Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 68: Kenapa Pekerjaan Ini Banyak Sekali Rapatnya!


__ADS_3

“Mari kita mulai rapatnya.”


Kami sudah berada di kantor Pak Hari untuk mendiskusikan kembali rencana perilisan dari aplikasi Comic Universe. Seperti biasa, kami rapat di sebuah ruangan dan duduk di atas tikar dengan kopi dan kacang sebagai konsumsi kali ini.


Sekarang lantai dua sampai lantai enam sudah digunakan oleh perusahaan yang kemarin dibicarakan oleh Pak Hari.


“Sudah sampai mana proses pembuatan aplikasinya?”


Tanya Pak Hari keapda Maul.


“Bapak bisa melihatnya sendiri.”


Maul memberikan Pak Hari ponselnya karena aplikasi yang dia buat sudah dipindahkan ke ponselnya.


Pak Hari pun melihat aplikasi itu di ponselnya Maul.


“Ini sangat bagus sekali, ini di luar ekspetasiku. Hebat sekali kau bisa menyelesaikannya dalam waktu singkat.”


Aku hanya tersenyum kecil mendengar itu. Pak Hari tidak tau saja apa yang telah kita lewati akhir-akhir ini untuk dapat menyelesaikan aplikasi itu tepat pada waktunya. Apalagi kita harus mengimbangi sekolah kami, jadi adalah hal yang sangat sesuatu sekali.


“Lalu bagaimana webnya?”


“Webnya sudah jadi, bapak bisa melihatnya sekarang.”


Aku pun menunjukkan websitenya dengan laptop milikku.


“Dimana kau belajar web desain Mar? Seharusnya materi itu baru diajarkan saat kalian berada di kelas dua.”


Tanya Pak Febri kepadaku yang sedang melihat web itu juga.


“Maul mengajariku dasar-dasar pemrogramannya, selebihnya aku mempelajarinya dari internet.”


Huh... Padahal aku tidak begitu suka dengan sesuatu yang berkaitan tentang program karena menurutku itu sangat membingungkan. Aku hanya senang ketika bermain logika di dalamnya, tapi untuk menulis programnya, aku sangat membenci hal itu.


“Aku sudah menghubungi para komikus yang aku kenal dan sampai sekarang hanya ada tiga puluh komikus saja yang ingin bergabung dalam peluncuran aplikasi perdana ini. Komikus lainnya lebih memilih melihat terlebih dahulu bagaimana prospek dari aplikasi ini di Indonesia, apakah bagus atau tidak.”


“Aku rasa untuk permulaan, tiga puluh komik sudah cukup.”


Ucap Maul kepada Pak Hari.


“Lalu bagaimana caranya para komikus untuk membuat atau memasukan komik mereka ke aplikasi ini?”


Pak Hari masih melihat-lihat web yang aku buat.


“Aku sudah membuat formatnya di dalam web, jadi jika ada komikus yang ingin membuat komiknya atau dia ingin mengunggah komik buatannya, mereka bisa langsung pergi saja ke webnya. Webnya juga sudah aku hosting, jadi webnya sudah siap kapan saja jika ingin digunakan.”


Maul menjelaskan hal itu kepada Pak Hari.


“Aku sudah membuat syarat dan ketentuan untuk para komikus ketika ingin mengunggah komiknya di aplikasi kita. Kebanyakan berisi tentang aturan-aturan agar mereka tidak mengunggah komik yang bertentangan dengan hukum.”


Pak Hari memberikan sebuah kertas yang berisi aturan-aturan itu kepada Maul.


“Baik, aku akan memasukannya ketika pulang nanti.”


“Kalau begini berarti semuanya sudah siap. Apakah aplikasinya bisa dipublikasi sesuai jadwal yang kita tentukan ketika rapat yang lalu?”


Pak Hari bertanya lagi kepada Maul.


“Bisa, aku dapat menjamin hal itu.”


Maul mengatakan hal itu dengan sangat percaya diri sekali.


