Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 29 : Ulang Tahun Maul.


__ADS_3

Hari ini adalah hari ulang tahun Maul yang ke lima belas. Pada hari ini Maul mengundang aku dan Riki ke rumahnya untuk mengadakan pesta di sana. Katanya hari ini juga, dia ingin mengajak teman-temannya untuk berpesta bersama kami.


Saat ini, Riki sudah ada di depan rumahku untuk menjemputku. Karena rumahku dan rumah Maul memiliki jarak yang lumayan jauh, kami berencana pergi ke sana untuk menggunakan sepeda motor yang dimiliki Riki.


“Oi Mar, kau sudah siap belum?”


Riki memanggilku dari depan rumah.


“Yo...”


Aku pun keluar dari rumahku dan mengunci pintu gerbang.


“Mau kemana dulu kita Mar?”


“Katanya nanti kita akan bakar-bakar kan? Sepertinya kita pergi ke supermarket dulu Rik. Maul memintaku untuk membelikan dia sosis untuk bakar-bakar nanti.”


“Memangnya dia belum membelinya?”


“Sepertinya dia lupa.”


“...Sepertinya aku tau tempat yang murah dan enak untuk membeli sosis.”


Riki sedikit melihat ke langit untuk mengingat sesuatu di pikirannya.


“Benarkah itu!?”


Aku sedikit tertarik ketika mendengar itu. Karena aku sering sekali membeli sosis di supermarket untuk sarapan tapi menurutku harga yang dicantumkan di sana terlalu tinggi. Memang benar kalau orang tuaku memberikanku uang untuk belanja sosis tersebut, tapi kalau seandainya kita bisa mendapatkan sosis dengan merek yang sama dan rasanya juga tidak jauh berbeda namun dengan harga yang lebih murah, hal itu dapat menghemat pengeluarkanku dan menambah uang sakuku.


Mungkin kalian ada yang berpikir kalau aku melakukan sebuah tindakan korupsi di sini. Kalau hal itu yang kalian pikirkan hal itu salah besar. Ibuku selalu memberikanku uang dapur untuk membeli kebutuhan sarapan dan makan malamku, tapi dia membebaskan kepadaku dalam penggunaan uang tersebut, dan sisa dari uang itu dapat aku gunakan untuk membeli hal yang lain. Berarti kalau aku bisa menggunakan uang itu seminim mungkin tapi dapat


digunakan untuk membeli barang dengan kualitas yang sama, itu artinya aku sangat hebat dalam mengelola uang di sini.


“Iya, kemarin aku mengantarkan Ibuku untuk beli frozen food di sana.”


Oh iya, aku baru ingat kalau Ibunya Riki membuka sebuah stan di acara bazar mingguan yang diadakan di dekat rumahku.


“Baiklah, kalau begitu kita belinya di sana saja.”


“Ok.”


Kami pun langsung pergi ke sana dengan menggunakan sepeda motor yang Riki bawa.


Sesampainya di sana, aku melihat sebuah kios yang tidak terlalu besar tetapi pengunjung yang datang sangat ramai sekali.


“Jadi ini tempatnya?”


Aku bertanya kepada RIki untuk memastikannya kembali.


“Tentu saja, ayo kita masuk.”


Riki pun berjalan memasuki kios tersebut yang diikuti olehku.


Ketika kami berada di dalam kios tersebut. Aku melihat banyak banyak orang yang membeli makanan yang dijual di sana, dan bahkan mereka membelinya tidak hanya satu atau dua buah saja, namun hampir satu keranjang penuh. Sepertinya pembeli yang berada di sini rata-rata adalah penjual makanan frozen food atau sejenisnya.


Kami pun langsung pergi ke sebuah pendingin makanan yang di dalamnya terdapat banyak sosis dengan berbagai macam merek.


“Hmmm... Kita membeli yang mana ya?”


Aku pun melihat-lihatnya terlebih dahulu.


Dalam memilih seperti ini, hal pertama yang aku lihat adalah harganya, kedua adalah jumlahnya, dan yang terakhir adalah rasa dari sosis itu sendiri. Karena jumlah lebih penting dibandingkan rasa. Tapi kalau menurut pengalamanku dari seringnya berbelanja sosis dimana pun, semua sosis yang ada di sini pasti memiliki rasa yang cukup enak, karena harganya berkisar dari tiga puluh ribu sampai seratus ribu.


“Kita tidak membeli yang ini saja? Ibuku sering menggunakan sosis ini untuk berjualan.”


