
Saat ini aku sedang berlari menuju ke halte TransJakarta untuk mengejar bis pertama yang sebentar lagi akan tiba. Hal ini terjadi karena aku bangun kesiangan, karena semalam aku menghabiskan malamku dengan bermain gim hingga aku lupa kalau waktu sudah larut malam.
Aku pun sampai di halte bis bertepatan dengan bis pertama yang baru saja tiba.
“Kau kenapa Mar buru-buru seperti itu? Apa kau kesiangan?”
Riki bertanya kepadaku saat melihatku tiba di halte bis dengan terengah-engah.
“Begitulah.”
Aku pun mencoba untuk menormalkan nafasku kembali
“Tumben sekali melihatmu kesiangan, memangnya apa yang kau lakukan semalam?”
“Ada event di gim yang aku mainkan, dan tidak ku sadar ternyata waktu sudah berlalu dengan sangat cepat.”
“Kau ini, apa kau sudah membawa barang-barang yang dibawa hari ini?”
Riki sangat perhatian kepadaku. Walaupun kadang-kadang dia sedikit menyebalkan, tapi tetap saja dia teman terbaikku.
“Tenang saja, semuanya sudah aku bawa di tasku.”
“Baiklah kalau begitu, ayo kita segera masuk ke dalam bis.”
Kami pun memasuki bis itu dan bis itu melaju menuju ke halte selanjutnya.
Ketika kami sampai di depan sekolah, aku melihat barisan murid yang sangat panjang sekali. Sepertinya ini pemeriksaan kelengkapan seragam dan atribut yang kemarin suruh dibawa.
Aku pun langsung menggunakan kartu nama berwarna merah yang kemarin sudah aku buat dengan menggunakan kertas karton dan aku sudah laminating.
Aku melihat ke setiap murid yang menggunakan kartu nama juga dengan warna yang berbeda-beda sesuai dengan jurusannya. Multimedia berwarna merah, Rekayasa Perangkat Lunak berwarna biru tua, Administrasi
Perkantoran berwarna hijau, Farmasi berwarna kuning, dan Akuntansi berwarna biru muda.
“Amar!”
Aku mendengar seseorang menyapaku dari arah belakangku.
“Yoshida! Apa yang kau lakukan di sini?”
Aku pun terkejut karena yang menyapaku itu adalah Yoshida. Kemudian aku pun melihat almamater dan kartu nama yang dia kenakan. Sepertinya dia bersekolah di sekolah ini juga, tapi kenapa aku tidak melihatnya
ketika di hari pertama ya.
“Aku bersekolah di sini juga.”
Aku pun melihat kartu namanya yang berwarna hijau. Itu berarti dia berada di Jurusan Administrasi Perkantoran.
Kami pun langsung berbaris untuk bersiap masuk ke dalam sekolah. Setiap murid diperiksa kelengkapan seragamnya satu per satu. Mulai dari dasi, gesper, kaus kaki, dan sepatu.
Saat sedang berbaris, aku melihat seorang perempuan yang sedang panik dihadapanku. Ternyata perempuan perempuan yang sedang panik itu adalah Rina.
“Oi!”
“Ar.”
Dia pun melihatku dengan wajah yang sangat panik sekali. Ini adalah sebuah pemandangan yang baru bagiku. Aku tidak pernah menyangka orang seperti dia bisa sepanik ini.
“Ada apa?”
“Aku lupa menggunakan gesper. Bagaimana ini, aku pasti akan dihukum nantinya!”
Rina terlihat takut sekali akan hal itu, padahal menurutku hukuman yang diberikan tidak mungkin terlalu berat. Paling kami hanya disuruh lari mengelilingi lapangan.
Mengelilingi lapangan?
Aku pun baru mengingat kalau lapangan yang berada di sekolahku saat ini ukurannya lebih besar dibandingkan lapangan sekolah yang berada di SMP.
Ah gawat, ternyata itu memanglah sangat gawat.
“Semangat!”
Aku pun memberikan semangat kepadanya.
“Padahal kemarin malam aku rasa sudah meletakannya di dalam tas.”
Rina memeriksa tasnya kembali secara teliti.
“Ada apa Mar?”
Riki yang dari tadi berada di belakangku pun penasaran dan akhirnya bertanya kepadaku.
“Dia lupa membawa gespernya.”
“Bukankah itu gawat! Apa ada cara untuk membantunya Mar?”
“Aku rasa tidak ada. Koperasi yang menjual gesper berada di dalam sekolah, kalau meminta seseorang yang ada di rumah untuk membawakannya ke sini juga percuma karena jaraknya jauh.”
Inilah kenapa aku tidak suka dengan sekolah yang jauh dari rumah.
“Hei Rina, apa kau mau menggunakan gesperku?”
