
Aku sedang berjalan ke sebuah ruangan yang ruangan itu adalah ruangan yang paling aku hindari. Ya.. Ruangan itu adalah ruangan OSIS. Mungkin kalian tau kalau OSIS di sekolahku dulu pernah berjalan tidak sesuai dengan semestinya yang membuat nama OSIS itu jatuh di mata para murid, tapi hal itu membuat pandanganku terhadap semua OSIS yang ada di seluruh sekolah jadi sama. Aku menganggap kalau semua OSIS sama saja.
Aku pun sudah sampai di depan ruang OSIS dengan dua pintu besar yang ada di hadapanku. Aku memegang proposal yang sudah dibuat oleh Maul dan juga ditandatangani oleh Pak Hari untuk diberikan kepada OSIS.
Tarik nafas... Keluarkan... Ayo, aku pasti bisa.
Aku pun membuka pintu itu dan mulai melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut. kemudian aku melihat banyak sekali anggota OSIS yang ada di sana sedang sibuk dengan urusan mereka masing-masing untuk mengurusi kebutuhan pensi.
Jadi seperti ini kerja OSIS ketika sedang mendekati hari pentas seni.
“Amar! Apa yang ingin kau lakukan di sini?”
Kak Alvin yang sedang duduk di kursinya melihatku, dia pun berdiri dan menghampiriku.
“Aku ingin mengajukan untuk sponsor. Kenapa hari ini sibuk sekali?”
Aku masih melihat ke semua anggota OSIS yang ada di sana, kira-kira jumlah mereka ada dua puluh atau delapan belas, pokoknya banyak.
“Memang seperti inilah jika sudah mau mendekati hari H. Ayo duduk duli Mar!”
Aku dan Kak Alvin duduk di sofa yang berada di ruang OSIS. Sepertinya sofa ini memang disediakan untuk orang-orang yang bertamu ke ruang OSIS. Tapi untuk apa mereka bertamu ke sini ya?
“Jadi sponsor apa yang ingin kau ajukan itu?”
“Mungkin kau bisa melihatnya sendiri.”
Aku pun memberikan proposal yang berada di tanganku kepada Kak Alvin dan dia melihat isi dari proposal tersebut.
“COMIC UNIVERSE?!”
Kak Alvin terkejut ketika membaca proposal itu yang membuat semua perhatian anggota OSIS yang ada di dalam sana mengarah kepadanya.
“Ada apa ketua?”
Ada beberapa anggota OSIS yang menghampiri Kak Alvin.
“Tidak ada apa-apa, kalian bisa melanjutkan kembali pekerjaan kalian.”
Mendengar itu dari Kak Alvin membuat semua anggota OSIS kembali melanjutkan pekerjaannya.
Ternyata jabatan sebagai ketua OSIS sama saja seperti pemimpin disebuah perusahaan. Dia tidak jauh berbeda dengan Pak Hari ketika di kantor.
“Mengapa kau bisa memberikan sponsor dari Comic Universe Mar, Apa kau memiliki kakak atau kerabat yang bekerja di sana?”
“Begitulah.”
Akan sangat merepotkan jika aku harus menjelaskannya di sini sekarang juga.
“Ciiiiiii...”
Kak Alvin pun memperhatikanku dengan serius sekali, aku pun berusaha menenangkan diri dengan melihat ke sekitar.
“Ciiii....”
Lama-lama tatapan itu membuatku grogi dan menjadi gugup.
“Ah! Bisakah kau hentikan itu?”
“Aku merasakan kejanggalan di sini Mar. Aku tidak akan menyetujuinya sebelum kau mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.”
Ini kejahatan, dia menggunakan kekuasaannya untuk memeras informasi dariku. Aku akan melaporkan ini kepada kesiswaan nantinya. Tenang! Aku hanya bercanda, tidak mungkin aku melakukan hal seperti itu.
“Baiklah! Aku bekerja di sana.”
“Sudah aku duga.”
Tak lama kemudian, Kak Fauzi yang baru saja tiba di ruang OSIS langsung menghampiri kami berdua dan bergabung bersama kami.
“Bagaimana kabarmu Mar?”
“Alhamdulillah baik.”
“Apa yang sedang kau lakukan di sini Mar?”
“Aku hanya ingin memberikan proposal sponsor untuk pensi nanti.”
“Sponsor apa yang kau ajukan?”
Kak Fauzi langsung melihat proposal yang diletakan oleh Kak Alvin di atas meja.
“COMIC UNIVERSE!”
Apa aku baru saja melihat deja vu barusan?
“Sudah ku duga kalau kau akan berekspresi seperti itu.”
