
Siang hari telah tiba, matahari sudah berada tepat di atas kepala kami. Walaupun saat ini kami berada di tempat yang memiliki banyak sekali pohon, tapi hawa panas masih menyengat di badan kami.
Saat ini, semua murid sedang bersiap-siap untuk mengikuti kegiatan selanjutnya yaitu mencari jejak. Setiap kelompok di suruh untuk mencari lima pos dari banyaknya pos yang tersebar di seluruh kawasan Jambore. Setiap tim mendapatkan petunjuk yang berbeda-beda untuk menemukan masing-masing posnya.
“Oi Mar, Ayo kita berbaris. Semuanya sudah pada di sana.”
Akbar memanggilku yang masih berada di dalam tenda.
“Ok.”
Aku pun keluar untuk bergabung dengan kelompokku.
Semua kelompok sudah berbaris untuk mendapatkan petunjuknya. Setiap petunjuk diberikan kepada masing masing kelompok dengan menggunakan sebuah kertas kepada mentor mereka.
“Ini petunjuk untuk kelompok kalian.”
Kak Alvin memberikan kertas petunjuk itu kepada Riki dan Riki pun langsung membukanya.
“Berjuanglah!”
Kak Alvin bergegas ingin pergi ke suatu tempat.
“Kakak mau kemana?”
“Saya mau pergi ke salah satu pos yang ada di sini untuk berjaga di sana.”
“Memangnya mentor tidak mendampingi masing-masing kelompoknya?”
Maul yang penasaran bertanya kepada Kak Avlin.
“Tidak, semua kelompok tidak ada yang didampingin oleh mentor mereka. Mereka harus berusaha untuk menyelesaikannya dengan usaha mereka sendiri.”
“Ohh begitu.”
“Kalau begitu kakak pergi dulu, berjuanglah untuk menyelesaikan semua posnya.”
Kak Alvin pun pergi meninggalkan kami.
Aku melihat ke sekelilingku dan ada beberapa kelompok yang sudah berjalan menuju ke pos tujuannya, serta ada juga kelompok yang masih memikirkan petunjuk dari kertas yang diberikan.
“Apa kalian tau maksud dari petunjuk ini?”
Riki menunjukan kertasnya kepada kami, dan di sana terdapat tiga buah gambar. Lapangan bola, danau, dan yang terakhir adalah pintu. Semua gambar itu menuju ke sebuah tempat yang berada di daerah Jambore.
“Gerbang utama.”
Aku pun langsung menjawab dengan cepat pertanyaan Riki setelah melihat petunjuknya.
“Hmmmm... Benar juga? Hebat sekali kau Mar.”
Riki melihat kertas itu dengan teliti lagi.
“Itu petunjuk yang sangat mudah, buat apa kau memujiku.”
“Hahahahahaha....”
Riki pun hanya tertawa saja, dan kami mulai berjalan menuju ke gerbang utama.
Selama di perjalanan, kami pun berbincang-bincang untuk menghilangkan penat dan bosan. Selain itu, jarak dari campsite menuju ke gerbang utama lumayan jauh. Mungkin kita harus menghabiskan waktu lima belas menit jika kita berjalan terus tanpa beristirahat.
Aku dan Riki pun berjalan paling depan untuk menunjukkan jalannya. Karena aku dan Riki adalah ketua dan wakil dalam kelompok ini.
“Apa semuanya sudah siap Mar?”
“Semuanya sudah ku persiapkan di tenda tadi, kita tinggal menunggu hasilnya saja Rik.”
“Jadi apa langkah selanjutnya?”
“Sepertinya setelah pos satu nanti, aku akan berpura-pura sakit agar bisa kembali ke campsite untuk melihat keadaan kembali.”
Aku pun sedikit memperhitungkan kembali waktu yang harus aku habiskan untuk kembali ke campsite.
“Bukankah itu terlalu cepat Mar?”
“Menurut perhitunganku, itu sudah cukup lama. Mengingat kalau perjalanan dari campsite ke gerbang utama memakan waktu yang cukup banyak, dan jika aku kembali ke campsite dengan menggunakan kendaraan, seharusnya sudah sudah cukup. Lagi pula seharusnya para OSIS sudah berada di posnya masing-masing dan campsite hanya dijaga oleh para guru saja.”
Aku pun memberitahu perhitunganku kepada Riki.
