Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 20 : Aku Terjebak Di Sebuah Permainan Yang Konyol.


__ADS_3

Setelah meluruskan kesalahpahaman dengan Rina. Aku kembali ke penginapan untuk bersiap-siap untuk acara nanti malam, dan juga sepertinya aku harus membuat Maul menjadi ceria kembali. Aku yakin dia sedang bersedih karena ditolak oleh Miyuki.


Ketika aku sampai di peningapan, aku melihat Maul yang sedang termenung di ruang tamu. Dia menunduk sedih dan terlihat lesu sekali. Sekarang aku mengerti mengapa Rina merasa kasihan jika menolak seseorang.


“Sudahlah Mul, memang Miyuki itu sangat susah untuk didapatkan. Bahkan Takeshi yang sudah lama kenal


dengannya saja tidak bisa berpacaran dengannya.”


Riki menyemangati Maul agar kembali ceria.


Sepertinya aku harus melakukan hal yang sama juga. Tapi apa yang harus aku katakan kepadanya? Aku tidak pandai dalam hal seperti ini.


“Katakan sesuatu lah Mar?”


“Kalau kau kembali ceria lagi, aku akan memberikan bagian ikanku nanti malam.”


Apakah yang aku katakan sudah benar?


“Mengapa kau mengatakan hal seperti itu.”


“Aku tidak tau harus berbuat apa, terakhir kali aku mencoba untuk membuat orang menjadi semangat, yang ada aku malah membuatnya depresi.”


“Memangnya apa yang kau katakan saat itu?”


Riki melihatku dengan wajah keheranan dan sedikit takut.


“Sepertinya aku memang ditakdirkan untuk menjadi jomblo seumur hidup.”


Maul menghela nafas dengan sangat panjang. Dia seperti orang yang sudah kehilangan tujuan hidupnya.


“Bukankah lebih baik seperti itu?”


“Apa maksudmu?”


“Bukankah kalau jomblo kau bisa mendekati perempuan mana saja tanpa perlu mengkhawatirkan apa pun, melakukan apa saja tanpa perlu membatasi diri dalam bersikap, dan masih banyak lagi.”


“Kau memang benar Mar, tapi tetap saja berbeda rasanya jika kau memiliki orang yang spesial.”


Sepertinya dorongan dariku sama sekali tidak berguna.


“Kau baru saja ditolak satu kali Mul, masih banyak kesempatanmu ke depannya.”


Hei Rik, jangan memberikan harapan yang tidak mungkin dia dapatkan. Kalau tujuan awalmu masih mendapatkan


Miyuki untuk dijadikan pacar, maka tujuan itu hanyalah sebuah harapan yang tidak pernah terwujud.


“Aku sudah menyerah Rik. Sepertinya Miyuki memang orang yang tidak dapat aku raih. Entah itu dalam waktu


berapa lama.”


Woah… Dalam sekali perkataannya. Tapi itu adalah keputusan yang sangat bijak. Meninggalkan Miyuki dan mencari wanita lain adalah satu-satunya jalan untuk mengobati luka ini.


“Kalau begitu tenang saja Mul… Banyak sekali teman-teman Miyuki yang tidak kalah cantik dengannya. Kau bisa


mulai mendekati mereka, setidaknya tingkat kesulitannya lebih mudah dibandingkan Miyuki.”


“Kau benar Mul, aku tidak boleh bersedih seperti ini terus.”


Maul pun terlihat kembali ceria sekali. Ternyata Riki hebat juga dalam hal seperti ini. Lain kali mungkin aku akan memintanya untuk mengajarkanku juga.


“Itu baru temanku.”


Dan kami pun menghabiskan waktu untuk bersenang-senang sebelum acara api unggun yang diadakan nanti malam. Malam ini adalah malam terakhir kami di pulau ini. Jadi setidaknya acara api unggun nanti akan sedikit meriah dibandingkan malam kemarin.


Malam pun telah tiba. Setelah shalat isya, kami pun pergi ke pantai untuk berkumpul dengan teman-teman yang


lainnya. Di sana sudah berkumpul semua teman-teman dari sekolahku dan juga dari sekolahnya Miyuki. Mereka semua sudah duduk mengitari api unggun.


