Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 95 : Akar Dari Pembicaraanku Adalah Miyuki.


__ADS_3

Saat ini aku sudah berada di salah satu kafe yang berada di mal yang berada di Jakarta Pusat untuk bertemu dengan komikus yang rencananya komiknya akan dibukukan. Ketika pulang sekolah tadi, Kak Malik mengatakan kepadaku untuk langsung pergi ke tempat ketemuannya saja, karena lokasinya yang berada di dekat sekolahku dibandingkan aku harus pergi ke kantor terlebih dahulu.


Aku pun sudah dapat melihat Kak Malik yang sedang menungguku di dalam sana, dia melambaikan tangannya kepadaku agar aku dapat melihatnya dengan jelas. Aku pun segera menghampirinya.


“Apa kakak sudah lama di sini?”


“Aku baru saja sampai di sini.”


Kak Malik meminum minuman yang sudah ada di atas mejanya.


“Kalau begitu aku ingin memesan minuman terlebih dahulu.”


Aku menaruh tasku di bangku yang berada di samping Kak Malik dan pergi ke kasir untuk memesan minuman di sana.


Saat aku melihat harga yang tercantum di sana, semua minuman terlihat sangat mahal sekali. Itu tentu saja, karena ini adalah mal besar dan terletak di kawasan Jakarta Pusat yang menjadi pusat dari kota Jakarta. Mana uang bayaranku baru turun dua minggu lagi, tapi setidaknya aku masih ada uang jajan bulanan dari orang tuaku yang


bisa aku gunakan.


Setelah memesan minuman dan juga makanan, aku langsung kembali ke tempat dudukku.


“Apa kau sudah memesan minumannya Mar?”


“Sudah.”


Aku pun duduk dan bersandar di kursi itu untuk mengistirahatkan pundakku yang pegal karena harus berdiri saat berada di bis tadi.


“Kau bersantai saja terlebih dahulu, lagi pula komikusnya masih berada di jalan.”


“Kenapa kita tidak ketemuan di kantor saja?”


“Jarak mal ini kan tidak terlalu jauh dari sekolahmu. Kalau kita ketemu di kantor, kau sama saja harus bolak-balik saat ke sini.”


“Benar juga.”


Tapi apa ada sesuatu yang harus aku lakukan saat di kantor?


Kalau masalah pekerjaanku, setiap hari kepala divisi editor selalu mengirimkannya lewat email dan aku bisa membacanya ketika sampai di rumah. Saat ini Maul juga tidak ada di kantor, jadi aku tidak ada teman untuk aku ajak pergi ke atap. Kalau aku mengajak Natasha, takutnya dia memiliki pekerjaan yang harus dia lakukan.


“Bagaimana dengan sekolahmu Mar?”


Tanya Kak Malik kepadaku.


“Biasa saja, tidak ada sesuatu yang menarik.”


“Aku sangat berterima kasih kepadamu karena sudah menemaniku hari ini. Padahal kau sendiri adalah atasanku, tapi aku bisa menyuruhmu seperti ini.”


Kak Malik merasa tidak enak kepadaku.


“Tenang saja, aku juga ingin belajar sesuatu di sini.”


“Hari ini juga banyak karyawan yang membicarakan kau dan Maul saat di kantor. Karena banyak karyawan yang baru tau tentang kalian berdua sejak pesta waktu itu.”


Aku yakin dari mereka ada beberapa yang membicarakan hal buruk kepadaku dan juga Maul yang memiliki hubungan dekat dengan Pak Hari.


“Apa yang mereka bicarakan?”


“Banyak dari mereka yang memuji kerja keras dari kalian berdua.”


“Apa di antara mereka ada yang mengatakan sesuatu yang buruk tentang kami?”


Kak Malik diam dan tidak mengatakan apapun.


Aku tau kalau dia mencoba untuk tidak membicarakan itu.


“Kau tidak perlu khawatir untuk mengatakannya, aku tidak akan melakukan apa-apa kepada mereka. Aku juga memaklumi mereka jika mereka mengatakan hal itu.”


Karena mereka pasti tidak pernah melihat seseorang yang lebih muda dari mereka menjadi atasan mereka. Tentu ada beberapa dari mereka yang tidak terima akan hal itu. Aku sudah dapat memakluminya, itulah kenapa aku tidak mau Pak Hari membicarakan jabatanku kepada karyawan yang lain. Biar beberapa orang saja yang mengetahui hal itu.


