
Hari ini adalah hari yang tidak terlalu melelahkan karena hari ini aku tidak perlu pergi ke kantor untuk bekerja. Hari ini katanya Pak Hari dia akan mengirimkan pekerjaan kepadaku melalui email.
Sebelum masuk ke kelas, aku bertemu dengan Pak Febri yang ingin pergi mengajar di kelas lain. Dia terlihat sudah menunggu di depan kelas dengan memegang buku-buku di tangannya.
“Amar! Bagaimana pekerjaanmu?”
Pak Febri langsung menyapaku ketika melihatku.
“Baik-baik saja.”
“Bagus kalau begitu, kau juga harus menjaga nilaimu Mar. Sejauh ini nilaimu masih belum turun dan baik-baik saja.”
“Yah, selama tidak ada tugas yang memberatkanku, aku masih bisa mengaturnya.”
“Hahahaha... Tenang saja, selama kau masih mengerjakan pekerjaan ini, aku tidak akan memberikan tugas yang berlebihan untuk saat ini.”
Bel pun berbunyi dan Pak Febri langsung memasuki kelas yang ingin dia ajar. Aku pun juga masuk ke dalam kelas dan melihat Kichida yang sudah berada di kursinya.
“Kichida! Apa kau memiliki komik Jepang yang bagus untuk aku baca?”
“Tumben sekali kau bicara seperti itu, padahal tidak lama ini kau mengatakan kalau komik yang ku baca sangat aneh.”
“Haha, maafkan aku waktu itu. Saat ini aku ingin tau sedikit tentang komik karena pekerjaanku.”
“Apa aliran kesukaanmu?”
Aliran? Aku tidak begitu tau tentang aliran yang ada di komik. Aku hanya tau aliran-aliran yang ada di dalam musik atau film. Apa komik memiliki aliran yang sama dengan film atau buku?
“Aku tidak begitu tau aliran yang aku suka. Apa saja komik yang menurutmu bagus, sarankan saja kepadaku.”
“Ada aksi, petualangan, drama, komedi, remaja, magis, music, sci-fi, olahraga, sekolah...”
Kichida mulai memberitahuku semua aliran yang dia tahu mulai dari beberapa yang aku tau hingga yang tidak pernah aku dengar.
“...Dan terakhir ecchi.”
Ecchi? Aku sama sekali tidak pernah mendengar kata itu.
“Apa itu ecchi?”
“Itu genre yang sedikit dewasa, seperti Yamaha dan Tujuh Montir memiliki aliran ecchi.”
Dewasa? Ternyata ada aliran dewasa lain selain yang ku tau. Tapi kenapa komik memiliki aliran dewasa, bukankah komik itu biasanya dibuat untuk anak-anak?
“Memangnya aliran itu tidak masalah untuk anak-anak?”
“Di Jepang bukan hanya anak-anak saja yang membaca komik, bahkan orang dewasa juga ada yang masih membacanya.”
Kemudian Riki pun tiba bersama dengan Natasha yang baru saja mengambil absen dari ruang guru.
“Apa yang kalian bicarakan?”
Riki langsung duduk di kursinya setelah menaruh buku absen itu di meja guru.
“Aku sedang bertanya tentang komik ke Kichida.”
“Komik ya... Kemarin aku melihat adikku membawa komik ke rumah. Dia mendapatkan komik itu dari undian yang dia menangkan dari abang-abang jualan di sekolahnya.”
“Lalu?”
“Saat aku pergi ke kamarnya, aku tidak sengaja melihat komiknya yang berada di atas meja belajarnya. Aku sedikit penasaran dan tidak sengaja membaca komik itu dan ternyata di dalamnya ada beberapa gambar yang seharusnya tidak boleh dilihat oleh anak seumur adikku.”
Aku penasaran gambar seperti apa yang ada di komik itu.
“Lalu apa
yang kau lakukan dengan komik itu?”
Tanyaku kepadanya.
“Tentu
saja aku menyitanya.”
Ketika Riki mengatakan hal itu, aku langsung melihat Riki dengan tatapan curiga. Karena kalian tau, ketika Riki mengetahui kalau di dalamnya ada gambar yang tidak layak dilihat atau bisa kita sebut gambar untuk orang dewasa. Kenapa dia tiba-tiba menyitanya? Apa jangan-jangan...