Riki pun berdiri dan menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di sana. Semua mata tertuju kepadanya saat


ini.


“Baiklah teman-teman, karena ini malam terakhir kita di sini, saya ingin mengucapkan terima kasih yang


sebesar-besarnya atas partisipasi kalian dalam acara ini. Seandainya ada beberapa kesalahan yang terjadi selama acara berlangsung, saya pribadi selaku ketua acara meminta maaf yang sebesar-besarnya.”


Hebat sekali Riki dapat berbicara seperti itu di depan orang banyak. Kalau aku yang melakukan hal itu mungkin kakiku sudah bergetar dan aku tidak bisa mengucapkan kata selancar itu. Ketika sudah masuk SMK nanti, aku akan merekomendasikannya menjadi pengurus OSIS sepertinya.


“Tenang saja Rik, acara menyenangkan.”


“Benar, lain kali adakan lagi yang seperti ini.”


“Kapan-kapan kita adakan acara reunian seperti ini.”


“Kita ajak yang lainnya juga, supaya acara ini makin ramai dan meriah.”


Semua temanku yang ikut acara itu ternyata puas dan senang. Mereka terlihat bahagia sekali.


“Terima kasih teman-teman… Dan juga untuk Miyuki beserta teman-temannya, terima kasih juga telah ikut bergabung dengan acara ini, dengan begitu acara ini semakin ramai dan seru.”


“Ini sangat menyenangkan kok.”


“Kami juga mendapatkan teman baru di sini.”


Teman-teman dari Miyuki juga merasakan hal yang sama. Sepertinya tanggapan mereka membuat Riki senang.


“Baiklah, tanpa basa-basi lagi kita akan memainkan sebuah permainan yang baru saja aku buat.”


Riki mengeluarkan sebuah gelas plastik dari saku celananya dan beberapa lembar kertas yang ada di dalamnya.


“Mul, bisa bantu aku sebentar.”


“Bantu apa?”


“Tolong bantu aku membagi kertas ini menjadi potongan kecil sesuai dengan jumlah orang yang berada di sini.”


Riki memberikan kertas itu kepada Maul dan Maul mulai membaginya sesuai dengan perintah dari Riki.


“Permainan apa itu?”


Seorang perempuan dari sekolah Miyuki bertanya kepada Riki.


“Ini permainan untuk menambah keakraban. Masing-masing dari kalian akan menulis satu nama orang yang berada


di sini dan nanti akan dimasukan ke dalam gelas plastik ini. Kemudian nanti akan aku ambil secara acak kertasnya dan nama orang yang tertulis di kertas itu harus menjawab satu pertanyaan secara jujur dari satu orang pertama yang mengangkat tangannya terlebih dahulu… Mudah kan?”


Ah itu permainan bodoh, lebih baik aku tidak ikut permainan ini.


“Sepertinya menarik.”


“Ya, aku jadi tidak sabar.”


“Sepertinya ini saatku untuk menggali informasi lebih dalam tentang seseorang.”


Mereka semua yang berada di sana sangat antusias dengan permainan yang dibuat oleh Riki, dan kalau dilihat-lihat sepertinya setiap orang memiliki niat yang berbeda-beda untuk mengikuti permainan ini.


“Kali ini aku tidak ikut terlebih dulu.”

__ADS_1


“Kenapa Ar?”


“Iya, kenapa kamu tidak ikut permainan ini? Bukankah permainan ini menarik.”


Rina dan Miyuki memaksaku untuk mengikuti permainan ini.


“Hee… Apa kau takut kalau rahasiamu terbongkar?”


“Rahasia? Aku mana ada rahasia yang menarik untuk kalian ketahui.”


“Ayolah…”


Rina dan Miyuki melihatku dengan mata penuh dengan harapan. Sepertinya mereka berdua punya pertanyaan


yang ingin mereka tanyakan kepadaku. Sebenarnya aku sangat ingin menolak hal ini, tapi tatapan para lelaki dari sekolahku dan sekolah Miyuki saat ini sangatlah menyakitkan. Apa lagi tatapan Takeshi, itu sangat mengganggu sekali. Dari pada aku terus ditatap seperti itu, lebih baik aku mengikuti mereka.


