Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 117 : Aku Tau Kalau Aku Bukanlah Orang Yang Spesial.


__ADS_3

Liburanku yang sebentar telah berakhir dan semester dua telah dimulai. Setelah menyelesaikan kasusnya Akbar dan merayakan tahun baru di rumahnya Miyuki. Aku tidak melakukan sesuatu yang spesial. Aku hanya berada di rumah dan menjalani kehidupanku dengan bermain gim. Kadang sesekali aku pergi ke kantor untuk mengadakan rapat bersama Pak Hari dan juga yang lainnya.


Aku kembali berdesak-desakan bersama orang-orang yang ingin pergi bekerja di dalam bis.


Pagi ini, cuacanya tidak secerah pagi-pagi sebelumnya. Mungkin karena sekarang sudah masuk musim penghujan jadinya cuaca sering sekali mendung. Ibuku juga selalu mengingatkanku untuk membawa payung agar ketika hujan aku tidak kebahasan.


Ketika aku sampai di sekolah dan melaksanakan upacara bendera. Aku melihat kalau lapangan tidak dipenuhi dengan murid-murid seperti biasanya.


Aku baru ingat kalau di semester dua, semua murid kelas dua harus menjalani yang namanya Praktik Kerja Lapangan selama satu semester.


Akhirnya aku pun mengikuti upacara yang sangat lama dan melelahkan itu.


Karena ini adalah hari pertama masuk, banyak sekali sambutan-sambutan yang diberikan oleh kepala sekolah kepada kami.


Setelah melaksanakan upacara bendera, ketika aku sampai di kelas. Aku langsung berpapasan dengan Akbar yang ingin pergi keluar kelas.


“Mau kemana Bar?”


Tanyaku kepadanya.


“Aku mau ke kantin untuk membeli sesuatu, aku belum sarapan pagi ini dari rumah.”


“Oh begitu."


Aku pun memberikan jalan kepada Akbar.


“Oh iya Mar, aku sangat berterima kasih kepadamu atas yang kau lakukan kemarin Mar.”


Akbar berterima kasih kembali.


Setiap saat dia bertemu denganku, pasti dia selalu berterima kasih. Padahal aku sudah berkata kepadanya untuk menyuruhnya berhenti melakukan itu ketika sedang berada di depan orang-orang.


“Apa yang bisa aku berikan untuk membalas kebaikanmu itu Mar?”


“Kalau begitu, kau hanya perlu berhenti mengucapkan terima kasih kepadaku secara terus menerus. Lama-lama aku sedikit terganggu akan hal itu.”


“Oh begitu.”


Mumpung sedang bertemu dengannya di sini, ada baiknya aku langsung mengatakan hal itu saja kepadanya.


“Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu Bar.”


“Apa itu Mar?”


“Tentang masalah pekerjaan di kantorku.”


“Bagaimana Mar?!”


Akbar langsung menjadi bersemangat setelah mendengar kalau topik pembicaraannya adalah hal itu.


“Aku sudah membicarakan hal ini kemarin kepada atasanku, dan sekarang ada tempat kosong di bagian sosial media.”


Kemarin ketika liburan, aku sudah membicarakan hal ini kepada Pak Hari dan juga Kak Malik. Mereka berkata kalau aku boleh memasukkan orang lagi saat ini karena ada beberapa tempat yang kosong untuk anak magang.


“Apa yang akan aku lakukan di bagian itu Mar?”


“Untuk itu kau bisa bertanya kepada Riki nanti, karena dia berada dibagian yang sama denganmu.”


“Terima kasih Mar!”


Akbar berterima kasih lagi, tapi terima kasih yang ini tidak terlalu aku permasalahkan karena topik yang kita bicarakan kali ini berbeda.


“Sama-sama.”


“Lalu kapan aku bisa mulai bekerja?”


“Hari ini kalau bisa kau ikut denganku ke kantor untuk mengurusi kontrak kerjanya.”


Mendengar itu membuat Akbar berpikir sesuatu.


“Apa ada masalah?”


“Tidak, tapi aku sepertinya mau pergi ke tempat kerja lamaku dulu untuk berterima kasih kepada orang-orang di sana, karena mereka sudah memberikanku pekerjaan. Nanti kau duluan saja pergi ke sana Mar. Aku akan menyusulmu.


“Kalau begitu aku akan menunggumu di kantor.”


Aku pun memberikan alamat kantorku kepada Akbar melalui pesan.


