
Keadaan menjadi hening, dan di dalam dadaku terasa sesuatu yang tidak beres setelah mendengar suara Akbar yang panik. Aku tau kalau dia sedang tertimpa sebuah masalah yang lumayan sulit dan aku harus membantunya.
“Ada apa Bar?”
“Aku mau minta tolong kepadamu Mar. Aa..”
Suara Akbar terdengar putus-putus, aku tidak tau itu karena sinyal atau dia yang sedang gugup sekarang.
“Sekarang kau tenang dulu dan ceritakan apa yang terjadi kepadaku.”
“Adikku hilang dan belum kembali sampai saat ini. Aku dan bibi sudah mencarinya kemana-mana namun dia tidak ketemu juga.”
“Ok, aku akan datang ke rumahmu.”
“Baiklah, aku akan menunggumu.”
Akbar pun menutup panggilannya.
Semoga saja Riki dan Maul sedang tidak sibuk sekarang. Aku butuh bantuan mereka berdua di saat-saat seperti ini. Aku pun mengirimkan pesan kepada mereka berdua untuk bertemu denganku di halte bis karena ada masalah yang sangat penting.
Aku langsung mengganti bajuku dan bergegas untuk segera pergi.
“Mau kemana kamu Kak, Kenapa buru-buru sekali?”
Nadira bertanya kepadaku saat aku sedang memakai sepatu.
“Aku mau pergi ke rumah temanku, bilang ke ibu kalau aku sepertinya akan pulang malam.”
“Jangan pulang malam-malam, kan sekarang sedang rawan penculikan.”
“Aku tau itu, nanti pas pulang aku akan bawakan makanan yang kau mau. Aku akan kirimkan pesan kepadamu jika aku mau pulang.”
Aku harus melakukan ini agar bisa lepas dari Nadira sekarang.
“Baiklah, kamu tau saja apa yang aku mau Kak.”
Setelah semuanya siap, aku langsung pergi ke halte bis dan di sana sudah ada Riki dan Maul yang sudah menungguku.
“Baguslah kalian berdua sudah sampai sini.”
“Ada apa Mar memanggil kami dadakan seperti itu? Tidak seperti kau saja.”
Riki melihatku dengan heran.
“Biarkan aku mengambil nafas dulu.”
Karena aku harus berlari ketika menuju ke sini, nafasku saat ini masih tidak beraturan sekali.
“Memangnya hal penting apa yang sedang terjadi?”
Tanya Maul yang sedang duduk di kursi halte.
“Adiknya Akbar belum pulang sampai sekarang, Akbar dan bibi sudah mencarinya kemana-mana dan tidak ketemu. Aku memiliki firasat buruk tentang hal ini.”
“Kalau begitu kita harus cepat sampai ke sana.”
Riki terlihat panik juga setelah mendengar itu.
“Mungkin adiknya Akbar sedang pergi ke rumah temannya untuk bermain.”
Maul masih terlihat santai sekali.
“Itu tidak mungkin Mul. Saat kami berdua datang ke rumahnya, adiknya sangat antisipasi sekali dengan kami berdua. Dan kalau dia memang pergi ke rumah temannya, pasti Akbar tidak mungkin sampai menelponku.”
“Sudahlah kita tidak perlu banyak berbicara di sini. Ayo kita segera pergi ke rumahnya Akbar!”
Bis yang ingin kami naiki pun datang dan kami langsung menuju ke rumahnya Akbar.
Ketika kami sampai di rumahnya Akbar, aku sudah dapat melihat Akbar yang sedang menunggu kami di depan rumahnya.
“Bagaimana keadaannya?”
Aku langsung menghampiri Akbar yang wajahnya masih terlihat panik. Pasti saat ini banyak sekali yang dia pikirkan.
“Kita masuk terlebih dahulu ke dalam Mar, kita bicarakan hal ini di dalam saja.”
Kami pun masuk ke rumahnya Akbar dan di dalam sana tidak ada orang sama sekali. Aku tidak dapan melihat bibi di dalam sana.
“Jadi ceritakan kepadaku bagaimana kejadiannya?”
“Jadi pagi ini Putri ada jadwal pergi ke masjid untuk mengaji bersama teman-temannya di sana, tapi sampai saat ini dia belum pulang padahal teman-temannya yang mengaji bersamanya sudah sampai di rumah. Aku sudah mencarinya kemana-mana dengan bibi, tapi kami tidak menemukannya sama sekali.”
Akbar terlihat sangat khawatir sekali.
