Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 77 : Orang Merepotkan Yang Selalu Berbuat Baik.


__ADS_3

“Kau tidak mengundang siapa-siapa kan?”


Aku menegaskannya lagi kepada Riki tentang hal itu. Karena Riki selalu melakukan hal yang tidak aku suruh, aku khawatir jika dia mengundang yang lainnya untuk datang ke tempat makan itu juga. Bukannya aku pelit atau apa, aku memang sedang tidak mempunyai duit yang banyak sekarang.


“Tenang saja.”


Ketika akau sampai di sana, aku pun memandang ke tempat makan itu sambil mengambil nafas dengan cukup dalam. Saat itu aku masih berharap kalau apa yang dikatakan Riki itu benar dan tidak ada siapa-siapa di dalam sana. Namun ketika akau membuka tempat makan itu, ternyata di sana sudah ada Miyuki, Rina, Yoshida, Kichida, Takeshi, dan Rian.


“Kenapa semuanya di sini?”


Aku langsung memandang ke arah mereka dengan tatapan lemas.


“Kau tenang saja Mar, Miyuki yang menyiapkan ini semua.”


“Apa?”


“Aku sudah menyewa tempat makan ini khusus untukmu Mar, jadi tenang saja masalah biayanya.”


Miyuki pun langsung menarik tanganku masuk ke dalam tempat makan itu.


Apa dia gila? Menyewa tempat makan ini hanya untukku? Aku rasa hubungan kami hanya sekedar teman saja, kenapa dia sampai melakukan hingga seperti ini?


“Tetap saja aku tidak enak denganmu.”


“Kamu tidak usah mengkhawatirkan itu.”


“Sudahlah Ar, cepatlah duduk.”


“Lagi pula dari mana kau mengetahui kalau hari ini adalah ulang tahunku?”


Tanyaku kepada Miyuki.


“Aku mengetahuinya dari Maul, kemarin dia yang memberitahunya kepadaku kalau hari ini kamu ulang tahun.”


Ternyata orang itu... Aku pun langsung membayangkan wajah Maul yang sedang tertawa sekarang.


Saat aku sedang membayangkan wajah Maul yang menyebalkan itu, Maul pun tiba di tempat makan itu dan menghampiri kami semua.


“Oh kalian semua sudah datang ke sini.”


“Mul! Kenapa kau memberitahukan hal ini kepada Miyuki!”


Aku menatap Maul dengan kesal sekarang.


“Sudahlah, kalau ulang tahun itu lebih menyenangkan jika dinikmati dengan banyak orang.”


Dan dia hanya tersenyum menatapku balik.


“Kau seharusnya tau bagaimana keuanganku saat ini Mul.”


“Hal itu tidak perlu kau pikirkan untuk saat ini, sekarang lebih baik kita berpesta. Ayo gadis-gadis, keluarkan hidangan-hidangannya!”


Maul sangat bersemangat sekali padahal saat itu yang sedang berulang tahun adalah aku.


Sudah lama sekali aku tidak merayakan ulang tahun dengan teman-temanku hingga sebanyak ini. Biasanya aku hanya merayakan bersama Maul, Riki, dan keluargaku saja, bahkan aku jarang merayakan ulang tahun bersama Nadira semenjak dia masuk ke pesantren.


Miyuki pun mengeluarkan kue ulang tahun yang sepertinya untukku. Kuenya sepertinya terbuat dari coklat dengan beberapa buah stroberi. Di atas kue tersebut aku juga melihat namaku dan juga umurku sekarang yaitu lima belas.


“Apa kau juga yang mempersiapkan hal ini?”


Tanyaku kepada Miyuki yang baru saja menaruh kue ulang tahun di hadapanku.


“Begitulah.”


“Kue itu dibuat oleh Miyuki dan Rina sendiri.”


Jadi ini kue buatan sendiri? Aku terkesan mereka akan membuatkan ini hanya untukku. Sepertinya kapan-kapan aku akan membalas kebaikan dari mereka. Ya... Itu kalau uang dari pekerjaanku dengan Pak Hari sudah cair.


“Lalu dimana kalian menyimpan kue itu selama sekolah? Tidak mungkin kan kalau kalian menyimpannya di dalam kelas.”


Karena kalau dia benar menaruh kue itu di kelas, aku sangat malu sekali.


“Aku menitipkannya kepada ibu kantin.”


“Berarti saat Rina telat ketika istirahat tadi juga ada hubungannya dengan kue ulang tahun yang ada di sana?”


“Benar sekali.”


