Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 93 : Kesalahan Dalam Melihat, Dapat Menimbulkan Informasi Yang Rancu.


__ADS_3

“Karena semuanya sudah berkumpul di sini, saatnya untuk kita rapat.”


Huh!


Saat ini aku sudah berkumpul di ruang rapat bersama dengan yang lainnya, tapi kali ini yang berbeda adalah yang mengikuti rapat ini hanya empat orang saja. Ada Pak Hari, Kak Malik, Maul. dan juga aku. Padahal biasanya kami rapat dengan para ketua dari divisi-divisi yang ada di Comic Universe.


“Apa hanya segini saja yang mengadakan rapat? Biasanya lebih ramai dibandingkan yang ini.”


Aku bertanya kepada Pak Hari yang sedang menyalakan laptopnya.


“Iya, memang yang mengikuti rapat ini lebih sedikit dibanding biasanya. Karena kali ini kita hanya mengambil keputusan saja, bukan membahas masalah teknis. Jadinya tidak perlu membutuhkan orang banyak.”


“Jadi apa yang ingin kita bahas?”


“Malik!”


Pak Hari menyuruh Kak Malik untuk menjelaskannya.


“Akhir-akhir ini aku sudah mengumpulkan riset tentang komik-komik yang sedang rating dan diminati oleh para pembaca, dan kita berencana untuk membukukkan komik itu.”


“Lalu bagaimana dengan tanggapan para pembaca soal hal ini?”


“Melalui angket yang sudah kita buat dari bulan lalu untuk mengetahui tanggapan pembaca. Ada yang setuju dan juga ada yang tidak setuju, tapi lebih banyak yang setuju dibandingkan yang tidak.”


Kak Malik melanjutkan penjelasannya untuk menjawab pertanyaan dariku.


Aku yakin kalau yang tidak setuju pasti memiliki alasan yang sama denganku waktu itu. Karena komik ini sudah ada di aplikasi, jadi buat apa mereka membelinya dalam versi buku. Lebih baik membaca ulang komik tersebut di aplikasi.


“Kalau tanggapan komikus tentang hal ini?”


“Semua komikus sudah setuju dengan hal ini selama pembagian hasilnya sesuai dengan persyaratan yang waktu itu diajukan.”


“Apa tujuan kita melakukan hal ini? Bukankah rencana membukukkan komik yang sudah ada di aplikasi dapat menimbulkan kerugian bagi kita jika komik itu tidak laku terjual.”


Apa yang dikatakan Maul benar. Awalnya aku berani menyarankan Pak Hari untuk membuat aplikasi membaca komik karena menurutku hal itu paling minim mengalami kerugian.


“Tentu saja kita melakukan hal ini untuk menambah pemasukan untuk perusahaan kita. Selain itu, kita juga sudah mengumpulkan angket dari para pembaca dan hasilnya juga positif. Itulah kenapa aku mengadakan rapat kali ini karena para pembaca kebanyakan sudah setuju dengan hal ini.”


“Bagaimana untuk biaya produksi dari komiknya?”


“Untuk biaya produksi dari komik, kemarin kita sudah membicarakan ini dengan bagian keuangan dan itu sudah tertutupi oleh pemasukan dari aplikasi. Karena kita memiliki semua mesinnya dan dapat memproduksi hal itu sendiri, jadi biaya yang dikeluarkan tidak terlalu besar. Paling aku hanya perlu mengurus berkas-berkas agar bisa menerbitkan buku.”


Pak Hari mulai mencatat hal itu di sebuah buku yang ada di depannya.


Aku penasaran sebanyak apa pemasukan dari aplikasi Comic Universe. Aku sama sekali tidak mengetahuinya, yang mengetahui hal itu hanya Pak Hari, Maul, dan bagian keuangan saja. Aku pernah diberitahu oleh Maul tentang pendapatannya, tapi itu dulu saat jumlah pengunduhnya belum sebanyak sekarang.


Mungkin aku bisa memperkirakan semua itu dari bayaran yang akan aku dapatkan nanti.


“Berapa banya serial yang akan dibukukan?”


Tanya Maul kepada Kak Malik.


“Kalau kita mengambil semua komik yang sedang trending saat ini, berarti ada sepuluh serial yang akan dibukukan.”


“Lalu berapa banyak kita ingin memproduksinya?”


“Kita berniat untuk membuat seribu kopi dari masing-masing serial.”


Seribu kopi ya? Aku tidak tau itu banyak atau sedikit, tapi kalau seandainya Pak Hari mau memasarkan itu ke semua toko buku yang ada di Indonesia, itu terlalu sedikit.”