“Baiklah, kali ini aku akan ikut.”


“Yeay.. Asik!”


“Yosha!”


“Kalau begitu sudah diputuskan ya.”


Permainan pun dimulai, setiap orang yang ada di sana mulai mengisi kertas yang dibagikan dengan menggunakan


satu pulpen yang digunakan bersama-sama secara bergiliran.


“Nama siapa yang kamu tulis?”


Miyuki mencoba mengintip kertas yang berada di tanganku.


“Hei, kau tidak boleh melihat isinya. Itu curang namanya.”


Aku menutupi kertas milikku dengan tanganku.


“Sedikit saja sepertinya tidak masalah Ar.”


Ternyata Rina juga ingin melihat isi kertas milikku.


“Tidak boleh.”


Dan aku pun memberikan kertasku kepada Riki dan kemudian dia menaruhnya di dalam gelas plastik.


Semua orang yang berada di sana pun telah selesai menuliskan semua nama di kertasnya masing-masing dan


langsung memberikan kepada Riki. Setelah semuanya terkumpul, Riki pun mengocok gelas plastik itu supaya kertas yang ada di dalam menjadi teracak.


“Baiklah, aku akan mengambil kertas pertama.”


Riki pun mengambil salah satu kertas yang sudah dilinting dari dalam gelas plastik.


Sebenarnya aku tidak begitu khawatir kalau namaku akan keluar dari dalam gelas plastik tersebut. Lagi pula siapa


yang akan menulis namaku dan memasukannya ke dalam gelas itu. Oh iya, aku melupakan suatu hal. Mungkin Rina dan Miyuki yang menulisnya.


“Takeshi silahkan berdiri.”


Ternyata kertas itu berisi nama Takeshi, Riki pun menunjukan isi kertanya kepada kami. Tapi itu adalah hal yang percuma karena tulisannya tidak terlihat sedikit pun oleh kami.


“Baiklah, siapa di antara kalian semua yang ingin bertanya kepada Takeshi.”


Riska menunjuk tangannya dan kemudian dia pun berdiri.


“Apa pertanyaannya Riska?”


“WOAHHH!!”


Suasana pun menjadi ramai, semua temanku dan temannya Miyuki bersorak ketika mendengar pertanyaan dari


Riska.


Takeshi pun hanya tersenyum kecil dan dia langsung memandang Miyuki yang sedang berbicara dengan Rina.


“Miyuki!”


Dia pun memanggil Miyuki dengan sangat tegas.


“..Ya?”


“Sejak lama sebenarnya aku sudah menyukaimu, maukah kau menjadi pacarku?”


Takeshi berlutut tepat di hadapan Miyuki. Semua mata kini tertuju ke arah mereka.


“WOAHHH!!!!”


Suasana pun menjadi ribut kembali, semua emosi tercampur menjadi satu. Aku melihat Miyuki sedang kebingungan dengan pertanyaan yang terlontar secara tiba-tiba itu. Aku juga sesekali melihat ke arah Maul yang sepertinya terkejut juga mendengar hal itu.


“Ayo jawab itu Miyuki!”


“Jawab… Jawab… Jawab…”


Seluruh orang yang berada di sana mendesak Miyuki untuk segera memberi jawabannya. Takeshi saat ini masih


berlutut untuk menunggu jawaban dari Miyuki. Sepertinya dia juga tidak sabar dan penasaran jawaban apa yang akan keluar dari mulut Miyuki.


Hebat sekali dia, seperti yang aku harapkan dari Takeshi. Dia tidak ragu untuk mengatakan itu di depan semua


orang. Sepertinya dia memang orang yang ingin selalu dilihat oleh orang lain. Tapi sayangnya kali ini kau hanya akan menanggung malu saja Takeshi, karena aku sudah tau apa yang akan dia jawab.


