Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 21 : Survei Sekolah.


__ADS_3

Pagi yang berawan dengan suara klakson kendaraan yang saling bersautan satu dengan yang lainnya, dan barisan


kendaraan yang memadati jalanan kota saat itu. Hari ini, aku sedang berada di dalam TransJakarta untuk pergi ke SMK Sawah Besar, tentu aku bersama dengan Maul dan Riki. Kami berencana pergi ke sana untuk melihat sekolah itu dan juga memberika berkas-berkas untuk melengkapi data diri kami.


Sebenarnya dari tadi aku berpikir apakah aku perlu memberitahu kalian tentang ini, tapi sepertinya ini sangat perlu. Bagi kalian yang tidak mengetahui apa itu TransJakarta. TransJakarta adalah bus yang melayani perjalanan rute ke seluruh penjuru di Jakarta.


“Sudah lama sekali aku tidak menaiki TransJakarta.”


Aku sedang berdiri di dekat pintu keluar sambil melihat ke luar jendela.


“Memangnya kau jarang sekali keluar menggunakan TransJakarta Mar?”


Riki bertanya kepadaku dengan sangat keheranan.


“Tentu, terakhir aku naik TransJakarta mungkin tiga bulan lalu.”


“Hmmm…”


“Ngomong-ngomong kalian semua sudah membawa berkas yang di suruh?”


“Tentu saja.”


Maul dan Riki menunjukan map coklat yang mereka pegang.


Bis kami pun melaju secara perlahan mengikuti arus kemacetan saat itu. Walaupun kami sudah berangkat


sedikit siang agar menghindari para pengendara yang ingin berangkat kerja, tapi ternyata kami terjebak dalam kemacetan juga. Seperti yang aku harapkan dari Ibukota, setiap jamnya tidak pernah sepi.


“Apa yang kau lihat dari tadi Mul?”


Aku penasaran dengan apa yang dilakukan Maul. Karena dari tadi pandangannya tidak pernah lepas dari layar


ponselnya.


“Aku hanya sedang melihat-lihat sekolah kita nanti. Katanya sekolah itu memiliki aula yang sangat


besar dan gedung olahraga yang bagus.”


Maul menunjukan layar ponselnya kepada kami.


“Benarkah!? Aku jarang sekali melihat ada sekolah yang memiliki gedung olahraga sendiri.”


“Riki benar, apa sehebat itu sekolah itu? Bahkan SMA Cibubur saja tidak mempunyai gedung olahraga sendiri.”


Aku dan Riki melihat gambar dari sekolah kami yang ada di layar ponsel Maul.


“Seharusnya itu wajar saja untuk sekolah kejuruan, kita lebih banyak diasah dalam keterampilan kita masing-masing dibandingkan bidang akademi.”


“Tapi aku mendengar dari teman-temanku kalau di sekolah kejuruan lebih banyak laki-laki dibandingkan perempuannya, aku tidak yakin kehidupan kita akan menyenangkan.”


Riki terlihat mengkhawatirkan hal itu. Padahal dia sudah memiliki orang yang dia suka tapi masih saja mengeluh


seperti itu.


“Kalau untuk itu kau tenang saja… Aku sempat melihat jurusan yang berada di sana, dan kebanyakan jurusan


yang diminati oleh perempuan.”


Maul menunjukan layar ponselnya yang berisikan tentang jurusan yang ada di SMK Sawah Besar. Dibandingkan denganku, ternyata Maul sudah mencaritahu lebih dalam tentang sekolah itu. Dasar Maul, memang kemampuannya dalam mengumpulkan informasi bukanlah isapan jempol belaka.


Mari kita lihat di sini… Multimedia, ah itu jurusanku. Rekayasa Perangkat Lunak, Farmasi, Administrasi Perkantoran, dan Akutansi.


“Hei Rik, kau masuk ke jurusan mana? Kau belum memberitahuku tentang hal itu.”


“Iya, aku juga belum tau tentang hal itu.”


Aku dan Maul penasaran dengan jurusan apa yang dimasuki Riki, karena Riki masuk ke sekolah ini karena prestasi bela diri yang dimilikinya, sedangkan dari semua jurusan yang ada tidak ada kaitannya dengan bela diri.


