Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 133 : Waktunya Menjemput Kichida.


__ADS_3

“Mar, aku penasaran sekali dengan Kichida.”


Riki pun mencegatku saat hendak naik tangga.


“Kau ini tidak sabaran sekali ya.”


Aku pun menyingkirkan tubuh Riki dari jalanku.


“Memangnya apa yang terjadi?”


Maul yang tidak mengetahui apa-apa bertanya kepadaku.


“Sesuatu terjadi kepada Kichida.”


Aku pun memberitahu kepada mereka berdua.


Saat itu hanya ada kami bertiga saja yang sedang menaiki tangga untuk menuju ke kelas. Sebelumnya, Akbar dan Rian sudah pergi terlebih dahulu karena ada sesuatu yang ingin mereka lakukan di kelas. Sedangkan Natasha pergi menemani Yoshida ke kantin karena dia ingin membeli minuman di sana.


“Apa yang terjadi dengan Kichida?”


“Jangan-jangan kau membicarakan tentang Kichida bersama dengan Miyuki ketika istirahat tadi Mar.”


Riki dan Maul sangat penasaran sekali akan hal itu.


“Iya, kami memang membicarakan Kichida.”


“Lalu?”


“Mul, kau bisa melacak keberadaan Kichida sekarang?”


“Bisa saja, memangnya Kichida hilang?”


Hilang? Sepertinya kata itu tidak terlalu tepat.


Aku berfirasat kalau Kichida hanya pergi ke suatu tempat yang tidak kita ketahui saat ini dan dia baik-baik saja.


“Entahlah, yang jelas dia belum pulang ke rumah sejak menginap dari rumah Miyuki.”


“Sial, ku benci pikiranku. Aku tidak mau jika hal itu terjadi.”


Riki tiba-tiba marah sendiri.


“Pasti kau berpikir kalau Kichida saat ini sedang diculik oleh seseorang.”


Maul sudah mengetahui apa yang Riki pikirkan.


“Hanya itu saja yang bisa aku pikirkan saat ini.”


“Tidak salah jika kau berpikiran seperti itu, karena saat ini kasus penculikan memang sedang terjadi.”


Ucapku kepadanya.


“Menurutmu sendiri bagaimana Mar?”


“Menurutku dia masih baik-baik saja, mungkin dia sedang pergi ke suatu tempat yang tidak kita ketahui.”


“Kalau begitu aku akan mencoba untuk mencari tau keberadaanya ketika sudah sampai di kelas nanti.”


Aku menggandalkanmu Mul.


“Apa kau bisa memberitahuku sebelum pulang sekolah nanti Mul?”


“Aku bisa memberitahumu saat istirahat salat zuhur nanti.”


Seperti yang aku harapkan dari kerja cepatmu itu Mul.


“Aku sangat terbantu.”


Kalau sudah seperti ini, aku tinggal menunggu bagaimana kabar dari Maul dan menentukan tindakanku selanjutnya.


Kira-kira dimana dia berada ya?


Saat ini aku hanya mendapatkan jawaban kalau dia menyewa sebuah tempat penginapan seperti kos-kosan untuk dia tinggal sendiri.


Untuk orang seperti Kichida yang memilik uang jajan lebih besar dibandingku bisa saja dia menyewa kamar dengan mudah. Apalagi keuangannya Kichida sepertinya tidak jauh berbeda dengan Miyuki.


“Aku akan membantumu nanti Mar.”


Ucap Riki kepadaku.


“Tergantung situasinya Rik, tapi kalau seandainya Kichida memang baik-baik saja, biar aku saja yang menemuinya.”


“Kenapa?”


Riki merasa tidak terima akan hal itu.


“Kalau terlalu banyak orang yang ikut, aku takut Kichida tidak mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan itu sangat merepotkan untuk ke depannya.”


Aku juga merasakan kalau Riki ikut denganku, aku tidak bisa bertindak secara leluasa.


Jadi untuk kepentingan kami bersama, lebih baik aku tidak mengajak Riki dalam hal ini.


Maafkan aku Rik.


“Baiklah kalau begitu.”


Dengan berat hati, Riki pun menerima hal itu.


“Jangan lupa untuk datang ke masjid saat salat zuhur nanti Mul untuk memberitahukan perkembangannya.”


“Tidak perlu kau suruh jua aku akan pergi ke sana untuk salat.”


Siapa tau dia melupakan hal itu dan malah datang ke kelasku.


“Apa kau juga bisa memastikan keadaan Kichida?”


“Itu hal yang mudah.”


Aku senang sekali memiliki teman sepertinya.


“Terima kasih.”