Riki pun mencoba untuk memberikan bantuan kepada Rina.
“Terima kasih atas tawarannya, tapi aku tidak mau jika seseorang harus menggantikanku dihukum atas kesalahan yang aku perbuat.”
Rina pun menolak tawaran dari Riki dan pasrah dengan apa yang akan diterima nantinya.
Kalau aku menjadi Rina, mungkin aku akan menerima tawaran dari Riki. Mengingat Riki yang jago dalam hal olahraga, sepertinya berlari mengelilingi lapangan adalah hal yang mudah untuknya.
Kami pun terus maju hingga mendekati kakak OSIS yang bertugas memeriksa perlengkapan kami.
“Oi Rik, bertukar tempatlah denganku.”
Aku pun menyuruh Riki untuk maju ke depanku.
“Memangnya ada apa?”
“Sudahlah, lakukan saja.”
Riki pun akhirnya bertukar tempat denganku.
Akhirnya giliran Rina yang diperiksa kelengkapannya.
“Maaf Kak, saya tidak menggunakan gesper.”
Rina pun mengakui kesalahannya terlebih dahulu sebelum kakak OSIS itu memeriksanya.
__ADS_1
“Kenapa bisa tidak memakainya?”
“Aku meninggalkannya di rumah.”
Rina terlihat murung sekali ketika menjawab itu.
“Ya sudah, kau sekarang pergi ke barisan sana.”
Kakak OSIS menunjuk ke arah barisan para murid yang kelengkapan seragamnya tidak lengkap.
Rina pun berjalan menuju ke arah barisan tersebut.
“Tunggu!”
Kakak OSIS itu menghentikan Rina.
“...Itu gespermu ada di kantung tasmu.”
Kakak OSIS itu menunjuk ke kantung tas yang berada di sisi kanan.
Rina pun terkejut dan melihat kalau ada sebuah gesper yang berada di sana.
“Sejak kapan gesper ini ada di sini?”
“Cepatlah pakai gespermu dan pergi ke kelas.”
Kakak OSIS itu pun kemudian mengecek Riki.
Rina pun menyadari kalau gesper itu bukan miliknya, dan Rina pun langsung melihat ke arahku. Aku membuang pandanganku dengan pura-pura berbicara dengan Yoshida yang berada di belakangku.
“Sedang apa kamu di sini? Cepat kembali ke kelasmu.”
Kakak OSIS yang lainnya menegur Rina.
“Baik Kak.”
Akhirnya Rina pun pergi ke kelasnya.
Riki pun telah selesai diperiksa juga, karena dia memakai atribut dengan lengkap, dia pun lolos untuk pergi ke kelas.
Oke sekarang giliranku.
Ketika sedang di periksa, kakak OSIS menemukan kalau aku tidak mengenakan gesper. Tentu saja aku tidak mengenakannya, karena gesperku sudah digunakan oleh Rina sekarang.
Sebenarnya beberapa menit yang lalu saat Rina memeriksa tasnya, aku melepas gesperku dan menyimpannya di kantung almamaterku. Dan ketika dia sudah selesai memeriksanya, aku menaruh gesperku di kantung tas
yang berada di sisi kanan tas tersebut agar kakak OSIS tersebut dapat melihatnya.
Aku juga tidak tau mengapa aku melakukan hal seperti ini. Padahal yang aku lakukan ini akan membuatku tertimpa hal yang merepotkan.
“Kenapa kau tidak menggunakan gespermu?”
“Pagi ini aku kesiangan Kak, jadi aku terburu-buru.”
“Alasan.. Cepat pergi ke barisan itu.”
Aku pun pergi ke barisan yang berisikan anak-anak yang tidak menggunakan atribut lengkap.
Aku melihat di depan barisan ada Kak Deni yang siap untuk menghukum kami semua.
Hah! Apa dia gila, lima lapangan itu sangat banyak untuk lapangan sebesar ini. Apa dia tidak memiliki hati hah!
Kami pun mulai memasuki sekolah dan pergi ke lapangan utama. Setelah menaruh tas kami di pinggir lapangan, satu per satu dari kami mulai berlari mengitari lapangan.
“Cepat! Cepat! Cepat!”
Kak Deni meneriaki kami semua dari pinggir lapangan.
Hah... Hah... Hah... Ini penyiksaan, sejak kapan sistim mos seperti ini.
Karena saat itu bel masuk belum berbunyi, aku melihat banyak sekali murid yang memperhatikan kami dari dalam gedung. Bahkan aku juga melihat Miyuki dan RIna yang menyaksikan hal itu.
