
“Selamat datang di pos empat.”
Kak Deni menyambut kami dengan senyumannya.
Setelah melalui perjalanan yang panjang dan melelahkan, akhirnya kami pun sampai di pos solidaritas. Pos ini dijaga oleh Kak Deni seorang diri. Menurut informasi yang aku dapatkan dari Kak Alvin, di pos ini kita akan disuruh memberikan pilihan tentang menukarkan salah satu anggota kelompok dengan sebuah lilin yang nantinya akan digunakan untuk membaca kertas kuis di pos lima.
“Sebelum saya memberikan tantangan di pos ini, saya mau kalian semua mengumpulkan senter kalian di kantung plastik yang saya pegang ini.”
Kak Deni menunjukan kantung plastiknya kepada kami.
“Kalau senternya dikumpulkan, bagaimana kami dapat pergi ke pos selanjutnya dengan keadaan gelap seperti ini? Bukankah itu sangat berbahaya.”
Riki bertanya kepada Kak Deni.
“Kalau masalah itu, nanti ada anggota OSIS yang akan menemani kalian hingga sampai di pos kelima. Jadi tidak perlu khawatir.”
Kami pun mulai memasukan senter kami di kantung plastik yang dipegang oleh Kak Deni.
“Di sini saya memiliki sebuah lilin... Lilin ini berguna sekali untuk kalian gunakan nanti di pos lima. Karena di pos lima nanti, kalian akan disuruh untuk membaca sebuah kertas yang di dalamnya ada teka-teki yang harus kalian selesaikan. Keadaan saat ini sangat gelap sekali, kalian tidak memiliki penerangan apapun untuk membaca kertas kuis itu. Jadi saya akan memberikan lilin ini untuk kalian gunakan di pos lima nanti dengan syarat... Salah satu dari kalian harus tinggal di sini.”
Kak Deni menunjukan lilinnya ke hadapan kami. Kami pun langsung berembuk untuk memikirkan keputusan apa yang akan kita buat.
“Aku rasa kita tidak perlu menukarkan seseorang untuk lilin itu. Kan ini pos solidaritas, pasti kesolidaritasan kita sedang diuji di sini.”
Akbar mengutarakan pendapatnya kepada kami.
Menurut informasi yang aku dapat dari Kak Alvin, jika seandainya kita tidak menukarkan anggota kelompokpun kita tetap akan mendapatkan lilin itu sebagai imbalan karena kita sudah memiliki rasa solidaritas dalam kelompok. Jadi apapun jawaban kita kali ini, maka hasilnya akan sama saja.
“Apa yang barusan Akbar katakan itu benar, kesolidaritasan kita sedang diuji di sini.”
Rina pun memulai aktingnya.
“Aku akan tinggal di sini.”
Aku pun langsung mengajukan diri kepada Kak Deni. Karena waktu kita tidak banyak, sebentar lagi pasti akan ada kelompok selanjutnya yang tiba.
“Kamu kenapa Mar? Bukankah kita sudah memutuskan untuk tidak menukarkan siapapun.”
Akbar merasa tidak setuju dengan keputusan yang aku ambil.
“Kita belum memutuskan apapun. Lagi pula di pos selanjutnya kalian pasti sangat membutuhkan lilin itu untuk membaca. Dari pada kalian harus memaksakan diri untuk membaca soal dari kuis itu dalam keadaan gelap gulita seperti ini, lebih baik aku mengajukan diriku saja untuk ditukarkan dengan lilin... Lagi pula mengajukan diri itu juga termasuk sikap solidaritas juga.”
Mungkin?
“Apa kamu yakin Ar?”
“Aku yakin, jadi kalian tenang saja. Lagi pula aku hanya berada di sini bersama Kak Deni.”
“Bagaimana denganmu Rik?”
Akbar pun meminta pendapat dari Riki.
“Aku rasa hanya ini satu-satunya cara yang bisa kita lakukan sekarang. Kita jangan sia-siakan pengorbanan Amar.”
“Berarti Amar yang akan tinggal di sini ya... Amar, sini kamu berdiri di samping saya.”
Kak Deni pun memberikan lilinnya kepada Riki dan aku pun berjalan menuju ke samping Kak Deni.
“Karena tantangan di pos ini sudah selesai, kalian tinggal berjalan ke arah sana. Nanti di sana ada OSIS yang menunggu untuk mengantar kalian ke pos selanjutnya.”