“Hanya beberapa orang saja yang berkata buruk tentang kalian.”


“Oh begitu.”


“Untuk anak seumuranmu, kau terlihat sangat tenang dibandingkan dengan apa yang aku pikirkan.”


Kak Malik menatapku sedikit heran kemudian menjadi biasa kembali.


“Memangnya apa yang Kak Malik pikirkan?”


“Karena kau masih muda, jadi aku berpikir kalau kau akan marah dan melakukan sesuatu kepada orang-orang itu, atau setidaknya kau hanya marah saja kepada mereka.”


“Aku tidak begitu suka membuang-buang emosiku untuk sesuatu yang menurutku tidak berguna seperti itu.”


“Hahahahahaha...”


Kak Malik tiba-tiba tertawa yang membuatku sedikit bingung dibuatnya.


“Apa ada sesuatu yang lucu dari perkataanku barusan?”


“Apa yang dikatakan Pak Hari tentangmu ternyata benar, walaupun umurmu masih muda tapi pemikiranmu jauh lebih matang dibandingkan anak muda lainnya.”


“Apa pemikiran seperti ini sudah termasuk matang?”

__ADS_1


“Kebanyakan anak muda seumuranmu masih tergesa-gesa dalam mengambil keputusan dan emosinya juga masih belum stabil. Makanya anak muda sepertimu terbilang aneh.”


Aku rasa Maul juga hampir sama denganku. Malahan dibandingkan denganku, aku sama sekali belum pernah melihat Maul marah di depanku. Apa aku hanya tidak ingat saja kalau Maul pernah marah?


Aku tidak menganggap kemarahan Maul kepadaku saat di Kepulauan Seribu itu adalah marah yang sedang Kak Malik bahas di sini, karena menurutku itu tidak terlihat seperti orang yang marah.


Pesananku akhirnya datang.


“Ini pesanannya.”


Pelayan itu menaruh secangkir kopi dan juga dua buah gelas kecil yang berisikan gula cair dan juga susu.


Ini pertama kalinya aku mendapatkan gula dan susu secara terpisah seperti ini.


“Mohon maaf, untuk makanannya nanti menyusul.”


“Baik.”


“Memangnya apa yang kau pesan Mar?”


“Aku hanya memesan kentang goreng.”


“Oh.”


“Jadi apa yang akan kita bahas kali ini?”


Aku pun mencampurkan sedikit gula ke dalam kopiku karena aku tidak begitu menyukai sesuatu yang pahit tapi aku juga tidak terlalu suka manis.


“Hari ini kita hanya akan membicarakan masalah kontrak antara perusahaan dan komikus dalam masalah pembukuan.”


Kak Malik mengeluarkan sebuah map dan ditaruhnya di atas meja.


“Bisa kau jelaskan tentang hal itu kepadaku.”


“Jadi untuk kontrak pembukuan, perusahaan sudah membuat dua pilihan kepada komikus nantinya. Pertama adalah hak cipta dari komiknya kita beli dan yang kedua adalah bagi hasil dari hasil penjualan komiknya saja.”


Hmmm... Sepertinya Pak Hari hanya melakukan rapat untuk membahas itu dengan bagian keuangan saja. Karena aku sama sekali tidak mengingat pernah membicarakan hal itu ketika rapat.


“Dari kedua pilihan itu, mana kontrak yang bisa mendapatkan penghasilan lebih banyak?”


“Kalau dibeli hak ciptanya, komikus akan dibayar dimuka sesuai harga yang sudah disepakati oleh kedua belah pihak dan jumlahnya cukup besar. Sedangkan kalau pembagian penjualan, mereka hanya akan mendapatkan penghasilan jika komik mereka laku saja, semakin banyak orang membeli komik mereka maka semakin banyak juga bayaran yang mereka dapatkan.”


“Ini sulit sekali.”


Karena dari kedua pilihan itu memiliki keuntungan masing-masing.


“Kenapa sulit?”


“Kalau seandainya komik mereka banyak dikenal orang dan jika dipasarkan, lebih baik memilih bagi hasil. Tapi kalau mereka tidak yakin dengan penjualan komik mereka lebih baik dijual saja hak ciptanya.”


Aku lupa kalau komik yang dibukukan kali ini semuanya adalah komik yang memiliki rating tinggi di aplikasi. Tentu saja semua komikus akan memilih bagi hasil untuk hal ini.


