
Libur lebaran telah usai, dan kami pun telah masuk kembali ke sekolah. Seperti yang pernah dijanjikan oleh Maul, hari ini aku, Riki, dan Maul ingin pergi ke Mangga Dua untuk membeli laptop baru untukku. Kebetulan jalan dari sekolahku menuju Mangga Dua tidak terlalu jauh, hanya dua halte bis saja.
“Jenis laptop apa yang ingin kau beli Mar?”
Tanya Maul kepadaku.
Saat ini kami sudah berada di Mangga Dua dan ingin menuju ke toko komputer yang ada di sana. Banyak sekali toko komputer yang ada di sini, aku sampai bingung harus menuju ke mana.
“Apapun itu yang penting kuat untuk menggunakan aplikasi multimedia dan juga bisa buat bermain gim.”
“Bagaimana kalau kau membeli laptop gaming?”
Laptop gaming? Aku pernah sekali mendengar dan melihat itu di iklan yang ada di ponselku, sepertinya cukup menarik.
“Boleh saja, aku ingin melihatnya terlebih dahulu.”
Maul pun langsung menuntun kami ke sebuah toko yang menjual laptop gaming yang cukup terkenal. Dari tampilan tokonya saja sudah terlihat kalau toko ini menjual peralatan gaming.
“Toko ini keren sekali.”
Tampilan toko itu sengaja dibuat gelap dengan lampu berwarna hijau yang menghiasi seluruh ruangan. Dan juga di toko tersebut terdapat sebuah komputer dengan CPU yang menyala dan memiliki warna seperti pelangi, biasanya kami menyebutnya dengan RGB.
“Lihat-lihatlah saja terlebih dahulu.”
Aku pun mengelilingi toko itu untuk melihat laptop yang dijajakan di sana.
Sebenarnya aku tidak begitu masalah dengan harga yang tercantum di sana, karena ada beberapa laptop yang bisa aku beli dengan uangku saat ini. Tapi aku tidak suka dengan berat dari leptopnya. Aku rasa laptop itu terlalu berat jika ingin aku bawa kemana-mana, kalau tidak bisa bawa kemana-mana mendingan aku merakit komputer
saja.
“Sepertinya tidak ada laptop yang ingin aku beli di sini.”
Aku menghampiri Maul dan Riki yang sedang mencoba bermain gim di komputer yang ada di sana.
“Apa ada toko yang ingin kau datangi?”
“Aku tidak begitu mengerti masalah komputer, jadinya aku tidak punya rekomendasi sama sekali.”
“Laptop apa yang ingin kau inginkan?”
Maul langsung berhenti bermain gimnya, sedangkan Riki masih fokus dengan gim yang sedang dia mainkan.
“Apapun itu yang penting tidak berat. Karena laptop itu mungkin akan sering aku bawa ketika ke sekolah. Buku sekolah kita saja sudah berat apalagi jika di tambah dengan laptop.”
Selain itu aku juga memikirkan perjalananku dari rumah menuju sekolah yang terbilang cukup jauh. Kadang juga ketika di Transjakarta aku harus berdiri karena tidak mendapatkan kuris duduk. Kalau terus-terusan seperti ini, pertumbuhanku mungkin bisa terganggu karena beban berat yang sering aku bawa.
“Bagaimana kalau kita mencarinya sambil berkeliling saja? Itu lebih mudah dari pada mendiskusikannya di sini.”
“Itu ide yang bagus Rik.”
Maul pun setuju dengan usulan dari Riki dan kita mulai berkeliling untuk mencari laptop yang aku inginkan. Kami pun memasuki setiap toko yang menjual laptop di sana, dari yang harganya lumayan tinggi sampai yang harganya sangat terjangkau, tapi tidak ada satupun laptop yang dapat menarik perhatianku.
“Apa diantara toko-toko tadi tidak ada yang menarik perhatianmu Mar?”
Maul sepertinya sudah lelah berkeliling di mal ini.
“Aku sudah memiliki beberapa laptop yang ingin aku beli tadi, tapi entah kenapa rasanya belum pas. Ada sesuatu yang mengganjal ketika ingin membelinya.”
“Ini adalah toko terakhir loh.”
Ucap Maul sambil memasuki toko itu.
Ketika berada di toko itu, aku pun menemukan laptop yang sesuai dengan keinginanku. Spesifikasi yang lumayan untuk mengangkat aplikasi multimedia dan bermain gim, selain itu laptop ini juga ringan untuk dibawa kemana-mana terlebih lagi harganya yang tidak begitu tinggi membuatku tertarik untuk membelinya.
“Bagaimana menurutmu dengan laptop ini?”
Aku menanyakan pendapat dari Maul, karena diantara kita bertiga hanya Maul saja yang paham masalah ini.