“Apa aku perlu memberitahu yang lain tentang hal ini?”


Maul bertanya kepadaku.


“Tidak perlu, untuk saat ini jangan beritahu hal ini kepada siapapun.”


“Siap!”


Maul dan Riki pun menyanggupi hal tersebut.


Akhirnya aku dan Riki pun perpisah dengan Maul.


Selama di perjalanan Riki masih saja membahas permasalahan tentang Kichida. Sebenarnya alasanku tidak mau menceritakan hal ini kepada semuanya karena malas untuk menjelaskan kepada mereka.


“Apa kau sudah memberitahu kepada Pak Febri tentang hal ini Mar?”


“Aku sudah membicarakan dengannya.”


“Kapan kau melakukannya?”


Riki sedikit terkejut dengan hal itu.


“Aku melakukannya setelah bertemu dengan Miyuki barusan.”


“Jadi itu kenapa kau datang terlambat tadi.”


“Iya, karena aku harus membahas hal ini dengan Pak Febri terlebih dahulu.”


Aku pun melihat ke arah Riki dan dari wajahnya terlihat dia sangat penasaran sekaligus khawatir dengan keadaannya Kichida saat ini.


Itu wajar saja jika dia akan khawatir. Aku jadi tidak membayangkan bagaimana dengan Miyuki saat ini. Semoga hal ini tidak membuat beban pikiran kepadanya.


Hah!?


Jarang sekali aku mengkhawatirkan Miyuki seperti ini.


Sepertinya saat ini Miyuki sudah aku anggap sebagai teman baikku juga, bersama dengan yang lainnya karena kami sering menghabiskan waktu bersama.


“Bagaimana tanggapannya Pak Febri?”

__ADS_1


“Pak Febri menyuruhku untuk menolong Kichida.”


Walaupun kalau dia tidak menyuruhku, aku juga akan melakukannya.


Aku melakukan hal ini bukan karena Miyuki memintaku atau aku merasa khawatir dengan Miyuki ya.


“Aku tidak sabar untuk beraksi lagi.”


Riki pun mengatakan itu dengan semangat yang membara-bara dan karena itu juga kekhawatirannya menghilangkan.


“Semoga saja masalah ini tidak sampai seperti kasusnya Akbar.”


“Aku juga berharap seperti ini.”


“Bagaimana nantinya lebih baik kita tunggu dulu kabar dari Maul.”


“Siap Bos!”


Kami pun akhirnya masuk ke dalam kelas dan pelajaran selanjutnya dimulai.


Ketika istirahat salat zuhur telah tiba, aku dan Riki langsung menuju ke masjid untuk melaksanakan salat dan juga untuk bertemu dengan Maul di sana.


Suasana di masjid saat itu sangat ramai sekali karena banyak murid dan guru yang ingin menunaikan salat di sana. Karena masjid sekolah tidak dapat menampung murid sebegitu banyaknya, akhirnya kami pun terpaksa mengantri menunggu giliran.


Kemudian pun akhir melihat Maul yang keluar dari dalam masjid.


“Kau sudah selesai salatnya Mul?”


Tanyaku kepadanya.


“Sudah.”


“Cepat sekali kau datang ke sini.”


“Kalian sendiri saja yang lama.”


“Tunggu kami, di sana saja Mul.”


Aku menunjuk ke sebuah sisi pelantaran masjid yang kosong tidak ada orang.


“Baiklah.”


Maul pun pergi ke sisi yang aku tunjukan dan tidur di sana.


“Sepertinya masjid ini perlu perluasan lagi.”


Ucap Riki.


“Aku juga setuju denganmu.”


Akhirnya, setelah menunggu waktu yang tidak begitu lama. Kami pun dapat masuk ke dalam masjid untuk menunaikan ibadah salat zuhur.


Sehabis itu, kami pun pergi menghampiri Maul yang sedang tertidur dengan wajahnya yang ditutupi dengan tangan.


“Oi Mul, bangun! Bangun! Bangun!”


Aku menggoyangkan badannya menggunakan kakiku.


“Kalian sudah selesai.”


Maul pun terbangun dan mengusap wajahnya.


“Bagaimana?”


“Bagaimana apanya?”


Maul yang baru saja bangun masih tidak fokus dengan pertanyaan yang aku katakan.


“Lokasi dari Kichida!”


“Oh masalah itu.”


Maul pun menguap dan sedikit meregangkan tubuhnya.


“Aku sudah menemukan dimana dia berada.”


“Woah!”


“Aku kirimkan lokasinya kepadamu ya.”