“Apa kau memiliki sebuah petunjuk tentang keberadaan adikmu Bar?”
Tanya Riki kepada Akbar.
“Aku hanya diberitahu oleh teman-teman adikku kalau dia ikut bersama laki-laki dewasa.”
Hmmm... Laki-laki dewasa ya.
“Memangnya kau tidak mengawasi adikmu ketika pergi mengaji Bar?”
“Sebenarnya saat ini aku juga sedang tidak berada di rumah. Aku mendapatkan kabar ini dari bibi kalau Putri menghilang dan segera pergi ke rumah untuk mencarinya.”
Akbar menjawab pertanyaan Maul dan Maul langsung melihat ke arahku karena dia yakin kalau aku sudah mengetahui sesuatu.
“Sekarang dimana bibimu?”
“Saat ini bibi sedang pergi ke kantor untuk membuat laporan tentang masalah ini di sana.”
“Apa ini ada hubungannya dengan penculikan yang sedang marak Mar?”
Riki juga langsung bertanya kepadaku.
“Mungkin saja, tapi sepertinya ini bukan penculikan biasa.”
“Dari mana kau tau Mar?”
Akbar menatapku dengan cukup dalam.
“Aku hanya berfirasat kalau menghilangnya adikmu masih ada kaitannya dengan bapakmu?”
“Alasannya?!”
Akbar dan Riki terkejut mendengar itu.
“Ini masih dugaanku saja, tapi tidak mungkin kalau adikmu akan pergi dengan seseorang yang tidak dikenal. Pasti dia mau mengikuti lelaki itu karena dia sudah mengenalnya.”
Kalau dia tidak mengenalnya tidak menungkin dia mau mengikutinya.
“Aku mohon kepadamu Mar untuk menolongku, apapun akan aku berikan jika adikku bisa selamat.”
Akbar mencengkram lenganku dengan sangat kuat dan sedikit gemetar.
“Kau terlalu berlebihan, walaupun kau tidak memohon seperti itu. Aku pasti akan menolong adikmu.”
__ADS_1
Karena semenjak memberikan saran kepada Akbar, aku tidak pernah bisa tidur dengan nyenyak. Setiap malam sebelum tidur aku selalu memikirkannya, apakah yang aku lakukan itu benar atau tidak. Karena aku memiliki sebuah prinsip bahwa diam terhadap sesuatu itu tidak selamanya salah.
“Oi Mul, apakah kau bisa melacak lokasi dari bapaknya Akbar saat ini?”
“Selama aku memiliki nomor telepon atau sesuatu yang terhubung dengan ponsel bapaknya, aku bisa saja melacaknya.”
Maul mulai membuka laptop yang dia bawa.
Padahal aku tidak menyuruh Maul membawa laptop tapi dia sudah membawanya. Sepertinya dia sudah tau kalau dia akan melakukan hal seperti ini.
“Aku masih memiliki nomor bapakku, karena dia masih sering menghubungiku untuk meminta uang.”
“Berikan nomor itu kepada Maul.”
Suruhku kepada Akbar.
“Lalu apa rencana selanjutnya Mar?”
Riki terlihat sangat bersemangat sekali.
“Maul, kau pastikan kalau adiknya Akbar ada bersama bapaknya dan pastikan kalau bapaknya itu bersalah, setelah itu kita baru bertindak.”
“Siap Bos!”
Maul mulai melakukan pekerjaannya.
“Kau bersiap-siap saja Rik, karena kau dan aku yang akan terjun ke lapangan.”
“Aku sudah siap sejak lama untuk melakukan hal ini.”
Riki sedikit melakukan pemanasan pada lengannya.
“Aku juga mau ikut kalian berdua.”
Ucap Akbar.
“Kau tidak usah, biar aku dan Riki saja yang pergi.”
“Kenapa?”
Akbar terlihat kesal mendengarnya.
“Semakin dikit orang yang pergi maka aku tidak terlalu sulit untuk mengaturnya.”
Karena Riki kadang-kadang melakukan sesuatu yang tidak terduga dan aku sangat sulit sekali untuk mengendalikannya.
“Apa aku hanya mengganggumu saja Mar?”
“Begitulah.”
“Mudah sekali kau berkata seperti itu, aku kira kau akan mengatakan sesuatu yang lain.”
Akbar sedikit tersenyum kecut ke arahku.
“Saat ini yang menjadi prioritas adalah keselamatan adikmu, jadi mohon dimengerti akan hal itu.”