Kak Deni menunjuk jauh ke kanannya. Riki beserta yang lain pun pergi meninggalkanku, aku melihat beberapa wajah tidak puas dengan keputusan yang aku ambil, terutama Akbar. Tapi aku sudah mengatakan kepada Riki untuk memberitahu semunya tentang rencanaku setelah acara jurit malam ini. Jadi aku tidak terlalu mengambil pusing masalah ini. Karena saat ini, masalah yang aku hadapi sedang ada di depan mataku.
“Kau terlihat tenang sekali di sini. Apa ini termasuk ke dalam rencanamu juga?”
“Entahlah.”
Aku hanya tersenyum kecil setelah mendengar itu.
“Lihat saja nanti Mar! Aku akan menemukan dimana kau menyembunyikan barang-barang itu dan akan aku buat kau malu di depan semua orang. Aku mau melihat bagaimana ekspresinya Miyuki melihat orang yang selama ini dekat dengannya ternyata hanya orang yang mesum saja.”
Kak Deni sedikit mengancamku dan berusaha untuk membuatku panik.
Mungkin kalau seandainya aku adalah orang yang benar-benar melakukan pencurian itu, aku akan panik dan berusaha untuk menghindari pembicaraan dengan Kak Deni. Tapi karena aku tidak melakukan itu, jadi buat apa harus panik.
“Lagi pula dari mana kakak tau kalau aku yang melakukan pencurian itu? Apa kakak memiliki bukti yang cukup kuat untuk menuduhku seperti itu?”
“Keberadaanmu di campsite saat acara mencari jejak sudah cukup untuk membuatmu menjadi pelaku dari pencurian itu. Kau pasti tidak bisa membantah hal itu seperti saat disidak sore kemarin kan, dan ditambah tidak akan ada yang percaya dengan kesaksianmu itu. Bahkan ketika tasmu sedang digeledah sore kemarin, kau masih
tidak bisa berbuat apa-apa kan!”
Hmmm... Tidak buruk juga.
“Kalau kakak hanya menggunakan keberadaanku di campsite, itu adalah bukti yang sangat lemah. Sebenarnya aku masih memiliki berbagai macam alasan untuk menghindari tuduhan darimu. Ditambah aku bisa membalikan tuduhan itu kepadamu sendiri dengan mudah.”
“Apa kau sedang mencoba mengancamku?”
“Tidak... Mana mungkin anak kelas satu yang baru masuk seminggu yang lalu berani mengancam kakak kelas yang memiliki prestasi di bidang karate.”
“Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan, tapi aku akan memastikan kalau hari ini kau akan dipermalukan di sini.”
“Lebih baik kita simpan pembicaraan itu nanti lagi.”
Aku melihat dari kejauhan terdapat beberapa cahaya senter yang berjalan mendekat ke arah kami. Pasti itu berasal dari kelompok sebelas.
Semua kelompok yang datang ke pos empat pun mengikuti tantangan yang diberikan oleh Kak Deni. Tapi tidak ada satupun dari mereka yang menukarkan anggota kelompoknya dengan lilin dan meka pun masih diberikan lilin oleh Kak Deni.
Aku penasaran, apa hanya kelompok kami saja yang menukarkan anggotanya di sini? Soalnya aku tidak melihat ada murid dari kelompok lain di sini.
OK. Aku rasa itu adalah kelompok terakhir. Sekarang waktunya menjalankan rencanaku.
__ADS_1
“Kak... Aku berikan dua pilihan kepadamu, kakak ingin menyelesaikan masalah ini sekarang atau kakak lebih memilih ketahuan sebagai salah satu pencuri dari kasus ini.”
Aku pun berusaha mengintimidasi Kak Deni. Karena semakin termakan Kak Deni dengan intimidasiku, maka akan semakin besar tingkat keberhasilan dari rencana ini.
“Apa maksdunya itu?”
Kak Deni masih terlihat tenang dan tidak panik sedikitpun.
“Aku tau Kak, kau adalah pelakunya kan... Orang yang memasukan barang-barang itu ke tasku. Aku juga tau kalau kau melakukan hal itu tidak sendirian, namun ada beberapa orang yang membantumu dalam menjalani rencana ini.”
Kak Deni mulai terlihat tegang dan sedikit panik.
“Mana buktinya?”
“Saat kasus pencurian ini diberitahukan oleh Kak Alvin ketika sore kemarin, kau yang paling bersikeras untuk menggeledah tasku. Kedua... Dari mana kau tau kalau tas itu adalah tasku? Aku menggunakan tas yang berbeda dengan yang biasa aku gunakan ketika sekolah, dan dari pagi sampai sore aku tidak pernah bertemu ataupun
melihatmu berada di sekitarku. Jadi kenapa kau bisa mengetahui kalau itu tasku?”
