Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 145 : Semua Berakhir Dengan Bahagia.


__ADS_3

Sepulang sekolah, setelah makan-makan bersama dengan Pak Febri. Aku, Riki, dan juga Maul langsung pergi ke rumahnya Maul untuk bertemu dengan bapaknya Maul.


Hari ini, kami bertiga juga tidak ada jadwal untuk pergi ke kantor, jadinya kami bisa langsung pergi ke rumahnya Maul setelah pulang sekolah.


“Apa yang ingin bapakmu tanyakan kepada kami Mul?”


Tanya Riki kepada Maul yang sebenarnya Riki tidak perlu menanyakan tentang itu.


“Tentu saja masalah pelelangan kemarin, kau ini bagaimana?”


“Bukannya seharusnya bapakmu sudah mengetahui bagaimana kejadian itu darimu?”


“Bapakku mana puas hanya bertanya kepadaku saja, pastinya dia mau mendengar ceritanya lebih lengkap dari kalian yang langsung terjun ke lapangan.”


Merepotkan sekali, padahal dia juga melihat apa yang terjadi di lapangan dari kamera pengawas.


“Dia juga mungkin mau mendengarkan langsung dari Amar.”


“Hah!? Kenapa harus dariku?”


“Kau kan orang yang menyusun rencana kemarin, tentu bapakku ingin mendengar langsung darimu.”


Ya sudahlah, lagipula aku sudah berjanji kepadanya untuk mengatakan apa yang mau dia dengar tentang kejadian pelelangan Kichida kemarin. Setidaknya dia sudah mengambil alih misi ini dan mulai untuk mencari para korban yang sebelumnya sudah diculik.


“Bagaimana dengan kelanjutan kasus itu Mul?”


“Lebih baik kau mendengarnya langsung dari bapakku tentang hal itu.”


“Baiklah.”


Ketika kami sudah sampai di rumahnya Maul, bapaknya sudah menunggu kami di ruang tamu sambil membaca koran dan ditemani dengan secangkir kopi. Dia terlihat serius sekaligus senang sekali saat membaca berita-berita yang ada di sana.


“Kalian berdua ternyata sudah datang!”


Bapaknya Maul langsung berdiri menyambut kedatangan kami.


“Assalamualaikum Om.”


“Waalaikummussalam... Duduk-duduk kalian berdua. Maulana, bilang ke ibu untuk membuatkan minuman untuk Amar dan juga Riki.”


“Baik Pak.”


Maul pun pergi ke belakang untuk menunaikan tugas yang diberikan oleh bapaknya itu.


“Tumben sekali Om sudah berada di rumah saat jam segini?”


Riki langsung memulai pembicaraan dengannya.


“Karena sekarang aku ada janji untuk ketemu dengan seseorang jadinya aku harus pulang dengan cepat.”


“Ketemuan dengan siapa?”


Riki merasa penasaran pada hal itu padahal dia sendiri seharusnya tau kalau bapaknya Maul itu ada janjian dengan kita.


“Kamu ini bagaimana Rik, bukankah saya ada janji dengan kalian.”


“Oh iya juga ya...”


Riki hanya menyeringai mendengar hal itu.


Aku tidak tau apakah Riki sengaja melakukan itu untuk mencairkan suanana atau memang dia benar-benar tidak mengetahui tentang hal itu.


Kemudian ibunya Maul pun datang membawa minuman dan makanan ringan untuk kami.


“Cepat sekali!”


Ucap Riki sambil menerima makanan dan minuman yang disajikan.


“Tante sudah tau kalau kalian akan datang ke sini dari Maul, jadi tante sudah menyiapkannya sebelum kalian datang ke sini.”


“Oh begitu tante.”


“Kalau begitu tante balik ke belakang lagi ya.”


Dan ibunya Maul pun pergi meninggalkan kami lagi.


“Bagaimana kalau kita langsung mulai sekarang? Karena aku harus segera kembali ke kantor untuk mengurus kasus kemarin.”


Bapaknya Maul mengintip jam yang dia gunakan di tangan kanannya.


“Baiklah Om.”


“Pertama-tama saya ingin berterima kasih kepada kalian berdua karena telah membantu kami dalam menangani kasus ini.”


Bapaknya Maul berterima kasih kepada kami berdua.


