
Kami pun memulai pendakian kami menuju ke sunrise camp. Tempat itu berada di ketinggian 2565 mdpl. Biasanya para pendaki yang mendaki di Gunung Prau menjadikan sunrise camp ini sebagai tujuan akhir dan juga sebagai tempat untuk mendirikan tenda. Karena jika kita beruntung, kita dapat melihat pemandangan gunung-gunung yang sangat indah. Ditambah saat matahari terbit, membuat pemandangan di sana sangat indah dan cocok untuk dinikmati.
Sebelum mencapai ke itu semua, kita harus menghadapi tantangan demi tantangan untuk menuju ke sunrise camp. Walaupun sebelumnya aku berkata bahwa Gunung Prau adalah gunung yang cocok bagi pemula, tapi rintangan yang ada di jalur via Patak Banteng bukanlah hal yang mudah.
Rintangan yang harus dilewati pertama adalah susunan anak tangga yang begitu banyak. Banyak sekali pendaki
pemula yang sudah putus semangatnya ketika melewati rintangan ini. Beratnya beban yang dibawa dan banyaknya anak tangga yang harus dinaiki membuat rintangan ini termasuk ke dalam rintangan yang sangat mengerikan untuk pendaki pemula. Tapi karena Aku, Riki, dan Maul sudah pernah ke sini, hal seperti ini adalah hal yang biasa bagi kami.
“Akhirnya sampai juga.”
Aku berhasil melewati semua anak tangga itu dan kemudian duduk untuk menunggu teman-temanku yang tertinggal.
“Kau cepat sekali Mar.”
Maul terlihat kelelahan sekali, aku dapat mendengar suara nafasnya yang sangat tidak beraturan.
“Kemana Riki?”
“Dia berjalan paling belakang untuk memastikan yang lainnya tidak terpisah.”
Maul pun duduk di sampingku sembali menunggu Riki dan yang lainnya.
Aku sesekali melihat ke arah tempat kami datang untuk melihat posisi mereka, tapi dari tempatku duduk sekarang, aku sama sekali tidak bisa melihat mereka.
“Apa kau membawa kartu?”
Aku bertanya kepada Maul.
“Memangnya kenapa?”
“Aku rasa kita harus menunggu cukup lama.”
“Kau benar.”
Maul pun mengeluarkan kartunya dari tas kecil dan kemudian kami berdua memainkannya.
Setelah lima belas menit menunggu, akhirnya para gadis bersama dengan Riki pun tiba di tempat kami sedang duduk. Sementara kami berdua masih memainkan kartunya dengan santai.
“Kalian berdua masih di sini?”
Miyuki sedikit terkejut melihat kami berdua yang sedang asik memainkan kartu. Dia juga terlihat kelelahan sekali,
“Tentu saja, mana mungkin kami meninggalkan kalian… Yes, aku menang lagi.”
Aku menaruh dua kartu raja hati dari tanganku untuk mengakhiri pertandingan ini.
“Ah sial, aku tidak menyangka bisa kalah dari Amar.”
Maul merasa kesal karena tidak pernah menang sekali pun ketika bermain kartu denganku.
“Kalian semua bisa beristirahat terlebih dahulu, nanti kalau sekiranya sudah siap untuk mendaki, kalian bisa bilang ke kami.”
Riki memberikan aba-aba kepada para gadis.
“Ini minumnya.”
Aku memberikan air minum kepada Rina dan yang lainnya.
“…Terima kasih Ar, ngomong-ngomong masih berapa jauh lagi ya?”
Rina terlihat lelah sekali, sepertinya dia tidak tau kalau mendaki gunung akan seberat ini.
“Ini barulah awal, perjalanan kita masih panjang.”
“Benarkah itu!”
Rina menghela nafas dengan sangat panjang sekali. Aku baru pertama kali melihatnya seperti ini.
“Tenanglah, perjalanan selanjutnya tidak seberat ini.”
Aku berusaha membuat Rina bersemangat lagi.
“Kamu tidak berbohong kan Ar?”
“…Mungkin.”
“Jawabanmu tidak memuaskan sama sekali.”
Rina terlihat kecewa dengan jawabanku yang setengah-setengah.
Apa seharusnya aku berbohong saja? Tapi memberikan sebuah harapan palsu bukanlah prinsipku. Biarlah, memang jalur selanjutnya tidaklah seberat anak tangga tadi. Setidaknya sebelum sampai di pos dua.
