Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 98 : Aku Tau Kalau Ada Yang Tidak Beres.


__ADS_3

Di sini pun suasana kembali seperti biasa.


Karena Riki sudah kembali bersekolah seperti biasa, pembicaraan ketika kami sedang istirahat pun kembali mengalir bagaikan air di sungai. Tapi entah kenapa aku lebih suka suasana yang seperti ini, tidak ada satupun yang berbicara kepadaku dan mencurigaiku akan sesuatu. Pembicaraan selalu mengarah kepada hal-hal lain yang tidak ada kaitannya denganku.


“Selamat Riki atas keberhasilannya.”


Semua orang yang berada di sana mengucapkan selama kepada Riki.


“Terima kasih semuanya, ini semua berkat kalian yang sudah menyemangatiku.”


Riki malu-malu menerima ucapan itu.


“Rik, apakah kau sudah ada rencana untuk naik gunung kembali?”


Rian tanpa basa-basi langsung menanyakan hal itu, sepertinya dia sendiri sudah tidak sabar untuk pergi mendaki gunung.


“Aku tergantung Amar, kalau Amar bisa aku akan merencanakan hal itu.”


Riki melihat ke arahku.


“Kenapa harus aku?”


“Kapan aku pernah mendaki gunung tanpamu Mar.”


“Aku tidak tau apakah liburan ini bisa mendaki atau tidak mengingat sekarang dia sudah ada pekerjaan. Takutnya ketika kita sedang pergi mendaki, Pak Hari ingin mengadakan rapat denganku.”


Apalagi dari pengalam-pengalamanku sebelumnya, Pak Hari selalu mengadakan rapat dadakan yang tidak pernah dikabarkan dari jauh-jauh hari.


“Sebenarnya aku memiliki rencana untuk mendaki gunung saat liburan semester nanti.”


“Gunung mana yang akan kau daki Rik?”


Miyuki langsung bersemangat ketika mendengar hal itu.


“Mungkin Gunung Gede yang ada di Bogor.”


Mata Miyuki yang masih berbinar-binar kala itu langsung melihat ke arahku.


“Apa kau tidak bisa pergi Mar?”


Saat ini Miyuki melihatku seperti kucing yang berada di rumahku ketika mereka sedang ingin meminta makanan kepadaku.


“Sudah aku bilang tadi kalau aku tidak tau bisa pergi atau tidak.”


“Aku ingin sekali pergi mendaki ke Gunung Gede.”


“Apa kau sanggup Miyuki? Gunung Gede jauh lebih tinggi dibandingkan Gunung Prau loh.”


Ucap Riki kepada Miyuki.


“Tidak masalah selama pemandangan yang dapat dilihat cukup bagus.”


Sebenarnya aku juga ingin pergi berlibur sejenak, karena aku rasa aku sudah butuh liburan untuk mengistirahatkan otakku sejenak. Tidak mungkin otakku selalu aku paksakan untuk memikirkan pekerjaan, sesekali pergi berlibur aku rasa tidak buruk.”


“Oh iya, apa kalian semua sudah mengetahui hal ini?”


Perhatian kami semua pun tertuju kepada Yoshida dengan pembicaraan yang ingin dia bicarakan.


“Ada apa?”


“Aku mendengar dari teman sekelasku kalau hari ini sekolah kita akan memulangkan muridnya lebih cepat dibandingkan sebelumnya.”


“Teman-temanku di kelas juga berkata hal yang sama.”


Ucap Natasha yang memperkuat ucapan dari Yoshida.


“Alasannya?”


Aku bertanya kepada Natasha.


“Aku sendiri juga tidak tau.”


“Kalau aku mendengar dari teman-teman sekelasku, kalau kita diberikan pulang cepat karena kasus penculikan yang saat ini sedang meningkat lagi.”


Ucap Miyuki yang ternyata mendengar soal hal itu.


Meningkat? Apa aku tidak salah dengar?


“Bukannya kasusnya sudah menurun kemarin.”


“Entahlah.”


Miyuki juga tidak mengetahui kenapa kasus itu bisa meningkat lagi. Itu wajar saja, seharusnya aku menanyakan hal itu kepada Maul untuk mengetahui kebenaran yang sedang terjadi. Pasti Maul sudah mengetahui tentang hal ini dan apa yang terjadi di belakangnya.


Aku melirik ke arah Maul dan dia terdiam saja, sepertinya ada sesuatu yang tidak ingin dia bicarakan di sini. Aku akan menanyakan hal ini lagi ketika aku sudah berdua dengannya saja.


“Kalau begitu apa kau hari ini tidak jadi pergi ke kantor Mar?”


Riki memiliki kecemasan tersendiri.


