
Saat ini, kami semua sedang berada di kelas untuk bersiap untuk segera pergi ke gedung olahraga. Tapi sebelum itu, Kak Fauzi dan Kak Ayu pun mendata murid yang akan bertanding nantinya, karena setelah acara tur sekolah, kami akan mengadakan pertandingan olahraga.
“Jadi siapa yang mau ikut di pertandingan basket kali ini?”
Ketika Kak Fauzi mengatakan hal itu. Beberapa orang langsung mengajukan dirinya untuk mengikuti pertandingan itu.
“Oke, baru empat orang. Siapa lagi yang mau ikut? Kita butuh lima orang untuk satu tim.”
Kak Fauzi masih mencari orang lagi untuk mengikuti pertandingannya, tapi tidak ada orang yang mau mengikuti pertandingan itu lagi.
“Riki, apakah kau mau ikut pertandingan ini?”
Akhirnya Kak Fauzi pun menawarkannya kepada Riki.
“Tentu saja, aku akan ikut bermain.”
“Baiklah, kalau begitu sudah ditentukan.”
Kak Fauzi pun mencatat nama-nama anak yang mengikut pertandingan itu disebuah kertas.
“Kak Fauzi!”
Riki pun bertanya kepada Kak Fauzi.
“Iya?”
“Apakah kalau nama yang tidak tercatat di sana tidak boleh mengikuti pertandingan?”
“Tidak, saya hanya mendata untuk memberikannya kepada komentator nanti. Kalau seandainya dari kalian ada yang mau menggantikan seserorang untuk bermain silahkan saja. Tapi sebelum kalian mengganti pemain, kalian harus pergi ke meja panitia terlebih dahulu untuk menginformasikannya..”
“Seperti pertandingan untuk profesional saja.”
“Tentu saja Mar, karena di pertandingan kali ini kalian akan mendapatkan piala dan hadiahnya.”
“Masa?”
Aku sedikit terkejut ketika mendengar itu. Kalian tau, ini adalah pertandingan tidak resmi yang seharusnya tidak ada piala atau semacamnya.
“Tentu saja, sekolah ini sangat mengapresiasikan semangat dari murid-muridnya ketika sedang berkompetisi, dengan harapan kalau mereka juga akan semangat dalam mengejar prestasi-prestasi mereka.”
Sebenarnya Kak Fauzi hanya mengatakan sesuatu yang sangat bagus, tapi entah kenapa aku merasa tersinggung dengan apa yang dia katakan.
“Berapa memang hadiahnya Kak?”
Para murid mulai terlihat bersemangat ketika mendengar kalau pertandingan ini memiliki hadiah.
“Kalau itu rahasia.”
“Bagaimana Mar? Apa kau mau mengikuti pertandingannya? Ada hadiahnya loh.”
Riki berusaha untuk mengajakku untuk mengikuti pertandingannya.
“Tidak, bukankah sudah aku katakan kepadamu tadi.”
“Ayolah!”
Riki masih berusaha untuk membujukku.
“Kau ini keras kepala sekali ya... Aku akan membantu kalian dari sisi strateginya saja.”
“Benarkah!? Terima kasih Mar, walau hanya itu juga tidak masalah.”
Sekali-kali membantu mereka juga tidak masalah. Lagi pula kalau memang benar mendapatkan hadiah, seharusnya pulang sekolah nanti kami akan berpesta untuk merayakannya kalau kami menang, dengan begitu
aku tidak perlu membeli makanan untuk makan malam. Hmmmm... Sepertinya itu bisa memotong pengeluaranku untuk hari ini.
“Saya ingin bertanya lagi Kak, bagaimana dengan peraturan yang akan diterapkan nanti? Apakah sama dengan yang dipakai di kejuaraan atau ada beberapa yang dikurangi.”
Aku pun bertanya kepada Kak Fauzi untuk memastikannya. Karena hal ini sangat penting jika kau ingin menyusun strategi untuk suatu tim.
“Peraturan yang dipakai akan sama dengan yang di kejuaraan.”
Kalau begitu aku memiliki beberapa rencana untuk memenangkan pertandingan ini dengan mudah. Tapi aku tidak yakin mereka dapat mengikuti arahan yang aku berikan. Sepertinya aku akan mengandalkan Riki dan Akbar yang kebetulan ikut juga dalam pertandingan ini.
