
“Sudah berapa lama kau berada di sana?”
Aku menyapa Riki yang berjalan menghampiriku.
“Aku hanya mendengar pembicaraan terakhir kalian saja.”
“Sedang apa kau di sini? Bukankah seharusnya kau bersama dengan yang lainnya untuk menyaksikan pertunjukan itu?”
“Aku hanya sedang mencari angin saja.”
“Bagaimana acaranya?”
“Akbar yang mengambil alih semuanya, jadi aku dapat pergi dengan mudah seperti ini.”
Riki pun sekarang berada di sampingku dan kami melihat ke arah keramaian yang di isi oleh canda dan tawa dari para murid-murid yang sedang mengikuti acara itu.
“Sudah berapa orang yang bertanya kepadamu tentang tersangka dari masalah pencurian ini?”
Riki mengetahui dengan jelas tujuan Kak Fauzi mengajakku berbicara empat mata.
“Mungkin sudah tiga orang termasuk Maul. Apa kamu mau bertanya hal serupa juga Rik?”
“Hahahaha... Tidak mungkin, lagi pula aku sudah mengetahui siapa kira-kira orang yang melakukan hal ini.”
Riki tertawa kecil dan dia melirik ke arahku.
“Hee... Jadi siapa orangnya menurutmu?”
“Semenjak kejadian penggeledahan tas itu, entah kenapa aku berpikir kalau Kak Deni adalah orang yang melakukan hal ini. Bagaimana menurutmu?”
Ternyata dugaan Riki tidaklah berbeda dengan yang lainnya.
“Kak Deni memang memiliki presentase terbesar untuk dijadikan tersangka dalam hal ini, tapi aku tidak mau terburu-buru. Lagi pula aku sudah mengetahui siapa saja pelaku dari masalah ini.”
“Jadi menurutmu yang melakukan hal ini bukan satu orang saja?”
“Begitulah...”
Riki tersenyum lagi mendengar perkataanku.
“Lalu bagaimana caranya kau menyelesaikan hal ini? Tidak mungkin kan kalau kau membirakan masalah ini hingga acara LDKS selesai.”
“Tentu saja, itu akan sangat merepotkan nantinya. Apalagi jika hal ini sampai terdengar oleh kakak kelas dan guru yang lainnya.”
“Jadi rencanamu?”
“Mungkin aku akan menyelesaikan hal ini ketika sedang acara jurit malam.”
“Alasannya?”
Riki menjadi tertarik dan penasaran dengan rencanaku.
“Menurut informasi yang aku dapatkan dari Kak Alvin, Kak Deni akan berada di pos empat seorang diri dan tantangan yang diberikan adalah menyuruh ketua dari suatu kelompok mengambil keputusan antara menukar salah satu anggota kelompoknya dengan lilin atau tidak. Karena saat di pos lima nanti, kita akan diberikan sebuah kertas yang berisi sebuah soal dan kita harus menjawabnya.”
“Apa kau yakin kalau informasi itu benar? Bisa jadi informasi yang diberikan oleh Kak Alvin itu adalah tipuan untukmu.”
Heee... Tidak buruk juga Rik, memang seperti itulah yang seharusnya kau lakukan jika mendapatkan informasi dari orang yang belum kau percaya. Harus selalu berhati-hati.
“Sebenarnya juga aku tidak begitu yakin dengan informasi itu. Kita hanya bisa memastikan kebenaran dari informasi itu ketika acara jurit malamnya berlangsung.”
“Aku rasa itu memang seperti itu.”
Riki pun setuju denganku.
“Tapi kalau seandainya informasi yang diberikan itu adalah benar. Aku akan menukarkan diriku dengan lilin. Aku ingin membuat suasana dimana aku hanya berdua saja dengan Kak Deni. Aku akan menyelesaikannya di sana... Lagi pula Kak Alvin juga tidak memiliki alasan untuk memberikan informasi bohong kepadaku.”
“Baiklah kalau begitu, tapi bagaimana kalau yang lainnya menolak itu. Pasti mereka semua sudah tau kalau tujuan dari pos empat ini adalah rasa solidaritas yang dimiliki oleh masing-masing anggotanya, pasti mereka tidak akan terima begitu saja jika kau ditukarkan dengan lilin. Apalagi Rina, aku rasa dia akan menjadi orang yang paling menentang hal ini.”
Pendapat Riki cukup masuk akal. Mereka pasti akan menolak keputusan yang telah kubuat itu. Apalagi mereka semua sama sekali tidak tau apa yang ingin aku lakukan dengan menukarkan diriku itu.
“Kalau itu aku serahkan semuanya kepadamu. Lakukanlah seperti saat sedang acara mencari jejak Rik.”