Riki menunjukan salah satu sosis yang ada di sana.


Baiklah, coba kita lihat dulu berapa harganya... Wah, ternyata benar lebih murah di sini. Aku sering memasak sosis yang ditunjukan oleh Riki di rumah dan ketika aku membelinya di supermarket harganya bisa sampai lima puluh ribu, tapi di sini hanya tiga puluh ribu saja. Jauh sekali perbedaannya, sepertinya lain kali aku akan membeli sosis di sini saja.


“Boleh, aku sering memasaknya juga di rumah.”


“Kalau begitu kita mau membeli berapa bungkus?”


“Kira-kira berapa orang yang ikut bakar-bakar nanti?”


Riki pun mulai menghitung dengan menggunakan tangannya.


“Aku, kau, Riki, Rina, Miyuki, Kirana, dan Kichida... Semuanya jadi tujuh orang.”


“Tunggu!... Jadi orang yang ikut bakar-bakar mereka?”


Aku sedikit terkejut karena mereka lah teman-teman yang dimaksud oleh Maul. Sepertinya Riki juga pernah menggunakan hal yang sama saat mengajakku untuk mendaki ke Gunung Prau. Mengapa bisa-bisanya aku terjebak hal ini sampai dua kali.


“Begitulah, kemarin malam maul baru memberitahuku.”


“Kichida juga ikut? Kok bisa?”


“Sepertinya ketika acara festival musim panas, mereka sudah menjadi teman akrab.”


Oh pas itu ya, aku tidak begitu tahu banyak apa yang terjadi saat itu karena aku berpisah dengan mereka. Ternyata banyak sekali yang aku lewatkan saat aku tidak bersama mereka.


“Kalau begitu beli dua bungku saja. Satu bungkuskan isinya sepuluh, dua bungkus aku rasa sudah cukup.”


“Ok.”


Kami pun langsung mengambil dua bungkus sosis dari lemari pendingin makanan dan kemudian membayarnya di kasir.


***


“Selamat datang teman-temanku!”


Kami sudah melihat Maul yang menyambut kami tepat di depan rumahnya.


“Sedang apa kau di sini?”


Aku bertanya heran dengan apa yang dia lakukan barusan.


“Tentu saja menunggu kalian.”


“Untuk apa?”


“Kalian tau, hari ini Miyuki, Rina, dan Kichida mau datang ke rumahku. Bagaimana aku tidak senang. Aku rasa ini adalah hadiah ulang tahun terbaikku.”


Maul terlihat sangat senang sekali.


“Sudahlah, ini sosis yang kau suruh beli.”


Aku pun memberikan sosis itu kepada Maul.


“Terima kasih... Berapa harganya? Nanti biar aku ganti uangmu.”


“Tenang saja Mul, anggap saja ini hadiah ulang tahun dari kami.”


Riki mengatakan itu seolah-olah dia yang membeli sosis ini. Padahal uang yang dipakai untuk membelikan sosis ini adalah uang milikku, tapi karena aku tidak begitu peduli tentang hal itu jadi ya sudahlah, lagi pula nanti uangku juga akan kembali.


“Kalau begitu lebih baik kita langsung ke halaman belakang saja. Aku sudah menyiapkan bahan-bahan dan peralatannya di sana.”


Dan kami pun pergi ke halaman belakang dari rumah Maul.


Ketika sampai di sana, aku dapat melihat jagung, ikan, ayam, dan sosis yang aku bawa.


“Banyak sekali! Kau yakin sosis itu digunakan juga?”


Aku bertanya kepada Maul setelah melihat makanan yang begitu banyak. Aku tidak yakin kalau kami semua dapat menghabiskannya.


“Entahlah, tapi kata ibuku masak saja semuanya, nanti juga habis.”


“Ngomong-ngomong ibumu kemana Mul?”


Riki sesekali melirik ke dapur yang tidak jauh dari sana.


“Ibuku sedang pergi dengan teman-temannya, begitu juga dengan kakakku, sedangkan bapakku seperti biasa sedang bekerja.”


“Hmmm... begitu.”


“Dari pada kita membicarakan hal itu, lebih baik kita cepat-cepat menyiapkan semuanya keburu para gadis datang.”

__ADS_1


Maul memberikan pisau kepadaku dan juga Riki.


“Mau kita apakan semua ini?”


Aku mengambil beberapa jagung yang ada di sana dan bersiap untuk mengupas dari kulitnya.