“Kalian akan bermain di pertandingan terakhir di sesi pertama. Sistem yang digunakan kali ini adalah sistem gugur, jadi kalau kalian sudah kalah di satu pertandingan kalian tidak dapat melanjutkannya lagi. Dan lawan pertama kalian adalah kelas sepuluh RPL A. Pertandingan akan dibagi menjadi dua babak, satu babaknya akan berlangsung selama sepuluh menit dan lima menit untuk istirahat.”
Kak Fauzi menjelaskan sistem pertandingan dan jadwal kami bermain.
“RPL A? Bukankah itu kelasnya Maul. Apakah Maul akan ikut bertanding nanti?”
“Aku rasa dia tidak akan main Rik.”
Tentu saja, orang seperti Maul yang tidak begitu suka dengan olahraga. Mana mungkin dia akan ikut pertandingan seperti ini.
“Kalau begitu untuk kalian yang nantinya akan bertanding segera mengganti baju kalian dengan baju olahraga dan segera pergi ke gedung olahraga. Sedangkan yang lainnya silahkan dukung teman-teman kalian yang sedang bertanding.”
“Untuk kalian yang tidak ikut bertanding bisa ikut bersama kakak. Kita akan melihat pertandingannya dari tribun.”
Kak Ayu pun pergi bersama murid-murid yang tidak ikut pertandingannya.
“Kalau begitu aku juga pergi.”
“Kau tetap ikut kami Mar.”
Riki pun menghentikanku ketika aku ingin ikut dengan Kak Ayu.
“Kenapa? Kan aku tidak ikut bertanding, buat apa aku harus ikut denganmu turun ke lapangan.”
“Kak Fauzi? Bisakah kita memasukan Amar menjadi cadangan.”
“Tentu saja Riki.”
“Kalau begitu Amar akan menjadi cadangan.”
Riki pun membuat keputusan yang sangat menyusahkanku dan Kak Fauzi langsung menulis namaku di kertas.
“Tapi kau ingat, aku tidak akan bermain. Aku hanya membantu kalian dari segi strategi aja ya.”
“Oke.”
Riki pun tersenyum ketika menjawab itu, sepertinya dia memiliki rencana lain dibalik semua ini.
Kami pun langsung menuju ke gedung olahraga. Ketika masuk ke lapangan indoor, aku sudah melihat banyak sekali orang yang memenuhi tribun yang mengelilingi lapangan. Selain itu ada beberapa kelas yang melakukan pemanasan di tengah lapangan.
Mataku pun tertuju kepada Takeshi yang sedang mendribel bola di tengah lapangan. Kami pun langsung menuju ke sebuah bangku kosong yang sudah disediakan untuk kelasku.
“Siapa yang bermain di pertandingan pertama Kak?”
Aku bertanya kepada Kak Fauzi yang sedang menyiapkan sesuatu dengan kertasnya.
“Kalau tidak salah kelas sepuluh Farmasi A dan sepuluh Multimedia B.”
“Hmmm...”
Saat itu aku selalu memperhatikan Takeshi yang sedang melakukan pemanasan di tengah lapangan. Aku baru menyadari kalau Takeshi sebenarnya memiliki banyak sekali keahlinya. Sayang saja dia terlalu sombong untuk memamerkan keahliannya itu, jika saja dia memiliki sifat yang tidak jauh berbeda dengan Riki sepertinya kami bisa berteman baik.
Akhirnya pertandingan pertama pun dimulai dengan sorak sorai dari para penonton. Setiap kelas yang bertanding juga menyanyikan yel-yelnya masing-masing.
Aku pun melihat pertandingan kedua tim itu dengan serius.
“Kau serius sekali melihat pertandingannya Mar.”
Riki yang sedang melakukan pemanasan di pinggir lapangan menegurku.
“Tentu saja, sudah lama aku tidak menonton pertandingan secara langsung akhir-akhir ini.”
“Ternyata Takeshi itu hebat juga ya, aku dengar-dengar kalau dia juga masuk ke ekskul basket.”
Hebat sekali dia bisa memilih dua ekskul sekaligus, selain itu kedua ekskul yang dia pilih olahraga semua. Apa dia tidak lelah setelah seharian belajar di kelas.
Nilai akademik yang bagus, prestasinya di bidang olahraga juga tidak bisa di bilang buruk, wajahnya juga tampan. Kenapa Miyuki menolak orang sepertinya, aku rasa dia akan terlihat serasi jika bersama dengan Takeshi.
__ADS_1
“Apa kau sudah memiliki stategi untuk pertandingan kita nanti Mar?”
“Belum, lagi pula lawan kita kali ini adalah kelasnya Maul.”
