
Saat ini, aku dan keluargaku sedang berada ditengah-tengah kemacetan yang terjadi di tol Cipularang. Sepanjang mata memandang, aku hanya melihat mobil dan mobil, tidak ada sesuatu yang menarik ada di hadapanku. Setiap per lima detik mungkin mobil kami hanya berjalan sepuluh meter dari tempat sebelumnya.
Aku dan keluargaku berangkat dari rumah setelah menunaikan salat subuh. Awalnya perjalanan terasa biasa saja, namun ketika memasuki tol Cipularang, antrian mobil sudah menanti di hadapan kami. Awalnya bapakku mencoba untuk melewati jalur biasa namun kami mengurungkan niat kami karena kami melihat di Boogle Maps kalau jalan biasa pun sama macetnya seperti di jalan tol.
“Ini melelahkan sekali.”
Aku pun mencoba mencari hiburan di ponselku untuk menghilangkan kebosanan ini. Untung saja aku membawa persediaan batrai ponsel yang cukup dan juga batrai tambahannya, jadi aku tidak perlu takut kalau ponselku mati di tengah jalan.
Padahal ini sudah hari kedua setelah lebaran, tapi masih saja banyak orang yang baru pergi untuk mudik.
“Kak mau cemilan?”
Nadira menawarkanku sebuah roti yang sedang dia makan.
“Tidak terima kasih, aku sudah banyak makan tadi.”
“Bersemangatlah Mar, namanya juga mudik pasti begini.”
Ucap bapakku yang sedang memainkan ponselnya.
Memang dalam keadaan normal memainkan ponsel saat berkendara sangat berbahaya, tapi saat ini karena mobil kami tidak bergerak sama sekali jadi itu tidak masalah.
“Amar, dari kemarin ibu mau bertanya kepadamu namun lupa. Dari mana kamu bisa bertemu dengan anaknya Dian?”
Mengapa ibuku masih mempertanyakan hal itu sekarang. Aku rasa kemarin sudah selesai tentang itu.
“Aku tidak sengaja bertemu dengannya ketika pulang dari membeli barang untuk ujian praktik di Jatinegara. Saat itu aku tidak sengaja bertemu dengannya di kereta, dan karena suatu masalah yang membuatku berkenalan dengannya.”
“Apa masalah itu tentang ponselnya Miyuki yang dicuri seseorang?”
Ternyata ibuku sudah mengetahui hal itu.
“Begitulah.”
“Hebat sekali kamu Mar dapat menangkap pencuri seperti itu.”
Puji bapakku kepadaku.
“Sebenarnya yang menangkap pencuri itu bukanlah aku, melainkan Riki. Aku hanya tidak sengaja berada di sana saja.”
“Lagi-lagi kakak berkata seperti itu. Jika dia mengatakan hal itu biasanya dia sedang menyembunyikan sesuatu.”
Adik yang satu ini sangat menyebalkan sekali.
“Tapi ibu senang kalau kamu sudah dekat dengan Miyuki. Apa kamu ada rasa dengannya Mar?”
“Tentu saja tidak, walaupun dia memiliki paras yang cantik tapi aku tidak begitu peduli dengan hal itu.”
“Jadi kamu mengakuinya kalau Miyuki itu cantik kak?”
“Loh memang dia cantikkan?”
Aku rasa tidak ada yang keberatan jika aku berkata seperti itu.
“Kagaya juga ternyata orangnya enak diajak bicara. Aku kira awalnya akan canggung berbicara dengannya, ternyata dia bisa mengikuti pembicaraanku.”
Hubungan bapakku dan bapaknya Miyuki sepertinya juga berjalan dengan lancar.
Karena aku rasa sudah tidak ada lagi yang ingin berbicara denganku, aku pun langsung menggunakan earphone-ku dan langsung mencoba untuk tertidur. Siapa tau ketika aku terbangun sudah sampai di rumah kakek. Ya setidaknya jika belum sampai, kami sudah terbebas dari kemacetan ini. Karena ini sangat membosankan sekali.
Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan, aku akhirnya sampai di kampung kakekku. Rumah dari kakekku berada di sebuah desa kecil yang berada di Tasikmalaya, banyak sekali sawah yang mengitari kampung itu dan ada satu bukit yang berada di belakangnya. Sebelum masuk ke kampung tersebut, kami harus melewati hutan terlebih dahulu.
Saat itu, kami sampai di rumah kakek pada pagi hari.
“Selamat datang, bagaimana perjalanannya?”
Kakekku sudah menyambut kami di depan rumahnya bersama dengan nenek dan juga bibiku.
“Alhamdulillah lancar Pak.”
Bapakku langsung bersalaman dengan semua orang yang ada di sana begitu juga denganku.
“Mana barang-barangnya, biar bapak bantu bawa.”
Kakekku menawarkan bantuan kepada bapak. Walaupun kakekku sudah tua, namun dia terlihat segar dan bertenaga. Aku rasa tenagaku masih kalah dengannya. Aku pun membantu bapakku dan juga kakek memindahkan barang-barang yang kami bawa dari Jakarta ke dalam rumah.
“Kalian pasti sudah lelah setelah perjalanan tadi kan, kalian beristirahat saja terlebih dahulu.”
Nenek pun menyajikan teh hangat kepada kami.
“Aku ingin salat dulu Nek.”
Aku pun pergi ke kamar mandi untuk berwudu. Karena ketika di perjalanan saat sudah dekat dengan rumah kakek, aku sudah mendengar azan subuh berkumandang.
Aku pun berwudu dengan air yang berada di dalam sebuah kendi besar yang berada di kamar mandi.
“Brrrr.... Dingin sekali!”
Aku menggigil ketika mencuci tanganku dengan air itu.
Memang rumah kakekku memiliki suhu yang cukup dingin, mungkin karena kawasannya yang berada di kaki Gunung Galunggu yang membuat suasananya menjadi dingin.
Air yang berada di dalam kendi itu memiliki rasa yang berbeda dengan air pada umumnya. Rasa dari air yang ada di dalam kendi itu lebih manis, tapi manisnya tidak semanis gula, namun rasa manisnya itu berasa sekali.
Setelah menunaikan salat subuh, aku pun langsung tidur di kamar yang sudah disediakan oleh nenekku. Sama seperti sebelumnya, aku pun langsung terlelap ketika kepalaku menyentuh permukaan bantal.
Aku sangat lelah sekali, selama satu hari aku berada di jalan. Biasanya kalau aku mengunjung rumah kakek tidak dalam kondisi hari raya, hanya memakan waktu sebanyak enam sampai tujuh jam, tapi sekarang sudah hampir satu hari.
***
“Euuhhh...”
Aku pun meregangkan semua anggota badanku untuk melemaskan bagian-bagian yang kaku. Aku pun melihat ke arah jam dinding yang ada di sana dan waktu menunjukkan jam sepuluh.
Aku langsung pergi ke ruang tamu untuk melihat apa yang bisa aku lakukan. Ternyata saat aku sampai di ruang tamu, aku tidak melihat siapapun berada di sana. Aku hanya melihat kakek yang sedang ingin pergi dari rumah.
“Mau kemana Kek?”
Aku pun langsung buru-buru menghampirinya.
“Kakek mau memetik beberapa kelapa untuk makan siang nanti.”
Kakekku pun sudah membawa sebuah golok yang dia selipkan di pinggangnya.
“Aku ikut Kek.”
Akhirnya aku pun ikut bersama kakekku untuk memetik kelapa. Di kampung kakekku memang banyak sekali pohon kelapa tertanam di sini, tapi menurut kakekku tidak semua kelapa bisa kita ambil karena sebagian ada yang milik orang lain. Aku dan Kakek pun pergi ke sebuah sungai yang tidak terlalu besar namun cukup dalam, kedalaman
sungai itu setara dengan tinggi lututku. Tepat di samping sungai itu, terdapat pohon kelapa yang memiliki buah yang sangat banyak sekali.