Kak Deni pun semakin panik mendengar apa yang baru saja aku katakan.
“Selain itu aku juga tau kalau kau terkejut ketika aku membuka tasku dihadapan para murid dan ternyata tidak ada barang-barangnya di sana.”
“Dari mana kau mengetahuinya?”
“Entahlah, mungkin insting.”
“Itu tidak bisa dijadikan bukti yang kuat kau tau. Itu semua hanyalah dugaanmu saja.”
Apa yang Kak Deni katakan tidaklah salah. Itu semua hanyalah dugaan dan dugaan, semua yang baru saja aku katakan barusan bisa dipentalkan oleh Kak Deni dengan mudahnya jika dia memiliki argumen yang bagus.
“Dan juga alasan kenapa aku bisa berada di campsite bukanlah sebuah kebetulan saja. Sebenarnya aku mengetahui kalau kau akan melakukan pencurian dan memasukan semua barangnya ke tasku saat acara mencari jejak. Makanya aku kembali ke campsite dengan alasan karena tidak enak badan.”
“Jadi kau sudah tau hal itu?”
“Begitulah, ada salah satu temanku yang mendengar pembicaraanmu dengan ‘Teman-temanmu’ satu hari sebelum LDKS berlangsung.”
“Siapa orang itu!?”
“Itu rahasia perusahaan.”
Sebenarnya orang itu adalah Riki. Hal itulah yang dibisikan oleh Riki untuk membuatku mau menjadi wakil ketua.
Kak Deni pun terdiam tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Jujur saja, semua argumenku tadi bukanlah argumen yang kuat. Kak Deni bisa saja membalikannya dengan mudah, jika seandainya dia memiliki bukti kalau aku memang orang yang menyembunyikan barang-barang curian itu.
“Jadi apa yang ingin kau lakukan sekarang? Apa kau mau membuat semua orang tau kalau aku yang melakukan hal itu.”
Kak Deni mulai terlihat pasrah sekali namun dia berusaha untuk tetap kuat dihadapanku.
“Aku tidak akan melakukan hal itu.”
“Aku tidak mau melakukan hal itu karena merepotkan... Menuduh orang itu merepotkan, dan membuat orang yang dituduh itu menjadi musuh lebih merepotkan. Jadi buat apa aku melakukan hal itu kalau hasilnya sudah pasti merepotkan.”
Karena setelah kejadian dengan Takeshi, aku pun selalu berurusan dengan sesuatu yang merepotkan. Jadi aku tidak mau menambah hal merepotkan itu dengan hal baru yang sama merepotkannya.
“Jadi apa yang ingin kau lakukan?”
“Aku hanya ingin kau tidak perlu mengungkit masalah ini sampai acara LDKS ini selesai.”
“Kenapa?”
“Kemungkinan besar saat acara kerja bakti nanti pagi, akan ada seseorang yang menemukan barang-barang curian yang telah aku sembunyikan di suatu tempat.”
Ya... Karena aku juga yang membuat hal seperti itu terjadi.
“Bukannya kalau seperti itu, aku dapat dengan mudah menuduhmu kembali?”
“Apakah kau memiliki buktinya? Statusku saat ini sudah dinyatakan tidak bersalah, itu semua berkat kakak yang menyuruhku menggeledah tas milikku di depan para murid. Kalau kau menuduhku di saat seperti itu, yang ada malah kau yang terkena tuduhanmu itu. Lagi pula apa buktinya kalau aku yang menyembunyikan barang itu di sana. Kalau kita melihat dari waktu yang dibutuhkan untuk mencuri barang-barang milik kelompok delapan sampai kelompok tiga belas itu terlalu lama, dan aku tidak bisa melakukan hal seperti itu sendiri ketika acara mencari jejak. Karena banyak sekali guru yang berjaga di sana, pasti aku akan dicurigai jika terlihat memasuki tenda yang berbeda-beda.”
Kak Deni pun terdiam kembali setelah mendengar perkataanku.
“Jadi, apakah kakak mau mengikuti rencanaku?”
“Sepertinya tidak ada cara lain.”
Akhirnya masalah pertama pun selesai, waktunya menunggu untuk menyelesaikan masalah selanjutnya dan menjadi masalah terakhir.
