Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 69 : Pergi Berdua Bersama Miyuki.


__ADS_3

“Oi Mar!”


Miyuki melambaikan tangan kepadaku ketika dia melihatku memasuki kafe. Aku pun menghampirinya dan langsung duduk berhadapan dengannya.


“Apa kamu baru saja pulang dari kantor?”


“Begitukah.”


“Okaeri!”


“Apa itu artinya?”


“Okaeri berarti selamat datang dalam bahasa Jepang. Kamu bersantai saja terlebih dulu, karena aku juga baru sampai di sini.”


Miyuki meminum jus yang sudah dia pesan terlebih dahulu.


Tidak ada salahnya aku memesan makanan terlebih dahulu untuk mengganjal perutku. Aku juga belum makan dari siang tadi pas disekolah.


“Bagaimana pekerjaanmu?”


Miyuki pun bertanya kepadaku saat aku baru saja selesai memesan makananku.


Kenapa dia begitu peduli dengan pekerjaanku? Apa dia masih mau meminta traktiran dariku? Aku saja akhir-akhir ini tidak mendapatkan pemasukan karena sedang fokus mengerjakan pekerjaan dari Pak Hari.


“Lumayan melelahkan.”


“Hmmm...”


Apa dia masih curiga dengan apa yang aku curigakan?


“Jadi hadiah apa yang ingin kau belikan untuk Rina?”


Tanyaku kepadaya.


“Aku juga belum tau ingin memberikan Rina apa, itulah kenapa aku mengajakmu untuk mencari hadiahnya bersama-sama. Apa kamu tau apa kesukaannya Rina?”


“Aku tidak tau apa kesukaan Rina, jadi kau percuma mengajakku mencari hadiah untuknya. Tapi menurutku apa saja hadiah yang diberikanmu, Rina akan suka.”


Karena Rina adalah orang yang baik, dia pasti tidak akan menolak pemberian dari seseorang.


“Lalu apa yang ingin kamu berikan Mar?”


“Permisi...”


Pelayan kafe itu pun datang dan memberikan pesanan milikku. Saat itu aku memesan sebuah roti bakar dengan selai coklat yang menyelimuti seluruh rotinya dan satu buah stoberi yang sudah dipotong menjadi dua. Selain itu aku juga memesan kentang goreng yang aku pesankan memang sengaja untuk Miyuki, karena aku tidak suka diperhatikan ketika makan.


“Terima kasih... Ini makanannya Miyuki, kalau kau mau makan saja.”


Aku pun menyodorkan kentang goreng itu kepadanya.


“Ini buatku? Terima kasih Mar.”


Miyuki terlihat senang sekali aku beri kentang goreng.


Padahal itu hanya kentang goreng, kenapa dia bisa sesenang itu?


“Kalau kau bertanya apa yang akan aku berikan kepada Rina, aku sendiri juga tidak tau. Aku jarang sekali memberikan hadiah ulang tahun.”


“Aku berencana untuk membelikan Rina boneka, apakah dia akan suka ya?”


Boneka ya? Aku rasa tidak ada salahnya memberikan hal itu. Itu adalah hadiah yang sangat umum untuk seorang perempuan.


“Memangnya Rina anak kecil.”


“Aku tau itu,  aku hanya bingung saja ingin memberikan Rina apa.”


“Sepertinya membelikan Rina alat-alat sekolah adalah sebuah pilihan yang bagus.”


“Memang itu bagus, tapi aku rasa itu tidak terlalu berkesan.”


Dia benar, kalau dia memberikan alat-alat sekolah pasti suatu saat Rina tidak akan menggunakannya lagi.


“Lalu apa yang ingin kau berikan?”


“Bagaimana dengan syal? Ketika aku masih di Jepang, aku pernah memberikan temanku syal buatanku sendiri.”


“Di Indonesia itu tidak ada musim dingin seperti di Jepang. Ketika musim hujan juga kita tidak menggunakan syal. Kecuali Rina sering mendaki gunung, mungkin itu akan sedikit berguna untuknya.”


“Terus apa? Aku sudah kehabisan ide?”


Miyuki pun memakan kentang goreng dengan wajah suntuk.


Apa ya? Aku juga bingung mau memberikannya apa. Rina.. Rina... Rina...


Aku pun berusaha membayangkan Rina di dalam pikiranku dan mengingat-ingat kembali apa yang pernah dia katakan, siapa tau dari sana aku dapat mengetahui apa yang sedang dia butuhkan.


Ah! Aku dapat ide.


