
Akhirnya selesai juga...
Tanganku tiba-tiba menjadi lemas dan diikuti dengan semua tubuhku yang mendadak lemas. Aku langsung duduk begitu saja di lantai dengan tangan yang masih gemetar. Mungkin efek adrenalin yang berhasil keluar tadi sudah habis saat ini karena sudah merasa aman.
Aku melihat ke arah telapak tanganku yang saat ini masih gemetar. Aku tidak tau kalau mengancam untuk membunuh seseorang dapat menimbulkan efek seperti ini.
“Apa yang habis kalian berdua lakukan? Sepertinya kau sangat lelah sekali.”
Maul kebingungan melihatku yang seperti ini, karena dia sama sekali tidak pernah melihatku kelelahan melakukan sesuatu.
“Aku baru saja melakukan sesuatu yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya. Aku bersyukur tidak perlu membunuh seseorang.”
“Membunuh! Memangnya apa yang kau lakukan?”
Maul terkejut saat mendengarkan hal itu.
“Aku akan menceritakannya ketika sudah sampai di rumah atau di tempat yang enak untuk bercerita.”
Karena saat ini aku terlalu lelah bahkan untuk berbicara sekalipun. Banyak hal yang aku pikirkan saat ini tentang penculikan tersebut.
“Putri!”
Akbar bersama dengan bibi dan pamannya langsung menghampiri adiknya yang masih tertidur.
“Apa yang bapak lakukan kepada Putri Pak!?”
Tatapan tajam Akbar tertuju kepada bapaknya yang sedang ditahan oleh anggota polisi.
“Aku hanya memberikan obat tidur saja kepadanya.”
Bapaknya Akbar sudah pasrah dengan takdir yang menantinya, selain itu karena salah satu lengannya sudah patah akibat memberontak tadi, dia pun harus menahan rasa sakit dari hal itu.
“Kenapa kau melakukan hal ini!?”
Akbar terlihat sangat marah sekali kepada bapaknya.
“Kau sendiri yang tidak memberiku uang! Ini salahmu! Kalau seandainya kau memberikan uang kepadaku, aku pasti tidak akan melakukan hal ini.”
Bapaknya Akbar malah memarahi Akbar balik, dia seperti tidak memiliki rasa malu telah melakukan hal yang sangat buruk kepada anaknya.
“Tolong bawa dia pergi bapak-bapak polisi, aku tidak mau melihat wajahnya untuk saat ini.”
Akbar berusaha menahan emosinya.
Dia memang anak yang hebat di salah satu sisi, aku perlu banyak belajar darinya.
Polisi itu pun membawa bapaknya Akbar pergi dari gudang.
“Ternyata kalian berdua adalah anak yang cukup nekat ya. Sepertinya aku harus memarahi kalian berdua nanti.”
Bapaknya Maul menghampiri kami dan dia hanya menggelengkan kepalanya saja karena melihat apa yang aku dan Riki buat. Sebenarnya Maul juga terlibat dalam hal ini, tapi karena tugas dia hanya mengumpulkan informasi dan tidak terjun ke lapangan, sepertinya dia tidak akan dimarahi oleh bapaknya.
“Boleh saja asalkan jangan sekarang.”
Karena aku tidak mau dimarahi oleh seseorang dalam keadaan lemas seperti ini. Itu akan membuat kepalaku menjadi pusing.
“Lalu siapa orang yang sedang ditahan oleh Riki?”
Bapaknya Maul menghampiri orang itu.
“Dia adalah kurir dari orang yang akan melakukan pelelangan.”
“Dari mana kau tau?”
“Aku sudah sedikit mengintrograsinya sedikit tadi.”
Kemudian anggota kepolisian yang lain pun mengamankan orang tersebut dan membawanya pergi.
“Nanti aku akan bertanya-tanya kepada kalian terkait kejadian hari ini. Karena kalian yang mengalami secara langsung, jadi aku bisa menjadikan kalian sebagai saksi di dalam hal ini.”
Hal melelahkan lainnya yang harus aku lakukan.
“Kapan Om ingin melakukan itu?”
“Mungkin besok, karena hari ini aku ingin mengintograsi orang-orang tadi dulu. Selain itu hari ini juga banyak pekerjaan yang harus aku lakukan untuk mengatasi masalah ini.”
Sulit sekali menyelesaikan misi secara diam-diam seperti itu.
Tapi tidak apa selagi dia tidak melakukannya hari ini. Karena saat ini aku hanya ingin tidur saja, punggungku sudah lelah sekali ingin tidur di kasur yang empuk.