“Bagaimana kabar bapakmu?”


Tanyaku kepadanya.


“Aku sama sekali belum menjenguknya di penjara.”


Wajah Akbar terlihat biasa saja saat membicarakan bapaknya. Aku kira dia masih marah dengan apa yang dilakukan oleh bapaknya.


“Apa kau masih membenci bapakmu?”


“Begitulah.”


“Aku tidak bisa menyangkal hal itu. Mungkin jika aku mengalami kejadian yang sama sepertimu, aku juga akan marah juga.”


Mungkin amarahku akan lebih besar dibandingkan Akbar. Tapi aku bukanlah orang yang memunculkan rasa amarahku itu, aku adalah tipe orang yang memendamnya untuk diriku sendiri saja.


“Oh iya Mar, bisakah kau datang ke rumahku akhir pekan ini?”


Akbar mengundangku ke rumahnya.


“Untuk apa?”


“Paman dan bibiku ingin berterima kasih kepadamu atas apa yang kau lakukan kemarin.”


Lagi-lagi hal itu.


“Seharusnya kau katakan kepada mereka kalau aku tidak memerlukan hal itu.”

__ADS_1


“Aku sudah mengatakannya, tapi mereka tetap bersih keras. Katanya tidak sopan jika mereka tidak membalas kebaikan dari Amar dan juga yang lainnya. Apakah kau mau datang Mar?”


“Baiklah, aku akan datang akhir pekan nanti bersama Riki dan Maul.”


“Rencananya aku juga akan mengatakan ini kepada Riki dan Maul nanti.”


Teng.. Teng... Teng... Teng.....


“Ah sial! Bel sudah berbunyi. Sudah dulu ya Mar, aku mau ke kantin dulu.”


Akbar langsung berlari dengan cepat menuju ke kantin.


Aku pun masuk ke dalam kelas dan duduk di kursiku. Riki yang sudah ada di sana sedang sibuk menulis buku absen karena di saat semester baru buku absennya pun baru dan ketua kelas harus menulis ulang nama-nama murid yang ada di kelasnya.


Pak Febri memasuki kelas.


Setelah meletakkan tasnya di meja guru, dia langsung menulis sesuatu di papan tulis.


Free Class.


Itulah tulisan yang ditulis oleh Pak Febri di papan tulis.


Semua murid terkejut akan hal itu karena jarang sekali ada guru yang memberikan kelas bebas saat awal semester seperti ini, tapi kebanyakan dari mereka sangat senang akan hal itu.


“Kalian semua tenang di kelas ya, saya ada sedikit urusan dengan Amar dan juga Riki.”


Aku sudah yakin kalau dia ingin membicarakan masalah kemarin kepada kami berdua. Kenapa dia tidak menggunakan waktu lain saja.


Aku dan Riki bersama dengan Pak Febri pergi ke ruang pertemuan yang berada di gedung olahraga untuk berbicara di sana. Biasanya ruang pertemuan ini digunakan oleh wali kelas jika ada orang tua murid yang datang ke sekolah karena sesuatu.


“Kenapa kita harus berbicara di sini Pak?”


Tanyaku kepadanya.


“Kalau di sini, kita dapat berbicara dengan tenang tanpa diganggu oleh orang lain.”


“Pasti kau ingin membicarakan tentang masalah Akbar yang kau serahkan kepada kami kan?”


“Aku sangat senang ketika berbicara denganmu Mar. Aku tidak perlu susah payah menjelaskan niatku kepadamu.”


Pak Febri tersenyum dengan sangat lebar di hadapanku.


Aku pun menceritakan kepada Pak Febri tentang apa yang terjadi kemarin. Mulai dari kami yang berkunjung ke rumah Akbar, sampai kami yang membantu kepolisian dalam menggagalkan penculikan itu.


Tidak ada sedikitpun informasi yang aku kurangi atau aku tambahi. Aku ingin Pak Febri mendengar semuanya sesuai dengan apa yang terjadi di lapangan.


“Apa yang dikatakan Amar itu benar terjadi Rik?”


Pak Febri yang masih tidak percaya dengan ceritaku langsung mengkonfirmasinya kepada Riki yang duduk di sebelahku.


“Itu semua benar Pak, memang seperti itu yang terjadi di lapangan.”


“Apa berita bulan lalu yang mengatakan kalau polisi menggagalkan penculikan seorang bapak dan anaknya adalah hal ini?”