Miyuki pun berdiri dan langsung melangkah mendekati Takeshi. Saat dia sudah lumayan dekat dengan Takeshi, tiba-tiba Miyuki pun sedikit membungkuk.


“Maafkan aku, tapi saat ini aku sedang ingin sendiri terlebih dahulu.”


Takeshi pun menjadi lemas setelah mendengar itu. Miyuki pun kembali duduk ke tempatnya.


“Hahahahaha… Lihat dia, lucu sekali.”


Maul tertawa lepas sekali ketika melihat itu.


“Hahaha.. Hentikan itu Mul, kau tidak boleh seperti itu.”


Riki berusaha menahan tawanya namun dia tidak bisa.


“Hahahahahaha… Dasar bodoh.”


Seperti yang aku katakan barusan, Miyuki pasti langsung menolaknya. Tidak mungkin dia akan menerima


seseorang setelah menolak seseorang, apa lagi orang yang dia tolak sedang berada di sini.


Aku melihat Takeshi yang kembali ke tempatnya duduk dan kemudian teman-temannya menghiburnya seperti


yang Riki lakukan kepada Maul ketika dia ditolak oleh Miyuki.


“Saya turut berduka atas kejadian tadi… Hehehe…”


Riki masih tidak bisa melupakan kejadian itu.

__ADS_1


“Kita lanjut ke kertas selanjutnya.”


Riki pun mengambil salah satu kertas yang ada di dalam gelas dan membukanya.


“Amar! Silahkan berdiri.”


Ah sial, kenapa dari semua kertas yang ada di sana, harus kertas yang berisikan namaku duluan yang keluar.


Aku pun berdiri dan menunggu orang yang ingin bertanya kepadaku.


“Siapa yang mau bertanya kepada Amar?”


Banyak sekali orang yang ingin bertanya kepadaku, mulai dari laki-laki sampai perempuan dan mereka bukan dari


sekolahku saja, bahkan ada yang dari sekolahnya Miyuki.


“Ya… Perempuan yang ada di sana!”


Riki menunjuk perempuan dari sekolahnya Miyuki yang menunjuk pertama kali. Perempuan itu pun berdiri, dia terlihat malu untuk bertanya kepadaku.


“…Apakah saat ini ada perempuan yang kau suka?”


“Tidak.”


Aku menjawabnya dengan singkat, padat, dan jelas.


“Baiklah.”


Perempuan itu kembali duduk bersamaan denganku. Dia terlihat senang sekali atas jawaban yang aku berikan.


Apakah ini pertanda kalau dia suka denganku? Sepertinya debutku sudah dimulai.


“Permainannya semakin menarik, kita akan melanjutkan permainan ini.”


Riki mengambil satu kertas lagi dari dalam gelas plastik.


“Amar silahkan berdiri lagi.”


“Kenapa namaku harus disebut dua kali?”


Aku tidak terima akan hal ini. Ini sangat merepotkan, apa yang menulis namaku di kertas itu bukan hanya Rina dan Miyuki?


Aku pun berdiri dan menunggu orang yang ingin bertanya kepadaku. Aku melihat dengan jelas Riki sedang tertawa


menikmati penderitaanku, aku rasa dia sudah merencanakan hal ini. Lihat saja Riki, suatu saat aku pasti akan membalasmu.


“Ya… Mas yang di sana.”


Riki menunjuk laki-laki dari sekolahnya Miyuki lagi. Aku heran kenapa dia senang sekali menunjuk orang dari sekolah Miyuki.


“Apa hubunganmu dengan Miyuki? Aku melihat kalian berdua sangat akrab sekali, bahkan aku tidak pernah melihat


Miyuki bersikap seperti itu kepada orang lain. Apa sebenarnya hubungan kalian berdua?”


Ah pertanyaan yang merepotkan akhirnya keluar. Inilah alasan utama aku tidak mau mengikuti permainan ini. Pasti pertanyaan bodoh macam ini akan keluar.


“Kami hanya orang yang tidak sengaja bertemu dengannya saja. Alasan dia bersikap seperti itu karena dia sangat senang meledekku, itu saja.”