“Kenapa kau bisa mengajukan sponsor dari aplikasi komik yang sedang terkenal itu Mar?”
Tanya Kak Fauzi kepadaku, dia masih terkejut dengan apa yang dia lihat.
“Aku bekerja di sana?”
“Sebagai apa?”
“Aku bekerja di sana sebagai editor.”
“Hebat sekali kau sudah bekerja di perusahaan sebesar ini walaupun masih bersekolah. Dari semua OSIS yang ada di sini saja belum ada satupun yang bekerja.”
Kak Fauzi tidak tau saja apa yang sebenarnya terjadi, perusahaan milik Pak Hari tidak sebesar apa yang mereka pikirkan. Aku juga tidak bisa mengatakan kalau aku salah satu atasan di sana, kalau aku mengatakannya bisa jadi satu ruangan ini akan heboh sekali.
__ADS_1
“Aku menyetujui sponsor yang kamu berikan.”
“Benarkah itu! Aku kira sudah penuh untuk pengajuan sponsor karena sudah mendekati hari H.”
“Tenang saja, kalau untuk sponsor kita tidak pernah menutupnya sampai sehari sebelum hari H.”
“Terima kasih.”
Sepertinya aku harus mengabarkan berita ini kepada Pak Hari.
“Seharusnya kami yang berterima kasih kepadamu.”
“Oh iya, nanti kami juga akan membuka sebuah stan saat pensi.”
“Aku akan menyiapkan tempat untuk stanmu nanti.”
“Bagaimana kau bisa bekerja di sana Mar?”
Tanya Kak Fauzi kepadaku.
“Aku diberikan pekerjaan oleh Pak Febri, kebetulan temannya bekerja di sana.”
Aku juga tidak bisa bilang kalau temannya Pak Febri yang memiliki perusahaan itu. Kalau aku mengatakannya bisa jadi semua orang di ruangan ini lebih terkejut lagi.
“Pak Febri memang terkenal guru yang sering memberikan pekerjaan kepada para muridnya. Itulah kenapa dia cukup terkenal dikalangan murid-murid.”
“Kalian semua mau minum apa?”
Kak Ayu pun datang menghampiri kami dan menawarkan minum.
“Bikin saja teh untuk kami.”
Kak Ayu pun pergi untuk menyediakan itu.
“Bagaimana rasanya bekerja di sana?”
Kak Fauzi sangat bersemangat bertanya tentang hal itu.
“Awalanya memang berat, namun sekarang lebih mudah karena ada beberapa karyawan yang bekerja di sana, jadi pekerjaanku jauh lebih ringan.”
“Awalnya? Memangnya dari kapan kau bekerja di sana?”
Kak Alvin menyipitkan matanya dan melihatku dengan curiga kembali.
Ah sial! Aku salah berbicara kali ini.
“Aku bekerja di sana beberapa minggu sebelum perilisan aplikasinya, dan saat itu tidak banyak orang yang bekerja di sana.”
“Oh begitu.”
Huh! Syukurlah dia tidak menanyakan lebih lanjut lagi.
“Bukannya masih dua tahun lagi untuk Kak Fauzi merasakan itu?”
“Kalau di semester dua nanti, anak kelas dua selama satu semester akan menjalankan praktik kerja lapangan atau biasa disingkat dengan PKL.”
Jadi aku juga akan melakukan itu ketika kelas dua nanti. Apa tempat kerjanya ditentukan oleh sekolah atau bisa mencari sendiri ya? Aku harap bisa mencari sendiri.
“Andai aku berada di jurusan multimedia, mungkin aku akan mencoba untuk melamar di Comic Universe untuk magang di sana.”
Hee... Jadi kita bisa memilih, syukurlah kalau begitu. Jadinya aku bisa bekerja di tempat kerjaku saat ini.
“Memangnya tempat kita magang harus sesuai dengan jurusan kita?”
“Tidak masalah jika bekerja di jurusan yang berbeda, tapi karena ini untuk belajar bagaimana nantinya di dunia kerja, jadi lebih baik jika sesuai dengan jurusan masing-masing.”
Aku tau banyak saat berbicara di sini dengan Kak Alvin dan juga Kak Fauzi.
“Apa sekolah tidak membantu muridnya mencari tempat kerja mereka?”
Tanyaku kembali kepada mereka berdua.
“Tentu saja sekolah mencarikannya, dan sekolah sudah memiliki koneksi ke beberapa perusahaan untuk hal itu, tapi jika muridnya ingin mencarikan pekerjaan sendiri itu dibolehkan.”
Sepertinya aku tidak perlu repot-repot memikirkan dimana aku harus PKL nantinya.
