
Sore hari yang mendung telah tiba, hujan yang turun sebelumnya membuat dedaunan di pohon sekitar masih basah. Mentari juga sudah mulai tenggelam di ufuk barat dan bulan sabit sudah muncul di sisi yang berlawanan.
Saat ini aku sudah berada di rumah Miyuki bersama teman-temanku yang lainnya untuk mengadakan acara bakar-bakar malam tahun baru. Ketika aku berada di sana, aku dapat melihat Kichida dan Yoshida yang sedang memotong daging.
Aku dan Maul langsung pergi menghampiri Miyuki yang sedang menyiapkan semua peralatan yang dibutuhkan untuk bakar-bakar.
“Apa yang bisa aku bantu?”
Aku bertanya kepada Miyuki yang terlihat sibuk sekali saat itu.
“Tidak ada Mar, semuanya sudah aku siapkan tadi pagi. Kita tinggal bakar-bakar saja.”
Miyuki mencoba terlihat bisa diandalkan.
Melihatnya saat ini entah kenapa membuatku sedikit tenang setelah melakukan kegiatan yang melelahkan belum lama ini.
Karena tidak ada yang bisa aku lakukan, aku pun menghampiri Kichida lagi dan ingin mencoba untuk membantunya.
“Apa ada yang bisa aku lakukan?”
Aku meminta sesuatu kepada Kichida.
“Kalau kau ingin membantuku, kau bisa membantuku memotong daging-daging ini menjadi ukuran kecil untuk nantinya ditusukkan ke tusuk sate.”
Kichida memberikanku satu mangkuk berisikan daging yang masih utuh belum dipotong.
Aku mulai mengambil pisau yang ada di sana dan memotong daging yang diberikan oleh Kichida.
Aku melihat Yoshida yang melihatku saat sedang memotong-motong daging itu.
“Ada apa?”
Aku menegurnya.
“Kau mahir sekali memotong dagingnya.”
“Aku sudah sering melakukan hal seperti ini di rumah.”
“Apa kau di rumah memasak makananmu sendiri?”
“Iya, dulu sebelum aku memiliki pekerjaan seperti sekarang, aku masih sering memasak makananku sendiri. tapi sekarang aku lebih sering membeli makanan jadi di luar.”
Karena aku tidak memiliki waktu jika harus memasak di rumah, selain itu waktu pulangku juga semakin malam karena aku harus pergi terlebih dahulu ke kantor jika ada tugas di sana. Lagi pula uangku juga sudah banyak, membeli makanan jadi untuk makan malam tidak akan menghabiskan uangku.
“Aku jadi minder melihat kemampuanmu yang lebih hebat dibandingkanku, padahal aku perempuan di sini.”
“Buat apa minder, kalau kau sudah sering memasak nanti juga akan mahir dengan sendirinya.”
Mendengar itu membuat Yoshida menjadi bersemangat kembali dan mulai menggerakan tangannya memotong daging-daging yang ada di hadapannya menjadi bagian-bagian kecil.
“Aku menantikan sekali memasak di atas gunung lagi.”
Ucap Miyuki yang baru saja datang menghampiri kami setelah menyiapkan semuanya di halaman depan.
“Memangnya kenapa?”
“Aku merasa kalau memasak di gunung itu sangat luar biasa sekali. Kita dapat memasak sambil menyaksikan pemandangan yang sangat indah.”
Sepertinya dia sudah terkena demam gunung.
Jadi aku mengetahui hal ini dari Riki, katanya jika seseorang mendaki ke sebuah gunung, dia akan menjadi ketagihan dengan pemandangan-pemandangan yang dia dapati di sana. Walaupun saat itu dia tidak mendapatkan pemandangan yang dia inginkan, tapi dia akan tetap terkena demam gunung juga.
Aku juga bingung ketika diberitahu hal itu oleh Riki, jadi apa yang menyebabkan orang terkena demam gunung.
“Bukannya memasak di gunung justru sulit?”
Tanya Kichida kepada Miyuki.
“Memang benar sulit, karena saat memasak di sana kita hanya menggunakan kompor portabel yang apinya tidak begitu panas, selain itu suhu udara yang dingin membuat makanannya menjadi cepat dingin jika tidak kita habiskan. Tapi itulah tantangan dari memasak di atas gunung.”
Ketika melihat Miyuki saat ini, entah kenapa aku jadi teringat dengan Riki ketika menjelaskan sesuatu yang dia sukai.
“Aku jadi tidak sabar mendaki gunung bersama dengan Amar dan yang lainnya.”
Ucap Yoshida.
“Apa yang kau lakukan saat liburan kemarin Mar?”
Miyuki duduk di sampingku untuk membantuku memotong daging yang ada di sana.
“Aku hanya berada di rumah saja dan sesekali pergi ke kantor untuk mengadakan rapat di sana.”