“Bagaimana jika kau memberikan Rina kerudung? Kebetulan Rina menggunakan kerudung di sekolah maupun di rumah.”


“Itu ide yang bagus Mar, aku rasa aku akan membelikannya kerudung. Lalu bagaimana denganmu? Apa kamu sudah tau apa yang ingin kamu berikan kepada Rina?”


“Aku rasa, aku akan membelikannya pajangan meja belajar saja.”


“Seperti apa pajangannya?”


“Entahlah, aku belum tau bagaimana bentuknya, tapi aku berniat untuk memberikan itu.”


Kemudian Miyuki pun mengangkat panggilan masuk yang ada di ponselnya.

__ADS_1


“Halo Assalamualaikum, Ada apa Mah?”


Aku tau kalau yang menelpon Miyuki saat ini adalah ibunya, dan aku juga tau kalau ibunya menyuruh Miyuki untuk pulang lebih awal ke rumah. Hal itu tentu saja, apalagi saat ini sedang ada kasus penculikan yang sedang marak. Pasti ibunya sangat khawatir jika anaknya keluar hingga larut malam.


“Tenang saja Mah, aku saat ini sedang bersama dengan Amar. Jadi tidak usah khawatir.”


Miyuki! Seharusnya kau tidak perlu memberitahu ibumu tentang hal itu. Itu akan membuatku memiliki tanggung jawab untuk mengantarkanmu pulang dan Miyuki pun menutup panggilan dari ibunya.


“Siapa yang menelponmu?”


Aku berpura-pura menanyakan hal itu padahal aku sendiri sudah mengetahuinya.


“Tadi ibuku yang menelpon, dia menyuruhku untuk pulang lebih awal dan jangan lama-lama, tapi aku mengatakan kalau aku sedang bersama denganmu dan Mama pun menjadi tenang karena tau kamu ada bersamaku.”


Aku hanya bisa menghela nafas ketika mendengar itu.


“Sepertinya aku harus mengantarkan kau pulang nanti.”


“Tidak usah Mar, aku bisa pulang sendiri. Aku yakin kamu juga lelah setelah bekerja tadi, aku tidak enak denganmu jika kamu mengantarkanku pulang.”


“Setelah kau berkata kalau kau bersama denganku? Kalau seandainya terjadi sesuatu kepadamu saat kau pulang ke rumah bagaimana? Tentu aku harus bertanggung jawab akan hal itu karena ibumu tau kalau kau bersama denganku.”


“Kalau begitu mohon bantuannya.”


Huh.. Padahal aku berniat untuk segera tiba di rumah dan tidur.


Setelah aku menghabiskan makananku, aku dan Miyuki langsung pergi ke toko yang menjual busana muslimah di mal itu. Kami pun sudah memasuki beberapa toko yang ada di sana, tapi Miyuki tidak mendapatkan kerudung yang menurutnya cocok.


Aku paling benci menemani perempuan belanja. Dulu aku pernah pergi ke mal bersama dengan Nadira dan dia sangat lama sekali belanjanya, banyak sekali hal yang dia pikirkan walaupun hanya membeli sebuah baju, entah itu dari warna, motif, dan lain-lain.


Akhirnya kami sampai di toko yang sepertinya Miyuki tertarik dengan kerudung-kerudung yang ada di dalam sana. Kami pun masuk ke toko tersebut dan Miyuki mulai memilih-milih kerudung yang ada di dalam sana.


“Bagaimana menurutmu?”


Miyuki pun menunjukkan beberapa kerudung dan gamis yang sudah dia pilih kepadaku.


“Aku tidak ebgitu pandai untuk menilai hal-hal seperti ini.”


“Kalau begitu aku ingin mencobanya dulu.”


Miyuki pergi ke ruang ganti untuk mencoba gamis dan kerudung yang sudah dia gunakan. Beberapa lama setelah aku menunggunya mengganti bajunya, akhirnya Miyuki pun selesai dan menunjukkannya satu per satu gamis dan


kerudungnya kepadaku.


Aku sudah lama tidak merasakan hal menjengkelkan ini.


Saat ini sudah ada beberapa orang yang mulai memperhatikanku di sini.


“Apa laki-laki itu pacarnya? Pacarnya sangat cantik sekali, sepertinya dia bukan orang Indonesia.”


Maaf Mba-Mba yang ada di sana, biasakah kalau sedang berbicara dikecilkan sedikit suaranya. Aku masih dapat mendengar apa yang kalian ucapkan tadi.