Dua puluh lima menit pun telah berlalu dan kelasnya sepuluh Farmasi A keluar menjadi juaranya dengan skor 35-24.
Pertandingan demi pertandingan pun berlalu, akhirnya sampai juga di pertandingan kelasku melawan kelasnya Maul. Kedua tim mulai memasuki lapangan dan pertandingan pun dimulai.
“Oi Ar!”
Aku pun menoleh kebelakangku dan aku melihat Rina yang memanggilku dari tribun, dia juga bersama dengan Miyuki.
“Ada apa?”
“Apa kamu akan mengikuti pertandingannya Ar?”
“Tidak, aku di sini hanya menjadi pengamat saja.”
“Aku akan mendukungmu jika kamu bermain nanti Ar.”
Dan Rina pun pergi bersama dengan Miyuki kembali ke kelasnya.
“Kau ini masih dekat saja dengan Rina ya. Sudah sejauh mana hubungan kalian?”
Kak Fauzi meledekku karena dia juga mengetahui bagaimana hubunganku dan Rina ketika berada di SMP.
“Masih biasa saja, kami hanya mantan teman sekelas saja.”
“Sayang sekali, kau sepertinya kurang sigap dalam mendekatinya Mar. Kalau kau mau, bisa saja sekarang dia menjadi pacarmu. Rina anak yang baik, pintar, dan cantik lagi. Aku rasa dia perempuan idaman semua laki-laki.”
“Dari pada mengurusi hal itu, lebih baik kita memperhatikan pertandingannya. Kelas kita sudah ketinggalan empat angka.”
Aku pun menunjuk ke arah papan skor yang berada jauh di depanku.
Padahal ketika awal pertandingan aku merasa kalau kelasku akan menang dengan mengandalkan kemampuan Riki dan Akbar, tapi aku tidak menyangka kalau kelasnya Maul juga memiliki orang-orang yang hebat dalam bermain basket juga.
Pertandingan babak pertama pun berakhir dengan skor 8-12 yang dimenangkan oleh kelasnya Maul.
“Kerja bagus!”
Kak Fauzi memberikan minum kepada para pemain yang sedang beristirahat.
“Kalian semua, tolong dengarkan aku sebentar.”
Ok, sekarang giliranku untuk membantu mereka.
“Aku tadi sudah melihat bagaimana kelas RPL A bermain tadi, kalau menurut pengamatanku kalian dapat memasuki bagian kanan dari lawan dengan mudah. Tapi aku ingin RIki tetap berada di sisi kiri untuk
mengantisipasi kalau semua pemain lawan bergerak juga ke kanan lapangan...”
Karena ini bukan pertandingan profesional, sepertinya aku tidak perlu menjelaskan posisi-posisi dalam basket secara detail kepada mereka. Kalau memang itu yang aku katakan yang ada malahan mereka akan kebingungan dengan perkataanku.
“...Aku mengandalkan sisi kanan kepadamu Bar.”
Aku pun melihat teman-temanku yang ragu dengan rencana yang aku buat. Itu tentu saja, aku tidak ikut dalam permainan ini dan tiba-tiba saja aku menyuruh mereka untuk mengikuti perintahku.
“Baiklah kalau kau sudah berkata seperti itu Mar.”
Riki pun terlihat bersemangat kembali.
“Tapi Rik-.”
“Tenanglah semuanya, kalau Amar sudah berkata seperti itu. Pasti dia sudah memikirkannya terlebih dahulu.”
“Riki benar, saran dari Amar tidak terlalu buruk menurutku.”
Berkat perkataan Riki dan Akbar membuat teman-temanku akhirnya mencoba untuk percaya dengan rencana yang aku buat.
Pertandingan babak kedua pun dimulai dan mereka pun mulai menjalankan rencana yang aku buat. Tanpa disangka-sangka ternyata rencana yang dibuat olehku dapat membalikkan keadaan dan akhirnya kelasku pun dapat memenangkan keadaan.
“Hebat sekali kau dapat membuat rencana seperti itu. Apa sebenarnya kau ini bisa bermain basket Amar? Dari pertanyaanmu ketika di kelas, sepertinya kau mengerti sekali tentang basket.”
“Tidak juga, sebenarnya menyerang ke sisi kanan itu hanyalah pancingan saja. Rencanaku hanya membuat agar Riki mendapatkan banyak ruang untuk mencetak angka.”
“Kalau begitu matamu jeli sekali ya..”