“Jangan berpikir yang macam-macam Mar. Aku sudah membuang komik itu, karena akan menjadi sebuah masalah nantinya jika ibuku menemukan komik itu di kamarku.”
Oh jadi begitu, aku kira dia akan menyimpannya dan membacanya ketika malam hari.
“Memangnya komik apa yang adik Riki bawa?”
Kichida penasaran juga dengan hal itu.
Hmmm... Apa jangan-jangan Kichida juga mengetahui tentang komik ini? Itu bisa saja kan, dia saja tau aliran yang sedikit dewasa.
“Aku tidak tau judul komiknya karena masih berbahasa Jepang, tapi yang jelas di dalamnya bercerita tentang sekolah bela diri, namun memiliki alur cerita yang sedikit aneh.”
Aku pun mengangguk-angguk kecil saat Riki berkata seperti itu.
“Aku paham perasaanmu Rik, aku juga berpikiran yang sama ketika mendengar cerita tentang Yamaha dan Tujuh Montir.”
“Memangnya ceritanya tentang apa?”
“Ceritanya tentang seorang yang ingin menjadi seorang pembalap dan dia bisa mendapatkan kekuatan super dari tujuh montir ketika dia menciumnya.”
“Apakah montirnya perempuan?”
__ADS_1
Riki langsung terlihat terkejut sekaligus tertarik dengan ceritanya.
“Tentu saja, kalau montirnya laki-laki tentu saja ceritanya semakin aneh lagi.”
“Jadi komik apa yang ingin kau baca Mar?”
Tanya Kichida kepadaku.
“Terserah, komik apa yang menurutmu bagus akan aku baca.”
Kelas pun dimulai dan semua murid mulai masuk ke dalam kelas untuk mengikuti kegiatan pembelajaran.
***
“Sepi sekali!”
Saat ini aku sedang berada di perpustakaan untuk memeriksa pekerjaanku yang baru saja dikirimkan oleh Pak Hari, karena hanya di perpustakaan yang ketika istirahat sudah dibuka untuk umum. Sebenarnya aku ingin memeriksa pekerjaanku di lab dengan bantuan Pak Febri agar bisa masuk ke sana, tapi Pak Febri sedang pergi bersama guru-guru yang lainnya.
Hari ini aku tidak pergi ke tempat biasa karena aku ingin segera menyelesaikan pekerjaanku agar aku dapat istirahat di rumah dengan tenang. Aku merasa akhir-akhir ini aku kurang tidur dan sering sekali mengantuk ketika di kelas.
Aku pun melihat kalau perpustakaan sangat sepi sekali tidak ada murid yang berada di sana. Tentu di perpustakaan semua murid dilarang untuk makan di dalamnya. Aku bersyukur karena perpustakaan sepi, jadinya aku bisa fokus memeriksa pekerjaanku agar di rumah aku bisa beristirahat dengan tenang.
Ketika aku sedang masuk ke perpustakaan, ternyata murid yang sedang berjaga di perpustakaan adalah Iriana. Jika kalian ingat siapa Iriana, Iriana adalah murid yang dulu ketika LDKS berada di kelompokku.
“Apa komputernya bisa digunakan?”
Aku bertanya kepada Kichida yang sedang membaca buku di sana.
“Bisa, kalau kau ingin menggunakan silahkan saja.”
“Apa internetnya hidup?”
“Tentu.”
“Terima kasih.”
Dia dingin sekali, seharusnya dia lebih ramah kepada pengunjung perpustakaan ini. Pantas saja perpustakaannya sepi.
Aku pun langsung pergi ke salah satu komputer yang ada di sana dan mulai melihat komik-komik yang sudah masuk di web yang waktu itu aku buat.
Hmmmm... Ternyata banyak sekali, sepertinya aku akan membagi dua dengan Pak Febri nanti. Lebih baik sekarang aku memilih komik mana saja yang ingin aku lihat.
“AMAR!”
Aku dikejutkan oleh seseorang dari belakangku saat aku sedang fokus memeriksa pekerjaanku. Aku pun langsung menoleh untuk melihat siapa orang itu, dan dia ternyata adalah Miyuki.
“Kenapa kau ada di sini?”
“Ada seseorang yang tidak ingin aku temui.”
“Apa orang itu Takeshi?”
“Iya.”
“Kalau kau tidak suka didekati oleh Takeshi seperti itu, lebih baik kau berkata yang sebenarnya saja kepada dia, daripada kau kerepotan seperti ini.”