“Walaupun liburan kau tetap bekerja?”
“Tentu saja, aku hanya mendapatkan libur ketika hari sabtu dan minggu saja. Kadang-kadang juga aku harus masuk di hari sabtu karena ada rapat dadakan.”
Tapi setidaknya aku tidak perlu ke kantor setiap hari.
“Ngomong-ngomong dimana Riki dan Rina?”
“Riki sedang pergi untuk menjemput Kirana, sedangkan RIna katanya ada yang dia lakukan terlebih dahulu di rumahnya.”
Maul menjawab pertanyaan dari Kichida.
“Apa Natasha, Rian, dan Akbar jadi datang?”
Miyuki bertanya kepadaku.
“Aku tidak tau, tapi sepertinya mereka akan datang. Karena aku sudah mendapatkan pesan dari Rian kalau dia sudah di jalan.”
Tidak lama kemudian, kami mendengar seseorang menekan bel rumah Miyuki.
“Sebentar, aku mau melihat siapa yang datang itu.”
Miyuki langsung pergi ke gerbang depan untuk menyambut orang itu.
“Kenapa Takeshi?”
Karena dari tadi aku sama sekali tidak melihat batang hidung dari Takeshi. Seharusnya kalau sudah menyangkut soal masalah Miyuki, pasti dia akan datang lebih awal dibandingkan yang lainnya.
“Dia sedang bermain dengan Misaki di dalam.”
Jawab Kichida.
“Jadi dia sudah datang.”
“Iya, dia datang bersama denganku dan juga Yoshida.”
“Aku kira dia akan datang sendiri ke sini.”
“Mana mungkin Takeshi berani melakukan hal itu.”
Aku baru tahu mengenai itu. Aku kira dia lelaki yang cukup berani untuk mendekati Miyuki hingga datang ke rumahnya setelah aku melihat kalau dia berani menyatakan perasaannya di hadapan orang-orang yang lain. Ternyata selama ini aku salah, dia masih takut untuk melakukan hal-hal seperti ini. Sepertinya jalanmu masih panjang Takeshi.
__ADS_1
“Sejak kapan Misaki menjadi dekat dengan Takeshi?”
Maul bertanya heran kepada Kichida.
“Sebenarnya Misaki selalu bertanya kapan Amar datang kepada kami karena dia ingin bermain gim bersama dengannya. Tapi karena dia merasa bosan, akhirnya Takeshi pun yang menemaninya bermain gim.”
Ucap Yoshida.
“Baguslah kalau begitu.”
Setidaknya hal ini bisa membuat hubungannya dengan Takeshi menjadi membaik. Kau harus menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin Takeshi.
Kalian tidak perlu bingung kenapa aku membantu Takeshi. Karena dari dulu aku memang kasihan melihat Takeshi yang selalu dicampakan oleh Miyuki, apalagi saat ini aku dan Takeshi sudah tidak memiliki masalah lagi. Jadi sebagai teman yang baik, aku akan membantu hubungan mereka agar lancar.
Selain itu, jika Takeshi berhasil menaklukkan hati Miyuki dan mereka berdua berpacaran. Maka isu-isu yang membicarakan tentang hubunganku dengan Miyuki akan menghilang dengan sendirinya.
Inilah yang aku sebut dengan sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.
Kemudian Miyuki pun datang bersama dengan Akbar dan adiknya. Ternyata Akbar membawa adiknya dalam acara bakar-bakar kali ini.
“Selamat malem kalian semua.”
Akbar menyapa semuanya yang ada di sana.
“Hai Akbar!”
Mereka semua menyambut Akbar dengan baik, padahal Akbar sama sekali tidak pernah berkumpul dengan kami ketika istirahat.
“Aku minta maaf karena harus mengajak adikku. Saat ini di rumahku sedang tidak ada orang, jadi aku harus mengajaknya pergi bersama.”
Tentu saja bibinya tidak mau meninggalkannya seorang diri setelah mengalami kejadian seperti itu.
“Tidak masalah Bar, makanan yang tersedia juga banyak. Kita tidak mungkin bisa menghabiskan semuanya.”
Miyuki tersenyum kepada Akbar.
Akbar sedikit terlena setelah melihat senyuman dari Miyuki.
“Bar, ikut aku sebentar!”
Aku pun menarik Akbar ke suatu tempat untuk berbicara berdua bersamanya.
“Ada apa Mar?”
“Ingat! Jangan ceritakan kejadian kemarin kepada mereka.”
Aku memperingati Akbar akan hal itu.
“Aku tau itu, aku tidak akan melakukannya.”
“Itu bagus, aku tidak perlu menjelaskannya lebih banyak kepadamu.”
Kami pun kembali ke tempat yang lainnya dan aku melanjutkan pekerjaanku lagi.