Aku pun mendapatkan pesan dari Maul yang berisi tentang alamat Kichida saat ini.


“Apa kau juga sudah memastikan kalau dia baik-baik saja.”


“Aku sudah memastikan hal itu.”


Aku senang sekali temanku yang satu ini, kerjanya selalu cepat dan dia jarang sekali mengecewakanku.


“Dari mana kau tau hal itu Mul?”


Tanya Riki kepadanya.


“Tidak perlu menggunakan kemampuan meretas saja, aku juga sudah dapat mengetahui kalau Kichida baik-baik saja.”


“Hah!?”


Aku dan Riki tidak mengetahui maksud dari Maul mengatakan hal itu.


“Beberapa menit yang lalu, akun Outstagram milik Kichida baru saja aktif dan dia menyukai beberapa postingan tentang komik.”


“Syukurlah kalau begitu, setidaknya untuk saat ini kita tidak perlu khawatir dengan keadaannya.”


Aku juga sudah melihat kecemasan di wajah Riki yang menghilang.


“Apa yang akan kau lakukan Mar?”


“Sepertinya aku akan menemui Kichida seorang diri saja.”


Karena tidak terjadi masalah dengannya, dan aku juga tidak memerlukan bantuan Riki untuk melindungiku. Jadi aku bisa melakukan hal ini sendiri, dan itu jauh lebih mudah dibandingkan dengan mengajak Riki.


“Apa kau yakin Mar?”


“Tenang saja Rik, dan sepertinya Kichida berada di sebuah kontrakan yang berada di kawasan Jakarta Barat.”


Ucap Maul kepadaku.


“Itu jauh sekali dari sini.”


“Itu tidak terlalu jauh dibandingkan jarak dari sekolah ke rumah kita.”


Benar juga, tapi tetap saja itu akan sangat jauh sekali. Apalagi aku harus pulang ke rumah nantinya dari sana.


“Semoga berhasil Mar!”


Riki pun memberikanku sebuah semangat yang sebenarnya aku tidak memerlukannya.


“Yo, terima kasih.”


“Kita memiliki satu masalah.”


Perhatian kami pun langsung tertuju kepada Maul.


“Apa?”


“Bagaimana jika Miyuki dan yang lainnya bertanya tentang kau Mar?”


“Kau bisa membuat alasan tentang hal itu Mul.”


“Alasan apa yang bisa membuat Miyuki percaya?”


Hmmm...


Kami bertiga pun memikirkan tentang hal itu.


“Katakan saja kalau aku ada urusan dengan Pak Febri.”


“Apakah itu akan berhasil?”


Maul sedikit meragukan akan hal itu.


“Ya coba saja, jika hal itu tidak berhasil aku serahkan kepada kalian bagaimana nantinya.”

__ADS_1


Lagi pula, aku yakin Miyuki sudah mengetahui kemana aku pergi.


“Apa yang sedang kalian bicarakan?”


Kami semua pun menoleh ke arah sumber suara itu, dan kemudian kami melihat Miyuki yang sedang berada di belakang kami bersama dengan Rina yang berada di sampingnya.


“Sejak kapan kau berada di sini?”


Apa dia mendengar semua pembicaraan kita barusan?


“Aku baru saja selesai salat dan melihat kalian sedang berkumpul di sini.”


Miyuki pun akhirnya duduk bergabung dengan kami.


Aku, Maul, dan Riki saling lirik-lirikan, kami tidak menyangka kalau Miyuki akan menghampiri kita di sini.


Aku juga melihat ke arah Miyuki yang sepertinya dia sudah sedikit mendingan dibandingkan sebelumnya.


“Kami hanya berbicara masalah gim saja. Bukah begitu Mul?”


“Iya, kami hanya membicarakan masalah gim.”


Maul pun mengikuti arah pembicaraan yang aku buat.


“Oh begitu.”


Tidak seperti biasanya, Miyuki tidak banyak bertanya dan menerima dengan begitu saja.


Ini sebenarnya sangat aneh, tapi aku tidak mau bertanya kepadanya takutnya dia menyadari kalau aku menyembunyikan sesuatu.


“Sepertinya kau sudah lebih mendingan dibandingkan sebelumnya?”


“Iya, setelah pergi ke UKS tubuhku sedikit enakkan.”


“Aku sudah diceritakan tentang masalah Kichida oleh Miyuki Ar, apa kalian semua sudah mengetahuinya?”


Rina bertanya kepadaku.


Berbeda dengan Miyuki, sekarang Rina yang terlihat sangat khawatir.


Kenapa kau menceritakannya kepada Rina, bukankah aku sudah menyuruhmu untuk menutup mulutmu dan jangan membicarakan hal ini kepada yang lainnya.


