Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 65 : Aku Baru Tau Kalau Rapat Sepusing ini!


__ADS_3

“WOAH!! Besarnya...”


Maul pun sangat bersemangat ketika tiba di kantornya Pak Hari.


Saat ini kami sudah berada di kantornya Pak Hari. Sepulang sekolah, kami pun pergi ke sini bersama dengan Pak Febri menggunakan mobilnya. Hari ini Pak Febri membawa mobil karena tau kalau Maul akan ikut.


Setidaknya ekspresi yang Maul keluarkan hampir sama seperti yang aku dan Pak Febri keluarkan.


“Apa kita tidak salah kantor Mar?”


“Tidak.”


“Bukankah ini terlalu besar untuk empat orang saja.”


“Kan sudah aku bilang kalau kantor ini bekas kantor Semesta Komik dulu, wajar saja bila kantornya besar.”


“Hebat sekali.”


Kami pun mulai masuk ke dalam kantor dan di lobi kantor sudah terdapat Pak Hari yang sedang menunggu kami bertiga.


“Pak Hari, ini temanku Maul. Dia temanku yang kemarin saya sebutkan.”


“Saya Hari, senang bertemu denganmu.”


Pak Hari langsung menghampiri Maul dan mereka berdua pun bersalaman.


“Saya Maul Pak, senang bertemu dengan bapak. Saya dulu juga sering membaca majalah Semesta Komik. Banyak komik yang saya suka di majalah itu, seperti...”


Maul pun mulai berkata banyak kepada Pak Hari.


Ooiii Mul, jangan terlalu berlebihan loh. Bisa jadi kau tidak akan mendapatkan pekerjaannya karena Pak Hari merasa terganggu denganmu.


“Bagaimana kalau kita langsung pergi ke ruang rapat?”


Ajak Pak Hari kepada kami semua.


“Ruang rapat!”


Mata Maul pun sangat berbinar-binar dan merasa tidak sabar untuk melihat seperti apa ruang rapat yang dimiliki oleh kantor ini.


Ketika sampai di sana, memang kita masuk ke dalam sebuah ruangan dan di luar ada papan nama yang menunjukkan kalau ini adalah ruang rapat. Namun kami hanya menemukan sebuah tikar yang sudah digelar di sana dan beberapa gelas plastik dan sebuah termos berada di atas tiker tersebut.


Aku pun melihat kalau Maul merasa kecewa dengan hal itu. Sebenarnya apa yang orang ini pikirkan memangnya.


“Kenapa kau kecewa seperti itu?”


Tanyaku kepadanya.


“Aku kira ruangan ini akan berisikan meja-meja dan kursi yang biasa digunakan dalam rapat.”


Jadi itu.


“Apa yang kau harapkan dari sebuah perusahaan yang baru ingin berjalan lagi?”


“Kau benar juga Mar.”


Kami pun bergabung dengan Pak Hari dan juga Pak Febri yang sudah duluan duduk di atas tikar tersebut.


“Kau bawa barang yang aku suruh kan Bri?”


“Tentu saja.”


Pak Febri pun mengeluarkan kopi sasetan dari dalam tasnya.


“Apa kalian meminum kopi juga?”


Pak Hari mulai menyeduh kopi-kopi itu.


“Aku tidak begitu suka kopi hitam.”


“Aku pun sama.”


“Kalian tenang saja, aku juga membawa kopi cappucino.”


Pak Febri mengeluarkan kopi lainnya dari tasnya.


Aku penasaran sebanyak apa kopi yang dia bawa di dalam tasnya.


“Kalau begitu, mari kita mulai rapatnya.”


Rapat pun di mulai, Pak Febri mulai membagikan sebuah kertas yang di dalamnya berisi tentang UI/UX yang akan diterapkan diaplikasinya nanti.


Sedikit informasin, UI/UX adalah desain untuk komputer, peralatan, mesin, perangkat komunikasi mobile, aplikasi perangkat lunak, dan situs web yang berfokus pada pengalaman pengguna dan interaksi. UI adalah kependekan dari User Interface sedangkan UX adalah kependekan dari User Experience. Untuk lebih lanjutnya, kalian bisa membacanya di internet.


“Aku membuat beberapa desain dari UI/UX untuk kalian pilih, semuanya aku sesuaikan sesuai tema yang nantinya akan kita pilih. Aku juga memberikan beberapa rekomendasi tema yang biasa disukai dikalangan remaja.”


Pak Febri menjelaskan dari desain yang telah dia buat.


“Dari dulu desainmu memang bagus ya.”


Pak Hari memuji desain yang dibuat oleh Pak Febri.


Aku setuju dengan Pak Hari, memang kemampuan Pak Febri sangatlah hebat dalam bidang desain, seperti yang aku duga dari seorang ahli.