“Yaa... Aku jadi malu kalau dipuji seperti itu.”
Sejujurnya aku sendiri terkejut kalau rencanaku dapat berjalan selancar itu.
“Mar kita menang!”
Riki pun senang sekali dapat memenangkan pertandingan pertama.
“Kau ternyata hebat juga Mar.”
“Aku telah salah mengiramu.”
Begitu juga dengan Akbar dan juga yang lainnya.
“Masih terlalu cepat untuk senang sekarang, kita masih memiliki tiga kali pertandingan untuk mencapai final.”
Pertandingan demi pertandingan pun berlangsung. Kelasku pun secara perlahan memenangkan pertandingan satu demi satu.
Sepertinya aku harus sedikit mencari angin segar terlebih dahulu.
“Mau kemana kau Mar?”
Kak Fauzi bertanya kepadaku saat aku hendak pergi dari sana.
“Aku ingin keluar sebentar Kak.”
“Tapi jangan lama-lama ya, sebentar lagi pertandingan selanjutnya akan dimulai.”
“Ok.”
Aku pun pergi ke tribun untuk bertemu dengan Natasha dan juga Kichida di sana, karena ada sesuatu yang ingin aku minta kepada mereka.
Ketika aku sampai di tribun, aku pun bertemu dengan Miyuki dan juga Rina yang sepertinya mereka baru saja kembali dari kantin. Karena aku dapat melihat mereka membawa makanan di tangan mereka.
“Amar! Sedang apa kamu di sini?”
“Iya Ar? Bukankah selanjutnya kelasmu akan bermain.”
Rina dan Miyuki sedikit terkejut akan bertemu denganku ketika berada di tribun.
“Aku hanya ingin pergi ke kelasku yang ada di tribun.”
“Kamu tidak ikut bermain bermain Ar? Kamu dari tadi berada di bangku cadangan terus.”
“Kan sudah aku bilang ketika istirahat tadi. Aku akan menyerahkan hal ini kepada Riki.”
“Kita lihat saja nanti Mar, kelas mana yang akan menang kejuaraan ini.”
Miyuki menunjukku dan berkata seperti itu dengan sangat percaya diri sendiri.
Yaa... Kalau aku sempat lihat tadi, kelasnya Miyuki juga terus memenangkan pertandingan dengan mudahnya dan sekarang kelasnya Miyuki sedang menunggu lawanya di final. Siapa saja yang menang di pertandingan selanjutnya akan bertemu dengan kelasnya Miyuki di final. Sepertinya keadaan Takeshi sangat berpengaruh dalam pertandingan ini.
“Benarkah? Bagaimana jika kelasku menang?”
Aku pun memberikan tantangan kepada Miyuki.
“Aku akan mentraktirmu makan apapun yang ada di kantin.”
“OK sepakat.”
Hehehehehe.... Sepertinya pengeluaranku berkurang lagi untuk bulan ini.
“Kamu seharusnya jangan seperti itu Miyuki, kalau kamu berkata seperti itu Amar pasti akan melakukan sesuatu untuk memenangkan pertandingan.”
Rina memperingatkan Miyuki, walaupun peringatan yang diberikannya itu sudah terlambat. Kesepakatannya sudah terbentuk dan aku akan memenangkan taruhannya itu.
__ADS_1
"Tenang saja Rin, aku yakin kelas kita akan menang karena memiliki Takeshi."
"Kita lihat saja."
Setelah menyelesaikan urusanku dengan Kichida dan Natasha, aku pun langsung pergi ke mushala untuk melaksanakan shalat zuhur terlebih dahulu. Selain itu sebelum meninggalkan lapangan, aku pun melihat kelasku
yang berhasil melaju ke babak final.
Karena sebelum memasuki babak final ada ishoma, aku pun berniat untuk beristirahat terlebih dahulu di mushala. Walaupun aku tidak bermain, tapi aku cukup kelelahan karena memikirkan strategi yang bagus untuk mereka.
Ishoma pun selesai dan aku kembali ke lapangan. Ketika tiba di lapangan, aku langsung disambut oleh Riki yang sepertinya dari tadi mencariku.
“Dari mana saja kau Mar?”
“Aku habis dari mushala, memangnya ada apa?”
“Sepertinya ada beberapa pemain yang tidak sanggup jika harus bermain satu pertandingan penuh.
“Bukankah mereka baru saja istirahat, memangnya apa yang mereka lakukan ketika itu?”
