
“Baiklah semuanya, apa kalian sudah siap untukberkeliling sekolah?”
Kak Fauzi memompa semangat para murid kelasku sebelum pergi untuk tur sekolah.
"OOOOOOOO!"
Hari ini adalah hari terakhir dari masa orientasi. Rencananya hari ini kami akan pergi berkeliling sekolah untuk pengenalan fasilitas yang ada di sekolah ini. Walaupun ada beberapa yang kami ketahui, tapi masih banyak hal yang tidak kami tau. Seperti UKS dan lab multimedia.
Tempat pertama yang kami datangi adalah gedung pertama. Seperti namanya, gedung ini adalah gedung utama dari sekolah ini, walaupun ukurannya lebih kecil dibanding gedung kedua tempat kelasku berada, tetapi di gedung ini terdapat semua fasilitas yang dimiliki oleh sekolah ini.
Kami pun langsung menaiki tangga dan menuju ke lantai tiga.
“Jadi di lantai tiga ini terdapat semua tiga lab, yaitu lab multimedia, lab komputer untuk jurusan Rekayasa Perangkat Lunak, dan Lab Kimia untuk jurusan Farmasi. Selain itu di lantai ini juga terdapat perpustakaan.”
Kak Fauzi menjelaskan kepada kami sambil mengajak kami berkeliling lantai tiga.
Ruangan yang pertama kami datangi adalah lab multimedia.
“Sekarang di depan kalian sudah ada lab multimedia. Biasanya jurusan multimedia menggunakan lab ini saat ada pelajaran produktif.”
Kak Fauzi pun membawa kami memasuki lab tersebut.
Ketika aku memasuki lab tersebut, di dalamnya terdapat banyak sekali komputer. Mungkin sekitar seratus komputer lebih terdapat di dalamnya. Tepat di depan kelas terdapat sebuah papan tulis yang sangat besar, dan di sana juga terdapat beberapa karya milik kakak kelas yang dipajang.
“Di lab ini terdapat seratus dua puluh unit komputer yang di dalamnya terpasang aplikasi multimedia yang akan kalian pelajari nantinya.”
Kemudian saat kami berada di sana, kami pun bertemu seorang guru yang sedang berjaga di sana. Melihat kami datang, guru tersebut langsung berdiri dan menyambut kami.
“Perkenalkan, ini adalah Pak Febri, dia adalah kepala prodi dari multimedia. Kalian nanti akan sering bertemu dengannya jika ada pelajaran produktif.”
Setelah melihat lab multimedia, kami pun langsung memasuki lab komputer yang berada tepat di samping lab multimedia. Tidak jauh dengan lab multimedia, di dalam lab komputer juga terdapat komputer yang sangat banyak.
“Kedua lab ini dapat kalian gunakan setelah pulang sekolak jika ingin mengerjakan tugas atau hanya ingin belajar. Untuk kalian yang tidak mempunyai leptop atau komputer di rumah, tidak perlu khawatir jika kalian tertinggal dengan teman-teman yang punya. Kalian bisa menggunakan lab ini sesuka kalian.”
Woah! Sepertinya aku tidak perlu buru-buru meminta orang tuaku untuk membelikanku leptop kalau begitu.
“Apa ada jam-jamnya Kak untuk menggunakan kedua lab ini?”
Teman sekelasku pun ada yang bertanya kepada Kak Fauzi.
“Biasanya lab hanya boleh digunakan sampai jam lima sore saja.”
Sembari menunggu Riki selesai di kegiatan ekskulnya, sepertinya aku akan sering mengunjungi lab ini jika tidak ada ekskul.
Kami pun langsung pergi ke perpustakaan yang berseberangan dengan lab komputer. Di dalamnya terdapat banyak sekali buku. Tentu saja, karena ini adalah perpustakaan pasti di dalamnya akan banyak buku. Tapi yang berbeda dari perpustakaan ini, terdapat beberapa komputer yang ada di belakang perpustakaan.
“Perpustakaan ini biasanya buka ketika sedang istirahat dan juga pulang sekolah. Jika kalian memiliki buku yang sudah tidak dibaca lagi juga bisa disumbangkan ke perpustakaan ini.”
“Apakah buku seperti novel dan komik boleh disumbangkan ke sini?”