“Apa ini pohonnya bisa di petik Kek?”
Aku memandangi pohon itu dan berpikir bagaimana caranya aku mengambil buah-buah yang ada di sana, karena pohonnya sangat tinggi sekali.
“Tentu saja, kakek sering mengambil buahnya.”
Dengan sigap, kakek pun langsung memanjat pohon kelapa tersebut dengan sangat cepatnya. Bahkan tidak ada sampai lima menit kakek sudah sampai di atas pohon itu. Aku kagum kepadanya, walaupun aku masih muda tapi aku tidak bisa melakukan apa yang dia lakukan.
“Awas Mar! Jangan berada dibawah sana, kamu tunggu aja di dalam sungai untuk mengambil kelapanya.”
Kakek pun mulai memetik kelapanya satu-satu dan menjatuhkannya ke dalam sungai. Aku yang sudah berada di sungai langsung mengambil dan mengumpulkan buah kelapa yang sudah dipetik oleh kakek menjadi satu di pinggir sungai.
Aku sangat senang sekali ketika berada di sungai yang mengalir dan jernih. Aku suka menghabiskan waktu lama-lama di sini. Menurut cerita dari kakekku, dulu sewaktu kecil aku sering menghabiskan waktu untuk bermain di sungai. Bahkan aku lebih sering mandi di sungai dari pada di rumah. Walaupun akhirnya aku membilasnya lagi di kamar mandi rumah.
Kakek pun telah selesai memetik kelapanya dan sekarang dia mulai turun dari pohon kelapa. Bahkan waktu yang dia butuhkan untuk turun jauh lebih cepat dibandingkan ketika dia sedang naik.
__ADS_1
“Ini kelapanya sudah aku kumpulkan Kek.”
“Bagaimana kalau kita buka satu terlebih dahulu.”
Kakek mengambil salah satu kelapa yang ada di sana kemudian dia pun mulai membelahnya.
“Ini Mar.”
Kakek memberikan kelapa yang sudah dia belah dan menyuruhku untuk menyantapnya.
Aku pun langsung meminum air kelapa yang ada di dalamnya dan seketika badanku pun menjadi sangat segar sekali. Kalian ingat kalau aku baru saja bangun tidur dan saat aku bangun sampai pergi ke sini badanku masih sangat lemas sekali, namun setelah meminum air kelapanya badanku langsung bertenaga.
“Apakah enak?”
“Nikmat sekali Kek.”
“Habiskan-habiskan.”
“Kakek tidak mau?”
Aku pun menawarkan kelapa itu ke kakek.
“Kakek mah sudah bosan minum air kelapa.”
Ucap kakek sambil tersenyum kepadaku.
Setelah aku meminum semua air kelapa yang ada di dalamnya, kakek pun membelah kelapa itu menjadi dua dan membuatkan sendok dari kulit kelapanya. Kemudian dia pun memberikannya lagi kepadaku untuk aku menyantap daging kelapanya.
Enak sekali, apa rasa kelapa muda memang sesegar ini.
“Oh iya Kek, kemana perginya yang lain?”
“Mereka semua mengantar nenek dan Rohmah ke pasar untuk belanja buat makan siang nanti.”
Rohmah adalah nama dari bibiku.
“Hmm...”
Aku pun kembali menyantap kelapaku.
“Bagaimana kabarmu sendiri Mar?”
“Alhamdulillah baik Kek.”
“Apakah sekarang kamu sudah punya pacar? Bukankah sekarang kamu sudah SMA, pasti kamu sudah mempunyai seorang pacar.”
Apakah tidak ada topik pembicaraan lain yang bisa dibicarakan selain itu. Seperti bagaimana sekolahnya, apa saja yang diajarkan di sekolahmu, bagaimana teman-temanmu di sekolahmu. Topik seperti itu kan banyak.
“Aku mau fokus untuk belajar dulu Kek.”
“Itu bagus sekali.”