“Palingan tinggal kita menyiapkan bumbunya saja. Semuanya sudah ibuku persiapkan semua.”


“Ok.”


Aku pun langsung mengupas semua jagung yang ada di sana. Setelah mengupas semua jagung, aku langsung membuat bumbu yang terdiri dari kecap, cabai, garam, dan beberapa bumbu lainnya.


“Kau mahir juga untuk urusan seperti ini Mar.”


Riki melihatku yang sedang sibuk membuat bumbu.


“Apa kau lupa siapa yang mengajariku hal seperti ini.”


Karena yang mengajariku membuat bumbu ini adalah Riki ketika kita sedang mendaki di gunung. Sebenarnya Riki juga lumayan mahir dalam hal memasak sesuatu yang instan.


“Assalamualaiku... Maul...”


Terdengar suara para gadis yang berasal dari gerbang depan.


“Sepertinya mereka sudah sampai. Aku ke depan dulu untuk menyambut mereka, sisanya aku serahkan kepada kalian ya.”


Maul pun pergi ke depan untuk menyambut para gadis.


“Ok.”


“Kira-kira kapan kita mau membakar semua ini Mar?”


Riki memasukan beberapa arang ke dalam bakaran hingga penuh.


“Oh... kau mau membuat arangnya terlebih dulu ya.”


Aku pun melihat jam tanganku untuk melihat waktu sekarang.


“Aku lupa menanyakan hal ini, kapan kita mau mulai bakar-bakarnya?”


“Aku rasa setelah maghrib, tapi aku tidak tau kapan waktu tepatnya.”


“Kalau begitu nanti saja kau bakarnya Rik. Kalau kau bakar sekarang arangnya, nanti ketika kita ingin menggunakan baranya juga sudah habis.”


Aku menyarankan hal itu kepada Riki karena jarak waktu sekarang sampai maghrib masih lama.


“Kita mau membakarnya pakai apa? Bensin atau minyak tanah?”


“Aku tidak tau Rik, nanti tanya saja Maul.”


Kami pun melanjutkan pekerjaan kami untuk menyiapkan semua bumbu untuk bakar bakarnya.


Tepat ketika kami sudah menyelesaikan pekerjaan kami, Miyuki datang menghampiri kami yang berada di halaman belakang.


“Sedang apa kalian berdua?”


“Tentu saja sedang membuat bumbu untuk nanti malam.”


“Boleh aku membantu kalian.”


“Kau telat Miyuki, kami sudah menyelesaikan semuanya.”


Riki menjawabnya sambil menunjukan bumbu di mangkuk yang berada di tangannya.


“Yah... Aku telat kalau begitu.”


Miyuki terlihat kecewa mendengar itu.


“Sudahlah, lebih baik kita bergabung dengan yang lainnya.”


“Hum!”


Kami pun langsung pergi ke ruang tamu untuk bergabung dengan Maul dan para gadis.


Saat kami tiba di sana, aku dapat melihat Maul yang sedang bercengkrama dengan mereka semua. Aku juga melihat Rina, Kichida, dan Kirana yang duduk di sofa yang sama.


Maul bertanya kepadaku dan Maul dengan sangat santai.


Apa dia melupakan kalau dia sudah membuat kami bekerja lebih di sini. Kalau tidak sedang ulang tahun pasti sudah aku minta imbalan kepadanya.


“Sudah siap, tinggal dibakar saja.”


Riki mengacungkan jempolnya kepada Maul.


“Baiklah kalau begitu, kalian duduklah. Aku sudah menyiapkan minuman dingin kepada kalian.”


Wah, ternyata dia perngetian juga.


Aku pun langsung duduk di sofa yang ada di sana dan meminum minuman yang sudah disiapkan.


“Kamu sudah berada di sini dari kapan Ar?”


Rina bertanya kepadaku saat aku sedang menikmati minuman dingin.


“Mungkin dari siang.”


“Kenapa kamu tidak memberitahuku Ar, kan aku juga bisa membantu kalian.”


Rina merasa tidak puas karena tidak memiliki kontribusi dalam acara ini.


“Iya Kak Riki, kenapa Kakak tidak memberitahuku juga!”


Begitu juga dengan Kirana.


“Bukannya malah enak, kalian tidak usah mengeluarkan tenaga yang banyak dan tinggal menikmatinya saja. Lagi pula pekerjaan kami tidak banyak, jadi bantuan kalian itu tidaklah diperlukan.”