Ternyata Pak Febri juga mendengar tentang berita itu.


“Tapi kenapa di berita tidak diberitahukan kalau kalian berdua yang telah menyelesaikan semua itu?”


Kalau seandainya di berita itu dikatakan demikian. Pasti saat aku masuk ke sekolah, aku sudah dipanggil oleh kepala sekolah untuk menjelaskan kepadanya tentang apa yang terjadi sebenarnya.


Dan juga orang tuaku pasti akan memarahiku habis-habisan karena aku melakukan sesuatu yang berbahaya, dan masih banyak hal merepotkan yang akan terjadi jika namaku ada di dalam berita itu.


“Aku memiliki orang dalam di kepolisian yang dapat memanipulasi data itu.”


“Aku tidak tau kalau tugas yang aku berikan kepada kalian bisa berbahaya seperti ini.”


Pak Febri merasa menyesal.


“Itu sangat berbahaya sekali Pak.


“Aku minta maaf kepada kalian karena telah menyuruh kalian melakukan sesuatu yang bahaya.”


“Tenang saja Pak, karena kau menyuruhku melakukan hal ini, aku jadi mendapatkan petunjuk tentang penculikkan yang sedang ramai ini.”


Dan sekarang aku tinggal menunggu hasil penyelidikan dari Maul. Aku rasa dia ada informasi baru yang sangat penting dan menarik untuk dibicarakan nanti.


“Apa kau berniat untuk menyelesaikan kasus ini Mar?”


“Tidak mungkin.”


Mendengar itu membuat Pak Febri tersenyum.


“Jadi apa yang kalian berdua inginkan? Aku akan mengabulkan semua permintaan kalian jika hal itu masih bisa aku lakukan.”


Aku rasa dia berlebihan jika mengatakan ingin mengabulkan semua permintaanku. Padahal dia sendiri sedang mengumpulkan uang untuk pernikahannya nanti.


“Aku menyerahkan hal ini kepadamu Rik.”


Riki langsung berpikir tentang permintaan itu.


“Aku rasa lebih baik kau membelikan makanan untuk semua anak-anak kelas agar mereka tidak kebingungan dengan apa yang kita lakukan.”


Tumben sekali Riki bisa berpikiran seperti itu.


“Apa itu tidak masalah untukmu?”


“Tidak masalah.”


“Lalu apa yang ingin kalian belikan kepada teman-teman kelas kalian?”


Riki kembali berpikir akan hal itu.


Makanan ya...


Hmmm... Dingin-dingin seperti ini aku rasa sesuatu yang berkuah. Tapi tidak mungkin kita memesan bakso karena di kelas tidak ada mangkuk untuk menaruh bakso itu. Aku rasa mi ayam adalah pilihan terbaik untuk saat ini.

__ADS_1


“Bagaimana kalau mi ayam saja?”


Ternyata apa yang dipikirkan Riki hampir sama dengan yang aku pikirkan.


“Itu bagus, harga mi ayam tidak terlalu mahal jika harus membelikan untuk semua murid di kelas.”


“Seharusnya kau meminta sesuatu yang lebih mahal Rik.”


Ucapku kepadanya.


“Aku kasihan kepada Pak Febri karena dia tahun ini akan menikah.”


“Aku senang kau memahami keadaanku Rik.”


Pak Febri sedikit terharu mendengar itu.


“Jadi kapan acara pernikahanmu Pak?”


“Akhir juni nanti.”


“Semoga lancar sampai hari H.”


“Aamiinn...”


Kemudian Aku bersama dengan Pak Febri dan Riki pergi sebentar untuk membeli mi ayam. Saat itu kami sangat kesusahan sekali karena harus mencari tukang mi ayam yang sudah buka di pagi hari.


Tapi akhirnya kami pun menjumpai tukang mi ayam yang sudah buka, lebih tepatnya dia baru saja membuka tokonya.


Ketika sampai di kelas, semua anak kelas terlihat penasaran sekaligus senang melihat kami berdua yang membawa makanan.


“Apa itu?”


Tanya beberapa temanku tentang makanan yang aku bawa.


“Ini makanan.”


Jawabku kepada mereka.


“Aku tau ini makanan, aku bertanya ada acara apa ini sampai kalian membeli makanan?”


Kau bertanyanya kurang jelas kalau begitu.


“Pak Febri sedang berbaik hati, makanya dia membelikan kita makanan.”