Ya, sepertinya itu jawaban yang paling tepat untuk menjawab hal itu.


“Apakah itu benar? Kau tidak berbohong kan?”


“Untuk apa aku berbohong? Lagi pula itu tidak ada manfaatnya sama sekali bagiku.”


“Kamu jahat sekali Mar.”


Miyuki tidak terima dengan semua perkataanku barusan.


Dan permainan pun berlanjut. Hampir semua pertanyaan yang ditanyakan adalah sesuatu yang berkaitan tentang


cinta. Hanya Riki saja yang dapat pertanyaan sekaligus tawaran dari kelompok laki-laki yang berasal dari sekolahnya Miyuki. Rina pun mendapatkan pertanyaan tentang orang yang dia sukai juga dari seorang lelaki yang berasal dari sekolahnya Miyuki. Hingga akhirnya, kita pun sampai di kertas terakhir.


“Ini adalah kertas terakhir…”


Riki mengambil kertas terakhir itu dan mulai membacanya.


“Kali ini adalah seseorang yang mungkin ditunggu-tunggu. Miyuki silahkan berdiri!”


Miyuki pun berdiri dengan senangnya, sepertinya dia sudah siap dengan pertanyaan yang akan terlontar nantinya.


Dan seorang laki-laki dari sekolahku berdiri untuk bertanya kepada Miyuki.


“Seperti apa tipe laki-laki yang kamu suka?”


Laki-laki itu bertanya kepada Miyuki dengan malu-malu, aku dapat melihat dia gugup ketika mengatakan itu.


“Hmmm…”


Miyuki pun berpikir dengan serius sekali. Semua laki-laki yang berada di sana menunggu jawaban darinya.


“…Aku tidak begitu mempermasalahkan penampilannya, sifatnya menarik dan berbeda dari kebanyakan orang, memiliki idealisme yang kokoh, terlebih lagi dia tidak pernah meperlakukanku sebagai orang yang istimewa.”


Tunggu… Aku tau maksud dia mengatakan hal itu semua.


“Tidak mungkin ada lelaki yang memperlakukanmu biasa saja, pasti dia akan memberikan perhatian lebih kepadamu?”


Lelaki itu menyangkalnya.


“Ada.”


“Siapa?”


Tanpa menjawab apa pun Miyuki hanya menunjuk ke arahku. Tentu hal itu membuat seluruh mata laki-laki tertuju


kepadaku dan berubah menjadi tatapan kecemburuan dan keirian. Terutama Takeshi yang baru saja ia tolak.


Aku sudah tau kalau tujuan dia hanya untuk meledekku saja. Dia memang senang sekali membuat orang lain menjadi repot.


Permainan pun berakhir, dan acara selanjutnya adalah makan bersama. Ketika makan bersama, seluruh laki-laki


yang mengikuti acara itu pada menghampiriku untuk bertanya kembali tentang hubunganku dengan Miyuki. Mereka semua tidak percaya kalau aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya.


Saat aku sedang dalam situasi yang sangat merepotkan seperti itu, Riki pun datang menghampiriku untuk menjelaskan semuanya kepada mereka, dan aku pun terbebas dari pertanyaan yang merepotkan.


Terima kasih sobat, sepertinya aku tidak jadi membalas perbuatanmu yang barusan.


“Oh iya Mar, tadi Miyuki menyuruhku untuk memanggilmu katanya ada sesuatu yang ingin dia katakan.”


Riki berkata hal itu tepat setelah situasi menjadi damai di depan laki-laki yang ada di sana yang membuat mereka bertanya lagi dan lagi.


Sepertinya aku benar-benar akan membalas perbuatanmu itu lain kali.


"Hanya aku saja yang tidak ada namanya di kertas... Memang aku bukan orang yang terkenal!"


Maul terlihat murung sambil memakan makanan yang ada di hadapannya.


Dan juga aku rasa, aku dan Riki harus menghiburnya lagi. Ya... Mengapa liburanku kali ini sangat merepotkan sekali.

__ADS_1


-End Chapter 20-


__ADS_2