“Kami baru saja diberitahu oleh Amar.”


Dengan polosnya Riki mengatakan hal itu kepada mereka.


“Kenapa kau memberitahu kepada mereka Rik!?”


Lalu untuk apa aku berbohong tadi kalau ujung-ujungnya kau beritahu hal ini juga.


Aku pun cukup menghela nafas yang cukup panjang saja melihat apa yang Riki lakukan barusan.


“Tidak ada salahnya memberitahu hal ini kepada Miyuki dan Rina Mar.”


“Apa kamu sudah mengetahui sesuatu tentang hal ini Mar?”


“Iya.”


Jawabku dengan singkat.


“Bagaimana keadaan Kichida?”


Mata Miyuki pun langsung menyorot ke arahku dan di dalam matanya aku dapat melihat kalau dia sedikit berharap kalau tidak terjadi apa-apa kepada Kichida.


“Untuk saat ini dia baik-baik saja.”


“Dari mana kau tau Ar?”


“Apa kalian berdua punya Outstagram?”


Aku bertanya kepada mereka berdua.


“Tentu saja kami punya, hanya orang aneh yang tidak mempunyai Outstagram di zaman seperti ini.”


“Terima kasih telah mengatakanku aneh.”


Miyuki pun baru menyadari kalau aku tidak memiliki akun Outstagram.


“Maafkan aku Mar, aku tidak bermaksud seperti itu.”


Miyuki merasa bersalah akan hal itu.


“Tenang saja, aku tidak terlalu memikirkannya.”


“Lalu ada apa dengan Outstagram Ar?”


“Beberapa menit yang lalu, Kichida memainkan akunnya dan menyukai beberapa postingan yang berkaitan tentang komik.”


Mendengar hal itu membuat Miyuki langsung memeriksa apa yang baru saja aku katakan.


“Kau benar Mar, dia baru aktif beberapa menit yang lalu... Syukurlah...”


Melihat itu membuat Miyuki sedikit lega dan dia mendekapkan ponselnya itu dengan erat.


“Jadi untuk sekarang, kau tidak perlu khawatir.”


“Setidaknya dengan melihat ini, aku sedikit lega.”


“Miyuki, ayo kita kembali ke kelas.”


“Kenapa buru-buru?”


Riki bertanya kepada Rina.


“Ada sesuatu yang harus kami lakukan di sana. Biasa, wali kelas kami meminta kami melakukan sesuatu.”


“Kalau begitu kami pergi dulu semuanya.”


Akhirnya Miyuki dan Rina pun pergi meninggalkan kami bertiga.


“Mar, sebenarnya masih ada sedikit yang mengganjal pikiranku.”


Ucap Riki selepas Rina dan Miyuki baru saja pergi.


“Apa itu?”


“Apa yang memainkan akunnya Kichida itu benaran Kichida yang asli?”


“Tentu saja.”


“Bagaimana jika yang memainkannya orang lain?”


Sebenarnya pemikiran itu tidak ada salahnya.


“Siapa? Sang penculik menurutmu?”


Tanya Maul kepadanya.


“Bisa saja kan penculiknya memainkan akun sosial Kichida.”


“Itu tidak mungkin, buat apa dia memainkan akun sosial medianya. Yang ada mereka malah menjual ponsel milik Kichida dibandingkan memainkan akun sosial medinya.”


Lagi pula apa untung akun sosial Kichida bagi mereka, jumlah pengikut Kichida juga hanya teman-temannya saja dan tidak banyak.


Kalau aku menjadi penculiknya lebih baik aku menjual ponselnya karena ponsel yang digunakan Kichida adalah ponsel keluaran terbaru dari merek yang ternama. Walaupun bekas, tapi jika dijual harganya masih lumayan tinggi.


“Kau benar juga ya Mar.”


Tentu saja, hanya kau saja yang berpikiran seperti itu Rik... Sepertinya.


“Ingat, rencana kita masih seperti tadi. Selama aku pergi, aku minta kepada kalian berdua untuk mengalihkan perhatian mereka. Dan jika ada diantara mereka yang bertanya tentangku, bilang saja aku ada urusan dengan Pak Febri.”


“Siap BOS!”


Baiklah, aku juga sudah tidak sabar dengan apa yang akan dikatakan Kichida nantinya.


Aku rasa dia akan terkejut melihatku yang sudah berada di depan kontrakannya nanti.


Mari kita lihat, seberapa besar masalah yang dimiliki olehnya.


-End Chapter 133-

__ADS_1


__ADS_2