“Tumben sekali kamu mengkhawatirkanku Mar, aku senang sekali.”
Uh... Sepertinya aku telah mengucapkan hal yang tidak perlu aku ucapkan kepada Miyuki.
“Sekarang aku ingin mencoba gayamu berbicara. Apakah Takeshi akan berhenti jika aku berkata seperti itu?”
Hmmm... Jadi seperti itu gayaku ketika berbicara.
“Tidak.”
Tentu saja tidak, ketika dia ditolak oleh Miyuki saat di Kepulauan Seribu saja dia masih tetap mendekati Miyuki. Aku tidak tau seberapa cintanya orang itu kepada Miyuki, tapi menurutku untuk mendekati Miyuki, cara yang dia gunakan terlalu berlebihan.
“Apakah yang lain masih berkumpul di tempat biasa?”
“Iya, tapi Rina tidak di sana karena ada tugas yang harus dia selesaikan saat ini juga.”
Heee... Tumben sekali Rina mengerjakan tugasnya di sekolah, memangnya apa yang terjadi ketika dia sedang berada di rumah.
“Apa kamu tidak makan Mar?”
“Aku sudah menghabiskannya di kelas tadi.”
“Cepat sekali kamu makan Mar!”
“Soalnya pelajaran sebelum istirahat tadi selesai lebih cepat dari biasanya, jadi aku dapat menghabiskan makananku sebelum bel istirahat berbunyi.”
“Apa yang sedang kamu lakukan sekarang Mar?”
Miyuki mulai melihat ke arah layar komputer.
“Aku sedang memeriksa pekerjaanku.”
“Apa komik-komik ini yang nantinya akan ada di aplikasi itu?”
“Darimana kau tau kalau aku sedang membuat aplikasi?”
Aku sedikit terkejut mendengar itu, karena aku tidak pernah membicarakan hal itu kepada Miyuki. Aku hanya berkata kalau aku sedang bekerja di perusahaan yang berkecimpung di dunia komik dan ada banyak perusahaan penerbitan yang berkecimpung di sana.
“Saat kamu berkata kalau kamu sedang bekerja sebagai editor, aku mengingat perkataan Maul yang mengatakan kalau pekerjaan kalian akan luar biasa saat sudah terbit. Kemudian saat kakaknya Rina berbicara tentang aplikasi komik yang ingin terbit dan partanyaan dari Maul, itu membuatku akhirnya tau kalau kamu memang sedang
mengerjakan itu.”
__ADS_1
Teryata Miyuki jauh lebih hebat dibandingkan yang aku kira. Dugaanku selama ini tidaklah saja, dia sangat cocok jika menjadi wartawan.
Sudahlah... Setidaknya dia tidak mengatakan kepada orang-orang tentang hal ini.
Aku pun mencoba untuk mengabaikan Miyuki dan fokus dengan pekerjaanku, tapi aku sama sekali tidak bisa mengumpulkan konsentrasi karena Miyuki yang berada di sampingku.
“Kau tidak makan Miyuki?”
“Hari ini Mama membuatkanku sushi untuk bekal, jadinya aku dapat menghabiskan itu dengan sangat cepat.”
“Sushi ya... Memangnya itu enak?”
“Apa kamu tidak pernah mencoba makan sushi Mar?”
“Dulu ibuku pernah membawa sushi ketika pulang kerja dan aku mencoba sushi yang dia bawa. Ketika aku mencobanya, menurutku rasa yang dihasilkan dari sushinya sangat aneh.”
Aku tidak tau apa yang saat itu aku makan, tapi saat itu sushinya sangat aneh sekali. Apa mungkin ikan yang aku makan waktu itu masih mentah. Karena setauku kalau sushi itu rata-rata ikannya dimakan tanpa dimasak terlebih dahulu.
“Kalau begitu seharusnya kamu mencoba sushi yang isisnya sudah dimasak terlebih dahulu Mar. Mungkin sushi yang kamu makan kemarin isinya masih mentah jadi kamu merasa kalau sushi itu tidak enak. Kapan-kapan kalau kamu main ke rumahku, aku akan membuatkanmu sushi.”
Main ke rumah Miyuki ya... Paling aku akan kesana lagi ketika diminta ibuku untuk mengantarkan sesuatu.
“Aku tidak tau kapan akan main ke rumahmu.”