“Lalu siapa yang akan memeriksa pekerjaan dari para komikus nanti? Tentu saja kita harus memeriksa pekerjaan mereka dahulu sebelum ditampilkan di aplikasi agar sesuai dengan syarat dan ketentuan yang telah kau buat.”


Tanya Pak Febri kepada Pak Hari.


“Itu akan dikerjakan oleh Kau dan juga Amar...”


Oh shit! Padahal aku kira malam ini, aku akan tidur dengan nyenyak. Aku rasa itu hanya menjadi fatamorgana saja.


“...Aku juga berharap kalian ketika memeriksa komik-komik itu dapat memberikan masukan kepada para komikus agar ceritanya dapat lebih menarik lagi. Anggap saja kalian berdua akan bekerja sebagai editor.”


Editor percetakan ya?


“Apa tidak masalah memberikan pekerjaan itu kepadaku? Aku sama sekali belum pernah membaca komik akhir-akhir ini, jadi aku tidak tau komik apa yang menarik bagi pembaca.”


Sebenarnya aku sempat membaca komik Yamaha dan Tujuh Montir karena diberikan oleh Kichida, tapi aku tidak tau apakah komik itu menarik atau tidak. Aku hanya menganggap komik itu sangatlah aneh, tapi komik itu sangat laris di Jepang.


“Aku juga sama.”


Begitu juga Pak Febri.


“Itulah tugas kalian saat ini untuk mengasah kemampuan kalian dalam bidang itu selagi menunggu para komikus menyelesaikan pekerjaan mereka.”


Tugas baru! Bayaranku seharusnya sudah sangat mahal sekali mengingat banyak tugas yang akan aku kerjakan.


“Sepertinya ketika pulang nanti aku akan mampir ke toko buku untuk membeli beberapa komik di sana.”


Ucap Pak Febri.


Aku rasa lebih baik bertanya kepada Kichida dahulu sebelum membeli komik di toko buku. Walaupun komik Yamaha dan Tujuh Montir terlihat aneh di mataku, tapi aku rasa memang seperti itulah komik yang diminati oleh para pembaca. Sepertinya aku akan meminta Kichida mengajariku sedikit tentang komik, dia pasti sudah ahli dalam hal ini.


“Kalau begitu untuk saat ini rapat kita tutup sampai sini. Nanti pertemuan kita selanjutnya akan dilaksanakan saat hari perilisan aplikasi. Sampai hari itu kalian bisa menggunakan waktu untuk beristirahat, karena setelah aplikasinya rilis, aku rasa kalian tidak akan bisa merasakan yang namanya istirahat.”


Pidato penutup yang diucapkan Pak Hari untuk menutup rapat kali ini sepertinya sedikit membuatku bersemangat. Pak Hari tidak pernah pesimis dengan aplikasi yang sedang kita buat, hal itu membuatku juga menjadi yakin karena semua yang bekerja di sini sangat yakin kalau aplikasi ini akan terkenal. Aku rasa memang mental pemimpin seperti inilah yang dibutuhkan oleh sebuah perusahaan agar bisa bangkit kembali.


Kami pun langsung pergi ke atap untuk beristirahat setelah menjalani rapat yang sungguh melelahkan. Sampai saat ini aku sudah dua kali merasakan yang namanya rapat, dan menurutku rapat pertamalah yang sangat lama dan cukup memusingkan pikiranku. Aku tidak tau berapa kali rapat lagi yang harus aku ikuti.


Ketika kami sampai di atap, di sana sudah terdapat banyak sekali meja dan bangku yang menghiasi. Tidak seperti sebelumnya, kali ini atap terlihat lebih ramai dan hidup. Di meja mini bar juga sudah terdapat mesin kopi, microwave, dan beberapa alat untuk membuat kopi, teh, dan minuman


lainnya.


Aku juga melihat beberapa orang yang sedang bersantai di sana sambil menikmati segelas kopi di sore hari yang cerah ini.