Mereka semua pun senang dan berterima kasih kepada Pak Febri.


Aku pun membagikan makanan itu kepada semua temanku yang ada di dalam kelas. Murid-murid yang sudah mendapatkan makanannya, langsung menyantapnya tanpa basa-basi lagi.


“Apa tidak masalah kita makan di saat jam pelajaran seperti ini?”


Kichida sedikit ragu untuk memakan makanan itu.


“Tidak masalah, kebanyakan guru saat ini juga memberikan kelas bebas kepada muridnya.”


“Apa hal itu tidak dilarang oleh sekolah?”


“Malahan itu anjuran dari sekolah.”


Aku tidak mengerti lagi dengan pikiran dari kepala sekolah SMK Sawah Besar. Sejak kapan kelas bebas adalah anjuran yang diberikan oleh kepala sekolah, biasanya kelas bebas hanya diberikan oleh guru yang baik saja.


“Kepala sekolah berkata kalau hari pertama masuk sekolah itu yang penting membangung mood murid-murid yang berlibur selama dua minggu agar mereka terbiasa dengan suasana sekolah. Jadi biasanya kita hanya memberikan kelas bebas atau permainan-permainan kecil saja.”


Pak Febri menjelaskannya kepada kami semua.


“Kepala sekolah di sini memang selalu membuat kebijakan-kebijakan yang kebanyakan memanjakan murid-muridnya.”


Ucapku. Tapi sejujurnya aku senang juga dengan kebijakan-kebijakan yang dia buat.


Ketika kami sedang makan-makan, ada seorang guru yang masuk ke dalam kelasku.


“Wih makan-makan nih! Lagi ada acara apa?”


Guru itu langsung berjalan menghampiri Pak Febri yang sedang memakan mi ayam di meja guru.


“Aku hanya mentraktir anak-anak kelasku saja, kemarin kan mereka telah memenangkan pertandingan basket.”


Ucap Pak Febri kepada guru itu.


“Aku kira ini untuk merayakan pertunanganmu.”


Semua murid pun terkejut setelah mendengar hal itu, karena hanya Riki dan Amar saja yang mengetahui kalau Pak Febri sebentar lagi akan menikah. Tapi untuk masalah bertunangan, aku sendiri juga tidak mengetahui kalau dia telah bertunangan.


Dia memang pintar sekali menyembunyikan sebuah rahasia kepada murid-muridnya. Setelah ini rahasia apa yang akan dia sembunyikan.


Suasana kelas pun menjadi ramai karena banyak murid-murid kelas yang mengucapkan selamat kepada Pak Febri dan menanyakan kapan acara pernikahan itu dilangsungkan.


Aku melihat Pak Febri yang kewalahan menjawab satu per satu pertanyaan dari murid-muridnya. Karena setiap kali ada pertanyaan yang berhasil dia jawab, pasti langsung ada pertanyaan baru yang menantinya.


Itulah yang aku rasakan jika Miyuki sedang bertanya kepadaku. Sebelum aku menjawab pertanyaan yang dia berikan dan memuaskan rasa ingin tahunya itu, aku akan terus-terusan dibanjiri pertanyaan yang bahkan membuatku sesekali kewalahan akan hal itu.


Semua murid di kelas pun mendoakan kelancaran acara Pak Febri dan Pak Febri berterima kasih kepada para murid-muridnya.


Aku rasa ini adalah berita yang cukup mengejutkan, apa Pak Hari sudah mengetahui hal ini atau belum ya?


Seharusnya sih dia sudah mengetahuinya karena Pak Hari termasuk teman terdekat dari Pak Febri.


“Kenapa kau harus memberitahukan hal ini?”


Pak Febri menegur kepada guru itu.


“Hal baik seharusnya disampaikan, apalagi kepada anak didiknya sendiri.”


Ketika mendengarkan percakapan itu, entah kenapa aku seperti sedang melihat pembicaraanku dengan Riki.


Hal yang ditanyakan dan juga jawaban yang diberikan sangat mirip sekali dengan kejadian-kejadian yang selalu aku lewatkan dengan Riki.

__ADS_1


Seperti yang aku duga, aku bukanlah orang yang spesial. Banyak di luar sana orang yang mirip sepertiku, contohnya saja Pak Febri saat ini. Setidaknya aku memiliki jawaban lain jika Miyuki dan juga yang lainnya sedang memujiku nanti.


-End Chapter 117-


__ADS_2