“Hebat sekali...”
Dari kegelapan muncullah Kak Alvin sambil bertepuk tangan memujiku. Kak Deni pun menjadi panik sejadi-jadinya ketika tau kalau Kak Alvin berada di sana. Mereka berdua pun berdebat tentang masalah tadi, tapi Kak Deni terlihat sudah pasrah dan bersiap untuk menerima hukuman yang akan diberikan.
“Bisakah kalian berdua menghentikan akting yang kalian lakukan?”
Perkataanku pun membuat Kak Alvin dan Kak Deni terdiam dan terkejut. Mereka berdua sama-sama melihat ke arahku.
“Apa yang baru saja kau katakan Mar?”
Kak Alvin bertanya kepadaku dengan keheranan.
“Aku sudah tau semuanya, kalian berdua tidak perlu menutupinya lagi... Sebenarnya dalang dari pencurian ini adalah kau kan... Kak Alvin.”
Waaah!! Ternyata ini rasanya menyebutkan dialog yang ada di film detektif.
“Aku tidak mengerti maksudmu Mar.”
“Ketika pembagian kelompok sebenarnya aku sedikit curiga. Kenapa seorang ketua OSIS bisa menjadi mentor salah satu kelompok padahal posisi wakil ketua seperti Kak Fauzi saja tidak menjadi mentor dari salah satu kelompok.”
“Itu karena Fauzi tidak kebagian dalam pemilihan mentor.”
__ADS_1
“Benarkah itu!”
Aku pun mengeluarkan ponselku dan memutar sebuah audio dihadapan mereka berdua. Audio yang aku putar adalah rekaman suara yang berhasil aku rekam saat sedang acara mencari jejak. Di audio itu berisi percakapan antara Kak Alvin dan Kak Deni ketika sedang ingin memasukan barang-barang curian itu ke tasku.
“Dari mana kau mendapatkan rekaman itu Mar?”
Kak Alvin dan Kak Deni lagi-lagi terkejut dengan apa yang aku lakukan.
“Memangnya kalian berdua tidak menyadari kalau ponselku, aku tinggalkan di dalam tas?”
“Aku menyadarinya tapi aku tidak mempedulikannya.”
Jawab Kak Deni kepadaku.
“Seharusnya para murid disarankan membawa barang berharga mereka selama acara mencari jejak agar tidak terjadi kehilangan, termasuk ponsel. Tapi aku sengaja meninggalkan ponselku di dalam tas dengan keadaan merekam. Karena aku tau akan ada seseorang yang datang dan menaruh barang di tasku, aku pun ingin mendapatkan sebuah bukti yang kuat untuk menyelamatkanku jika nantinya aku terpojok karena tuduhan orang-orang... Sebenarnya aku ingin mendapatkan video, tapi ponselku tidak kuat jika harus merekam dalam jangka waktu yang lama.”
“Kenapa suaranya bisa sejelas itu? Seharusnya kalau kau hanya menaruh di dalam tas, suaranya pasti terdengar kecil.”
Kak Alvin bertanya kepadaku.
“Semalam aku baru saja mengedit rekamannya, walaupun yang aku lakukan hanya memotong durasi dan memperbesar suaranya saja... Jadi bisakah kalian berdua menjelaskan ini kepadaku?”
“Hahahahaha...”
Kak Alvin tertawa dan bertepuk tangan kepadaku.
“Hebat sekali kau dapat melakukan seperti ini... Sepertinya kita akhiri saja sandiwaranya sampai sini Den.”
Setelah itu Kak Deni pun berubah seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya. Kalau Kak Deni yang ku tau itu orangnya gampang emosi, sekarang dia terlihat lebih tenang dibandingkan sebelumnya.
“Kalau seandainya Riki tidak mendengar pembicaraannya Kak Deni, aku juga tidak tau apa yang akan dia lakukan nantinya. Lagi pula bukankah buruk seorang ketua OSIS melakukan hal semacam ini?”
Aku pun mencoba mengintimidasi Kak Alvin.
“Aku hanya ingin mengujimu saja.”
“Hah?”
“Fauzi sering membicarakan banyak hal tentangmu, termasuk rencana-rencana yang pernah kau lakukan. Jadi ketika aku mendengar kalau kau masuk ke SMK Sawah Besar, aku ingin sekali mengujinya.”
Apa dia gila? Hanya untuk itu dia sampai melakukan seperti ini.
“Kalau kau ingin mengujiku, lakukanlah cara lain. Hampir saja kehidupan sekolahku hancur gara-gara ini.”