Kak Ayu datang dan menyajikan teh yang sudah dia buat kepadaku dan lainnya. Dia juga bergabung dengan pembicaraan kami.
“Apa kalian sedang membicarakan tentang Comic Universe? Di kelasku juga banyak teman-temanku yang membaca komik di sana.”
Aku curiga kalau Maul memang memasang semua iklan itu ke seluruh ponsel murid yang ada di sekolah ini mengingat dia pernah melakukan cara itu ke ponsel milikku. Untuk orang seperti Maul, itu mungkin saja.
“Oh iya, dikalangan anak kelas dua dan tiga ada sebuah rumor yang beredar tentang aplikasi ini.”
Aku merasakan sesuatu yang tidak beres di sini. Apa perlu aku pergi dari sini? Tapi kalau aku melakukan itu, Kak Alvin dan Kak Fauzi akan menyadari kalau aku melarikan diri. Sepertinya aku akan berada di sini dan mencoba untuk melihat tentang apa rumor itu.
“Rumor apa itu?”
Kak Alvin menjadi penasaran.
“Ada anak kelas tiga yang pernah melihat Pak Febri sedang memeriksa komik-komik yang ada di Comic Universe ketika sedang mengunjungi lan dab Pak Febri berkata kalau dia membantu temannya dalam membuat aplikasi itu.”
Pak Febri! Kenapa kau mengatakan hal seperti itu dan juga kenapa kau mengerjakan hal itu di sekolah!
“Memangnya temannya Pak Febri siapa?”
Kak Fauzi makin penasaran dan Kak Alvin sedang memperhatikan gerak-gerikku. Aku mencoba untuk terlihat setenang mungkin di sini.
“Kalau menurut rumornya sih kalau temannya Pak Febri adalah pemilik dari perusahaan Comic Universe.”
__ADS_1
Sampai saat ini aku penasaran dengan orang yang menyebarkan tentang rumor-rumor itu. Karena dari awal aku masuk ke sekolah ini rumor yang beredar selalu sesuai dengan fakta yang terjadi, biasanya jika rumor itu adalah berita bohong yang dibuat seseorang.
Aku rasa aku harus menyelidiki orang ini untuk menghentikannya. Kalau seperti ini terus, ketenanganku bersekolah di sini bisa terganggu.
“Apa ada yang bisa kau jelaskan di sini Mar?”
Kak Alvin menatapku dengan serius.
“Apa yang harus aku jelaskan?”
“Kau pasti mengetahui sesuatu tentang hal ini. Apa jangan-jangan kau juga membantu Pak Febri dalam membuat aplikasi ini?”
Kak Alvin mulai curiga, inilah saatnya untukku bersilat lidah.
“Mana mungkin seorang murid sekolahan sepertiku membantu membuat aplikasi seperti itu, apalagi harus dibarengi oleh sekolah. Itu terlalu berat untukku dan mungkin nilaiku bisa menurun karena mengerjakan pekerjaan itu.”
“Benarkah begitu?”
Kak Febri mulai berbicara, aku yakin dia memiliki sesuatu yang dapat mematahkan argumenku itu.
“Aku tau kalau akhir-akhir ini kau dan juga Maul selalu tidur di UKS ketika istirahat.”
Hal itu pun membuatku terdiam sejenak dan memikirkan argumen-argumen lainnya.
“Kenapa Kak Fauzi tau itu?”
“Aku adalah anggota dari ekskul PMR, dan aku selalu melihat daftar orang yang selalu mengunjungi UKS dan nama kalian berdua selalu ada di sana.”
Oh shit! Aku tidak memikirkan kemungkinan seperti itu. Ah aku menemukan sebuah cara untuk menyelesaikan semua ini.
“Kau tidak bisa berkata kalau kau hanya ingin tidur saja di sana Mar. Aku tau kalau kau tidak mungkin melakukan hal seperti itu berkali-kali. Pasti kau sedang mengerjakan sesuatu yang membuatmu sangat lelah hingga kau butuh untuk memulihkan tenagamu agar kau dapat berkonsentrasi ketika guru sedang menjelaskannya.”
Tidak buruk juga pengamatanmu Kak Alvin, tapi tetap saja aku yang akan menang di sini.
“Katakan kepada kami yang sesungguhnya Mar!”
Aku pun mulai melirik ke sekitar dan ada beberapa anggota OSIS yang memperhatikan pembicaraan kami. Kalau aku sampai salah berbicara, bisa jadi ada rumor aneh lainnya yang muncul.