“Apa kalian penasaran?”


Kami berdua hanya mengangguk kecil.


“Itu rahasia.”


“HAh!?”


Aku dan Maul merasa tidak puas dengan jawaban yang diberikan oleh Riki.


“Zaman sekarang masih main rahasia-rahasiaan?”


“Tau Rik, masih aja main rahasia-rahasiaan.”


“Hahahahaha… Nanti kalian juga akan tau, bersabarlah.”


Dan Riki pun tidak memberitahu kepada kami jurusan mana yang dia masuki.


“Eh kalian berdua, bukankah itu Kak Fauzi?”


Riki memfokuskan pandangannya kepada salah satu lelaki yang baru saja masuk ke dalam bis.


“Kau jangan mengalihkan topik pembicaraan seperti itu.”


“Tidak, kali ini aku serius. Di sana ada Kak Fauzi.”


“…Iya dia benar Mar.”


Saat Kak Fauzi memasuki bis, dia pun melihat ke arah kami yang sedang memperhatikannya. Riki pun sedikit


melambaikan tangan untuk memanggilnya dan menyuruhnya untuk bergabung dengan kami, dan dia pun pergi untuk menghampiri kami setelah melihat gerakan tangan Riki.


“Hai kalian semua, sedang apa kalian di sini?”


Kak Fauzi menyapa kami dengan ramahnya. Kak Fauzi adalah kakak kelas kami ketika berada di SMP. Dia adalah


anggota OSIS dan orang yang termasuk ke dalam siswa teladan.


“Kami sedang ingin pergi ke SMK Sawah Besar.”


Riki langsung berbicara dengannya, memang dibandingkan kita bertiga hanya Riki saja yang akrab dengan kakak kelas. Itu karena dia adalah orang yang dulu pernah disegani di sekolahku.


“Untuk apa?”


“Kami mau memberikan berkas untuk daftar ulang.”


Maul menunjukan map berwarna coklat yang dibawanya.


“Oh seperti itu, kalian bertiga masuk ke sekolah yang sama?”


“Tentu saja!”


Riki mengatakan itu dengan semangat sembali melakukan tolak pinggang.


“Hebat sekali kalian bisa masuk ke sekolah yang sama. Dari dulu kalian memang tidak pernah terpisahkan ya.”


“Kak Fauzi bisa saja.”


“Oh iya, kalau tidak salah sekolah Kakak juga di SMK Sawah Besar ya?”


Maul bertanya kepada Kak Fauzi, seperti yang aku harapkan darinya. Bahkan informasi yang tidak penting pun dia tau. Aku penasaran seberapa banyak informasi yang dimilikinya.

__ADS_1


“Iya, ini aku mau pergi ke sana.”


“Untuk apa?”


“Hari ini di sekolah sedang diadakan tes masuk bagi murid yang tidak mendapatkan rekomendasi, aku harus membantu OSIS di sana.”


“Apa Kakak di SMK masuk ke dalam OSIS juga?”


“Begitulah.”


Kak Fauzi berkata hal itu sambil tertawa kecil.


“Hebat sekali Kak!”


Riki dan Maul memuji pencapaian Kak Fauzi.


OSIS kah, salah satu organisasi yang tidak akan pernah aku masuki. Tempat itu adalah tempat yang sangat merepotkan. Kalian harus melakukan sesuatu setelah pulang sekolah dan harus masuk di hari yang dimana seharusnya kalian libur. Salah satu keuntungannya adalah kalian akan terkenal dimata murid maupun guru.


Terkenal? Itu lebih merepotkan dibandingkan masuk ke dalam OSIS. Melakukan sesuatu yang merepotkan untuk mendapatkan hal yang merepotkan. Itu sangat merepotkan.


“Kalau melihat kalian bertiga seperti ini, aku jadi mengingat ketika aku ingin mengajak kalian bertiga untuk masuk ke OSIS.”


“Hahahaha… Aku ingat itu, waktu itu kami menolaknya tanpa berpikir apa pun.”


