Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 35 : Mencolok Itu Merepotkan.


__ADS_3

Hari kedua dari masa orientasi pun telah berakhir. Aku, Riki, dan Maul sedang berjalan menuju ke halte Sawah Besar. Hari ini terasa sangat cepat sekali, setelah acara demo ekskul dan memilih eksku, kita hanya mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas.


“Hei tuan yang sudah terkenal di hari kedua, bagaimana rasanya?”


Aku mencoba meledek Riki yang kalah dalam taruhannya.


“Hentikan itu Mar, aku juga tidak tau kalau ketua bakal mengatakan prestasiku di depan umum seperti itu.”


Riki terlihat malu sekali ketika aku meledeknya. Jarang sekali melihat Riki malu seperti ini, biasanya dia akan percaya diri dan bersikap acuh akan hal itu.


“Selain itu, ekskul mana yang kau pilih? Kau belum memberitahuku.”


Oh iya, setelah mendaftar ekskul aku langsung kembali ke kelas dan ketika di kelas juga aku tidak membicarakan hal ini kepada Riki.


“Aku masuk ke Rohis.”


“Rohis! Aku terkejut dari semua ekskul kau akan memilih ekskul itu.”


“Iya, aku juga terkejut setelah mendengarnya. Aku mendengar dari teman-temanku kalau jarang sekali ada orang yang mau masuk ke ekskul itu.”


“Mengapa kalian berdua harus terkejut seperti itu?”


Apa orang sepertiku tidak pantas untuk ikut ke sesuatu yang berbau dengan agama? Yang benar saja.


“Apa ada alasan tertentu kau masuk ke ekskul itu Mar?”


Riki bertanya kepadaku tentang alasanku masuk ke ekskul Rohis. Memangnya hal itu diperlukan, seharusnya dia sudah mengetahui mengapa aku memilih ekskul itu.


“Bukankah kau sudah pernah aku beritahu ketika di kelas. Aku mencari ekskul yang tidak terlalu melelahkan, waktunya bebas, dan tidak merepotkan. Dan aku menemukan itu semua di ekskul Rohis.”


“Syukurlah kalau begitu, aku kira kau akan kebingungan memilih ekskul sampai hari berakhir.”


“Tentu saja tidak Rik... Ngomong-ngomong bagiamanaekskul Robotiknya Mul?”


“Seperti yang aku harapkan dari klub robotik.”


Maul pun terlihat senang sekali dengan klubnya.


“Memangnya kau ingin melakukan apa di klub itu? Bukankah untuk orang seperti kau lebih cocok bergabung dengan ICT club?”


“Sebenarnya aku ingin membuat sebuah drone buatan sendiri.”


Woah! Hebat sekali.


“Memangnya kau bisa membuat hal itu? Bukankah hal itu lumayan rumit, lagi pula dimana kau akan menemukan onderdil untuk membuat dronenya?”


Riki sepertinya tidak terlalu percaya kalau Maul bisa membuat hal itu.


“Karena itulah aku masuk ke klub robotik. Dulu waktu SMP kelas satu, aku pernah mencoba untuk membuat droneku sendiri dari drone bekas yang aku punya. Tapi karena bahasa pemrograman yang digunakan terlalu rumit untuk mengoprasikan dronenya, jadi aku pun memutuskan untuk menyerah dan akan melanjutkannya lagi ketika mendapatkan ilmunya.”


Dari sini aku baru tau kalau sebenarnya Maul itu adalah orang yang hebat, hanya saja kemampuannya itu jarang ditunjukan di depan orang banyak.


“Mengapa kau tidak mencaritahunya di internet saja? Bukankah hal seperti itu banyak di internet.”


“Kau benar Mar, memang script dan tutorial untuk mengoprasikan dronenya banyak di internet. Bagaimana


mengatakannya? Kalau di internet kebanyakan memberikan cara yang instan, sedangkan aku ingin mengetahui scriptnya dari dasar.”