“Apa yang kalian berdua bicarakan?”
Miyuki bertanya kepadaku.
“Hanya pembicaraan lelaki saja.”
Miyuki pun menyipitkan matanya.
“Pasti ada sesuatu yang sedang kamu sembunyikan.”
Ucapku sambil tertawa kecil agar lebih meyakinkannya.
Pekerjaan memotongku pun hampir selesai dan sekarang aku melanjutkannya dengan menusukkan semua daging itu ke tusuk sate yang sudah dibawa oleh Maul tadi.
Tiba-tiba Misaki keluar dari rumah dan langsung menghampiriku.
“Bang Amar!”
Misaki memelukku dari belakang.
Aku tidak tau kenapa setiap saat aku bertemu dengan Misaki, sikapnya dia kepadaku sudah seperti adikku sendiri.
“Ada apa Misaki?”
“Ayo kita bermain gim!”
“Bukannya tadi kau sudah bermain bersama Takeshi?”
“Orang itu terlalu lemah, aku selalu menang melawannya dan aku menjadi bosan.”
“Hahahahahahaha....”
Mendengar itu membuat aku dan Maul tertawa karena Takeshi dipermalukan oleh anak SD.
Bahkan sampai saat ini Misaki masih tidak mau memanggil Takeshi dengan namanya. Apa yang kau lakukan selama ini Takeshi, seharusnya dengan waktu yang cukup saat kalian berdua tadi sudah dapat membuatnya menyebutkan namanya, atau paling tidak gambaranmu di pikirannya dia adalah orang yang baik.
“Aku memang tidak terlalu jago dalam bermain gim.”
Takeshi berusaha menutupi rasa malunya itu.
“Aku akan melakukannya setelah bakar-bakar saja ya.”
“Baik.”
Misaki pun duduk di sampingku dan melihat apa yang aku kerjakan sambil bermain gim.
Kenapa kedua kakak dan adik ini berada di sampingku semua. Aku butuh ruang gerak yang cukup luas di sini.
Kemudian Riki dan Kirana datang disusul juga dengan kedatangan Rina, Natasha, dan Rian yang datang secara bersamaan. Ketika itu, aku dibuat terkejut oleh suatu hal. Hal itu adalah Nadira yang datang bersama dengan Rina.
Padahal sebelum berangkat ke sini, Nadira bertanya kepadaku mau kemana aku pergi. Tapi aku berkata kalau aku hanya bermain ke rumahnya Riki dan merayakan tahun baru bersamanya.
“Kenapa kau bisa ada bersama Rina Nadira?”
Tanyaku kepadanya.
“Kakak sendiri kenapa di sini? Bukannya tadi Kakak bilang mau merayakan tahun baru bersama Riki.”
Nadira bertanya balik kepadaku.
“Dia memang merayakan tahun baru bersamaku loh.”
Celetuk Riki.
“Kenapa dia bisa bersamamu Rina?”
“Tadi aku bertemu dengannya ketika di jalan, dan ketika aku mengatakan tujuanku pergi. Tiba-tiba dia langsung mau ikut ke sana.”
Rina menjelaskannya kepadaku.
__ADS_1
“Aku sudah tau kalau kau pasti menyembunyikan sesuatu Kak.”
“Siapa dia Mar?”
Kichida bertanya kepadaku.
“Dia adalah Nadira, adiknya Amar.”
Miyuki yang menjawab pertanyaan itu.
“ADIKNYA AMAR!”
Semua orang yang belum mengetahui itu terkejut mendengarnya.
Sebenarnya kalian tidak perlu seterkejut itu loh, bukan sesuatu yang mustahil aku mempunyai seorang adik. Lagi pula Riki sudah mengatakannya sejak lama kalau aku memang memiliki seorang adik.
“Auranya jauh berbeda sekali dengan kakaknya.”
“Aku setuju denganmu Kichida, dia lebih terlihat bersahabat dan baik.”
Ucak Kichida dan juga Yoshida.
“Sudahlah, lebih baik kita melanjutkan kerja kita.”
“OOOO!!...”
Kami pun mulai melakukan pekerjaan kami masing-masing.
Sekitar jam sepuluh malam, kami mulai acara bakar-bakarnya. Aku dan Riki yang bertugas untuk menyalakan dan membuat bara api.
Ketika baranya sudah siap, dan apinya sudah menyala. Kami mulai membakar semua bahan-bahan yang kami sediakan sebelumnya.
Banyak sekali makanan yang disediakan oleh Miyuki dan dibawa yang lainnya. Ada ikan, ayam, daging, sosis, dan beberapa sayuran.
Setelah selesai membakar semua bahan-bahannya, kami pun pergi ke ruang tamu untuk menyantap makanan itu sambil menunggu tahun baru. Di sana juga terdapat bapak dan ibunya Miyuki.