“Baiklah, aku serahkan hal ini kepada kalian berdua.”
Akbar mulai menerimanya dengan senang hati, walaupun aku rasa dia sedikit kesal karena tidak bisa membantu secara langsung.
“Bagaimana Mul?”
“Aku belum selesai, masih ada beberapa yang harus aku pastikan.”
“Tumben sekali kau lama melakukan hal ini.”
Apa membuktikannya bersalah akan selama itu. Aku rasa Maul hanya perlu memastikan apakah adiknya Akbar ada bersama bapaknya atau tidak. Selama adiknya ada bersama bapaknya, sudah dipastikan kalau bapaknya Akbar yang membawa adiknya. Itu sudah cukup untuk membuat kita bergerak.
“Kapan adikmu pergi ke masjid untuk mengaji Bar?”
“Kalau liburan seperti ini, dia berangkat pada jam delapan dan pulang pada jam sepuluh.”
“Sekarang kau lihat dimana posisi daribapaknya Akbar saat jam segitu Mul.”
Seharusnya itu sedikit membantunya.
“Sebentar..”
Setelah menunggu, akhirnya Maul pun mendapatkan jawaban atas pertanyaanku itu.
“Titik dari ponsel bapaknya Akbar tidak berubah dari jam tiga pagi tadi.”
Kalau begitu kita tidak bisa memastikan apakah adiknya Akbar ada bersama dengannya atau tidak.
“Dimana titiknya berada?”
Akbar langsung mendekat ke Maul dan melihat layar laptopnya.
“Titiknya berada di kawasan Jakarta Utara.”
“Hmmm...”
Jakarta Utara aku rasa tidak terlalu jauh dari sini, jika dibandingkan dari Cibubur.
“Aku akan meretas ponselnya untuk mengetahui sesuatu dari sana.”
“Lakukan itu Mul.”
“Apa kalian berdua sudah terbiasa melakukan ini?”
Akbar terheran-heran dengan apa yang aku dan Maul lakukan.
“Hanya beberapa kali saja aku melakukan ini.”
“Ayo Mul! Lakukan pekerjaanmu dengan cepat, aku sudah tidak sabar untuk beraksi.”
Riki yang mulai bosan mengeluh kepada Maul.
“Pekerjaan ini membutuhkan ketelitian yang lebih. Aku tidak bisa sembarangan bertindak, dan memberikan informasi yang salah.”
“Itu membosankan sekali.”
“Apa yang baru saja kau katakan itu benar Mar?”
Akbar menatapku dengan sangat serius.
“Apa?”
“Kalau hal ini masih ada hubungannya dengan penculikan yang sedang ramai itu?”
“Bisa saja.”
“Aku tidak akan memaafkan kalau bapakku memang menculik adikku dan berniat menjualnya ke orang lain.”
Sekarang amarah mulai menyelimuti Akbar.
Tunggu! Dari mana Akbar tau kalau korban dari penculikan itu rata-rata di jual. Apa berita yang memberitahukan hal itu?
__ADS_1
Mungkin saja, akhir-akhir ini aku sudah tidak memeriksa perkembangannya karena aku hanya menunggu informasi dari Maul saja.
“Oh iya, apa yang kau lakukan kepada bapakku sejak kita bertemu di kafe?”
“Ketika itu, aku membicarakannya kepada paman dan bibi. Mereka semua sepakat untuk tidak memberikan uang kepada bapakku.”
Berarti aku memang harus bertanggung jawab akan hal ini.
“Kalau begini semuanya sudah jelas.”
“Apa kau mengetahui sesuatu?”
“Begitulah.”
“Apa yang akan dia lakukan terhadap adikku Mar?”
Akbar makin cemas karena itu.
Apa seharusnya aku tidak perlu mengatakan hal itu kepadanya. Tapi sekarang sudah terlambat untuk menyembunyikannya, lebih baik aku mengatakan apa yang saat ini sedang aku pikirkan.
“Apa kau sudah siap untuk mendengarkan hal ini?”
Akbar pun menganggukan hal itu.
“Ada kemungkinan kalau bapakmu akan menjual adikmu ke tempat perdagangan manusia yang ada di Jakarta.”
Akbar terguncang dan sangat terkejut ketika mendengar hal itu. Dia terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa.
“Oi Mar! Kenapa kau mengatakan hal itu di saat seperti ini?”
Maul sedikit mengomeliku.
“Karena hal itu mungkin saja terjadi, jadi buat apa ditutup-tutupi.”