“Bagaimana pendapatmu untuk desain yang telah dibuat ini Maul?”


Pak Hari meminta pendapat dari Maul yang sedang fokus melihat-lihat desain milik Pak Febri.


“Aku lebih suka desain yang kedua. Aku rasa desain ini lebih cocok jika target dari pasar kita adalah remaja.”


“Aku setuju denganmu, desain ini lebih terlihat tidak kaku dan dengan warna yang cerah membuat anak muda sedikit tertarik dengan tampilannya.”


Pak Hari pun setuju dengan pendapat dari Maul.


Desain kedua yang dibuat Pak Febri memang lebih menarik perhatian anak muda dibandingkan desain yang lainnya. Mungkin karena desain yang kedua menggunakan warna-warna yang lebih cerah sedangkan desain lainnya cenderung terlihat gelap. Sejujurnya, aku setuju dengan pendapat dari Maul. Sejak pertama kali melihat desain-desainnya, aku juga lebih suka desain yang kedua.

__ADS_1


“Kalau begitu, kita sepakat untuk memakai desain yang kedua ini ya!”


“Apa tidak masalah memutuskannya secepat itu?”


Tanyaku kepada Pak Hari.


“Aku rasa untuk hal ini lebih baik tidak usah terlalu lama, nanti kita bisa memperbaruinya seiring dengan berjalannya waktu. Kita juga bisa mendapatkan masukan-masukan dari para pengunduh aplikasi kita.”


“Ok kalau begitu.”


“Sekarang kita akan mulai membahas tentang fitur apa saja yang akan ada di aplikasinya.”


Maul pun meminum kopi dan mengeluarkan laptopnya.


“Apa kita perlu memasukan fitur berbayar di dalam aplikasinya?”


Ucap Pak Hari kepada kami semua.


“Aku rasa untuk awal-awal lebih baik jangan dulu.”


“Aku setuju dengan Amar, yang harus diperhatikan saat ini adalah komik-komik yang akan kita tampilkan di sana sebagai pembukanya. Tentu saja kita harus memasukkan komik-komik yang menarik pembaca untuk mengunduh


aplikasi kita.”


Maul sangat hebat kalau sedang membahas tentang hal ini.


“Sudah ada berapa komikus yang setuju untuk berpartisipasi dalam hal ini?”


Pak Febri bertanya kepada Pak Hari.


“Kalau sekarang baru sepuluh komikus saja yang mau ikut dalam hal itu.”


“Hebat sekali kau dapat mengumpulkan sepuluh komikus dalam satu hari.”


“Aku akan mengumpulkan komikus lebih banyak lagi sampai hari penerbitan.”


“Ngomong-ngomong bagaimana bayaran untuk para komikus yang berpartisipasi? Bukankah aplikasi ini belum memiliki pemasukan? Tidak mungkin kan kalau kita tidak membayar mereka.”


Karena kalau kita tidak membayar mereka bisa jadi hal itu akan menjadi skandal awal untuk perusahaan ini.


“Tenang saja, tidak semua komikus yang ikut berpartisipasi ini meminta bayara. Banyak yang ikut dengan suka rela tidak dibayar terlebih dahulu sebagai ucapan terima kasih karena berkat Semesta Komik, mereka menjadi komikus terkenal. Untuk para komikus yang meminta bayaran, mungkin aku bisa menggunakan uang gaji dan uang yang aku kumpulkan dari penyewaan gedung ini dulu.”


Ternyata ada juga komikus yang mau tidak dibayar dulu seperti kami. Sepertinya jasa Semesta Komik sangat besar untuk mereka.


“Kenapa kau tidak menyewakan gedung ini lagi saja? Aku rasa, seandainya jika kita sudah memiliki karyawan, masih sangat lama untuk menggunakan semua lantai di gedung ini.”


Pak Febri menyarankan hal itu untuk menambah pemasukan perusahaan ini.


“Aku sudah memikirkan hal itu, jadi kemarin aku berniat untuk menyewakan lagi gedung ini dari lantai satu hingga lantai lima. Dan beruntungnya kita, perusahaan yang kemarin menyewa gedung ini tertarik untuk menyewa gedung ini lagi karena gedung yang mereka sewa sekarang lebih mahal dibandingkan dengan di sini. kalau dari lokasi, tentu gedung ini memiliki posisi yang sangat strategis.”


Pak Hari memang memiliki perencanaan yang sangat matang, dia bahkan sudah memikirkannya hingga ke tahap ini. Dengan begitu masalah keuangan untuk perusahaan ini selama pembuatan aplikasi sepertinya sudah teratasi.


“Pak Hari, apakah bapak masih memiliki uang untuk memasang iklan di internet? Karena aku sangat membutuhkan itu untuk mempromosikan aplikasi ini saat ingin rilis nanti.”


Tanya Maul kepada Pak Hari.


