Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 128 : Pernyataanku Kepada Miyuki


__ADS_3

“Apa saja yang kau bicarakan dengan ibunya Miyuki?”


Tanya Maul ketika aku baru saja bergabung dengan mereka.


“Dia menyuruhku untuk membawa bingkisan untuk ibuku.”


“Apa kau mau mencoba makanan yang ada di sini.”


“Tentu saja.”


Aku pun mengambil air mineral yang ada di sana sebelum mengambil makanan supaya aku tidak perlu bolak balik lagi.


Aku sedikit kebingungan karena rata-rata makanana yang ada di sana aku tidak tau sama sekali. Aku juga tidak melihat takoyaki dan okonomiyaki yang waktu itu pernah aku makan saat mengunjungi festifal budaya di sekolahnya Miyuki.


Aku mengambil piring kecil dan sumpit kayu yang memang disediakan di sana.


“Apa yang ingin kau ambil Mar?”


Maul juga kebingungan karena banyak sekali makanan yang ada di sana.


“Sepertinya aku akan mengambil sushi saja, hanya itu saja makanan yang aku tau.”


“Aku juga sepertinya akan mengambil itu.”


“Bang Amar kan bisa memesan ramen, okonomiyaki, takoyaki, dan masih banyak yang lainnya.”


Ucap Misaki yang sepertinya tau kalau kami sedang kebingungan.


“Dimana? Aku tidak melihat di meja manapun ada yang menyediakan takoyaki dan okonomiyaki.”


“Kau bisa memesan itu kepada koki yang ada di sana Bang, nanti mereka akan membuatkannya untukmu.”


Hebat sekali kalau memang seperti itu, pantas saja banyak orang yang berkumpul disekitar koki-koki itu.


Ngomong-ngomong dimana Riki ya?


Aku pun melihat ke setiap meja makan di sana untuk menemukan dimana Riki berada. Akhirnya aku menemukannya masih menyantap makanan yang ada di sana bersama Akbar dan juga Kirana.


Aku melihat tangannya Riki yang penuh sekali dengan makanan dan ada beberapa orang yang melihat ke arahnya.


“Misaki, siapa yang menyiapkan acara ulang tahun ini?”


“Papa yang menyiapkan semuanya, bahkan dia terlihat sibuk sekali seminggu sebelum acara ini dimulai.”


Orang tua yang satu itu, dia sangat menghamburkan uangnya untuk hal seperti ini.


Sepertinya masalah lain bagi orang yang ingin mendekati Miyuki bukan hanya Takeshi saja, tapi bapaknya juga menjadi masalah.


Jika orang itu tidak memiliki uang yang cukup banyak dibandingkan bapaknya, tidak mungkin dia berani untuk mendekati anaknya.


Kami pun pergi ke stan koki itu, di sana banyak sekali kompor dan alat masak yang ada di sana. Dan seperti yang dikatan Misaki. Aku dapat melihat salah seorang koki itu sedang membuat takoyaki dan okonomiyaki dan satu kokinya lagi memasak ramen dan segala macam masakan mi.


Bagaimana cara memesannya?


“Ramennya satu!”


Ucap Maul dengan lantang.


“Aiyo!”


Jawab salah satu koki itu.


Aku tidak tau apa yang mereka ucapkan, mungkin maksudnya iya.


“Kau mau mau memesan juga Rina?”


Tawarku kepada Rina, kalau dia mau memesan ramen juga jadi aku akan memesan dua ramen.


“Tidak Ar, aku sudah banyak makan sebelum kamu datang ke sini.”


Kalau Rina sudah banyak makan, kenapa Kirana masih bisa menemani Riki dan Akbar makan-makan sebanyak itu.


Walaupun badannya kecil, ternyata dia makannya cukup banyak juga.


“Ramennya satu Pak!”


“Aiyo!”


“Apa ada teman-teman sekelasmu yang diundang ke sini Rina?”


“Semua teman sekelasku di undang dan mereka semua juga datang ke sini.”


“Semua!?”


Maul terkejut saat mendengar hal itu.


“Iya semua.”


“Aku tidak tau seberapa populernya Miyuki di kelasnya.”


Seharusnya Maul sudah tau kepopuleran Miyuki sejak kita pergi ke pulau seribu dan juga setiap kali kita berjalan dengannya.