“Karena kebanyakan yang setuju dengan pembukuan komik ini rata-rata pembaca yang ada di pulau Jawa khususnya Jabodetabek. Jadi kita akan memasarkan buku ini di wilayah Jabodetabek terlebih dahulu, lalu kita akan mulai memasarkannya ke seluruh pulau Jawa bahkan ke luar pulau Jawa tergantung perkembangan buku itu di pasar nanti.”


Pak Hari menjelaskannya kepada kami.


“Aku rasa kalau seperti itu tidak akan menjadi masalah. Selama biaya produksinya sudah ditutupi dengan pemasukan aplikasi, aku tidak masalah.”


“Aku juga tidak masalah dengan hal ini, menurutku ini bagus jika bisa menambah pemasukan dari perusahaan.”


Maul juga setuju denganku.


“Kalau begitu apa ada pertanyaan lagi sebelum rapatnya ditutup?”


Tanya Pak Hari kepada kami semua.


“Tidak ada sepertinya.”


“Baiklah, rapat kali ini kita tutup.”


Setelah menjalankan rapat, Aku dan Maul pergi ke atap untuk beristirahat di sana. Aku bersyukur kalau hari ini rapatnya tidak terlalu membahas masalah yang berat dan juga lama.


Ketika kami mengambil pesanan kopi kami yang baru saja selesai dibuat oleh barista, aku sudah melihat Natasha yang sedang duduk sambil memainkan laptop di sana. Aku dan Maul berniat untuk menghampiri dan bergabung dengannya.


Saat melihat kami menghampirinya, dia langsung menutup laptopnya dan menyambut kami.


“Apa kalian sudah selesai rapatnya?”


“Begitulah.”


Aku dan Maul langsung duduk di kursi yang ada di dekatnya.


“Bagaimana pekerjaannya?”


Tanyaku kepadanya.


“Pekerjaanku tidak terlalu berat, apa yang waktu itu kau ajarkan dipakai semua.”


“Syukurlah kalau begitu.”


Mumpung ada Natasha di sini, aku rasa tidak ada salahnya bertanya kepadanya. Kebetulan hubungan Natasha dengan teman-teman kelas lebih baik dibandingkanku. Aku rasa dia pasti mengetahui sesuatu tentangnya.


“Natasha, bagaimana pendapatmu tentang Akbar ketika di kelas?”


“Akbar! dia terlihat baik-baik saja memangnya kenapa?”


Natasha langsung penasaran dengan pertanyaan yang baru saja aku ajukan.

__ADS_1


“Tadi aku diberitahu oleh Pak Febri kalau Akbar sudah tidak mengikuti ekskul hampir satu semester ini. Apa kau tau sesuatu?”


“Oh jadi itu kenapa Pak Febri memanggilmu tadi. Aku sendiri baru mengetahui hal ini darimu, aku kira Akbar baik-baik saja dengan ekskulnya karena melihat sikapnya yang hampir sama dengan Riki.”


Jadi bukan aku saja yang berpikiran seperti itu.


“Aku juga sempat bingung ketika Pak Febri menanyakan hal itu kepadaku, karena aku sendiri ketika berbicara dengannya tidak pernah melihat dia seperti orang yang sedang terkena sebuah masalah.”


“Kenapa kau tidak mencoba bertanya kepadanya Mar?”


“Niatku juga begitu, besok aku baru akan melakukan hal itu. Tapi aku rasa dia tidak akan mengatakannya semudah itu kepadaku.”


Mengingat dia menyembunyikan hal ini juga dengan Pak Febri.


“Tidak ada salahnya untuk bertanya.”


“Kalau ada Riki, pasti aku sudah menyuruhnya untuk bertanya.”


“Lagi pula kenapa Pak Febri memberikan tugas ini kepadamu Mar? Kau kan bukan pengurus kelas.”


Tanya Maul kepadaku sambil menyeruput kopinya.


“Aku rasa Pak Febri tidak ingin membiarkan murid-muridnya tau tentang hal ini, jadi dia hanya membicarakan ini kepadaku.”


“Tapi dengan kau membicarakan ini dengan kami, bukannya itu membuat hal ini diketahui orang-orang.”


“Aku hanya mengatakan hal ini kepada orang-orang yang aku percaya kalau dia tidak akan menceritakannya ke orang lain.”


Ucapku sambil melihat Natasha dan juga Maul.


“Berarti kau juga mempercayaiku Mar?”


Tanya Natasha.


“Tentu saja, kalau kau menyebarkan hal ini aku tidak akan memberikan pekerjaan kepadamu.”


“Kau jahat sekali Mar, tapi kalau itu terjadi aku akan membicarakan hal ini kepada kakakku.”


Oh iya, aku baru ingat kalau kakaknya Natasha adalah orang yang memiliki perusahaan ini.


“Tapi kau tenang saja Mar, aku tidak akan menyebarkan hal ini kepada orang lain. Lagi pula aku tidak biasa membicarakan masalah orang lain jika orang itu tidak mau membicarakannya.”


