kalau di sini pernah ada pembunuhan dan terdapat sebuah mayat.”


Bapaknya Akbar menawarkan pilihan kepada pembeli itu.


“Aku tidak mau mengotori tanganku. Kalau kau ingin melakukan hal itu, lakukanlah sendiri.”


Lihat Rik, kau saat ini sedang berada di posisi yang sangat genting. Nyawamu di sini sangat dipertarukan loh.


Bapaknya Akbar meletakan kopernya dan mengeluarkan pisau yang dia sembunyikan dari balik jaketnya. Dia mulai berjalan untuk menghampiri Riki.

__ADS_1


Pisau sudah terkonfirmasi.


Satu-satunya masalah adalah aku tidak tau apakah pembeli itu membawa senjata juga atau tidak. Kalau aku keluar dan pergi untuk membantu Riki, itu akan sangat berbahaya bagi kami berdua. Tidak, adiknya Akbar juga berbahaya karena dia bisa saja dijadikan sandera.


Aku pun melihat ke sekitar ruangan itu dan mencari apakah ada yang bisa aku lakukan untuk memperlama hal ini, mumpung posisiku belum diketahui oleh siapa-siapa.


Tapi tidak ada satupun yang aku bisa gunakan untuk memperlama hal ini.


Aku pun melihat lagi ke arah mereka dan Riki mulai berkelahi dengan bapaknya Akbar.


Bapaknya Akbar mencoba untuk menusuk Riki dengan menggunakan pisaunya tapi Riki dengan mudahnya menghindari hal itu.


Dia pun mencengkram tangan bapaknya Akbar dengan kuat yang membuat pisau yang dipegang olehnya terjatuh dan Riki langsung menendang pisau itu jauh ke belakang tepatnya ke dekatku.


Aku mengambil pisau itu untuk perlindungan diri, siapa tau dibutuhkan.


Riki langsung mengunci tangan bapaknya Akbar dan membuat dia tidak bisa bergerak.


“Bisakah kau menyerah dan tinggalkan tempat ini?”


Riki mencoba untuk bernegosiasi padahal dia tidak pernah melakukannya sekalipun.


Orang itu tersenyum melihat bapaknya Akbar yang dikalahkan oleh Riki.


“Sama anak kecil saja kau kalah, memang kau tidak bisa diandalkan.”


Bapaknya Akbar sama sekali tidak bisa berkata apa-apa karena menahan rasa sakit dari tangan yang dikunci oleh Riki.


Memang kuncian dari Riki sangatlah kuat dan menyakitkan, kalau kau berusaha untuk melepaskan diri sedikit saja, itu dapat membuat tanganmu patah.


“Tidak mungkin aku melepaskan barang mahal seperti ini. kalau dipelelangan nanti, mungkin harganya bisa dua kali dari apa yang telah aku keluarkan saat ini. Lagi pula kalau aku tidak bisa membawanya, aku bisa dimarahi nantinya.”


Dimarahi? Apa dia dibekerjakan oleh seseorang untuk melakukan hal ini.


Aku pun melihat ke arah pintu masuk dan memang tidak ada orang lagi yang memasuki pintu tersebut.


Berarti sesuai dengan dugaanku tadi.


Seharusnya kalau dia membawa penjaga bersamanya di saat seperti ini, penjaganya seharusnya sudah masuk untuk mengamankan Riki.


Kalau begitu aku tidak perlu takut untuk bergerak ke depan. Masalahnya sekarang adalah senjata yang dia bawa.


“Aku tidak akan membiarkanmu pergi dari sini dengan mudah!”


Ancam Riki kepada pembeli itu, matanya saat ini terlihat sangat serius sekali.


“Apa yang bisa kau lakukan memangnya?”


Pembeli itu memandang remeh Riki. Dia tidak merasakan ancaman apapun dari kehadiran Riki.


“Melawan dua orang sekaligus sangatlah mudah bagiku.”


Oi-oi-oi... Seharusnya di saat seperti ini kau tidak perlu memancing-macing emosinya Rik. Saat ini yang ada di dalam bahaya sebenarnya kau.


Kemudian perhatianku pun terfokus kepada sebuah bentuk yang terdapat di jaket lelaki itu. Dari bentuknya aku bisa tau kalau itu adalah pistol.


Ternyata selama ini dia menyembunyikan sebuah pistol di balik jaketnya. Kalau seperti ini, Riki akan berada di dalam bahaya.


Memang dia bisa menghindari pisau dengan mudah, tapi tidak peluru yang dilepaskan dari sebuah pistol.


Aku pun langsung mencari jalan memutar untuk mendekati lelaki itu tanpa di ketahui.


Aku bersyukur karena digudang ini banyak sekali kontainer yang dapat aku gunakan untuk bersembunyi selagi aku berusaha untuk mendekati lelaki itu.


Bertahanlah Rik, aku pasti akan menyelamatkanmu kali ini.


“Kau bisa pergi dari sini dengan selamat jika kau mau.”


Orang itu menawarkan sebuah tawaran kepada Riki.


“Lebih baik aku pergi dari sini dengan luka daripada aku pulang selamat namun memiliki rasa penyesalan.”


Apa yang baru saja kau katakan itu memang keren Rik, tapi itu sangat bodoh sekali jika di saat seperti ini.


Aku masih berusaha untuk mendekati lelaki itu, dan saat ini jarakku dengannya sudah sangat dekat dan aku berada di belakangnya saat ini. Tinggal menunggu waktu yang pas sampai aku bisa menerkamnya dari belakang.


“Kau ternyata anak yang nekat ya.”


“Aku sudah muak dengan apa yang kalian lakukan ini.”


“Rasa keadilan di dirimu sangat besar sekali, tapi dunia ini tidak seindah yang kau pikirkan anak muda. Dunia ini terlalu busuk untuk orang suci sepertimu.”


Lelaki itu mulai memegang gagang pistolnya yang masih tersembunyi di balik jaketnya.


Aku tidak tau apakah Riki sudah menyadarinya atau belum,


“Dunia ini busuk karena banyak orang sepertimu!”


“Untuk ukuran seorang remaja, kau cukup berani juga ya.”


“Aku sudah terbiasa di dalam kondisi seperti ini.”


“Aku mengakui keberanianmu anak muda.”


Lelaki itu mulai menodongkan pistolnya kehadapan Riki dengan tangan kananya dan Riki tidak terkejut sama sekali. Berarti dia juga sudah menyadari kalau orang itu membawa pistol di jaketnya.


Kalau begitu kenapa kau bisa senekat itu, dia memang monster.


“Sepertinya hari ini kau sangat sial sekali, jika seandainya kau bersikap baik dan pergi dari sini, mungkin kau masih bisa bersenang-senang dengan teman-temanmu.”


“Heee... Aku rasa hari ini kau yang sangat sial karena harus bertemu dengan kami.”


“Apa!?”


Aku pun langsung menerkamnya dari belakang dan memukul tangan kanan lelaki itu dengan gagang pisau yang saat ini aku bawa dan membuat pistolnya terjatuh.


Kemudian aku mengarahkan pisau yang kupegang ke arah lehernya seakan aku ingin menyembelihnya saat ini.


“Kau lama sekali Mar.”


Riki tersenyum melihatku.


“Kau merepotkanku Rik.”


-End Chapter 112-

__ADS_1


__ADS_2