Karena semuanya sudah dikerjakan oleh ibunya Maul. Terima kasih tante, berkat kau aku jadi tidak perlu mengeluarkan tenaga lebih.


“Oh iya Maul, selamat ulang tahun ya! Ini hadiah dariku.”


Miyuki memberikan kado kepada Maul.


“Selamat ulang tahun Maul!”


Diikuti oleh Rina, Kirana, dan Kichida. Hanya Amar dan Riki saja yang tidak memberikan Maul kado.


“Hiks... Hiks... Aku terharu sekali. Terima kasih semuanya!”


Maul terlihat sangat senang karena dapat hadiah dari para perempuan.


“Kau terlalu lebay Mul, setiap tahun juga kau mendapatkan hadiah dari ibumu kan.”


“Diam kau Mar, kau saja tidak memberikanku hadiah.”


“Hah!”


Aku sangat kesal sekali ketika mendengar itu. Rasanya seperti aku ingin memukul kepalanya sedikit. Apa dia lupa dengan apa yang aku lakukan barusan? Kalau bukan karena dia ulang tahun juga aku malas melakukannya.


Dan kami pun berbincang-bincang hingga malam hari.


Tepat setelah shalat maghrib, kami semua langsung pergi ke halaman belakang untuk melakukan acara bakar-bakar. Riki pun dengan sigap langsung menyiapkan arangnya dan mulai membuat bara api.


Aku pun mulai menusukkan setiap sosis yang tadi aku beli ke tusuk sate dan kemudian di sosis tersebut aku iris sedikit dengan menggunakan pisau agar bumbunya bisa meresap hingga ke dalam.


Ketika aku sedang mengiris-iris sosis, Miyuki memperhatikanku dengan sangat serius sekali.


“Ada apa?”


“...Tidak, aku hanya terkejut saja.”


“Hah!?”


“Apa cabai dan tomat yang ada di bumbu itu kamu yang memotongnya?”


Miyuki menunjuk bumbu yang tadi siang aku siapkan bersama dengan Riki.

__ADS_1


“Iya.”


“Ternyata kamu bisa memasak juga ya.”


“Tentu saja, hampir setiap hari aku memasak untuk diriku sendiri.”


“Masa? Orang malas sepertimu memasak. Memangnya orang tuamu kemana?”


Miyuki terlihat tidak percaya kalau aku biasa memasak.


Aku malas sekali meladeninya.


“Itu benar Miyuki, Amar memang biasa memasak di rumahnya karena orang tuanya selalu bekerja dan berangkat pagi pulang malam.”


Untungnya Riki membantuku menjelaskannya kepada Miyuki. Dengan begini aku bisa melanjutkan pekerjaanku.


“Apa ada yang bisa aku bantu Ar?”


Rina menghampiriku dan meminta pekerjaan kepadaku.


“Aku juga Mar.”


Begitu juga dengan Miyuki.


“Kalau begitu kalian berdua bantu aku menyiapkan sosisnya. Aku mau membantu Riki membakar ikan dan ayamnya.”


“Baiklah.”


Rina dan Miyuki pun mulai bekerja, dan aku menghampiri Riki yang masih membuat bara api.


Aku pun melihat Kichida yang meminta pekerjaan juga kepada Maul. Kalau dilihat dari gerak badan yang digunakan Maul, aku rasa Maul menyuruh Kichida untuk mengambil piring di dapur. Karena setelah berbicara dengan Maul, Kichida langsung pergi menuju ke dapur.


“Baranya sudah jadi Mar, sekarang mau mana dulu yang di bakar?”


“Kita bakar ayamnya dulu aja Rik, bikin menjadi empat kali bakar ya. Biar ayamnya matangnya merata.”


“Ok.”


Riki langsung melakukan apa yang aku perintahkan.


“Sepertinya aku melupakan sesuatu.”


Aku melihat Maul yang sedang mencari sesuatu.


“Ada apa Mul?”


“Aku lupa membawa margarin dari dapur, bisakah kau mengambilnya Mar?”


“Ok, tapi kau yang menggantikanku mengipasi ayamnya ya.”


Aku memberikan kipas sate kepada Maul.


Dengan begini aku berhasil terbebas dari pekerjaan yang melelahkan.


Aku pun pergi ke dapur untuk mengambil margarin. Saat aku sampai di sana, aku bertemu dengan Kichida yang terlihat kebingungan. Sepertinya dia tidak tau dimana Maul menyimpan piring-piringnya.