“Kenapa?”


“Aku kira karena kita akan pulang cepat dan kasus penculikkan sedang meningkat, kau tidak ingin pergi ke kantor dan ingin pulang ke rumah sesegera mungkin.”


“Tidak, kita akan tetap pergi ke kantor karena waktunya juga masih siang. Penculik mana yang mau menculik seseorang di siang hari dan juga jalan yang kita lalui untuk sampai ke kantor sangat ramai. Jadi tidak mungkin kalau aku tidak jadi ke kantor hanya karena penculikkan, kalau seandainya malam hari ceritanya beda lagi.”


Sebenarnya saat ini aku sangat penasaran sekali dengan kebenaran yang sedang terjadi dibelakangnya. Aku ingin cepat-cepat menghabiskan makananku dan pergi berbicara dengan Maul berdua saja. Mungkin aku akan mengajaknya berbicara di perpustakaan saja nanti.


“Apa kamu tidak khawatir tentang kasus penculikan ini Ar?”


Rina terlihat sangat khawatir sekali.


“Untuk apa aku khawatir? Selama kita tidak keluar pada malam hari dan pergi ke jalan-jalan yang sepi, aku rasa aku akan baik-baik saja.”


 “Mungkin kamu benar Ar.”


“Apa ada sesuatu yang kau cemaskan Rina?”


“Aku hanya sedikit cemas saja ketika mendengar kasus penculikkan ini meningkat lagi.”


“Kau tidak perlu mengkhawatirkan Amar Rina, lebih baik kau mengkhawatirkan dirimu sendiri.”


Tunggu!


“Hei! Rina tidak pernah berkata kalau dia mengkhawatirkanku kenapa kau berbicara seperti itu?”


Aku merasa keberatan dengan apa yang dikatakan oleh Riki.


“Walaupun Rina tidak mengatakannya, tapi aku bisa tau dengan jelas kalau di sedang mengkhawatirkanmu saat ini.”


Ketika aku melihat ke arah Rina, saat ini Rina sedang malu karena Riki berhasil mengetahui apa yang sedang dia pikirkan.

__ADS_1


Dari pada mengkhawatirkanku lebih baik Rina mengkhawatirkan dirinya sendiri. Dibandingkan denganku, dialah yang jauh lebih besar potensinya untuk diculik. Lagi pula apa yang menjual dari diriku hingga mereka ingin menculikku selain organ yang ada di dalam tubuhku.


“Aku akan lebih berhati-hati lagi.”


Mendengar itu Rina pun menjadi senang.


“Pembicaraan ini terlalu berat dan memusingkan, lebih baik kita membicarakan tentang apa yang akan kita lakukan ketika tahun baru.”


Bukannya tahun baru masih tiga minggu lagi.


“Itu benar, terlalu berat bagi kita jika membicarakan hal itu.”


Rian setuju dengan apa yang dikatakan oleh Riki.


“Apa kalian semua akan pergi ke Jepang ketika tahun baru nanti?”


Maul bertanya kepada semuanya di sana, walaupun aku tau kalau Maul hanya menanyakan hal itu kepada Kichida, Yoshida, Miyuki, dan Takeshi.


“Tahun ini aku tidak pergi ke sana.”


“Aku juga.”


“Sama aku juga.”


“Kalau Miyuki tidak pergi, sepertinya aku tidak akan pergi juga.”


Apa hidupmu di dunia ini hanya dihabiskan untuk mengikuti Miyuki saja Takeshi? Aku jadi prihatin kepadamu. Miyuki tolonglah, sesekali ajak dia berkencan walaupun kau tidak mau menjadi pacarnya, aku tidak tega melihat perasaannya yang tidak pernah terbalas. Walaupun sudah terlihat dengan jelas tapi dia tetap memaksakan untuk mendapatkannya.


Inilah kenapa aku benci cinta yang seperti ini.


“Bagaimana kalau tahun ini kita adakan bakar-bakar?”


Riki mengusulkan ide itu kepada yang lainnya.


“Dimana kita akan melakukannya? Kalau untuk orang sebanyak ini, rumahku tidak akan sanggup untuk menampung semuanya.”


Hmmm... Biasanya kita mengadakan bakar-bakar di rumah Maul, tapi kalau di rumah Maul tidak bisa harus dimana lagi kita mengadakannya?


Rumah Riki terlalu kecil untuk mengadakan bakar-bakar, kalau di rumahku bisa saja tapi aku tidak ingin menyarankannya, itu terlalu merepotkan untuk menyiapkan semua barang-barang yang diperlukan. Dan juga masih ada teman-temanku yang belum mengetahui kalau ibuku dan ibunya Miyuki memiliki hubungan. Itu akan membuat semuanya menjadi rumit.