“Semangatlah kalian semua, jalur selanjutnya tidaklah seterjal tangga-tangga tadi. Setidaknya di jalur selanjutnya lebih landai dibandingkan sebelumnya.”
Riki menyemangati mereka dan mereka semua pun kembali semangat setelah mendengar perkataan Riki.
Aku menghampiri Maul yang sedang melihat ke langit.
“Ada apa Mul?”
“Untung saja hari ini cerah.”
“Begitulah.”
Semoga saja semuanya berjalan sesuai dengan rencana dan kita semua dapat kembali ke rumah dengan selamat.
Aku sudah melihat Miyuki dan yang lainnya sudah bersiap-siap. Sepertinya istirahat mereka sudah selesai.
“Ayo kita berangkat lagi.”
“Ayo!”
Kita pun melanjutkan perjalanan menuju ke Sunrise camp. Kalau sebelumnya aku berjalan yang paling duluan, sekarang aku berada di paling belakang bertukar posisi dengan Riki.
Selama di perjalanan, aku melihat Rina yang keberatan membawa tasnya. Sepertinya anak tangga sebelumnya
sudah menguras banyak sekali tenaganya.
__ADS_1
“Mau aku bawakan tasmu?”
Aku pun menawarkan bantuan kepadanya.
“Tidak usah Ar, aku tidak mau membebanimu lagi. Aku tau tasmu lebih berat dibandingkan punyaku.”
Rina menolaknya dan terus berjalan.
“Sudahlah, bukannya sudah aku katakan jangan pernah memaksakan dirimu ketika di gunung.”
“Tapi…”
Rina masih merasa tidak enak jika tasnya harus aku bawakan.
“Sudahlah.”
Aku pun menjulurkan tanganku kepadanya untuk meminta tasnya.
“…Baiklah.”
Rina pun memberikan tasnya kepadaku.
Aku melakukan hal ini bukan karena aku perhatian kepadanya. Hanya saja, jika aku tidak membawakan tasnya, pasti beberapa menit lagi Riki akan menyuruh kita beristirahat karena Rina yang sudah kelelahan. Aku tidak mau sampai hal itu terjadi. Semakin banyak kita beristirahat, semakin lama juga kita akan sampai. Semakin lama kita sampai, maka semakin lama juga perjalanan yang panjang ini akan berakhir.
Selama di perjalanan, aku melihat banyak sekali pendaki yang memperhatikan Miyuki. Entah itu yang laki-laki atau pun yang perempuan. Menyadari hal itu membuat Miyuki pun berjalan perlahan dan mendekat kepadaku yang berada di paling belakang barisan.
“Ada apa?”
“Aku rasa banyak pendaki memperhatikanku.”
Wahh… Baru kali ini dia merasa kalau ada orang yang memperhatikannya. Ini adalah sebuah perubahan.
“Pakai ini saja.”
Aku memberikan topiku kepadanya.
“Untuk apa?”
Miyuki bertanya kepadaku dengan heran sambil memegang topi milikku.
“Tentu saja untuk menutupi wajahmu, setidaknya dengan itu wajahmu dapat terhalangi.”
“Baiklah, akan aku gunakan.”
Miyuki pun menggunakan topiku dan kembali berjalan seperti biasa.
Aku melihat Rina yang sedang menatapku dengan tatapan cemburu begitu juga dengan Maul yang berada jauh di depan, sepertinya dia juga melihat ketika aku memberikan topiku ke Miyuki. Inilah mengapa aku malas jika pergi dengan mereka berdua. Aku melakukan semua hal itu bukan karena aku memberikan perhatian kepada mereka. Aku hanya ingin perjalanan ini berjalan dengan lancar dan damai, itu saja.
Akhirnya, setelah melakukan perjalanan yang cukup panjang kami pun sampai di pos dua.
Pegal sekali pundakku, apakah aku terlalu banyak membawa beban yang berat.
Aku memegang pundak sebelah kananku yang terasa kaku.
“Terima kasih Ar, telah membawakan tasku sampai sejauh ini.”
“Baiklah, dari sini sampai ke sunrise camp nanti. Aku akan berusaha untuk membawanya.”
Rina terlihat bersemangat sekali.
“Itu semangat yang bagus.”
Riki memuji semangat yang dimiliki Rina.
“Kalian semua beristirahatlah terlebih dahulu, karena jalur selanjutnya akan menjadi jalur yang terjal hingga sunrise camp.”