Aku benar-benar tidak tau ingin berbicara apa lagi karena hal ini. Apakah aku terharu? Aku rasa tidak, yah... Kalau beli jujur, aku sedikit senang mendapatkan hal ini dari teman-temanku. Apalagi dari Miyuki yang selama ini aku menganggap dia merepotkan. Sepertinya aku memang harus merubah sudut pandangku kepadanya karena apa yang telah dia lakukan kepadaku saat ini.


“Sudahlah, daripada kita banyak berbicara lebih baik kita mulai berpesta. Semuanya, Satu... Dua.. Tiga...”


“AMAR! SELAMAT ULANG TAHUN!”


“Otanjōbi omedetō.”


Ah! Jadi itu ucapan selamat ulang tahun dalam bahasa Jepang.


“Terima kasih semuanya.”


Malu sekali aku mengatakan itu, apalagi di depan Takeshi dan Miyuki saat ini. Ahhh sial, inilah kenapa aku tidak mau merayakan ulang tahun dengan teman-temanku.


“Amar malu-malu!”


Kenapa dari semua orang yang ada di sini, Miyuki yang mengatakan hal itu.


“Tentu saja, seharusnya anak SMK sudah tidak melakukan hal ini lagi.”


“Ayo Mar, sekarang potong kuenya.”


Aku pun mulai memotong kue yang dibuat oleh Rina dan Miyuki. Sejauh ini, aku merasakan kalau kue yang mereka buat sangatlah lembut dan tidak keras, karena aku dapat memotongnya dengan sangat mudah sekali. Mari kita lihat bagaimana rasanya nanti, semoga rasanya sama seperti penampilannya.


“Kamu tidak mau meniup lilin dan membuat permintaan dulu Mar?”


Miyuki mengeluarkan lilin dan korek api dari kantung roknya.


“Apakah hal ini dapat membuat permintaanku pasti dikabulkan?”


Aku bertanya balik kepada Miyuki.

__ADS_1


“Tidak juga sih.”


“Kalau begitu buat apa dilakukan, lebih baik kita langsung menyantap kuenya saja. Sangat disayangkan kalau keu ini dibiarkan terlalu lama, nanti rasanya keburu tidak enak.”


“Tapi itu kan salah satu tradisi ketika ulang tahun.”


“Walaupun hal itu tidak dilakukan, bukan berarti orang itu tidak jadi bertambah umurnya kan?”


“Pemikiran aneh dari Amar muncul lagi.”


Miyuki pun akhirnya menyerah dan membiarkanku memotong kuenya untuk membagikannya kepada orang yang hadir di sini.


“Cobalah kamu makan dulu kuenya Ar.”


“Baik, akan aku coba.”


Aku pun mencoba kue yang dibuat oleh Miyuki dan Rina. Saat aku mencobanya, ternyata kue itu terasa sangat enak, aku akui kalau kue ini sangat enak. Aku dapat merasakan rasa coklatnya yang sangat terasa dan juga di bagian dalam kuenya ada coklat cair yang melumer ketika masuk di dalam mulut. Aku tidak tau apakah mereka sengaja melakukan itu atau tidak, tapi hal itu membuat rasa kue itu semakin berasa, dan juga aku merasakan rasa manis asam yang berasal dari selai stroberi yang ada di tengah-tengah lapisan kue.


Aku tidak tau kalau mereka bisa membuat seperti ini. Harusnya mereka membuat toko kue saja, aku rasa toko kue mereka akan laris nanti.


“Bagaimana rasanya Mar?”


Miyuki dan Rina menunggu jawaban dariku.


“Ini... Enak!”


“Ah, kamu malu-malu lagi Mar!”


Ucap Miyuki kepadaku.


“Sudahlah kalian semua, lebih baik kalian juga memakan kue ini. Silahkan... Silahkan...”


Aku pun menyuruh mereka semua untuk memakan kue itu.


“Enak!”


“Iya ini enak sekali.”


“Kalian berdua hebat sekali.”


Semua orang yang ada di sana pun setuju kalau rasa kue itu sangat enak. Lidahku memang tidak salah karena aku sering sekali mencicipi banyak makanan ketika aku diajak oleh orang tuaku pergi makan di mal. Aku juga sering memasak makananku sendiri, jadi setidaknya aku tau mana makanan yang enak dan mana makanan yang tidak enak.


“Ini hadiah untukmu Mar!”


Miyuki memberikanku hadiah ulang tahun.


“Ini dariku.”


Begitu Yoshida.


“Ini balasanku untuk hadiahmu yang kemarin Ar.”


Dan juga Rina.


“Ini hadiah dariku Mar.”


Aku pun mendapatkan kado juga dari Kichida. Aku kira hari ini tidak akan ada orang yang memberiku hadia. Menurutku mereka tidak perlu memberikanku hadiah, mereka merayakan ulang tahunku seperti ini saja sudah cukup untukku.