“Aku rasa ini tidak masalah.”
Maul pun melihat spesifikasi yang tertera di samping laptop itu.
“Kalau begitu aku putuskan untuk membeli yang ini.”
Akhirnya dapat juga laptop yang ku mau. Walaupun spesifikasinya tidak sama seperti laptop gaming yang ditunjukan oleh Maul tapi setidaknya laptop ini masih bisa untuk bermain gim dan mengerjakan pekerjaanku, selain itu masih banyak uang yang tersisa untukku juga.
“Oh iya, nanti kita mampir ke tempat makan dulu ya. Aku akan mentraktir kalian, anggap saja ini sebagai bayarannya karena telah menemaniku.”
Ucapku kepada Maul dan Riki yang masih melihat-lihat laptop yang ada di sana.
“Asik! Jarang sekali aku ditraktir seperti ini oleh Amar.”
Riki terlihat senang sekali.
“Kebetulan aku juga sudah lapar.”
Setelah menyelesaikan pembayaran, kami pun langsung pergi ke tempat makan yang berada di mal itu. Aku pun membiarkan mereka untuk memesan makanan sesuka mereka, karena uang yang tersisa dari membeli laptop masih banyak, jadi aku tidak terlalu khawatir biaya yang aku habiskan untuk mentraktir mereka.
“Memangnya sebanyak apa uang yang kau dapatkan dari bekerja dengan Pak Febri Mar?”
Riki merasa heran dengan uang yang ku punya.
“Sebenarnya akhir-akhir ini aku yang mengerjakan semua proyek punya Pak Febri yang lama dan dia mengambil proyek yang baru.”
“Seharusnya kau heran dengan Pak Febri yang memberikan semua pekerjaannya kepada Amar. Untuk seorang
guru dan wali kelas, dia terlalu baik.”
Ucap Maul sambil memainkan ponselya.
“Aku rasa memang seperti itulah sikap Pak Febri. Aku rasa dia hanya ingin main gim saja, karena dia pernah berkata kepadaku kalau dia sebenarnya orang yang mengerjakan sesuatu sesuai suasana yang sedang dia dapatkan, kalau dia sedang tidak minat untuk mengerjakan pekerjaannya maka dia akan memberi pekerjaan itu kepada orang lain.”
__ADS_1
“Andai saja aku mendapatkan guru yang seperti itu.”
Sekarang Maul mengeluh akan hal itu padahal kerjaan yang dia kerjakan bayarannya lebih banyak dibandingkan pekerjaanku.
“Memangnya uangmu masih kurang dari apa yang kau kerjakan waktu itu?”
Tanyaku kepadanya.
“Pekerjaan yang aku kerjakan memiliki bayaran yang mahal, tapi itu tidak sesering kau mendapatkan pekerjaan, mungkin satu proyek yang memiliki bayaran yang besar aku hanya mendapatkannya satu tahun sekali.”
Heee... Jadi seperti itu, pantas saja dia selalu mengeluh tentang pekerjaan kepadaku.
“Aku juga mau mendapatkan penghasilan sendiri.”
Sekarang Riki yang mengeluh akan hal itu.
“Tenang saja Rik, aku akan memberikanmu sebagian dari pekerjaanku jika kau sudah selesai O2SN. Untuk sekarang kau fokus saja sama latihanmu.”
“Baiklah.”
“Kalian berdua, ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan kepada kalian.”
Maul pun meletakkan ponselnya di tengah meja yang berada di hadapan kami.
“Aku tau apa yang ingin kau lakukan, pasti kau ingin menunjukkan kemampuan meretas dari aplikasi yang waktu itu pernah kau buat kan?”
“Benar sekali.”
Maul pun memencet tombol yang ada di layar ponselnya dan tiba-tiba di toko komputer yang berada tidak jauh di depan kami, semua layar komputer yang sedang menyala berubah menjadi kartun Jepang.
“Apakah itu perbuatanmu?”
Ucapku kepada Maul setelah melihat itu.
“Tentu saja, siapa lagi kalau bukan aku.”
“Kenapa harus kartun Jepang?”
Dari pada mengomentari hal itu, aku rasa kau harusnya terkagum dengan kemampuan dari aplikasi itu Rik.
“Maksudmu anime? Karena di ponselku ini hanya ada anime saja yang bisa aku tunjukan di sana.”
“Memang apa bedanya kartun dengan anime?”
Aku bertanya kepada Maul karena Maul mengoreksi ucapan dari Riki.
“Tidak ada yang berbeda, mungkin karena orang Jepang terlalu sulit untuk menyebutkan kartun makanya dia menyebutnya anime sebagai singkatan dari *a*nimation.”
Jadi seperti itu sejarahnya.