“Baiklah, polsek mana yang harus kami datangi untuk besok?”
“Kalian datang saja ke rumah, karena lebih nyaman untuk membicarakan hal itu di sana.”
“Apa tidak masalah melakukan hal itu selain di polsek?”
“Tidak masalah, lagi pula aku mungkin akan memanipulasi data dari kasus ini dan menghilangkan nama kalian berdua dalam data tersebut.”
Aku sangat berterima kasih kalau kau bisa melakukan hal itu. Karena aku sama sekali tidak mau namaku terdapat di kantor kepolisian walaupun hal yang tercantum di sana adalah hal baik.
“Baik, besok aku akan datang ke rumahnya Maul.”
“Untuk hari ini kalian bisa istirahat terlebih dahulu saja. Aku yakin kalau kalian berdua baru saja melewati hari yang panjang.”
Tentu, hari ini adalah hari yang sangat panjang menurutku. Bahkan aku bisa bilang kalau hari ini adalah hari yang sangat tidak aku duga.
Kemarin malam, aku memiliki rencana untuk menghabiskan hari liburku di rumah dengan bermain gim sampai malam hari seperti hari-hari liburanku lainnya. Tapi karena Akbar menelponku dan meminta tolong tentang hal ini, hari ini adalah hari yang sangat panjang bagiku.
“Iya, hari ini adalah hari yang sangat panjang sekali.”
“Mar!”
Riki menjulurkan tangannya kepadaku dan berencana untuk membantuku berdiri.
“Apa kau butuh bantuan untuk berdiri?”
“Aku bisa bangun sendiri.”
Aku langsung bangun dengan sekuat tenaga karena kakiku masih bergetar tidak karuan. Terakhir kali aku mengalami ini adalah saat pertama kali aku naik ke gunung bersama dengan Riki.
Kami pun bersama-sama menghampiri Akbar yang sedang memangku Putri dan menunggunya hingga sadar.
“Sejak kapan kau tau kalau orang itu menyembunyikan pistol dibalik jaketnya Mar?”
Riki bertanya kepadaku.
__ADS_1
“Saat dia menggerakan tangannya, jaketnya sedikit ketarik dan terlihat pola pistol yang tertera di jaketnya.”
“Masa? Aku sama sekali tidak melihat itu.”
Mendengar itu membuatku terdiam sejenak.
“Ada apa Mar?”
Riki kebingungan melihatku yang terdiam.
Berarti Riki selama ini tidak tau kalau orang yang dia hadapin memiliki sebuah pistol? Kenapa dia tidak terlihat takut ketika pistol itu ditodong ke arahnya? Aku kira dia sudah mengetahuinya tadi makanya dia tidak takut.
“Lagi pula! Bukankah aku sudah mengatakan kepadamu untuk mengikuti kata-kataku. Kenapa kau malah bertindak seorang diri tadi? Gara-gara kau rencana yang sudah aku susun dengan matang itu hancur semua dan aku harus menyusun rencana baru untuk menyelamatkan kalian berdua!”
Aku memarahi habis-habisan, karenanya lah aku lelah sekali seperti ini.
“Hahahahaha.. Aku sudah yakin kalau kau pasti akan menyelamatkanku, itulah kenapa aku berani untuk bertindak seperti itu.”
Riki terlihat seperti orang yang tidak memiliki rasa bersalahnya sama sekali.
“Bagaimana jika aku tidak bisa mendekati orang tadi, mungkin kau sudah ditembak olehnya.”
“Ngomong-ngomong kenapa kau tidak menggunakan sendal Mar?”
Maul bertanya kepadaku sambil melihat kakiku yang masih tidak mengenakan apa-apa.
Oh iya aku lupa untuk mengambil sendalku.
Aku pun kembali pergi ke belakang kontainer yang sebelumnya kami pakai untuk bersembunyi untuk mengambil sendalku.
Setelah mengambil sendalku, aku langsung bergabung dengannya yang lainnya di dekat Akbar.
“Apa kalian berdua baik-baik saja?”
Bibi Akbar menanyakan keadaan kami berdua dengan wajah cemas sekali.
“Kami baik-baik saja Bi! Lihat saja tidak ada yang terluka sedikitpun.”
Riki tersenyum di hadapan bibi yang membuat rasa cemasnya menjadi hilang.
“Syukurlah kalau begitu.
“Aku tidak tau harus berbicara apa lagi, tapi aku sangat berterima kasih kepada kalian berdua.”
Paman Akbar berterima kasih kepada kami berdua.