“Untuk mendapatkan jumlah pengunjung yang sangat banyak, tentu biaya yang dibutuhkan juga banyak. Tapi aku akan mencoba menghitungnya seminimal mungkin untuk menekan pengeluaran saat ini. Nanti jumlah biayanya akan aku kirimkan lewat pesan saja. Bolehkah aku meminta nomor bapak?”


Maul memberikan kertas dan pulpen kepada Pak Hari.


“Nih nomorku, nanti kalau ada apa-apa masalah pembiayaan bisa langsung bilang saja.”


“Siap.”


“Apa semua murid di sekolahmu semuanya seperti ini Bri?”


“Tentu saja tidak, hanya mereka saja yang terlihat berbeda dibandingkan yang lain. Sebenarnya ada beberapa orang juga yang potensinya sama seperti mereka, tapi itu tidak banyak.”


Pak Febri masih fokus dengan desain yang sedang dia buat untuk aplikasinya nanti.


“Bagaimana untuk webnya Mul?”


Tanyaku kepada Maul.


“Aku dapat mengerjakannya dalam dua hari jika sedang bersekolah. Kalau sedang libur, aku bisa mengerjakannya dalam satu hari.”


Maul pun masih melakukan sesuatu dengan laptopnya.


“Aku suka anak-anak yang sigap dalam bekerja seperti ini. Kalau kalian terus seperti ini, aku yakin aplikasinya akan cepat terkenal.”


“Siap.”


Aku baru kali ini melihat Maul yang serius dalam bekerja. Memang sebelumnya, aku sama sekali tidak pernah melihat Maul bekerja karena biasanya dia mengerjakan itu ketika dia sedang sendiri di kamarnya untuk mendapatkan konsentrasi lebih.


“Jangan lupa Mul, kalau nanti ada biaya tambahan di web juga, kamu bisa kirimkan saja biayanya ke saya nanti biar saya urus semua.”


Ucap Pak Hari kepada Maul.


“Ok.”


“Lalu bagaimana ukuran komik yang akan kita gunakan?”


“Kau benar juga Mar, aku baru saja ingin bertanya tentang hal itu.”


Maul pun mulai berpikir kembali.


“Memangnya ada berapa ukuran dalam hal itu? Aku tidak begitu tau tentang aplikasi komik digital. Kalau dulu di Semesta Komik, kita menggunakan ukuran sesuai dengan majalah yang kita keluarkan.”


Ucap Pak Hari kepada kami.


“Aku memiliki contoh ukuran yang dimiliki oleh kedua aplikasi. Baik itu yang dari Jepang, maupun yang dari Korea.”


Aku pun memberikan satu lembar kertas kepada mereka semua.


“Kau sudah mempersiapkan ini ya Mar?”

__ADS_1


“Tentu saja Mul, mana mungkin aku melakukan sesuatu tanpa persiapan.”


Pak Hari pun melihat kedua ukuran itu dengan sangat seksama sembari memikirkan sesuatu.


“Aku rasa lebih baik kita menggunakan ukuran seperti yang ada di aplikasi Jepang saja, karena nantinya akan dicetak menjadi komik dalam bentuk buku, jadi aku rasa lebih cocok pake ukuran yang itu.”


Pak Hari pun menentukan pilihannya.


“Apakah itu berguna? Bukankah alasan kita pindah ke digital karena sudah jarang orang yang membaca buku yang dicetak.”


Aku pun bertanya tentang hal itu.


“Mungkin itu akan dipikirkan lagi nanti selagi menunggu tanggapan dari para pembaca dan juga komikus.”


“Lalu bagaimana caranya untuk komikus yang ingin bergabung dengan aplikasi milik kita?”


Pak Febri yang sudah menyelesaikan desainya langsung mengajukan sebuah pertanyaan. Aku kira awalnya Pak Febri diam saja karena sangat fokus dengan pekerjaannya, ternyata dia menyimak juga.


“Aku ada ide tentang hal itu?”


“Apa itu Mar?”


Semua pandangan pun mulai tertuju ke arahku. Karena hanya empat orang saja yang ada di sini, jadi pandangan itu tidak terlalu mengganggu.


Sebenarnya aku tau hal ini dari Kichida. Karena tau ingin membuat aplikasi ini, aku sering bertanya kepada Kichida tentang perusahaan komik yang ada di Jepang. Aku pernah membaca salah satu artikel kalau ada satu perusahaan komik di Jepang yang sangat laris sekali, bahkan perusahaan itulah yang mengeluarkan komik-komik terkenal di dalam maupun di luar negeri.


“Kalau di Jepang, para komikus akan disuruh membuat komik one-shot yang nantinya akan dikonteskan, siapa komik yang memiliki rating tertinggi dan sesuai dengan standar perusahaan akan terpilih untuk diserialisasikan.”