“Maaf maaf...”
Memangnya hal seperti ini bisa ditebus hanya dengan kata maaf saja.
“Aku juga tau kalau Kak Ayu membantu kalian dalam rencana ini.”
“Tepat sekali... Dengan ini kau berhasil menebak semua pelakunya. Tapi kenapa kau dapat menebak kalau Ayu juga ikut dalam rencana ini?”
“Aku baru saja tau setelah mengetahui kalau Kak Deni selama ini hanya berpura-pura saja. Karena menurutku sangat tidak mungkin kalau OSIS berani menggoda murid baru hingga sebegitunya saat masa orientasi. Soalnya itu akan mencemari nama OSIS itu sendiri... Selain itu, karena Kak Ayu berada di seksi keamanan juga, mungkin ini yang membuatku berpikiran kalau dia juga pelakunya... Lagi pula tidak mungkin Kak Deni bisa masuk ke tenda murid perempuan di saat mereka memiliki seksi keamanan perempuan. Jadi aku hanya mengira kalau Kak Ayu-lah yang mengambil semua barang-barang itu lalu menyerahkannya kepada Kak Deni.”
“Hahahahahaha... Kau memang anak yang menarik seperti apa yang dikatakan oleh Fauzi. Kau mengatakan seperti kau juga ikut dalam rencana ini, semua sama persis dengan apa yang kau katakan.”
Huh... Sepertinya masalah kali ini sudah selesai.
“Kalau kau hanya mengujiku, kenapa kau membiarkan Kak Deni mengambil tasku. Kalau saja aku tidak memindahkan barang-barang itu, kehidupan sekolahku akan hancur."
Aku mengajukan protes kepada Kak Alvin.
“Aku melakukan hal itu karena sebelumnya aku sudah pergi ke tendamu dan memeriksa tasmu terlebih dahulu. Aku sedikit curiga saat melihat kau keluar dari tenda UKS.”
Ungkap Kak Deni kepadaku.
Aku pun baru menyadarinya kalau Kak Deni sedikit terlambat ketika berkumpul di lapangan dibandingkan yang lainnya.
“Jadi mau kita apakan masalah ini?”
Aku bertanya kepada mereka berdua, walaupun sebenarnya ini adalah hakku untuk menentukan. Tapi sebisa mungkin aku mau berembuk dengan mereka agar kita sama-sama senang.
“Aku menyerahkan hal itu kepadamu.”
Kak Alvin pun menyerahkannya kepadaku.
“Besok akan ada seseorang yang memberitahu lokasi dari barang-barang yang dicuri itu. Segera ambil barang-barang itu dan umumkan ke semua murid kalau orang yang mencurinya sudah mengakui kesalahannya dan sesuai peraturan sekolah, murid itu akan diskors selama tiga bulan.”
“Bahkan kau sudah merencanakan hingga ke sana... Aku sangat kagum dengan apa yang kau lakukan Mar. Pantas saja Fauzi selalu bercerita tentangmu, karena itu sangat menarik.”
Yaa... Apa aku boleh senang sekarang? Dari tadi aku mendapatkan pujian tapi sama sekali belum senang karena itu loh.
“Lalu bagaimana kita mengatakannya kepada pihak sekolah?”
“Kak Alvin bisa mengatakan kalau pencurinya tidak ditemukan, dan mereka melakukan itu supaya tidak ada kecurigaan di antara para murid. Pasti semua murid akan curiga kepada orang yang nantinya akan diskors selama tiga bulan, tapi nyatanya orang tersebut tidak ada, dan para murid pun dengan sendirinya akan melupakan kejadian ini.”
“Ide yang cerdik... Mungkin itu akan berhasil.”
“Untuk selebihnya aku serahkan kepada Kak Alvin bagaimana enaknya.”
Akhirnya selesai juga! Kehidupan sekolahku yang damai, aku datang!
“Ngomong-ngomong bisakah kau menghapus rekaman suara itu?”
Kak Alvin dan Kak Deni memohon kepadaku.
“Tidak, aku akan menyimpan ini jika kalian para OSIS melakukan sesuatu seperti ini lagi nantinya. Aku akan menggunakannya untuk mengancam kalian. Kalau kalian memaksa dengan mengambil ponselku secara langsung, itu percuma.. Aku sudah mem-backup audionya di penyimpanan awan yang aku punya.”
“Hahahahahaha...”
__ADS_1
-End Chapter 48-