Di SMK Sawah Besar juga Miyuki sering dibicarakan oleh satu angkatan dan tidak diragukan lagi kalau tidak ada yang mengingatnya.


Saat masuk ke SMK Sawah Besar dan dia harus maju ke depan karena mendapatkan peringkat terbaik saat ujian masuk. Siapa yang tidak terpana ketika melihat ada seorang perempuan cantik berada di sekolahnya.


“Tentu saja Miyuki populer, dia cantik dan baik, selain itu dia juga tidak sombong kepada orang lain.”


Rina berusaha membuat Miyuki terlihat baik dihadapan kami yang sebenarnya itu tidak perlu karena kami sudah mengetahui hal itu.


“Begitu.”


“Apa hanya firasatku saja atau memang ada beberapa orang yang memperhatikan kita Mar?”


Tanya Maul sambil sesekali melihat-lihat sekitarnya.


“Aku sudah menyadari hal itu sejak Miyuki datang menyapa kita.”


Kemudian Maul pun melihat-lihat ke sekitar untuk memeriksa sesuatu. Dia juga sesekali melirik ke arah orang yang sedang melihat ke arah kami.


“Sepertinya aku sudah tau apa yang membuat mereka memperhatikan kita terus.”


“Woah apa itu?”


“Sebelum itu ada yang harus aku pastikan. Rina, apa Miyuki menghampiri semua orang yang datang ke acara ini?”

__ADS_1


Maul mulai bertanya kepada Rina untuk mendapatkan sebuah jawaban yang pasti.


“Tidak semua, hanya beberapa tamu saja yang dihampiri oleh Miyuki. Kebanyakan dari mereka yang menghampiri Miyuki untuk mengucapkan selamat kepadanya.”


“Dengan ini semuanya jelas.”


Maul menganggukkan kepalanya secara perlahan dan dia sudah mengetahui sesuatu.


“Apa yang ingin kau katakan Mul?”


Aku bingung dengan Maul saat ini.


“Sebenarnya mereka semua ini, hanya memperhatikanmu saja.”


Maul pun menjadi tenang dan menunggu ramennya kembali tanpa memperdulikan orang-orang yang mengamatinya.


“Aku?”


“Iya, Miyuki datang menghampirimu untuk menyapa, kau juga dekat dengan Misaki dan juga ibunya Miyuki. Tentu saja setelah melalui semua itu, kau akan menjadi perhatian oleh orang-orang yang ada di sini. Terlebih lagi mereka yang memiliki rasa suka dengan Miyuki atau apa..”


Maul berusaha mengingat sesuatu.


“Miyuki Fans Club?”


Ucap Misaki untuk mencoba menebak apa yang Maul lupakan.


“Iya itu, Miyuki Fans Club.”


“Menyebalkan sekali.”


Tapi terserah, aku juga sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini. Daripada aku mengurusinya lebih baik aku mengabaikannya saja, karena hal ini tidak ada habisnya.


Kemudian ramen yang kami pesan pun jadi, aku mengamati sekita untuk mencari kursi kosong yang nantinya akan aku gunakan untuk makan di sana.


“Apa yang sedang kau cari Mar?”


“Aku sedang mencari tempat untuk duduk.”


“Di sana ada tempat kosong.”


Maul menunjuk ke arah empat kursi kosong yang berada tidak jauh dari sana.


“Ayo kita pergi ke sana.”


Aku beserta yang lainnya pun pergi ke sana untuk menyantap ramennya.


Aku tidak tau apakah ini hanya kebetulan atau tidak, tapi jumlah kursinya pas sekali dengan jumlah orang kita saat ini.


“Bang Amar, apa aku boleh meminjam ponselmu?”


“Memang apa yang terjadi dengan ponselmu Misaki?”


Tanyaku balik kepadanya.


“Ponselku saat ini mati dan sedang diisi dayanya di dalam rumah. Aku ingin sekali bermain gim saat ini.”


Aku pun mengeluarkan ponsel dari dalam sakuku dan memberikan kepadanya.


“Terima kasih Bang Amar!”


Misaki pun memainkan ponselku dengan sangat senang sekali karena dia menggunakan karakter milikku.


Maul yang melihat apa yang baru saja aku lakukan kepada Misaki menjadi bingung.


“Aku baik kepada Misaki, karena Misaki tidak akan menimbulkan sebuah keributan jika aku berbuat baik kepadanya.”


“Benarkah itu?”