“Aku baru tau kalau hal seperti itu ada di Indonesia. Aku kira bapakku hanya menculik Putri dan mengancamku agar memberikan uang lagi kepadanya.”
Akbar masih gemetar dan berusaha untuk menenangkan dirinya.
“Sepertinya ada seseorang yang menawarkan harga yang cukup tinggi kepada bapaknya Akbar. Makanya dia bisa bertindak hingga seperti itu.”
“Aku tidak sabar untuk melihat yang sebenarnya terjadi.”
Semangat Riki makin membara kala itu.
Kemudian aku mendengar suara pintu terbuka dan terlihat bibi dan seorang lelaki tua datang memasuki rumah. Aku dapat pastikan kalau lelaki tua itu adalah pamannya Akbar. Mereka pun bergabung dengan kami di ruang tamu.
“Bagaimana paman?”
Akbar langsung bertanya kepada pamannya yang baru saja duduk tepat di sampingnya.
“Aku sudah melaporkan hal ini kepada polisi dan sekarang mereka sedang menyelidikinya.”
“Apa yang kalian lakukan di sini?”
Bibi bertanya kepada kami bertiga.
“Mereka datang ke sini untuk membantu kita Bi.”
“Bar, jangan katakan apa yang kita bicarakan tadi kepada mereka. Kalau mereka mendengar masalah tadi, bisa-bisa mereka pingsan karena tidak kuat mendengarnya.”
Aku berbisik kepada Akbar.
“Aku sudah paham akan hal itu Mar, jadi tenang saja.”
“Aku sangat senang ada temannya Akbar yang mau membantu kami. Kami sangat terbantu dengan bantuan kalian. Terima kasih!”
Pamannya Akbar sangat ramah sekali.
“Tenang paman, kami pasti akan membantu semampu yang kami bisa.”
Ucap Riki kepadanya.
“Bagaimana perkembangannya Mul?”
Aku menghampiri Maul yang sepertinya sudah mengetahui sesuatu akan hal ini. Karena dari tadi dia melihat ke arahku dan tidak fokus lagi dengan laptopnya. Pasti ada sesuatu yang dia ingin bicarakan kepadaku tapi dia tidak mau bibi dan pamannya Akbar tau tentang masalah itu.
“Apa yang kau katakan tadi memang benar dan tepat sekali dengan apa yang terjadi. Bapaknya Akbar memang menculik adiknya dan berniat untuk menjualnya kepada seseorang.”
Maul membisikkan hal itu kepadaku.
“Apa kau bisa membuat paman dan bibi pergi dari sini? Aku merasa tidak enak jika membahas hal ini dengan adanya mereka berdua.”
“Hal itu sudah aku lakukan tadi, aku sudah menghubungi bapakku tentang kasus ini dan bapakku sedang menuju ke polsek tempat pamannya Akbar melapor tadi, seharusnya pamannya Akbar akan mendapatkan telpon dari kepolisian sebentar lagi.”
“Aku suka dengan kerja cepatmu Mul.”
Aku memberikan tanda jempol kepadanya.
Seperti apa yang dikatakan Maul, tidak lama kemudian pamannya Akbar mendapatkan telpon dari kepolisian.
“Halo? Ada apa Pak?... Hah yang benar! Baik, kalau begitu saya akan segera ke sana. Terima kasih Pak.”
“Ada apa Mas?”
Tanya bibinya Akbar kepada suaminya.
“Tadi aku mendapatkan telpon dari kepolisian. Mereka bilang kalau mereka sudah mendapatkan petunjuk dan menyuruh kita untuk pergi ke sana.”
“Kalau begitu kita harus segera pergi.”
“Aku minta maaf kepada kalian berdua karena harus pergi lagi.”
Paman meminta maaf kepada kami bertiga.
“Tidak masalah paman, sekarang yang terpenting adalah adiknya Akbar.”
Ucap Riki.
Paman dan bibinya Akbar pun pergi kembali ke kantor polisi.
Mereka sudah pergi dan sekarang waktunya membahas masalah ini kepada mereka semua.
“Semuanya, ada yang aku bicarakan dengan kalian semua.”
“Apa kau sudah menemukan siapa pelakunya Mar?”
Riki makin bersemangat.
“Iya, dan pelakunya memang bapaknya Akbar.”
“Tidak mungkin...”
Akbar terlihat tidak percaya akan hal itu.
“Baiklah saatnya membahas rencananya sekarang!”
-End Chapter 109-
__ADS_1