Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 106 : Rumah Kecil Yang Berisikan Banyak Misteri.


__ADS_3

Siang yang sedikit mendung, dengan udara panas yang masih berhembus disekitarku. Aku dan Riki pergi ke daerah Tanah Abang untuk mencari rumah Akbar yang berada di sana. Dengan bantuan peta yang terdapat di internet, aku dan Riki berjalan terus ke titik yang diarahkan oleh peta itu menyusuri gang-gang dengan rumah-rumah yang cukup padat.


Karena aku tinggal di Cibubur dan daerah itu sudah termasuk ke dalam pinggiran kota Jakarta, Rumah-rumah di sana tidak terlalu padat seperti di sini, masih ada jarak untuk kebun dan lapangan di sana.


“Nama siapa yang akan kita gunakan untuk bertanya?”


Riki melihat-lihat sekitar sana.


“Memangnya buat apa?”


“Tentu saja untuk bertanya kalau kita tidak ketemu rumahnya.”


“Bukannya alamat yang diberikan Pak Febri ada nomor rumahnya.”


Riki pun melihat lagi secarik kertas yang ada di tangannya dengan seksama.


“Kau benar Mar.”


“Kalau begitu kita tanyakan saja nomor rumahnya kepada warga jika kita tidak ketemu.”


Akhirnya setelah melalui pencarian yang cukup lama dan bertanya beberapa kali dengan warga sekitar, kita pun berhasil menemukan rumahnya Akbar.


Aku melihat ke arah rumah yang diduga sebagai rumahnya Akbar, rumah itu tidak terlalu besar dan bisa dibilang cukup kecil untuk ukuran sebuah rumah. Mungkin aku bisa bilang kalau rumah ini lebih terlihat seperti kos-kosan satu kamar yang hanya memiliki satu kamar tidur dan satu kamar mandi saja.


“Coba kau ketuk pintunya Rik.”


“Kenapa tidak kau saja Mar?”


“Biasanya juga kau yang mengetuk pintu di saat seperti ini.”


Riki mulai berjalan mendekat dengan pintunya.


Tok... Tok... Tok...


“Permisi, Assalamualaikum, Akbar!... Akbar!”


Riki mundur beberapa langkah setelah mendengar suara langkah kaki yang terdengar dari dalam rumah menuju ke pintu.


Kemudian pintu pun terbuka dan ada seorang anak perempuan yang tingginya sama seperti Misaki membukakan pintu itu.


“Ada perlu apa ya Kak?”


Tanya perempuan kecil itu


yang hanya memunculkan kepala dan sebagian badannya saja.


Kenapa dia begitu waspada dengan kita?


...


Ah! Mungkin karena sekarang sedang ramai kasus penculikkan, makanya dia menjadi waspada seperti itu.


“Apa benar ini rumahnya Akbar?”


Riki mencoba ramah kepadanya agar dia tidak takut.


“Kakak siapanya Kak Akbar ya?”


Jangan-jangan dia adalah adiknya Akbar.


“Kami berdua teman sekelasnya Akbar.”


Tidak lama kemudian keluarlah wanita yang sudah tua dari rumah dan membukakan pintunya lebar-lebar hingga kita bisa melihat ke dalam.


“Oh kalian berdua yang tadi ketemu di sekolah ya, kalau tidak salah Riki dan Amar ya?”


Wanita itu mengenali kami dan menyapa kami berdua dengan ramah.


“Iya, tante.”


Riki tersenyum ramah kepadanya dan aku juga mau tidak mau harus melakukan hal yang sama.


Ternyata wanita tua itu adalah orang yang mengambil rapot Akbar ketika di sekolah tadi.


“Saya bibinya Akbar, apa yang membuat kalian jauh-jauh datang ke sini?”


“Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan Akbar Bi.”


“Apa Akbar memiliki masalah di sekolah?


Bibi langsung terlihat cemas.


“Tidak Bi, saya hanya ingin mengajak Akbar bermain saja.”


Bagus Rik, lakukan itu. Aku serahkan semua pembicaraan ini kepadamu, aku akan membantumu jika memang diperlukan saja.


“Oh begitu, Akbar baru saja pergi setelah pulang dari mengambil rapot tadi. Katanya dia ada kegiatan ekskul.”


“Oh begitu Bi!”


Aku langsung mengambil alih pembicaraan itu.


“Apa kau mengetahui sesuatu Mar?”