Lagi pula tanpa Natasha berkata seperti itu, aku juga sudah tau kalau dia tidak akan membicarakan hal ini dengan orang lain. Itulah kenapa aku berani untuk bercerita dengannya saat ini.


“Ingat kataku saat di sekolah tadi Mar. Kau tanyakan terlebih dahulu ke Akbar tentang masalahnya, kalau memang dia masih menyembunyikan masalah itu kepadamu. Kita akan bermain dengan cara kita seperti biasa.”


Maul sedikit tersenyum ketika mengatakan hal itu.


“Memangnya cara apa yang biasa kalian lakukan?”


Natasha penasaran dengan hal itu.


“Meretas untuk mencari tau apa yang terjadi sebenarnya.”


Natasha sedikit terkejut saat mendengarnya. Karena Natasha sama sekali tidak tau kalau Maul memang ahli dalam hal-hal seperti itu.


“Selama digunakan untuk hal baik, itu tidak akan dianggap sebagai kejahatan.”


“Memangnya bisa seperti itu?”


“Bisa saja.”


Hmmm... Kira-kira apa yang akan terjadi besok. Tapi aku sudah sangat yakin kalau Akbar akan menutupinya dariku, mungkin juga dia akan terkejut karena aku mengetahui tentang masalah ini.


Apa yang harus aku lakukan?


Apa aku akan mengancamnya dengan sesuatu? Tapi aku ingin melakukan hal ini dengan jalan kekeluargaan, aku tidak mau menambah masalah dengan orang lain. Lagi pula kalau mengancamnya lebih baik menyuruh Maul untuk mencaritaunya terlebih dahulu.


Kalau begitu masalah apa yang sedang dia alami saat ini hingga dia menyembunyikannya dari Pak Febri. Kalau ini menyangkut kedua orang tuanya, apa kedua orang tuanya telah bercerai hingga dia memutuskan untuk pergi dari rumah dan tinggal dengan orang lain.


Tapi apa itu dilakukan oleh orang seumuran Akbar.


Akbar juga mengatakan kalau orang tuanya belum meninggal, tidak mungkin dia berbohong untuk hal seperti itu.


Natasha pun melihat ke arahku.


“Apa yang sedang kau pikirkan Mar?”


“Aku hanya memikirkan kemungkinan-kemungkinan sebelum aku bertanya kepada Akbar, apa saja yang akan terjadi.”


“Buat apa au memikirkan hal itu, bukankah lebih mudah jika kau langsung bertanya kepadanya.”


“Memang benar, tapi aku sudah sangat yakin kalau Akbar tidak akan mengatakan hal itu kepadaku, karena Pak Febri yang wali kelasnya saja tidak bisa membuatnya berbicara.”


“Lalu apa kemungkinan yang telah kau pikirkan?”


“Aku hanya berpikir kalau Akbar bekerja di suatu tempat setelah pulang sekolah.”


“Bukannya kalau bekerja dia bisa melakukannya setelah ekskul?”


Tanya Natasha kepadaku.


“Mungkin saja pekerjaannya tidak seperti pekerjaan kita yang bisa dibawa pulang atau dikerjakan dengan santai.”


Pekerjaan yang Akbar lakukan sekarang mungkin dibayar berdasarkan jam dia bekerja, semakin sebentar dia bekerja maka semakin kecil juga bayaran yang dia terima.


“Itu bisa jadi.”


Maul pun mulai berpikir juga.


“Sudahlah pembicaraan tentang ini kita cukupkan sampai sini.”


Aku pun menutup pembicaraannya.


“Oh iya Mar, ada yang ingin aku tanyakan kepadamu. Sebenarnya ini pertanyaan dari anak-anak kelas, dia memintaku untuk menanyakan ini kepadamu.”

__ADS_1


“Apa itu?”


Aku sedikit penasaran dengan pertanyaan yang akan diberikan oleh Natasha.


“Apa kau dan Miyuki itu berpacaran?”


Aku memang sudah menutup pembicaraan tentang Akbar dengan niat ada topik pembicaraan lain yang dapat dibahas, tapi kenapa harus ini juga.


“Kenapa kita harus membicarakan hal ini sekarang?”


“Teman-teman semua di kelas bertanya hal itu kepadaku, aku juga sempat penasaran saat melihatmu dan Miyuki ketika istirahat.”


“Menurutmu sendiri bagaimana setelah melihat sikap kami berdua saat istirahat?”


Seharusnya Natasha sudah mengetahui kalau kami tidak ada hubungan apa-apa.


“Aku sendiri tidak tau, karena bisa saja kalian berdua menyembunyikannya dari kami karena kau tidak mau kehidupan sekolahmu tidak damai lagi.”