Aku pun menyimpan kado-kado itu di tasku. Untung saja aku hari ini tidak membawa banyak buku, jadi aku dapat menyimpan kado-kado itu di dalam tasku.


“Mana hadiah darimu Mul?”


Aku hadiah kepada Maul yang sedang menikmati kue ulang tahun.


“Aku juga ikut patungan untuk menyewa tempat makan ini dan kau masih meminta hadiah kepadaku? Itu keterlaluan Mar.”


Oh jadi dia juga ikut patungan, aku kira Miyuki saja yang menyewa tempat makan ini.


“Terima kasih Mul.”


“Itu bukan masalah.”


“Ini hadiah dariku Mar.”


Riki memberikanku sebuah kotak kecil yang sudah dibungkus dengan kertas kado. Ketika aku membuka kado yang diberikan Riki, di dalamnya hanya ada secarik kertas yang di atasnya tertulis 'Terima kasih atas makanannya,'.


“Apa ini pembalasan untuk tahun lalu?”


“Yup.”


Jadi tahun lalu aku pernah memberikan Riki sebuah kado yang sama seperti apa yang dia berikan kepadaku sekarang. Namun keesokan harinya ketika di sekolah, aku mentraktirnya ketika istirahat.


“Maaf Mar aku tidak membelikanmu kado. Aku tidak tau kalau hari ini ulang tahunmu, aku baru saja tau ketika diberitahu Miyuki ketika istirahat tadi.”


Rian meminta maaf kepadaku.


“Tenang saja Yan, aku tidak terlalu mengharapkan hal itu kok.”


“Apa setelah ini kau akan langsung pergi ke kantor Mar?”


Tanya Rian.


“Iya, aku mau ke sana untuk melihat pekerja magang yang sudah masuk di kantor. Aku juga mau melihat apakah ada pekerjaan yang bisa aku kerjakan atau tidak.”


“Apakah itu berarti kamu sudah menjadi pekerja tetap di sana Ar?”


“Mungkin saja.”


“Hebat sekali kamu sudah mendapatkan pekerjaan saat masih duduk di SMK Sawah Besar Ar.”


“Bukankah kalau kamu menjadi pekerja tetap di sana, itu akan mengganggu sekolahmu?”


Yoshida masih memainkan stroberi yang dia sisakan di piring kecilnya.


“Sepertinya tidak, karena sekarang sudah ada pekerja magang yang membantuku dalam bekerja, jadi pekerjaanku jauh lebih ringan dibandingkan sebelumnya.”


Walaupun keringanan yang mereka berikan malah membuatku tidak dapat mengerjakan apa-apa.


“Bagaimana kau bisa membuat aplikasi itu Mul? Aku rasa di kelas belum diajarkan materi untuk membuat aplikasi. Aku mendengar dari kakak kelas kalau di kelas tiga membuat aplikasi baru diajarkan.”

__ADS_1


Rian langsung bertanya kepada Maul.


“Aku sudah pernah menerima pekerjaan membuat aplikasi ketika di SMP. Jadi aku sudah sering membuat aplikasi semacam ini sejak SMP.”


“Apa webnya kau juga yang membuat?”


“Tidak, kalau itu Amar yang membuatnya.”


“Memangnya di jurusan multimedia juga diajarkan tentang web?”


Sekarang Rian bertanya kepadaku.


“Di jurusan multimedia hanya belajar bagian tampilannya saja, selebihnya kita tidak mempelajari itu.”


“Bukankah itu baru dipelajari saat kelas dua nanti?”


Riki yang sudah menghabiskan kue ulang tahunnya langsung bergabung dengan pembicaraan kami.


“Iya, mungkin ini terlalu cepat bagiku mempelajarinya. Sebenarnya aku juga tidak mau mempelajari hal ini sebelum guru menjelaskannya di kelas, tapi karena pekerjaanku menyuruhku untuk belajar tentang hal itu, jadi mau tidak mau aku mempelajarinya.”


“Aku tidak membayangkan bagaimana aku harus mengetik kode-kode yag begitu banyaknya.”


Kichida sudah terlihat pusing ketika memikirkan kode-kode yang harus dia tulis untuk membuat sebuah web.


“Itu sangat menarik sekali ketika mengetik hal-hal seperti itu, apalagi ketika sedang ada masalah. Aku suka sekali jika bermain dengan logika.”


“Aku baru melihat orang lain mengerjakan itu saja sudah membuatku pusing apalagi mengerjakannya sendiri.”


Aku melihat Kichida saat ini sama sepertiku ketika pertama kali mendengar masalah program. Aku juga awalnya tidak begitu suka begitu banyak menghafal kode-kode untuk membuat sebuah desain web, tapi lama-lama kode itu dengan sendirinya dapat aku hafal.