“Tapi dari mana kau tau kalau dia akan melakukan rencananya saat acara mencari jejak ini?”
“Hmmm... Karena menurut jadwal acara yang diberikan oleh Kak Alvin waktu itu, hanya saat ini saja waktu yang tepat untuk melaksanakan hal itu.”
“Alasannya?”
“Karena saat ini semua murid dan para OSIS sudah meninggalkan campsite. Selain itu para guru mungkin tidak akan sadar dengan hal ini karena guru yang berjaga di campsite hanya berada di tenda UKS dan tenda panitia. Jadi aku rasa karena itulah, waktu ini adalah waktu yang ideal untuk melaksanakan aksinya. Ditambah lagi posisi yang ideal dari sang pelaku membuat dia menjadi mudah melaksanakan aksi ini.”
“Ternyata perhitunganmu sudah sematang itu ya, sepertinya aku tidak perlu khawatir lagi tentang hal ini.”
Riki pun sedikit tersenyum dan mengangkat kedua tangannya untuk meregangkannya.
Setelah perjalanan yang cukup lama dan sangat melelahkan, akhirnya kami pun sampai di salah satu pos yang berada di gerbang utama. Di sana sudah terdapat Kak Fauzi dengan satu anggota OSIS lainnya.
“Ini petunjuk kalian di pos ini?”
Oh iya, aku lupa memberitahu apa saja yang dilakukan selama di pos. Jadi kita akan disuruh menebak sesuatu yang diberikan oleh petugas yang berada di pos tersebut.
Kak Fauzi memberikan kertas petunjuk kepada Riki.
__ADS_1
Ketika Riki membuka kertas tersebut, soal yang diberikan kali itu adalah lagu nasional dan dibawahnya terdapat sebuah gambar tank dan huruf r.
“Petunjuknya tanker... Lagu nasional dan tanker?... Apa dari kalian ada yang mengetahui sesuatu.”
Semua orang pun berpikir tentang jawaban dari petunjuk tersebut.
“Aku tidak bisa memikirkan apapun saat ini kecuali peran yang ada di dalam sebuah gim.”
Maul terlihat sudah tidak bisa memikirkan apa-apa lagi.
“Aku rasa lagu nasional yang dimaksud itu Maju Tak Gentar.”
Setelah mendengar perkataan dari Maul membuatku terpikir sebuah jawaban dari petunjuk itu.
“Alasannya apa Mar?”
Kak Fauzi bertanya alasannya kepadaku.
“Karena di dalam sebuah gim yang aku mainkan, tanker itu adalah posisi yang berada di paling depan dan menjadi perisai bagi para teman-temannya saat sedang menyerang. Selain itu seorang tanker tidak boleh mundur ketika sudah maju untuk memulai sebuah pertempuran. Mungkin seperti itu.”
“Amar benar, lagu yang dimaksud kali ini adalah Maju Tak Gentar.”
Kak Fauzi membenarkan jawabanku dan membuat semua anggota kelompokku menjadi senang karena berhasil menebaknya.
“Hebat sekali kamu Mar!”
Miyuki memujiku karena berhasil menebaknya.
Tentu saja, tebakan-tebakan ini tidaklah sulit dibandingkan semua rencana yang sudah aku buat selama ini.
“Kalian semua harus menyanyikan lagu Maju Tak Gentar terlebih dahulu untuk mendapatkan kertas petunjuk ke tempat selanjutnya.”
Kak Fauzi memberika persyaratan untuk mendapatkan kertas petunjuk selanjutnya.
Kami semua pun menyanyikan lagu Maju Tak Gentar bersama-sama secara keras dan lantang. Hanya Kichida dan Yoshida saja yang tidak begitu hafal dengan lagu tersebut, namun Kak Fauzi memaklumkan hal itu. Kak Fauzi pun memberikan kertas petunjuk itu kepada Riki.
“Maaf Kak, kepalaku sedikit pusing.”
Aku pun menghampiri Kak Fauzi untuk izin kembali ke campsite.
“Kamu tidak apa-apa Ar?”
Rina yang tidak tau kalau semua ini hanyalah rencanaku terlihat sangat khawatir sekali.
“Tenang saja, kepalaku hanya sedikit pusing saja. Mungkin karena aku terlalu banyak berpikir untuk dua petunjuk barusan, hahahahahaha...”