“Itu tidak masalah Om, setidaknya adiknya Akbar tidak apa-apa.”
Ucap Riki kepadanya.
Aku serahkan sesi ini kepadamu Rik, aku sudah lelah dan tidak ingin berbicara untuk sementara waktu dulu.
“Kenapa kalian berdua mengetahui tempat ini?”
Pamannya Akbar bertanya kepada kami.
“Kami bisa mengetahui tempat ini karena bantuan dari Maul.”
“Pantas saja Maul selalu bermain dengan ponselnya dan menerima beberapa panggilan ketika sedang berada di dalam mobil.”
Ucap Akbar.
Aku melihat ke arah adiknya Akbar yang sama sekali tidak ada tanda-tanda sadar.
“Aku sendiri tidak tau, tapi katanya dia hanya diberikan obat tidur saja.”
“Cepat kalian bawa dia ke rumah sakit untuk diperiksa kondisi kesehatannya.”
Suruh bapaknya Maul kepada bibi dan paman Akbar.
“Yah, aku menemukan sesuatu yang menarik.”
Maul datang menghampiri ayahnya sambil memberikan sebuah botol kecil kepadanya.
“Dari mana kau mendapatkan ini?”
“Aku menemukannya di sekitar sana.”
Ucap Maul sambil menunjuk koper besar yang ada di sana.
“Mungkin ini adalah obat tidur yang dia gunakan untuk membuat Nak Putri tertidur.”
Bapaknya Maul melihat botol kecil itu dengan seksama.
Dia sesekali membalikkan botol itu untuk melihat apakah ada informasi yang di sampaikan di sana. Dan akhirnya dia memasukan botol itu ke sebuah plastik dan memasukannya ke dalam jaketnya.
“Apa yang akan kau lakukan setelah ini Mar?”
Akbar bertanya kepadaku.
“Mungkin aku akan langsung pulang ke rumah karena aku sudah lelah sekali.”
Dan perjalanan dari sini ke rumah sangat jauh sekali. Mungkin aku akan menggunakan taksi agar aku bisa tidur juga saat di dalam taksi.
“Bagaimana jika kalian untuk mampir ke rumahku saja untuk beristirahat, karena jika balik ke rumah kalian pasti sangat jauh dan memakan tenaga.”
Akbar menawarkan hal itu kepada kami.
Aku rasa itu bukan tawaran yang buruk, setidaknya aku hanya ingin sebuah tempat untuk ku tidur sejenak. Hari ini juga ada laporan yang harus aku periksa dari kerjaan, aku ingin ketika sampai di rumah aku bisa memegang kerjaan itu agar malamnya aku bisa bermain gim.
“Itu ide bagus Bar, aku akan pergi ke rumahmu.”
Ucap Riki.
***
“Kalian mau minum apa?”
“Apa saja yang penting minuman dingin.”
Ucapku kepada Akbar.
“Aku samai saja dengan Amar.”
“Aku juga.”
__ADS_1
Begitu juga Riki dan Maul.
Akbar pun pergi untuk membelikan kami minuman dan yang lainnya minuman.
Saat ini aku sudah berada di rumahnya Akbar dan sedang beristirahat di sana. Kami berpisah dengan bibi dan pamannya Akbar karena mereka harus pergi ke rumah sakit terlebih dahulu untuk memeriksakan keadaan dari Putri. Bapaknya Maul langsung pergi ke kepolisian untuk mengintrogasi orang-orang yang hari ini telah ditangkap.
“Apa yang baru saja kau lakukan tadi?”
Maul masih menagih pertanyaanku waktu itu.
“Aku baru saja menghentikan orang bodoh yang bertindak sendiri.”
Ucapku sambil melirik ke arah Riki.
“Aku tidak tahan melihat hal itu Mar, seharusnya kau mengerti bagaimana perasaanku.”
Riki masih tersenyum dan tidak ada rasa bersalahnya sama sekali.
“Hal barusan dapat membunuhmu Rik jika aku tidak sadar kalau orang itu membawa sebuah pistol di balik jaketnya.”
“Oh iya, tadi aku melihat tangan kiri dari bapaknya Akbar terlihat bengkak. Apa itu perbuatan kalian?”
“Kalau itu kau tanyakan kepada Riki.”
Maul pun langsung melihat ke arah Riki.
“Aku sudah mengunci tangan bapaknya Akbar untuk membuatnya tidak bergerak sampai kepolisian tiba, dan aku tidak mengira kalau dia akan mengeluarkan semua tenaganya untuk melepaskan kuncian itu walaupun harus mengorbankan satu tangannya.”