“Sebenarnya aku bisa saja... Tapi sepertinya jika aku melakukannya seorang diri, akan sangat menyulitkan.”
“Tenang saja, kita masih memiliki Maul di sini. Aku yakin dia pasti akan membantumu untuk meyakinkan yang lainnya.”
“Memangnya Maul tau tentang hal ini?”
Oh iya, aku lupa memberitahu kepada Riki kalau Maul juga ikut andil dalam semua rencanaku.
“Aku kira kau sudah tau... Maul sudah mengetahui hal ini dan aku juga sudah meminta bantuan dari Maul sebelumnya.”
“Kalau seperti itu, aku sangat terbantu... Ngomong-ngomong dimana kau menyimpan barang-barang hasil curian itu?”
“Aku menyimpannya di salah satu pohon yang berada di sana.”
Aku menunjuk ke tempat aku menyimpan barang-barang itu.
“Lalu apa yang akan kau lakukan dengan barang-barang itu. Tidak mungkin kan kau memberitahu lokasinya kepada kakak-kakak OSIS. Itu hanya akan membuatmu dituduh kembali.”
Riki memperingatiku kembali.
“Tidak mungkinlah, pada saat itu aku akan menyuruh seseorang untuk mengambilnya.”
“Siapa orangnya?”
Yaa...
__ADS_1
***
“Ada apa memanggilku Ar?”
Ini dia, orang yang aku percayai untuk mengambil barang-barang itu.
“Aku ingin meminta bantuanmu. Apa kau tidak keberatan?”
“...Apa ini tentang masalah pencurian itu?”
Rina pun terlihat murung ketika mengetahui kalau aku ingin membicarakan tentang hal itu.
“Iya.”
“Hei Ar, katakan padaku. Bukan kamu kan yang melakukan pencurian itu Ar? Aku tidak percaya kalau kau melakukan hal semacam itu.”
“Tentu saja, aku bukan orang yang melakukan hal ini. Lagi pula buat apa juga aku harus melakukan hal seperti itu.”
“Kenapa kamu tidak melakukan pembelaan saja ketika ditanya Kak Alvin Ar?”
Pembelaan.. Pembelaan.. Pembelaan, apakah hal itu sangat penting sekali sampai-sampai semua orang harus mengingatkanku.
“Itu tidak akan berpengaruh banyak di saat seperti itu. Seperti yang aku katakan sebelumnya, kalau pembelaannya tidak meyakinkan maka aku akan semakin dituduh sebagai pelakunya. Sedangkan kalau pembelaannya meyakinkanpun, mereka semua pasti masih meragukanku.”
“Aku akan membantumu untuk meyakinkan semua orang kalau kamu bukanlah pelakunya Ar.”
“Apakah itu akan berhasil?”
Rina pun terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan dariku. Tentu saja hal itu tidak akan berhasil, posisi Rina di SMK Sawah Besar tidaklah seperti saat dia berada di SMP Cibubur. Jadi, tidak mungkin akan banyak orang yang mendengarkan perkataan dari Rina.
“Lagi pula, aku tidak mau melibatkanmu ke masalah yang berhubungan denganku.”
Karena itu akan sangat merepotkan sekali untukmu.
“Kamu sudah banyak membantuku Ar, jadi kali ini biarkan aku membantumu. Walaupun tidak banyak yang bisa aku lakukan, tapi aku akan melakukannya sebisaku.”
“Terima kasih telah peduli denganku.”
Aku pun tersenyum menjawabnya. Aku tidak menyangka kalau banyak sekali yang peduli denganku. Padahal aku merasa kalau aku tidak pernah melakukan sesuatu dengan niat menolong orang lain. Semua yang aku lakukan itu semata-mata hanya untuk kepentinganku sendiri saja. Tapi kenapa banyak orang yang tertolong dari apa yang aku lakukan... Itu sangat aneh.
“Jadi apa yang aku harus lakukan Ar?”
“Kau harus berakting di sini!”
“Akting?”
Rina terlihat bingung dan tidak begitu mengerti dengan apa yang harus dia lakukan.
“Nanti ketika di pos empat, aku akan menukarkan diriku dengan sebuah lilin untuk digunakan oleh kolompok kita di pos lima nanti. Kamu bersikaplah seperti biasa.”
“Itu rahasia perusahaan... Pokoknya ketika di pos empat nanti kamu bersikaplah seperti biasa dengan mencoba menahanku agar tidak ditukar dengan sebuah lilin. Semakin bagus akting yang kau lakukan, maka akan semakin besar tingkat keberhasilan untuk menyelesaikan masalahku ini.”