“Tentu saja, di perpustakaan ini juga tidak hanya berisi buku-buku pelajaran saja, tapi ada juga novel, komik, dan majalah bulanan juga ada.”
Aku pun melihat dan merasakan kedamaian yang berasal dari perpustakaan. Aku rasa kalau beristirahat di sini juga sangat cocok, tapi sayang sekali perpustakaan ini hanya buka saat istirahat dan pulang sekolah saja.
Tempat terakhir yang kita datangi di lantai tiga adalah lab kimia, dan rupa dari lab kimia di sekolah ini tidak jauh berbeda dengan lab kimia yang ada di SMPku.
Kami pun langsung menuju ke lantai dua. Di lantai dua terdapat ruang guru, ruang kepala sekolah, dan juga UKS. Selebihnya di lantai dua hanya ada kelas saja, begitu juga di lantai satu.
“Dan di gedung ini juga biasa disebut dengan gedung lama. Semua kelas yang berada di adalah kelas dua belas. Nanti jika kalian sudah kelas dua belas, kelas kalian juga akan pindah ke gedung ini .”
Kami pun langsung bergerak ke gedung baru dengan menggunakan sebuah jembatan yang menghubungkan antara gedung lama dengan gedung baru yang berada di lantai dua. Tepatnya gedung yang dimana kelasku berada di sana. Gedung baru memiliki ukuran yang lebih besar dibanding gedung lama.
Kami pun langsung pergi ke lantai tiga.
“Di sini selain kelas, terdapat studio yang biasa digunakan oleh jurusan multimedia dan di dalam studio juga terdapat ruang penyiaran. Selain studio di sini juga ada ruang OSIS dan juga ruang kesiswaan.”
Ketika memasuki studio, aku melihat sebuah tirai berwarna hijau yang sangat besar sekali.
“Ini tirai buat apa Kak?”
“Itu tirai biasanya digunakan untuk membuat efek. Kalau kalian pernah liat sebuah video yang latar belakangnya diganti, itu menggunakan ini. Biasanya disebut dengan green screen.”
Kak Ayu menjelaskannya menggantikan Kak Fauzi.
Banyak sekali hal baru yang aku lihat di sini. Sepertinya pengetahuanku tentang segala sesuatu yang berkaitan tentang multimedia sangatlah minim disini.
Setelah melihat-lihat studio, kami langsung berkeliling keluar sekolah.
Tepat di samping gedung baru terdapat sebuah mushala yang cukup besar dengan dua tingkat.
Kemudian setelah itu kita langsung menuju ke gedung olahraga dan untuk pertama kalinya aku pun memasuki dan melihat secara langsung lapangan indoor yang berada di gedung olahraga.
Di sana terdapat lapangan yang cukup besar dengan garis lapangan yang melekat di lantainnya. Aku pun melihat dua ring basket yang menggantung di atas. Selain itu di lapangan indoor ini juga terdapat tempat duduk untuk para penonton yang mengelilingi lapangannya.
__ADS_1
Aku tidak percaya ada sekolah yang memiliki lapangan olahraganya sendiri. Sepertinya sekolah ini memang bukan sekolah yang sembarangan.
Di dalam gedung olahraga juga terdapat satu ruang meeting dan beberapa ruang pertemuan yang biasa digunakan oleh para guru untuk bertemu dengan wali murid.
“Besar sekali ya Mar?”
Riki melihat ke sekeliling lapangan indoor itu.
“Iya, walaupun aku sering mengunjungi lapangan seperti ini. Tapi entah kenapa aku sedikit terpukau dengan lapangan ini.”
“Ayo semuanya, kita langsung menuju ke tempat terakhir dan setelah itu kalian bisa beristirahat.”
Kak Fauzi pun mengajak kami untuk segera menuju ke tempat terakhir yaitu kantin sekolah.
Setelah mengunjungi kantin, acara tur sekolah itu pun akhirnya selesai.
Waktu istirahat tiba, seperti biasa kami berkumpul di sebuah pohon yang berada di dekat dengan mushala. Ketika aku sampai di sana, kami pun sudah ditunggu oleh Rina dan yang lainnya.
“Setelah ini ada acara apa Rik?”