“Bagaimana kabarnya Mar?”
Bapaknya Miyuki manyapaku dengan ramah.
“Alhamdulillah baik Om, Om sendiri?”
“Om baik juga.”
“Nadira juga ikut ke sini?”
Ibunya Miyuki bertanya kepada Nadira.
“Iya tante.”
Nadira masih terlihat malu dan akhirnya dia sedikit bersembunyi di balik tubuhku.
Kami semua melihat di acara televisi sudah mulai menghitung mundur dan semua orang yang ada di sana melakukan hal yang sama kecuali aku, karena aku tidak tau apa kesenangannya dari menghitung mundur di acara tahun baru seperti ini.
Saat hitungan mundur selesai, terdengar suara kembang api.
“Ayo semuanya kita lihat kembang apinya dari lantai dua!”
Miyuki mengajak kami untuk melihat bersama.
Kami pun pergi ke lantai dua untuk melihat kembang api itu di balkon rumah Miyuki yang cukup luas untuk menampung kami semua.
Kami pun melihat kembang api itu bersama-sama. Walaupun kami hanya menonton kembang apinya bukan di tempat strategis, tapi banyak sekali orang yang menyalakannya pada saat itu yang membuat suara di sekitar sangat bising karenanya.
Ini hanya pendapatku saja, karena menurutku mengeluarkan duit hanya untuk membeli kembang api itu sangat mubazir atau buang-buang uang.
Berapa biaya yang mereka keluarkan hanya untuk membeli kembang api yang nantinya dibuang seperti itu.
Ketika acara kembang apinya sudah selesai, kami pun kembali ke ruang tamu untuk menyantap makanan yang sudah kami siapkan.
Saat kami sedang menyantap makanan, Rian pun menanyakan sesuatu yang hampir saja membuatku sedikit panik.
“Teman-teman, tadi ketika dalam perjalanan ke sini aku sempat membaca sebuah berita. Berita itu adalah tentang polisi yang berhasil menggagalkan kasus penculikan seorang bapak kepada anaknya, dan di berita itu dikatakan kalau dengan kasus ini juga kasus penculikan itu akan segera hilang.”
Kenapa dia harus membicarakan hal ini di saat seperti ini!
“Kejam sekali bapaknya berani melakukan hal seperti itu kepada anaknya sendiri.”
Yoshida mulai memberikan tanggapan terkait hal itu.
“Menurut beritanya, dia melakukan hal itu karena kondisi ekonomi keluarganya yang tidak bagus.”
“Walaupun ekonomi keluarganya tidak bagus, tapi menculik anaknya sendiri itu sangat keterlaluan.”
Kemudian Miyuki menatap ke arah kami bertiga.
Ya, kalian tau kami bertiga yang aku maksud di sini adalah aku, Maul, dan juga Riki.
“Kenapa kalian bertiga diam saja tidak bicara apa-apa tentang hal ini? Terutama kau Rik, biasanya kau akan menanggapinya.”
“Memangnya aku biasa melakukan apa di saat seperti ini?”
Riki mulai terlihat panik karena Miyuki berhasil mengetahui sesuatu. Intuisinya ketika sedang meneliti sesuatu memang sangat menyeramkan.
“Biasanya kau akan antusias jika sedang membahas hal-hal seperti itu dan bertanya kepada Amar tentang pendapatnya.”
“Hahaha...”
Riki hanya tertawa untuk menghilangkan kecurigaannya Miyuki. Tapi jika kau hanya tertawa tanpa memberikan alasan yang jelas masih kurang Rik. Seharusnya kau memberikan beberapa alasan agar dia semakin yakin kalau kau tidak ada hubungannya dengan pembicaraan ini.
Kemudian Miyuki pun melihat ke arahku yang sedang asik menyantap makanan yang ada di sana.
“Ada apa?”
Tanyaku datar kepadanya.
“Bagaimana pendapatmu tentang hal ini Mar?”
“Kepolisian sangat hebat karena bisa menggagalkan penculikan itu.”
“Itu saja?”
“Yup, itu saja.”
Miyuki pun mulai menyipitkan matanya dan masih mencurigaiku akan sesuatu.
“Berhentilah mencurigai kakakku, kakakku setiap liburan selalu menghabiskan waktunya untuk bermalas-malasan di rumah, jadi tidak mungkin dia mengetahui hal lebih tentang hal itu.”
Aku bersyukur karena Nadira ada di sini. Walaupun dia mengatakan hal seperti itu, tapi setidaknya dia sudah membantuku untuk keluar dari masalah ini.
Dan kami pun menghabiskan malam tahun baru itu dengan menghabiskan makanan, bermain kartu, dan bercerita sampai pagi sebelum pulang ke rumah.
-End Chapter 116-
__ADS_1