Riki berbisik kepadaku.


“Sepertinya.”


“Kalian berdua masuk dulu, pasti kalian sudah lelah pergi jauh-jauh ke sini.”


Riki melihat ke arahku.


“Kalau begitu, kami terima tawarannya.”


Kami pun akhirnya masuk ke dalam rumahnya Akbar dan pergi ke ruang tamu yang terletak setelah pintu masuk.


Seperti yang aku katakan barusan, rumah ini hanya memiliki satu kamar tidur dan satu kamar mandi. Aku dapat mengetahui itu karena aku hanya melihat dua pintu yang berada di sana. Aku juga dapat melihat satu buah kasur yang terlipat di pojok ruangan.


“Maaf ya Nak Riki, dan Nak Amar. Ruang tamunya sedikit berantakan.”

__ADS_1


“Tidak apa-apa Bi.”


“Saya tinggal sebentar untuk ke belakang dulu ya.”


Bibi pun pergi ke sebuah ruangan yang berada di samping kamar mandi, aku dapat menyimpulkan kalau itu adalah dapur.


Tidak lama kemudian, bibi datang dengan membawa dua buah gelas dan satu teko besar yang berisi air putih dengan es yang berada di atasnya.


“Maaf lagi ya, karena hanya ada air putih saja di rumah ini.”


“Iya tidak apa-apa Bi, saya juga lebih suka air putih.”


Riki dengan senyumannya yang belum luntur masih meladeni bibinya Amar.


“Rumah kalian berdua dimana?”


Bibi pun duduk bersama dengan kami.


“Kami berdua rumahnya di Cibubur Bi.”


“Jauh sekali, kenapa kalian memilih sekolah di Sawah Besar yang jauh dari rumah kalian?”


“Kami mendapatkan rekomendasi di sana, jadi sayang sekali jika tidak di ambil.”


Bibi pun menuangkan air putih ke masing-masing gelas kami.


“Apa kalian berdua tidak keberatan setiap hari harus pulang pergi dengan jarak yang cukup jauh?”


“Awalnya memang berat Bi, tapi lama-kelamaan tidak kerasa. Lagi pula kami berangkat dan pulang selalu bersama-sama.”


Sepertinya dari sini aku akan mulai mengambil alih pembicaraannya.


“Apa Akbar selalu pulang telat ketika sekolah Bi?”


Tanyaku kepadanya.


“Iya, katanya dia sangat sibuk sekali di ekskulnya.”


Berarti tidak ada satupun di keluarga ini yang mengetahui kalau Akbar bekerja. Sepertinya hanya itu saja yang ingin aku tanyakan kepada bibinya Akbar saat ini. Aku tidak ingin bertanya masalah orang tuanya Akbar. Biar aku akan menanyakan hal itu langsung kepadanya saja.


“Apa itu adiknya Akbar?”


Ucap Riki sambil melihat anak perempuan yang membukakan pintu tadi. Saat ini, dia sedang menonton televisi di ruang tamu.


“Iya, dia adiknya Akbar satu-satunya.”


Pertanyaan yang bagus Rik.


Hmmmm... Akbar dan adiknya tinggal di rumah bibi mereka.


Lalu kemana kedua orang tua mereka? Tidak mungkin aku berkata kalau orang tua mereka bekerja di tempat yang sangat jauh hingga mereka tidak bisa tinggal bersama. Kalau orang tua mereka bekerja, pasti Akbar tidak perlu bekerja, karena dia pasti akan mendapatkan kiriman jatah dari orang tua mereka.


Setelah kami berbincang-bincang dengan Bibi, kami pun langsung berniat untuk pulang. Sebenarnya kami tidak ingin pulang ke rumah terlebih dahulu, tapi ada satu tempat lagi yang ingin kami datangi.


Aku pun menghabiskan minumanku dan langsung membereskan barang-barangku, begitu juga dengan Riki.


“Iya Bi, biar tidak kemalaman ketika sampai rumah. Apalagi saat ini sedang ramai kasus penculikkan.”


“Benar itu, saya sendiri juga resah ketika mendengar itu. Apalagi si Putri yang masih kecil dan rawan menjadi target dari penculikkan itu.”


Jadi nama adiknya Akbar adalah Putri.


“Kalau begitu kami pulang dulu Bi, terima kasih telah menjamu kami.”


