
Satu bulan setelah kepergian Riki ke Makassar untuk mengikuti O2SN sudah berlalu dan hari ini dia sudah kembali bersekolah lagi seperti biasa.
Saat ini, aku bersama dengan semua murid lainnya berada di lapangan. Kami baru saja mengadakan upacara bendera seperti rutinitas mingguan kami di senin pagi. Tapi kali ini, kesiswaan tidak membubarkan kami, melainkan dia menyuruh kami untuk duduk terlebih dahulu di lapangan.
Kalau seperti ini, berarti ada dua hal yang akan terjadi. Pertama adalah sekolah yang ingin memberitahukan sesuatu kepada semua muridnya dan kedua adalah razia rambut.
Ya, sering sekali razia rambut dilakukan pada hari senin seperti ini. Apalagi aku melihat kalau banyak siswa yang memiliki rambut panjang yang mereka sembunyikan dibalik topi yang mereka kenakan.
Aku melihat kepala sekolah yang berjalan ke podium dan memegang sebuah kertas di tangannya. Aku juga dapat melihat dua buah piala yang berada di belakangnya, aku yakin kalau dia pasti ingin mengumumkan tentang keberhasilan Riki dan tim basket putra selama mengikuti O2SN.
“Baiklah semuanya harap tenang terlebih dahulu, ada beberapa pengumuman yang ingin bapak sampaikan terkait pelaksanaan O2SN kemarin.”
Semua murid mulai memperhatikan kepala sekolah.
“Kemarin, sekolah ini kembali mendapatkan prestasi baru yang berhasil diraih oleh murid-murid terbaik dari sekolah kita. Pertama adalah tim basket putra yang berhasil mendapatkan juara pertama, dan juga juara kedua untuk perlombaan pencak silat putra. Untuk saudara Irfan Harshad dari kelas dua administrasi perkantoran B dan Riki Ryandi dari kelas satu multimedia D, silahkan maju ke depan untuk penyerahan penghargaan dari sekolah kepada kalian berdua. ”
Riki yang duduk jauh dibelakangku pun berdiri dan mulai berjalan menuju podium. Saat Riki berjalan di sampingku, dia pun menepuk topiku yang membuat wajahku tertutup oleh bagian depan topi.
Aku hanya melihat ke arahnya dan dia terlihat sangat senang sekali.
“Mari kita beri tepuk tangan yang meriah kepada mereka berdua.”
Semua murid mulai bertepuk tangan dengan sangat meriah sekali.
“Kau kenapa tidak menepuk tanganmu Mar?”
Tanya Kichida yang saat ini berada di sampingku.
“Buat apa? Tepuk tanganku sudah terwakilkan dengan murid-murid yang lain, aku tepuk tangan atau tidak, aku rasa tidak akan ada yang berbeda.”
“Tapi kau harus menunjukkan rasa apresiasimu kepada mereka Mar.”
Lebih baik aku lakukan saja dibandingkan harus berdebat di pagi hari seperti ini.
Aku pun mulai menggerakan tanganku dan bertepuk tangan membaur dengan murid-murid yang lain.
Kepala sekolah mulai memberikan penghargaan berupa medali yang dibuat oleh sekolah kepada Riki dan Kak Irfan, mereka berdua juga mendapatkan sebuah amplop yang aku rasa di dalamnya berisi uang.
Murid-murid kembali bertepuk tangan untuk mereka berdua. Ada beberapa orang yang meneriakan nama Riki dan juga Kak Irfan.
“Kau terlihat tidak senang sama sekali Mar?”
Kichida kembali menegurku.
“Aku ingin segera kembali ke kelas.”
“Dimana rasa nasionalismemu Mar?”
Waduh... Aku dikomentari oleh orang yang berasal dari negara lain.
“Iya.. Iya...”
“Ternyata Riki bisa memenangkan perlombaan itu.”
Kichida kembali melihat Riki yang saat ini terlihat malu karena dipuji oleh banyak guru di sana.
“Tentu saja, tapi aku rasa dia saat ini sedikit kesal karena hanya mendapat posisi kedua.”
“Dari mana kau tau?”
“Aku sudah berteman dengan Riki sejak lama, tentu saja aku sudah tau bagaimana sifat yang dia miliki.”