“Kamu ini Ar! Masih saja main rahasia-rahasiaan denganku.”
Rina cemberut karena tidak aku beritahu dari mana aku mendapatkan informasi itu.
“Hehehe... Aku mendapatkannya ketika sedang jalan-jalan sore bersama Kak Alvin. Dia sendiri yang memberitahukannya kepadaku.”
“Apa yang kamu tukar dengan informasi itu? Tidak mungkin Kak Alvin memberitahumu secara cuma-cuma. Pasti kamu menjanjikan sesuatu kepadanya.”
Hebat sekali Rina, aku kagum kepadamu sekarang.
“Aku menjanjikannya untuk mengungkap siapa dalang dibalik pencurian ini.”
“Kamu sudah tau siapa dalangnya Ar?!”
Rina terkejut setelah mendengar perkataan dariku.
“Itu masih dugaanku saja, belum sepenuhnya benar. Tapi ada beberapa orang yang aku curigai untuk menjadi dalang dari pencurian ini.”
“Bukankah kalau begitu sebaiknya kamu langsung melaporkan hal ini ke Kak Alvin saja kalau sudah mengetahuinya. Cara yang kamu lakukan terlalu rumit Ar.”
“Rina, biarkan aku beritahu satu hal kepadamu... Tidak semuanya yang bersifat instan itu baik... Lagi pula aku membutuhkan satu cara lagi untuk menyelesaikan hal ini.”
“Memangnya ada apa dengan rencana yang selama ini kamu buat Ar? Apa itu masih kurang menurutmu?”
“Sebenarnya aku bisa saja mengungkapkan siapa dalang dari pencurian ini saat tasku sedang digeledah. Tapi aku ingin melakukan dengan cara yang berbeda dari biasanya.”
“Maksudnya?”
Rina makin bingung dengan perkataan yang aku katakan.
“Selama ini, aku selalu memikirkan sebuah penyelesaian masalah sebagaimana enaknya aku saja. Selama aku keluar dari masalah itu, itu sudah cukup menurutku. Sering kali aku mengabaikan bagaimana perasaan orang yang terkena dampak dari rencanaku itu, dan sering sekali aku menambah musuh gara-gara itu.”
Aku belajar dari kejadian Takeshi. Aku tidak mau menambah musuh baru dikehidupan sekolahku yang baru ini. Sebisa mungkin aku ingin kehidupanku biasa-biasa saja. Karena menambah musuh itu sangatlah merepotkan.
“Itulah mengapa aku memutuskan untuk menyelesaikan masalah ini secara empat mata dengan pelakunya.”
“Tapi kenapa saat acara jurit malam? Kenapa tidak sekarang saja?”
“Karena waktu yang pas untuk membiarkan kami berdua hanyalah ketika jurit malam. Soalnya saat itu tidak akan ada yang mengganggu kami berdua.”
“Lalu bagaimana rencanamu Ar? Apakah kamu akan menyuruh pelakunya itu mengaku dan mengembalikan barang-barang kami.”
“Karena itulah aku meminta bantuanmu... Sebenanya yang diincar pelaku bukanlah barang-barang yang dia curi, namun dia hanya ingin membuat citraku menjadi buruh di depan orang-orang.”
“Itu buruk sekali.”
__ADS_1
Tentu saja buruk, kalau itu adalah hal baik tidak mungkin aku menghindarinya sampai seperti ini.
“Makanya dia menaruh barang-barang curiannya di tasku.”
“Hah!? Mengapa kamu tau akan hal itu Ar?”
Rina terkejut kembali setelah mendengar perkataanku.
“Akan sangat panjang kalau aku menceritakannya di sini sekarang.”
“...Berarti kamu sudah melihat apa saja yang ada di dalam sana?”
Rina bertanyaku dengan malu-malu. Dia sedikit membuang mukanya dariku dan memainkan kedua jari telunjuknya.
“Aku memang sempat melihat ada beberapa pakaian dalam perempuan di sana-”
“Dasar Amar cabul!”
Rina menyela perkataanku.
“Tapi aku langsung memasukan semuanya ke dalam sebuah kantung plastik dan mengikatnya. Kemudian aku menyembunyikannya ke dalam sebuah batang pohon yang tidak jauh dari tenda kita.”
“Kapan kamu melakukan hal itu Ar?”
“Aku melakukannya ketika kembali ke campsite saat acara mencari jejak.”
“Apa sakitmu itu pura-pura saja Ar?”
Rina pun menyadari hal itu dan aku sedikit tersenyum melihat tingkahnya. Walaupun keadaan saat ini sangat gelap, tapi aku tau kalau dia saat ini sedang terkejut sekaligus bingung.