Menurutku semua kerudung yang digunakan oleh Miyuki sangat bagus sekali. Aku tidak tau apakah karena Miyuki yang menggunakannya, makanya kerudung-kerudung yang tadi dia gunakan terlihat serasi sekali. Tapi aku baru menyadari kalau Miyuki sangat cocok ketika mengugunakan kerudung.


Hmmm... Sepertinya aku harus memilih salah satu untuk mengakhiri hal ini.


“Aku rasa yang warna merah marun sangat bagus. Aku senang dengan modelnya.”


“Kalau begitu aku akan memilih yang itu.”


Miyuki pun kembali ke ruang ganti untuk mengganti bajunya lagi.


“Kamu tunggu sini saja Mar, aku ingin pergi membayar ini dulu.”


Aku pun melihat Miyuki yang membawa dua kerudung di tangannya.


“Apa kau ingin memberikan Rina dua kerudung untuk hadiah ulang tahunnya?”


“Tidak, aku akan memberikan Rina kerudung yang tadi kamu pilih, sedangkan yang satunya lagi akan aku gunakan sediri.


“Apa kau ingin mencoba menggunakan kerudung?”


“Begitulah, aku ingin mencobanya perlahan-lahan, Mama sering menyuruhku untuk menggunakan kerudung ketika berpergian tapi aku belum bisa melakukannya.”


“Hmmm Begitu.”


“Apa kamu menyukai tipe-tipe perempuan yang menggunakan kerudung?”


Hah? Pertanyaan konyol macam apa itu.


“Apa maksudnya kau bertanya tentang itu?”


“Aku hanya ingin tau saja.”


“Aku tidak tau kalau masalah itu, untuk sekarang aku tidak mau memikirkan hal itu.”


Apakah berkerudung atau tidak perempuan yang aku suka? Semua tergantung kepadaku nantinya, tapi aku rasa lebih baik jika perempuan yang menggunakan kerudung. Ya aku tau itu tergantung selera kalian masing-masing, tapi aku lebih memilih perempuan yang menggunakan kerudung.


“Apa ada tempat yang ingin kamu datangi Mar?”


Hmmm... Mumpung ada di sini lebih baik aku pergi ke toko buku terlebih dulu untuk membeli komik. Walaupun aku mungkin membacanya nanti karena untuk saat ini aku ingin beristirahat terlebih dahulu.


“Aku ingin pergi ke toko buku.”


“Toko buku? Untuk apa?”


“Pekerjaanku kali ini berhubungan dengan komikus dan aku harus menilai mana komik yang menarik dan mana yang tidak untuk para pembaca. Jadinya aku harus banyak-banyak membaca komik untuk mengetahui tentang


hal itu.”

__ADS_1


“Apa kamu sedang menjadi editor di sebuah perusahaan penerbitan Mar?”


“Begitulah.”


Mungkin hanya itu yang dapat aku jelaskan kepadanya, aku tidak mau menjelaskan hal ini panjang lebar kepadanya.


Ketika sampai di toko buku, aku langsung pergi menuju ke rak komik untuk mencari komik yang lagi terkenal saat ini, dan ternyata banyak sekali komik yang sedang terkenal dan masuk rekomendasi mulai dari berbagai macam aliran, aku juga melihat beberapa komik dari Jepang yang ada di sana.


“Wah! Ternyata komik ini sudah dirilis di Indonesia. Sudah lama sekali aku menantikan komik ini rilis.”


Miyuki sangat antusias sekali dengan hal itu.


“Komik apa yang harus aku beli ya?”


Aku masih mencari komik yang ingin aku baca di sana, tapi aku tidak menemukan sama sekali satu pun komik yang menarik perhatianku.


“Ini, ini, dan ini.. Banyak sekali komik yang ingin aku beli, apa uangku cukup ya?”


Miyuki mengambil banyak sekali komik yang ada di sana. Padahal niat awalnya dia yang ingin mengantarku ke sini tapi pada akhirnya malah dia yang lebih antusias dibandingkanku.


“Apa komik itu menarik?”


Aku bertanya kepada Miyuki yang saat ini sedang bingung dengan komik yang harus dia beli.


“Sangat menarik Mar, aku menyarankan kepadamu untuk membacanya.”


“Coba aku lihat.”


Aku pun melihat sampul dari komik yang sedang dipegang oleh Miyuki.


“Aku rasa, aku akan membelinya juga.”


Akhirnya aku pun membeli komik yang sama dengan Miyuki, karena aku tidak tau mana komik yang bagus dan menarik. Sepertinya meminta rekomendasi keapda Kichida adalah solusi yang terbaik untukku.