“Aku terkesan dengan hal itu Mul.”
Aku pun memuji keberhasilannya itu.
“Apakah ada yang bisa kau lakukan lagi dengan alat itu Mul?”
Tanya Riki kepada Maul.
“Lagu apa yang ingin kau dengar?”
Maul bertanya balik kepada Riki.
“Sepertinya DJ Alan Senter.”
“Baiklah.”
Kemudian Maul pun sedikit mengotak-atik ponsel yang dia pegang dan tiba-tiba di dalam mal terdengar lagu dari DJ Alan Senter seperti yang RIki inginkan.
“Woah hebat sekali kau Mul.”
“Iya, itu sangat hebat.”
“Semua yang ada di dalam mal ini sudah berada di dalam kendaliku.”
Maul sedikit menyombongkan diri kepada kami tentang hal itu.
“Apakah secepat itu untuk melakukan peretasan satu mal?”
“Tidak, sebenarnya memerlukan waktu yang cukup lama untuk bisa mengendalikan satu mal ini, karena kau harus mencari dimana komputer yang mengendalikan semua sistem yang ada di mal ini. Tapi aku sudah melakukan hal itu ketika kita baru saja masuk ke Mal ini, aku membiarkan alat itu meretas seluruh sistem jaringan yang ada di mal ini selagi kita melihat-lihat untuk mencari laptopmu tadi. Itulah kenapa aku membuat program ini, untuk mempermudahku dalam melakukan peretasan.”
Maul pun menjelaskan hal itu secara rinci kepada kami.
Sebenarnya aku tidak tau apa yang dia jelaskan tapi setidaknya aku mengerti kalau alat itu memang hebat.
Kami pun langsung menghabiskan makanan kami dan pergi ke rumah. Saat berada di Transjakarta, aku mendengar ada dua orang yang sedang bercerita tentang penculikan yang sedang terjadi di sekitar sini.
“Ternyata sedang ramai ya kasus penculikan, kemarin ibuku saja selalu memperingati Rama untuk tidak main jauh-jauh dan berkomunikasi dengan orang yang tidak dia kenal.”
Riki ternyata sudah mengetahuinya juga, berarti hal seperti ini sudah bukan hal rahasia lagi, tapi aku harus memastikannya terlebih dahulu kepada Maul.
“Apa ini ada hubungannya dengan kasus yang kau katakan waktu itu?”
“Begitulah.”
“Apa yang kalian berdua bicarakan? Kasus?”
Riki yang tidak ikut pembicaraan waktu itu menjadi bingung dengan apa yang kami bicarakan.
“Saat ini di Jakarta sedang tidak aman dan kita harus berhati-hati.”
Tidak mungkin aku menjelaskan hal ini kepada Riki di dalam Transjakarta, terlalu banyak orang yang dapat mendengarkan pembicaraan kami.
__ADS_1
“Barusan aku melihat di koran kalau kebanyakan kasus penculikkan itu berada di kawasan Jakarta Pusat, Barat, dan Utara.”
Jadi bertambah lagi... Kemarin aku hanya membaca kalau Jakarta Pusat dan Barat saja yang rawan akan hal ini.
Aku pun berpikir sejenak tentang hal itu.
“Berarti sekolah kita juga termasuk daerah rawan penculikan ya?”
“Yup, kau benar Rik.”
“Kalau begitu kenapa dari pihak sekolah belum ada himbauan kepada para muridnya? Biasanya jika ada hal seperti ini, pihak sekolah langsung memberikan peringatan kepada muridnya ketika pulang sekolah.”
“Mungkin supaya muridnya tidak terlalu khawatir tentang hal ini dan juga penculikkan seperti ini bukanlah sesuatu yang dapat dilakukan dimana saja.”
“Apa maksudmu Mar?”
“Jadi begini Rik, penculikkan itu bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan di tempat yang banyak orang di sana, lagi pula sekarang kita tinggal di Jakarta, tempat yang ramai dan padat akan penduduk. Sangat sulit melakukan hal seperti itu apalagi saat sore hari.”
“Apa yang dikatakan Amar itu benar, mereka harus menunggu waktu yang pas untuk melakukan hal itu.”
Maul pun setuju dengan apa yang aku katakan.
“Lalu kenapa banyak sekali kasus penculikkan saat ini kalau melakukan itu di Jakarta sangat sulit.”
“Aku tidak tau, tapi aku merasa kalau penculikkan ini bukanlah semata-mata karena penculikkan biasa.”
“Apa lagi itu Mar?”
Aku pun melihat ke sekelilingku dan ada beberapa orang yang dari tadi memperhatikan pembicaraan kami.
“Tempat ini bukanlah tempat yang bagus untuk membicarakan hal seperti ini.”