Maul tertawa ketika mengingat hal itu juga.


Memang ketika di SMP, kami bertiga pernah diajak untuk bergabung ke dalam OSIS oleh Kak Fauzi karena waktu


itu dia yang sedang menjabat sebagai ketua OSIS, tapi karena waktu itu citra OSIS sedang buruk dimata murid-murid akibat kebijakan ketua OSIS sebelumnya yang membuat OSIS terlihat sebagai tempat untuk mencari ketenaran di sekolah.


Waktu itu aku tidak memaksakan kehendakku kepada Maul dan Riki untuk mengikuti pilihanku, aku membiarkan


mereka berdua untuk memikirkan pilihan itu sendiri. Lagi pula, aku tidak pernah memaksakan pendapatku kepada orang lain, apa lagi pemikiran dan idealismeku, karena aku masih berpikir kalau idealismeku ini masih banyak kurangnya dan hanya bisa digunakan olehku saja.


“Aku dapat menerima keputusan kalian waktu itu, karena aku sendiri tau mengapa kalian menolak tawaranku itu.”


Untuk seorang remaja, sepertinya dia cukup bijak juga.


“Apa kalian mau masuk ke dalam OSIS ketika SMK nanti?”


Kak Fauzi menawarkan penawaran yang sama kepada kami.


“Kalau aku tidak.”


Aku langsung menjawab pertanyaan itu dengan cepat.


“Seperti biasa, kau selalu tidak mau melakukan sesuatu yang merepotkan ya?”


“Begitulah.”


“Bagaimana kalau kalian berdua?”


Aku melihat Maul dan Riki yang sedang berpikir memikirkan tawaran dari Kak Fauzi.


“Sebenarnya menarik jika aku bisa masuk OSIS, selama itu tidak mengganggu kegiatanku di ekskul pencak silat,


mungkin aku akan memikirkannya lagi.”


“Kalau kau Mul?”


“Sepertinya aku tidak akan masuk OSIS.”


“Kenapa?”


“Akhir-akhir ini aku banyak sekali mendapatkan pekerjaan dan itu sudah membuatku kesulitan untuk mengatur


waktu belajarku, dan sepertinya ke depannya nanti bakal banyak pekerjaan yang masuk kepadaku, jadi aku tidak bisa menyibukan diriku dengan masuk OSIS.”


Aku sedikit tertarik dan penasaran dengan pekerjaannya Maul.


“Seperti biasa, sesuatu yang berkatian dengan program dan keamanan sistem.”


Sebenarnya aku ingin sekali meminta Maul untuk mengajarkanku beberapa keahliannya tentang komputer, tapi


aku sendiri tidak memiliki laptop atau pun komputer di rumah dan itu semua sangat bertentangan dengan jurusan multimediaku. Mungkin aku bisa memintanya mengajariku web, tapi aku tidak terlalu mau berkutik di dalam programing. Biarlah, lebih baik aku mengumpulkan keterampilanku dulu di SMK nanti.


“…Baiklah kalau begitu, aku menghargai keputusan kalian.”


“Ngomong-ngomong jurusan apa yang Kakak masuki?”


“Aku berada di jurusan farmasi.”


Farmasi! Mendengar namanya saja aku sudah membayangkan kalau mereka tidak pernah lepas dari yang namanya jarum suntik.


“Ada apa Mar? Kau terlihat sedikit pucat.”


“Tidak ada.”


Gawat, hanya membayangkan jarum suntik saja sudah membuat wajahku pucat. Aku jadi mengingat kejadian di


sekolah dasar ketika ada orang-orang dari rumah sakit datang untuk memberikan vaksin. Waktu itu aku kabur dan bersembunyi di kamar mandi sampai kegiatan itu selesai. Untung saja guru-guru tidak pada mencariku.


Dan kami pun terus bercerita tentang kejadian yang pernah terjadi di SMP. Sebenarnya yang bercerita dengan Kak Fauzi hanya Maul dan Riki saja.


***


“Kalau begitu aku sampai sini saja ya, aku harus pergi ke ruang OSIS terlebih dulu.”