Kakek mulai mengikat-ikat kelapa yang ada di sana menjadi satu agar mudah ketika dibawa nanti.
“Bagaimana kambing yang kakek pelihara?”
Jadi dua tahun yang lalu, bapak membelikan dua pasang kambing kepada kakek untuk dia rawat dan kakek langsung membuat kandang kambing di kebun yang ada di belakang rumah. Bapak melakukan hal itu karena menurutnya kambing adalah bisnis yang tidak ada habisnya, karena setiap tahun pasti ada lebaran iduladha dan dia mau mengembangkan bisnis itu.
“Kambingnya baik-baik saja, bahkan sudah lahir lagi dua anak.”
“Aku ingin melihatnya.”
“Nanti saat di rumah akan kakek tunjukkan anak kambingnya.”
Aku pun menghabiskan kelapaku.
“Apa makannya sudah selesai? Kalau sudah ayo kita kembali ke rumah.”
“Sudah kek.”
“Amar, kau sudah besar ya?”
Bibiku yang baru saja keluar dari rumah langsung menyapaku.
“Tentu saja, masa aku kecil terus.”
“Amar, kelapanya taruh di luar saja.”
Kakek pun masuk ke dalam rumah.
Saat aku masuk ke dalam rumah, aku melihat bapak yang sedang memberikan kakek satu kantung plastik besar yang berisikan ikan di dalamnya. Kakek dan bapak pun beranjak untuk pergi ke suatu tempat.
“Mau kemana Pak?”
“Kami mau pergi ke balong untuk menaruh ikan-ikan ini.”
“Aku ikut.”
Kami pun langsung pergi ke sebuah balong yang dimiliki oleh kakek yang berada di belakang rumahnya. Balong yang dimiliki kakek tidak terlalu besar dan diatasnya terdapat sebuah saung yang cocok dipakai untuk bersantai sambil menikmati pemandangan sawah di sekitarnya. Aku pun juga melihat kandang kambing yang tidak jauh dari
sana.
“Kambingnya kemana Kek?”
Tanyaku kepada kakek karena aku tidak melihat satupun kambing yang ada di dalam sana.
“Kambingnya sedang kakek lepas untuk mencari makan.”
“Dilepas? Memang nanti tidak hilang?”
“Tenang saja, nanti juga ketika menjelang sore mereka akan pulang sendiri.”
Aku baru tau kalau kambing bisa sepintar itu, aku pikir harus ada yang mengembalakannya agar tidak hilang.
Aku melihat kakek yang melepaskan ikan-ikan yang baru saja dibeli oleh bapak ke dalam balong tersebut.
“Kenapa ikannya dilepas lagi?”
“Tentu saja untuk dipancing nanti.”
Hah!
“Buat apa melepaskan ikan yang nantinya akan ditangkap lagi?”
“Hahahahaha... Memang seperti itu Mar, kalau seandainya balong kakek ada ikannya mungkin bapakmu tidak perlu melakukan ini.”
“Mengapa kakek tidak memelihara ikan juga?”
“Terlalu banyak yang kakek urus, jadinya tidak sempat.”
Sebanyak itukah?
Setelah menaruh ikan-ikan itu dibalong, kami pun kembali ke rumah untuk makan siang terlebih dahulu. Walaupun saat ini sedang siang hari dan matahari saat ini sangat terik sekali, tapi aku tidak merasakan sedikitpun panasnya yang menyengat, hal itu tertutupi dengan hawa dingin yang menyelimuti di sekitar sini.
Aku pun langsung membatu kakek yang sedang membelah kelapa. Aku memisahkan daging kelapa dan kulitnya
dengan menggunakan sendok.
Mungkin sedikit ilmu untuk kalian, saat kalian memakan kelapa muda daging yang harus kalian pisahkan adalah daging yang terlihat berwarna putih sedikit transparan dan bertekstur lembut, sedangkan daging yang berwarna putih dan keras itu bisa kalian gunakan untuk membuat santan. Sebenarnya daging yang berwarna putih itu bisa dimakan juga, tapi rasa daging yang bertektur lembut jauh lebih nikmat jika dimakan bersama air kelapanya, apalagi ditambah susu kental manis, membuat rasanya makin segar.