“Tapi apakah ini menguntungkan kita?”


Karena di lain sini aku juga masih kurang yakin apakah cara ini akan berhasil atau tidak mengingat alasan kenapa perusahaannya Pak Hari bangkrut.


“Aku baru saja melihat ulasan dari para pembaca soal masalah ini dan banyak dari mereka yang tidak keberatan jika komiknya dibukukan.”


“Alasannya?”


“Banyak dari mereka yang mau mengoleksi komik itu dan juga ada yang lebih suka membacanya dalam bentuk buku. Ada juga yang ulasan dari seseorang yang memiliki sebuah kafe yang di dalamnya banyak sekali komik, dia sangat senang jika ada komik-komik dari komikus Indonesia yang menghiasi rak buku di kafenya itu.”


Ternyata orang yang memiliki pemikiran seperti Miyuki tidak sedikit.


“Syukurlah kalau memang seperti itu.”


“Dari dulu aku ingin bertanya ini kepada kau dan juga Maul tapi tidak pernah mendapatkan waktu yang pas.”


“Apa itu?”


Semoga tidak membahas masalah pacar atau apapun itu.


“Apa ketika membangun perusahaan ini cukup sulit?”


Akhirnya pertanyaan yang biasa-biasa saja.


“Begitulah, aku bahkan tidak pernah memiliki waktu tidur yang cukup.”


“Bagaimana caramu mengimbangi hal itu dengan sekolah?”


“Aku selalu mengerjakan tugas-tugasku saat ada waktu kosong di sekolah dan menggunakan waktu istirahat untuk tidur di UKS.”


Aku teringat masa-masa itu. Saat itu aku baru menyadari kalau kasur UKS ternyata tidak terlalu buruk juga.


“Kau tidur di UKS?”


Kak Malik sedikit terkejut mendengar itu.


“Iya, karena hanya di UKS saja aku dapat beristirahat dengan tenang. Kalau di kelas pasti ada saja gangguan yang menggangguku.”


Seperti Miyuki... Miyuki... Dan Miyuki.

__ADS_1


“Apa guru yang di UKS tidak melarang Amar untuk melakukan itu?”


“Selama bukan jam pelajaran itu tidak masalah, jika sedang ada jam pelajaran kita harus membawa surat izin terlebih dahulu dari guru yang mengajar saat itu agar bisa menggunakan UKS.”


“Aku salut kepada kalian berdua sanggup melakukan hal itu tanpa mengganggu sekolah kalian sama sekali.”


“Itu tidak mudah melakukannya, apalagi mengingat kalau kita tidak dibayar dalam waktu yang dekat.”


Tentu saja uang dapat membuatku termotivasi saat itu.


“Lalu apa yang membuat kalian berdua termotivasi walaupun tidak dibayar?”


“Saat itu aku hanya berniat untuk membantu Pak Febri saja, tidak yang lain karena Pak Febri sudah sering memberikanku pekerjaan dan aku belum berterima kasih atas hal itu. Kalau Maul sendiri, karena dia tau kalau dia akan menjadi petinggi di perusahaan ini jika perusahaannya sudah berkembang, jadinya dia bersemangat.”


Apa yang aku katakan itu benar, awalnya aku memang melakukan hal ini karena ingin membantu Pak Febri. Aku saja tidak terlalu berharap posisi atasan di perusahaan itu, selama aku masih bisa mendapatkan pekerjaan dan bayaran di sana, itu sudah cukup buatku.


“Maul memiliki pemikiran seperti itu saat awal perusahaan ini belum berjalan?”


“Iya.”


“Dia sangat optimis sekali, tapi setidaknya dia mendapatkan apa yang dia inginkan.”


“Awalnya aku juga tidak menyangka kalau aplikasinya akan terkenal dengan mudah seperti ini.”


Karena menurutku aplikasi ini terlalu tidak wajar berkembangnya. Tapi menurut Maul aplikasi Comic Universe masih terbilang biasa dalam hal perkembangannya. Bahkan aplikasi yang ada di negara Korea dan juga Jepang dapat mencapai jutaan pengunduh dalam waktu beberapa hari saja.


“Peluang yang diambil Pak Hari sangatlah tepat, itulah yang membuat aplikasinya dapat terkenal dengan mudah... Dari mana kau mendapatkan ide untuk membuat aplikasi seperti itu?”