Akhirnya lima putaran yang berat pun berhasil aku lewati. Untung saja saat liburan kemarin aku sempat joging pagi dan sore untuk mengembalikan staminaku sebelum mendaki ke Gunung Prau. Kalau seandainya aku tidak melakukan itu, mungkin lima putaran ini akan terasa berat sekali.
Aku pun kembali ke kelasku. Saat menaiki tangga, kakiku terasa bergetar karena kelelahan, aku butuh seseorang untuk menggendongku saat ini. Aku berjalan pelan-pelan menuju kelas dan akhirnya sampai walau membutuhkan waktu yang lama menuju kelas.
Aku langsung duduk di kursiku dan berniat untuk tidur terlebih dahulu. Kebetulan masih ada lima belas menit sebelum bel masuk berbunyi.
“Kau tadi disuruh melakukan apa saja Mar?”
Riki bertanya kepadaku ketika aku baru duduk di kursiku.
“Lari lapangan lima kali putaran.”
“Hahahahaha... Lagian tumben sekali kau mau melakukan hal seperti itu, padahal kau akan tau kalau hukumannya itu pasti melelahkan.”
“Jadi kau melihatnya?”
“Tentu saja, aku melihat ketika kau melepas gespermu dan meletakannya di tas Rina.”
Seperti yang aku harapkan dari sahabat terbaikku.
“Bagaimana ya... Mungkin aku merasa berhutang sesuatu dengannya.”
Aku pun melepaskan almamaterku dan meletakkannya di atas mejaku. Niatnya aku mau membuat almamaterku sebagai bantal untukku tidur.
“Kau benar juga, ketika di SMP dia sudah banyak membantumu.”
“Sudahlah aku mau istirahat sebentar, kalau Kak Fauzi dan Kak Ayu sudah datang ke kelas tolong bangunkan aku.”
Aku pun bersiap untuk tidur.
“Ok.”
Baru saja aku memejamkan mataku dan ingin memasuk alam mimpi, tapi aku mendengar suara bising yang berasal dari kelasku. Aku tidak tau apa yang terjadi dan aku juga tidak ingin tau tentang hal itu. Saat ini aku hanya ingin beristirahat dengan damai saja. Apa aku perlu pergi ke UKS saja ya.
Karena suara gaduh itu tidak kunjung pergi, membuatku penasaran dan berniat untuk melihat siapa yang membuat tidurku menjadi terganggu seperti ini. Tetapi ketika kepalaku baru saja ku angkat, aku sudah melihat Miyuki dan Rina yang berada di sampingku.
“Eh! Apa kami mengganggumu Ar?”
Rina terlihat bersalah sekali karena telah membangunkanku.
“Tidak, kau tidak membangunkanku.”
Tentu saja, kehadiran kalian sungguh menggangguku.
“Sebelumnya aku mau berterima kasih kepadamu Ar... Aku tau kalau gesper yang aku gunakan ini milikmu, kalau tidak ada kau mungkin aku sudah harus lari tadi.”
__ADS_1
Rina pun berterima kasih kepadaku.
“Dari mana kau tau itu gesperku?”
“Entahlah mungkin hanya feeling.”
“Memangnya apa yang terjadi?”
Miyuki kebingungan dan penasaran dengan pembicaraan kami. Sepertinya Rina belum menceritakannya kepada Miyuki tentang hal ini.
“Ini Miyuki, tadi ketika pemeriksaan atribut, sebenarnya aku tidak membawa gesperku. Terus Ar meminjamkan gespernya dengan meletakan gesper itu di tasku.”
Tentu saja aku meletakkannya langsung di tasmu, kalau aku menawarkannya secara baik-baik seperti Riki mungkin dia juga akan menolakku.
“Heee... Aku tidak tau Amar bisa melakukan hal seperti ini juga.”
Miyuki menatapku dengan tatapan yang sangat menjengkelkan.
“Hal seperti itu siapa pun juga bisa melakukannya.”
“Kalau begitu Ar, aku mau mengembalikan gespermu.”
Rina pun bersiap untuk melepaskan gespernya dan mengembalikannya kepadaku.
“Lebih baik kau gunakan saja gesper itu hingga sekolah berakhir. Aku yakin nanti di pertengahan acara ada pemeriksaan atribut lagi, karena aku sudah mendapatkan di hukum tadi, aku jadi memiliki cap di buku pedomanku.”
Jadi setelah aku menyelesaikan hukumanku tadi, Kak Deni memberikan tanda tangannya di buku pedomanku untuk menandai kalau aku tidak menggunakan atribut dan sudah menjalani hukumannya.
“Tidak bisa seperti itu Ar, setidaknya biarkan aku menerima hukumannya juga.”
Aku pun tidak menjawabnya dan kembali tidur.