Ini baru yang namanya kantor!

__ADS_1


“Kalian berdua kalau ingin menyeduh kopi silahkan saja.”


Pak Hari menyuruhku dan Maul untuk menyeduh kopi. Tapi tidak ada dari kami yang bisa menggunakan alat yang ada di sana, karena biasanya kami hanya membuat kopi kemasan yang tinggal dicampurkan dengan air saja.


“Mini bar ini siapa yang punya? Apa tidak masalah kita menggunakannya?”


Kami pun berjalan menuju mini bar itu dan duduk di sana, kebetulan bangku yang berada di depan mini bar ada empat buah yang pas untuk kami semua.


“Tidak masalah, ini milik bersama... Aku yang membeli mesin kopi beserta yang lainnya, sedangkan kursi dan meja milik perusahaan yang menyewa gedung ini. Kalau untuk bahan-bahan keperluannya seperti kopi, teh, air, dan lain sebagainya, kita patungan.”


“Memangnya perusahaan apa yang ada di bawah?”


Tanyaku kepada Pak Hari.


“Pasti kalian pernah mendengarnya, nama perusahaannya adalah UltraNet.”


“Aku tidak pernah mendengar perusahaan itu.”


Celetuk Maul ketika mendengar nama itu.


“Hahahaha... Perusahaan itu adalah perusahaan yang menyediakan layanan internet, dan kebetulan pemilik perusahaannya merintis perusahaan ini sama sepertiku ketika merintis Semesta Komik. Kami bertemu di salah satu seminar waktu itu dan dengan sendirinya kami pun berteman.”


Hee... Ternyata pemilik perusahaan yang ada di bawah masih teman dari Pak Hari. Pantas saja Pak Hari dapat dengan mudah bernegosiasi dengannya.


“Kalau begitu, biar aku yang membuatkan kopi kepada kalian. Kebetulan aku cukup mahir dalam hal seperti ini.”


Pak Hari pun mulai membuatkan kopi untuk kami semua dengan alat-alat yang ada di sana. Aku pun cukup tertarik ketika dia sedang meracik kopi di sana, mulai dari menghancurkan biji kopinya, mengukur takaran kopi dengan timbangan kecil yang ada di sana, dan terakhir sampai dia menyeduhnya.


Harumnya...


Aku mulai mencium aroma kopi yang keluar dari alat itu.


“Kapan lagi seorang atasan membuatkan kopi untuk bawahannya.”


Ucap Pak Febri sambil melihat itu.


“Hahahaha... Aku tidak menganggap kalian sebagai bawahanku karena di sini kita bersama-sama mengembangkan perusahaan ini dari nol. Kalian sudah aku anggap sebagai rekan kerjaku.”


Apakah dengan ini impiannya Maul sebentar lagi akan tercapai?


Aku pun melihat Maul yang sedang tersenyum memikirkan sesuatu. Aku yakin kalau saat ini dia sedang berpikir kalau dia menjadi atasan di perusahaan ini.


“Oh iya Pak, apa iklan yang nantinya akan dipasan di internet sudah dibuat?”


Maul bertanya kepada Pak Febri.


“Sudah, nanti akan aku kirimkan ke emailmu.”


“Ok.”


“Sudah jadi.”


Pak Hari pun menyuguhkan kopi yang sudah dia buat kepada kami.


“Woah!”


“Silahkan minum, aku membuat kopi ini sesuai kesukaan kalian. Untuk Amar dan Maul aku sedikit mencampurkan kopinya dengan susu, jadi tidak akan terasa pahit.”


Aku pun mulai meminum kopi yang dibuat oleh Pak Hari dan ternyata rasanya lumayan enak, rasanya sudah seperti di kafe-kafe. Kenapa Pak Hari tidak membuka kafe kopi saja?


“Sebentar lagi ulang tahun Rina ya.”


Ucap Maul sambil menikmati kopi.


“Hebat sekali kau mengetahui hal seperti itu.”