Setelah membeli komik, kami pun langsung pulang ke rumah karena hari sudah semakin malam. Aku terpaksa untuk mengantar Miyuki terlebih dahulu ke rumah karena ibunya Miyuki sudah tau kalau putrinya sedang


bersama denganku.


Kalau terjadi sesuatu dengan Miyuki ketika pulang dari mal, pasti ibunya Miyuki akan meminta tanggung jawab dariku. Selain itu ibunya Miyuki adalah teman baik ibuku, dan itu sangat merepotkan untuk menjelaskannya kepada mereka berdua. Daripada aku harus berhadapan dengan mereka berdua, lebih baik aku mengantarkan Miyuki ke rumah dengan selamat agar aku juga selamat.


“Kamu tau Mar, aku baru menyadari kalau pergaulan di SMK Sawah Besar dengan sekolahku dulu sangat jauh sekali perbedaannya. Aku baru tau kalau akan terdapat perbedaan itu, aku kira sama saja karena sistem


pendidikannya tidak jauh berbeda.”


“Lalu mana yang lebih kau sukai?”


“Aku tidak bisa menentukannya, tapi kalau untuk menikmati kehidupa di sekolah, aku rasa aku lebih suka di SMK Sawah Besar.”


Menikmati hidup kah...


“Kenapa seperti itu?”


“Kalau di sekolahku dulu, semua muridnya rata-rata terlihat sangat bersungguh-sungguh dalam meraih prestasi di sekolah. Walaupun ada sebagian juga murid yang menikmati hidup, itupun tidak banyak...”


Seperti yang aku duga dari orang Jepang, mereka semua memang kuat dalam belajar. Kapan pelajar Indonesia bisa meniru sikap mereka? Sepertinya orang sepertiku tidak pantas mengatakan hal itu, aku sendiri saja tidak kuat


jika harus belajar terus-menerus.


“... Kalau di SMK Sawah Besar mereka lebih terlihat santai walaupun mereka belum mengerjakan tugas sekalipun.”


Aku pun hanya tersenyum ketika mendengar itu. Memang seperti itu murid Indonesia.


“Takeshi saja pernah terdiam dan tidak bisa mengatakan apa-apa melihat kelakuan anak-anak di kelas.”


“Memangnya apa yang dilakukan oleh teman-temanmu?”


“Teman-temanku pernah membawa terpal ke dalam kelas dan menggelarnya di belakang kelas untuk menjadi alas mereka tidur ketika istirahat.”


Jadi di kelasnya Miyuki juga melakukan hal yang sama. Aku kira hanya kelasku saja yang melakukan hal itu. Karena aku mendengar dari Kak Fauzi kalau di antara semua jurusan, hanya jurusan multimedia dan RPL saja yang anak-anaknya sedikit susah diatur.


“Hal seperti itu sudah biasa dilakukan di sini, bahkan di kelasku juga pernah melakukannya.”


“Dulu juga pernah ada temanku yang membawa kompor gunung ke dalam kelas dan membuat mi instan di belakang kelas dengan kompornya.”


“Riki juga pernah melakukan hal yang sama di kelasku, tapi waktu itu Riki bukan memasak mi instan melainkan dia memasak telur dadar untuk dia makan ketika istirahat.”


Waktu itu aku mengingat kalau Riki membeli telur di pedagang kantin dan memasaknya di kelas. Tingkah Riki dan beberapa anak di kelas memang kadang membuatku kehabisan kata-kata.


“Apa telur dadar yang pernah Riki makan ketika istirahat?”


“Memangnya RIki hanya sekali saja memakan telur dadar ketika istirahat?”


“Riki hanya sekali saja memakan telur dadar ketika istirahat.


Hebat sekali dia bisa memperhatikan bekal Riki setiap hari. Apa jangan-jangan dia mengingat semua bekal yang orang bawa? Aku rasa ingatanmu itu terbuang sia-sia jika memikirkan hal itu saja.


Akhirnya kami pun sampai di rumahnya Miyuki.


“Terima kasih telah mengantarkanku Mar.”


“Sama-sama.”


“Kamu tidak mau mampir dulu?”


“Tidak, terima kasih. Aku mau segera istirahat, sampaikan salamku kepada ibumu.”


“Hmm.. Baiklah, akan aku sampaikan kepada Mama. Selamat malam!”


“Malam.”

__ADS_1


-End Chapter 69-


__ADS_2