Dengan semua bukti dan fakta yang sudah terkumpul, mungkin kesimpulanku waktu itu bisa saja benar, tapi aku tidak bisa mengatakan saat ini karena banyaknya orang yang ada di sini. Bisa saja salah satu dari mereka ada yang terlibat dalam penculikkan itu.
“Aarkh! Aku tidak puas dengan jawabanmu itu, kalau kau tidak memberitahuku aku tidak bisa tidur tenang malam ini.”
Riki pun terlihat kesal dengan hal itu.
“Kalau begitu nanti mampir saja ke rumahku terlebih dahulu.”
***
“Jadi apa yang ingin kau bicarakan tadi di dalam bis?”
Riki langsung menagih jawabanku ketika kita baru saja sampai di rumahku.
“Ini hanya pendapatku saja, mungkin penculikkan saat ini ada kaitannya dengan perdagangan manusia yang sedang marak juga.”
“Perdagangan manusia!? Memangnya di Indonesia ada hal seperti itu?”
Ekspresi terkejut dari Riki hampir sama sepertiku ketika mendengar hal ini dari Maul.
“Awalnya aku juga sama terkejutnya sepertimu saat mendengar tentang perdagangan manusia yang ada di Indonesia.”
“Bisa kau jelaskan kepadaku apa maksudmu itu Mar?”
Maul pun penasaran dari perkataanku barusan.
“Aku merasa kalau orang-orang yang diculik pasti akan dijual di pasar itu, karena orang-orang tau kalau ada tempat untuk menjual manusia di Indonesia, itulah juga yang membuat kenapa penculikan semakin hari semakin meningkat, dan juga kenapa sampai saat ini belum ada satu pun kepolisian yang dapat mengungkapkannya, hal ini ada kaitannya dengan mereka yang meminta bantual Maul untuk menangani hal ini.”
“Tidak usah berbelit-belit Mar, langsung saja katakan apa yang ingin kau katakan.”
“Benar Mar, aku juga bingung dengan apa yang kau katakan barusan.”
Maul dan Riki mengajukan protes kepadaku.
“Aku berpikir kalau ada salah satu anggota kepolisian yang disogok oleh seseorang yang menjalankan perdagangan manusia ini agar kasusnya mereka tidak pernah terselesaikan. Karena sangat tidak masuk akal jika tenaga ahli yang ada di kepolisian tidak ada yang bisa melacak dimana lokasi tempat transaksi itu berlangsung dan menyelesaikan kasusnya.”
“Itu masuk akal.”
Maul pun mulai berpikir sesuatu.
“Itulah kenapa mereka memberikan tugas ini kepada Maul, karena Maul bisa dibilang orang yang tidak ada hubungannya dengan kepolisian dan tidak mungkin disogok. Maul juga dapat menyelesaikan ini tanpa diketahui dari anggota kepolisian itu sendiri.”
“Pantas saja bapakku tidak pernah berbicara banyak jika aku menanyakan tentang kasus ini.”
“Kemungkinan tidak ada orang yang ingin bergerak untuk menyelesaikan kasus ini karena orang yang disogok itu memiliki kedudukan yang tinggi di kepolisian.”
“Lalu bagaimana menyelesaikan kasus ini?”
Riki penasaran akan hal itu.
“Itu hal yang mudah.”
Ucapku kepada mereka yang membuat mereka makin penasaran.
“Harus ada seseorang yang tidak ada hubungannya dengan anggota kepolisian untuk menyelesaikan kasus ini, atau tidak ada seseorang yang bekerja di kepolisian membuat pasukan khusus secara diam-diam yang berisikan orang-orang yang dia percaya bahwa mereka tidak disogok dan menumpaskan kasus tersebut tanpa sepengetahuan orang-orang yang ada di kantornya.”
“Memangnya itu bisa?”
Tanya Maul kepadaku.
“Entahlah, tapi aku rasa bapakmu sudah memikirkan hal itu juga. Karena hanya itulah kasus ini dapat diselesaikan.”
“Kenapa ada anggota kepolisan bisa disogok seperti itu!”
Riki terlihat kesal sekali.
“Di dunia ini tidak semua orang dapat tahan dengan godaan, apalagi uang. Aku rasa uang yang diberikan juga lumayan besar hingga dia mampu melakukan hal seperti ini.”
Ya... Selain cinta, uang adalah hal yang menakutkan, tapi cinta jauh lebih menakutkan dibandingkan dengan uang, karena uang masih bisa dikalahkan dengan cinta. Sudah berapa banyak orang yang merelakan uang dan membuang uangnya hanya untuk mendapatkan cinta. Yah... Cinta itu memang menakutkan.
__ADS_1
- End Chapter 60-