“Baik, terima kasih Kak!”


Kami pun berpisah dengan KakFauzi setelah memasuki gerbang sekolah. Saat ini, kami sudah berada di depan


SMK Sawah Besar. Sekolah itu sangat besar sekali, ketika memasuki gerbang sekolah kami dapat melihat lapangan yang sangat besar dengan tiga gedung besar yang berada mengelilingi lapangan tersebut.


“Besar sekali!”


“Kau benar Rik, aku tidak menyangka kalau sekolahnya sebesar ini.”


“Aku melihat di internet tidak sebesar ini.”


“Apa kita salah sekolah?”


“Tidak mungkin, di depan sekolah tertulis dengan jelas kalau ini SMK Sawah Besar. Kak Fauzi saja masuk ke sekolah ini.”


Kami tidak menyangka kalau sekolahnya sebenar ini, mungkin besarnya tiga kali dari SMP kami.


“Sekarang kita harus kemana?”


Aku bertanya kepada Riki yang masih melihat-lihat sekolah itu.


“Kita harus ke bagian administrasi untuk memberikan berkas-berkas ini?”


“Kau tau dimana tempatnya?”


Riki hanya menggelengkan kepalanya.


“Kalau kau Mul?”


“Terima kasih Pak!... Ke arah sini semuanya!”

__ADS_1


Ternyata Maul sudah bertanya terlebih dahulu kepada satpam yang berada di sana. Seperti yang aku harapkan dari Maul, dia selalu ada cara untuk mengumpulkan informasi.


Kami bertiga pun langsung pergi ke bagian administrasi untuk memberikan berkas kami. Setelah memberikan berkas, kami berencana untuk berkeliling sekolah ini terlebih dahulu.


“Ramai sekali! Bukankah seharusnya saat ini semua murid sudah libur semester.”


Riki melihat ke murid-murid yang berkumpul di depan kelas.


“Kau ini bagaimana, apa kau tidak melihat seragam yang mereka kenakan! Itu seragam SMP, berarti mereka adalah murid-murid yang sedang mengikuti tes masuk.”


“Hahahaha… Aku lupa itu.”


Riki hanya tertawa dan sedikit mengusap kepalanya. Aku hanya menghela nafas melihat sikap Riki yang seperti itu. Padahal waktu di pulau seribu dia terlihat sangat bisa di andalkan sekali.


Ah sial, mengapa dia harus berada di sekolah ini. Sepertinya lebih baik aku pulang sekarang.


“Hei teman-teman, lebih baik kita pulang sekarang.”


“Ada apa memangnya Mar?”


Riki terlihat bingung ketika aku mengajaknya untuk pulang.


“Aku baru ingat, ada hal yang ingin aku kerjakan.”


“Aku yakin kau hanya mengada-ada, orang sepertimu mana mungkin memiliki perkerjaan.”


Maul melihatku dengan sangat curiga.


Aku hanya bisa tertawa ketika Maul mengetahui maksud dan tujuanku berbicara seperti itu.


“Apa yang sebenarnya terjadi?”


“…Kalau kalian mau berkeliling, kalian bisa pergi duluan. Aku mau langsung pulang.”


Aku pun langsung berbalik arah dan pergi ke arah gerbang.


“Kalau begitu kami juga pulang.”


Riki dan Maul mengikutiku pergi ke arah gerbang.


“Tidak apa-apa, kalian bisa pergi duluan jika kalian ingin berkeliling.”


“Kalau hanya berdua saja itu tidak seru, bukankah begitu Mul?”


“Tentu saja.”


Mendengar itu, aku merasa tidak enak dengan mereka berdua.


“Bagaimana kalau sebelum pulang kita pergi ke Monas terlebih dahulu? Kebetulan sekolah kita hanya beberapa halte untuk menuju ke sana.”


“Baik, itu bukan ide yang buruk.”


Kami pun memutuskan untuk pergi ke monas bersama – sama.


***


“Mengapa kau mau pulang buru-buru? Apa kau melihat sesuatu?”


Riki masih penasaran dengan alasanku meminta pulang terlebih dahulu.