“Tenang saja Om, kami tidak melakukan banyak dalam acara kemarin. Kalau kau ingin berterima kasih, berterima kasihlah ke Maul. Dia yang banyak bekerja dalam hal itu.”


“Tidak, kalian juga berjasa banyak dalam hal itu. Dengan kalian yang masuk ke dalam hotel itu dan membuat Maul dapat mengendalikan sistem yang ada di dalam hotel. Hal itu membuat Om dan teman-teman Om dapat tau apa yang terjadi di dalam sana.”


Oh iya, aku penasaran tentang keberadaan mereka saat berada di kawasan kemarin. Karena menurutku di kawasan kemarin banyak sekali tempat untuk bersembunyi.


“Dimana posisi Om saat mengawasi kami melalui rekaman kamera pengawas yang diberikan oleh Maul Om?”

__ADS_1


Riki ternyata bertanya duluan tentang hal itu. Kalua begitu aku tidak perlu repot-repot untuk bertanya lagi.


“Om dan teman-teman Om berada di sebuah penginapan yang tersedia di sana.”


Penginapan?


“Bukannya di sana banyak sekali penginapan?”


“Iya, ketika pulang kerja kami semua langsung pergi ke sana untuk berkumpul di salah satu penginapan itu agar tidak ada yang mengetahuinya. Lalu kami pun melihat apa yang terjadi melalui rekaman kamera pengawas yang diberikan oleh Maul.”


“Kenapa Om harus menunggu acara itu selesai? Bukannya akan lebih mudah jika Om melakukan penggerebekan itu saat acara sedang dimulai atau acara sedang berlangsung.”


Karena kalau dia melakukannya saat acara sedang berlangsung, aku tidak perlu menunggu lama sampai pagi hari untuk sampai ke rumah.


“Om sebenarnya sengaja melakukan itu untuk membuat bukti kalau memang ada praktik penjualan manusia di Indoensia.”


“Bagaimana caranya?”


“Om tinggal menyuruh Maul untuk merekan melalui kamera pengawas semua yang terjadi di sana.”


Ternyata seperti itu, tapi bukannya kamera pengawas hanya bisa mereka gambar saja tanpa bisa menangkap suaranya.


“Bukannya kalau kamera pengawas tidak bisa menangkap suara?”


Lagi-lagi Riki mengatakan apa yang ingin aku katakan.


“Kalau itu, aku sudah menghubungkan suara dari kamera pengawas itu dengan menggunakan semua ponsel yang ada di sana sebagai micnya.”


“Apa yang kau lakukan itu sangatlah hebat Mul.”


Riki langsung memuji apa yang dilakukan oleh Maul.


Sudah-sudah... Aku tidak perlu melanjutkan pembicaraan ini. Kalau Maul menjelaskan secara rinci kepadaku dan Riki, kami juga tidak begitu mengerti tentang hal itu. Hanya Maul saja yang mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


“Dan juga kenapa kalian berdua bisa berada di sana? Waktu Maul mengatakan kalau kalian berdua berada di sana dan mengikuti acara sebagai peserta, Om sempat tidak percaya karena tidak mungkin kalian melakukannya. Tapi ketika Om tiba di sana dan melihat kalian berdua menggunakan topeng, aku baru percaya akan hal itu.”


“Karena kemarin ada temanku yang diculik oleh seseorang dan dijual di sana. Itulah kenapa aku dan Riki berada di sana.”


Kalau memang Kichida tidak diculik, aku mungkin akan menyerahkan hal ini sepenuhnya kepada kepolisian.


Aku bukannya tidak mempercayai kepolisian dengan semua kemampuan yang mereka miliki. Hanya saja aku butuh kepastian yang lebih kalau seandainya Kichida benar-benar selamat.


“Apa teman yang kau maksud itu adalah perempuan yang kemarin kalian bawa dengan menggunakan troli?”


Kenapa bapaknya Maul menyebutnya seperti itu, seharusnya dia sudah tau namanya adalah Kichida.


“Benar sekali.”


Ucapku dengan cepat.


Benarkah itu? Bukannya ini baru dua hari setelah kita menutup tempat pelelangan itu. Kenapa hasilnya sudah keluar secepat itu?


Seharusnya kita melihat sampai satu bulan kedepannya. Menurutku ini terlalu cepat untuk menyimpulkan kalau kasus penculikan itu benar-benar sudah menurun.