Nadira pun datang menghampiri kami untuk memberikan gula merah yang sudah mereka cairkan dan satu teko berukuran besar.
“Apa yang kalian lakukan di pasar tadi?”
Tanyaku kepada Nadira yang hendak pergi lagi ke dapur untuk membantu ibu di sana.
__ADS_1
“Tentu saja belanja, memangnya apa lagi.”
“Aku tau itu, maksudku apa yang kalian beli di sana.”
“Tadi ibu membeli beberapa potong ayam, sayur, dan bahan-bahan lainnya. Memangnya kenapa Kak?”
“Bi! Apakah hari ini bibi akan membuat seblak?”
Aku bertanya kepada bibiku yang kebetulan sedang lewat di sana.
“Tentu saja, karena Amar dan Nadira sedang di sini, aku akan membuatkan seblak untuk kalian berdua.”
“Yeay!”
Nadira terlihat senang mendengar itu.
Aku tidak mau melebihkan hal ini, tapi seblak buatan bibiku adalah seblak terenak yang pernah aku rasakan. Aku pernah membeli seblak yang dijual di dekat rumahku, tapi rasanya tidak seenak buatan bibiku. Selain itu, seblak bibiku bisa nambah berapa kali saja dan tidak perlu membayar.
Setelah makan siang dan salat zuhur, Aku bersama dengan bapak dan kakek pergi ke pinggir sungai untuk mencari cacing yang nantinya akan digunakan untuk memancing nanti. Menurut kakek, cacing tanah senang tinggal di tanah yang lembab dan gelap. Kebetulan tanah di sekitar sungai cukup lembab untuk jadi habitat cacing tanah.
“Kenapa bapak tidak membeli umpannya di toko pancingan saja? Aku rasa mereka menjual cacing tanah untuk memancing juga.”
“Mencari cacing adalah seni dari memancing.”
Aku tidak tau dimana seninya dari mencari cacing.
Aku pun mencarinya dengan menggunakan skop kecil dan mengali tanah-tanah yang berada di pingir sungai.
Woah! Ternyata mereka memang ada di sini.
Aku mendapatkan beberapa cacing tanah dari hasil menggaliku di sini. Aku pun langsung menaruh cacing yang aku dapatkan itu ke sebuah gelas plastik yang sudah aku siapkan.
“Apa yang kakak lakukan?”
Nadira datang menghampiriku.
“Aku sedang mencari cacing.”
Aku pun menunjukkan cacing yang baru saja aku dapatkan kepada Nadira.
“IIHh!!”
Nadira yang merasa geli langsung menjauh dariku.
“Ini tidak semenjijikan itu, lihat.”
Aku pun menaruh cacing itu di tanganku.
“Tetap saja menggelikan, aku mau pulang dulu.”
Nadira pun kembali ke rumah.
***
Nikmatnya..
Saat ini aku sedang berada di saung dan menikmati angin sore yang berhembus dengan cukup sejuk. Saat ini kakek, bapak, dan Nadira sedang memancing ikan yang tadi siang mereka lepas di balong ini. Aku membiarkan Nadira memancing dengan menggunakan pancinganku karena aku ingin menikmati angin sore dan pemandangan sawah yang membuatku sangat tenang sekali, sudah lama aku tidak merasakan hal ini.
“Kapan kita akan pergi ke Galunggung Pak?”
Nadira bertanya kepada bapak yang sedang memancing sambil menikmati segelas kopi.
“Besok pagi kita akan pergi ke sana.”
Biasanya jika aku sedang datang ke sini bersama dengan saudara-saudaraku, aku akan pergi ke pemandian air panas pada saat dini hari untuk menikmati air panas yang baru saja diganti.
Seperti yang kakek katakan, aku dapat melihat kambing-kambing milik kakek yang pulang ke kandangnya ketika sore hari. Kakek pun langsung memasukkan kambing-kambing itu ke dalam kandangnya.