“Cuman hanya membuatnya saja, bukankah lebih baik kau membelinya saja. Jadi kau tidak perlu repot-repot seperti ini.”


Aku mengusulkan kepada Maul sesuai dengan pemahamanku.


“Itu kalau aku ingin membuat drone yang sama seperti biasanya saja. Tapi kali ini aku ingin membuat drone yang bisa membantuku dalam hal peretasan.”


Mendengar itu membuatku sangat tertarik sekali dengan apa yang akan dibuat oleh Maul.


“Wah! Kau ingin membuat drone seperti yang ada di gim hacker yang aku mainkan waktu itu ya?”


“Sebenarnya aku sedikit terinspirasi dari gim itu. Makanya aku ingin mencoba untuk membuktikan apakah drone seperti itu dapat di buat atau tidak.”


“Memangnya itu gim seperti apa Mar?”


Riki yang tidak pernah bermain gim tidak mengetahui gim apa yang kami bicarakan.


“Itu loh RIk, gim yang waktu itu aku mainkan ketika berada di rumah Maul.”


“Oh, yang karakter utamanya menggunakan masker dan topi itu?”


Riki pun akhirnya mengetahui gim yang kami bicarakan. Karena gim yang sedang kami bicarakan adalah gim komputer dan dari kami bertiga yang memiliki komputer hanya Maul saja, jadi aku hanya bisa memainkan gim seperti ini jika sedang bermain di rumah Maul.


“Aku tidak sabar menunggu dronemu itu Mul.”


“Tunggu saja Mar, aku akan membuatmu terpukau dengan drone buatanku.”


Ah... Baru kali ini aku merasa seperti ini lagi.


“Oh iya Rik, bagaimana ekskulmu sendiri?”


“Sangat menyenangkan sekali Mul, kakak kelas di sana juga ramah-ramah.”


Aku tidak tau apakah sikap kakak kelas yang ada di sana terpengaruhi oleh prestasi yang dimiliki Riki atau tidak, tapi semoga saja memang seperti itulah sikap mereka.


“Kira-kira kapan kejuaraan pencak silat tingkat nasional diadakan?”


“Aku rasa sebentar lagi seleksi untuk acara O2SN akan segera dilakukan.”

__ADS_1


“Semangatlah Rik, kami akan mendukungmu.”


Maul memberikan dukungan kepada Riki.


“Terima kasih Mul.”


“Tapi tidak berasa ya kalau sebentar lagi masa orientasi segera selesai.”


Maul seperti sedang mengenang masa-masa yang telah lama berlalu.


“Kau benar Mul, aku baru merasa kalau kemarin masuk di sana.”


Riki pun berpikiran hal yang sama dengan Maul.


“Kalian ini bagaimana, memang kita baru masuk kemarin kan.”


Mereka berdua ini, ada saja kelakukan mereka.


“Apa kau sudah memiliki teman di sekolah Mul?”


“Tentu saja Mar, buat apa kau bertanya hal seperti itu. Kau kira aku ini seorang yang anti sosial. Tapi setidaknya aku menemukan beberapa orang yang menarik perhatiannya.”


Kami pun melanjutkan perjalanan kami hingga akhirnya kami sampai di Halte Sawah Besar. Karena bis yang kami tunggu masih lumayan lama datangnya, kami pun berniat untuk menunggu bisnya sambil memakan otak-otak yang dijual di dekat sana.


“Aku baru ingat hal ini, tadi di kelas aku sempat mendengar pembicaraan dari mentorku katanya mentorku akan mendekati Miyuki untuk menjadikannya pacar. Tapi sebelum mendekati Miyuki dia harus menyingkirkan seseorang anak kelas sepuluh yang dekat dengannya. Apa kau tau Mar seseorang itu?”


Ketika mendengar itu dari Maul, aku pun merasakan firasat yang sangat tidak enak sekali. Aku merasa kalau sesuatu yang merepotkan akan segera menimpaku. Tapi aku harus memastikannya dahulu.


“Siapa mentor yang membicarakan itu?”