“Kalau memang kasus penculikan itu sudah menurun, berarti apa yang selama ini aku pikirkan benar.”


“Memangnya apa yang kau pikirkan Mar?”


“Dulu waktu kasus penculikan ini baru saja muncul dan jadi pembicaraan dimana-mana, aku memiliki asumsi kalau penculikan ini bisa ramai karena mereka tau kalau ada tempat untuk menjual hasil culikkannya itu dengan harga yang tinggi.”


Lagi pula hal itu jauh lebih aman dibandingkan mereka menculik orang kemudian meminta tebusan dari keluarga korban. Karena kalau mereka menjualnya ke tempat pelelangan itu, para penculik tidak perlu khawatir kalau polisi akan mengetahui identitas mereka selama mereka belum menemukan tempat pelelangan itu.


“Asumsimu itu benar... Semenjak itu, aku sudah tidak mendengar lagi ada kasus penculikkan di setiap polsek lagi untuk saat ini. Biasanya setidaknya aku mendengar satu kasus setiap harinya di beberapa polsek yang ada di Jakarta.”


“Bagaimana dengan korban yang sudah diculik?”


Riki masih mencemaskan hal itu.


“Kami sudah mengintrogasi semua peserta yang mengikuti acara pelelagan pada malam itu dan menggeledah rumah mereka. Kami juga menemukan kalau di sana ada korban-korban yang diculik dan rata-rata mereka semua adalah perempuan.”


“Lalu dengan yang laki-laki?”


“Kalau laki-laki tidak begitu banyak, hanya ada dua sampai tiga kasus saja. Mungkin hal itu tidak begitu laku di Indonesia.”


Tapi tetap saja aku turut prihatin kepada mereka-mereka itu, karena laki-laki diculik dan yang dijual adalah organ dalam mereka.


“Apa mereka semua sudah dikembalikan ke keluarganya?”


Tanyaku kepadanya.


“Mereka semua akan dikembalikan ke keluarganya masing-masing setelah direhabilitasi.”


Syukurlah kalau begitu...


“Berapa sisa korban yang belum diselamatkan Om?”


Riki merasa penasaran akan hal itu.


“Kalau melihat dari data yang Maul berikan kepada kami, hanya tinggal seperempat lagi sampai semua korban itu berhasil kita selamatkan semua. Tapi kami akan memaksimalkan agar dalam seminggu ini semua korban itu dapat kembali ke keluarganya masing-masing.”


Semingu ya... Menurutku itu terlalu cepat, tapi baguslah kalau memang mereka dapat melakukannya secepat itu.


Riki pun terlihat senang mendengar hal itu, pasti di dalam hatinya saat ini sangat senang sekali karena kerja kerasnya sudah terbayarkan.

__ADS_1


“Dan yang terakhir ada satu hal lagi yang ingin Om tanyakan kepada kalian bertiga.”


Bapaknya Maul pun menaruh sebuah botol kecil di atas meja yang berada di hadapan kami.


“Bukannya itu obat tidur yang digunakan oleh bapaknya Akbar untuk membuat adiknya Akbar tertidur?”


Aku langsung mengenali botol kecil apa yang diletakan oleh bapaknya Maul itu.


“Iya, ini adalah obat yang sama dengan yang digunakan oleh bapaknya Maul waktu itu. Aku menemukan obat itu ketika menggeledah acara pelelangan itu, dan sepertinya obat itu digunakan untuk membuat para korban tertidur.”


“Lalu apa yang ingin Om bahas kepada kami tentang hal ini?”


Aku memperjelas kepadanya.


“Aku baru mendapatkan laporan dari lab tentang obat tidur ini, dan ternyata di dalamnya terdapat obat-obatan lain yang dicampurkan dengan obat tidur ini agar dapat menimbulkan efek yang kuat.”


“Terus Om?”


Aku masih tidak mengetahu apa maksudnya bapaknya Maul mengatakan hal itu.


“Berarti ada yang memperjualbelikan obat-obatan itu untuk mereka gunakan. Karena menurut kesaksian Mr S alias Seto, dia membeli obat-obatan ini dari seseorang.”


Heee... Ternyata nama dari Mr S itu adalah Seto.