“Aku tau itu dari Rian.”


“Rian?! Dari mana dia tau ulang tahunnya Rina?”


Aku rasa Rian benar-benar suka dengan Rina. Ini menunjukan kalau dia memang serius mencintainya. Hmmm... Apa aku perlu membantunya sedikit agar dia bisa dekat dengan Rina.


“Entahlah, waktu itu Rian hanya berkata apakah aku memberikan hadiah untuk Rina atau tidak. Ketika aku tanyakan dari mana dia mengetahui hal itu, dia tidak menjawabku sama sekali. Aku rasa dia diam-diam mencaritahunya sendiri. Kau harus waspada Mar, bisa saja Rian mengambil Rina dari tanganmu.”


“Kalau itu memang terjadi aku rasa tidak masalah.”


“Heee... Memangnya kau tidak ada rasa suka sama sekali terhadap Rina apa?”


“Rasa suka mah ada, tapi rasa suka itu bukanlah rasa suka yang membuatku ingin berpacaran dengannya. Aku hanya suka ketika melihat dia tersenyum saja, aku tidak suka ketika melihat dia murung. Itulah kenapa aku berusaha untuk menjaga senyumannya.”


“Kalau begitu berpacaran saja dengannya, itu akan selalu menjaga senyumannya apapun yang terjadi.”


“Lihat saja nanti, untuk saat ini aku masih belum tertarik untuk hal itu.”


Karena masih banyak yang ingin aku lakukan, dan dari awal prinsipku masih sama. Aku tidak begitu suka hubungan semu seperti pacaran, kupikir itu hanya menghabiskan uang dan waktuku.


“Kau ini!”


“Apa kau serius mengatakan itu Mar? Kalau kau seperti itu terus, kau bisa seperti Hari loh.”


“Apa-apaan itu?”


Pak Febri ternyata mendengar percakapan kami dari tadi dan Pak Hari merasa keberatan dikatakan seperti itu oleh Pak Febri.


“Kenapa bapak juga ikut-ikutan.”


“Aku rasa tidak salah memberikannya hadiah, selain itu aku juga tau siapa perempuan bernama Rina itu.”


“Benarkah!?”


Maul terlihat bersemangat sekali.


“Rina itu cukup terkenal dikalangan guru sebagai anak yang baik dan rajin, nilainya juga bagus, banyak anak laki-laki dan kakak kelas mau menjadikannya pacar. Aku rasa tidak salahnya jika kau menjadikannya pacar Mar.”


“Bukankah bapak sudah mendengar perkataan Amar tadi? Menyuruhnya berpacaran sama saja menyuruh kucing untuk membuat sebuah roket, itu sangat mustahil.”

__ADS_1


Maul pun menghela nafas yang cukup panjang dan kembali menikmati kopinya.


“Mumpung masih muda, lebih baik kau menikmati masa mudamu.”


“Aku ingin menikmati masa mudaku dengan cara yang berbeda.”


“Kalau kau sudah percaya itu tidak masalah, tapi jangan sampai seperti Pak Hari saja.”


“Memangnya kenapa?”


Aku merasa penasaran dengan perkataannya Pak Febri.


“Dulu saat masih sekolah, kepala Pak Hari hanya berisi tentang uang saja, dan sampai sekarang pun aku rasa dia tidak memiliki orang yang dia suka selain uang. Dia itu jomblo seumur hidup.”


“Itu tidak sopan sekali Bri.”


Pak Hari menyangkalnya.


“Tapi benarkan?”


“Dulu aku juga pernah memiliki seorang pacar.”


“Benarkah itu!?”


Aku rasa kau tidak perlu seterkejut itu Pak Febri. Apa ekspresinya Riki dan Maul akan sama dengan Pak Febri kalau aku mengatakan kepada mereka kalau aku menyukai seseorang dan ingin berpacaran dengannya? Itu mungkin saja.


“Benar, tapi pacarku memutuskanku setelah tau perusahaanku bangkrut.”