“Saat di sana, aku tidak sengaja melihat Takeshi sedang membaca buku di sana.”


“Oh, jadi itu yang kau lihat.”


Maul terlihat tidak peduli dan masih berfokus dengan teropong yang sedang ia gunakan.


Sekarang kami sudah berada di tugu monas. Karena hari ini adalah hari kerja, jadi kami dapat naik ke tugu


monas dengan sangat mudah. Kalau hari libur aku tidak pernah bisa naik hingga ke tugu karena ramainya antrian orang yang ingin naik ke sana.


Dari atas sini, kita dapat melihat pemandangan kota Jakarta dari sana. Sayang sekali tugu ini hanya dibuka sampai sore saja, padahal akan sangat indah jika melihat pemandangan malam kota Jakarta. Karena aku suka sekali melihat lampu-lampu yang berasal dari gedung-gedung tinggi ketika sedang pergi ke pusat kota.


“Aku kira kau melihat Miyuki di sana.”


“Kalau senadainya dia melihat Miyuki, pasti Miyuki sudah menghampiri kita sebelum kita pergi dari sana.”


Ketika mendengar perkataan Maul barusan aku baru sadar akan sesuatu. Setelah aku mengingat-ingat kejadian


pertemuanku dengan Miyuki, dia selalu menemukanku walaupun aku berusaha untuk menghindarinya.


Ketika di toko buku, aku dapat ditemukannya dengan mudah. Bahkan ketika membuntuti Riki dan Kirana di mal, dia


juga dapat menemukanku di bioskop. Aku tidak tau apa yang membuatnya dapat menemukanku setiap berada di dekatnya. Padahal setauku, aku termasuk orang yang memiliki hawa keberadaan yang tipis.


“…Kalian semua… Ada yang ingin aku katakan kepada kalian.”


Riki pun mengatakan sesuatu yang membuat perhatian kami tertuju kepadanya.


“Ada apa Rik?”


“Sebenarnya aku dan Kirana sudah berpacara.”


“Benarkah itu!? Kapan kau menyatakan perasaanmu?”


Aku sedikit terkejut mendengar itu.


“Itu benar, dan aku menyatakan perasaanku ketika hari perpisahan, tapi dia memintaku untuk menunggu jawabannya karena dia mau memikirkannya terlebih dulu.”


Riki terlihat senang dan sedikit malu ketika menceritakan hal itu.


“Berarti waktu di pulau?”


“Waktu di pulau dia belum menjawabnya, dan dia baru menjawabnya dua hari yang lalu.”


“Aku turut senang mendengar itu Rik.”


Tentu aku akan mengatakan hal itu. Setelah banyak hal yang Riki lalui bersama dengan Kirana, aku sangat senang ketika mendengar mereka berdua bisa berpacaran. Semoga saja Riki masih menjadi Riki yang biasanya dan tidak menjadi bodoh karena cinta.


“..Oh jadi begitu ya… Kau jadi diterima ya…”


Maul terlihat murung ketika mendengar Riki di terima oleh Kirana. Sepertinya dia masih belum melupakan penolakan yang dilakukan Miyuki ketika berada di pulau seribu.


“Tenanglah Mul, masa lalu biarlah terjadi.”


Aku berusaha menyemangati Maul sebisa mungkin.


“Amar benar Mul, kau bisa mencari seseorang yang cocok denganmu di SMK nanti. Aku yakin banyak siswi yang


cantiknya tidak kalah dari Miyuki.”


Riki pun membantuku dalam menyemangati Maul.


“Terima kasih kawan-kawan, aku senang mempunyai teman seperti kalian.”


“Tenang saja, apa pun yang terjadi kita akan selalu bersama.”


Riki mengucapkan itu dengan penuh dengan rasa percaya diri dan semangat yang sangat tinggi.


Mendengar itu membuatku sedikit tersenyum dan membuang muka ku. Sebenarnya aku juga bersyukur mempunyai

__ADS_1


teman-teman yang hebat seperti mereka. Tanpa mereka, mungkin aku hanyalah seseorang yang membosankan.


-End Chapter 21-


__ADS_2