“Apa Om ingin meminta kami untuk menemukan pelakunya lagi?”


Tanya Riki kepadanya.


“Tidak, aku hanya ingin memberitahu kepada kalian saja. Barang kali kalian memiliki petunjuk yang sangat berguna bagi bapaknya Maul tentang obat-obatan itu.”


Huh! Aku kira dia akan meminta bantuan lagi kepada kami untuk menolongnya menemukan pengedar dari obat-obatan itu.


“Apa tindakan penggerebekan kemarin sudah diketahui oleh kantor kepolisian?”


“Tentu saja sudah, semenjak aku menggerebek tempat itu, aku langsung membuat laporan di kepolisian dan menunjukkan buktinya dengan rekaman yang Maul berikan.”


Bukan hanya anaknya saja, ternyata bapaknya kerjanya juga cukup cepat juga. Memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.


“Bukannya hal itu tidak begitu menuntaskan masalah ini?”


Aku mencoba untuk mengutarakan pemikiranku.


“Kenapa seperti itu Mar?”


“Bukannya masalah utama dari kasus ini adalah polisi yang behasil disogok? Kalau orang ini belum ketahuan dan dibekukan bukannya hal seperti ini bisa saja terjadi lagi.”


“Memang hal ini akan terjadi lagi jika dia belum ketahuan, tapi karena Om juga melaporkan kalau ada pihak polisi yang bekerja sama dengannya, hal itu membuat kondisi di kantor kepolisian sekarang sedang tegang karena mereka semua saling curiga antara satu dengan yang lain.”


Tidak buruk juga apa yang dilakukan bapaknya Maul, dengan begitu orang itu juga tidak bisa bergerak secara leluasa. Tapi ada hal lain yang harus ditakutkan oleh bapaknya Maul.


“Tapi bukannya itu terlalu berbahaya untuk Om...”


Ucapku lagi.


“Berbahaya?”


“Kalau memang orang yang bekerja sama itu adalah orang yang memiliki kedudukan tinggi di kepolisian, pasti Om akan dibungkam dengan berbagai cara.”


“Hahahahaha...”


Bapaknya Maul hanya tertawa mendengar apa yang aku katakan kepadanya.


“Kalau seandainya memang itu yang terjadi, aku akan mempercayakan semuanya kepada kalian bertiga.”


Oh tidak.. Aku merasakan ada sesuatu tanggung jawab yang sangat berat yang diberikan kepadaku.


“Aku tidak akan membiarkan ada seseorang yang memasukkan bapakku ke penjara ataupun yang lainnya. Jika itu memang terjadi, aku akan membuka semua aibnya di depan umum.”


Maul langsung melontarkan ancama yang cukup seram sekali, apalagi saat ini kita sedang berbicara tentang Maul.


“Dengan cara apa Mul?”


Riki meminta Maul untuk memperjelasnya.


“Aku akan meretas semua saluran televisi dan memutarkan aibnya orang itu di sana.”


Sudah kubilang kan, sangat menyeramkan jika membuat Maul sebagai musuh di sini.


“Kamu tidak perlu bertindak sejauh itu, cukup buktikan saja dimana dia bersalah dan itu sudah cukup.”


Bapaknya Maul mengusap pundaknya Maul.


Ternyata bapaknya Maul cukup bijaksana juga.


“Tenang saja Mul, kalau itu terjadi aku akan membantumu.”


Aku menawarkan bantuan kepadanya.


Tentu saja aku memberikannya bantuan, karena Maul sudah banyak sekali membantuku dan dia tidak pernah mengeluh soal itu. Dan ketika Maul memintaku sebuah bantuan, aku juga harus membantunya tanpa mengeluh sekalipun.


“Baiklah, sampai saat ini aku tutup pembicaraannya. Terima kasih atas kerja samanya.”


Bapaknya Maul pun menutup pembicaraan itu. Setelah menghabiskan kopinya, dia pun langsung pergi meninggalkan rumah untu pergi ke kantor kepolisian.

__ADS_1


 Aku dan RIki juga langsung pulang karena kami memiliki pekerjaan yang harus kami kerjakan di rumah. Karena beberapa hari terakhir aku tidak pernah pergi ke kantor, pastinya di aku memiliki pekerjaan yang menumpuk sekali di emailku.


-End Chapter 145-


__ADS_2