“Iya, karena aku tau kalau pelakunya akan melaksanakan aksinya saat acara mencari jejak. Jadi aku harus segera kembali ke campsite sebelum para murid kembali. Kalau seandainya aku terlambat sedikit saja, bisa gawat nantinya.”
“Siapa saja yang mengetahui hal ini?”
“Hanya kau, Riki, dan Maul saja.”
“Aku tidak tau kenapa, tapi setiap kali kamu melakukan hal seperti ini. Aku sangat kagum sekali kepadamu, kamu bisa melakukan hal yang menurutku sangat rumit.”
Rina pun terkagum dengan apa yang aku lakukan.
“Kau bisa menyimpan rasa kagummu itu nanti setelah masalah ini benar-benar selesai... Aku memintamu untuk mencari dan memastikan kantung plastik itu saat acara kerja bakti besok. Aku sudah menandai pohonnya dengan membuat gambar lingkaran sebanyak dua buah di batangnya. Karena aku menggambar lingkarannya tidak terlalu besar, kau hanya bisa melihatnya ketika mendekati pohon itu.”
“Kenapa di saat itu Ar?”
“Sekarang aku akan memberikan pertanyaan kepadamu... Apa yang terjadi jika seandainya kau tiba-tiba menemukan kantung plastik itu selain di acara kerja bakti?”
Aku bertanya balik kepada Rina. Aku mencoba membuatnya berpikir agar dapat membuat sebuah rencana, jika seandainya dia terkena sebuah masalah juga.
“... Aku pasti akan dicurigai.”
“Tepat sekali.”
Kekagumanku kepadamu semakin bertambah Rina... Kalau seperti ini terus sepertinya aku tidak perlu membantumu lagi ketika kau mengalami masalah.
“Lalu apa yang harus aku lakukan setelah menemukan pohon yang terdapat kantung plastiknya? Lagi pula kenapa tidak kamu saja yang memberitahuku secara langsung letak tepatnya pohon itu.”
“Seharusnya kau sudah tau. Kalau aku yang menunjukkannya kepadamu dan saat itu kebetulan ada orang yang melihatnya, maka aku akan dicurigai oleh orang-orang.”
“Kamu benar juga.”
Kembalikan kekagumanku tadi!
“Setelah kau menemukan lokasi pohonnya dan plastiknya. Jangan langsung kau ambil plastiknya, biarkan saja di dalam sana. Kau langsung saja melapor kepada Kak Alvin, tapi ketika melapor pastikan kau berbicara dengannya selama empat mata.”
“Kenapa harus seperti itu.”
“Besok kau juga akan tau jawabannya.”
Aku tersenyum kepadanya.
“Moh! Kamu ini selalu membuatku penasaran saja Ar.”
“Hahahaha...”
“Lagi-lagi aku terkesan dengan rencana yang kamu buat Ar. Kamu selalu membuatnya dengan berhati-hati dan matang tanpa ada cacat sedikitpun. Kamu membuat sesuatu yang seharusnya tidak bisa dilakukan oleh anak seumuran kita menjadi bisa. Walaupun dalam nilai akademik atau prestasi aku jauh di atasmu, tapi entah kenapa aku merasa tidak dapat mengalahkanmu.”
“Kebenarannya tidak seperti itu Rina... Aku sudah sering kali membuat rencana dan hasilnya tidak seperti yang aku harapkan. Mungkin karena sudah sering kali mengalami kegagalan, jadinya aku tau apa saja yang dapat membuat rencanaku itu menjadi gagal.”
Yah... Memang benar kata orang yang mengatakan kalau kegagalan itu adalah sebuah keberhasilan yang tertunda dan pengalaman adalah guru yang terbaik.
“Untuk apa kamu melakukannya hingga seperti ini Ar?”
“...Aku hanya ingin kehidupan sekolahku menjadi tenang tanpa ada masalah apapun.”
Aku pun melihat ke arah bulan yang kala itu bersinar dengan sangat terangnya.
“Baiklah kalau begitu, aku akan berusaha semampuku.”
“Terima kasih karena mau membantuku.”
“Tenang saja, aku memang ingin sekali membantumu sekali-kali... Oh iya, kamu tidak mau memberitahu Miyuki tentang hal ini? Aku yakin dia pasti akan membantumu.”
“Semakin sedikit orang yang mengetahui ini, maka akan semakin besar juga peluang keberhasilannya Rina.”
Dan angin malam pun berhembus tidak terlalu kencang dan membuat daun kering yang berada di dahan pohon pada berjatuhan. Suara jangkring pun semakin terdengar seiring berjalannya waktu hingga larut malam.
-End Chapter 46-
__ADS_1