Maul yang sudah tau bagaimana fakta yang terjadi sebenarnya tidak percaya dengan apa yang aku ucapkan.


“Tidak juga sih, ada beberapa kali dia juga menimbulkan keributan karena aku bersikap baik dengannya.”


Karena banyak orang yang selalu menghubungkan, jika aku dengan Misaki berarti aku juga dekat dengan Miyuki. Dekat dengan Miyuki berarti aku pacaran dengannya.


Tapi setidaknya aku cukup bersyukur karena teman-temanku hanya mengetahui kebenaran itu saja.


Mereka pernah menanyakan kepadaku soal masalah kenapa ibuku bisa akrab dengan ibunya Miyuki, dan mereka hanya menyimpulkan karena kami berdua adalah sepasang kekasih.


Sebenarnya aku ingin menjelaskan kepada mereka, tapi setelah dipikir-pikir lagi, itu akan menimbulkan keributan yang sangat besar sekali.


Kalian bayangkan saja, jika aku menceritakan kalau ibuku dan ibunya Miyuki sebenarnya adalah seorang teman ketika SMA.


Pasti mereka akan berkata kalau aku dan Miyuki memang sudah ditakdirkan bersama.


Riki, Akbar, dan Kirana pun datang dengan membawa makanan di tangannya. Apalagi Riki yang kedua tangannya penuh dengan makanan.


“Dari mana kalian mendapatkan ramen itu? Kok Aku tidak melihatnya di meja manapun ya?”


“Kami memesannya di koki yang ada di sana.”


“Benarkah! Ayo Bar kita juga pesan ramen di sana.”


Riki sudah bersiap untuk pergi memesan ramen. Dia terlihat sangat bersemangat sekali jika sudah menyangkut soal makanan padahal makanan yang dia bawa sudah banyak.


“Aku mau menghabiskan makanan yang aku bawa terlebih dahulu.”


“Benar kata Kak Akbar, kamu juga seharusnya menghabiskan makananmu dulu Kak. Baru setelah itu mengambil yang lain!”


Kirana memarahi sikapnya Riki yang sedikit rakus.


Sepertinya bukan sedikit lagi...


“Baiklah, aku akan menghabiskannya.”


Riki pun langsung memakan semua makanan yang dia bawa dengan lahap.


“Misaki, kau bisa mengambil kantung plastik di rumahmu?”


“Untuk apa Bang?”


Misaki terlihat bingung dengan permintaan yang aku lontarkan kepadanya.


“Aku mau membawa pulang beberapa makanan yang berada di sini.”


“Oh begitu!”

__ADS_1


Misaki pun pergi ke dalam rumah dengan membawa ponselku.


“Kirana, silahkan duduk di sini saja.”


Maul memberikan kursinya kepada Kirana.


“Terima kasih Kak.”


“Sama-sama.”


“Kau juga Bar.”


Karena makananku sudah habis, aku memberikan kursiku kepada Akbar yang masih menghabiskan makanannya.


“Apa kau sudah bertemu dengan Miyuki tadi?”


Riki bertanya kepadaku dengan mulut yang penuh dengan makanan.


“Kami sudah bertemu tadi, kebetulan Miyuki yang menghapiri kami ketika sedang berada di tempat minuman.”


“Aku belum mengucapkan selamat kepadanya. Aku mau menghampirinya tapi enggan karena banyak orang yang ada di sana.”


Ternyata Riki juga tidak berani untuk mendekati Miyuki yang sedang dikerumuni orang saat ini.


“Dimana Takeshi? Aku sama sekali belum melihatnya.”


Maul melihat ke setiap kerumunan yang berada di sana.


“Kau yakin belum melihat Takeshi?”


“Iya, apa kau sudah melihatnya?”


“Aku sudah melihatnya, bahkan saat pertama kali aku sampai di sini.”


Sebenarnya Takeshi adalah orang kedua yang aku lihat setelah aku melihat Miyuki. Karena Takeshi sangat jelas sekali keberadaannya dan setiap orang yang memperhatikannya dengan baik dan jelas pasti akan menemukannya dengan cepat.


“Dimana Takeshi?”


“Kau lihat orang-orang yang sedang mengikuti Miyuki, nanti kau juga bisa melihat sendiri Takeshi.”


Aku mengarahkan kepalanya Maul ke orang-orang yang sedang mengikuti Miyuki. Maul pun mulai menyipitkan matanya agar dia dapat melihat orang-orang itu dengan lebih jelas.