Kenapa kau memiliki pemikiran seperti itu Natasha! Padahal itu sudah terlihat dengan sangat jelas kalau kami tidak memiliki hubungan apa-apa.


“Lagian aku bertanya kepada Riki waktu itu. Ketika itu Riki hanya tersenyum dan mengatakan kalau hubungan kalian itu rumit.”


“Riki.. Riki.. Kenapa dia tidak mengatakan saja yang sebenarnya terjadi!”


Aku menghela nafas setelah mendengar hal itu.


“Teman-teman di kelasku juga bertanya tentang hal itu kepadaku.”


Maul sekarang ikutan juga.


“Tunggu-Tunggu-Tunggu... Kenapa harus aku dan Miyuki yang dipasangkan di sini sedangkan saat kita istirahat banyak orang di sana?”


“Karena kalian berdua terlihat sangat dekat dibandingkan dengan yang lainnya.”


HAh! Apa aku tidak salah dengar? Aku dan Miyuki terlihat dekat? Aku tidak tau lagi bagaimana mereka melihat kami. Aku memang tidak bisa mengerti apa yang dipikirkan oleh anak muda.


“Kalau memang kalian berdua tidak berpacaran, apa kau tidak ada niatan untuk menjadikan Miyuki menjadi pacarmu Mar?”


“Amar tidak akan melakukan itu.”


Maul menjawab itu dengan sangat cepat.


“Kenapa? Apa ini ada hubungannya dengan pemikiran anehnya Amar yang selalu Riki katakan kepadaku.”


Ok, sekarang aku penasaran dengan apa saja yang dikatakan Riki kepada Natasha.


“Itu salah satunya, tapi yang paling berat adalah perasaannya Rina dan Yoshida.”


Natasha terkejut mendengar itu.


“Apa mereka berdua juga sama-sama menyukai Amar?”


“Kalau Rina sudah suka dengan Amar dari zaman mereka masih SD, dan Yoshida pernah memberikan Amar sebuah surat cinta.”


“Aku tidak menyangka Amar seterkenal itu.”


Natasha pun melihat ke arah Amar.


“Itu berada di luar kehendakku.”


Padahal aku tidak pernah melakukan hal yang membuatku terkenal. Sepertinya, itu menurutku.


“Kalau dari pandanganku, Amar memang memiliki sisi misterius dan menyembunyikan banyak misteri yang membuat para perempuan pada tertarik dengannya. Apalagi saat Amar menunjukkan kemampuan berbasketnya, itu membuat beberapa anak perempuan di kelasku mulai menyukai Amar.”


Aku mohon jangan lagi, meladeni tiga orang saja sudah merepotkan apalagi lebih dari itu.


“Memang seperti itulah Amar sejak kami bertemu saat SMP.”


Ucap Maul sedikit membanggakan hal itu.


“Apa Rina dan Yoshida mengetahui kalau mereka menyukai orang yang sama?”


Tanya Natasha kepada Maul.


“Aku rasa mereka berdua tau.”


“Hebat sekali mereka berdua bisa berteman walau mengetahui hal itu.”


“Rina memang orang yang gampang cemburu jika ada perempuan yang mendekati Amar, tapi hal itu tidak membuat Rina memusuhi orang itu, dia lebih suka bersaing secara adil.”


“Sepertinya kau tau sekali sifatnya Rina Mul.”


Aku berniat mengejek Maul agar Natasha mengubah topik pembicaraannya dan fokus membahas Maul.


“Apa kau lupa kalau Rina adalah primadona di sekolah kita dulu? Banyak sekali orang yang bertanya tentang hal itu kepadaku. Jadi aku sedikit tau karena sering menyelidikinya.”


Mendengar hal itu membuat Natasha memandang Maul dengan pandangan jijik. Sepertinya saat ini Natasha berpikiran kalau Maul adalah seorang penguntit.


“Ada apa dengan pandanganmu itu?”


Tanya Maul yang tidak suka dengan pandangannya Natasha.


“Aku jadi takut denganmu karena tau semua ini. Malahan sekarang aku jauh lebih takut terhadapmu dibandingkan penculik yang sedang ramai saat ini.”


“Hahahahaha... Memang Maul itu adalah orang yang harus ditakuti.”


“Ayolah kawan-kawan, aku tidak selalu melakukan hal itu.”


“Mengelikan!”


Dan pembicaraan pun terus berlanjut dengan Maul yang mencoba untuk meyakinkan Natasha kalau dia tidak semenjijikan itu, namun Natasha masih tidak percaya.


Aku bersyukur karena mereka sudah tidak membahas tentang hubunganku dan juga Miyuki. Mungkin lain kali kalau berada di dekat Miyuki, aku akan menjaga jarak agar kesalahpahaman tidak terjadi.


-End Chapter 93-

__ADS_1


__ADS_2