“Kalau web desain yang dipelajari di multimedia mungkin cuman dasar-dasarnya saja, jadi tidak terlalu pusing seperti apa yang kau bayangkan Kichida.”


Maul pun mulai angkat bicara masalah itu.


“Aku berharap apa yang kau katakan benar Mul.”


Kichida mulai merasa lega setelah mendengar perkataan dari Maul.


“Ngomong-ngomong apa yang dipelajari di jurusan farmasi?”


Tanya Riki kepada Rina, Kichida, dan Takeshi yang berasal dari jurusan farmasi.


“Kami kebanyakan masih belajar seputar pelajaran ipa pada umumnya seperti fisika, kimia, dan biologi, tapi kali ini lebih banyak prakteknya saja.”


“Tentu saja, karena ini SMK. Kalau kau sekolah di SMA, mungkin akan lebih banyak belajar tentang teorinya.”


Ucap Maul kepada Rina.


“Oh iya, sebentar lagi diadakan pensi di SMK Sawah besar, aku tidak sabar akan hal itu.”


Miyuki langsung merubah topik pembicaraannya.


Pensi ya? Apakah saat itu aku harus masuk atau tidak ya? Kalau boleh tidak masuk, aku ingin beristirahat saat hari itu.


“Siapa bintang tamu yang akan diundang kira-kira ya?”


“Aku mendengar dari kakak kelas di ekskulku, kalau nanti ada penyanyi rap dan DJ yang saat ini sedang terkenal di dunia maya.”


Heee... Rina tau banyak juga soal hal itu.


“Apakah saat pensi nanti kita diwajibkan untuk masuk?”


“Sepertinya kita tidak diwajibkan untuk itu.”


“Benarkah itu Rik! Kalau begitu aku bisa beristirahat nanti.”


Aku senang sekali saat mendengar hal itu.


“Bagaimana pensi di sekolah Indonesia biasanya? Karena aku hanya mengetahui festifal budaya di sekolahku dulu.”


Benar juga.. Ini pertama kalinya Miyuki mengikuti pentas seni yang diadakan di sekolah Indonesia. Tapi setelah aku mengunjungi festifal budaya di sekolahnya Miyuki dulu, tidak ada bedanya dengan pensi yang ada di SMK Sawah Besar nanti.


“Pentas seni dan festifal budaya yang diadakan di sekolahnya Miyuki dulu tidaklah jauh berbeda, tapi biasanya para murid tidak diwajibakan membuat pertunjukkan di setiap kelasnya.”


Rina menjelaskannya kepada Miyuki.


“Berarti para murid tidak berpartisipasi apapun dalam pensi itu?”


“Kalau para murid bisa berpartisipasi dengan tampil untuk mengisi acara di panggung atau membuka sebuah stan di sana, tapi hal itu tidak diwajibkan.”


Tambah Riki untuk melengkapi penjelasan dari Rina.


“Oh begitu, sekarang aku mengerti.”


“Sepertinya nanti Pak Hari akan menyuruh kita untuk membuka stan saat pensi itu.”


Ucap Maul sambil memikirkan sesuatu.


“Benarkah itu?”


“Saat itu adalah saat yang pas untuk memasarkan aplikasi kita, dan hal itu tidak boleh sampai terlewat.”


“Padahal aku ingin berlibur pada hari itu.”


“Selagi Pak Hari tidak menyarankan hal itu, pasti Pak Febri akan menyarankannya kepada kita untuk membuka stan di sana.”


Aku rasa adanya promosi secara langsung di acara seperti itu memang diperlukan agar menambah jumlah orang yang mengunduh aplikasi kita.


“Sepertinya kau benar Mul.”


“Saat itu terjadi, aku akan membantumu sobat! Kebetulan saat itu aku belum pergi ke Makasasar untuk O2SN.”


Riki langsung merangkulku dan mengatakan hal itu dengan wajah tersenyum lebar. Aku tau kalau dia menginginkan bayaran dari hal itu. Kalau memang Pak Hari sudah memberikan bayaran kepadaku, mungkin aku akan membayar Riki ketika membantuku nanti.


“Kalau begitu aku mengandalkanmu saat itu Rik.”


Untung saja ada Riki, jadinya aku tidak perlu khawatir akan mengeluarkan tenaga banyak untuk mengurusi keperluan di stan nanti.


“Permisi, ini pesanannya.”

__ADS_1


Para pelayan dari tempat makan itu pun datang dengan membawakan makanan yang sama sekali tidak dipesan oleh Amar. Para pelayan itu pun menaruh makanan itu di meja satu per satu. Aku pun hanya terdiam tidak berkomentar melihat itu, tapi setidaknya aku tidak perlu membayar untuk hal ini.


-End Chapter 77-


__ADS_2