Aku bertanya dengan sangat penasaran kepada Maul. Karena kehidupan sekolahku yang damai sedang dipertaruhkan di sini.


“Kak Deni yang berkata hal seperti itu.”


Seperti yang aku duga, pasti dia memiliki sedikit dendam kepadaku. Ah! Apa yang harus aku lakukan jika kondisinya seperti ini. Aku belum banyak memiliki koneksi di sini dan juga aku belum begitu mengenal orang-orang yang ada di SMK Sawah Besar. Kalau melawan Kak Deni secara langsung mungkin adalah hal yang mustahil untukku.


“Aku sudah tau siapa orang yang dimaksud Kak Deni.”


“Siapa itu Mar?”


Maul sangat penasaran sekali akan hal itu. Sepertinya sebentar lagi, rasa ingin tahunya yang tinggi itu akan segera


muncul.


“Akan aku berikan sedikit petunjuk kepadamu. Siapa laki-laki yang saat ini dekat dengan Miyuki dan bahkan orang-orang dapat salah paham dengan hubungan mereka berdua?”


Maul pun berpikir dengan petunjuk yang aku berikan.


“Kau.”


“Kenapa kau bisa yakin kalau kau adalah orangnya Mar?”


Riki bertanya kepadaku tentang kesimpulanku itu.


“Apa kalian semua ingat cerita Miyuki ketika dia sedang digoda oleh kakak kelas di hari pertama? Kakak kelas yang menggoda Miyuki itu adalah Kak Deni.”


“Kalau begitu bukankah sangat gawat Mar. Aku mendengar dari kakak kelasku di ekskul pencak silat, kalau Kak Deni memiliki prestasi yang bagus di ekskul karate.”


“Benarkah itu!”


Pantas saja aku mendapatkan firasat yang tidak enak sekali tadi. Sepertinya untuk sekarang aku lihat dulu bagaimana pergerakan yang akan dilakukan Kak Deni untuk menyingkirkanku. Mengingat dia adalah anggota OSIS, sepertinya dia tidak akan melakukan sesuatu yang gegabah begitu saja.


“Oi Rik, aku mau kau membantuku jika seandainya Kak Deni memang akan melakukan sesuatu kepadaku?”


Aku pun meminta bantuan kepada Riki.


“Tenang saja, aku pasti akan membantumu. Jadi, apa yang harus aku lakukan?”


“Aku hanya memintamu untuk menjadi pengalih perhatianku saja.”


“Maksudnya?”


Riki terlihat tidak mengetahui apa yang aku maksud.


“Jika ada seorang anak kelas sepuluh mengalahkan kakak kelas yang bergabung dengan OSIS dan memiliki reputasi yang bagus di ekskul karate, bagaimana reaksi orang-orang ketika mendengar atau melihat hal itu?”


Aku pun memberikan pertanyaan kepada Riki.


“Tentu saja orang itu akan terkenal dan disegani di sekolah.”


“Tepat, dan jika orang itu terkenal berarti orang itu akan menjadi apa?”


“Pusat perhatian!”


“Sepertinya kau sudah mengerti, aku jadi tidak perlu menjelaskan panjang lebar kepadamu.”


“Apa kau sudah seyakin itu dapat mengalahkan Kak Deni? Kau sudah mendengarnya sendiri dari Riki kalau dia bukan orang sembarangan Mar. Bahkan ketika menjadi mentorku saja aku melihat banyak orang yang segan dengannya.”


Maul pun mencoba memperingatiku.


“Apa kau bercanda? Tidak mungkin aku dapat mengalahkan orang sepertinya... Kalau seandainya aku berhadapan secara langsung dengannya, tapi kalau menggunakan strategi akan berbeda lagi ceritanya.”


“Kenapa kau tidak mau menjadi pusat perhatian Mar? Menurutku itu lumayan bagus juga untukmu. Kau akan disegani di sekolah dan kau bisa melakukan apapun sesukamu tanpa ada orang yang mengusiknya.”