Riki pun memberikan aba-aba kepada kami untuk beristirahat dan dia memberikan madu kemasan kepada Kirana yang nantinya akan dibagikan kepada kami.
Madu kah! Sebaiknya aku simpan untuk di pos tiga nanti.
Aku pun menaruh maduku di kantung jaketku.
“Mengapa kau tidak meminumnya Mar?”
Miyuki bingung melihatku tidak meminum madu yang baru saja diberikan.
“Aku belum membutuhkannya sekarang.”
“Tapi barusan aku melihat Maul dan Riki juga menyimpan madunya, apakah memang seharusnya aku simpan madu ini?”
Miyuki yang tidak tau apa-apa bertanya kepadaku.
“Tidak, memang kami belum membutuhkannya saat ini. Lebih baik kau minum madu itu sekarang, itu sangat bagus untuk menambahkan tenagamu… Kau juga Rina!”
Aku menyuruh mereka berdua untuk meminum madu itu, karena aku sudah melihat mereka berdua kelelahan. Walaupun Miyuki terlihat biasa saja, tapi aku dapat melihat kakinya yang sedikit bergetar saat berjalan.
“Kau mau menggunakan ini Mar?”
Maul memberikan krim panas kepadaku.
“Iya… Terima kasih.”
Aku pun mengoleskan krim itu di sekitar betis dan pundakku agar tidak kaku. Aku melihat Miyuki yang dari tadi melihat apa saja yang aku lakukan.
“Kau mau pakai juga?”
Aku menawarkan krim panas itu kepadanya.
“Apakah itu perlu?”
“Aku rasa itu perlu untuk kalian berdua, oleskan saja di bagian kaki kalian.”
Aku pun memberikan krim panas itu kepada mereka.
Kami pun melanjutkan perjalanan kami menuju ke sunrise camp setelah yang lainnya selesai
beristirahat. Kali ini, aku dan Maul yang berada di belakang untuk memastikan kalau tidak ada yang tertinggal dari rombongan, sedangkan Riki berada di paling depan untuk memandu jalan.
__ADS_1
Selama di perjalanan, aku melihat wajah Maul yang selalu cemberut, hal itu pun membuatku penasaran.
“Kau kenapa?”
“Aku iri sekali kepadamu.”
“Iri? Apa yang membuatmu iri.”
“Bagaimana aku tidak iri kalau ada temanmu yang disukai oleh wanita cantik.”
“Hahahahaha…”
Mendengar hal itu membuatku tertawa, ternyata hal itu yang membuatnya cemberut dari tadi.
“Mengapa kau tertawa.”
“Habisnya aku tidak menyangka kalau kau akan cemburu hanya karena hal seperti itu.”
Merepotkan sekali, inilah mengapa aku malas jika harus pergi bersama mereka berdua.
“Bagaimana kau melakukan itu?”
“Hah?”
“Bagaimana caranya kau bisa membuat Rina dan Miyuki dekat denganmu?”
Maul terlihat ingin tau sekali dengan hal itu.
“Apa yang aku lakukan ya?”
Maul menungguku dengan sangat penasaran, aku dapat melihat rasa penasaran itu dari matanya.
Kalau ditanya seperti itu, sebenarnya aku bingung juga. Aku tidak tau hal spesial apa yang telah aku lakukan kepada Miyuki dan Rina hingga dia bisa dekat denganku. Kalau kasusnya Rina, aku hanya menolongnya ketika dia ingin terkena bola dan kami teman sekelas ketika SMP. Kalau Miyuki, aku hanya menyelesaikan masalahnya dia dengan teman-temannya, tapi aku rasa hal itu bukanlah sesuatu yang berkesan hingga membuat mereka menjadi dekat denganku.
“Sepertinya aku tidak melakukan apa pun, aku tidak pernah melakukan sesuatu yang berbeda dari biasa. Aku hanya melakukan apa pun seperti biasanya.”
“Benarkah itu?”
“Tentu saja, lagi pula apakah kau dapat membayangkan orang sepertiku mengeluarkan tenaga lebih hanya untuk
mendapatkan perhatian dari perempuan. Itu adalah hal yang konyol. Banyak hal yang lebih berguna dibandingkan hal itu.”
“Aku salut melihat pendirianmu itu, andai saja aku memiliki pendirian seperti itu juga.”