“Kau tau sendiri Mar, pertandingan selanjutnya adalah final dan bukan hanya tenaga saja yang dibutuhkan di sini, mental juga perlu.”
Setelah bertanding sampai final dan kau masih berbicara tentang mental. Memangnya selama ini mereka bermain tidak menggunakan mental.
“Baiklah akan, aku usahakan.”
Kami pun langsung bergabung dengan yang lainnya.
“Teman-teman dengarkanlah aku, sekarang adalah pertandingan final dan hadiahnya sudah di depan mata. Tinggal satu langkah lagi kita akan memenangkan pertandingan ini. Setelah memenangkan untuk pertandingan ini, kita semua akan berpesta.
Aku pun memompa semangat mereka dan semuanya pun terpancing.
“Sejak kapan kau bisa memberikan semangat seperti itu.”
Riki terlihat heran dengan apa yang baru saja aku lakukan.
“Aku hanya meniru perkataan orang lain saat sedang menyemangati timnya.”
“Tapi setidaknya itu efektif.”
“Hei Rik, aku ingin kau menjaga Takeshi. Dia adalah pemain yang paling berbahaya di antara semuanya. Kalau bisa jangan berikan dia ruang bebas.”
“Siap Mar.”
Pertandingan pun dimulai dan pertandingan final antara kelas sepuluh Multimedia D dengan kelas sepuluh Farmasi A. Seluruh penonton terlihat sangat antusias sekali dari pertandingan tersebut. Walaupun ini hanyalah pertandingan amatir, tapi entah kenapa aku merasakan suasana yang sama dengan pertandingan profesional.
Pertandingan berjalan dengan sangat sengit kedua tim pun memberikan upaya terbaiknya dalam bermain di pertandingan final ini. Cetak mencetak angka pun terjadi di antara kedua tim, dan pertandingan babak pertama pun selesai. Kedudukan 14-17 dengan keunggulan ada di kelas sepuluh Farmasi A.
Aku pun melihat teman-temanku yang sangat kelelahan sekali di pertandingan pertama tadi. Tapi aku sudah mempersiapkannya.
“Semuanya, semangatlah...”
“Semangat!!!”
“Ayo kalian pasti bisa.”
Seluruh anak perempuan dari kelasku pun mendekat ke bangku cadangan dan melalui tribun mereka pun mendukung Riki dan kawan-kawannya.
Inilah yang aku lakukan tadi. Aku sudah mengetahui dengan pasti kalau teman-temanku akan kelelahan ketika mengikuti pertandingan final. Itu tentu saja karena dari pertandingan pertama hingga sekarang mereka tidak pernah melakukan pergantian pemain. Orang sekelas Takeshi yang aku bilang hebat saja, dia beberapa kali melakukan pergantian pemain.
Semangat mereka pun terpompa kembali setelah diberikan semangat oleh teman-teman mereka.
“Baiklah teman-teman, kita hanya perlu bermain seperti ini saja. Tidak perlu terburu-buru dalam mencetak angka. Pertahankan selisih angka seperti ini.”
“Mengapa seperti itu Mar?”
Akbar bertanya alasan ku menyuruh mereka seperti itu.
“Kalau kalian berusaha bermain lebih keras dibandingkan biasanya, energi kalian akan cepat terkuras dan permainan kalian akan menjadi berantakan. Lebih baik kalian mempertahankan tempo permainan kalian yang seperti ini. Selain itu... Di lima menit terakhir aku akan bermain.”
“Woahhh!!! Kalau begitu, aku akan berusaha mempertahankannya.”
Riki pun menjadi bersemangat setelah mengetahui kalau aku akan bermain.
Babak kedua pun dimulai dan mereka mulai memasuki lapangan kembali.
“Ayo Mar kita ke meja panitia untuk melakukan pergantian pemain.”
“Iya.”
Aku pun pergi bersama dengan Kak Fauzi ke meja panitia untuk bersiap melakukan pergantian pemain.
Aku pun melakukan pemanasan terlebih dahulu di pinggir lapangan dan juga mencoba untuk menenagkan diriku. Karena aku sudah lama sekali tidak berdiri di tengah lapangan dan itu membuatku sangat gugup.
Tarik nafas dalam-dalam, hembuskan secara perlahan. Jangan gugup, itu hanya akan mengacaukan ritme permainanmu saja. Fokus kepada satu tujuan... Ingat, setelah ini kau akan mendapatkan uang dan traktiran dari Miyuki. Kau harus memenangkan pertandingan ini.
Lima menit pun telah berlalu dan aku pun melakukan pergantian pemain dengan temanku.