“Kalau begitu dirumahku saja? Kebetulan kita juga akan mengadakan bakar-bakar, jadi sekalian saja.”


Miyuki menyarankannya kepada kami.


“Benar juga, rumahnya Miyuki memiliki halaman depan yang sangat luas. Itu cukup untuk menampung kita semua.”


Ucap Riki.


“Baiklah, kalau begitu aku akan memberitahukan hal ini kepada ibuku untuk mempersiapkan semuanya.”


Miyuki sudah mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


“Kau tidak perlu melakukan itu, biar aku dan Maul yang mengurus semuanya.”


Aku menghentikan Miyuki melakukan itu, karena aku merasa tidak enak jika Miyuki juga yang harus mempersiapkan semuanya.


“Tumben sekali kau berkata seperti itu.”


“Aku juga setuju denganmu Mul, biasanya Amar akan memanfaatkan apapun supaya uangnya tetap utuh.”


Dasar mereka berdua ini, seharusnya sebagai temanku yang paling dekat kalian berdua tidak perlu berkomentar.


“Aku tidak masalah, kebetulan uang upahku hasil bekerja di Comic Universe sudah turun.”


Ucap Maul.


“Iya, membeli kebutuhan bakar-bakar untuk orang sebanyak ini tidaklah banyak.”


Karena uang yang kami dapatkan dari pekerjaan kami sangat banyak sekali. Bahkan aku sempat tidak percaya kalau kami akan mendapatkan uang sebanyak itu.


Kalau kalian bertanya seberapa banyak uang yang aku dapatkan, kira-kira dengan uang itu aku dapat memberangkatkan kedua orang tuaku naik haji sebanyak dua kali. Kalian hitung saja sendiri seberapa banyaknya itu. Hahahahahaha...


“Kalau begitu aku akan menyumbang ayam.”


Ucap Rina.


“Apa itu tidak memberatkanmu Rina?”


“Tidak, aku memiliki tukang langganan untuk membeli ayam dengan harga murah.”


Benarkah itu? Mungkin lain kali aku akan menyuruh Rina untuk mengenalkan tukang ayam itu kepadaku.


“Aku akan membawa sosis.”


Ucap Kichida.


“Jangan lupa membawa sosis yang ada logo halalnya.”


Celetuk Maul kepada Kichida.


“Aku tau itu.”


Karena waktu itu pernah ada kejadian ketika istirahat.


***


Aku melihat Maul yang sedang kebingungan.


“Ada apa Mul?”


“Ibuku sepertinya membawakan nasi terlalu banyak dibandingkan lauknya.”


Aku melihat ke kotak bekal yang Maul bawa dan masih tersisa nasi di sana.


Kalau laukku masih ada mungkin aku akan memberikannya.


“Apa kau mau sosisku Mul? Kebetulan hari ini aku membawa banyak sosis.”


Kichida menawarkan makanannya kepada Maul.


“Benarkah itu!? Terima kasih Kichida.”


Maul pun mengambil beberapa sosis dari Kichida dan bersiap untuk menyantapnya.


Aku pun melihat ke wajah Kichida dan dia seperti menunggu sesuatu.


“Tunggu, sosis apa yang kau bawa itu?”


Tanyaku kepadanya.


“Sosis ****.”

__ADS_1


Mendengar itu membuat Maul langsung menyingkirkan sosis itu dari bekalnya dan memberikannya kembali kepada Kichida.


“Kenapa kau tidak memberitahuku dari awal!”


Maul sedikit emosi karenanya.


“Kau sendiri yang tidak bertanya kepadaku.”


“Bagaimana kalau tadi aku memakannya?”


“Tenang saja, aku akan memberitahumu sebelum kau memasukan sosis itu ke mulutmu. Jadi tidak usah khawatir.”


Dan pembicaraan itu pun diakhiri dengan Miyuki yang menenangkan Maul.


***


Kalau mengingat kejadian itu, aku selalu waspada dengan makanan yang Kichida berikan kepadaku.


“Apa yang harus aku bawa untuk besok?”


Yoshida bertanya kepadaku.


“Kalian semua tidak perlu terbebani untuk membawa sesuatu. Kalian datang tanpa membawa apapun juga tidak masalah.”


Ucapku kepada mereka semua.


“Aku tidak enak jika tidak membawa sesuatu.”


“Kalau aku menjadi dirimu Yoshida, aku akan sangat senang sekali jika ada seseorang yang berkata seperti itu.”


Karena dengan begitu aku tidak perlu mengeluarkan uangku sedikitpun.


“Tapi sifatku tidak sepertimu Mar.”


“Terserah kau saja ingin membawa apapun, asalkan bisa kita makan nanti.”