Dasar Maul, setidaknya saat kau menyuruh seseorang, jelaskanlah secara detail.


“Kalau kau mencari piring, mereka ada di rak sana.”


Aku menunjuk ke sebuah rak yang tidak jauh dari Kichida.


“Terima kasih.”


Kichida langsung mengambil piring dari rak tersebut.


Oke! Sekarang dimana aku dapat menemukan margarinya.


Kemudian mataku tertuju kepada sebungkus margarin yang ada di atas kulkas. Aku pun langsung mengambilnya dan berniat untuk pergi dari dapur.


“Tunggu!”


Kichida pun menghentikanku saat aku sedang ingin mengambil langkah pertamaku.


Aku pun sedikit kebingungan dan penasaran apa yang ingin dia lakukan.


“Ada apa? Apa kau masih mencari sesuatu.”


“Kau pasti marah kepadaku kan...”


Kichida berbicara dengan nada yang sangat kecil, sampai-sampai aku hanya mendengar suaranya dengan samar-samar.


“Hah? Aku tidak dapat mendengar apa yang kau katakan.


“Aku yakin kau pasti membenciku kan?”


Oh... Jadi itu yang dia tanyakan.


“...Suatu hari, aku sangat terkejut melihat perubahan sikap Miyuki yang sebelumnya pendiam dan selalu murung kemudian berubah menjadi Miyuki yang biasanya, ceria dan selalu berbuat baik dengan teman-temannya. Padahal sebelumnya teman-temannya telah menyakiti hati Miyuki. Kemudian aku mencaritahu dan Nakashima lah yang memberitahu kepadaku kalau Miyuki bertemu denganmu...”


Nakashima? Siapa lagi dia. Apa salah satu teman Miyuki yang aku temui di kereta.


“...Aku juga yakin kalau Miyuki sudah menceritakan semuanya tentangku kan, pasti karena itu kau sangat marah kepadaku.”


Sepertinya Kichida sudah salah dalam memahamiku.


“Memangnya menurutmu, kenapa aku harus marah?”


“Tentu saja, semua lelaki yang diceritakan hal itu pasti akan marah kepadaku.”


Kichida masih tertunduk tidak berani melihat wajahku.


Aku pun menghela nafas sedikit.


“Sepertinya kau sudah salah paham di sini... Aku tidak pernah membencimu karena hal itu, lagi pula buat apa aku harus membencimu. Apakah ada manfaatnya aku membencimu? Tentu saja tidak ada, malahan hal itu sangat


merepotkan. Sejujurnya aku tidak peduli dengan apa yang menimpa Miyuki. Hanya saja... sangat sayang jika perempuan secantik dia memasang wajah murung setiap hari.”


Kemudian sedikit demi sedikit Kichida mulai mengangkat kepalanya dan mencoba untuk melihatku.


“Jadi tidak usah terlalu dipikirkan...”


Aku pun langsung pergi meninggalkan Kichida di dapur.


“Oi Mar! Kau lama sekali, nanti arangnya keburu habis loh.”


Riki memanggilku sambil melambaikan kipas satenya.


“Iya, tadi aku kesulitan mencari margarinnya.”


Aku langsung pergi menghampiri Riki dan Maul dan memberikan margarinnya kepada Mereka.


“Ini Ar, sosisnya sudah siap.”


Rina memberikan satu piring yang berisikan sosis kepadaku.


“Boleh aku mencoba untuk membakarnya?”


Kirana terlihat tertarik sekali.


“Baiklah, tapi hati-hati hangus ya.”


Riki memberikan kipas satenya kepada Kirana.


Aku, Riki, dan Maul pun menyingkir untuk memberikan mereka ruang untuk membakar.


“Entah kenapa sekarang kita sudah bukan bertiga lagi ya.”


Maul memandangi para gadis yang sedang membakar.


“Begitulah... Tapi entah kenapa hanya perempuan saja yang bertambah.”


Aku tidak habis pikir dengan keadaan seperti ini.


“Biarlah Mar, setidaknya itu adalah hal yang bagus.”

__ADS_1


Kemudian aku pun memandang ke langit dan melihat ke arah bulan yang sedikit tertutup awan. Walaupun aku merasakan banyak hal merepotkan yang akan terjadi, tapi entah kenapa untuk pertama kalinya aku merasa tidak masalah akan hal itu.


-End Chapter 29-


__ADS_2