Acara pemberian penghargaan yang penuh dengan semangat dan suara yang berisik pun akhirnya selesai. Kepala sekolah membubarkan semua murid untuk kembali ke kelasnya masing-masing.
Ketika di kelas, banyak sekali teman-temanku yang berkumpul di sekitarku untuk bertanya kepada Riki.
“Jadi ketika aku di sana, aku melawan orang-orang yang cukup hebat..”
Riki mulai menceritakan pengalamnya kepada teman-temannya saat itu dengan antusias.
Aku sudah lama tidak merasakan suasana bising di pagi hari seperti ini, namun kali ini makin berisik saja.
Kepalaku merasa sedikit pusing karena banyak orang yang mengerumuniku di pagi hari seperti ini.
Lebih baik aku memisahkan diriku terlebih dahulu.
Aku mulai berdiri dari tempat dudukku.
“Mau kemana kau Mar?”
Tanya Riki yang melihatku ingin pergi.
“Toilet.”
Aku pun keluar menerobos kerumunan itu dan akhirnya pergi ke luar kelas untuk mencari udara segar di sana.
Ah... Setidaknya lebih nyaman seperti ini.
Ketika pagi hari seperti ini apalagi di hari senin, aku memang tidak begitu menyukai suasana yang ramai, karena itu dapat membuat kepalaku pusing. Tapi hal itu hanya berlaku ketika hari senin saja, aku sendiri juga tidak tau kenapa hal itu bisa terjadi kepadaku.
“Apa yang kau lakukan di sini Mar?”
Pak Febri datang dengan memegang sebuah map di tangan kanannya.
“Aku sedang mencari udara segar saja, di dalam kelas udaranya terlalu pengap.”
“Hmmm... Pantas saja.”
Pak Febri melirik ke dalam kelas dan melihat kerumunan murid yang berada di kursiku.
“Ayo kita masuk, sudah mau mulai pelajarannya.”
__ADS_1
Aku masuk kembali bersama dengan Pak Febri. Melihat Pak Febri yang sudah datang ke kelas membuat semua murid kembali ke kursinya masing-masing.
“Mar, hal menarik apa saja yang kau lakukan selama aku pergi?”
Tanya Riki kepadaku.
“Tidak ada yang menarik.”
“Tidak mungkin, selama di Makassar aku merasakan ada sesuatu penting yang terlewatkan olehku.”
Sekuat apa insting yang dia miliki, apa dia benar-benar manusia apa binatang.
“Tidak ada, kalau tidak percaya kau bisa tanyakan hal itu kepada Maul.”
“Kau juga melupakan sesuatu yang seharusnya kau ucapkan kepadaku Mar.”
Setelah mendapatkan ucapan selamat dari orang sebegitu banyaknya dan dia masih meminta ucapan selamat dariku.
“Selama Rik, telah memenangkan perlombaan itu.”
“Kau ini, seharusnya kau sedikit bersemangat ketika mengucapkan itu.”
“Aku tidak bersemangat hari ini.”
“Apa terjadi sesuatu?”
Apa setelah sebulan lamanya dia tidak bersamaku dia jadi lupa kebiasaanku sehari-hari?
“Apa kau lupa kalau hari ini hari senin?”
“Aku lupa hal itu.”
Riki tersenyum kecil karena melupakan hal itu.
“Baru saja sebulan kau tidak bertemu denganku tapi dia sudah melupakan hal-hal yang sering aku lakukan di sekolah.”
“Oi Mar, apa kau sudah menyiapkan sebuah pekerjaan kepadaku? Kau sudah berjanji kepadaku kalau kau akan memberikanku pekerjaan setelah aku selesai O2SN.”
“Sepulang sekolah nanti, aku akan mengajak kau pergi ke kantor untuk membicarakan hal ini dengan Pak Hari. Aku sudah mengatakan ini sebelumnya kepada Pak Hari dan dia berkata untuk mengajakmu ke kantor ketika kau sudah ingin bekerja di sana.”
“Benarkah itu?”
Matanya Riki terlihat bersinar saat mendengarkan hal itu.
“Iya, aku sudah mengatakan ini jauh-jauh hari dan Pak Hari sudah menyutujui hal itu dan selalu menanyakan kapan kau masuk.”