Aku berusaha untuk membuat Rina agar tidak khawatir.
“Ayo teman-teman, kita lanjutkan ke tempat selanjutnya. Jangan kita biarkan perjuangan Amar terbuang sia-sia.”
Riki yang sudah mengetahui rencanaku sebelumnya berusaha untuk membantuku juga.
Kak Fauzi pun berjalan mengambil motornya untuk mengantarkanku.
Riki dan yang lainnya pun mulai pergi ke tempat selanjutnya. Tepat sebelum mereka pergi, aku sempat memberikan tanda kepada Riki untuk terus melanjutkan acara mencari jejak ini.
Aku pun langsung diantarkan oleh Kak Fauzi dengan menggunakan motor ke tenda UKS yang berada di campsite.
Setelah mengantarku, Kak Fauzi langsung pergi kembali menuju ke posnya.
Aku hanya perlu menunggu beberapa menit di sini kemudian pergi ke tendaku...
Lima menit pun telah berlalu, waktunya menuju ke tendaku.
“Bu, boleh saya izin ke toilet?”
Aku meminta izin kepada guru yang bertugas di sana.
“Silahkan!”
Ketika keluar dari tenda UKS, aku pun melihat ke arah tendaku dan tidak ada satu pun guru yang berjaga di sekitar sana. Aku pun melihat posisi para guru sekarang ini, dan seperti yang aku kira sebelumnya, mereka hanya berada di tenda panitia dan tenda UKS. Aku pun langsung menuju ke toilet, kemudian berjalan memutar untuk menuju ke tendaku.
Aku bersyukur karena di sekitar campsite ku banyak sekali pohon besar yang dapat aku gunakan sebagai tempatku mengumpat jika ada guru yang mendadak keluar dari tenda mereka.
Aku pun segera masuk ke tendaku dan mengecek seluruh isi tenda, namun aku tidak menemukan sesuatu di sana. Aku pun mulai memeriksa setiap tas yang berada di sana dan aku menemukan banyak sekali barang yang tidak aku kenali di dalam tasku.
Aku langsung mengeluarkan semua barang yang tidak aku kenali tersebut, dan sebagian besar dari barang yang berada di dalam sana adalah pakaian dalam perempuan. Hal itu membuatku terkejut, aku tidak tau kalau cara yang akan dia gunakan adalah hal seperti ini.
Ini bahaya sekali, kalau sampai ada orang yang menemukan benda-benda ini berada di tasku, maka orang-orang akan berpikir yang aneh-aneh tentangku. Bahkan dampak yang ditimbulkan akan lebih parah dibandingkan rumor saat ku SMP.
Aku pun memasukan semua barang itu ke dalam sebuah kantung plastik dan mengikatnya dengan sangat kuat, lalu aku menyembunyikannya di dalam salah satu batang pohon yang berada di sana. Aku berusaha agar benda itu tidak dapat ditemukan dengan mudah.
Sepertinya kalau di sembunyikan di sini tidak akan ada yang melihat.
Setelah menyembunyikan barang itu, aku pun langsung bergegas kembali ke UKS dan bersikap seperti biasa saja. Aku pun memutuskan untuk tidur di sana, karena tidak ada yang perlu aku lakukan lagi.
Tepat pukul setengah tiga aku terbangun dari tidur siangku. Dari dalam tenda aku dapat melihat beberapa kelompok yang sudah mulai kembali ke campsite setelah menyelesaikan acara mencari jejak. Dari kejauhan juga aku melihat Riki dan yang lainnya berjalan menuju ke tenda.
“Bu, apakah saya boleh kembali ke tenda saya?”
“Bagaimana keadaanmu?”
“Setelah tidur siang tadi, keadaanku sudah membaik Bu.”
“Silahkan, kalau memang keadaanmu sudah membaik."
Setelah mendapatkan izin, aku pun langsung menghampiri Riki dan juga yang lainnya.
__ADS_1
“Kamu tidak apa-apa Ar?”
Rina langsung menghampiriku.
“Aku sudah membaik.”
“Palingan dia hanya ingin tidur siang di tenda UKS saja. Karena acara mencari jejak kan sangat melelahkan.”
Celetuk Maul dari kejauhan.
“Mungkin yang kau katakan barusan itu ada benarnya juga Mul.”