“Seharusnya saya yang harus berterima kasih kepada kalian, karena sudah mau datang jauh-jauh ke sini. Nanti akan bibi sampaikan ke Akbar agar dia menghubungi kalian.”


“Baiklah bi.”


Kami pergi meninggalkan rumah dan berjalan menuju halte bis.


“Apa sekarang kita mau langsung pulang Mar?”


“Tidak, kita akan menemui Akbar terlebih dahulu.”


“Apa kau tau dimana dia sekarang?”


Riki tiba-tiba langsung bersemangat lagi.


“Paling dia sedang berada di tempat kerjanya.”


“Baiklah, kalau begitu kita akan langsung pergi menghampirinya di sana. Saat ini aku juga memiliki berbagai macam pertanyaan yang ingin aku tanyakan kepadanya.”


Setidaknya saat ini aku sudah mengetahui bagaimana kondisinya Akbar. Tapi sejauh penglihatanku tadi, aku sama sekali tidak melihat kalau keluarganya memiliki masalah dalam hal ekonomi yang mengharuskannya bekerja.


Pasti ada hal lain yang membuatnya harus melakukan itu.


“Kenapa kau tidak mau menceritakan semuanya kepada bibinya Mar?”


“Apa yang Akbar lakukan sama seperti yang aku lakukan. Lagi pula, Akbar pasti memiliki alasan sendiri kenapa dia menyembunyikan hal itu kepada orang tuanya.”


“Aku tau, tapi kan setidaknya kau bisa menceritakannya kepada bibinya.”


Entah kenapa aku malas saja untuk menceritakan tentang hal itu tadi.


“Aku tidak melihat kedua orang tuanya Akbar tadi.”


“Apa kau lupa Rik kalau Akbar itu tidak tinggal bersama kedua orang tuanya.”


“Aku kira karena ini akhir pekan, orang tuanya Akbar akan pergi mengunjungi kedua anaknya yang dititipkan kepada bibinya.”


Aku rasa Akbar dan adiknya berada di rumah bibinya bukan karena dititipkan oleh orang tua mereka.


“Lalu apa yang akan kau tanyakan ketika bertemu dengan Akbar nanti?”


“Aku hanya akan bertanya tentang keluarganya saja.”


Karena hanya itu saja yang sampai saat ini membuatku pensaran.


“Apa kau yakin Akbar mau menbicarakan hal itu?”

__ADS_1


“Dia pasti akan mengatakannya.”


“Kenapa kau yakin sekali Mar?”


“Karena kita sudah datang ke rumahnya, dan aku bisa mengancamnya kalau dia memang tidak mau memberitahukanku tentang hal itu.”


Aku sudah tau bibinya Akbar dan aku juga sudah tau dimana rumahnya Akbar. Kalau Akbar masih bersih keras menyembunyikannya dariku, aku bisa datang lagi ke rumahnya saat dia sudah berada di rumah. Dan kalau dia masih tidak mau mengatakannya, aku akan mengancamnya dengan memberitahu kalau dia bekerja di suatu tempat.


“Kau kejam sekali Mar.”


“Sesuatu hal yang bersikap kejam itu tidak selamanya buruk, ada hal baik yang bisa kau dapatkan dari hal itu.”


Seperti saat ini cotohnya.


Kalau aku tidak kejam, bagaimana aku bisa membantu Akbar jika aku sendiri tidak tau permasalahan apa yang saat ini sedang dia alami.


Dia memang pernah mengatakan kalau saat ini keluarganya sedang mengalami masalah ekonomi, tapi aku tidak tau kenapa hal itu mengharuskan Akbar untuk bekerja. Rumahnya juga masih terlihat biasa-biasa saja.


“Aku penasaran apa yang akan Akbar katakan nanti.”


Ucap Riki.


“Jangankan kau, aku sendiri juga pensaran akan hal itu.”


Apalagi setelah mengetahui kalau bibinya tidak mengetahui kalau dia bekerja, pasti Akbar bekerja bukan disuruh oleh bibi atau pamannya.


“Lalu apa yang akan kau lakukan nanti setelah mengetahui masalahnya Akbar Mar?”


“Aku berniat untuk menawarkan pekerjaan di Comic Universe kepadanya.”


Aku sudah bertanya tentang hal ini kepada Pak Hari dan kalau aku ingin memasukan orang lagi, aku harus menunggu saat anak-anak magang yang sekarang selesai. Dan rata-rata dari mereka selesai saat awal tahun nanti.