“Apa kau sudah mendengarnya dari Pak Hari?”


“Aku diberitahu kalau ide membuat aplikasi ini semuanya berasal darimu.”


Kalau tidak salah Pak Febri juga menyarankan hal ini kepada Pak Hari. Bahkan dia yang pertama kali mengatakannya sebelum aku menimpal kalau aku juga melihat Kichida yang membaca aplikasi serupa di ponselnya.


“Aku tidak sengaja melihat temanku membaca aplikasi serupa dari Jepang ketika di sekolah.”


“Memang temanmu itu bisa membaca tulisan Jepang? Bukannya aplikasi yang dari Jepang hanya menyediakan komik berbahasa Jepang.”


“Bukannya bisa lagi, memang itu bahasa tempat dia berasal.”


“Apa kau memiliki orang yang berasal dari Jepang?”


Kak Malik langsung bersemangat ketika membicarakan hal itu.


“Ada beberapa temanku yang berasal dari Jepang kebetulan satu sekolah denganku.”


“Apa teman-teman yang kau maksud itu adalah teman-teman yang kau bawa ketika pesta di kantor waktu itu?”


“Iya.”


“Pantas saja mereka terlihat sedikit berbeda dengan lainnya. Aku juga sempat melihat ada satu perempuan yang sangat cantik di sana, apa itu pacarmu Mar?”


Tolonglah, kenapa setiap pembicaraan berakhir seperti ini. Apapun topik yang dibahas di awal pasti akan berakhir dengan pertanyaan Miyuki adalah pacarku. Padahal saat itu perempuan ada banyak, tapi kenapa harus ke Miyuki. Mungkin kalau ke Rina aku tidak begitu terlalu mempermasalahkan ini karena dari cara memanggilnya Rina saja sudah terlihat berbeda dibandingkan dengan yang lainnya.


“Tidak ada satupun dari mereka yang menjadi pacarku.”


“Sayang sekali, padalah tidak ada salahnya berpacaran dengan perempuan cantik sepertinya. Apalagi dia berasal dari Jepang, kau bisa berlibur ke Jepang setiap saat Mar.”


“Aku tidak mau memikirkan hal itu dulu.”


“Di kantor juga banyak karyawan yang mendekati Friska, bahkan ada beberapa dari mereka yang mengajak Friska untuk pergi ketika akhir pekan.”


Seperti yang aku duga dari Kak Friska, bukan hanyaku saja yang mengakui kalau dia itu cantik.


“Apa kau juga suka dengan Kak Friska?”


Kak Malik menatapku dengan sinis. Sepertinya dia ingin melihat apakah aku saingannya juga atau bukan.


“Tidak, aku hanya kagum saja kepadanya.”


“Tidak masalah kalau kau mendekati Friska. Aku yakin kalau Friska tidak begitu mementingkan umur, apalagi kau sudah memiliki uang sendiri dan jabatan yang bagus di perusahaan, pasti dia mau.”


Jangan menyerah seperti itu Kak Malik. Kau pasti juga suka dengannya tapi tidak mau bersaing dengan orang-orang sepertiku dan Maul, jadi kau mencobaku untuk membuka semuanya di sini. Itu tidak buruk, aku suka caramu membuatku berbicara.


“Daripada kau mengkhawatirkanku lebih baik kau mengkhawatirkan Pak Hari yang belum memiliki pasangan sampai sekarang.”


“Hah!? Pak Hari belum memiliki pacar?”


Dari ekspresinya aku dapat melihat kalau dia sama sekali tidak mengetahui hal itu.


Aku pun hanya menggelengkan kepalaku untuk menjawab pertanyaan Kak Malik.


Kemudian seorang lelaki datang menghampiri kami.


“Pak Malik ya?”


“Oh, silahkan duduk.”


Kak Malik langsung membenarkan posisi duduknya agar terlihat lebih sopan dan membiarkan dia duduk. Sepertinya lelaki ini adalah komikus yang sedang kita tunggu dari tadi.


Saat itu juga, pesanan makananku yang aku tunggu-tunggu akhirnya datang. Aku pun terkejut ketika melihat orang yang membawa pesanan itu, orang itu adalah Akbar dengan menggunakan baju seragam dari kafe ini.

__ADS_1


Dan lihat-lihatan antara aku dan Akbar pun terjadi.


-End Chapter 95-


__ADS_2