“Hmmm... Aku rasa itu bukan ide yang buruk.”


“Sepertinya aku juga sudah mendapatkan gambaran besarnya.”


“Aku juga sama.”


Semuanya pun setuju dengan ide yang aku berikan, ternyata tidak ada sia-sianya aku bertanya kepada Kichida akhir-akhir ini.


“Baiklah kalau begitu, masalah perekrutan komikus baru akan menggunakan ide dari Amar. Mungkin sampai sini dulu untuk rapat kali ini. Target selanjutnya adalah web serta aplikasinya yang sudah jadi dan siap  untuk di rilis. Aku menargetkan kalau aplikasihnya sudah ada saat pertengahan agustus, apa kau sanggup membuatnya Mul?”


Pertengahan agustus? Bukankah itu hanya tinggal satu minggu lebih dua hari saja dari sekarang.


“Kalau untuk versi beta-nya saja mungkin bisa.”


Tentu saja, walaupun untuk orang sekelas Maul pun aku rasa itu terlalu sulit. Kecuali kita sedang liburan dan tidak sekolah, mungkin itu bisa saja terjadi.


“Begitu... Lalu kapan kira-kira kau bisa menyelesaikan aplikasinya hingga siap untuk dirilis?”


Ketika Pak Hari mengatakan itu, Maul pun langsung melihat ke langit-langit untuk memperkirakan hal itu.


Ini sebenarnya sebuah pertanyaan juga yang sempat mengganjal pikiranku. Pernah tidak kalian ketika sedang maju ke depan kelas saat mengerjakan soal matematika di papan tulis, dan ketika kalian sedang menghitung angka-angkanya di dalam pikiran kalian, apa kalian juga melihat ke langit-langit juga sepertiku?


“Aku rasa akhir september.”


“Kalau begitu kita akan merilis aplikasi itu pada awal oktober.”


“Bukankah itu terlalu terburu-buru?”


Tanya Pak Febri kepada Pak Hari.


“Tenang saja, aku dapat mengatasinya.”


Ucap Maul dengan sangat percaya diri.


“Apa yang terjadi dengan anak-anak ini.”


Rapat pun selesai dan kami semua pergi ke atap untuk beristirahat sambil menyantap nasi padang yang telah dibeli oleh Pak Hari.


“Ngomong-ngomong, kapan perusahaan yang menyewa itu pindah ke sini?”


“Aku rasa bulan depan.”


“Bulan depan! Cepat sekali.”


Pak Febri terkejut ketika mendengar itu dari Pak Hari.


“Itu karena gedung yang mereka sewa saat ini terlalu mahal dan saat itu mereka menyewa gedung itu karena keadaan yang mengharuskan mereka untuk menyewanya. Kalau mereka tidak menyewanya, maka perusahaan mereka tidak bisa berjalan. Jadinya mereka hanya menyewa gedung itu selama satu bulan sambil mencari gedung lain yang lebih murah.”


“Tapi bagaimana mereka mau menerima tawaranmu lagi?”


“Aku berkata kepada mereka kalau selama dua bulan ke depan, aku akan menyewakan gedungnya setengah harga sebagai permintaan maafku karena telah membuat mereka repot, dan juga aku yang membiayai biaya pindahan mereka ke sini. Setelah mendengar hal itu, mereka pun menerimanya lagi.”


Hebat sekali caranya Pak Hari bernegosiasi dengan pemilik perusahaan itu. Aku rasa kapan-kapan aku akan memintanya untuk mengajariku.


“Bagaimana untuk pembagian kantornya nanti?”


Maul bertanya kepada Pak Hari.


“Lantai satu akan menjadi milik bersama karena di sana hanya ada lobi dan ruang pertemuan dengan tamu saja. Lantai dua sampai lantai enam disewakan kepada mereka dan kita hanya menggunakan lantai tujuh sampai lantai sepuluh. Sedangkan atap akan menjadi milik bersama juga.”


Pak Hari pun menjelaskan tentang pembagian itu kepada kita.


“Aku rasa tiga lantai masih banyak untuk empat orang.”


Maul sedikit tersenyum mendengar itu.


“Ngomong-ngomong apa tidak masalah kau mengerjakan itu sampai bulan september nanti Mul?”


Tanyaku kepadanya.


“Selama kau membantuku, aku dapat menyelesaikannya lebih cepat.”


“Tentu saja aku akan membantumu.”


“Kalian berdua... Jangan terlena dengan pekerjaan ini, kalian juga harus memperhatikan sekola kalian dan menjaga nilai kalian agar tidak turun. Kalau sampai nilai kalian turun, akan aku ambil pekerjaan ini dari kalian.”


Pak Febri memperingati sekaligus mengancam kami.

__ADS_1


“Siap bos.”


-End Chapter 65-


__ADS_2