Aku bertanya kepada Riki yang baru saja membuka bekalnya.
“Sepertinya selanjutnya ada pertandingan olahraga antara kelas sepuluh.”
“Olahraga apa yang akan dipertandingkan?”
“Basket.”
Jawab singkat dari Riki.
“Tumben sekali kau bertanya seperti itu Mar, biasanya kau terlihat tidak mau tau akan sesuatu.”
Miyuki menegur sikapku yang jarang sekali dia lihat.
“Aku hanya ingin tau saja.”
“Apakah kamu akan ikut dalam pertandingan itu Ar?”
“Sepertinya tidak, aku akan menyerahkan pertandingan ini kepada Riki.”
“Aku sudah menebak hal itu, tidak mungkin Amar mengikuti olahraga seperti ini.”
Miyuki sudah menduga kalau aku tidak akan mengikut hal itu. Sepertinya dia mencoba untuk memahami sifatku.
Rina terlihat sedikit kecewa karena aku tidak mengikuti pertandingan itu. Lagi pula buat apa dia merasa kecewa.
“Memangnya kenapa kamu berpikir seperti itu Rin?”
Miyuki bertanya kepada Rina dengan sedikit penasaran.
“Asal Kamu tau Miyuki, Amar itu lumayan jago dalam olahraga basket. Bahkan ketika ujian praktik kemarin dia mendapatkan nilai tertinggi dalam hal itu.”
“Tunggu! Dari mana kau tau?”
Aku sedikit terkejut karena Rina mengetahui nilai ujian praktikku, padahal aku tidak pernah menunjukannya kepada siapapun, bahkan Riki dan Maul saja tidak tau nilai dari ujian praktikku.
“Kalau itu rahasia!”
Rina pun tidak mau memberitahu dari mana dia mendengar nilai ujian praktikku.
“Itu tidak mungkin... Tidak mungkin Amar mendapatkan nilai tertinggi dalam hal olahraga.”
Dasar perempuan yang satu ini, dia hari ini sangat menjengkelkan sekali, selain itu sangat tidak sopan. Memangnya aku ini terlihat seperti orang yang sangat pemalas apa.
Kemudian saat kami sedang menikmati bekal kami. Yoshida pun datang menghampiri kami dan dia juga membawa bekalnya.
“Boleh aku bergabung dengan kalian?”
“Tentu saja Yoshida.”
Rina pun menerima Yoshida untuk bergabung bersama kami.
Dan Yoshida pun langsung duduk tepat di samping Miyuki dan membuka bekal makan siangnya.
“Tumben kau datang ke sini, memangnya kemana teman-temanmu?”
Aku bertanya kepada Yoshida, karena Yoshida jarang sekali bergabung dengan kami ketika istirahat. Aku kira dia memiliki teman baru dan makan bersama dengan mereka.
“Mereka makan bersama teman-teman dari SMPnya.”
Aku turut sedih mendengar hal itu, seharusnya aku tidak perlu bertanya tentang hal itu.
“Rina!”
__ADS_1
“Ada apa Miyuki? Kamu heboh sekali hari ini.”
Rina hanya tersenyum saja melihat tingkah dari Miyuki.
“Apakah yang kamu katakan itu benar? Apakah Amar benar-benar mendapatkan nilai tertinggi dalam ujian praktik olahraga?”
“Tentu saja, buat apa aku berbohong.”
Miyuki pun terlihat seperti tidak bisa menerima kenyataan yang ada.
“Apa kau percaya dengan hal itu Mul? Kau kan teman dekat dari Amar, kau pasti mengetahui sesuatu kan.”
Karena tidak puas dengan jawaban yang diberikan oleh Rina, Miyuki pun mencoba untuk lebih meyakinkannya lagi.
“Sebenarnya aku juga malas untuk mengakuinya, tapi untuk olahraga basket memang Amar cukup ahli dalam hal itu.”
Mendengar jawaban itu dari Maul membuat Miyuki makin terkejut saja.
Aku sedikit terkejut hari ini dengan sifatnya Miyuki. Biasanya dia selalu menerima dengan apa adanya sesuatu yang terjadi, tapi entah kenapa kali ini dia sangat menentang sekali.