“Memang aku menyukai jika tidak ada seseorang yang mengusik kehidupanku. Tapi asal kau tau Rik, aku lebih suka ketika orang-orang menganggapku lemah. Karena menurutku aku mendapatkan beberapa keuntungan dari

__ADS_1


hal itu. Mereka akan lengah jika berhadapan denganku, aku akan diremehkan, dan masih banyak lagi.”


Itulah alasanku selama ini selalu menyerahkan kepada Riki jika ada yang berkaitan tentang sesuatu yang dapat membuatmu menjadi mencolok.


“Baiklah, aku akan menjadi pengalih perhatianmu.”


“Kau setuju akan hal itu Rik?”


Maul terlihat terkejut Riki menyetujui permintaan dariku karena Maul menyadari kalau permintaanku dapat membuat Riki menjadi kerepotan.


“Tentu saja, lagi pula aku sudah kalah dalam taruhan dengan Amar. Dan juga aku sudah lumayan terkenal dikalangan anak kelas satu, mungkin sebentar lagi kakak kelas juga akan mengenalku juga. jadi aku rasa hal seperti itu tidak akan berefek kepadaku.”


“Dari mana rasa percaya dirimu itu... Tapi kalau kau tidak masalah dengan hal itu, ya sudah. Kau juga Mar, jangan meminta bantuan Riki saja. Aku juga ingin membantumu kau tau, aku juga mau terkenal di sini.”


Padahal rencananya setelah membujuk Riki, aku juga akan membujuk Maul dengan cara yang sama. Tapi karena dia sudah menawarkan diri jadi pekerjaanku sedikit lebih muda.


“Dari dulu aku ingin bertanya hal ini kepadamu Mar, kenapa kau sangat tidak mau menjadi pusat perhatian? Setahuku banyak sekali orang yang berusaha untuk mendapatkan perhatian dari orang-orang.”


“Itu sangat menggangguku Mul.”


“Kalau begitu mulai sekarang kau tidak usah melakukan hal yang mencolok dan berusahalah untuk mengabaikan semuanya.”


Maul pun menyarankan sebuah saran yang menurutku sangat bagus untuk dilakukan.


“Kalau bisa aku lakukan juga sudah aku lakukan dari dulu Mul. Hanya saja mengapa tindakan yang aku lakukan selalu mencolok dikarenakan teman-teman dekat denganku adalah orang-orang yang menjadi pusat perhatian. Jadinya tanpa disadari, aku pun terkena efeknya juga.”


“Kau benar juga, semenjak Riki naik ke atas panggung dan terkenal dikalangan orang-orang, banyak teman sekelasku yang mulai berbicara kepadaku.”


“Itu baru Riki Mul, bagaimana jika orang-orang tau kalau kau dekat dengan Rina dan juga Miyuki. itu akan menarik perhatian orang banyak.”


“Aku baru menyadari kalau hal itu sangat merepotkan. Gawat, sepertinya pikiranku mulai tercemar oleh pemikirannya Amar.”


“Untung saja Riki berada di kelas yang sama denganku, jadinya aku tidak perlu mengkhawatirkan hal itu.”


Dan akhirnya bis kami pun tiba. Kami pun langsung menghabiskan otak-otak yang kami beli karena di dalam bis tidak boleh memakan makanan.


Selama di perjalanan aku memikirkan apa saja yang mungkin dilakukan Kak Deni untuk menyingkirkanku. Aku hanya bisa menemukan satu jawabannya saja dari situ, sepertinya dia akan membuat nama baikku jelek di depan semua orang apa lagi di depan Miyuki. Dan kemungkinan dia akan melakukan hal itu ketika kami sedang mengadakan LDKS. Karena hanya di LDKS saja OSIS dapat berkuasa secara penuh kepada murid kelas sepuluh.