“Yo Amar! Aku kira kau tidak akan bermain. Tapi sayang sekali, kau muncul di saat yang tidak tepat, kamilah yang akan menjadi pemenangnya.”
Takeshi pun menyapaku yang baru saja masuk ke lapangan.
Aku pun melihat ke arah papan skor dan skor saat ini 20-26. Kemenangan berada di kelas Takeshi.
“Kita lihat saja.”
Pertandingan pun dimulai kembali dan bola berada di kelasku. Riki langsung memawa bola itu maju ke ring, sedangkan masih berada di belakang. Kemudian saat semua pemain sudah berada di bawah ring, Riki mengoper
bola itu ke arahku yang berada di posisi luar.
Ketika menerima bola, aku pun langsung melempar bolanya ke arah ring dan terciptalah three point.
Tiba-tiba suasana pun menjadi hening saat aku memasukan bolanya.
“Itu dia! Lemparan three point yang sangat indah dari pemain yang baru saja masuk bernama Amar. Lemparan yang sangat indah dan hebat sekali...”
Komentator pun juga terlihat antusias sekali setelah melihat lemparan dariku.
Kelas Takeshi pun langsung melakukan serangan balik kepada kelasku. Takeshi langsung membawa bolanya ke depan dengan sangat cepat sekali dan dia mencoba melakukan three point seperti yang dilakukan olehku, namun sayang sekali lemparannya tidak masuk ke dalam ring.
Akbar pun langsung mengamankan bola rebound dan mengopernya kepada Riki, dari Riki langsung membawa maju bolanya kemudian setelah itu dia mengoperkannya kepadaku. Aku pun langsung membawa maju bola itu
sampai berada di bawah ring. Aku pun mencoba untuk melakukan lay-up. Tapi karena ada orang yang menghalangiku melakukan lay-up, aku pun langsung mengoper bolanya kepada Riki dan langsung menuju ke daerah luar.
Ketika sudah berada di daerah luar, Riki langsung mengoper bolanya kepadaku dan aku pun melakukan lemparan three point lagi. Bola pun masuk dengan mulusnya ke dalam ring dan membuat kedudukan menjadi sama.
Takeshi pun melakukan serangan balasan dan berhasil mencetak angka. Aku pun melihat ke arah waktu dan masih tersisa tiga puluh detik lagi.
Aku berusaha mencari cara untuk membuat kelasku menang dan hanya terpikir satu cara saat itu.
“Oi Rik! Oper bolanya kepadaku.”
Aku pun meminta Riki mengoperkan bolanya kepadaku dan aku langsung membawa bola itu maju hingga ke mendekati ring lawan.
Aku pun mencoba cara yang sama seperti sebelumnya dengan mencoba melakukan three point. Karena perbedaannya hanya dua poin, seharusnya itu sudah cukup untuk menyusul skornya. Tapi ketika aku hendak melakukan three point ada seseorang yang menghalangiku dan membuatku tidak jadi melakukan hal itu. Aku pun langsung masuk dan mencoba mencetak angka dari dalam.
Dan di sana sudah ada Takeshi yang siap untuk menghadangku. Aku pun siap melakukan lompatan dan tiba-tiba Takeshi sudah melompat mendahuluiku.
Aku pun langsung melompat dan sengaja membuat Takeshi menabrakkan badanku yang berada dalam posisi melompat. Ketika aku masih berada di udara, aku juga melemparkan bola itu masuk ke dalam ring, dan membuat aku mendapatkan dua kali free throw serta dua poin karena tembakan yang aku lakukan tadi masuk ke dalam ring.
Inilah yang aku incar dari tadi. Sebenarnya aku sengaja melakukan fake agar Takeshi melompat terlebih dahulu agar aku dapat membuatnya terkena foul yang membuatku mendapatkan dua kali free throw.
Karena Kak Fauzi berkata kalau di pertandingan ini menggunakan peraturan seperti di kejuaraan profesional, jadi aku dapat melakukan hal itu.
“Luar biasa sekali pemain bernama Amar itu, dia melakukan sesuatu yang biasanya dilakukan oleh seorang profesional, mengapa dia baru bermain di gim terakhir ini.”
Komentator pun menjadi makin bersemangat ditambah dengan suara hiruk penonton membuat suasana menjadi ramai sekali.
Aku pun dapat menyelesaikan dua kali free throw itu dengan sempurna dan kelasku memenangkan pertandingannya.
-End Chapter 37-
__ADS_1