Aku turut prihatin mendengar itu.


“Aku jadi tidak enak mendengarnya.”


“Aku juga.”


Ucap Maul dan Pak Febri kepada Pak Hari.


“Tapi aku tidak akan menyerah. Ketika perusahaanku sudah kembali bekerja, aku akan menemui pacarku dan mengajaknya untuk balikan.”


“Aku rasa lebih baik kau menghentikan hal itu.”


Aku setuju dengan Pak Febri. Aku rasa pacarnya Pak Hari hanya mau uangnya Pak Hari saja.


“Memangnya kenapa?”


“Perempuan yang hanya datang kepadamu ketika kau sedang berjaya bukanlah perempuan yang baik untuk kau pacari, lebih baik kau meninggalkannya saja.”


Pak Febri memberikan nasihat kepada Pak Hari.


“Aku setuju dengan Pak Febri.”


Ucap Maul.


“Mau bagaimana lagi, dia sudah menjadi cinta pertamaku.”


Pak Hari langsung terlihat murung sekali.


“Memangnya perempuannya secantik itu kah?”


“Kalian lihat saja sendiri.”


Pak Hari pun menunjukkan foto pacarnya yang ada di ponselnya kepada kami. Dan kami semua pun melihat foto itu. Sepertinya foto itu diambil ketika Pak Hari dan pacarnya sedang pergi ke pantai karena aku dapat melihat laut di belakang mereka.


Aku rasa perempuan ini tidak terlalu cantik. Yah.. untuk cantik atau tidaknya seorang perempuan memang relatif, semua orang memiliki penilaiannya sendiri-sendiri.


“Sudah tidak ada harapan lagi.”


“Benar.”


Pak Febri dan Maul terlihat sangat kompak sekali. Apa yang terjadi dengan mereka berdua? Ketika membahas tentang hal ini, mereka sangat kompak sekali.


Dan kami pun menghabiskan waktu kami untuk berbincang-bincang seputar rencana ke depan.


***


“Akhirnya bisa tidur nyenyak malam ini.”


Iya, untuk malam ini saja.


“Aku juga.”


“Aku ingin beristirahat dahulu sebelum memeriksa pekerjaan dari para komikus nanti.”


“Aku juga ingin belajar sesuatu di internet agar iklannya bisa optimal dan banyak orang yang melihat iklan itu.”


Kami pun terus berjalan menuju halte bis yang berada di dekat sana. Aku pun melihat Maul yang selalu bermain dengan ponselnya.


“Apa kau masih menggunakan aplikasi meretas itu?”


“Aku baru saja meretas seluruh jaringan yang ada di kantornya Pak Hari.”


“Seperti biasa kerjamu cepat, tapi jangan mengganggu privasi perusahaan lain Mul. Kau tau sendiri kalau di gedung itu ada perusahaan milik orang lain.”


Aku pun memperingati Maul.


“Tenang saja, aku hanya menggunakan ini jika terjadi sesuatu yang membahayakan kantor atau data-data penting yang ada di kantor.”


“Syukurlah kalau begitu.”


Aku pun memeriksa ponselku dan ternyata di sana aku menemukan pesan masuk dari Miyuki yang menyuruhku untuk datang ke sebuah kafe yang ada di dalam mal.


Aku sudah tau kalau dia ingin mengajakku untuk membeli hadiah ulang tahun untuk Rina.


Hmmm... Apa aku harus menerimanya atau tidak. Aku rasa lebih baik aku menerimanya saja, aku juga ingin mencarikannya hadiah untuknya. Lagipula aku belum membalas kebaikan Rina sedikitpun.


Setelah berpisah dengan Maul di halte Cibubur, aku pun langsung pergi ke mal yang berada di dekat sana dan mendatangi Miyuki yang sedang berada di dalam kafe. Ketika itu aku baru menyadari satu hal, kalau kami hanya pergi berdua saja saat itu.

__ADS_1


-End Chapter 68-


__ADS_2