“Oh, aku sudah menemukannya.”


“Mudah kan menemukannya.”


“Aku tidak begitu menyadarinya karena waktu Miyuki menghampiri kita, pandanganku tidak bisa lepas dari Miyuki.”


Benarkah, malahan pada saat itu aku tidak berani menatap matanya Miyuki dalam waktu yang lama. Takutnya jika aku menatapnya lebih lama, aku menjadi suka dengannya.


Karena memang saat ini dia cantik sekali, aku tidak bisa memungkirinya. Aku tidak tau siapa yang mendandaninya, tapi itu sangat hebat sekali.


Saat kami sedang melanjutkan makan-makan dan juga berbincang. Miyuki pun datang menghampiri kami bersama dengan Yoshida dan juga Kichida. Sepertinya semua tamu yang diundang sudah datang, jadinya pekerjaan mereka sudah selesai.


Melihat Miyuki yang datang ke arah kami, membuat orang-orang yang mengikutinya itu menjadi enggan bergabung. Aku tidak tau kenapa, tapi yang jelas sebelum mereka memisahkan diri, mereka menatapku dengan sangat tajam terlebih dahulu.


“Kamu sudah selesai menyapa tamunya Miyuki?”


Rina yang awalnya duduk di kursi langsung berdiri dan menyuruh Miyuki untuk duduk tapi Miyuki menolaknya.


“Iya, aku sudah selesai menyapa tamunya.”


Kemudian Miyuki pun melihat ke arahku yang sedang santai menikmati makanan yang dibawa oleh Riki.


“Kenapa kamu tidak menggunakan baju rapih Mar?!”


Aku langsung dimarahi oleh Miyuki.


“Buat apa aku harus menggunakan baju rapih? Aku pergi ke kantor saja dengan menggunakan baju seperti ini.”


“Memangnya kantormu tidak memiliki seragam Mar?”


Tanya Kichida.


“Kantorku ada seragamnya, Rina dan Miyuki juga pernah menggunakannya saat sedang pensi. Hanya saja ketika hari sabtu, kantor memang membebaskan karyawannya untuk menggunakan baju apapun karena biasanya yang datang hari sabtu hanya karyawan yang sedang lembur saja.”


“Seharusnya kau berpakaian rapih karena tau ingin pergi ke sini.”


Miyuki masih saja memarahiku.


Apa karena pakaian ini juga yang membuatku terlihat mencolok dibandingkan yang lainnya?


Aku melihat ke sekitar dan tidak ada orang yang berpakaian santai sepertiku.


Sepertinya itu salah satu faktornya.


“Ini kantung plastiknya Bang Amar!”


Misaki yang sudah kembali dari rumah, membawakanku sebuah kantung plastik yang tidak terlalu besar namun cukup untuk memasukan beberapa makanan ke dalam sana.


“Terima kasih Misaki.”


“Sama-sama.”


Misaki pun duduk di kursi kosong yang sebelumnya kursi itu adalah milik Rina.


“Untuk apa kantung plastik itu Mar?”


Miyuki yang tidak mengatahui apa-apa menjadi bingung.


“Untuk membawa makanan yang ada di sini ke rumah.”


Miyuki pun tertawa dan menutup mulutnya dengan tanganya setelah mendengar perkataan dariku. Hal itu membuat dia terlihat cantik sekali, aku pun mengalihkan pandanganku ke tempat yang lain agar tidak menaruh perasaan kepadanya.


Aku tau, saat ini pemahamanku tentang cinta sedang sangat terancam sekali. Mungkin bisa hancur begitu saja jika aku terus-terusan melihat Miyuki yang sedang dalam kondisi sempurna. Jadi untuk mengamankannya, aku pun mengalihkan pandanganku.


“Kalau memang kamu mau membawa pulang makanan itu, kamu bisa mengambilnya di dalam rumah. Karena masih ada makanan yang disisakan di sana.”


“Kau dengar itu Bar?”


Ucapku kepada Akbar.


“Terima kasih Mar.”


Kami pun menikmati pesta itu hingga malam hari, Miyuki juga tidak lama-lama berada bersama kami karena dia harus menghampiri tamu yang lainnya.

__ADS_1


Saat itu pun aku menyadari kalau ada sesuatu yang berubah di dalam diriku.


-End Chapter 128-


__ADS_2