“Apa yang Amar katakan itu benar Rina, lebih baik kau gunakan saja dulu gesper itu hingga sekolah usai. Kalau kau
mengembalikannya dan membiarkanmu terkena hukuman, itu sama saja kau tidak menghargai usaha Amar yang rela menggantikanmu tadi.”
Riki pun membantuku untuk meyakinkan Rina.
“Kamu benar Rik, maafkan aku Ar. Kalau begitu aku akan mengembalikan gespermu saat sekolah berakhir nanti.
Rina pun menyerah dan mereka pun kembali ke kelas mereka masing-masing.
Ketika Rina dan Miyuki pergi dari kelasku, tiba-tiba seluruh anak laki yang ada di kelasku langsung menghampiri mejaku.
“Hei Mar, apa hubunganmu dengan mereka berdua?”
“Sepertinya kau dan Rina dekat sekali hingga memiliki panggilan sendiri.”
“Perkenalkan aku kepada Miyuki Mar.”
Semua anak laki itu bertanya kepadaku tidak ada habisnya. Padahal aku ingin beristirahat di sini.
Bisakah kalian membiarkan diriku beristirahat! Aku mohon.
“Tenang semuanya, aku akan menjawab pertanyaan kalian satu per satu sebagai sahabatnya yang paling dekat.”
Riki pun akhirnya meladeni mereka semua dan membuat keadaan menjadi sedikit tenang.
“Apa hubungannya Amar dengan Rina dan Miyuki?”
“Hubungan Amar dengan Miyuki hanyalah sebatas teman. Kalau dengan Rina, Amar dulu pernah satu kelas dengannya ketika di SMP.”
Bagus Rik, teruskan menjawab pertanyaan-pertanyaan bodoh itu.
“Sedekat apakah hubungan Amar dengan Rina? Aku dengar Rina memanggil Amar dengan sebutan ‘Ar’.”
“Kalau itu ada sejarahnya sendiri, tapi yang jelas mereka sangatlah dekat sampai tidak bisa dipisahkan oleh apapun.”
Riki pun mulai meledekku, padahal aku sudah percaya kepadanya tadi.
“Benarkah itu?”
“Kau bisa bertanya langsung kepada orangnya.”
“Mar!”
“Oi Mar! Jawab pertanyaan kami.”
Kurang ajar kau Rik, aku kira kau mau membiarkanku tidur dengan tenang tadi.
Aku pun akhirnya bangun dari tidurku dan meladeni mereka semua.
“Apa hubunganmu dengan Rina?”
“Bukankah Riki sudah mengatakannya tadi, kami hanya pernah berada di kelas yang sama selama tiga tahun saja. Hanya itu tidak ada yang lain.”
“Kau pasti berbohong, tidak mungkin hanya berada di kelas yang sama dapat dipanggil seperti itu.”
“Buat apa aku berbohong sekarang? Memangnya ada untungnya jika aku berbohong?”
Sfx : Teeng.... Teng.... Teng.... Teng....
Bel masuk pun berbunyi dan semua siswa pun kembali ke tempat duduknya masing-masing.
Akhirnya aku terbebas juga.
Tidak lama kemudian, Kak Fauzi dan Kak Ayu pun masuk ke dalam kelas dan menjelaskan agenda yang akan diadakan di hari ini.
“Seperti yang kalian lihat di buku pedoman yang saya bagikan kemarin. Hari ini adalah hari kalian memilih kegiatan ekstrakulikuler. Setiap murid diwajibkan memilih satu kegiatan ekstrakulikuler. Nanti kalian akan pergi ke gedung olahraga untuk menyaksikan demo ekstrakulikuler di sana. Kemudian setelah menyaksikan demo, kalian bisa langsung pergi ke lapangan untuk mendaftar di masing-masing stan dari ekstrakulikuler tersebut.”
Kak Fauzi menjelaskannya kepada kami semua. Semua murid yang ada di sana terlihat sangat tidak sabar sekali untuk melihat demo ekstrakulikuler yang ada di sekolah ini.
Huh...! Harus memilih satu ekstrakulikuler kah. Aku kira aku dapat pulang ke rumah dengan cepat.
“Kira-kira kau akan mendaftar di ekskul apa Mar?”
“Entahlan, aku rasa di ekskul yang tidak merepotkan, bisa bebas, dan tidak melelahkan.”
“Memangnya ada ekskul seperti itu.”
“Entahlah, kalau kau sendiri Rik... Ah sepertinya kau tidak perlu menjawab, kau pasti masuk ke ekskul pencak silat kan?”
“Tentu saja, karena itulah aku masuk ke sekolah ini Mar.”
Ekskul ya? Apakah ada ekskul yang sekiranya menarik minatku. Setidaknya di eskkul itu aku dapat mendapatkan sebuah kedamaian.
-End Chapter 33-
__ADS_1