Malam hari pun telah tiba, aku duduk di teras depan rumah sambil menatapi bintang yang banyak sekali. Walaupun listrik sudah masuk ke kampung kakekku, tapi di sini masih sangat jarang rumah yang membuat keadaan di sekitarnya masih sangat gelap. Makanya bintang dapat terlihat banyak di sini.
“Apa yang sedang kamu lakukan di sini Kak?”
Nadira pun datang ke teras depan rumah sambil membawakanku teh hangat.
“Terima kasih.”
“Aku sudah memutuskannya Kak, aku akan masuk ke SMK Sawah Besar.”
Apa? Aku tidak salah dengar kan?
“Kenapa seperti itu?”
“Aku penasaran dengan apa yang kamu lakukan ketika di sekolah karena cerita dari Kak Miyuki dan Kak Riki.”
Apa yang mereka berdua ceritakan ke adikku ini hingga dia bisa memutuskan hal seperti itu?
“Aku rasa kau tidak perlu terburu-buru memutuskan hal ini.”
“Aku memang ingin masuk ke jurusan farmasi, tapi aku masih bingung ingin masuk ke sekolah mana. Kebetulan sekolahmu ada jurusan itu, jadi aku mau masuk ke sana.”
“Baiklah kalau begitu, karena kamu tidak mungkin mendapatkan rekomendasi ke sekolah itu, pastikan kamu belajar untuk ujian masuk setelah lulus nanti.”
Aku hanya bisa menyemangati adikku akan hal ini.
Karena Nadira bersekolah di Jawa Tengah, jadi dia tidak mungkin mendapatkan rekomendasi di Jakarta. Karena sistim rekomendasi melihat dari lokasi sekolah sebelumnya.
“Sebenarnya aku masih penasaran, apa kakak memang tidak ada hubungannya dengan Kak Miyuki?”
“Sudah berapa kali aku katakan kalau aku sama sekali tidak ada hubungan dengannya. Hubungan kami hanya sebatas teman satu sekolah saja.”
“Aku sempat terkejut ketika melihat Miyuki, dia terlihat cantik dan ramah. Bahkan ketika diam dia terlihat anggun dan dewasa.”
Seperti itulah pendapat orang-orang ketika pertama kali bertemu dengan Miyuki.
“Kenapa orang secantik itu bisa dekat dengan kakakku jika dia tidak memiliki hubungan apapun.”
“Mengapa kau bingung dengan hal seperti itu? Dan juga memangnya untuk dekat dengan seseorang harus ada hubungan yang spesial?”
“Tidak juga sih.”
Nah, begitu saja kok repot.
“Tapi perasaanku mengatakan kalau ada sesuatu yang beda.”
“Aku tidak tau bagaimana perasaan wanita.”
Aku pun meminum teh hangat yang dibawa oleh Nadira.
Hangatnya!
“Apa hubungan Kak Rina dan Kak Miyuki baik-baik saja.”
“Mereka berdua baik-baik saja, bahkan mereka berdua memang teman dekat.”
“Syukurlah kalau begitu, aku kira mereka akan bersaing untuk mendapatkan kakakku.”
Nadira mengatakan sesuatu dengan nada yang sangat rendah yang membuatku tidak dapat mendengarnya. Karena aku sedang ingin menikmati liburanku jadi aku tidak mau bertanya apa yang baru saja dia katakan.
“Bagaimana kita masuk Kak? Sekarang sudah mau larut malam dan besok pagi kita akan pergi ke Galunggung.”
“Baiklah.”
Keesokan harinya kami pergi ke Galunggu tepatnya ke pemandian air panasnya. Aku pun berendam di sana dan merasakan nikmatnya air panas yang ada di sana.
Ini lebih nikmat dibandingkan air panas yang aku masak di rumah dengan menggunakan kompor. Aku sarankan kepada kalian untuk merasakannya juga, ini sangat nikmat sekali.
__ADS_1
- End Chapter 59-