Riki sangat senang sekali ketika mendengar itu.
Memang Pak Hari selalu menanyakan tentang Riki karena dia diberitahu oleh Pak Febri kalau aku dan Maul menjadi pasangan yang sangat kuat ketika bersama dengan Riki. Jadi dia makin penasaran dengan Riki.
“Lalu bagaimana dengan ekskulmu? Bukannya ekskulmu cukup padat.”
Apa yang terjadi dengan anak ini? Apa dia sebegitu kecewanya mendapatkan posisi ke dua saat O2SN.
“Kenapa?”
“Aku ingin melakukan sesuatu yang baru.”
“Apa kau kecewa dengan hasil pertandingannya?”
“Aku tidak pernah kecewa dengan hasil pertandingannya, lawan yang aku hadapi di final memang hebat. Aku memang ingin melakukan sesuatu yang baru saja.”
Apa itu alasan dia yang sebenarnya apa dia hanya membuat-buat alasan itu saja? Tapi sepertinya Riki tidak menyembunyikan apapun itu, karena Riki bukanlah orang yang gampang sekali putus asa.
Lagi pula mendapatkan juara dua di pertandingan nasional itu sudah sangat bagus sekali karena kau harus bertanding melawan anak-anak terbaik dari setiap daerah.
“Sayang sekali kalau kau sampai berhenti di pencak silat.”
“Apakah orang yang berhenti bermain basket walaupun memiliki kemampuan yang cukup hebat sepertimu berhak berkata seperti itu?”
“Sepertinya tidak.”
Aku baru ingat kalau apa yang Riki lakukan hampir sama dengan apa yang aku lakukan dulu.
“Siapa yang mengurusi tugas ketua kelas selama aku pergi?”
“Natasha yang melakukan semuanya dibantu oleh Kichida.”
“Kenapa kau tidak membantu mereka?”
“Buat apa aku membantu, aku tidak memiliki urusan di sana.”
Lagi pula Natasha tidak pernah meminta bantuanku sedikitpun, kalau dia memintanya juga belum tentu aku bantu sih.
“Seharusnya kau membantu mereka, pasti ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa dilakukan oleh anak perempuan seperti mereka.”
“Kalau untuk itu kau tenang saja, ada teman-teman yang membantunya.”
Aku memberikan tanda ibu jari kepadanya.
“Selama di Makassar aku selalu bersama dengan Kak Irfan dan dia selalu bercerita tentangmu. Memangnya sedekat apa kau dengan Kak Irfan dulu?”
“Selama di klub basket dulu, Kak Irfan memang dekat dengan semua anggotanya.”
Tapi aku rasa aku yang paling dekat dengannya karena aku sering menghabiskan waktu bersama dengannya di saat-saat kosong.
Diantara semua orang yang ada di timku, hanya aku saja yang berani untuk menyapa Kak Irfan dan berbicara biasa dengannya, sedangkan yang lain masih ada rasa segan.
“Aku kira kau dan Kak Irfan memiliki hubungan khusus.”
“Aku sama sekali tidak memiliki hubungan seperti itu.”
__ADS_1
Kalau saja aku dan Kak Irfan ada hubungan khusus, sudah pasti aku tidak akan memutuskan untuk berhenti dari basket karena Kak Irfanlah orang yang paling tidak setuju ketika aku menolak tawaran untuk menjadi timnas muda.
“Dan juga sewaktu di sana, ada beberapa murid dari sekolah lain yang bertanya tentangmu kepadaku.”
“Siapa mereka?”
“Mereka semua berkata kalau mereka pernah satu tim basket denganmu.”
Sepertinya mereka semua juga lolos seleksi dari O2SN itu. Aku memang tau kalau mereka sudah pergi ke sekolah yang berbeda saat masuk SMK, bahkan ada yang sampai pergi ke luar kota. Tapi aku tidak mengira kalau mereka semua akan bertemu di O2SN seperti itu.
“Apa kau hanya bertanding saja selama di Makassar?”
“Tidak, kami sesekali jalan-jalan saat mendapatkan waktu kosong.”
“Bagaimana Makassar?”
“Kalau untuk berlibur lumayan.”
“Hmmm....”