“Baiklah.”


“Kalau begitu tahun baru nanti kita akan merayakan di rumahnya Miyuki.”


Semuanya pun setuju dengan hal itu dan kami mulai menghabiskan bekal kami masing-masing.


Ketika selesai istirahat, kami langsung pergi ke kelas untuk mempersiapkan diri mengikuti pelajaran selanjutnya. Ketika berada di lorong, kami berpapasan dengan Akbar yang baru saja keluar dari dalam kelas.


“Hai kalian berdua.”


Akbar langsung menyapa kami berempat.


“Kalau begitu kami duluan ya.”


Kichida dan Natasha pergi duluan masuk ke dalam kelas.


“Apa sudah ada guru di dalam kelas?”


Tanyaku kepadanya.


“Gurunya belum tiba.”


“Mau kemana kau Bar?”


“Aku mau pergi ke toilet. Oh iya, apa kalian berdua sudah tau kalau hari ini kita akan pulang cepat?”


Aku kira awalnya hal ini hanya rumor saja, kalau Akbar sampai berkata demikian berarti nanti siang memang kita akan pulang lebih cepat dibandingkan biasanya.


“Kami baru saja membahasnya ketika istirahat tadi, apa berita itu benar?”


Ucap Riki kepada Akbar.


“Semua orang di kelas membicarakan hal itu bahkan teman-temanku yang berada di kelas lain juga membicarakannya."


Tentu saja hal seperti ini akan membuat semua murid menjadi ramai. Tidak mungkin ada murid yang tidak senang ketika mendengar akan pulang cepat.


“Kalau begitu aku mau ke toilet dulu ya, sudah tidak tahan.”


Akbar pun pergi meninggalkan kami berdua.


Sesampainya di kelas, aku langsung mempersiapkan semua kebutuhan untuk pelajaran selanjutnya.


“Apa kau berniat untuk menyelidiki kasus ini Mar?”


Tanya Riki kepadaku.


“Aku tidak berniat untuk melakukannya, bukannya aku sudah berkata kepadamu tentang hal ini. Aku akan melakukannya jika ada kondisi-kondisi tertentu yang mengharuskanku untuk melakukannya.”


“Aku sudah muak mendengar kasus ini terus-terusan ada.”


Aku melihat Riki sangat kesal sekali.


Bukan hanya Riki saja yang kesal dengan hal ini, mungkin banyak orang juga sudah pada resah dengan kasus ini. Apalagi sudah hampir setengah tahun kasus ini terus terjadi, tidak seperti biasanya kasus kejahatan akan berlangsung lama.


“Apa yang kau harapkan dariku, aku bukanlah seorang pahlawan yang dapat masalah ini sendirian.”


“Aku percaya kalau kau dapat menyelesaikan masalah ini.”


Kau boleh percaya kepadaku seperti itu Rik, tapi ada beberapa hal yang tidak bisa aku lakukan juga. Lagi pula aku belum mendengar bagaimana perkembangannya lagi dari Maul, aku yakin dia pasti juga ingin membicarakan hal ini kepadaku.


“Untuk saat ini biarkan pihak berwajib yang mengani masalah ini. Tugas kita sebagai masyarakat yang baik mengikuti anjuran-anjuran yang diberikan olehnya saja.”


“Memang benar sih, tapi apa kau tidak takut jika anggota keluargamu terkena kasus ini.”


“Aku akan bertindak jika ada seseorang yang dekat denganku terkena kasus ini.”


“Aku tidak sabar untuk melakukan itu.”


“Tapi aku tidak tau kapan harus bertindak.”


Karena menurutku sangat minim kemungkinan kasus ini menimpa keluargaku. Bapak dan ibuku selalu bersama dan dia tidak pernah pergi kemana-mana setelah pulang kerja, jadi dia pasti aman. sedangkan Nadira saat ini berada di pesantren dan juga dia berada di luar Jakarta yang kasus seperti ini sangat minim terdengar.


“Ngomong-ngomong apa yang harus aku bawa ketika acara bakar-bakar nanti?”


Riki bertanya kepadaku.


“Kau bawa badan saja, tenagamu jauh lebih dibutuhkan dibandingkan yang lain.”


“Baiklah kalau begitu.”


Saat bakar-bakar, hal yang paling merepotkan adalah membuat arang karena kita harus mengipas terus-terusan sampai arangnya jadi, dan biasanya yang melakukan hal itu adalah Riki. Jadi biar saja Riki melakukannya walaupun tidak membawa apapun saat bakar-bakar itu.


Guru yang mengajar pun masuk dan pelajaran dimulai.


-End Chapter 98-

__ADS_1


__ADS_2