Riki menjelaskan hal itu kepada Maul.
“Kalau seandainya kepolisian tidak datang tepat waktu, mungkin kita sudah kehilangan bapak dan adiknya Akbar.”
“Tapi lemparan terakhirmu itu benar-benar hebat Mar. Aku tidak menyangka kalau kau bisa mengenainya tepat sasaran.”
Karena sering melempar bola basket entah kenapa aku dapat dengan mudah memperhitungkan akurasi dari leparanku.
“Aku juga berutung kalau batunya bisa kena seperti itu.”
Akbar pun kembali dan datang dengan membawakan minumanku dan juga yang lainnya.
“Maaf aku hanya bisa memberikan ini saja kepada kalian.”
Akbar meminta maaf kepada kami.
“Itu tidak masalah, terima kasih telah memberikan kami minuman.”
Ucapku kepadanya.
“Seharusnya aku berterima kasih kepada kalian akrena telah menyelamatkan adikku.”
Akbar menundukkan kepalanya sedikit dihadapan kami.
“Tenang saja, kami hanya merasa kalau harus melakukan itu.”
“Kenapa kau melakukannya hingga seperti ini Mar?”
Tanya Akbar kepadaku.
“Kalau aku tidak melakukan hal ini, mungkin ada orang bodoh yang bertindak seorang diri dan pergi menyelamatkan adikmu itu.”
Aku pun melirik lagi ke arah Riki.
“Apa kau masih marah dengan apa yang aku lakukan tadi Mar!”
Riki mulai merasa sedikit bersalah dengan apa yang dia lakukan.
“Tentu saja, karena aku tidak habis pikir dengan apa yang kau lakukan.”
“Maaf saja kalau begitu.”
Akhirnya dia minta maaf juga.
“Aku tidak tau kalau kalian berdua dapat melakukan hal seperti ini. Padahal aku sempat cemas kalau terjadi apa-apa terhadap kalian berdua.”
“Walaupun Amar terlihat seperti orang malas, tapi dia sering sekali membahayakan dirinya sendiri.”
Ucap Maul.
“Baru kali ini aku melakukan sesuatu seperti ini.”
Aku merasa kalau aku sering membahayakan diriku. Hanya kejadian ini saja yang paling membahayakan diriku dibandingkan kejadian-kejadian lain yang sudah aku lewatkan.
“Seharusnya kalian berdua melihat ketika Amar sedang mengancam orang yang ingin membeli adiknya Akbar. wajahnya terlihat datar dan dia seperti sudah siap untuk membunuh orang.”
Riki mengatakan itu dengan semangat yang menggebu-gebu.
Memangnya wajahku sedatar itu? Aku tidak terlalu memperhatikan wajahku karena aku terlalu fokus untuk berusaha menenangkan diriku agar aku tidak melakukan kesalahan sedikitpun saat itu.
“Saat itu aku sebenarnya sedikit ketakutan. Kalau kau lihat lebih jelas, tanganku sedikit gemetar karena takut untuk menodongkan pisau ke arah orang seperti itu.”
“Benarkah itu?”
Akbar merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja aku katakan.
“Iya, aku juga seorang anak biasa yang tidak pernah melakukan sesuatu seekstrim itu.”
“Bagaimana jika saat itu kau harus membunuh orang itu?”
Maul bertanya kepadaku.
“Aku tidak mungkin membunuhnya apapun yang terjadi saat itu. Paling aku hanya akan membuatnya pingsan saja akibat ketakutan. Karena menurutku itu adalah cara yang terbaik dibandingkan membunuhnya.”
Tidak mungkin aku membunuh sumber informasi yang sangat berharga sepertinya.
“Aku sudah yakin kalau kau tidak mungkin melakukan hal itu.”
“Lagi pula apa yang kau harapkan dari seorang pelajar sepertiku Mul.”
“Ya... Seorang pelajar yang berhasil menangkap penjahat.”
Setelah selesai berbincang-bincang sejenak, aku pun beristirahat bersama dengan Riki. Aku juga sempat tidur di rumahnya Akbar sebelum pulang ke rumah.
Hari ini adalah hari yang sangat panjang bagiku, aku juga tidak tau apa yang harus aku katakan kepada Pak Febri untuk melaporkan hal ini. Kalau aku mengatakan yang sebenarnya, pasti dia akan marah besar kepadaku dan juga Riki.
Lebih baik aku memikirkannya nanti saja, untuk saat ini aku ingin beristirahat terlebih dahulu.
__ADS_1
Aku sudah lelah sekali.
-End Chapter 114-