Sepertinya aku akan melihat-lihat di internet terlebih dahulu, tempat wisata apa yang bisa aku kunjungi ketika di sana. Siapa tau suatu saat ketika aku pergi ke sana, aku sudah ada rencana ingin pergi ke mana saja.
“Kira-kira apa saja yang akan aku kerjakan nanti?”
“Aku tidak tau apakah kau akan ditaruh dibagian yang sama denganku atau kau berada di bagian yang berbeda. Itu tergantung keputusan dari Pak Hari dan Kak Malik nanti.”
“Apa pekerjaannya sudah ada yang kita pelajari ketika di sekolah?”
“Ada beberapa yang sudah dan ada beberapa yang belum. Kau bisa belajar sambil bekerja nanti, aku akan membantumu.”
“Terima kasih Mar, kau memang teman terbaikku.”
Aku pun melihat Pak Febri yang masih mengobrol dengan salah satu murid yang ada di hadapannya.
“Apa yang kalian berdua sedang bicarakan?”
Natasha pun menoleh ke arah kami.
“Katanya hari ini Amar ingin memberikanku pekerjaan.”
“Benarkah itu, Apa mungkin kita akan satu bagian?”
“Kenapa seperti itu?”
“Belum lama ini ada seorang anak magang yang telah selesai masa bekerjanya dan ada beberapa bagian kosong di divisiku.”
Kalau Riki bisa satu divisi dengan Natasha, itu akan mempermudah pekerjaanku. Aku akan menyuruh Natasha untuk mengajarkan kepada Riki apa yang dia dapatkan dariku dan aku tidak perlu melakukan apa-apa.
“Enak sekali kalian sudah memiliki penghasilan sendiri.”
Kichida merasa iri kepada kami.
“Kenapa kau tidak mencoba daftar menjadi komikus di Comic Universe saja?”
Saranku kepada Kichida.
“Aku sudah pernah mengajukan komik one-shot untuk dikonteskan agar mendapatkan serialisasi tapi aku tidak pernah berhasil lulus.”
“Mungkin ceritamu belum sesuai dengan minat pembaca di Indonesia, itulah kenapa komikmu masih belum banyak yang memilih untuk menjadi serialisasi.”
“Itu bisa jadi, apa kau bisa memberiku masukan Mar?”
Seorang Kichida yang lebih ahli dalam membahas komik meminta saran kepadaku. Padahal saat pertama kali aku mendapatkan tugas untuk menjadi seorang editor, dia adalah orang yang selalu aku tanyai segala hal tentang komik. Mulai dari segi cerita sampai segi penggambaran.
“Aku tidak bisa membantu banyak, kalau kau ingin meminta bantuan lebih baik kau bertanya kepada Natasha.”
“Tenang saja Kichida, aku akan membantumu jika kau mau.”
“Terima kasih Natasha, aku sangat terbantu.”
“Pertama-teman lebih baik kau membaca komik di aplikasiku untuk mendapatkan inspirasi.”
Natasha mulai memberikan saran kepada Kichida.
“Aku sudah melakukannya.”
“Teruslah berusaha, siapa tau suatu saat itu kau bisa lulus mendapatkan serialisasi.”
“Aku bukanlah orang yang mudah berputus asa seperti itu Mar.”
“Itu semangat yang bagus, kalau kau masih gagal juga, kau bisa memberitahu Amar untuk menggunakan jalur orang dalam.”
Riki menepuk punggungku.
“Itu tidak baik untuk dilakukan.”
Itu benar Rik, tidak baik apa-apa menggunakan orang dalam.
“Aku juga tidak bisa berbuat apa-apa tentang hal itu. Semua komik yang masuk ke serialisasi dipilih berdasarkan angket dari pembaca. Kalau ada satu komik yang tiba-tiba masuk tanpa terpilih di dalam angket, itu akan sangat mencurigakan sekali dan bisa diprotes oleh pembaca.”
Dan kalau itu terjadi, bisa-bisa rating kita turun.
“Benar juga.”
“Baiklah anak-anak, mari kita mulai pembelajaran kita hari ini.”
Pak Febri mulai membuka kelasnya.
Kami semua pun mulai mendengarkan pelajaran yang diberikan oleh Pak Febri dengan seksama.
-End Chapter 97-
__ADS_1