“Aku tidak percaya ini... Orang yang selalu berkata apapun itu melelahkan, merepotkan, ternyata dibalik semua itu dia jago dalam hal olahraga. Hanya ini saja yang tidak bisa aku terima.”
Ohh.. Jadi itu yang selama ini dia pikirkan. Ternyata selama ini aku dimata Miyuki terlihat sebagai orang yang malas. Maaf saja ya, tapi aku bukanlah orang yang seperti itu.
“Hari ini perkataanmu sangat tidak sopan sekali Miyuki. Seharusnya aku yang harus bersikap seperti itu.”
“Menurutku hal seperti itu bukanlah sesuatu yang mengejutkan Myucchi, karena Amar kemarin mengajakku untuk bermain badminton bersama, aku berpikir kalau Amar pasti memiliki alasan tersendiri mengatakan hal seperti itu.”
Tunggu... Yoshida-san...Seharusnya kau tidak perlu memberitahu kalau kemarin aku mengajakmu bermain badminton.
“Bisakah kamu jelaskan apa itu Ar?”
Sekarang Rina menatapku dengan tatapan mematikannya.
“Ah! Kenapa selalu Amar yang didekati perempuan saja.”
Maul pun terlihat sangat kesal sekali.
Padahal semuanya terjadi bukan karena kehendakku Mul. Kau percayalah itu, semuanya terjadi dengan sendirinya.
Sekarang dari mana aku menjelaskan kepada mereka.
“Kalau kau mengira aku selalu mengatakan melelahkan dan merepotkan karena aku malas, itu adalah salah besar. Aku mengatakan hal tersebut hanya ketika aku memikirkan sesuatu yang merepotkan dan melelahkan, tapi kenyataannya aku akan melakukan hal yang aku anggap merepotkan dan melelahkan itu.”
“Iya?”
Sepertinya Miyuki tidak mengerti apa yang baru saja aku katakan. Ya sudahlah, lagi pula aku tidak terlalu mengharapkan dia untuk mengerti.
“Dan juga aku mengajak Yoshida untuk bermain badminton bukan kami berdua saja. Aku berencana untuk mengajak kalian semua juga untuk bermain besama.”
“Kalau begitu aku setuju akan hal itu, aku akan menantikan hal itu Ar.”
Suasana hati Rina pun sudah kembali menjadi seperti biasa. Merepotkan sekali, kenapa aku harus menjelaskan segala sesuatunya kepada Rina.
“Aku juga.”
“Begitu juga aku.”
“Tentu saja, kalau kalian semua ikut aku juga akan ikut.”
Miyuki, Riki dan Maul juga menerima ajakanku untuk bermain badminton bersama.
“Bagaimana dengamu Kichida? Apa kau juga mau ikut bersama kami?”
Aku pun mengajak Kichida juga. Tentu saja aku mengajak Kichida, karena saat itu dia juga ada di sana. Lagi pula tidak ada salahnya juga mengajaknya, karena semakin banyak orang yang mau ikut bermain, semakin sedikit juga uang yang aku gunakan untuk patungan lapangan.
“Maaf, tapi aku tidak bisa ikut dengan kalian. Aku tidak begitu menyukai sesuatu yang berkaitan dengan olahraga.”
“Kau tidak boleh seperti itu Kichida. Kalau kau selalu seperti itu, kau hanya akan menempuh jalan untuk menjadi seseorang yang anti sosial.”
Riki pun memberikan sebuah nasihat kepada Kichida.
“Baiklah, mungkin ketika di sana aku menemukan sesuatu yang bagus untuk bahan menggambarku nanti.”
Akhirnya Kichida pun ikut dengan kami berkat bujukan dari Riki.
“Tenang saja Kichida, ini masih dalam rencana saja. Aku saja belum tau kapan waktu yang pas untuk mengajak kalian bermain badminton. Mengingat kalau kita baru masuk sekolah, pasti masih banyak hal yang perlu dipersiapkan.”
“Kau benar juga.”
Sfx : Teng... Teng... Teng... Teng...
Bel pun berbunyi dan semua siswa yang berada di lapangan pergi ke kelasnya masing-masing. Aku dan Riki pun bergegas menghabiskan makanan kami karena hanya kami berdua yang bekalnya belum habis.
__ADS_1
-End Chapter 36-