“Kalau kalian tidak percaya, kalian bisa melihat tanggal berapa aku dan Maul sering datang ke UKS. Tanggal-tanggal itu waktunya sangat berdekatan dengan perilisan aplikasinya, kalau seandainya aku memang ikut membuat aplikasi itu, seharusnya aku sudah pergi ke UKS sejak awal-awal pembuatan aplikasi itu dan seharunya itu terjadi dua sampai tiga bulan kebelakang.”
“Darimana kau tau kalau aplikasi itu dibuat sekitar dua sampai tiga bulan?”
Kak Alvin terus memojokkanku agar aku mengatakan yang sebenarnya.
“Kalau kau memiliki teman yang tau bagaimana caranya membuat sebuah aplikasi, kau bisa bertanya kepada mereka. Waktu itu aku hanya bertanya kepada Maul dan dia berkata waktu tercepat yang bisa dilakukan oleh seorang programmer adalah segitu.”
Kak Alvin dan Kak Fauzi mulai memikirkan kata-kataku, semakin mereka memikirkan kata-kataku itu berarti kemenangan sudah menjadi milikku.
“Dan juga aku dan Maul bekerja di Comic Universe beberapa minggu sebelum perilisan aplikasinya. Itulah kenapa aku selalu menghabiskan waktu di UKS untuk beristirahat, karena saat itu Pak Febri meminta bantuan kami karena mereka kekurangan orang. Jadi aku dan Maul sedikit terlibat dalam pembuatan aplikasinya, aku hanya membantu mereka saja dan kontrak kami hanya sebagai pekerja magang.”
Kak Alvin pun menatapku dengan sangat dalam, sepertinya dia masih mencurigai perkataanku.
“Aku menyerah! Semua yang kau katakan masuk akal dan aku tidak menemukan satu hal yang janggal dari perkataanmu.”
Akhirnya Kak Alvin menyerah.
“Lalu kenapa kau bisa membawa proposal sponsor itu?”
“Aku hanya disuruh Pak Febri untuk menyerahkannya ke kalian, karena Pak Febri sedang sibuk dan tidak bisa melakukannya sendiri.”
“Lalu jabatanmu di sana?”
“Aku hanya sebagai anak magang saja.”
Walaupun ada tambahan khusus di belakangnya.
“Memangnya untuk menyerahkan proposal sponsor harus orang yang memiliki jabatan penting? Bukankah semua yang diperlukan sudah dijelaskan di dalam sponsor itu tanpa perlu dijelaskan lagi.”
“Aku juga menyerah! Sepertinya kita terlalu berlebihan dalam mencurigai Amar.”
Sebenarnya kalau kalian perhatikan lebih teliti lagi, ada hal penting yang membuat semuanya percaya dari ucapanku di atas.
Saat itu aku mengatakan kepada mereka kalau ‘Aku dan Maul bekerja di sana beberapa minggu sebelum perilisan aplikasi itu’.
Perhatikan kalimat itu!
Di sana aku sama sekali tidak mengatakan kalau ‘Aku dan Maul mulai bekerja di sana beberapa minggu sebelum perilisan,’, tapi aku hanya menyebutkan kalau ‘Aku dan Maul bekerja di sana sebelum perisilan,’.
Padahal itu adalah hal yang remeh dan tidak bisa membuat orang percaya begitu saja, tapi data yang diberikan oleh Kak Fauzi yang berkata kalau ‘Aku dan Maul sering pergi ke UKS untuk tidur di sana,’ yang membuat Kak Alvin dan Kak Fauzi hanya terfokus dengan kata ‘beberapa minggu sebelum perilisan,’.
Hal itu dikarenakan otak mereka berdua sedang mencocokkan antara informasi satu dengan informasi yang lainnya, apalagi hal itu terjadi sangat cepat sekali. Asalkan kalian tau dimana poin-poin penting yang sedang mereka cari, kalian dapat dengan mudah mengacaukan pikiran mereka.
“Bagaimana nilaimu ketika sedang bekerja di sana, bukankah itu berat mengimbanginya dengan sekolah?”
Tanya Kak Alvin kepadaku.
“Tenang saja, karena aku hanya anak magang jadi pekerjaanku tidak begitu banyak.”
“Begitu, semangatlah dalam bekerja!”
“Yup!”
Sebenarnya apa yang dikatakan Kak Alvin barusan adalah jebakan untukku juga. Kalau keadaannya tidak seperti ini, aku akan mengatakannya kalau nilaiku tidak menurun karena dari awal aku memang mengincar nilai rata-rata. Tapi karena kondisinya sedang seperti ini, aku tidak bisa mengatakannya terus terang seperti itu.
Karena itu akan meruntuhkan argumen yang sudah aku bangun sebelumnya.
Yah.. Untuk hal semacam ini aku rasa belum ada yang bisa mengalahkanku.
-End Chapter 85-
__ADS_1