“Memangnya masih ada tempat untuk anak magang?”


“Awal bulan nanti banyak anak magang yang selesai, terutama yang berkuliah. Jadi aku bisa memasukan orang lagi.”


Kami pun sampai di halte bis dan menunggu bis yang datang.


“Ngomong-ngomong dimana Akbar bekerja?”


“Dia bekerja di kafe yang berada di Jakarta Pusat, tidak jauh dari rumahnya. Mungkin hanya sekitar tiga halte bis.


“Apa Akbar menjadi seorang barista?”


“Mungkin saja.”


Karena saat ke sana, aku tidak ingat apakah Akbar membuat kopi apa dia hanya menerima pesanan di kasir saja. Tapi yang aku ingat kalau dia menggunakan pakaian yang sama dengan barista, mungkin dia seorang barista juga.


“Oh iya Mar, aku baru ingat kalau ketika di kelas tadi kau sempat dibicarakan oleh teman-teman kelas.”


Bahkan saat aku tidak ada saja masih dibicarakan oleh mereka.


“Apa yang mereka bicarakan?”


“Jadi tadi setelah ibumu dan ibuku sudah selesai mengambil rapot kita. Ibunya Miyuki ternyata sudah berada di depan kelas bersama dengan Miyuki menunggu ibumu dan hal itu membuat semua orang tau kalau hubungan orang tua kalian itu sangat dekat.”


“Kenapa ibu dan anak sama-sama memiliki sifat yang sama.”


Mereka berdua pasti bisa membuatku kewalahan seperti ini.


“Tentu saja, namanya juga ibu dan anak. Kemudian karena melihat hal itu, teman-teman di kelas beranggapan kalau kalian berdua memang berpacaran.”


“Kenapa ujung-ujungnya seperti itu, orang tua kami dekat tidak memastikan kalau kami itu berpacaran. Please lah! Kenapa kalian sangat mudah sekali menyimpulkan sesuatu.”


Ah! Sekarang aku sudah tau apa yang Rina dan Miyuki rasakan saat berada di SMP. Walaupun caranya berbeda, aku rasa rasanya sama. Sepertinya aku harus mengunakan rencana pacar pura-pura seperti dulu lagi agar tidak ada rumor-rumor seperti itu lagi.


Tapi siapa orang yang mau melakukan hal itu?


“Pasti mereka berpikiran seperti itu Mar, apalagi saat melihat adiknya dekat denganmu. Siapa lagi kalau bukan seorang pacar yang bisa begitu.”


“Memangnya kau tidak menjelaskan yang sebenarnya terjadi kepada mereka.”


“Tidak, aku hanya mendiamkannya saja.”


Riki menjawab dengan cepat dan wajahnya datar.


“Kenapa?”


Aku merasa keberatan sekali.


“Ketika aku ingin menjelaskannya kepada mereka, ternyata mereka semua sudah terbawa suasana akan hal itu. Aku jadi bingung mau menjelaskannya dari mana.”


“Harusnya kau menjelaskannya saja hal itu kepada mereka.”


Agar masalah ini tidak menjadi makin rumit saja. Kalau seperti ini kan, bisa-bisa ketika awal semester dua nanti, banyak teman-teman kelas yang bertanya tentang hubunganku dan Miyuki.


“Aku rasa itu tidak perlu. Mau aku jelaskan atau tidak, nantinya mereka juga akan salah paham.”


“Benar juga, ini sangat merepotkan.”


“Benarkan.”


Riki mengucapkan itu sambil tersenyum. Sepertinya dia sangat senang sekali melihatku kesusahan.


“Tetap saja, aku masih belum memaafkanmu di sini.”


“Kenapa bisa begitu Mar?”


“Banyak hal yang tidak bisa aku maafkan darimu.”


“Yah!”


Riki terlihat kecewa akan hal itu.


Biarlah, aku rasa aku tidak perlu menganggap serius masalah ini lagi. Memang semenjak aku berkenalan dengan Miyuki, aku selalu dikait-kaitkan dengan Miyuki. Bahkan ketika kami masih bersekolah di sekolah yang berbeda saja, masalahku masih ada kaitannya dengan Miyuki.


Lebih baik aku memandang masalah ini lebih santai lagi.


-End Chapter 106-

__ADS_1


__ADS_2