“Kamu jangan memaksakan dirimu lagi Mar.”
Yoshida ternyata juga terlihat khawatir juga.
“Iya, akan aku usahakan.”
“Aku baru tahu kalau kamu dapat sakit juga Mar.”
“Dari kemarin ucapanmu semakin menyebalkan Miyuki. Tentu saja aku dapat terkena sakit, aku ini juga manusia kau tau.”
“Oi Rik, apa hubungannya Amar dengan para perempuan yang ada di sini?”
Akbar penasaran dan bertanya kepada Riki yang berada di sampingnya.
“Terlalu rumit untuk dijelaskan.”
Riki hanya tertawa kecil ketika menjelaskan itu.
“Hmmm...”
Ketika kami sampai di tenda, Aku beserta dengan anak laki-laki yang lainnya berada di luar tenda untuk beristirahat sambil menyeduh beberapa minuman yang kami bawa.
Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari dalam tenda milik perempuan. Sontak hal itu membuat Riki, Maul, Akbar, dan Rian berlari menuju ke sana. Aku hanya mengikuti mereka saja dari belakang.
“Apa yang terjadi?”
Riki bertanya kepada mereka dari luar tenda.
“Ada beberapa barang kami yang hilang.”
Rina pun membuka tendanya dan terlihat keadaan dalam tenda yang sangat berantakan sekali. Aku melihat mereka yang sedang sibuk memerika dengan teliti tas milik mereka.
“Kita harus segera melaporkan ini kepada pengurus OSIS.”
“Aku setuju denganmu Bar.”
Riki dan Akbar pun langsung menuju ke tenda panitia untuk melaporkan hal ini.
“Memangnya apa yang hilang Rina?”
Rian bertanya kepada Rina yang masih sibuk mencari barang-barangnya.
Rina tidak menjawabnya dan wajahnya menjadi memerah, dia terlihat malu untuk membicarakan hal itu.
“Aku sudah tau apa itu.”
Maul sudah dapat mengetahui apa yang hilang dari mereka dengan membaca ekspresi dari Rina.
“Benarkah? Memangnya apa yang hilang Mul?”
Rian yang polos tidak dapat mengetahui apapun dari sikapnya Rina.
“Kau tidak perlu tau tentang hal itu Yan. Itu hanya akan mengacaukan imajinasi untuk anak polos sepertimu.”
Rian langsung mendadak malu setelah mencerna perkataan Maul. Maul langsung melihat ke arahku dan melihatku dengan sangat serius sekali.
“Ada apa?”
Aku menegurnya karena aku tidak suka dengan tatapannya itu.
“Kau tau Mar, hanya kau satu-satunya tersangka di sini?”
Mendengar hal itu membuat semuanya yang berada di sana langsung melihat ke arah Amar.
“Alasannya?”
“Karena ketika kami tidak berada di sini, hanya kau saja yang berada di sini.”
Alasan yang Maul berikan cukup masuk akal.
“Aku bukanlah orang mesum yang mau melakukan hal seburuk itu. Lagi pula buat apa aku harus mencuri hal semacam itu.”
“Kau jangan menuduh Ar yang tidak-tidak Mul, dia bukanlah orang yang mau melakukan hal seperti ini. Benarkan itu Ar?”
Walaupun dalam keadaan seperti ini dan alasan yang masuk akan dari Maul, Rina masih saja menaruh kepercayaannya kepadaku.
“Aku tidak menuduhnya, tapi bisa saja ada orang lain yang menggunakan alasan seperti ini untuk menuduh Amar juga.”
Aku paham apa yang dikatakan oleh Maul. Karena Maul sudah tau kondisiku sekarang ini, maka tidak mungkin dia menuduhku yang tidak-tidak. Semua yang dia lakukan barusan hanyalah memberikanku peringatan dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Tidak mungkin! Masa ada orang yang mau menuduh Amar di saat seperti ini?”
Rina terlihat tidak percaya dengan hal itu.
“Tenang saja kalian semua, untuk saat ini lebih baik kita menyerahkannya kepada panitia terlebih dahulu.”
__ADS_1
Aku pun merasakan sebuah firasat kalau selanjutnya akan terjadi sesuatu yang sangat merepotkan. Aku dapat merasakan itu dengan sangat jelas sekali, sudah lama aku tidak merasakan hal seperti ini.
-End Chapter 43-