Aku penasaran, apa yang akan dia perbuat untuk menjatuhkan nama baikku? Apa mungkin dia akan membuat rumor dan menyebarkannya seperti saat aku di SMP dulu. Tapi untuk membuat sebuah rumor, pasti harus ada


sesuatu hal yang mengawalinya terlebih dahulu agar rumor itu dapat dipercaya oleh orang banyak.


Ketika di SMP dulu banyak orang yang termakan oleh rumor itu karena yang menjadi objek rumornya adalah Rina dan mereka memiliki bukti kuat yaitu foto aku yang sedang pergi bedua dengan Miyuki. Selain itu di SMP sudah banyak yang mengenalku karena pemikiranku itu.


Tapi keadaan di SMK sekarang berbeda, semua orang yang berada di sini semuanya orang baru, dan murid yang berasal dari SMP yang sama denganku hanya Riki dan Maul saja. Reputasiku di depan teman-temanku juga tidak terlalu buruk juga, menggunakan Miyuki dan Rina sebagai objek di rumor itu juga tidak efektif. Ini semakin menarik saja, sudah lama aku tidak berpikir seperti ini.


Karena kesimpulan yang aku dapatkan masih terbilang sedikit dan aku tidak mau asal menebaknya saja, jadi lebih baik biarkan dulu dia melakukan apa yang ingin dia lakukan. Setidaknya aku sudah tau kalau dia akan berbuat sesuatu untuk menyingkirkanku.


Setelah perjalanan yang cukup jauh dan waktu yang cukup lama, akhirnya kami pun sampai di halte Cibubur.


“Kalau begitu sampai besok ya?”


“Oh iya, besok aku akan berangkat bersama kalian. Tunggu aku ya.”


“Ok! Kau datang saja ketika bis pertama tiba Mul. Karena kami pasti naik bis pertama.”


“Oke kalau begitu sampai besok.”


Dan kami pun berpisah di halte oleh Maul. Di tengah perjalanan, aku juga berpisah dengan Riki karena rumahku dan rumah Riki memiliki jalan yang berbeda.


Sebelum sampai ke rumah, aku mampir terlebih dahulu ke tukang sayur langgananku untuk membeli bahan makanan untuk malam ini, sarapan, dan juga bekal.


Mau masak apa hari ini?... Sepertinya aku memasak tempe goreng saja. Aku sudah terlalu lelah jika harus memasak sesuatu yang rumit. Kebetulan makanan yang harus dibawa besok juga ada tempe orek, jadi sepertinya aku masak itu saja.


Kemudian aku pun memilih tempe yang menurutku kualitasnya lumayan bagus, karena aku memerlukan tempe yang dapat bertahan untuk besok pagi.


“Adek yang di sana!”


Aku pun ditegur oleh seorang ibu yang sedang berbelanja juga. Sebenarnya aku sering bertemu dengan ibu ini ketika berbelanja, sepertinya dia juga salah satu langganan dari tukang sayur di sini.


“Iya, ada apa Bu?”


“Kamu bersekolah di SMK Sawah Besar ya?”


Sepertinya dia mengenali almamater yang aku gunakan.


“Iya Bu, memangnya kenapa ya?”


“Sebenarnya anak perempuan ibu juga bersekolah di sana. Siapa tau adek mengenalnya. Ngomong-ngomong adek jurusannya apa?”


“Kalau saya jurusannya multimedia Bu.”


“Ohh kalau anak saya jurusannya Farmasi. Padahal waktu SMP dia seperti tidak punya tujuan mau melanjut kemana, tapi tiba-tiba saja dia berkata kepada saya dan Papanya kalau mau masuk ke jurusan Farmasi di


SMK Sawah Besar.”


Ibu itu terlihat senang sekali ketika menceritakan tentang anaknya.


“Ohh begitu ya Bu.”


“Iya... Kalau begitu Ibu duluan ya Dek.”


Dan Ibu itu pergi setelah selesai memilih dan membayar belanjaannya.


Ibu yang aneh. Entah kenapa sifatnya dia mengingatkanku dengan seseorang.

__ADS_1


-End Chapter 35-


__ADS_2