Maul memuji idealisme yang aku punya. Jarang sekali ada orang yang memuji idealismeku. Lebih banyak orang yang mengatakan idealismeku ini adalah hal bodoh saja.
“Bagaimana ya… Aku sendiri juga tidak tau harus berkata apa. Aku sendiri awalnya juga tidak memiliki
idealisme seperti ini. Tapi karena sesuatu yang terjadi ketika di sekolah dasar yang membuatku jadi seperti ini.”
“Apa itu?”
“Itu rahasia.”
Tidak mungkin kan aku menceritakan masa laluku kepadanya. Walaupun Maul adalah teman baikku, tapi aku
bukanlah orang yang dapat dengan mudah menceritakan hal itu kepadanya. Lagi pula aku juga tidak mau mengingat kejadian itu lagi.
“Apaan itu, Kalau kau tidak ingin memberitahuku seharusnya kau tidak perlu mengatakannya tadi. Kau membuat
rasa ingin tahuku menjadi bangkit.”
Maul terlihat kecewa karena aku tidak memberitahukan apa yang terjadi di masa lalu.
“Bagaimana? Apa rasa cemburumu sudah hilang?”
“…Hei! Ternyata itu alasanmu berkata seperti itu.”
Maul sedikit tersenyum dan akhirnya tertawa kecil setelah tau maksudku mengatakan hal itu.
Sebenarnya niat awalku membuat Maul penasaran adalah untuk mengalihkan rasa cemburunya itu. Karena Maul adalah orang yang memiliki rasa ingin tau yang sangat tinggi, dan rasa ingin tahunya itu dapat membuatnya sibuk sendiri dan mengabaikan apa pun sebelum hal itu terpenuhi. Jadi aku menggunakan hal itu untuk menghilangkan rasa cemburu yang saat ini sedang dia alami.
“Ah sial, aku semakin iri kepadamu. Apa pun yang kau lakukan selalu diluar ekspetasiku.”
“Itu mungkin karena ekspetasimu terlalu rendah.”
“Mungkin kau benar.”
Sepertinya aku harus mengatakan hal ini kepadanya.
“Asal kau tau Mul, untuk saat ini aku tidak ada niatan sama sekali untuk berpacaran dengan siapa pun. Ada banyak hal yang ingin aku raih dan aku tidak mau hal seperti pacaran itu menggangguku dalam meraih hal tersebut.”
“Bukankah kalau kau memiliki pacar akan lebih bagus, jadi ada seseorang yang mendukungmu untuk meraih hal yang ingin kau raih itu.”
“Memang benar, tapi menurutku lebih baik aku sendiri terlebih dahulu.”
Pemikiran Maul tidaklah salah, memang ada orang yang mendukungmu untuk meraih sesuatu terlihat lebih bagus dan indah. Tapi saat ini yang ada di pikiranku hanyalah hal merepotkan saja yang akan muncul jika aku memiliki pacar.
“Tapi aku rasa kalau kau berpacaran dengan Rina, semua akan baik-baik saja.”
“…Entahlah, aku lebih menyukai hubunganku dengan Rina yang seperti ini.”
“Kenapa?”
“Menurutku itu lebih baik saja.”
Maul terlihat bingung dengan apa yang aku katakan dan dia pun menyerah untuk memikirkan hal itu.
Akhirnya setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang dengan banyaknya istirahat yang mungkin sudah tidak terhitung lagi, kami pun sampai sunrise camp sekitar pukul dua siang. Keadaan di sana tidak begitu ramai pendaki dan cuaca pun sangat cerah tanpa kabut yang menghalangi. Biasanya yang menjadi permasalahan jika kita saat sedang mendaki di Gunung Prau adalah kabut yang membuat kita tidak bisa melihat pemandangan dari sunrise camp.
“Indahnya..!”
Mata Miyuki dan Rina terlihat takjub melihat pemandangan yang ada dihadapan mereka begitu juga dengan Kirana.
Itu wajar saja jika kalian baru pertama kali mendaki. Karena saat ini tidak ada kabut, kami dapat dengan jelas melihat pemandangan gunung-gunung yang menjadi landmark dari gunung ini.
Akhirnya sampai juga, setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang dan banyaknya istirahat karena kami sedang membawa para gadis, tapi akhirnya kami pun sampai. Semoga saja cuacanya cerah hingga malam nanti.
__ADS_1
-End Chapter 23-