“Heee... Padahal Misaki selalu bertanya terus kapan kamu main ke rumah lagi.”
“Aku tidak memiliki alasan untuk bermain ke rumahmu, apalagi saat ini aku sedang sibuk-sibuknya.”
“Apakah perlu alasan untuk bermain ke rumah seseorang? Kamu bisa main ke rumahku dengan alasan untuk silaturahmi dengan keluargaku.”
“Kau benar juga, mungkin aku akan memberitahumu jika aku ingin pergi ke rumahmu.”
Silaturahmi ya... Sepertinya nanti akan aku lakukan ketika ibuku menyuruh juga. Lagipula jika ingin bermain dengan Misaki, aku bisa melakukannya dari rumahku.
“Aku menunggu itu.”
Lebih baik aku tanyakan saja saat ini.
“Kenapa waktu ulang tahunnya Rina kau tidak memberitahukan pekerjaanku kepada yang lain padahal kau sudah tau apa pekerjaanku?”
“Memangnya kamu pikir aku akan memberitahukan masalah itu?”
“Berdasarkan sifatmu sebelum-sebelumnya, seharusnya kau memberitahukan hal itu.”
“Kamu telah salah sangka terhadapku Mar. Aku tidak akan membicarakan hal itu jika kamu sendiri tidak ingin membicarakannya. Itu bisa membuat kamu makin membenciku nanti, aku tidak mau jika hal itu sampai terjadi.”
Miyuki pun tersenyum ke arahku.
Saat itu untuk per sekian detik aku merasa kalau Miyuki sepertinya bukanlah orang yang merepotkan. Tapi itu semua hilang saat aku melihat Takeshi yang sudah masuk ke perpustakaan dan menghampiri kami berdua. Aku pun langsung mematikan komputerku dan berencana untuk kembali ke kelas.
“Apa kamu sudah selesai Mar?”
“Begitulah, aku hanya memeriksanya saja. Aku berniat untuk mengerjakannya saat aku berada di rumah sepulang sekolah nanti. Lagi pula menurutku, aku sudah terlalu lama di sini.”
Ya... Sebenarnya aku ingin mencicil pekerjaan itu ketika berada di sini, tapi karena ada Miyuki jadinya aku tidak bisa berkonsentrasi.
“Apa yang kalian berdua lakukan di sini?”
“Kami hanya berbicara saja.”
Aku pun mulai berjalan melewati Takeshi.
“Apa yang kalian bicarakan?”
“Kau bisa tanyakan itu kepada Miyuki.”
Aku pun pergi ke meja perpustakaan untuk mengucapkan sepatah dua patah kata kepada Iriana karena dia yang dari tadi mengawasi perpustakaan.
“Aku sudah selesai menggunakan komputernya.”
“Kalau begitu isi buku tamu dulu.”
Iriana memberikan sebuah buku kepadaku dan aku pun mengisi namaku di sana.
“Apa itu Takeshi dari kelas Farmasi A?”
“Kau kenal dengannya?”
Hee... Aku baru tau kalau Takeshi dikenal oleh orang-orang. Orang tampan memang beda.
“Aku hanya mengetahuinya dari pembicaraan teman-temanku di kelas. Banyak sekali dari mereka yang ingin dekat dengan Takeshi tapi karena dia selalu bersama dengan Miyuki, jadinya mereka menjadi tidak percaya diri. Sebenarnya apa hubungan mereka?”
Akhirnya dia tidak bersikap dingin lagi.
“Kenapa kau tidak langsung bertanya saja kepada orangnya. Aku tidak mau mengatakan sesuatu yang aku sendiri tidak tau apa itu.”
“Dari LDKS sampai sekarang, kau tidak ada bedanya sama sekali ya.”
“Begitulah, aku merasakan kalau seperti inilah aku.”
“Aku kira kau akan bertengkar tadi. Kalau kau sampai bertengkar tadi, aku pasti akan melaporkan ini kepada guru.”
“Tenang saja, aku tidak suka melakukan hal seperti itu.”
Aku pun telah selesai mengisi buku tamu dan langsung beranjak ke kelasku. Selama di perjalanan, aku selalu memikirkan perkataan Miyuki barusan. Sepertinya apa yang pernah Rina katakan itu benar. Miyuki itu tidaklah merepotkan hanya saja bagaimana aku melihat ke arahnya.
-End Chapter 71-
__ADS_1